Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Wednesday, 16 September 2015

TERLAMBATKAH YANG TUA UNTUK MENUNTUT ILMU


TERLAMBATKAH YANG TUA UNTUK MENUNTUT ILMU

Oleh
Syaikh Masyhur Hasan Salman


Pertanyaan.
Syaikh Masyhur Hasan Salman ditanya : Bagaimana cara menuntut Ilmu bagi yang
terlambat, khususnya orang yang telah tua ?

Jawaban.
Barang siapa yang tidak belajardiwaktu kecil kemudian sadar setelah tua, aku
bertanya berapa sebenarnya umurnya empat puluh tahunkah? Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam sendiri sebagai contoh bagi manusia diutus ketika
berumur empat puluh tahun. Al-Qadhi 'Iyad mulai menuntut Ilmu setelah berumur
lebih dari empat puluh tahun. Sholih Bin Kaisan salah seorang pendidik Imam az-
Zuhri di sekolah, jika kita membaca sahihain kita kan menemukan puluhan hadis
yang diriwayatkan Sholih Bin Kaisan dari imam az-Zuhri. Sementara dia sendiri
yang mengajari Imam az-Zuhri. Dia mulai menuntut ilmu setelah berumur lebih
tujuh puluh tahun .

Bagi para penuntut ilmu hendaklah memulai hal-hal yang umum terlebih dahulu,
dalam syair dikatakan

" Ilmu ibarat kulit dan isi, orang yang paling beruntung adalah orang yang
memulai isi kemudian kulit".

Hal-hal yang harus menjadi perhatian khusus para penuntut ilmu adalah
mendalami berbagai macam spesiailisiasi secara penuh , ibarat seorang yang
sedang berjalan dalam sebuah kebun yang tinggi-tingi pohonnya dan ada yang
rendah sambil mengambil seluruh ilmu, dia berjalan-jalan sambil mendengarkan
berbagai macam seruan yang memberitahukannya agar singgah untuk mengambil
bagian.

Alangkah butuhnya dakwah kita ini kepada orang-orang yang mendalami berbagai
spsesialsiasi ilmu seperti ilmu qiraat, ilmu tafsir, bahasa Arab, Tauhid,
Usul, fiqh, siradan sebagainya.

Seorang penuntut ilmu hendaklah berjalan sambil mengambil seluruh cabang
ilmu ini secara umum terlebih dahulu baru kemudian mengambil spesialisasi ilmu
tertentu. Alangkah jeleknya jika seorang penuntut ilmu mengetahui ilmu hadis
maupun mustalah secara detail lengkap dengan berbagai macam permasalahan
hingga bagian terkecil dan jelimet sekalipun, namun buta mengenai ilmu fiqh
dan tauhid.

Wallahu a'lam


Menggapai kebahagiaan dengan Ilmu


 Menggapai kebahagiaan dengan Ilmu
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan takdir dan hikmah-Nya telah menciptakan dunia dan seisinya ini sebagai tempat persinggahan sementara bagi manusia. Agar mereka mampir sebentar, untuk mengambil perbekalan ilmu dan amal menuju kebahagiaan akhirat yang kekal abadi. Oleh karena itu tidaklah Allah menyediakan bumi beserta fasilitas yang lengkap ini, melainkan sebagai sarana penunjang ibadah.

Begitu pula Allah menciptakan manusia sebagai khalifah dengan tujuan untuk memakmurkan bumi ini dengan peribadatan hanya kepadaNya semata.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “ Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan kholifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan engkau? Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (Al Baqarah : 30-32)

Peristiwa diciptakannya manusia merupakan peristiwa besar dan memuat hikmah yang sangat agung. Di dalam ayat tersebut terkandung padanya beberapa faedah ilmu :

Pertama, Bahwasanya Allah Ta’ala menolak pernyataan para malaikat : “Bagaimana Dia (Allah) menjadikan manusia di muka bumi, padahal kami lebih taat dibandingkan mereka? Maka Allah menjawab : “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa-apa yang kalian tidak ketahui.” Allah menjawab pertanyaan mereka bahwasanya Dia lebih mengetahui inti permasalahan dan hakekat (diciptakannya manusia). Dan Dia maha Mengetahui lagi maha Bijaksana. Sesungguhnya jelas bagi Allah bahwa khalifah yang diciptakanNya adalah dari kalangan makhluk yang baik, para rasul, para nabi, hamba-hamba-Nya yang sholeh, orang-orang yang mati syahid, orang-orang yang jujur, ulama serta generasi orang yang memiliki ilmu dan iman yang lebih baik dari para malaikat. Begitu pula jelas bagi Allah bahwa iblis adalah makhluk yang paling jelek di alam ini. Sehingga Allah mengusirnya dari syurga. Sedangkan para malaikat tidak memiliki pengetahuan tentang perkara tersebut (yaitu tentang penciptaan dan menetapnya nabi Adam di muka bumi dengan keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Kedua, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menampakkan keutamaan Adam akan ilmu dan membedakan dengan mereka (para malaikat) dengan ilmu, maka Allah mengajarkannya seluruh nama-nama. Allah bertanya kepada para malaikat : “Kabarkan kepadaku nama-nama mereka jika kalian memang benar”. (Al Baqarah : 31). Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa mereka (para malaikat) mengatakan : “Tidaklah Allah menciptakan seorang makhluk pun yang lebih mulia daripada kami. Mereka menyangka bahwasanya mereka lebih baik dan utama dibandingkan kholifah yang Allah jadikan di muka bumi. Tatkala Allah menguji mereka dengan ilmu yang diajarkan terhadap kholifah ini, maka mereka mengakui kelemahan terhadap apa-apa yang mereka tidak ketahui, mereka mengatakan : “Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Al Baqarah : 32). Maka ketika itu nampaklah dihadapan mereka keutamaan nabi Adam dengan kekhususan berupa ilmu.

Ketiga, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala memberitahukan kepada para malaikat tentang keutamaan nabi Adam berupa ilmu, dan lemahnya mereka untuk mengetahui apa yang diajarkan-Nya, maka Allah berfirman kepada mereka : “Bukankah Aku telah mengatakan kepada kalian sesungguhnya Aku Maha Mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui yang kalian tampakkan dan yang kalian sembunyikan”. (Al Baqarah : 33). Kemudian Allah mengajarkan mereka tentang ilmu. Ilmu Allah meliputi segala yang nampak maupun yang tersembunyi, serta rahasia di langit dan di bumi. Allah mengenalkan kepada mereka tentang sifat ilmu dan keutamaan nabi-Nya.

Keempat, Bahwasanya Allah menganugerahkan pada diri Adam berupa sifat-sifat sempurna yang lebih utama dari makhluk selainnya. Allah hendak menampakkan kepada para malaikat tentang keutamaan dan kemuliaan Adam. Sehingga jelaslah bagi malaikat tentang kelebihan nabi Adam dari segi ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu sangat mulia di sisi manusia. (Al Ilmu Syarfuhu wa fadluhu 30-32)

Sesungguhnya ilmu itu akan mengangkat derajat pemiliknya di dunia dan akherat. Bukan karena kekuasaan, harta, dan bukan pula selainnya. Dan ilmu juga itu menambah kemuliaan bahkan bisa mengangkat derajat seorang hamba sahaya menjadi mulia. Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shohih Muslim (817) dari hadits Zuhri, dari Abi Tufail bahwasanya Nafi’ ibnu Abdil Harits mendatangi Umar ibnul Khoththob di ‘Usfan –yang mana Umar mengangkatnya (sebagai bupati) untuk penduduk Mekkah- Maka berkata umar : “Siapa yang engkau angkat menjadi bupati di negeri ini? dia (Nafi’) menjawab : “Aku telah mengangkat Ibnu Abza untuk mereka.” Lantas Umar berkata : “Siapa Ibnu Abza? Kemudian dijawab : “Dia adalah seorang budak.” Umar berkata : “(Kenapa) engkau mengangkat seorang budak? Dijawab : “Karena dia seorang yang ahli membaca Al Qur’an dan ‘alim dalam ilmu waris. Maka Umar berkata: Ketahuilah sesungguhnya Nabi kalian Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda : “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini (Al Qur’an) sekelompok kaum dan merendahkan yang selainnya.”

Berkata Al Hasan ibnu Ali kepada anaknya dan saudaranya : “Pelajarilah ilmu, karena bisa jadi (pada saat ini) kalian adalah kaum yang kecil, namun besok kalian akan menjadi pembesar kaum. Maka barang siapa yang tidak menghafal, hendaklah dia menulis.” (Al Madkhal ila As Sunan Al Kubro (632)).

Berkata Urwah bin Az Zubair kepada anaknya : “Mari, belajarlah ilmu kepadaku. Karena sesungguhnya bisa jadi (suatu saat) kalian menjadi pemimpin suatu kaum. Dulu aku adalah seorang yang kecil dan tidak seorangpun yang memandangku. Tatkala aku beranjak dewasa (dengan memiliki ilmu) maka orang-orang mulai bertanya kepadaku. Dan tidak ada sesuatu yang paling berat bagi seseorang ketika ditanya tentang perkara agamanya melainkan dia dalam keadaan bodoh (tidak berilmu).” (Bayanul Ilmi wa Fadlihi oleh Al Imam Ibnu Abdil Bar).

Diriwayatkan dari Lukman bahwa dia berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama, dan dekatilah mereka dengan kedua lututmu (bergaul dengan mereka). Sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati dengan hikmah sebagaimana menghidupkan (menyuburkan) bumi yang kering dengan siraman hujan.” (Al Madkhal ila As Sunan Al Kubro (445))

Berkata Sufyan Ats Tsaury : “Barangsiapa yang menginginkan dunia dan akherat maka hendaklah dia menuntut ilmu.”

An Nadhor bin Syumail berkata : “Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan di dunia dan Akherat hendaklah dia pelajari ilmu. Cukuplah bagi seseorang sebuah kebahagiaan, tatkala dipercaya tentang perkara agama Allah, dan menjadi (perantara dakwah) antara Allah dan Hamba-Nya.”

Sufyan bin Uyainah mengatakan : “Manusia yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah adalah orang yang menjadi (perantara dakwah) antara Allah dan hamba-Nya. Mereka itu adalah para nabi dan ulama.

Masih banyak lagi perkataan para ulama yang menerangkan bahwa ilmu akan meninggikan derajat orang-orang yang menempuh jalan untuk menimbanya. Namun sebaliknya, bagi orang-orang yang meremehkan ilmu, maka Allah akan merendahkan kedudukannya di dunia dan akherat. Sesungguhnya orang yang merasakan tetesan ilmu, maka dia telah menggapai kebahagiaan yang hakiki. Karena ilmu merupakan anugerah yang sangat utama dan mulia. Barangsiapa yang luput dari merasakan lezatnya ilmu maka tidak akan bermanfaat apa yang diperoleh dari selainnya. Bahkan hal tersebut bisa menggiring seseorang kepada kebinasaan dan kehinaan.

Seseorang yang menimba ilmu agama Allah bagaikan seorang nahkoda yang berlayar dengan bahtera menuju pulau abadi. Dalam menempuh perjalanannya, mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai rintangan yang menghadang, apakah berupa angin yang bergemuruh, ataukah ombak yang menggulung tinggi sehingga bisa menghempaskan bahtera dengan dahsyat. Namun seiring dengan itu, sang nahkoda adalah seorang yang bermental baja dan telah membekali dirinya dengan ilmu, Sehingga dia menghadapi berbagai rintangan itu dengan sabar dan hati yang tegar, tidak tergoyahkan sedikitpun walaupun ombak menerjang. Akan tetapi keinginannya tidak pernah pupus untuk melanjutkan perjalanan menuju pulau abadi tersebut. Demikianlah bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat, maka hendaklah dia berlayar dengan bahtera ilmu.

Diriwayatkan dari Al Imam Ahmad dan Tirmidzi dari hadits Abu Kabsyah Al Annamaari, dia berkata :Telah bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Sesungguhnya di dunia ini terdapat empat golongan : “(Pertama) seorang hamba yang Allah memberikan harta dan ilmu kepadanya. Sedangkan dia takut kepada Allah dalam harta tersebut, sehingga dia menyambung tali silaturahmi, dan dia mengetahui kewajibannya terhadap harta tersebut. Maka orang seperti ini memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. (Kedua), seorang yang diberi ilmu dan tidak memiliki harta, sedangkan dia mengatakan : “Seandainya aku memiliki harta maka aku akan beramal seperti amalannya fulan. walaupun dia hanya berniat saja, maka kedua-duanya memperoleh pahala yang sama. (Ketiga), Seorang yang diberi harta dan tidak diberi ilmu maka dia bakhil dalam hartanya dan dia tidak takut kepada Rabbnya, tidak menyambung tali silaturahmi serta tidak menjalankan kewajibannya terhadap harta tersebut. Maka orang ini kedudukannya lebih hina di sisi Allah. (Keempat), Seseorang yang tidak diberi harta dan tidak pula memperoleh ilmu, kemudian mengatakan : “Kalau aku punya harta maka aku akan beramal seperti amalan fulan (yang ketiga). Walaupun hanya dengan niat maka kedua-duanya memperoleh dosa yang sama.” (Hadits Shohih, dishohihkan oleh At Tirmidzi, Al Hakim dan selainnya).

Dalam Hadits diatas Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan orang-orang yang bahagia dalam dua kategori, dan menjadikan ilmu dan amal -dengan berbagai kewajibannya- sebagai sebab diperolehnya kebahagiaan. Sedangkan orang-orang yang celaka, beliau bagi dalam dua kategori, dan menjadikan kebodohan dan pengaruhnya sebagai sebab kebinasaan.

Dalam Shohih Muslim diriwayatkan dari Abi Hurairoh radliyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda : “Jika seorang anak Adam wafat maka terputus amalannya kecuali tiga perkara ; shodaqoh jariyah (mengalir pahalanya), ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya.”

Hadits diatas menunjukkan tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu, serta besarnya pahala yang akan diraih dengan ilmu tersebut. Karena pahalanya tetap akan mengalir kepada orang yang wafat selama dia masih memperoleh manfaat dengannya. Maka seolah-olah dia masih tetap hidup dan belum terputus amalannya walaupun nyawa tidak lagi dikandung badan. Oleh karena itu seorang berilmu yang berdakwah dan menyebarkan kebaikan, jiwanya akan tetap hidup walaupun dia wafat. Amal kebajikan seorang yang berilmu ini akan selalu diingat oleh orang banyak dan jejaknya akan dijadikan panutan bagi orang-orang yang masih hidup.

Oleh karena kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat serta menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan memalingkan dari kebodohan diri-diri kita. Wallahul Muwaffiq ila sabilish Showab



Saturday, 5 September 2015

ilmu falaq

Sistem Koordinat

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. Al-Qur'an, Surah Al Anbiyaa' Ayat 33
Hasil gambar untuk astronom

falak adalah salah satu proyek pengamalan dan penyebaran ilmu falak/astronomi. Misi utamanya adalah menyebarkan ilmu falak yang berkaitan erat dengan pengamalan ibadah (shalat, puasa, dll) dalam agama Islam. Isi artikel ini sebagian diambil dari situs astronomi: Ferry's Astronomy Page (FAP), dan sebagian yang lain merupakan pembahasan lebih detail dan lanjut dari materi-materi tertentu dalam FAP yang berkaitan dengan misi falak. FAP mempunyai cakupan (baik materi maupun audience yang dituju) yang luas, membicarakan astronomi secara umum. Sedangkan falak berorientasi khusus pada bagian astronomi yang berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah Islam. Karenanya, audience yang ditujupun khusus muslim. Dengan kata lain, falak adalah bagian dari FAP yang membahas lebih detail bagian-bagian yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah dalam Islam.

1. Bola Langit dan Sistem Koordinat
Jika kita melihat langit, seolah-olah kita melihat bagian dalam dari setengah bola (hemisfer) raksasa yang melingkupi kita. Benda-benda langit terlihat seolah-olah menempel pada bagian dalam bola raksasa, yang kita namakan bola langit. Untuk merujuk posisi objek-objek di bola langit itu, digunakan sistem kordinat. Dalam astronomi, dikenal beberapa sistem koordinat. Perbedaan antar sistem koordinat adalah perbedaan pemilihan titik asal mengukur posisi objek di bola langit, dan pemilihan lingkaran-lingkaran dasar yang mendefinisikan kordinat-koordinat tersebut.

Pada tulisan ini, yang dibahas hanyalah sistem koordinat yang akan digunakan dalam tulisan-tulisan dalam artikel ini. Sistem-sistem koordinat tersebut adalah: sistem koordinat horizon dan sistem koordinat equatorial.

1.1. Bola Langit dan Bola Langit Standar
Bola langit adalah bola dengan radius yang amat besar (dibandingkan dengan radius Bumi), tempat objek-objek langit diproyeksikan. Semua objek-objek langit (Bulan, planet, bintang, galaksi, dll) diproyeksikan pada bola langit, dan perbedaan jarak objek-objek tersebut diabaikan. Bola langit ini berpusatkan pada posisi pengamat di permukaan Bumi. Posisi yang merujuk pada bola langit dinamakan posisi toposentrik.

Bola langit standar adalah bola langit yang pusatnya berimpit dengan pusat Bumi. Posisi benda langit yang diproyeksikan pada bola langit standar ini adalah posisi benda langit yang akan diamati oleh pengamat jika ia berada di pusat Bumi. Posisi yang merujuk pada bola langit standar dinamakan posisi geosentrik.

Gambar 1. Bola langit (kiri) dan bola langit standar (kanan).

Untuk selanjutnya, penggunaan istilah bola langit merujuk pada bola langit standar. Pusat bola langit (yang juga pusat Bumi) selanjutnya akan disimbolkan sebagai C.

Gambar 2. Lingkaran besar adalah lingkaran yang pusatnya berimpit dengan titik pusat bola langit (berwarna hijau). Lingkaran berwarna merah, kuning, dan biru adalah lingkaran besar, sedangkan lingkaran berwarna abu-abu bukan.

 Koordinat yang digunakan pada bola langit mirip seperti koordinat yang kita gunakan di permukaan Bumi, lintang dan bujur. Koordinat-koordinat tsb diukur sepanjang busur lingkaran besar, yaitu lingkaran pada bola langit yang pusatnya berimpit dengan pusat bola langit. Dengan kata lain, lingkaran besar adalah lingkaran terbesar yang bisa digambar di bola langit, dimana radius dari lingkaran besar tsb sama dengan radius bola langit (lihat Gambar 2). Lingkaran berwarna kuning, merah, dan biru pada Gambar 2 adalah lingkaran besar, tetapi lingkaran berwarna abu-abu bukan lingkaran besar.

1.2. Pola Dasar Sistem Koordinat Astronomi
Setiap sistem koordinat astronomi memiliki:

1. Lingkaran dasar:
Hasil gambar untuk astronomLingkaran dasar adalah lingkaran besar tempat dimana pengukuran koordinat dilakukan. Lingkaran dasar ini terdiri dari lingkaran dasar utama dan lingkaran dasar sekunder. Lingkaran dasar sekunder tegak lurus terhadap lingkaran dasar utama (berarti melalui kutub-kutub), dan melalui objek langit yang posisinya akan dirujuk.
Bujur koordinat diukur sepanjang lingkaran dasar utama, dari titik asal menuju titik potong lingkaran dasar utama dengan lingkaran dasar sekunder. Sedangkan lintang koordinat diukur sepanjang lingkaran dasar sekunder, dari titik potongnya dengan lingkaran dasar utama menuju ke arah objek.
2. Kutub-kutub:
Kutub-kutub adalah titik-titik terjauh dari lingkaran dasar utama. Garis yang menghubungkan titik-titik kutub (dan berarti melewati pusat bola langit) dinamakan sebagai sumbu utama.
3. Titik asal:
Titik asal adalah titik nol pengukuran koordinat. Titik asal memiliki longitude=0 dan latitud=0.
Perbedaan pemilihan ketiga hal di atas itulah yang membedakan satu sistem koordinat dengan sistem koordinat lainnya.

2. Sistem Koordinat Horizon
Lingkaran dasar
Lingkaran dasar utama: horizon pengamat.
Horizon pengamat adalah lingkaran besar hasil perpotongan antara bidang singgung pengamat di permukaan Bumi dengan bola langit. (Bidang abu-abu pada Gambar 3 adalah bidang horizon pengamat.)

Lingkaran dasar sekunder: lingkaran vertikal.
Lingkaran vertikal adalah lingkaran besar yang tegak lurus dengan horizon pengamat dan melalui titik zenith dan nadir, dan melalui objek langit yang dirujuk.

Lingkaran besar yang tegak lurus horizon pengamat dan melalui titik-titik utara dan selatan dinamakan sebagai lingkaran vertikal dasar (principal vertical circle), atau dinamakan juga sebagai meridian pengamat (lingkaran biru pada Gambar 3). Sedangkan Lingkaran besar yang tegak lurus horizon pengamat dan melalui titik-titik barat dan timur dinamakan sebagai lingkaran vetikal utama (prime vertical circle).

Kutub
zenith (Z):
titik tertinggi pada bola langit, tepat berada di atas kepala pengamat.
nadir (N):
titik terendah pada bola langit, tepat berada di bawah kaki pengamat.
Titik asal
Titik asal sistem koordinat horizon: titik Utara

Koordinat
Azimut (Az):
Busur lingkaran pada horizon, dihitung dari titik utara menuju titik timur, ke titik potong horizon dengan lingkaran besar yang melalui benda langit dan titik zenith. Azimut dapat dinyatakan dengan rentang 0º-360º jika dihitung dari titik utara ke arah timur. Azimut dapat juga dapat dinyatakan dengan rentang -180º sampai +180º, dengan: dari titik utara ke arah timur sebagai positif, dan dari titik utara ke arah barat sebagai negatif.
Tinggi/Altitud (Alt):
Busur lingkaran besar yang tegak lurus terhadap horizon dan melalui benda langit, diukur dari titik potong lingkaran besar tersebut dengan horizon, ke arah benda langit.
~ Ke arah zenit (di atas horizon): h > 0º
~ Ke arah nadir (di bawah horizon): h < 0º

Gambar 3. Bola langit dengan sistem koordinat horizon. Garis kuning adalah garis yang menghubungkan titik utara-selatan, dan garis merah menghubungkan timur-barat. Bidang horizontal adalah horizon pengamat, dan lingkaran besar berwarna biru dan tegak lurus terhadap horizon adalah meridian pengamat. Garis abu-abu yang tegak lurus terhadap horizon, menghubungkan zenith (titik tertinggi pada bola langit) dan nadir (titik terendah pada bola langit). [Lihat versi besar]


Benda-benda langit bergerak dari arah timur ke barat. Saat benda langit mencapai titik tertingginya pada bola langit adalah saat ia berada pada meridian pengamat. Saat ketika benda langit mencapai titik tertingginya ini dikatakan benda langit tersebut berkulminasi atas, atau juga dikatakan transit lokal. Kebalikan dari kulminasi atas adalah kulminasi bawah, yaitu saat benda langit mencapai titik terendahnya (berpotongan dengan meridian pengamat yang berada di bawah horizon).

Contoh:

1. Sebuah bintang diamati memiliki altitud 25 derajat dan azimut 60 derajat. Maka posisi bintang tsb pada bola langit:

Gambar 4. Posisi bintang dengan altitud 25 derajat dan azimut 60 derajat. Azimut bintang 60, berarti kita mengukur sudut 60 derajat dari utara ke arah timur sepanjang horizon pengamat. Altitud bintang 25 derajat, berarti kita mengukur sudut 25 derajat dari horizon tegak lurus menuju zenith (sampai ke posisi bintang di bola langit).

 2. Sebuah bintang diamati memiliki altitud 25 derajat dan azimut 60 derajat. Maka posisi bintang tsb pada bola langit:

Gambar 5. Posisi bintang dengan altitud -30 derajat dan azimut -115 dejarat. Azimut bintang -115, karena negatif maka kita mengukur sudut 115 derajat dari utara ke arah barat sepanjang horizon pengamat. Altitud bintang -30 derajat, karena altitudnya negatif maka kita mengukur sudut 30 derajat dari horizon tegak lurus menuju nadir (sampai ke posisi bintang di bola langit).

 3. Sistem Koordinat Equatorial
Lingkaran dasar
Lingkaran dasar utama: equator langit.
Equator langit ini adalah perluasan dari equator Bumi, atau dengan kata lain, equator langit sebidang dengan equator Bumi. Selanjutnya istilah equator merujuk pada equator langit.

Lingkaran dasar sekunder: lingkaran jam.
Lingkaran jam adalah lingkaran besar yang tegak lurus terhadap equator langit, dan melalui kutub utara langit dan kutub selatan langit, dan melalui objek langit yang dirujuk.

Kutub
Kutub: kutub utara langit (KUL) dan kutub selatan langit (KSL).
KUL dan KSL masing-masing adalah proyeksi dari kutub utara dan kutub selatan Bumi. Yang dimaksud kutub utara dan kutub selatan bumi adalah kutub utara dan kutub selatan benar (yang didefinisikan oleh pergerakan semu langit), bukan kutub-kutub magnetik yang diperoleh dari kompas. Titik-titik KUL, KSL, utara, selatan, Z dan N, kesemuanya terletak pada sebuah lingkaran besar yang dinamakan meridian pengamat [lihat Sistem Koordinat Horizon]. Bola langit berotasi dengan sumbu langit (garis hubung KUL-KSL) sebagai sumbu putarnya. Satu periode putaran bola langit ini adalah 23 jam 56 menit 4 detik. Interval ini mendefinisikan satu hari sideris.

Titik potong equator langit dengan horizon pengamat di bola langit, mendefinisikan titik-titik timur dan barat (lihat Gambar 6). Sedangkan titik-titik utara dan selatan masing-masing didefinisikan oleh proyeksi KUL dan KSL ke horizon pengamat.

Titik asal
Titik asal sistem koordinat equatorial: titik aries (titik gamma, g) atau titik tanjak naik.
Titik aries ini adalah titik potong antara equator langit dengan ekliptika di bola langit, dimana Matahari bergerak dari belahan selatan equator menuju belahan utara equator.

Koordinat
Asensio Rekta (Right Acension, RA, a):
busur lingkaran (besar) pada equator langit, dihitung dari titik aries ke arah timur menuju titik potong equator dengan lingkaran besar yang menghubungkan kutub-kutub langit dengan objek. (Jika dilihat dari KUL, RA dihitung dari titik aries dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam.)
RA biasanya dinyatakan dalam satuan waktu (jam-menit-detik), sehingga misalkan busur lingkaran yang dihitung dari titik aries tsb adalah 23°, maka dikatakan: RA = 1h 32m 0s. (Ingat: satu lingkaran penuh 360 derajat = 24 jam.)
Deklinasi (Declination, d):
busur lingkaran besar yang tegak lurus terhadap equator dan melalui benda langit, diukur dari titik potong lingkaran besar tersebut dengan equator, ke arah benda langit.
~ Ke arah kutub utara langit (di utara equator): d > 0º
~ Ke arah kutub selatan langit (di selatan equator): d < 0º
Sudut Jam (Hour Angle, HA):
busur lingkaran (besar) yang dihitung dari meridian pengamat sepanjang equator, menuju ke titik potong equator dengan lingkaran besar yang melalui KUL-objek-KSL. Atau dengan kata lain sudut jam adalah sudut antara meridian pengamat dengan lingkaran jam.
HA dihitung positif dari meridian ke arah barat, dan negatif ke arah timur. HA seperti halnya RA, biasa dinyatakan dalam satuan waktu (jam-menit-detik). (Perhatikan: HAtitik aries = HAobjek + RAobjek)
Untuk menyatakan posisi objek, bisa digunakan pasangan {RA, Dec} atau pasangan {HA, Dec}. Pasangan {HA, Dec} dinamakan juga sebagai sistem koordinat sideris lokal.

Kemiringan bidang equator terhadap horizon menggambarkan letak lintang pengamat di permukaan Bumi. Jika pengamat berada di belahan Bumi selatan, maka KSL berada di atas horizon, begitu juga sebaliknya.
Sudut yang dibentuk oleh KSL-C-Selatan (atau juga KUL-C-Selatan) adalah lintang pengamat. Dengan kata lain, tinggi (altitud) kutub langit yang berada di atas horizon adalah besar lintang pengamat. Jika yang di atas horizon itu KUL, berarti pengamat di belahan Bumi utara, begitu pula sebaliknya. Sudut yang dibentuk oleh equator dan horizon pengamat adalah (90-lintang) derajat.

Gambar 6. Bola langit dengan sistem koordinat equatorial. Bidang berwarna hijau adalah equator langit, yang membentuk sudut (90-lintang) terhadap horizon pengamat Kutub-kutub langit berada di meridian pengamat. [Lihat versi besar]

Contoh:

Sebuah bintang memiliki RA = 1h 20m dan Dec = -15. Maka bola langit bagi pengamat yang berada di lintang 25 LS adalah:

Gambar 7. Bola langit untuk pengamat yang berada di lintang 25 LS, mengamati objek (titik kuning) dengan RA=1h 20m dan Dec=-15. Ilustrasi yang diberika di sini menggambarkan objek saat titik aries (titik merah) berada ~30 derajat di atas horizon sebelah barat. Karena pengamat di belahan Bumi selatan, maka KSL berada di atas horizon, dengan tinggi (altitud) sesuai besar lintang (25 derajat). RA objek 1h20m = 20 derajat, karena itu, dihitung busur pada equator sebesar 20 derajat dari titik aries ke arah timur. Karena lintang objek adalah negatif, maka deklinasi dihitung dari titik ujung pengukuran RA di equator, ke arah KSL sebesar 15 derajat. [Lihat versi besar]

 4. Sistem Koordinat Ekliptika
[menyusul]

Lingkaran dasar: ekliptika.
Kutub: kutub utara ekliptika (KUE) dan kutub selatan ekliptika (KSE).
Titik asal: titik aries (titik gamma, g) atau titik tanjak naik. [lihat Sistem Koordinat Equatorial].


5. Koversi Antar Sistem Koordinat
[menyusul]

Friday, 4 September 2015

Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajar



Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajar
Penulis: Ibnu Hajar Al Asqalani (Kitab Fathul Bari)
Hadits, 19 - Juli - 2003, 10:32:55


Kitab Fathu Bari - Hadits nomor 79 (yang artinya) :

Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata," Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap."

Kandungan Hadits
Tentang hadits diatas, setelah memaparkan keterangan yang menjelaskan hadits diatas dari segi bahasa (arab), Ibnu Hajar Al-Asqalani -penulis kitab fikih (klasik) Bulughul Maram- dalam kitabnya Fathul Bari, menjelaskan :

Al Qurtubi dan yang lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati.

Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan, diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.

Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, "Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar." Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.

Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua, adalah karena keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga, karena tercela dan tidak bermanfaat.

Kemudian dalam setiap perumpamaan terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi, sedang perumpamaan kedua, bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama (Islam) namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkan tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan Nabi Shallallahu Alaihi was Sallam dalam sabdanya, "Orang yang tidak mau memikirkan" atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.

Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam, tapi dia mengingkari dan kufur kepadanya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras, dimana air mengalir diatasnya tapi tidak dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dengan perkataan beliau, "Dan tidak perduli dengan petunjuk Allah".

Ath-Thibi mengatakan, "Manusia terbagi menjadi dua. Pertama, manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkan kepada orang lain. Kedua, manusia yang tidak memanfaatkan untuk dirinya, tapi dia mengajarkan kepada orang lain. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama, karena secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. Begitu pula dengan tanaman yang tumbuh, diantaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah, sebenarnya dia termasuk dalam kelompok kedua seperti yang telah kita jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Orang semacam ini termasuk dalam, man lam yar fa' bi dzalika ro san. Wallahu a'lam"

Penutup
Dari uraian diatas, mari kita berkaca pada pribadi masing-masing. Termasuk dalam kelompok manakah kita ; kelompok tanah yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain, ataukah kelompok tanah yang yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilingnya? Semoga Allah memudahkan jalan kebaikan dan (kemudian) menempuhnya untuk yang telah menulis dan membaca tulisan ini, Amin.







KEUTAMAAN ILMU ATAS HARTA

KEUTAMAAN ILMU ATAS HARTA

Sesungguhnya keutamaan ilmu atas harta bisa diketahui dari beberapa hal, di antaranya:

1.    Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan hartawan. 
2.    Ilmu bisa menjaga pemiliknya, sementara pemilik harta harus menjaga hartanya. 
3.    Harta berkurang karena dinafkahkan, sementara ilmu semakin bertambah bila diberikan. 
4.    Orang yang mempunyai harta akan meninggalkannya apabila ia meninggal, sementara ilmu masuk ke dalam kubur bersama pemiliknya. 
5.    Ilmu adalah penentu harta, sementara harta tidak bisa menentukan ilmu. 
6.    Harta bisa didapat oleh orang mukmin, kafir, orang baik maupun orang jahat, sementara ilmu yang bermanfaat hanya didapat oleh orang-orang beriman. 
7.    Orang berilmu dibutuhkan oleh raja-raja dan yang di bawahnya, sementara hartawan dibutuhkan oleh orang-orang fakir dan papa. 
8.    Jiwa menjadi hidup dan mulia dengan mengumpulkan ilmu dan mendapatkannya, bahkan itu merupakan kemuliaan jiwa dan kesempurnaannya. Sementara harta mem-bersihkan jiwa dan tidak menyempurna-kannya serta tidak menambahkan sifat-sifat kesempurnaan. Bahkan jiwa bisa berkurang, kikir dan bakhil karena mengumpulkan harta dan tamak terhadapnya. Ketamakan ter-hadap ilmu merupakan kesempurnaan jiwa sementara ketamakan terhadap harta merupakan kekurangan jiwa. 
9.    Harta mengajak jiwa kepada kelalaian dan kesesatan serta kesombongan, sementara ilmu mengajak jiwa kepada tawadhu’ dan ibadah.
 10. Ilmu merupakan motifator yang mengajak kepada kebahagiaan jiwa yang diciptakan untuknya, sementara harta merupakan penghalang antara jiwa dan kebahagiaannya. 
11. Kaya ilmu lebih mulia daripada kaya harta. Jiwa bisa lebih kaya daripada seluruh manusia tanpa harta. Kekayaan tertinggi adalah dengan tidak butuh sesuatu, bukan dengan harta.

12. Harta memperbudak orang yang mencintainya dan pemiliknya hingga menjadikan mereka sebagai budaknya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Harcurlah hamba dinar dan hamba dirham.”
Sementara ilmu menjadikan pemiliknya sebagai hamba Rabbnya dan Penciptanya, karena ilmu tidak mengajaknya selain kepada peribadatan kepada Allah semata.

13. Nilai orang kaya tergantung kekayaannya, sementara nilai orang berilmu dari ilmunya. Orang yang berilmu tidak akan kehilangan nilainya, bahkan akan semakin bertambah.

14. Mencintai ilmu dan senatiasa mencarinya adalah dasar setiap ketaatan, sementara mencintai dunia dan harta dan senantiasa mencarinya adalah pangkal segala keburukan. 
15. Bentuk harta bersifat materi, sementara bentuk ilmu bersifat rohani. 
16. Bila seorang berilmu disodorkan kepadanya seluruh kekayaan dunia, niscaya ia tidak mau menjadikannya sebagai pengganti ilmunya, sementara orang kaya yang berakal, bila mendapati kemuliaan ilmu, niscaya ia ingin mendapat ilmu sebagai pengganti seluruh hartanya. 
17. Tidak seorang pun yang taat kepada Allah kecuali dengan ilmu, sementara kebanyakan orang yang berbuat kemaksiatan kepadaNya, dilakukannya dengan menggunakan harta. 
18. Orang berilmu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmunya dan perangainya, sementara orang yang mengumpulkan harta mengajak kepada masalah duniawi dengan perangainya dan hartanya. 
19. Kekayaan harta kadang bisa menjadi penyebab kehancuran pemiliknya, sebagai-mana telah terjadi, sementara kekayaan ilmu merupakan sebab kehidupan bagi pemiliknya dan orang lain. Apabila manusia melihat orang yang mengalah dan mendahulukan orang lain, niscaya mereka akan mencintainya dan memuliakannya. 
20. Kenikmatan yang berasal dari kekayaan harta adalag kenikmatan semu atau kenikmatan hewani, karena pemiliknya hanya menikmati-nya dengan mengumpulkannya dan mendapatkannya, dan itu adalah kenikmatan yang semu. Sedangkan kenikmatan berilmu adalah kenikmatan akal dan rohani, menyerupai kenikmatan malaikat dan kebahagiaannya.



(Disadur dari kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah – dalam buku Taman Orang Yang Dicintai, Mutiara Hikmah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah karya Manshur bin Abdul Aziz Al-Ujayyan).

Tuesday, 1 September 2015

KEUTAMAAN ILMU ATAS HARTA

KEUTAMAAN ILMU ATAS HARTA

Sesungguhnya keutamaan ilmu atas harta bisa diketahui dari beberapa hal, di antaranya:

1.    Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan hartawan.

2.    Ilmu bisa menjaga pemiliknya, sementara pemilik harta harus menjaga hartanya.

3.    Harta berkurang karena dinafkahkan, sementara ilmu semakin bertambah bila diberikan.

4.    Orang yang mempunyai harta akan meninggalkannya apabila ia meninggal, sementara ilmu masuk ke dalam kubur bersama pemiliknya.

5.    Ilmu adalah penentu harta, sementara harta tidak bisa menentukan ilmu.

6.    Harta bisa didapat oleh orang mukmin, kafir, orang baik maupun orang jahat, sementara ilmu yang bermanfaat hanya didapat oleh orang-orang beriman.

7.    Orang berilmu dibutuhkan oleh raja-raja dan yang di bawahnya, sementara hartawan dibutuhkan oleh orang-orang fakir dan papa.

8.    Jiwa menjadi hidup dan mulia dengan mengumpulkan ilmu dan mendapatkannya, bahkan itu merupakan kemuliaan jiwa dan kesempurnaannya. Sementara harta mem-bersihkan jiwa dan tidak menyempurna-kannya serta tidak menambahkan sifat-sifat kesempurnaan. Bahkan jiwa bisa berkurang, kikir dan bakhil karena mengumpulkan harta dan tamak terhadapnya. Ketamakan ter-hadap ilmu merupakan kesempurnaan jiwa sementara ketamakan terhadap harta merupakan kekurangan jiwa.

9.    Harta mengajak jiwa kepada kelalaian dan kesesatan serta kesombongan, sementara ilmu mengajak jiwa kepada tawadhu’ dan ibadah.

10. Ilmu merupakan motifator yang mengajak kepada kebahagiaan jiwa yang diciptakan untuknya, sementara harta merupakan penghalang antara jiwa dan kebahagiaannya.

11. Kaya ilmu lebih mulia daripada kaya harta. Jiwa bisa lebih kaya daripada seluruh manusia tanpa harta. Kekayaan tertinggi adalah dengan tidak butuh sesuatu, bukan dengan harta.

12. Harta memperbudak orang yang mencintainya dan pemiliknya hingga menjadikan mereka sebagai budaknya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Harcurlah hamba dinar dan hamba dirham.”
Sementara ilmu menjadikan pemiliknya sebagai hamba Rabbnya dan Penciptanya, karena ilmu tidak mengajaknya selain kepada peribadatan kepada Allah semata.

13. Nilai orang kaya tergantung kekayaannya, sementara nilai orang berilmu dari ilmunya. Orang yang berilmu tidak akan kehilangan nilainya, bahkan akan semakin bertambah.

14. Mencintai ilmu dan senatiasa mencarinya adalah dasar setiap ketaatan, sementara mencintai dunia dan harta dan senantiasa mencarinya adalah pangkal segala keburukan.

15. Bentuk harta bersifat materi, sementara bentuk ilmu bersifat rohani.

16. Bila seorang berilmu disodorkan kepadanya seluruh kekayaan dunia, niscaya ia tidak mau menjadikannya sebagai pengganti ilmunya, sementara orang kaya yang berakal, bila mendapati kemuliaan ilmu, niscaya ia ingin mendapat ilmu sebagai pengganti seluruh hartanya.

17. Tidak seorang pun yang taat kepada Allah kecuali dengan ilmu, sementara kebanyakan orang yang berbuat kemaksiatan kepadaNya, dilakukannya dengan menggunakan harta.

18. Orang berilmu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmunya dan perangainya, sementara orang yang mengumpulkan harta mengajak kepada masalah duniawi dengan perangainya dan hartanya.

19. Kekayaan harta kadang bisa menjadi penyebab kehancuran pemiliknya, sebagai-mana telah terjadi, sementara kekayaan ilmu merupakan sebab kehidupan bagi pemiliknya dan orang lain. Apabila manusia melihat orang yang mengalah dan mendahulukan orang lain, niscaya mereka akan mencintainya dan memuliakannya.

20. Kenikmatan yang berasal dari kekayaan harta adalag kenikmatan semu atau kenikmatan hewani, karena pemiliknya hanya menikmati-nya dengan mengumpulkannya dan mendapatkannya, dan itu adalah kenikmatan yang semu. Sedangkan kenikmatan berilmu adalah kenikmatan akal dan rohani, menyerupai kenikmatan malaikat dan kebahagiaannya.



(Disadur dari kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah – dalam buku Taman Orang Yang Dicintai, Mutiara Hikmah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah karya Manshur bin Abdul Aziz Al-Ujayyan).

Menuntut Ilmu

Keringanan Untuk Pergi Menuntut Ilmu Yang Diharuskan Syari'at

Amr bin Abdul Mun'im

Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya telah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu yang telah ditetapkan syari'at yang kita butuhkan supaya kita dapat beribadah kepada-Nya dengan benar sehingga benar-benar diridhai-Nya.
Dimana Dia berfirman.
"Artinya : Katakanlah, Adakah kesamaan antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu". [Al-Zumar : 9]
Dalam surah yang lain, Allah juga berfirman.
"Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kalian, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan". [Al-Mujadilah : 11]
Sedangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda.
"Artinya : Barangsiapa yang menghendaki kebaikan dari Allah, maka Dia memberikan pemahaman dalam agama". [Diriwayatkan oleh Muttafaqun 'alaih, dari Mua'wiyah Radhiyallahu 'anhu]
"Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah".
Ilmu inilah yang diminta oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam do'anya.
"Artinya : Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat". [Hadits ini isnadnya Laa Ba'sa Bihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3843), juga Al-Ajiri dalam pembahasan "Akhlaqu Al-Ulama" (108) melalui Usamah bin Yazid, dari Muhammad bin Al-Munkadirm dari Jabir. Mengenai masalah ini saya telah menjelaskan secara rinci dalam buku saya yang berjudul Akhlaqun Mahmudatun wa Akhlaqun Mazmuataun Fii Thalabi Al'Ilmi (Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela Dalam Menuntut Ilmu) hal. 97]
Sama seperti orang laki-laki, wanita juga diberi tugas untuk menuntut ilmu, yaitu belajar hal-hal yang berkenaan dengan agama, misalnya Thaharah, Shalat, Zakat Haji dan lain-lainnya yang dibutuhkannya dalam memahami masalah agama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengetahui bahwa banyak dari para suami yang tidak mengetahui dan memahami agama.
Beberapa dalil yang menunjukkan hal itu banyak sekali dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha sendiri pernah berkata : "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, mereka tidak malu-malu untuk bertanya mempelajari dan memahami agamanya". (Lihat Kitab Shahih Bukhari, kitabul 'ilmi. Dan juga kitab Shahih Muslim kitabul haid). Sulaim bin Milhan, Ibunda Anas bin Malik pernah datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran, maka aku pun tidak malu untuk bertanya : "Apakah wanita wajib mandi bila bermimpi ?". Maka Rasulullah menjawab : "Ya, apabila dia melihat adanya air mani !" Maka Ummu Sulaim pun menutup wajahnya karena malu. Kemudian bertanya lagi : "Wahai Rasulullah, Apakah wanita juga mimpi seperti itu ?" Beliau menjawab : "tentu, kalau tidak, mengapa ada anak yang mirip dengan ibunya !" [Lihat kitab Shahih Bukhari, kitabul 'ilmi. Dan juga kitab Shahih Muslim, kitabul haid]
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Sulaim pernah datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sedang didampingi oleh Aisyah Radhiyallahu 'anha. Ketika Ummu Sulaim bertanya kepada Nabi, Aisyah berkata : "Wahai Ummu Sulaim, Mengapa engkau beberkan rahasia wanita ?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun berkata kepada Aisyah : "Biarkanlah, hendaklah engkau mandi wahai Ummu Sulaim apabila melihat air mani itu".
Demikian itulah Ummu Sulaim pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menanyakan hal-hal yang berkenaan dengan agama, yang tidak menemukan jawabannya pada orang lain.
Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak segan-segan menjawabnya serta tidak memarahi kedatangan tersebut.
Hal yang sama juga diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu 'anha : Fatimah bin Hubaisy pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Wahai Rasullulah, sesungguhnya aku dalam keadaan istihadhah dan tidak suci. Apakah aku harus meninggalkan shalat selamanya ?".
Rasulullah menjawab. "Sesungguhnya yang demikian itu adalah darah yang keluar dari pembuluh darah, tinggalkan shalat selama hari-hari engkau menjalani haid, setelah itu bersihkanlah dirimu dan kerjakan shalat". [Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim (1/262), Imam Tirmidzi (125), Imam Nasa'i (1/181), Ibnu Majah (621) melalui Waki' dari Hisyamn bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah Radhiyallahu 'anha]
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa Asma' binti Yazid bin al Sakan al-Anshariyyah (1), dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai mandi dari haid. Maka Rasulullah menjawab: "Hendaklah salah seorang di antara kalian menyediakan air yang bercampur dengan daun sidra, lalu bersucilah dengan sebaik-baiknya. Setelah itu tuangkanlah air dan gunakanlah secarik kain atau kapas yang telah diberi wangi-wangian, untuk selanjutnya bersihkanlah darah haid itu dengannya". Maka Asma binti Yazid pun bertanya: "Bagaimana cara bersuci denganya ?" Rasulullah pun menjawab: "Subhanallah, bersucilah dengannya !". Lalu Aisyah Radhiyallahu 'anha bertutur dengan sangat merahasiakannya: "Usaplah dengannya bekas-bekas darah haid !".
Selain itu, Asma binti Yazid juga bertanya mengenai mandi janabat, maka beliau pun menjawab : "Ambil air dan bersucilah dengannya secara baik. Kemudian guyurkanlah air di atas kepalamu dan gosok-gosoklah kulit dan rambutmu hingga rata. Setelah itu tuangkanlah air ke seluruh tubuhmu". [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitabul haid persis dengan lafadz tersebut di atas]
Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, menceritakan :
Ada beberapa wanita yang bertutur kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Kami dikalahkan oleh kaum laki-laki untuk belajar kepadamu, karenanya luangkanlah waktumu barang satu hari bagi kami. Beliau pun menjanjikan suatu hari untuk mengadakan pertemuan dengan mereka, lalu beliau memberikan nasehat dan mengajari mereka". [Hadits Riwayat Muttafaqun 'alaihi]
Seorang wanita mempunyai hak pergi belajar hal-hal yang berkenan dengan agama yang dibutuhkannya guna memperbaiki ibadah yang dijalankannya.
Pada sisi lain, seorang wanita tidak diperbolehkan pergi belajar ilmu-ilmu yang sifatnya fardhu kifayah, apabila suaminya memerintahkan untuk tinggal di rumah saja, karena ketaatan kepada suami merupakan suatu hal yang wajib sedangkan belajar ilmu-ilmu yang sifatnya fardhu kifayah adalah sunnah jika tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah, dan tidak diragukan lagi bahwa suatu hal yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah.
Tetapi apakah ada syarat-syarat yang harus dipegang teguh seorang wanita pada saat keluar rumah untuk tujuan tersebut ?.
Jawabannya, "Ya". Ada beberapa syarat dan tata cara yang harus diperhatikan dan dijalankan seorang wanita ketika pergi menuntut ilmu. Mengenai syarat-syarat dan tata cara tersebut telah kami terangkan secara rinci dalam buku kami yang berjudul Al-Adab Al-Syra'iyyah Li-Anisa Fii Thalabu Al-'Ilm. Oleh karena itu, kami anjurkan supaya wanita muslimah membaca buku tersebut karena terdapat keterangan dan penjelasan mengenai adab dan tata cara menuntut ilmu yang harus diketahuinya.

Disalin dari buku 30 Keringanan Bagi Wanita, oleh Amr Bin Abdul Mun'in, terbitan Pustaka Azzam - Jakarta.

Ilmu


 Butuhnya Manusia akan Ilmu
 Sebagaimana halnya makanan, yang dipergunakan manusia untuk kelangsungan hidup. Karena seandainya keimanan tidak dipupuk dengan ilmu, maka ibarat tanaman menjadi layu bahkan hancur.
 Sehingga tidaklah terwujud keberadaan iman seorang kecuali dengan ilmu. Al Imam Ahmad menyatakan : “Manusia sangat membutuhkan ilmu dari sekedar menyantap makanan dan minuman; karena makanan dan minuman dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari.

Sedangkan ilmu ilmu dibutuhkan setiap saat.” (Thobaqot Al Hanabilah 1/147)

Bahkan seluruh makhluk Allah sangat butuh kepada ilmu. Karena tidak akan tegak urusan makhluk kecuali dengan ilmu.

Langit-langit dan bumi bisa berdiri kokoh adalah dengan ilmu, begitu pula diturunkannya para rasul dan kitab-kitab-Nya juga dengan ilmu. Serta tidak akan diketahui perkara halal-haram kecuali dengan ilmu.

Oleh karena itu, kewajiban seseorang dalam menuntut ilmu syar’i berlangsung hingga menjelang wafat.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam senantiasa menyampaikan dakwah dan nasehat hingga menjelang wafat beliau.
 Diriwayatkan oleh Al Hakim di dalam Mustadraknya dan dia berkata : -di atas syarat dua syaikh- dari hadits Anas radliyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda : “Dua keinginan yang tidak pernah merasa puas darinya : “Keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya, dan keinginan terhadap dunia dan tidak pernah merasa puas darinya.”

Nabi menjadikan keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya sebagai komitmen iman dan sifat-sifat kaum mukminin. Oleh karena itu para imam kaum muslimin apabila dikatakan kepada mereka : “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” maka dia mengatakan : “sampai wafat!”
 Nu’aim bin Hammad berkata : “Aku mendengar Abdullah ibnul Mubarak radliyallahu’anhu berkata - sekelompok kaum mencelanya karena beliau sering menuntut ilmu hadits.

Maka mereka mengatakan ; “sampai kapan engkau mendegarkan (hadits)? Beliau menjawab : “sampai mati!”

Al Hasan bin Manshur Al Jashshosh berkata : “Aku mengatakan kepada Ahmad bin Hambal radliyallahu’anhu : “Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” maka beliau mejawab : “Hingga wafat!”


Abdullah bin Muhammad Al Baghawi berkata : “Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata : “Sesungguhnya aku menuntut ilmu sampai masuk ke liang kubur.”

 Muhammad bin Isma’il As Shooigh berkata : “Aku tinggal bersama ayahku di Baghdad, kemudian lewat di hadapan kami Ahmad bin Hambal dalam keadaan memegang sandal. Lantas ayahku menarik bajunya, dan berkata : “Wahai Abu Abdillah (panggilan Ahmad bin Hambal), apakah engkau tidak malu! sampai kapan engkau menuntut ilmu? Beliau menjawab : “sampai mati!”
 Demikianlah beberapa perkataan para ulama yang menerangkan begitu semangatnya mereka dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka mencurahkan waktu dan tenaga untuk meraih lezatnya ilmu.
  Sesungguhnya bagi siapa saja yang memahami hikmah dibalik perintah menuntut ilmu tersebut niscaya dia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya sedikitpun dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dia akan merasa rugi tatkala luput dari manisnya ilmu.
 Dia akan memanfaatkan masa sehatnya untuk banyak menimba ilmu sebelum tiba masa sakit. Serta dia akan mengisi waktu hidupnya dengan hal-hal yang mengundang keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum ajal tiba.

Begitulah seharusnya cerminan seorang mukmin yang mengharapkan perjumpaan Rabbnya.

 Seiring dengan itu, syetan juga tak pernah menyerah untuk menjerumuskan manusia ke lembah kebodohan. Sehingga dengan kebodohan seseorang terhadap ilmu mengakibatkan lemahnya keimanan dan minimnya ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
 Sesungguhnya orang yang bodoh tidak mengetahui hakekat iman dan taqwa. Dan tidak mengetahui pula jalan untuk menuju keselamatan berdasarkan ilmu dan keyakinan yang mantap.
 Tentu saja hal ini semakin membuka peluang bagi syetan untuk menggiring orang tersebut kepada kemaksiatan dan kesesatan. Tatkala kebodohan telah merajalela, maka akan meningkat pula kemaksiatan, kriminalitas, cinta kepada dunia yang berlebihan dan takut apabila kematian menjemputnya, dan sebagainya.
 Semua Ini merupakan diantara sebab lemahnya kaum muslimin, sehingga Allah menimpakan kehinaan kepada mereka. Rasa gentar yang menghunjam pada jiwa-jiwa musuh-musuh Islam hilang seiring dengan dicabutnya kewibawaan kaum muslimin.
 Sehingga musuh-musuh kaum Muslimin tidak segan-segan untuk mengintimidasi dan memberangus persatuan kaum muslimin.

Sementara mayoritas manusia terlena dengan kehidupan dunia yang fana ini dan melupakan akherat yang kekal abadi.


Oleh karena itu diantara sifat-sifat penuntut ilmu yang diajarkan oleh rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah ihklas dalam menuntut ilmu. Sebab dengan keikhlasan ini akan menghantarkan seseorang kepada tingkatan hamba yang sangat butuh kepada ilmu dan membentenginya dari riya’ (ingin dipuji oleh orang lain) dan sebagainya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari apa-apa yang dia cari dengannya wajah Allah Azza wa Jalla. Tidaklah dia belajar kecuali untuk memperoleh bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium wangi syurga pada hari kiamat.” (HR Ibnu Majah, Al Muqadimah 1/252 dan Ahmad, Al Musnad 2/338)

 Dalam berhias dengan keikhlasan ini juga harus dibimbing dengan ilmu dan tidak cukup dengan modal semangat semata. Sebab berapa banyak orang yang pada awalnya ikhlas dalam melaksanakan amalan, namun tatkala berada di tengah perjalanan mengalami penurunan secara drastis.

Ini semua tidak lepas daripada peran syetan dalam menggoda bani Adam. Syetan berupaya untuk memberikan rasa was-was di dalam diri manusia sehingga memperngaruhi keikhlasan. Oleh karena itu peran ilmu sangat besar terhadap keikhlasan seseorang.

Cukuplah bagi seorang muslim akan berita Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ilmu merupakan sebaik-baik ganjaran dalam berbuat kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka.

Demikianlah balasan bagi orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Az Zumar 33-35). Dan ini menunjukkan dua ganjaran baik di dunia dan akherat.


Al Hasan Berkata : “Barangsiapa yang sangat baik peribadatannya kepada Allah pada masa mudanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan hikmah (Ilmu) kepadanya tatkala beranjak dewasa.”

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan tatkala dia (Nabi Yusuf) cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ilmu Fadluhu wa Syarfuhu 226-227)
  
Demikian sifat dan kedudukan ilmu yang sangat mulia sebagai ganjaran yang paling berharga bagi seorang muslim yang ingin menggapainya.

Oleh karena itu kebutuhan manusia terhadap ilmu merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jikalau ingin mendapatkan keberuntungan dunia dan akherat maka tempuhlah jalan ilmu syari’at. Sehingga dengan demikian Allah akan mempermudah baginya untuk menuju surga yang diidam-idamkan.

 Kita memohon kepada Allah agar dibukakan pintu hati kita dengan taufik dan hidayah-Nya. Sehingga kita senantiasa butuh kepada ilmu yang bermanfaat. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mencurahkan kepada jiwa kita perasaan cukup terhadap nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Amin Yaa Mujibas Saailin.

  

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=38