Showing posts with label bidah. Show all posts
Showing posts with label bidah. Show all posts

Sunday, 3 April 2016

fatwa nyeleneh utsaimin-kentut

Kentut, sesuatu yang selalu hadir di keseharian kita. Kadang terdengar ...Batalkah Wudhu Seorang Wanita Yang Mengeluarkan Angin Dari Kemaluannya (Farajnya)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah keluarnya angin dari kemaluan wanita menyebabkan batalnya wudhu atau tidak ?
Jawaban:
Angin yang keluar dari kemaluan wanita tidak membatalkan wudhu karena angin itu tidak keluar dari tempat najis sebagaimana keluarnya angin dari dubur.
[Fatawa wa Rasa'il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/197]

Apakah Angin Yang Keluar Dari Kemaluan Wanita Membatalkan Shalat
Karena banyaknya pertanyaan serupa dan beragamnya jawaban dari para ulama, maka kami menetapkan fatwa ini agar lebih banyak manfaatnya
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta'
 Pertanyaan:
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta' ditanya : Seorang wanita jika sedang melakukan shalat, termasuk ruku' dan sujud, kemudian keluar angin dari kemaluannya khususnya pada waktu sujud, duduk diantara dua sujud, duduk tasyahud dan ruku, terkadang keluarnya angin ini terdengar oleh rekannya yang berada di sebelahnya, apakah hal serupa ini membatalkan shalat wanita itu ? Dan terkadang angin yang keluar itu amat sedikit sekali sehingga tidak terdengar, apakah hal serupa ini membatalkan wudhu dan juga shalat ?
Jawaban:
Keluarnya angin dari kemaluan wanita tidak membatalkan wudhu dan juga tidak membatalkan shalat.


Sunday, 27 March 2016

hukum ibadah tauqif



(Kitab Fathul bari Membungkam kaidah fiqh wahaby )Kaidah Fiqh Islam : “Asal Ibadah adalah Tauqif” Bukan “haram”
ingat kaidah fiqh: “Asal Ibadah adalah Tauqif” Bukan “haram”
dan “ibadah” yang dimaksud dalam kaidah ini hanyalah : “ibadah mahdhah saaja”

Ibadah Mahdhah yaitu Ibadah yang hanya berhubungan dengan Allah dan telah lengkap dan sempurna penjelasannya dalam Qur’an dan Hadits. Seperti : Shalat, Puasa, Haji, Zakat, berikut syarat dan rukun yang mendampinginya.

bisa dilihat di Kita Fathul Bari dan beberapa Kitab Ushul Fiqh.
Asal Ibadah adalah Tauqif (berhenti) pada dalil yang jelas (sahih) baik Qur’an dan hadits. Pengertian berhenti adalah mengikuti pada dalil yang sahih dari Qur’an dan hadits tidak boleh dikurangi, ditambahi, mendahulukan ataupun mengakhirkan.

Sangat sering kita membaca atau mendengar ucapan,

1. “Mana dalilnya ?”,
2. Kalau memang itu baik/benar mengapa Rasulallah dan para sahabat tidak pernah melakukannya 3. “Lau Kana Khairan Ma Sabaquna ilaihi ?”, “Apakah Rasulallah dan sahabatnya pernah melakukannya ?” dan lain sebagainya.

Hal ini paling sering diucapkan oleh kelompok Salafy Wahabi dalam memvonis amaliah pengikut I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seperti Yasinan, Tahlilan, Maulid Nabi Muhammad SAW., peringatan hari besar Islam, bermazhab, sunahnya mengucap ushalli sebelum takbiratul ihram dan amalan lainnya.


ASAL IBADAH ADALAH TAUQIF


Selanjutnya yang santer juga diucapkan oleh Salafy Wahabi yaitu “Asal Ibadah adalah haram”. Yang kami temui istilah yang tepat dan banyak disebut ulama adalah “Asal Ibadah adalah Tauqif” bisa dilihat di Kitab Fathul Bari dan beberapa Kitab Ushul Fiqh.

Asal Ibadah adalah Tauqif (berhenti) pada dalil yang jelas (sahih) baik Qur’an dan hadits. Pengertian berhenti adalah mengikuti pada dalil yang sahih dari Qur’an dan hadits tidak boleh dikurangi, ditambahi, mendahulukan ataupun mengakhirkan. Dijelaskan selanjutnya tauqif itu mengikuti :


1. Tauqif Sifat Ibadah (التوقيف في صفة العبادة)

dicontohkan dalam penjelasannya :
“tidak boleh untuk menambah dan megurangi. seperti sujud sebelum ruku’, atau duduk sebelum sujud, atau duduk tasyahud tidak pada tempatnya”


2. Tauqif Waktu Ibadah (التوقيف في زمن العبادة)
“tidak boleh seseorang itu membuat buat ibadah di waktu tertentu yang syari’ tidak memerintahkannya”

3. Tauqif Macamnya Ibadah (التوقيف في نوع العبادة)
 “tidak sah bagi orang yang menyembah sesuatu yang tidak di syariatkan, seperti menyembah matahari atau memendam jasadnya sebagian sembari berkata ” saya ingin melatih badanku “ misalkan ini semua bid’ah.”


4. Tauqif Tempat Ibadah (التوقيف في مكان العباد)
“jika seseorang wukuf di muzdalifah, maka ini bukan haji, atau wuquf dimina, atau bermalam ( muzdalifah ) di arafah, dan sebaliknya, maka ini semua bukanlah sesuatu yang masyru’. kita wajib melaksanakan ibadah sesuai tempat yang sudah disyari’atkan oleh syari’

Jadi dari penjelasan diatas jelas bahwa Ibadah yang dimaksud adalah Ibadah Mahdhah yaitu Ibadah yang hanya berhubungan dengan Allah dan telah lengkap dan sempurna penjelasannya dalam Qur’an dan Hadits. Seperti : Shalat, Puasa, Haji, Zakat, berikut syarat dan rukun yang mendampinginya.

Maka secara umum dalam ushul fiqh terdapat suatu ijma’ ulama yaitu Lil Wasa’il Hukmul Maqashid, artinya “Hukum untuk perantara sama dengan hukum tujuannya”.

Untuk mudahnya contohnya adalah :
“Berzina itu haram, maka menyediakan kamar/rumah untuk berzina itu juga haram”. Maka Berzina itu maqashid (tujuannya) sedang menyediakan kamar/rumah untuk berzina itu wasail (perantaranya). Jika kita cari hukum berzina jelas ada dalilnya, tapi wasailnya tanpa dalil dia sudah berhukum haram.

“Bershalawat adalah perintah (sunnah muakkad) maka mengadakan maulid nabi Muhammad SAW untuk mengenal kehidupan Nabi, membangun kecintaan kepada beliau, termasuk bershalawat didalamnya adalah Sunnah”. Bershalawat adalah maqashidnya sedang memperingati maulid adalah wasailnya.


Dan masih banyak contoh yang bisa kita ambil dalam Ibadah Ghairu Mahdhah seperti Yasinan, Tahlilan, Mengucap ushalli dan lain sebagainya. Terpenting adalah hal tersebut dari sisi maqashidnya tidak boleh bertentangan dengan Qur’an dan Hadits.

“Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa yang menjalankan suatu sunnah yang jelek didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (HR. Imam Muslim Nomor 1017)

at tark- meninggalkan



AT TARK

Pertanyaannya adalah apakah “At Tark” yaitu “Rasulallah meninggalkan atau tidak melakukan sesuatu” itu merupakan suatu hukum baru ? Bisakah “At Tark” itu dijadikan alat untuk menghukumi suatu amaliah itu makruh atau bahkan haram ? Ataukah “At Tark” itu dianggap Salafy Wahabi hanya sebagai “jembatan” untuk diarahkan ke bid’ah dhalalah, yang semua tempatnya neraka ?

Mari kita bahas bersama bagaimana sebenarnya kedudukan “At Tark” ini. “At Tark” yang kita pahami sebagai amaliah yang tidak dilakukan atau ditinggalkan oleh Rasulullah” tidak secara langsung menghukumi sesuatu itu makruh atau haram atau sering disebut kelompok Salafy Wahabi “Bid’ah (Dhalalah)”.

Hal ini bisa kita buktikan dari banyak sudut pandang, yaitu :

1. Dari sudut Ushul Fiqh, larangan jelas ditunjukkan dengan tiga hal :
Ada sighat nahi (berupa kalimat larangan).

Contoh :
لا تقربوا الزن
(Jangan kalian dekati zina)  Ada Lafadz Tahrim (Lafadz keharaman).

Contoh :
 إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ
(Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai dst.)
Ada Dzammul Fi’l (Celaan/ancaman atas suatu perkara/amal)

Contoh :
من غش فليس منا
(Barang siapa memalsu maka bukan golongan kami)

Dari ketiga dasar ushul fiqh tersebut tidak ada “At Tark” di salah satunya.

2. Nash Qur’an menyebutkan :

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rosul bagimu terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” QS. Al Hasyr : 7

Disini jelas nash Qur’an menggunakan lafadz “Naha” (dilarang), bukan “Tark” (ditinggalkan/tidak pernah dilakukan)


3. Dalil dari Hadits menyebutkan :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apa saja yang aku cegah atas kalian maka jauhilah (tinggalkanlah), dan apa-apa yang aku perintahkan pada kalian kerjakanlah semampu kalian” (HR. Bukhori Muslim)

Disini Rasulullah juga tidak mengatakan “Tark” tapi “Nahi” (larangan yang jelas).

Jadi jelas sudah bahwa “At Tark” bukan sumber hukum dan tidak bisa secara otomatis menghukumi sesuatu itu makruh atau haram. Hal ini berbeda dengan qaidah yang baru dibuat oleh Salafy Wahabi yang mengatakan “at-Tarku Yadullu ‘ala Tahrim”. Jelas ini mengada-ada.

SUNNAH- BIDAH



FAHAMAN YANG SAHIH PADA AL- SUNNAH DAN AL- BID’AH Disediakan

Al-Sunnah dan al-Bid’ah adalah dua perkara yang berlawanan pada tuturan Soohibal- Syara’ , maka tidak dapat didefinasikan salah-satu dari keduanya melainkan dengan mendefinasikan pasangannya, dengan makna bahawa keduanya adalah saling berlawanan, (dengan sebab berlawanan definasi, ternyata segala perkara). Sesungguhnya kebanyakan pengarang telah mendefinasikan makna al-Bid’ah terlebih dulu dari al-Sunnah , maka sebab itu mereka jatuh kejurang yang sempit yang tidak mampu untuk keluar darinya dan berlumuran dengan dalil-dalil yang bercanggah dengan penta’rifan al- Bid’ah mereka . Jika mereka mendahulukan definasi al-Sunnah nescaya mereka dapat keluar dari kekeliruan dengan dhobith- dhobith yang tidak bercanggahan. Rasulullah s.a.w dalam hadis-hadis berkenaannya, bersungguh-sungguh mendahulukan mendefinasikan al-Sunnah , kemudian barulah dengan pasangannya yang berlawanan iaitu al-Bid’ah , seperti yang dilihat dalam hadis-hadis yang berikut:

1. Hadis Jabir disisi Muslim:

{ Adalah Rasulullah apabila berkhutbah , merah kedua mata baginda dan meninggi suara. Baginda bersabda : Amma ba’du ,maka sebaik-baik hadis itu adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejahat –jahat perkara adalah perkara baru. Tiap-tiap perkara baru adalah Bid’ah , dan setiap bid’ah adalah sesat.}. AL-Bukhari telah mentakhrijkannya sebagai mawquf atas Ibnu Mas’ud.

1.       Menjelaskannya lagi oleh hadis Irbadh disisi Abi Daud dan al-Tirmizi , al-Tirmizi berkata Hasan Sahih , Ibnu Majah dan selain beliau
 Baginda bersabda : Daku berwasiat kepada kamu dengan bertakwa kepada Allah s.w.t dan dengarlah (patuhilah amir ) sekalipun bahawa memerintahkan kamu oleh seorang Habsyhi , Sesungguhnya….. sesiapa yang sempat hidup selepas wafatku akan melihat pertelingkahan yang banyak . Maka lazimkan olehmu berpegang dengan al-Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa al- Rashidin al- Mahdiyyin , gigitlah ia dengan gigi gerham . Jaga-jagalah akan perkara-perkara baru, maka sesungguhnya setiap yang bid’ah adalah sesat}.

3. Telah menjelaskannya lagi oleh hadis Muslim dari Jarir r.a:

{Sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang baik didalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala sesiapa yang beramal dengan (SUNNAH) nya selepas (kematian) nya.Tidak berkurang pahalanya sedikitpun. (Sebaliknya) sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang buruk , adalah dosa atasnya dan dosa mereka yang beramal dengan (SUNNAH BURUK) nya selepas (kematian) nya, tidak berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka yang akan ditanggungnya).}

Seumpama hadis-hadis ini ada lagi hadis-hadis lain yang beredar disekitarnya . Salahsatunya hadis riwayat Ibnu Masud r.a:

1.       Sesiapa yang menunjjukan perkara kebaikan maka baginya seumpama pahala orang yang melakukannya. Sesiapa yang menyeru kepada petunjuk , nescaya dia mendapat pahala seumpama pahala mereka yang mengikutinya ,tidak ada kurang pahalanya sedikitpun. Sesiapa yang menyeru kepada kesesatan ,adalah ia mendapat dosa…..





1.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Musthalah memaksudkan “hadis-hadis”.
2.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Fiqh dan Usulnya, bermaksud Muqobil (lawanan) bagi “al-Waajib”.

Saya menegaskan , jika dipakai makna ayat “Sunnatun Hasanatun dan Sunnatun Sayyiatun” sebagai makna 2 takrifan yang tersebut adalah yang betul dan menepati kehendak lafaz hadis tersebut?, maka timbul kemuskilan yang besar pula, iaitu ” adakah pernah dijumpai dimana-mana petunjuk dalil bahawa terdapatnya satu contoh Sunnah Jahat (Sunnatun Sayyiatun) dalam Perbuatan, perkataan dan cita-cita Nabi s.a.w????? “. maka fikirkanlah dan kajilah dengan melalui method yang wajar.

Lampiran (dari admin salafytobat) :

1. Ayat al-qur’an

Bid’ah Huda (baik) dan Bid’ah Dlalalah (sesat). Allah ta’ala berfirman:
( (ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله) (سورة الحديد : 27
Maknanya: “… dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)
untuk mencari keridlaan Allah” (Q.S. al Hadid: 27) >>>> lihat dalam ayat ini : ini fi’il atau kata kerja yg artinya mengada-adakan ,(lafadz bid’ah adalah kata isim (benda))
Allah memuji perbuatan para pengikut nabi Isa ‘alayhissalam yang muslim, yaitu melakukan rahbaniyyah (menjauhkan diri dari hal-hal yang mendatangkan kesenangan nafsu, supaya bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan ibadah), padahal hal itu tidak diwajibkan atas mereka. Hal ini mereka lakukan sematamata


2. Menurut Imam Syafi’i tentang pemahaman bid’ah ada dua riwayat yang menjelaskannya.
Pertama, riwayat Abu Nu’aim;
‘Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela’.Kedua, riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i :

‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/ sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’.

Menurut kenyataan memang demikian, ada bid’ah yang baik dan terpuji dan ada pula bid’ah yang buruk dan tercela. Banyak sekali para Imam dan ulama pakar yang sependapat dengan Imam Syafi’i itu. Bahkan banyak lagi yang menetapkan perincian lebih jelas lagi seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu ‘Abdussalam, Imam Al-Qurafiy, Imam Ibnul-‘Arabiy, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar dan lain-lain.

Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa bid’ah itu adalah segala praktek baik termasuk dalam ibadah ritual maupun dalam masalah muamalah, yang tidak pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Meski namanya bid’ah, namun dari segi ketentuan hukum syari’at,, hukumnya tetap terbagi menjadi lima perkara sebagaimana hukum dalam fiqih. Ada bid’ah yang hukumnya haram, wajib, sunnah, makruh dan mubah.

Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari 4/318 sebagai berikut: “Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi kepada hukum-hukum yang lima”.

Pendapat beliau ini senada juga yang diungkapkan oleh ulama-ulama pakar berikut ini :

1.       Jalaluddin as-Suyuthi dalam risalahnya Husnul Maqooshid fii ‘Amalil Maulid dan juga dalam risalahnya Al-Mashoobih fii Sholaatit Taroowih;
2.       Az-Zarqooni dalam Syarah al Muwattho’ ;
3.       Izzuddin bin Abdus Salam dalam Al-Qowaa’id ;
4.        As-Syaukani dalam Nailul Author ;
5.        Ali al Qoori’ dalam Syarhul Misykaat;
6.       Al-Qastholaani dalam Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhori, dan masih banyak lagi ulama lainnya yang senada dengan Ibnu Hajr ini yang tidak saya kutip disini.