Showing posts with label akhlaq. Show all posts
Showing posts with label akhlaq. Show all posts

Monday, 29 February 2016

Menggunjing-rumpi

Ghibah- Menggunjing
Hasil gambar untuk menggunjingDalam banyak pertemuan di majlis, seringkali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam.
"Artinya : Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya". (Al-Hujurat: 12)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan makna ghibah (menggunjing) dalam sabdanya :
"Artinya : Tahukah kalian apakah ghibahitu ? "Mereka menjawab : "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. "Beliau bersabda :"Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya." Ditanyakan : "Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku ? "Beliau menjawab :
"Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya". (Hadits Riwayat Muslim, 4/2001)

Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.
Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya". (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

"Artinya : Barangsiapa menolak (ghibahatas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya". (Hadits Riwayat Ahmad, 6/450, hahihul Jami'. 6238)

Allahu a'lam

Saturday, 20 February 2016

Mengadu Domba

Namimah Mengadu Domba
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid
Hasil gambar untuk adu domba
Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia.
Allah mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firman-Nya.
"Artinya : Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah". (Al-Qalam : 10-11)
Dalam sebuah hadits marfu'yang diriwayatkan Hudzaifah, disebutkan :
"Artinya : Tidak akan masuk surga al-qattat(tukang adu domba)". (Hadits Riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Baari 10/472. Dalam An-Nihayah karya Ibnu Atsir 4/11 disebutkan : ".... Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada dua yang lain dengan tujuan mengadu domba".)
Ibnu Abbas meriwayatkan :
"Artinya : (Suatu hari) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati sebuah kebun di antara kebun-kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar dua orang yang sedang di siksa di dalam kuburnya, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Keduanya disiksa, padahal tidak karena masalah yang besar (dalam anggapan keduanya) -lalu bersabda- benar (dalam sebuah riwayat disebutkan "Padahal sesungguhnya ia adalah persoalan besar"). Salah seorang diantaranya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan seorang lagi (karena) suka mengadu domba". (Hadits Riwayat Al Bukhari, lihat Fathul Baari, 1/317)
Diantara bentuk namimahyang paling buruk adalah hasutan yang dilakukan terhadap seorang lelaki tentang istrinya atau sebaliknya, dengan maksud untuk merusak hubungan suami istri tersebut.
Demikian juga adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dengan tujuan untuk memfitnah dan merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini hukumnya haram.

Sunday, 20 September 2015

MEMULIAKAN TAMU

MEMULIAKAN TAMU
Suatu hari Rasulullah kedatangan seorang tamu dirumahnya. Dari penampilan tamu itu bisa langsung ditebak, bahwa ia orang yang sangat miskin. Waktu itu Rasulullah sedang bercakap - cakap dengan tamunya.
Hasil gambar untuk bertamu"Saya sedang dalam kesempitan, ya Rasulullah. Tak ada sesuatupun yang aku punyai," jelas tamu itu ketika ia dipersilahkan masuk kedalam rumah oleh Rasulullah. Begitu tamu itu duduk, Rasulullah langsung beranjak kebelakang menemui istrinya. Kepada istrinya dikatakannya bahwa ada tamu yang dalam kesusahan datang, "Kita sendiri tidak mempunyai apa - apa yang bisa kita berikan, yang ada hanya air putih saja."
Mendengar penjelasan istrinya itu, Rasulullah sedikit kecewa karena ia tak berkesempatan menjamu tamunya yang sedang dalam kesulitan. Rasulullah balik keruang tamu menemui para sahabatnya. "Siapa diantara kalian yang bersedia menjamu tamu malam ini ? Ia akan beroleh rahmat Allah S.W.T." "Saya, ya Rasulullah. Biarlah tamu itu menginap dirumahku saja." Salah satu diantara para sahabat Nabi itu menawarkan diri, yaitu orang Anshar.
Orang Anshar itu pulanglah. Sesampai dirumah ia menemui istrinya dan bertanya kepadanya tentang apa yang mereka miliki hari itu. "Ya, istriku. Tadi aku menyanggupi tawaran Rasulullah untuk menjamu tamunya yang sedang dalam kesulitan malam ini. Adakah makanan yang dapat kita jamukan untuk tamu kita itu ?"
"Sesungguhnya yang kita miliki cuma nasi untuk anak kita saja. Kalau ini kita sajikan, maka anak kita tidak dapat makanan malam ini."
"Kalau begitu bujuklah anak kita untuk segera tidur agar ia tidak merasa kelaparan."
"Tapi bagaimana ya, Nasi itu tinggal sedikit saja, tidak cukup untuk berdua."
"Begini saja, waktu tamu itu sudah datang, dan pada saat saya persilahkan makan, kamu pura - pura tidak sengaja mengibaskan lilin itu sehingga padam. Nanti, tamu itu kita persilahkan makan pada waktu gelap. Saya akan menemaninya sambil berpura - pura makan juga. Bila selesai ia makan, maka usahakan lilin sudah bisa dinyalakan."
"Baiklah ya suamiku, aku akan melakukan hal yang seperti itu."

Pada waktu tamu itu datang, maka dilaksanakanlah sandiwara tersebut. Esok harinya ketika orang Anshar dan istrinya bertemu Nabi, sebelum sempat berkata apa - apa. Nabi langsung tersenyum sambil berkata kepda mereka, "Aku benar-benar kagum dan hormat terhadap usaha kalian berdua kepada tamumu semalam itu."


Jabat Tangan, Cium Tangan

Jabat Tangan, Cium Tangan
Oleh : Hamid Ahmad

Ini cerita tentang jabat tangan. Rupanya, sejak zaman Rasulullah s.a.w. jabat tangan telah dipakai sebagai cara memberi "selamat" atas pencapaian yang diraih oleh seseorang.
Hasil gambar untuk jabat tangaBegitulah yang dialami oleh Ka'ab ibn Malik r.a., seorang lelaki yang saleh dan jujur. Ketika kaum muslimin pergi berangkat ke Perang Tabuk, dia dilanda kegamangan nan hebat. Sampai Rasulullah s.a.w. kembali ke Madinah, dia belum juga berangkat ke Tabuk, padahal dia tidak punya uzur (alasan) apapun, misalnya sakit dan semacamnya.
Dia sudah hendak berbohong kepada Rasulullah s.a.w., seperti dilakukan orang-orang lain yang tidak pergi berperang. Tapi, pada detik-detik terakhir dia memutuskan untuk berterus terang, apapun risikonya.
Rasulullah s.a.w. memuji kejujurannya. Namun, sebagai pemimpin dan sekaligus seorang nabi yang segala sesuatunya harus diserahkan pada Allah, beliau memutuskan untuk mengucilkan Ka'ab. Beliau melarang semua orang berkata-kata dengannya. Pada hari ke-40 dari pengucilan itu, beliau malah memerintahkan supaya Ka'ab menjauhi istri, tanpa menceraikannya.
Sungguh menyiksa berada dalam situasi seperti itu. "Bumi terasa sempit," kenang Ka'ab. Bahkan ucapan salamnya pun tidak dijawab oleh orang-orang. Toh, dia menjalaninya dengan sabar. Dia menunggu keputusan Allah dengan sangat setia. Sebenarnya ada tawaran dari penguasa Ghassan untuk hidup mulia, asalkan dia mau meninggalkan Madinah dan Islam, serta bergabung dengan mereka. Namun, tawaran menggiurkan ini ditolaknya.
Keputusan Allah itu akhirnya datang juga. Berkat kesalehan dan kejujurannya, pada hari ke-50, melalui Nabi-Nya, Allah memutuskan untuk menerima taubatnya. Semua orang memberinya selamat. "Lalu aku datang ke masjid (Masjid Nabawi)," tutur Ka'ab. "Ternyata di sana ada Rasulullah s.a.w. yang dikelilingi para sahabat. Thalhah ibn Ubaidullah tiba-tiba bangkit. Setengah berlari dia berjalan ke arahku, lalu menjabat tanganku. Dia memberiku selamat," kata Ka'ab r.a. (riwayat Al-Bukhari)

Salaman
Jabat tangan dalam bahasa Arab disebut shaafaha (dari akar kata shafhah yang berarti lembaran), karena dua lembar tangan bertemu saat berjabat tangan. Orang Inggris berkata "to shake hands" (menggoyang tangan) karena mereka menggoyang-goyang tangan saat berjabatan. Kita, orang Indonesia, menyebutnya jabat tangan karena kita saling memegang (menjabat) saat bersalaman. Dan orang Jawa berkata "salaman" karena jabat tangan berfungsi untuk mengucapkan salam —seperti didefinisikan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, jabat tangan adalah "berpegang-pegangan tangan saling mengucapkan salam."
Sebenarnya, terdapat banyak cara orang mengucapkan salam kala bersua. Ada yang membungkukkan badannya dalam-dalam (orang Jepang). Ada yang mengatupkan kedua tangannya di depan dada, sambil menggoyang-goyang kepala (orang India). Ada yang melakukan sun pipi sambil berangkulan, seperti banyak terjadi di antara para wanita.
Di tanah Arab, tradisi cium pipi sambil berangkulan tidak hanya berlangsung di kalangan wanita, tapi juga kaum lelaki. Terkadang, bila yang bertemu adalah dua saudara atau dua karib yang lama tak bertemu, mereka akan mendaratkan ciuman pada pipi yang lain hingga berulang-ulang. Kita di Indonesia juga punya tradisi demikian, yaitu bila berjumpa dengan jamaah haji yang baru pulang dari tanah suci.
Konon, orang pertama yang memperkenalkan cara berangkulan saat bertemu adalah Nabi Ibrahim a.s. "Sebelum itu, kalau berjumpa pada orang lain, orang bersujud. Yang ini bersujud kepada yang ini, yang ini bersujud kepada yang ini. Maka datanglah Islam dengan jabat tangan." (riwayat Tamim Ad-Dari)
Namun yang paling universal adalah jabat tangan. Tradisi ini sangat kental di kalangan orang-orang (Islam) Indonesia, terutama yang hidup di desa-desa dan kota-kota kecil. Kalau ada selamatan atau tasyakuran, orang yang baru datang berkeliling menyalami semua orang yang datang lebih dulu. Hal yang sama akan Anda dapati bila Anda pergi ke warung kopi di Pasuruan: orang yang baru datang menyalami semua pelanggan lain yang datang lebih dulu, baik yang dia kenal maupun tidak. Dan kalau orang Arab hanya bersalaman kala bertemu, orang Indonesia berjabat tangan pula kala berpisah.

Dari Yaman
Jabat tangan sudah umum dilakukan para sahabat Rasulullah s.a.w. Imam Qatadah bertanya kepada Anas ibn Malik r.a. "Apakah jabat tangan berlaku di kalangan sahabat?"
"Ya," jawab Anas. (riwayat Al-Bukhari)
Meski sudah umum di kalangan sahabat, tampaknya jabat tangan bukan asli tradisi Arab, atau setidaknya bukan tradisi asli di Jazirah Arab bagian tengah (tepatnya Mekah-Madinah). Buktinya, ketika Rasulullah s.a.w. mengajak Al-Barra' ibn 'Azib r.a. bersalaman kala bertemu, Al-Barra' berkata, "Saya menyangka cara ini adalah tradisi orang 'ajam (non-Arab)." Beliau menjawab, "Kita lebih berhak untuk berjabat tangan," (riwayat Abu Bakar Ar-Rawyani) Konon, cara ini dibawa oleh delegasi dari Yaman yang bertamu pada Rasulullah s.a.w. (riwayat Al-Bukhari dan Abu Dawud)
Islam merekomendasikan jabat tangan sebagai cara memberi salam karena cara ini lebih netral, bersih dari unsur-unsur penyembahan. Dituturkan oleh Anas ibn Malik r.a., Rasulullah s.a.w. ditanya, "Apabila seorang lelaki bertemu dengan temannya, apakah ia membungkukkan badan?"
"Tidak," jawab beliau. Lalu beliau meraih tangan orang itu dan menjabatnya. Dalam hadis lain beliau bersabda, "Tidaklah dua orang muslim bertemu, kemudian keduanya berjabat tangan, kecuali mereka mendapat ampunan dari Allah sebelum mereka berpisah," sabda Rasulullah s.a.w. seperti dituturkan oleh Al-Barra' ibn 'Azib r.a. (riwayat Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Dalam versi lain, "...dan keduanya saling bertukar senyum dengan cinta dan nasihat." Dalam versi lain lagi, "... dan keduanya memuji Allah dan beristighfar pada-Nya." Dari situ ulama sepakat, jabat tangan hukumnya sunnah, artinya berpahala.

Makruh
Tidak jarang, jabat tangan disertai cium tangan. Yakni bila yang disalami adalah tokoh agama, politik atau lainnya. Bahkan, kata orang, ada cium tangan politis. Contoh, kalau ada praktisi politik mencium tangan tokoh politik lainnya, atau mencium tangan simpul politik yang memiliki pengaruh besar, biasanya orang langsung menafsirinya sebagai cium tangan politis. Seringkali terjadi, bila tujuan politisnya sudah tercapai, atau tidak ada lagi kepentingan politis yang bisa diharapkan dari tokoh tersebut (karena pemilihan sudah usai, misalnya), cium tangan itu ikut berlalu pula. Terkadang, cium tangan dimaksudkan untuk pamer, yakni supaya diketahui oleh para pengikut tokoh dimaksud bahwa praktisi politik itu bersikap santun padanya.
Bagaimana posisi Islam mengenai tradisi cium tangan? Pada prinsipnya tidak masalah. Rasulullah s.a.w., misalnya, pernah membiarkan tangan dan dua kaki beliau dicium oleh dua orang Yahudi yang sowan pada beliau. (riwayat At-Tirmidzi dan Abu Dawud) Beliau juga membiarkan tangan dan dua kaki beliau dicium oleh anggota delegasi klan Abdul Qais. Jabir r.a. pun pernah memergoki Umar mencium tangan beliau. (riwayat Abu Dawud) Konon, Ka'ab ibn Malik r.a. mencium tangan Rasulullah s.a.w. saat tobatnya diterima oleh Allah.
Para sahabat pun biasa melakukan cium tangan di antara mereka. Zaid ibn Tsabit r.a., misalnya, diceritakan mencium tangan Ibnu Abbas, dan Abu Ubaidah r.a. mencium tangan Umar r.a., Ali ibn Abi Thalib r.a. konon mencium tangan dan kaki Al-Abbas r.a., pamannya.
Memang ada ulama yang memakruhkannya, yaitu Imam Malik ibn Anas. Namun sebenarnya, larangan Malik ini berlaku bila mencium tangan dilakukan untuk mengagungkan orang lain dan karena takabbur. Adapun jika hal itu dilakukan dengan niat ibadah kepada Allah, yakni dikarenakan keberagamaan orang tersebut, karena ilmunya atau karena kemuliaannya, hal itu dibolehkan.
Lebih jelas lagi adalah kata-kata Imam An-Nawawi, "Mencium tangan seorang lelaki karena kezuhudannya, karena kesalehannya, karena ilmunya, karena kemuliaannya (misalnya orang itu lebih tua, atau lebih tinggi pangkatnya dalam hubungan keluarga seperti ibu-bapak, kakak, paman dan semacamnya), atau karena hal-hal lain yang ada kaitannya dengan agama, maka tidak makruh, bahkan disunnahkan. Namun kalau dikarenakan kekayaannya, pangkat keduniawiannya atau karena kekuatan badannya, maka makruh sekali." Cium tangan politis, mungkin, masuk kategori terakhir ini.[]

Wednesday, 16 September 2015

bakti ke orangtua

Sedangkan menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat untuk kedua orang tua yang
sudah wafat, adalah :
 



[1] Mendo'akannya
[2] Menshalatkan ketika orang tua meninggal
[3] Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
[4] Membayarkan hutang-hutangnya
[5] Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari'at.
[6] Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya
Diantara bentuk durhaka (uquq) adalah :
[1] Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang
membuat orang tua sedih dan sakit hati.
[2] Berkata 'ah' dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
[3] Membentak atau menghardik orang tua.
[4] Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang
tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh
perhitungan.
[5] Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, 'kolot'
dan lain-lain.
[6] Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat
tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika 'Si Ibu" melakukan
pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
[7] Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
[8] Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.
[9] Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir
ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na'udzubillah.
[10] Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat
tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat
tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Di dalam ayat-ayat Al-Qur'an ketika disebutkan tentang bertauhid kepada Allah selalu diiringi dengan berbakti
kepada kedua orang tua. Para ulama telah menjelaskan hikmah dari permasalahan ini, yaitu :
[1] Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan dan Allah yang memberikan rizki, maka Allah Subhanahu
wa Ta'ala sajalah yan berhak untuk diibadahi. Sedangkan kedua orang tua adalah sebab adanya anak, maka
keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu kewajiban seorang anak untuk beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.
[2] Allah lah yang telah memberikan semua nikmat yang diperoleh hamba-hambaNya, maka hanya Allah
Subhanahu wa Ta'ala saja yang wajib di syukuri. Kemudian kedua orang tua lah yang telah memberikan segala
yang kita butuhkan seperti makan, minum, pakaian dan yang lainnya sehingga wajib bagi kita untuk berterima
kasih kepada keduanya. Oleh karena itu kewajiban seorang anak atas nikmat yang diterimanya adalah
bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bersyukur kepada kedua orang tuanya.
[3] Allah adalah Rabb manusia yang membina dan mendidik manusia di atas manhaj-Nya, maka Allah lah
yang berhak untuk diagungkan dan dicintai. Demikian juga kedua orang tua yang telah mendidik kita sejak
kecil, maka kita harus bersikap tawadlu' (merendahkan diri), tauqiir (menghormati), ta'addub (beradab) dan

talattuf (berlaku lemah lembut) dengan perkataan dan perbuatan kepada keduanya.