Showing posts with label teks Qur'an. Show all posts
Showing posts with label teks Qur'an. Show all posts

Friday, 1 January 2016

BAB III B I O G R A F I




B I O G R A F I
MUHAMMAD MUSTAFA AL-A'ZAMI adalah salah seorang cendekiawan terkemuka di bidang ilmu Hadith, lahir di Mau, India pada awal tahun tiga puluhan. Pendidikan pertama di Dar al-`Ulum Deoband, India (1952), Universitas al-Azhar, Kairo, (M.A., 1955), Universitas Cambridge (Ph.D., 1966). Guru Besar Emeritus (pensiun) pada Universitas King Sa'ud (Riyad) dan beliau pernah menjabat sebagai kepala jurusan Studi Keislaman, dan memiliki kewarganegaraan Saudi Arabia. Profesor A'zami pernah menjabat sebagai Sekretaris Perpustakaan Nasional, Qatar; Associate Profesor pada Universitas Umm al-Qura (Mekah) ; Sebagai Cendekiawan tamu pada Universitas Michigan (Ann Arbor); Fellow Kunjungan pada St. Cross College (Universitas Oxford) ; Professor Tamu Yayasan Raja Faisal di bidang Studi Islam pada Universitas Princeton, Cendekiawan Tamu pada Universitas Colorado (Boulder). Beliau juga sebagai Professor kehormatan pada Universitas Wales (Lampeter). Karya-karyanya antara lain, Studies in Early Hadith Literature, Hadith Methodology dan Literaturnya, On Schacht's Origin of Muhammadan Jurisprudence, Dirasat fi al-Hadith an-Nabawi, Kuttab an­Nabi, Manhaj an-Naqd `ind al-`Ilal Muhaddithin, dan al-Muhaddithin min al­Yamamah. Beberapa buku yang dieditnya antara lain, al-` Ilah of lbn al-Madini, Kitab at-Tamyiz of Imam Muslim, Maghazi Rasulullah of `Urwah bin Zubayr, Muwatta Imam Malik, Sahih ibn Khuzaimah, dan Sunan ibn Majah. Beberapa karya al-A'zami telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Karya yang akan datang antara lain, The Qur'anic Challenge: A Promise Fulfilled (Tantangan AI-Qur'an: Suatu Janji yang Telah Terpenuhi), dan The Isnad System : Its Origins and Authenticity (Sistem Isnad: Keaslian dan Kesahihan­nya). Pada tahun 1980 beliau menerima Hadiah Internasional Raja Faisal untuk studi keislaman.


BAB 2(3) : SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM

BAB 2 :  SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM


3. Meninggalnya Nabi Muhammad  Dan Kepemimpinan Abu Bakr

i. Abu Bakr Menangani Gerakan Pemurtadan

Meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun ke-11 hijrah telah me¬ngantarkan Abu Bakr sebagai pewaris negara Islam yang sedang mekar. Pada masa kegemilangan Nabi Muhammad, beberapa orang munafiq seperti Musailama al-Kadhab,82 memproklamasikan diri sebagai seorang nabi baru.83 Dengan me¬ninggalnya Nabi Muhammad, pemurtadan terjadi di sebagian besar wilayah Madinah.84 Beberapa kepala suku yang merasa kehilangan kedudukan selama kehidupan Nabi Muhammad mengikuti jejak Musailama ngaku-ngaku sebagai nabi baru, seperti Tulaiha bin Khuwailid dan seorang wanita yang mengaku sebagai nabi, seperti Sajah binti al-Harith bin Suwaid, pengikut agama Kristen.85

Keadaan sedemikian ruwet sehingga ‘Umar menyarankan agar Abu Bakr melakukan sikap kompromis untuk sementara waktu dengan mereka yang tak mau membayar zakat. la bersikeras clan menolak pendapat itu dan bahkan mengatakan, "Demi Allah, dengan sikap pasti, saya akan perangi setiap yang memutus shalat dari bayar zakat suatu keharusan bagi tiap orang kaya. Demi Allah, jika terdapat seutas benang pengikat- sebuah kosakata yang digunakan untuk mengikat kaki unta-yang telah ditentukan oleh Rasulullah untuk dikeluarkan zakat sedang mereka menolaknya, saya akan perangi perkara yang demikian."86 Abu Bakr berdiri sendiri dalam mempertahankan pendapat laksana gunung raksasa yang tak mungkin tergoyahkan sehingga tiap orang memihak padanya.

Dalam mengatasi penyelewengan, Abu Bakr bergegas ke Dhul-Qassa, yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Madinah.87 Beliau memanggil seluruh pasukan militer yang ada dan membagi-bagi ke dalam sebelas resimen dilengkapi seorang komandan terkemuka pembawa panji pada setiap bagian dengan tujuan tertentu. Khalid bin al-Walid ditugaskan mengatasi Tulaiha bin Khuwailid; `Ikrima putra Abu Jahl bersama Shurahbil untuk mengatasi Musailama; Muhajir putra Abu Umayyah ditugaskan menghadapi sisa-sisa kekuatan al-Aswad al-Ansari dan Hadramout; Khalid bin Sa'id bin al-'As diberi tugas mengatasi al-Hamqatain di perbatasan Syria, 'Amr bin al-'As diberi tugas mengatasi Quza' ah dan lainnya; Hudhaifa bin Mihsin al-Ghalafani ditugaskan ke Daba di Teluk Aman; `Arfaja bin Harthama ke Mahara; Turaifa bin Hajiz kepada ban! Sulaim; Suwaid bin Muqarrin pada Tahama di Yaman; al-'Ala' bin al-Hadrami diberi tugas ke Bahrain; dan Surahbil bin Hasana ke daerah Yamama dan Quda'a.88

Di antara itu semua, barangkali. peperangan terbesar yang paling sengit adalah terjadi di Yamama melawan Musailama dengan jumlah pasukan melebihi empat puluh ribu di mana memiliki hubungan antarsuku terbesar di wilayah itu. Ikrima pada mulanya diutus mengatasinya namun karena kemampuan yang terbatas ia dikirim ke wilayah lain. Shurahbil, yang ditugaskan membantu 'Ikrima, diberitahukan agar menunggu kehadiran komandan baru, Khalid bin al-Walid, yang akhirnya menewaskan pasukan militer Musailama yang begitu mengagumkan.

Setelah penumpasan para pemberontak dan kembalinya semenanjung Arab di bawah pengawasan tentara Muslim, Abu Bakr menugaskan Khalid bin al-Walid menuju Irak.89 Di sana mampu mengalahkan tentara Persia di Ubulla, Mazar, Ullais (pada bulan Safar tahun ke-12 Hijrah/bulan Mei tahun 633 Masehi). Walujah disulap menjadi sungai banjir darah (pada bulan yang sama), Amghisia, dan Hira (Dhul Qi'da pada tahun ke-12 Hijrah/Januari tahun 634 Masehi),90 tempat la mendirikan pusat pertahanan.91 Setelah Hira ia melaju ke Anbar (tahun 12 Hijrah/di musim semi tahun 633 Masehi) dan menemukan kota pertahanan dilindungi oleh parit-parit. Persyaratan perdamaian dapat diterima, akan tetapi ia terus menuju 'Ain at-Tamr melintasi padang pasir selama tiga hari ke arah barat Anbar.92 Di sana terdapat musuh campuran antara orang Persia dan orang-orang Kristen Arab yang sebagian mereka pengikut seorang wanita yang mengaku menjadi nabi, bernama Sajah;93 dalam per¬tempuran pasukan Kristen berperang lebih ganas dibanding tentara Persia. Keduanya kalah dan kota itu jatuh ke tangan kekuasaan umat Islam.

ii. Pasukan Militer Menuju Suriah

Ditaklukkannya semenanjung Arab di akhir tahun ke-12 Hijrah (633 Masehi.), Abu Bakr berencana menaklukkan Suriah. Dua pilihan komandan pertama, Khalid bin Said bin al-'As diikuti oleh 'Ikrima bin Abu Jahl, berhasil secara memadai. Kawasan itu dibagi empat zon dengan komandan militer masing-masing: Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah bertanggung jawab atas daerah Hims (di bagian Barat Suriah sekarang); Yazid bin Abi Sufyan bertanggung jawab atas Damaskus; 'Amr bin al-'As bertanggung jawab atas Palestina dan Sharhabil bin Hasana terhadap Jordania.

Musuh-musuh Romawi bertindak serupa membuat empat resimen. Abu Bakr kemudian mengubah strategi dan memerintahkan empat orang jendral agar bergabung bersama dan meminta Khalid bin al-Walid mengambil langkah cepat menuju Suriah membawa separuh pasukan yang ada dan bertindak sebagai panglima militer. Di sana ia mendapat kemenangan yang luar biasa se¬dang di tempat lain tentara Muslim melaju cepat menghadapi musuh-musuhnya.

4. Negara-Negara dan Provinsi yang ditaklukkan
pada Masa Kepemimpinan 'Umar dan 'Uthman
o    Yarmuk atau Wacusa, 5 Rajab, tahun ke-13 Hijrah/Sept. 634 Masehi;
o    Peperangan Qadisiya, Ramadan, tahun ke-14 Hijrah/Nov. 635 Masehi.
o    Ba'alback, 25 Rabi Awwal, tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
o    Hims dan Qinnasrin ditaklukan pada tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
o    Palestina dan Quds (Jerusalem) dikuasai pada Rabi II, tahun ke-16 Hijrah/637 Masehi;
o    Panaklukan Madian, tahun ke-I5 hingga ke-16 Hijrah/636-7 Masehi;
o    Jazira (Ruha, Raqqa, Nasibain, Harran, Mardien) sebagian besar penduduknya terdiri orang Kristen, ditaklukkan pada tahun ke-18 hingga ke¬20 Hijrah/639-40 Masehi;
o    Penaklukan Persia: Nehavand, ke-19 hingga ke-20 Hijrah/640 Masehi;
o    Mesir (tidak termasuk Iskandariya) pada tahun ke-20 Hijrah/640 Masehi;
o    Iskandariyya pada tahun ke-21 Hijrah/641 Masehi;
o    Barqa (Libya) pada tahun ke-22 Hijrah /643 Masehi;
o    Tripoli (Libya) pada tahun ke-23 Hijrah/643 Masehi;
o    Cyprus, pada tahun ke-27 Hijrah /647 Masehi;
o    Armenia, pada tahun ke-29 Hijrah /649 Masehi;
o    Dhat as-Sawari, pada tahun ke-31 Hijrah /651 Masehi;
o    Azerbaijan, Deulaw, Marw (Merv), dan Sarakhs, pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi;
o    Kirman, Sijistan, Khurasan, dan Balkh, juga pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi.
Setelah memerintah selama 395 tahun, tirai dinasti Sasanid jatuh ke tangan bangsa yang baru berusia tiga dasawarsa yang masih belum memiliki pengalaman administrasi dan peperangan yang dapat dibanggakan. Hal ini tidak mungkin terjadi melainkan bagi umat Islam yang memiliki keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, clan ketinggian agama-Nya.

Menurut Prof Hamidullah,94 daerah yang ditaklukkan selama 35 tahun setelah Hijrah (di akhir kekuasaan 'Uthman) dibagi sebagai berikut:

Daerah yang dikuasai sejak Masa Nabi Muhammad

Masa Nabi Muhammad    hingga tahun 11 hijriah    1,000,000    mil 2
Abu Bakr as-Siddiq    tahun 11-13 hijriah    200,000    mil 2
Umar bin al-Khattab     tahun 13-25 hijriah    1,500,000    mil 2
'Uthman bin ‘Affan     tahun 25-35 hijriah    800,000    mil 2
Jumlah    3,500,000    mil 2



Gambar 2.3: Perbatasan Negara Islam pada akhir khalifah ketiga (35 hijriahl655 Masehi); perbatasan sewaktu rasulullah wafat tertulis warna hijau (lht. Map)

Nabi Musa dan kedua belas suku bangsa Israel berkelana di Gurun Sinai selama empat puluh tahun tidak lebih dari seratus mil sebagai siksaan karena tidak mengindahkan perintah Allah ; dalam masa yang singkat pasukan tentara Islam mampu menaklukkan tiga setengah juta mil persegi yang sekarang disebut dengan daerah Timur Tengah.

5. Kesimpulan

Di samping luasnya wilayah teritorial yang telah ditaklukkan oleh pasuk¬an tentara Muslim, baik melalui peperangan maupun deputasi (pengutusan), Nabi Muhammad wafat mewariskan dua harta pusaka umat Islam: Kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah.95 Tugas mulia dilanjutkan oleh ribuan sahabat yang secara pribadi mengenal, tinggal, dan makan bersama beliau serta mengalami pedihnya rasa lapar, tanpa menghunus mata pisau pada pihaknya. Mereka telah berikrar janji setia dalam menghadapi berbagai kepentingan hidup tiap saat tanpa perasaan gentar sedikit pun. Kita hanya dapat menduga jumlah mereka yang kecil dan kita dapat membaca pengikut pasukan Musailama yang sebanyak empat puluh ribu hanyalah selusin di antara mereka yang terlibat dalam pertempuran dan menderita kekalahan tak berdaya. Adalah tidak mungkin mereka menghadang enam ratus ribu pasukan tempur melintasi lautan beserta Nabi Musa, seperti tercatat dalam cerita exodus,96 akan tetapi jumlah besar seperti itu hanya berkelana tak menentu di sekitar gurun pasir di bawah terik matahari. Sedangkan para sahabat nabi mampu menuai berkah kemenangan yang luar biasa. Selama penjagaan dengan begitu ketat terhadap agama baru, seluruh sistem manajemen dibangun di atas fondasi Al-Qur'an dan Sunnah sehingga penyelewengan tidak diberi peluang berkembang: Lingkungan yang seperti itu membuktikan sikap setia terhadap pemeliharaan teks kitab umat Islam dalam bentuknya yang asli, seperti yang hendak kita lihat berikutnya.

BAB 2(2) : SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM

BAB 2 :  SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM

2. Masa Kenabian Muhammad 
(53 Sebelum Hijrah -11 Setelah Hijrah/571-632 Masehi.)46

Mengungkap kehidupan Nabi dalam Islam adalah pekerjaan yang cukup luas, seorang dapat menulis buku berjilid jilid yang dapat disajikan bagi ka¬langan yang berminat. Tujuan dalam bagian buku ini sedikit lain. Dalam bab-bab berikut kita akan mengupas beberapa nabi dari kalangan Israel, termasuk Nabi Isa dan kita hendak mengungkap sikap oposisi orang-orang Israel dan penye¬lewengan yang begitu cepat terhadap ajaran ketuhanan. Di sini, dalam melihat kembali jalan yang telah ditempuh oleh penulis lain, saya sekadar memaparkan uraian singkat guna melengkapi referensi tentang Nabi Musa dan Nabi Isa.

i. Kelahiran Muhammad 

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa `Abdullah, ayah Muhammad, wafat saat Amina sedang hamil. Muhammad dilahirkan dalam keadaan serbapelik. la hadir dari keluarga miskin namun cukup terpandang di masyarakat. Beberapa saat kemudian ibunya juga meninggal dunia dan men¬jadi anak yatim sejak usia enam tahun. la mulai bekerja sebagai penggembala kambing di kota Mekah di dataran bumi yang tandus itu.47 Mengikuti jejak tradisi kehidupan orang Quraish, ia pun terjun ke dunia bisnis. Sikap integritas dan keberhasilannya sebagai pedagang, ia berhasil meraih simpati Khadijah seorang janda tua, cerdik, lagi kaya. Kemudian ia menikahinya.48 Muhammad amat terkenal memiliki sikap kejujuran dan integritas di seluruh kota Mekah dalam semua masalah. Pendapat Ibn Ishaq mengatakan, "Sebelum turunnya wahyu, orang-orang Quraish telah memberi label sebagai satu-satunya orang tepercaya (al-amin).49

ii. Muhammad Manusia Tepercaya

Datang masa yang amat tepat ketika orang Quraish merasa perlu mere¬novasi Ka'bah. Mereka bekerja sama di mana setiap anggota suku mengum¬pulkan batu-batu untuk membangun kembali sebagian struktur ada. Ketika konstruksi itu sampai pada peletakan batu hitam (Hajar al-aswad) perselisihan semakin memanas. Setiap sub-kesukuan ingin mendapat kehormatan me¬letakkan batu hitam itu pada sudutnya sampai titik puncaknya mereka membuat aliansi di mana bentrokan fisik semakin tak terelakan. Abu Umayya, sesepuh di kalangan bangsa Quraish, mendesak agar orang pertama yang memasuki pintu gerbang tempat suci ditunjuk sebagai juri dan semua dapat menerima pendapat ini. Orang pertama yang masuk pintu gerbang tidak lain adalah Muhammad. Ketika orang Quraish melihat, mereka berkomentar, "Kini hadir orang kepercayaan dan kita semua senang melihat ia bertindak sebagai hakim. Di sini Muhammad tiba." Ketika ia diberitahukan akan adanya perselisihan, ia meminta sehelai kain. Kemudian ia mengambil batu hitam itu dan meletakkan di atasnya dan meminta setiap kepala suku memegang bagian ujung penjuru kain dan mengangkat bersama-sama. Semua melakukannya dan saat mereka sampai pada titik batu hitam la (Muhammad) mengangkat dan meletakkannya dengan tangan sendiri. Dengan penyelesaian perselisihan yang memuaskan semua pihak, konstruksi bangunan berjalan tanpa ada gangguan yang lain.50

iii. Muhammad  Utusan Allah

Dengan diberkahi sikap ideal dan benci terhadap segala jenis pemberhalaan, Muhammad tidak pernah sujud di depan patung erang Quraish ataupun ikut serta dalam ritual kemusyrikan. Selain ia hanya menyembah Tuhan Yang Esa, cara berpikir yang baik, dan keadaan buta huruf menye¬babkan la tak tahu-menahu praktik keagamaan Kristen maupun Yahudi. Kemudian sewaktu mulai menunjukkan tanda-tanda kematangan menerima tugas kenabian, Allah mempersiapkan tugas ini secara bertahap. Pertama, ia melihat kebenaran sebuah mimpi.51 la melihat batu memberi hormat padanya,52¬selain itu pernah mendengar Malaikat Jibril namanya dari langit,53 dan ia melihat cahaya bersinar.54

'A'isha melaporkan bahwa pendahuluan kenabian Muhammad adalah kesempurnaan impiannya: dalam masa enam bulan ia melihat mimpi begitu akurat menjelma seperti kenyataan. Kemudian, ketika wahyu pertama turun sewaktu menyendiri di Gua Hira', Malaikat Jibril muncul di depannya dan berkali-kali minta agar membaca. Saat melihat sikap dan penjelasan Muhammad bahwa ia seorang buta huruf, Jibil tetap ngotot hingga akhirnya dapat menirukan ayat-ayat pertama dari Surah al-'Alaq;55



'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpa! darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."56

Inilah pertama kali diturunkannya wahyu (  ) dan permulaan dari Kitab Al-Qur'an.
Suatu yang di luar dugaan pada usia empat puluh, Allah memanggil Muhammad dengan risalah sederhana tetapi jelas berupa pengakuan  (‘Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya'). Dengan ini ia telah diberi mukjizat abadi yang dapat memuaskan akal pikiran, penawan hati yang mampu menggugah kembali jiwa jiwa yang tak berdaya yaitu berupa Kitab Suci Al-Qur'an.

iv. Abu Bakr Menerima Islam

Abu Bakr ibn Quhafa merupakan orang pertama di luar keluarga Nabi Muhammad. yang menerima Islam yang kemudian diberi gelar as-Siddiq. la seorang pedagang terkemuka dan disegani yang kemudian menjadi seorang sahabat setianya. Pada suatu hari ia bertanya pada Muhammad, 'Adakah betul apa yang dikatakan orang Quraish tentang engkau wahai Muhammad, bahwa mengganggu tuhan-tuhan mereka, menghina cara berpikir kita dan tak percaya pada tata perilaku yang dilakukan bapak-bapak kita terdahulu?', tanya Abu Bakr. Muhammad menjawab, "Saya seorang Nabi Allah dan utusan-Nya, saya diutus untuk menyampaikan risalah-Nya. Saya memanggil ke jalan Allah yang benar. Karena kebenaran ini aku mengajakmu mengikuti jalan Allah, Tuhan Yang Esa yang tidak ada menyamai-Nya, agar tidak menyembah kecuali Dia, dan memberi pertolongan pada mereka yang menaati perintah-Nya." Kemudian ia membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur'an yang menawan hatinya dan kemudian menyatakan menerima agama Islam.57

Selain sebagai seorang pedagang kenamaan, Abu Bakr punya makna tersendiri di hati orang Quraish. Dengan inisiatif sendiri menyampaikan risalah ini, ia mulai mengajak pihak lain mengikuti jejaknya terutama orang-orang kepercayaan yang sering berjumpa di pusat perdagangan. Banyak di antara mereka yang mengikuti, di antaranya az-Zubair bin al-'Awwam, 'Uthmam bin 'Affan, Talhah bin `Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqas dan 'Abdul-Rahman bin 'Auf. Abu Bakr menjadi pembela utama Nabi Muhammad dan memiliki keimanan yang prima dalam kondisi serbasulit sekalipun. Dalam hal perj alanan Nabi Muhammad ke Bait al-Maqdis (Jerusalem), beberapa pengikutnya tidak dapat menerima secara rational kejadian tersebut yang mengakibatkan se¬bagian mereka murtad. Para kafir Mekah mengambil kesempatan ini mem¬bujuk Abu Bakr membelot dari keyakinannya. Adakah ia masih percaya bahwa Muhammad telah melakukan perjalanan di malam hari ke Jerusalem dan kembali ke Mekah sebelum fajar? la menjawab, "Tentu saya percaya. Saya percaya terhadap sesuatu yang lebih dianggap aneh oleh kalian, yaitu sewaktu Muhammad memberitahukan menerima wahyu dari langit."58


v. Nabi Muhammad Berdakwah secara Terbuka

Setelah tiga tahun lamanya berdakwah secara rahasia, Nabi Muhammad dapat perintah Allah agar menyebarkan pesan-pesan dakwah terang-terangan.



"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik."59


Pada tahap awal, Nabi Muhammad melihat keberhasilan dakwahnya karena para pembesar dan kepala suku tidak ada di kota Mekah. Saat kembali, mereka mulai membuat perhitungan dan menyadari akan bahaya agama baru ini. Mereka mulai melakukan penindasan terhadap masyarakat Muslim yang baru lahir. Beberapa rakyat kecil mulai dipaksa kembali menerima tata cara kehidupan semula sedang lainnya tetap bertahan pada kepercayaan agama baru. Dari hari ke hari kekejaman semakin meningkat dan Nabi Muhammad setelah lebih kurang dua tahun dalam penindasan minta mereka yang tak tahan menghadapi ujian agar hijrah ke Habashah.60 Memasuki kejadian tahun ke lima kenabian, mereka yang menerima usulan untuk hijrah berjumlah kurang dari dua puluh orang.61 Hijrah kedua dimulai tidak lama setelah melihat meningkatnya penindasan pihak orang-orang kafir yang ingin mencabut akar pemikiran Islam dari lubuk hati mereka.62 Melihat kegagalan strategi yang mereka lakukan, orang-orang kafir mulai mengambil langkah baru.

vi. Tawaran Pihak Quraish kepada Muhammad 

Dengan masuk Islamnya Hamzah (salah satu paman Nabi Muhammad) merupakan titik klimaks bahaya yang dirasakan oleh pihak Quraish. 'Utba bin Rabi'a, seorang kepala suku melihat Muhammad melakukan shalat di Masjid al-Haram sendirian dan memberitahukan kepada lain, "Saya akan pergi me¬nemui Muhammad mengemukakan beberapa usulan yang mudah-mudahan ia dapat menerimanya. Kita akan tawarkan apa saja yang la mau dan kita akan membiarkan ia dalam keadaan selamat." ‘Utba pergi menemuinya dan berkata,

"Wahai saudara sepupuku, anda adalah satu di antara kita, keturunan kabilah termulia serta memiliki asal usul keturunan yang amat terpandang. Anda hadir di tengah para pengikut dengan membawa masalah yang amat besar yang mengakibatkan pecahnya masyarakat. Engkau caci maki tatanan hidup, menghina tuhan-tuhan dan agama mereka dan anda anggap keturunan mereka sebagai kafir. Sekarang dengar apa yang hendak saya tawarkan dengan harapan anda akan dapat menerima salah satu darinya." Nabi Muhammad setuju 'Utba meneruskan ucapannya, "Wahai saudara sepupu saya, jika sekiranya anda menghendaki-dengan apa yang anda bawa-harta kekayaan, kita akan mengumpulkan seluruh kekayaan dan menganugerahkan pada anda sehingga anda terlihat sebagai orang terkaya; jika sekiranya anda menghendaki kedudukan, saya akan mengangkat engkau pemimpin saya dan tak akan ada keputusan apa pun yang hendak dibuat tanpamu; jika anda menghendaki kekuasaan, saya akan membuatmu sebagai seorang raja; dan jika yang ada padamu ternyata merupakan roh jahat, seperti yang anda lihat tetapi tak mampu menghindar, saya akan mencari pakar peruwatan dan menggunakan seluruh harta kekayaan demi penyembuhan penyakitmu. Biasanya setiap roh jahat ada saja seorang ahli penyembuhnya." Setelah mendengar penuh sabar dan perhatian, Nabi Muhammad mulai menjawab, "Sekarang dengarlah dari saya:



"Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) maka mereka tidak (kamu) mendengarkan. Mereka berkata, ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).' "63


Nabi Muhammad meneruskan bacaan sementara ‘Utba mendengar penuh perhatian sehingga sampai pada sepotong ayat yang memerintahkan sujud dan ia melakukannya. Nabi Muhammad kemudian berkata, "Anda telah mendengar apa yang telah kubacakan dan selanjutnya terserah sikap anda."64

vii. Boikot Kaum Quraish terhadap Muhammad dan Sukunya

Melihat kegagalan persuasi yang dilancarkan kepada Muhammad, para dedengkot Quraish menempuh cara lain. Mereka mendekati Abu Talib, sesepuh yang paling disegani dan sekaligus paman dan sumber proteksi baginya. la meminta agar Muhammad berhenti mencaci tuhan orang lain, mengutuk keturunan, dan agama nenek moyang mereka. Abu Talib diutus menyampaikan pesan mereka. Melihat sikap pamannya yang semakin goyah dalam mem¬belanya, Muhammad menjawab, "Wahai pamanku, demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kanan dan bulan di sebelah kiri memaksa saya agar meninggalkan tugas ini, saya akan tak akan menyerah. sehingga Allah memberi kemenangan ataupun aku binasa karena-Nya." Mendengar ucapannya, Abu Talib menoleh ke belakang sambil mengusap air mata. Tersentuh oleh ucapannya, ia meyakinkan dan tidak akan mundur sedikit pun dari pembelaan. Beberapa saat kemudian, sebagian anggota suku ban! Hashim dan al-Muttalib tidak mau meninggalkan Muhammad dan menyerahkannya meskipun mereka sama-sama menyembah berhala seperti lazimnya orang Quraish. Dengan kegagalan saat itu, para pembesar Quraish mengeluarkan menyatakan pemboikotan terhadap ban! Hashim dan al-Muttalib yang antara lain, perkawinan dan semua bentuk transaksi perdagangan sesama orang-orang Quraish agar diputus sampai pada keperluan sehari-hari tidak disediakan. Kekejaman yang me¬matikan itu berlangsung selama tiga tahun di mana Nabi Muhammad dan seluruh pengikutnya menderita kelaparan luar biasa tanpa makanan di tengah padang pasir tanpa tumbuh-tumbuhan.65

viii. Sumpah Setia 'Aqaba

Satu dasawarsa perj alanan dakwah, Nabi Muhammad mendapat beberapa ratus pengikut yang sabar dan tahan menghadapi segala penindasan. Pada masa itu pula agama ini dapat menyentuh telinga dan hati sebagian penduduk Madinah, yang letaknya lebih kurang 450 kilometer dari utara kota Mekah. Orang-orang Islam dari wilayah itu berkunjung ke Mekah tiap musim haji yang jumlahnya selalu bertambah sehingga pada akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad secara diam-diam di ‘Aqaba, dekat Mina di malam hari guna menyampaikan sumpah dan janji setia dengan noktah-noktah berikut,66

Gambar 2.2: Situs tempat Sumpah Setia ‘Aqaba di buat (Sebuah Masjid tua Menghiasi tempat tersebut).

(1). Tidak akan menyekutukan Allah; (2). Menaati Nabi Muhammad dalam semua kebaikan; (3). Tidak akan mencuri; (4). Menjauhi perbuatan zina; (5). Menjauhi perbuatan maksiat, dan (6). Tidak akan mengumpat orang lain.

Tahun berikutnya dengan jumlah lebih besar (lebih dari tujuh puluh termasuk wanita) kembali menemui Nabi Muhammad di musim haji mengundang beliau hijrah ke Madinah. Pada malam itu mereka mengucapkan sumpah setia yang ke dua kali dengan sedikit penambahan ungkapan kata-kata;67 hendak memberi proteksi pada Nabi Muhammad seperti halnya mereka memproteksi keluarga mereka. Dengan undangan ini kaum Muslim yang merasa tertindas dapat menemukan jalan keluar, sebuah perjalanan di mana akan mendapat sambutan hangat dari penduduknya.

ix. Upaya Pembunuhan Nabi Muhammad

Setelah sanksi ekonomi yang amat kejam itu berjalan tiga tahun, sebagian masyarakat Muslim cenderung menerima tawaran dan sebagian mulai berhijrah. Menyadari akan gerak yang mungkin dilakukan oleh Nabi Muhammad ke utara menuju Madinah hanya akan memperlambat konfrontasi yang tak mungkin terelakan. Demi tercapainya tujuan, para pembesar Quraish menya¬dari akan waktu yang tepat untuk mengakhiri permusuhan dengan kesepakatan menghabisi nyawa Nabi Muhammad.

Setelah mencium upaya itu, Allah memerintahkan Muhammad agar segera bergegas hijrah ke Madinah secara rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu akan rencana ini kecuali All, Abu Bakr, serta keluarganya. Nabi Mu¬hammad minta agar 'Ali tinggal sementara karena dua alasan. Pertama sebagai upaya diversi, Ali diminta menginap di tempat tidur Rasulullah persis dengan cara-cara yang dil'akukan Nabi Muhammad dengan mengenakan kain selimutnya. Hal ini dimaksudkan sebagai trick bagi mereka yang sedang menunggu. Kedua, upaya pengembalian citra bahwa orang-orang masih menaruh harapan pada Nabi Muhammad guna memelihara tuhan-tuhan mereka sebagai keper¬cayaan sikapnya masih belum ada seorang pun yang mampu menyaingi.68

x. Muhammad  di Madinah

Menghindari upaya pembunuhan, berkat rahmat dan izin Allah, Nabi Muhammad berhijrah ditemani sahabat setianya, Abu Bakr, bersembunyi selama tiga hari di Gua at-Thur yang gelap.69 Madinah diwarnai upacara kebesaran saat beliau tiba pada bulan rabi 'al-awwal, di mana seluruh jalan penuh dengan luapan ekspresi kegembiraan pantun dan syair. Dengan berakhirnya segala penindasan, Nabi Muhammad tidak lama kemudian mulai membangun sebuah masjid sederhana yang cukup luas dan mampu menampung banyak para penuntut ilmu, tamu-tamu, dan para pelaku ibadah tiap hari dan shalat Jumat. Jauh sebelumnya, sistem perundang-undangan telah dirancang yang mengatur hubungan tanggung jawab kaum pendatang dari Mekah dan penduduk Madinah terhadap orang lain, negara Islam yang baru lahir, sesama orang Yahudi, dan kedudukan serta tanggung jawab mereka terhadap masyarakat dan negara. Ini merupakan sistem perundang-undangan pertama yang tertulis dalam sejarah dunia:70

Madinah terdiri dari sebagian beberapa suku orang Yahudi. Aus dan Khazraj adalah suku terbesar di antara yang ada. Kedua suku itu terikat tali hubungan darah, kendati tak serasi dan sering kali terlibat dalam konflik bersenjata. Orang-orang Yahudi selalu berubah sikap yang mengakibatkan keretakan di antara mereka. Kedatangan Nabi Muhammad telah mengobarkan minat pemeluk agama baru ke setiap rumah suku Aus dan Khazraj, seperti halnya situasi politik yang semakin jelas dengan terciptanya perundang¬undangan baru di mana Nabi Muhammad sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dan sekaligus sebagai pemimpin umat Islam dan juga bangsa Yahudi. Bagi mereka yang tidak suka memihak pada Nabi Muhammad dianggap kurang bijak untuk melakukan oposisi terbuka, dan bagi mereka sikap bermuka dua menjadi hal yang rutin. Orang-orang munafik berupaya menyakiti Nabi Muhammad dan pengikutnya melalui berbagai cara dan dengan penuh semangat yang tak terpatahkan sepanjang kehidupan beliau.

Permusuhan secara terang-terangan antara umat Islam dan orang kafir Arab dan keberadaan orang Yahudi, telah menyulut terjadinya beberapa per¬tempuran besar dan kecil. Peperangan yang besar, antara lain, seperti Perang Badardi bulan Ramadan dua tahun setelah hijrah,71 Perang Uhud yang terjadi pada bulan Shawwal, tahun ke-3 setelah hijrah; Perang Khandaq di bulan Shawwal, tahun ke-5 setelah hijrah; Perang Ban! Quraiza, tahun ke-5 setelah hijrah; Perang Khaebar, Rabi al-Awwal tahun ke-7 setelah hijrah, Perang Mu'ta, Jumad al-Awwal tahun ke-8 setelah hijrah, penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah), pada bulan Ramadan tahun ke-8 setelah hijrah, Perang Hunain dan Ta'if, pada bulan Shawwal tahun ke-8 setelah hijrah, tahun pendelegasian72, dan Perang Tabuk pada bulan Rajab tahun ke-9 setelah hijrah.

Kendati musuh-musuh Nabi Muhammad dalam peperangan pada umum¬nya terdiri dari para penyembah berhala, pada hakikatnya termasuk juga orang¬orang Yahudi dan Kristen yang beraliansi dengan kekuatan kafir Quraish dalam melakukan oposisi terhadap orang Islam. Saya sebut beberapa kejadian dari peperangan ini bukan hendak memperpanjang pembahasan melainkan sekadar perbandingan merebaknya agama Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad dan sikap kacau bangsa Israel dalam pengembaraan di masa Nabi Musa dan perjuangan dua belas utusan peserta Nabi Isa.73

xi. Awal Pecahnya Perang Badar

Nabi Muhammad mendengar berita bahwa kafilah besar melewati rule dekat kota Madinah di bawah komando kepemimpinan Abu Sufyan. Nabi Muhammad berusaha menghadangnya namun sempat Abu Sufyan mencium jejak itu dan akhirnya mengubah rute perjalanan dengan mengirim seorang utusan ke Mekah agar menambah jumlah personal. Pasukan tempur dengan seribu tentara dan tujuh ratus unta serta pasukan kuda dipersiapkan atas saran Abu Jahl, suatu pertunjukan kekuatan raksasa yang hendak menggempur kota Madinah. Setelah menerima mata-mata tentang kafilah serta perubahan rule perjalanan dan pasukan militer Abu Jahl, Nabi Muhammad membuat pe-ngumuman minta saran sahabafiya. Abu Bakr berdiri secara terhormat sikap terhormat yang kemudian diikuti oleh Umar. Kemudian al-Miqdad bin 'Amr berkata, "Wahai Nabi Allah, pergilah ke mana Allah memberitahukan anda dan kita akan bersamamu. Demi Tuhan, saya tidak akan berkata seperti ban! Israil74 kepada Nabi Musa, pergi bersama tuhanmu dan perangilah sedang kami akan duduk melihatnya,"75 Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika sekiranya engkau hendak membawa saya pada suatu tempat bernama Bark al-Ghimad76 saya akan berperang sampai mati bersamamu melawan mereka sehingga engkau dapat menguasainya." Kata-katanya terdengar oleh Nabi Muhammad dan ia berterima kasih dan berdoa kepadanya.

Lalu ia mengatakan, "Berilah aku nasihat wahai manusia sekalian," yang dimaksud adalah kaum Ansar. Ada dua alasan di belakang ini: (a). Mereka sebagai anggota masyarakat mayoritas; dan (b). Ketika kaum Ansar memberi janji setia di 'Aqaba, mereka menjelaskan bahwa mereka tidak berhak mendapat keselamatan sehingga ia memasuki daerah mereka. Saat itu mereka berjanji akan memberi proteksi sebagaimana mereka proteksi pada para keluarganya. Oleh karena itu, Nabi memberi perhatian jangan jangan mereka meliliatnya dengan sikap setengah hati terhadap penyerangan tentara Abu Jahl yang begitu kuat saat masih ada di luar perbatasan kota Madinah. Saat Nabi Muhammad mengutarakan kata-kata seperti itu, Sa'd bin Mu'adh berkata, "Demi Allah, mungkin yang dimaksud adalah kami?". Nabi menjawab, "Tentu, tanpa diragukan lagi." Kami percaya pada engkau, kami teguh terhadap kebenaranmu, kami bersaksi bahwa apa yang engkau dakwahkan adalah benar dan kami telah memberi sumpah setia untuk mendengar dan menaatinya. Oleh karena itu, pergilah ke tempat mana pun yang engkau kehendaki dan kami akan tetap bersamamu. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menyeberangi lautan ini sekalipun, saya akan tetap mengarungi lautan dan tak akan ada seorang pun yang menunggu-nunggu di belakang. Kita tidak gentar sedikit pun menghadang musuh-musuhmu di esok hari. Kita cukup berpengalaman dan terlatih dan dapat dipercaya dalam pertempuran. Barang¬kali akan lebih baik saat Allah mengizinkan kita membuat presentasi sesuatu yang akan membuat engkau senyum, maka ajaklah menerima rahmat Allah.77 Nabi Muhammad, semakin yakin setelah diberi masukan oleh ucapan dari Sa'd dan kemudian siap menuju Badr dengan pasukan sebanyak 319 orang, dua ratus pasukan kuda dan tujuh puluh pasukan unta. Di sanalah mereka menghadang kekuatan tentara Quraish: seribu orang (enam ratus memakai baju tem¬pur anti peluru, seratus pasukan kuda dan ratusan pasukan unta.78 Pada hari terakhir karunia Allah tampak terang pada pihak tentara Muslim, dimana musuh-musuh kafir menderita kekalahan telak dan negara Islam mulai mencapai tingkat kedewasaan menjadi kekuatan yang terkenal di Semenanjung Arab.

xii. Terbunuhnya Khubaib bin 'Adil al-Ansari

Khubaib, seorang budak Muslim Safwan bin Umayya hendak dieksekusi di depan khalayak sebagai sikap balas dendam terhadap kematian ayahnya yang gugur sewaktu Perang Badr. Orang-orang berkumpul hendak menyaksi¬kan peristiwa itu. Di antara mereka adalah Abu Sufyan, yang menghujani berbagai makian terhadap Khubaib saat membawa keluar untuk dihabisi nyawanya, "Saya bersumpah karena tuhan Khubaib, adakah anda meng¬inginkan Nabi Muhammad hadir di tempat ini untuk kita penggal lehernya dan anda akan kami bebaskan hidup bersama keluarga? Khubaib menjawab, "Demi Tuhan, saya tidak akan mau melihat Nabi Muhammad hadir di sini dan saya lebih suka melihat ia menduduki kekuasaan daripada saya harus duduk di tengah keluarga." Abu Sufyan berkata sumbar, "Saya tidak pernah melihat seseorang mencintai orang lain seperti mereka mencintai Muhammad." Kemudian Khubaib dicincang anggota tubuhnya satu per satu sekecil biji gandum dan darah mengalir dari tiap penjuru sebelum ia dihabisi.79

xiii. Penaklukan Kota Mekah

Menurut persyaratan Perjanjian Hudaibiyyah (6 A.H.), semua suku diberi pilihan antara mengikuti Nabi Muhammad atau orang Quraish sesuai kehendak mereka. Suku Khuza'a memilih bergabung dengan Nabi Muhammad, sedang¬kan banu Bakr bergabung dengan pihak Quraish. Bani Bakr, mengkhianati perjanjian dengan bantuan pihak Qurasih menyerang suku Khuza'a. Orang¬orang suku Khuza'a menuju tempat suci Ka'bah dengan menyalahi tata cara yang telah disepakati tanpa jaminan keamanan. Mereka mengeluh menuntut keadilan. Nabi Muhammad menawarkan pada pihak Quraish dan ban! Bakr tiga pilihan, di mana yang terakhir meminta agar perjanjian Hudaibiyyah dibatalkan. Dengan sikap sombong, pihak Quraish mengambil pilihan ke-3. Setelah menyadari akan ketidakbijaksanaan pilihan, Abu Sufyan menemui Rasulullah minta agar perjanjian itu diperbarui akan tetapi kembali dengan tangan hampa. Nabi Muhammad bersiap-siap melakukan serangan ke Mekah dan seluruh kabilah yang telah mengucapkan sumpah setia pada umat Islam diminta bergabung pada pasukannya. Dua puluh satu tahun lamanya orang Quraish me'lakukan berbagai penindasan, penyiksaan, dan kekejaman terhadap umat Islam. Roda kini berputar dan mereka sepenuhnya menyadari arti persiapan yang dilakukan Rasulullah dan rasa cemas menghantui setiap rumah. Dengan pasukan sebanyak sepuluh ribu, Nabi Muhammad menuju Mekah pada hari ke sepuluh Ramadan, tahun ke-8 hijrah. Mereka melakukan camping di suatu tempat bernama Marr Az-Zahran dan orang Quraish memahami akan fakta ini. Nabi Muhammad bukan hendak mengejutkan pihak musuh dan tidak pula menghendaki terjadinya pertumpahan darah. la hanya menghendaki pihak Quraish menyadari sepenuhnya akan situasi sebelum mengambil pilihan perang yang tak berarti. Sementara Abu Sufyan dan Hakim bin Hizam mulai melakukan tugas mata-mata ketika mereka bertemu dengan 'Abbas, paman Nabi Muhammad. 'Abbas menasihati agar ia masuk Islam. Islamnya Abu Sufyan berarti pembuka jalan akan kemenangan tanpa pertumpahan darah.

Kemudian Abu Sufyan menuju Mekah dan memekik suara tangis dengan lantangnya, "Wahai orang Quraish, inilah Muhaminad telah hadir ke tempat kalian dengan pasukan yang tak mungkin kalian mampu melawan. Siapa hendak mengungsi di rumah Abu Sufyan la akan selamat, siapa yang ingin mengunci pintu rumah sendiri, juga selamat. Siapa yang masuk tempat suci Mekah juga selamat." Nabi Muhammad kembali ke tempat asal kelahirannya, sebuah kota yang membuat ia sengsara beberapa tahun menghadapi kekejaman dan siksaan. Sekarang pasukan tentara dapat memasuki Mekah tanpa darah setetes pun. Perlawanan kecil-kecilan terlihat di sana sini sedang Nabi Muhammad berdiri di depan pintu Ka'bah memberi kata sambutan dengan diakhiri seruan, "Wahai orang Quraish, apa yang ada di benak hati kalian tentang apa yang hendak saya lakukan terhadap kamu semua?" Mereka semua menjawab, "O, saudaraku yang mulia dan anak terhormat saudaraku! Saya tak mengharapkan sesuatu, kecuali rasa belas kasihmu." Lalu la menjawab, Pergilah kalian dengan bebas merdeka!"80

Itulah grasi ampunan yang la demonstrasikan pada tiap penduduk Mekah yang telah melakukan penyiksaan terhadap umat Islam selama dua puluh tahun.81 Dalam masa sepuluh tahun semua Jazirah Arab sejak dari Aman hingga ke Laut Merah, dari sebelah selatan Suriah ke Yaman jatuh di bawah kekuasaan umat Islam. Hanya satu dasarwarsa setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, la bukan saja seorang Nabi yang melaksanakan perintah ke¬tuhananan, melainkan juga seorang pemimpin yang tak ada bandingannya di seluruh semenanjung Arab yang mampu menyatukan mereka pertama kali dalam sejarah.

BAB 3(3) : WAHYU DAN NABI MUHAMMAD

BAB 3 :  WAHYU DAN NABI MUHAMMAD

4. Peranan Nabi Muhammad terhadap Al-Qur'an

Al-Qur'an secara konsisten menggunakan kosa kata tala, yutla, atlu, tatlu, yatlu etc. Kita dapat baca ayat-ayat tersebut dalam 2: 129, 2: 51, 3: 164, 22: 45, dan 62: 2 serta banyak lagi lainnya. Kesemuanya memberi isyarat akan peranan Nabi Muhammad   dalam mengenalkan wahyu ketuhanan ke seluruh masyarakat. Namun demikian bacaan saja dirasa belum cukup jika tak disertai perintah. Tanggung jawab Nabi Muhammad  terhadap kalamullah dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut, di mana pertama dapat dilihat dalam doa Nabi Ibrahim,

"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mngajarkan kepada mereka AI-Kitab (AI-Qur'an) dan hikmah serta menyucikan mereka."34

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul diri golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah...."35

 "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan agama kamu al-kitab dan al-hikmah.... "36

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila _Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pen¬jeiasannya."37

Ayat-ayat tersebut menunjukkan kepedulian Nabi Muhammad dalam merekam hafalan AI-Qur'an. Beliau tampak tergesa-gesa dalam melalap hafalan sebelum senyap, lidahnya sibuk mengikuti kalimat berikutnya. Ia diberi peringatan untuk tidak perlu tergesa-gesa karena semua ayat akan me¬rasuk ke dalam hati, Allah    berjanji akan memelihara Al-Qur'an sepanjang masa..

5. Silih Berganti Membaca Al-Qur'an Bersama Malaikat Jibril

Dalam memelihara ingatan Nabi Muhammad secara konstan, Malaikat Jibril berkunjung kepadanya setiap tahun. Hal ini dapat dilihat dalam hadith-hadith berikut:

•    Fatima berkata, "Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur'an padaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya tahun ini la membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur'an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain ke¬cuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat."38

•    Ibn ‘Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad berjumpa dengan Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir bulan, masing-masing membaca Al-Qur'an silih berganti.39

•    Abu Huraira berkata bahwa Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril mem¬baca Al-Qur'an bergantian tiap tahun, hanya pada tahun kematiannya mereka membaca bergantian dua kali.40

•    Ibn Mas'ud melaporkan serupa dengan di atas, dengan tambahan, "Mana¬kala Nabi Muhammad dan Malikat Jibril selesai membacanya, lalu mem¬beri giliran saya membaca untuk Nabi Muhammad dan beliau memberi penghargaan akan keindahan bacaan saya."41



•    Nabi Muhammad, Zaid bin Thabit, dan Ubayy bin Ka'b membaca secara bergiliran setelah sesi terakhir dengan Malaikat Jibril.42 Nabi Muhammad juga membaca di depan Ubbay dua kali dalam tahun kematiannya.43

Tiap hadith di atas memberi penjelasan bacaan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad dengan menggunakan istilah Mu'arada.44

Tugas Nabi Muhammad terhadap wahyu teramat padat: beliau sangat instrumental dalam penerimaan ketuhanan (divine reception) sebagai pe¬ngawas ketepatan kompilasi, memberi keterangan yang diperlukan, pemacu masyarakat luas dalam pengenalan dan penyebarluasan, dan sebagai mahaguru para sahabat. Tentunya Allah tidak perlu turun ke bumi menjelaskan ayat ini dan hal itu dengan keterangan, ' adalah tugas Kami untuk menjelaskan "bukan¬nya, "ini tugasmu Muhammad untuk memberi penjelasan," berarti Allah mem¬beri letigimasi sepenuhnya akan kefasihan Nabi Muhammad pada seluruh ayat¬ayatnya, bukan melalui perkiraan, melainkan sebagai inspirasi Allah sendiri. Adalah sama benarnya dalam masalah kompilasi AI-Qur an.

Demikian pula setelah menghafalnya, tugas membaca, kompilasi, pengajaran, dan penerangan menyatu dalam tugas utama sepanjang kenabian, tugas yang beliau laksanakan penuh kesetiaan mendapat persetujuan Allah swt. dalam upaya yang ia lakukan. Perhatian utama dalam bab-bab mendatang mencakup tiga masalah penting yang pertama, antara lain, penjelasan tentang wahyu, literatur sunnah Nabi Muhammad  di mana keseluruhannya me¬rupakan penjelasan Al-Qur'an, serta penyatuan beliau terhadap seluruh ajaran ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.

6. Beberapa Catatan tentang Klaim-Klaim Orientalis

Beberapa penulis dari kalangan orientalis membuat teori miring tentang Al-Qur'an. Noldeke misalnya, menganggap bahwa Nabi Muhammad pernah lupa tentang wahyu sebelumnya, sedang Rev. Mingana menegaskan bahwa Nabi Muhammad maupun masyarakat Muslim tidak pernah menganggap Al-Qur'an secara berlebihan, kecuali setelah meluasnya negara Islam. Mereka, sekurang-kurangnya mempunyai pikiran bahwa kemungkinan ada gunanya memelihara ayat-ayat Al-Qur'an bagi generasi mendatang. Melakukan pen¬dekatan terhadap permasalahan yang ada dari sudut pandang akal semata ada¬lah tidak cukup untuk menolak anggapan itu.

Sebenarnya pendekatan logika seperti ini terlepas apakah seseorang percaya bahwa Muhammad seorang Nabi atau tidak, dengan segala caranya beliau tetap akan berbuat semampu mungkin mempertahankan apa yang dianggap sebagai kalamullah. Jika beliau seorang rasul sungguhan, per¬masalahan akan semakin jelas: pemeliharaan kitab Al-Qur'an merupakan tugas suci, seperti telah kita sebut sebelumnya, Kitab suci Al-Qur'an merupakan mukjizat terbesar dan pertama yang diturunkan dengan bukti bahwa tak ada orang lain yang menulisnya. Maka, menolak mukjizat ini dengan melihat adanya bukti nyata bahwa beliau sebagai Nabi Allah adalah sikap seorang jahil.

Tetapi apa yang mungkin terjadi jika misalnya, sekadar alasan dalam perdebatan, Muhammad pura-pura mengaku nabi atau katakanlah Al-Qur'an sebagai rekayasa beliau, adakah beliau mampu menghasilkan sesuatu yang berlainan dari yang ada sekarang? Tentu saja tidak: beliau akan tetap mem¬pertahankan keyakinan. Karena melakukan hal yang sebaliknya berarti peng¬akuan terhadap penipuannya. Tak akan ada pemimpin setinggi apa pun yang akan mampu membayar kesalahan yang teramat fatal.

Apakah seseorang menelantarkan Muhammad dalam kelompok nabi ataupun berpura-pura, perilaku perbuatannya terhadap Al-Qur'an tampaknya telah mengundang sikap cemburu pihak lain. Teori apa pun yang menganggap akan adanya sedikit perbedaan sama sekali tak dapat diterima akal. Jika seorang ahli teori mengajukan rasa ketidakpuasan penjelasan mengapa Nabi Muhammad bertindak sangat mengenaskan dan mengorbankan kepenting¬annya demi perintah Allah, maka teori itu tidak lebih dari cerita yang tidak berdasarkan pada fakta.

7. Kesimpulan

 Hafalan, pengajaran, rekaman, kompilasi, dan penjelasan: kesemuanya, seperti telah kita demonstrasikan, merupakan tujuan utama dari misi Nabi Muhammad dan daya tarik Al-Qur'an an yang orang-orang kafir pun selalu mencuri-dengar dengan penuh perhatian. Dalam bab-bab berikut kami akan menjelaskan lebih mendalam lagi sikap kehati-hatian Nabi Muhammad dan masyarakat Muslim tempo doeloe memberi keyakinan bahwa Al-Qur'an muncul dan beredar dalam bentuknya yang asli tanpa perubahan. Sebelum halaman ini kita akhiri, mari kita alihkan mata kita ke zaman sekarang guna mengadakan taksiran mengapa Al-Qur'an berhasil diajarkan di masa kita. Umat Islam sedunia berjalan melalui satu periode yang amat suram dalam sejarah, suatu masa di mana harapan dan keimanan tampak begitu sulit tak menentu dari hari ke hari. Banyak umat Islam dengan jumlah yang tak terhitung-ratusan ribu dalam kelompok usia, jenis kelamin, dan benua yang komitmen menghafal Al-Qur'an seluruhnya. Bandingkan kitab Injil yang diterjemahkan seluruhnya maupun sebagian ke dalam ribuan bahasa dicetak dan dibagi-bagi dalam jumlah yang amat bear dengan dana yang dapat menempatkan negara-negara dunia ketiga merasa malu meliriknya. Dengan upaya ini, kitab Injil boleh dianggap laris di mana banyak orang berminat membeli, akan tetapi hanya segolongan kecil yang berminat membaca.45 Sikap masa bodoh berjalan lebih jauh dari yang mungkin seseorang dapat bayangkan. Pada tanggal 26 Januari tahun 1997, harian The Sunday Times menurunkan hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang koresponden, Rajeev Syal dan Cherry Norton tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Secara random jejak pendapat dari dua ratus ribu anggota pastor Kristen Anglican mengungkap bahwa dua pertiga dari pendeta wakil Paus Inggris tidak dapat mengungkapkan isi kandungan sepuluh perintah tuhan. Hal ini bukan saja terjadi pada orang Kristen biasa, melainkan para pendetanya. Moralitas dasar orang Yahudi dan Kristen tidak lain sekadar gugusan kata-kata dalam kertas sedang Qur'an di pihak lain, dihafal seluruhnya oleh ratusan ribu, diterjemahkan ke dalam lebih kurang 9000 baris.46 Gambaran lebih terang tentang pengaruh yang mendalam dari Al-Qur' an dan keberhasilan misi pendidikan Nabi Muhammad tidak dapat diterka oleh siapapun.

BAB 3(2) : WAHYU DAN NABI MUHAMMAD



BAB 3 : WAHYU DAN NABI MUHAMMAD

3. Nabi Muhammad Menerima Wahyu

 Tentang diturunkannya wahyu AI-Qui an dapat dilihat pada ayat 185 surah al-Baqarah,

 "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) AI-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan penje]asan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)."

"Sesungguhnya telah Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan."

 Dalam rentang masa dua puluh tiga tahun, Kitab suci Al-Qur'an diturunkan secara bertahap memenuhi tuntutan situasi dan lingkungan yang ada. Ibn 'Abbas (w. 68 hijriah), seorang ilmuwan terkemuka di antara sahabat rasul mempertegas bahwa Al-Qur'an an diturunkan ke langit terbawah (bait al-`izzah) dalam satu malam yang kemudian diturunkan ke bumi secara bertahap sesuai dengan keperluan.17

 Penerimaan wahyu Al-Qur'an ada di luar jangkauan penalaran akal manusia. Selama empat belas abad yang silam tak ada seorang rasul yang muncul, dan dalam memahami fenomena wahyu kita semata-mata merujuk pada laporan authentic dari Nabi Muhammad dan orang-orang kepercayaan yang menyaksikan kehidupan beliau.18 Riwayat ini mungkin dapat dipakai sebagai cermin tentang apa yang dialami oleh nabi-nabi sebelumnya dalam menerima komunikasi ketuhanan.

 •    Al-Harith bin Hisham bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai padamu?" Beliau menjawab, "Kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu paling dahsyat yang sampai pada saya, kemudian lenyap dan saya dapat mengulangi apa yang dikatakan. Kadang-kadang Malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata padaku dan saya dapat memahami apa yang dikatakan."19 ‘A'isha menuturkan, "Sungguh aku pernah melihat Nabi saat wahyu turun kepadanya di mana pada hari itu beliau merasa kedinginan sebelum wahyu berhenti dan dahinya penuh keringat."20

 •    Ya'la pernah sekali bercerita pada `Umar tentang keinginannya melihat Nabi Muhammad menerima wahyu. Pada kesempatan lain ‘Umar memanggil dan ia menyaksikan Nabi Muhammad wajahnya kemerahan, bernapas sambil ngos-ngosan. Lalu tampak sembuh (dari gejala itu).'21

 •    Zaid bin Thabit menjelaskan, "Ibn Um-Maktum mendatangi Nabi Muhammad saat beliau mendiktekan ayat ini,  'tak akan sama di antara orang-orang yang beriman yang duduk (tanpa kerja)'.22 Saat mendengar ayat tersebut Ibn Um-Maktum berkata, 'O Nabi Allah, adakah berarti saya mesti ikut ke medan perang (jihad).' Dia seorang yang buta. Kemudian Allah mewahyukan (ayat peringatan) kepada Nabi Muhammad. Saat kakinya berada di atas kakiku, begitu beratnya dan saya khawatir kakiku terasa akan putus."23

 •    Terdapat perubahan psikologis terhadap Nabi Muhammad selama menerima wahyu akan tetapi dalam semua waktu cara berbicara dan lainnya tetap seperti biasa. la tidak pernah tahu bila dan di mana wahyu itu akan sampai, seperti tampak dalam semua kejadian. Di sini saya berikan dua contoh sebagai bukti.

 •    Dalam masalah beberapa orang-orang mengumpat tentang istri rasul, 'A'isha, mereka menuduh melakukan perbuatan tak terpuji dengan seorang sahabat. Nabi Muhammad tidak menerima wahyu seketika. Sebenarnya, beliau cukup pedih merasakan penderitaan selama sebulan karena berita gosip yang menimpa sebelum Allah memberi penjelasan tentang kesuciannya:

 "Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), in] adalah dusta yang besar.' "24



•    Sementara dalam masalah Ibn Um-Maktum (keberatan melakukan jihad karena buta), Nabi Muhammad menerima wahyu secara spontan:

"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya."25

i. Permulaan Wahyu dan Mu`jizat Al-Qur'an 26

 Peranan Nabi Muhammad dipersiapkan secara bertahap, suatu masa yang penuh kebimbangan dalam melihat berbagai kejadian dan visi pandangan yang ada, juga ikut ambil bagian dalam mempersiapkan kematangan jiwanya dimana Jibril berulang kali hadir memperkenalkan diri.27 Pertama kali muncul di depan Nabi Muhammad saat ia berada di Gua Hira, Jibril minta membaca dan beliau mengatakan tak tahu. Malaikat mengulangi permintaannya tiga kali dan ia menjawab dalam keadaan serbabingung dan ketakutan sebelum mengetahui kenabian yang tak terduga dan pertama kali mendengar Al-Qur’an :

  "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan mulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan peran¬taraan kalam."28

Dikejutkan oleh perasaan dengan melihat sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran tentang tugas tersebut, Nabi Muhammad kembali dalam keadaan gemetar menemui Khadijah minta agar dapat menghibur dan mengembalikan ketenteraman jiwanya. Sebagai seorang Arab, tentu ia paham susunan ekspresi syair dan prosa, akan tetapi tak terlintas di otak sama sekali tentang ayat-ayat wahyu Al-Qur'an yang ia terima. Sesuatu yang tak pernah terdengar sebelumnya serta susunan kata-kata yang tak ada bandinganya. Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar yang pertama ia terima. Pada suatu waktu di tempat yang berbeda, Nabi Musa diberi mukjizat-sinar cahaya memancar dari tangan, tongkat menjadi ular raksasa sebagai tanda kenabiannya. Berbeda dengan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad dari gua dalam sebuah gunung, Malaikat meminta si buta huruf agar membaca. Mukjizatnya bukannya seekor ular naga, benda logam, kemahiran menyembuhkan penyakit, menghidupkan kembali orang yang sudah mati, melainkan kata-kata ajaib yang tak pernah terlintas di telinga siapa pun.

ii. Nabi Muhammad dan Pengaruh Bacaan Al-Qur'an terhadap Orang Kafir

 Perjalanan waktu juga mengambil bagian penting persiapan Nabi Muhammad dalam mengenalkan ajaran Islam pada kenalan terdekat. Allah swt. membesarkan hatinya agar membaca ayat-ayat Al-Qur'an di keheningan malam.

 "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah AI-Qur'an itu dengan perlahan-lahan."29



Sekarang hendak kita telusuri efek yang begitu dalam dari bacaan Al¬ Qur'an, seperti yang dialami para pemuja patung berhala. Ibn Ishaq menulis:



Muhammad bin Muslim bin Shihab az-Zuhri bercerita bahwa Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisham, dan al-Akhnas bin Shariq bin ‘Amr bin Wahb ath-Thaqafi (sekutu kaum bani Zuhra) suatu malam jalan jalan mencuri dengar bacaan AI-Qur'an an Nabi Muhammad di rumahnya. Tiap tiga orang dalam kelompok berusaha memilih tempat yang safe dan tak seorang pun di antara mereka mengetahui keberadaan yang lain. Setelah fajr mereka bubar dan satu sama lain bertemu saat kembali ke rumah.

 Sebagai anggota komplotan, masing-masing menceritakan peng¬alaman, "Jangan engkau ulangi lagi perbuatan ini, nanti akan terkesima." Mereka pulang dan malam berikutnya kembali mencuri dengar, dan bercerita pengalaman satu sama lain di waktu fajr. Pada malam ke tiga, mereka kumpul pada pagi hari sambil berkata, "Kita tak akan meninggalkan tempat kecuali setelah berikrar sungguh-sungguh tak akan mengulang lagi." Setelah berjanji mereka bubar. Beberapa saat kemudian dengan membawa tongkat, al-Akhnas pergi ke rumah Abu Sufyan dan menanyakan apa yang telah mereka dengar dari Nabi Muhammad. Abu Sufyan menjawab, "Demi Allah, aku mendengar sesuatu yang saya tidak dapat memahami artinya dan entah apa yang mereka maksudkan."

 Al-Akhnas berkata, "Persoalannya sama seperti yang saya alami". Kemudian ia pergi mendatangi rumah Abu Jahl menanyakan hal yang sama. la menjawab, "Apa sebenarnya yang saya dengar, kami dan suku kabilah 'Abd Manaf selalu kompetisi dalam meraih ketinggian keduduk¬an di tengah masyarakat. Mereka memberi makan orang miskin dan kami juga melakukan hal yang sama. Mereka terlibat menyelesaikan persoalan orang lain, demikian juga kami. Mereka menunjukkan sikap murah hati terhadap orang lain, kami juga mengikutinya. Kami berpacu seperti dua pasukan yang melangkah sama cepatnya. Tiba-tiba mereka menyatakan, 'Kami memiliki seorang nabi yang telah menerima wahyu dari langit.' Bila, kita hendak memiliki hal seperti itu? Saya bersumpah, tak mungkin pernah percaya padanya dan tak mungkin pula aku memanggilnya sebagai orang jujur."30



Di samping kebencian yang luar biasa dari pihak orang kafir, Nabi Muhammad tetap meneruskan bacaan dan jumlah para pencuri dengar semakin bertambah dan herannya, setiap orang amat khawatir perbuatan mencuri dengar AI-Qur'an akan terungkap oleh orang lain.31 Nabi Muhammad dengan penentangnya pernah diminta berdebat tentang keesaan Allah karena AI-Qur'an bukan ciptaan manusia, cukup sebagai bukti secara akal tentang wujud keesaan Allah swt.. Namun demikian, karena bacaan yang awalnya dari keheningan malam clan berubah menjadi pada siang-hari dan didengar oleh orang banyak, maka rasa kekhawatiran orang Mekah semakin menjadi jadi.



Melalui pendekatan yang cepat dan bijak, sekelompok orang Quraish mendatangi al-Walid bin al-Mughira, orang yang cukup bergengsi di ma¬syarakat. Lalu ia menyampaikan pendapatnya di depan mereka, "Waktu pertunjukan telah tiba dan wakil-wakil bangsa Arab akan hadir menemui Anda. Mereka ingin mendengar tentang teman anda, setuju sajalah pada satu pendapat tanpa perselisihan di mana tak akan seorang pun di antara kita bercerita bohong pada yang lain." Mereka berkata, "Berikan pendapat anda tentang dia (Muhammad)," dan ia menjawab, "Tidak, lebih baik anda bicara dan saya mendengar." Maka berkata, "la tidak lebih dari seorang peramal." Al-Walid menjawab, "Demi Tuhan, dia bukan itu, dia bukannya seorang yang pandai membuat irama pantun, seperti juru ramal." Kalau demikian halnya, ia ter¬pengaruh oleh seorang peramal." "Bukan, ia bukan orang seperti itu. Kami me¬lihat sendiri tidak ada gerak-gerik tak karuan maupun jampi jampi, seperti juru ramal." "Jika demikian, ia seorang penyair." "Bukan, dia bukan itu, kami mengerti semua syair dan permasalahannya. Jika demikian halnya ia mungkin tukang sihir." "Bukan, kami telah melihat tukang sihir dan hasil kerjanya. Di sini (Muhammad) tidak pernah meludah-ludah, seperti juru sihir dan mengikat¬ikat tali buhul." "Jika demikian, lantas apa yang pantas hendak kita sebut, Wahai Abu `Abd Shams?" la menjawab, "Demi Tuhan, kata-katanya indah, akarnya seperti pohon kurma yang dahannya sangat berguna, dan semua apa yang anda katakan akan dikenal sebagai cerita palsu. Yang mungkin mendekati kebenaian adalah seperti yang anda sebut ia seorang sahir pembawa risalah yang memisahkan seseorang dari ayah, saudara, atau pun istri, dan keluarganya."32



Hal serupa dapat kita lihat Abu Bakr, ia membangun sebuah masjid di Mekah di sebelah rumah tempat ia menjalankan shalat tiap waktu dan membaca Al-Qur'an. Orang-orang kafir menemui Ibn Addaghinna, orang yang memberi perlindungan pada Abu Bakr, minta agar tak lagi membaca AI-Qur'an karena banyak kaum wanita dan anak-anak yang mencuri dengar bacaan dan ternyata mudah terpengaruh.33





BAB 2(2) : SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM

BAB 2 :  SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM


3. Meninggalnya Nabi Muhammad  Dan Kepemimpinan Abu Bakr

i. Abu Bakr Menangani Gerakan Pemurtadan

Meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun ke-11 hijrah telah me¬ngantarkan Abu Bakr sebagai pewaris negara Islam yang sedang mekar. Pada masa kegemilangan Nabi Muhammad, beberapa orang munafiq seperti Musailama al-Kadhab,82 memproklamasikan diri sebagai seorang nabi baru.83 Dengan me¬ninggalnya Nabi Muhammad, pemurtadan terjadi di sebagian besar wilayah Madinah.84 Beberapa kepala suku yang merasa kehilangan kedudukan selama kehidupan Nabi Muhammad mengikuti jejak Musailama ngaku-ngaku sebagai nabi baru, seperti Tulaiha bin Khuwailid dan seorang wanita yang mengaku sebagai nabi, seperti Sajah binti al-Harith bin Suwaid, pengikut agama Kristen.85

Keadaan sedemikian ruwet sehingga ‘Umar menyarankan agar Abu Bakr melakukan sikap kompromis untuk sementara waktu dengan mereka yang tak mau membayar zakat. la bersikeras clan menolak pendapat itu dan bahkan mengatakan, "Demi Allah, dengan sikap pasti, saya akan perangi setiap yang memutus shalat dari bayar zakat suatu keharusan bagi tiap orang kaya. Demi Allah, jika terdapat seutas benang pengikat- sebuah kosakata yang digunakan untuk mengikat kaki unta-yang telah ditentukan oleh Rasulullah untuk dikeluarkan zakat sedang mereka menolaknya, saya akan perangi perkara yang demikian."86 Abu Bakr berdiri sendiri dalam mempertahankan pendapat laksana gunung raksasa yang tak mungkin tergoyahkan sehingga tiap orang memihak padanya.

Dalam mengatasi penyelewengan, Abu Bakr bergegas ke Dhul-Qassa, yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Madinah.87 Beliau memanggil seluruh pasukan militer yang ada dan membagi-bagi ke dalam sebelas resimen dilengkapi seorang komandan terkemuka pembawa panji pada setiap bagian dengan tujuan tertentu. Khalid bin al-Walid ditugaskan mengatasi Tulaiha bin Khuwailid; `Ikrima putra Abu Jahl bersama Shurahbil untuk mengatasi Musailama; Muhajir putra Abu Umayyah ditugaskan menghadapi sisa-sisa kekuatan al-Aswad al-Ansari dan Hadramout; Khalid bin Sa'id bin al-'As diberi tugas mengatasi al-Hamqatain di perbatasan Syria, 'Amr bin al-'As diberi tugas mengatasi Quza' ah dan lainnya; Hudhaifa bin Mihsin al-Ghalafani ditugaskan ke Daba di Teluk Aman; `Arfaja bin Harthama ke Mahara; Turaifa bin Hajiz kepada ban! Sulaim; Suwaid bin Muqarrin pada Tahama di Yaman; al-'Ala' bin al-Hadrami diberi tugas ke Bahrain; dan Surahbil bin Hasana ke daerah Yamama dan Quda'a.88

Di antara itu semua, barangkali. peperangan terbesar yang paling sengit adalah terjadi di Yamama melawan Musailama dengan jumlah pasukan melebihi empat puluh ribu di mana memiliki hubungan antarsuku terbesar di wilayah itu. Ikrima pada mulanya diutus mengatasinya namun karena kemampuan yang terbatas ia dikirim ke wilayah lain. Shurahbil, yang ditugaskan membantu 'Ikrima, diberitahukan agar menunggu kehadiran komandan baru, Khalid bin al-Walid, yang akhirnya menewaskan pasukan militer Musailama yang begitu mengagumkan.

Setelah penumpasan para pemberontak dan kembalinya semenanjung Arab di bawah pengawasan tentara Muslim, Abu Bakr menugaskan Khalid bin al-Walid menuju Irak.89 Di sana mampu mengalahkan tentara Persia di Ubulla, Mazar, Ullais (pada bulan Safar tahun ke-12 Hijrah/bulan Mei tahun 633 Masehi). Walujah disulap menjadi sungai banjir darah (pada bulan yang sama), Amghisia, dan Hira (Dhul Qi'da pada tahun ke-12 Hijrah/Januari tahun 634 Masehi),90 tempat la mendirikan pusat pertahanan.91 Setelah Hira ia melaju ke Anbar (tahun 12 Hijrah/di musim semi tahun 633 Masehi) dan menemukan kota pertahanan dilindungi oleh parit-parit. Persyaratan perdamaian dapat diterima, akan tetapi ia terus menuju 'Ain at-Tamr melintasi padang pasir selama tiga hari ke arah barat Anbar.92 Di sana terdapat musuh campuran antara orang Persia dan orang-orang Kristen Arab yang sebagian mereka pengikut seorang wanita yang mengaku menjadi nabi, bernama Sajah;93 dalam per¬tempuran pasukan Kristen berperang lebih ganas dibanding tentara Persia. Keduanya kalah dan kota itu jatuh ke tangan kekuasaan umat Islam.

ii. Pasukan Militer Menuju Suriah

Ditaklukkannya semenanjung Arab di akhir tahun ke-12 Hijrah (633 Masehi.), Abu Bakr berencana menaklukkan Suriah. Dua pilihan komandan pertama, Khalid bin Said bin al-'As diikuti oleh 'Ikrima bin Abu Jahl, berhasil secara memadai. Kawasan itu dibagi empat zon dengan komandan militer masing-masing: Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah bertanggung jawab atas daerah Hims (di bagian Barat Suriah sekarang); Yazid bin Abi Sufyan bertanggung jawab atas Damaskus; 'Amr bin al-'As bertanggung jawab atas Palestina dan Sharhabil bin Hasana terhadap Jordania.

Musuh-musuh Romawi bertindak serupa membuat empat resimen. Abu Bakr kemudian mengubah strategi dan memerintahkan empat orang jendral agar bergabung bersama dan meminta Khalid bin al-Walid mengambil langkah cepat menuju Suriah membawa separuh pasukan yang ada dan bertindak sebagai panglima militer. Di sana ia mendapat kemenangan yang luar biasa se¬dang di tempat lain tentara Muslim melaju cepat menghadapi musuh-musuhnya.

4. Negara-Negara dan Provinsi yang ditaklukkan
pada Masa Kepemimpinan 'Umar dan 'Uthman
o    Yarmuk atau Wacusa, 5 Rajab, tahun ke-13 Hijrah/Sept. 634 Masehi;
o    Peperangan Qadisiya, Ramadan, tahun ke-14 Hijrah/Nov. 635 Masehi.
o    Ba'alback, 25 Rabi Awwal, tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
o    Hims dan Qinnasrin ditaklukan pada tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
o    Palestina dan Quds (Jerusalem) dikuasai pada Rabi II, tahun ke-16 Hijrah/637 Masehi;
o    Panaklukan Madian, tahun ke-I5 hingga ke-16 Hijrah/636-7 Masehi;
o    Jazira (Ruha, Raqqa, Nasibain, Harran, Mardien) sebagian besar penduduknya terdiri orang Kristen, ditaklukkan pada tahun ke-18 hingga ke¬20 Hijrah/639-40 Masehi;
o    Penaklukan Persia: Nehavand, ke-19 hingga ke-20 Hijrah/640 Masehi;
o    Mesir (tidak termasuk Iskandariya) pada tahun ke-20 Hijrah/640 Masehi;
o    Iskandariyya pada tahun ke-21 Hijrah/641 Masehi;
o    Barqa (Libya) pada tahun ke-22 Hijrah /643 Masehi;
o    Tripoli (Libya) pada tahun ke-23 Hijrah/643 Masehi;
o    Cyprus, pada tahun ke-27 Hijrah /647 Masehi;
o    Armenia, pada tahun ke-29 Hijrah /649 Masehi;
o    Dhat as-Sawari, pada tahun ke-31 Hijrah /651 Masehi;
o    Azerbaijan, Deulaw, Marw (Merv), dan Sarakhs, pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi;
o    Kirman, Sijistan, Khurasan, dan Balkh, juga pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi.
Setelah memerintah selama 395 tahun, tirai dinasti Sasanid jatuh ke tangan bangsa yang baru berusia tiga dasawarsa yang masih belum memiliki pengalaman administrasi dan peperangan yang dapat dibanggakan. Hal ini tidak mungkin terjadi melainkan bagi umat Islam yang memiliki keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, clan ketinggian agama-Nya.

Menurut Prof Hamidullah,94 daerah yang ditaklukkan selama 35 tahun setelah Hijrah (di akhir kekuasaan 'Uthman) dibagi sebagai berikut:

Daerah yang dikuasai sejak Masa Nabi Muhammad

Masa Nabi Muhammad    hingga tahun 11 hijriah    1,000,000    mil 2
Abu Bakr as-Siddiq    tahun 11-13 hijriah    200,000    mil 2
Umar bin al-Khattab     tahun 13-25 hijriah    1,500,000    mil 2
'Uthman bin ‘Affan     tahun 25-35 hijriah    800,000    mil 2
Jumlah    3,500,000    mil 2



Gambar 2.3: Perbatasan Negara Islam pada akhir khalifah ketiga (35 hijriahl655 Masehi); perbatasan sewaktu rasulullah wafat tertulis warna hijau (lht. Map)

Nabi Musa dan kedua belas suku bangsa Israel berkelana di Gurun Sinai selama empat puluh tahun tidak lebih dari seratus mil sebagai siksaan karena tidak mengindahkan perintah Allah ; dalam masa yang singkat pasukan tentara Islam mampu menaklukkan tiga setengah juta mil persegi yang sekarang disebut dengan daerah Timur Tengah.

5. Kesimpulan

Di samping luasnya wilayah teritorial yang telah ditaklukkan oleh pasuk¬an tentara Muslim, baik melalui peperangan maupun deputasi (pengutusan), Nabi Muhammad wafat mewariskan dua harta pusaka umat Islam: Kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah.95 Tugas mulia dilanjutkan oleh ribuan sahabat yang secara pribadi mengenal, tinggal, dan makan bersama beliau serta mengalami pedihnya rasa lapar, tanpa menghunus mata pisau pada pihaknya. Mereka telah berikrar janji setia dalam menghadapi berbagai kepentingan hidup tiap saat tanpa perasaan gentar sedikit pun. Kita hanya dapat menduga jumlah mereka yang kecil dan kita dapat membaca pengikut pasukan Musailama yang sebanyak empat puluh ribu hanyalah selusin di antara mereka yang terlibat dalam pertempuran dan menderita kekalahan tak berdaya. Adalah tidak mungkin mereka menghadang enam ratus ribu pasukan tempur melintasi lautan beserta Nabi Musa, seperti tercatat dalam cerita exodus,96 akan tetapi jumlah besar seperti itu hanya berkelana tak menentu di sekitar gurun pasir di bawah terik matahari. Sedangkan para sahabat nabi mampu menuai berkah kemenangan yang luar biasa. Selama penjagaan dengan begitu ketat terhadap agama baru, seluruh sistem manajemen dibangun di atas fondasi Al-Qur'an dan Sunnah sehingga penyelewengan tidak diberi peluang berkembang: Lingkungan yang seperti itu membuktikan sikap setia terhadap pemeliharaan teks kitab umat Islam dalam bentuknya yang asli, seperti yang hendak kita lihat berikutnya.

BAB 1 : PENDAHULUAN



BAB 1 :  PENDAHULUAN


“ Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. "


Petunjuk, Kesenangan dan Keindahan. Bagi seorang yang beriman Kitab Suci Al-Qur'an akan melebihi segalanya: denyut keimanan, kenangan di saat mengalami kegembiraan dan penderitaan, sumber realitas ilmiah yang tepat, gaya lirik yang indah, khazanah kebijaksanaan serta munajat. Ayat-ayatnya menghiasi mulai dinding toko buku hingga ruang tamu, terukir dalam ingatan tua dan muda, serta gaungya terdengar di keheningan malam dari atas menara masjid di seluruh dunia. Namun demikian, Sir William Muir (1819-1905) tetap memberi pernyataan, "Islam sebagai musuh peradaban, kebebasan, clan kebenaran seperti dunia telah mengakuinya."2 Tak ada manusia lain yang ber¬sikap toleransi kecuali menebar rasa benci dan curiga terhadap A1-Qur'an sejak abad-abad silam hingga kini seperti dilakukan oleh para ilmuwan, penginjil, hingga para politikus musiman. Dikotomi seperti itu sangat menyakitkan hati umat Islam dan juga membingungkan kalangan non-Muslim yang pada giliran¬nya akan membenarkan anggapan bahwa setiap kelompok akan menghina kitab suci orang lain. Di mana bukti dan faktanya? Dihadapkan pada pokok pembicaraan yang teramat luas lagi sensitif dan penuh pemikiran yang perlu pertimbangan, saya menjelajah ke mana-mana yang pada mulanya, kemudian membuahkan hasil, berawal dari sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang yang namanya tak pernah saya dengar sebelumnya.
Apakah Al-Qur'an itu? Artikel utama terbitan Januari 1999 yang dimuat di Atlantic Monthly, mengangkat asal usul keaslian dan integritas Al-Qur'an.3 Kualifkasi pengarang, Toby Lester, seluruhnya seperti tertulis dalam majalah memberi isyarat bahwa la tidak belajar Islam kecuali dari pengala:nan selama tinggal di Yaman dan Palestina beberapa tahun kendati hal ini tidak me¬nunjukkan tanda-tanda untuk menghalangi karena tampaknya ia belajar sungguh-sungguh dalam membuat perdebatan. la mengatakan,
Keilmuan Barat tentang Al-Qur'an biasanya terjadi dalam bentuk pernyataan permusuhan secara terbuka antara Kristen dan Islam. Ilmuwan Kristen dan Yahudi khususnya menganggap Kitab Suci Al-Qur'an ada dalam lingkaran perubahan...4

Setelah mengupas kecaman William Muir terhadap Al-Qur'an, T. Lester, menjelaskan bahwa dulu para ilmuwan Soviet melihat Islam berdasarkan sikap keragu-raguan ideologi. N.A. Morozov misalnya, dengan mudah memberi alasan bahwa "hingga masa Perang Salib tidak dapat dibedakan dengan agama Yahudi dan hanya setelah masa itu ia memiliki ciri khas tersendiri sedang Muhammad dan para Khalifah pertama tidak lebih dari tokoh dalam cerita bohong."5
Pendapat ini dapat memberi isyarat pada pihak lain bahwa pendekatan yang dilakukan T. Lester karena semata-mata akademik: suatu keingintahuan seorang wartawan dalam memberi laporan secara jujur. Dalam satu wawancara dengan harian ash-Sharq al-Awsat 6 ia menolak anggapan akan adanya niat jahat, perasaan marah, perilaku salah terhadap umat Islam dan bahkan bersikeras ingin mencari kebenaran. Tetapi tak bisa dimungkiri bahwa ia telah menguras tenaga dalam mengumpulkan sumber informasi dari kelompok yang antitradisi dan menyeru perlunya penafsiran ulang terhadap Kitab Suci umat Islam. Secara jelas ia mengutip pendapat Dr. Gerd R. Joseph Puin, perihal pemulihan kepingan kertas kulit naskah Kitab Al-Qur'an yang terdapat di San'a', Yaman, yang saya lihat baru-baru ini di mana la dan kelompoknya pantas mendapat acungan jempol. Sekarang, seorang pekerja penjilidan buku yang dapat melakukan tugasnya dengan balk tentang matematika yang teramat kompleks, tidak secara otomatis sama derajatnya dengan pakar matematika karena jasanya dalam tnengatur halaman-halaman yang ada. Di sini J. Puin dikelompokkan sebagai ahli tentang sejarah Al-Qur'an secara keseluruhan,
"Begitu banyak kaum Muslimin beranggapan bahwa Al-Qur'an merupakan kata-kata Tuhan yang tidak pernah mengalami perubahan," begitu kata Dr. Puin. "Mereka sengaja mengutip karya naskah yang menunjukkan bahwa Bible memiliki sejarah dan tidak langsung turun dari langit, namun hingga sekarang AI-Qur'an berada di luar konteks pembicaraan ini. Satu-satunya cara menggempur dinding penghalang ini adalah mengadakan pembuktian bahwa Qur'an juga memiliki sejarah. Beberapa kepingan kertas kulit yang ada di San'a akan dapat membantu upaya ini."7

Referensi lain yang digunakan T. Lester adalah Andrew Rippin, seorang profesor di bidang kajian agama-agama dari Universitas Calgary yang menjelaskan,
"Bacaan yang berlainan dan susunan ayat-ayat kesemuanya teramat penting. Semua orang sependapat akan masalah ini. Naskah-naskah ini menyebut bahwa sejarah teks Al-Qur'an di masa lampau melebihi dari sebuah pertanyaan terbuka dari apa yang lazim dianggap orang banyak: teks itu tidak tetap dan memiliki kekurangan otoritas dari anggapan yang ada. "8

Secara pribadi saya melihat pendapat Prof. Rippin sangat membingungkan. Di satu sisi sejak masa Nabi Muhammad, para sahabat mengakui adanya perbedaan bacaan. Sangat tidak beralasan untuk dikatakan sebagai penemuan baru. Di sisi lain, bukan Puin sekali pun (sejauh yang saya pahami) beranggapan telah menyingkap perbedaan-perbedaan susunan ayat Al-Qur'an dalam naskah, kendati pendapatnya tentang Al-Qur'an sejalan dengan aliran revisi modern yang mengatakan,
"Pemikiran saya adalah bahwa Al-Qur'an tidak lebih dari naskah cocktail yang tidak semuanya dapat dipahami di zaman Nabi Muhammad sekalipun." Begitu kata Puin. "Banyak di antaranya yang mungkin seratus tahun lebih tua dari Islam itu sendiri. Kendati dalam tradisi ke¬ islaman terdapat informasi silang yang amat besar, termasuk dasar agama Kristen; seseorang dapat menyerap seluruh antisejarah Islam dari mereka jika ia menghendaki." Patricia Crone memberi pembelaan tujuan-tujuan pemikiran seperti ini. "Al-Qur'an tak ubahnya sebagai satc kitab suci dengan satu sejarah seperti agama lain-hanya saja kita tidak memahami sejarah ini dan cenderung ingin membangkitkan teriakan protes saat kita mengkajinya.' 9

Kalangan orang Arab selalu beranggapan bahwa Al-Qur'an sebagai kitab yang memiliki keunikan lagi indah sampai para penyembah berhala di kota Mekah merasa haru melihat susunan liriknya dan mereka tidak mampu menciptakan seperti itu.10 Mutu seperti ini tidak dapat menghalangi orang¬orang seperti Puin melempar penghinaan seperti itu.
"Al-Qur'an menyatakan bahwa ini adalah 'mubeen', atau 'jelas'," katanya. "Tetapi jika Anda perhatikan, Anda akan catat bahwa tiap lima kalimat atau yang sederhana saja tidak dapat dimengerti. Tentunya orang¬orang Islam dan juga sebagian orientalis berkata lain, tetapi fakta menunjukkan bahwa seperlima Al-Qur'an tidak dapat dipahami."11

G.R. Puin mengumbar ucapannya tanpa memberi contoh dan saya telah kehabisan langkah dalam melacaknya di mana letak seperlima Al-Qur' an yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut ia menyebut bahwa kesediaan menerima pemahaman seperti itu bermula secara sungguh-sungguh pada abad kedua puluh.12 la merujuk pada tulisan Patricia Crone dengan mengutip pendapat R.S. Humphreys,13 yang kemudian diakhiri dengan pendapat Wansbrough. Serangan utama dari tulisan Wansbrough ingin menciptakan pendapat tentang dua masalah penting. Pertama, Al-Qur'an dan hadith disebabkan oleh berbagai pengaruh komunitas lebih dari dua abad. Kedua, doktrin ajaran Islam mengikuti cara pemimpin agama Yahudi. Tampaknya Puin sedang membaca kembali karyanya di saat sekarang, karena teorinya berkembang begitu lambat dalam kalangan terbatas di mana "umat Islam melihatnya sebagai sikap penyerangan yang menyakitkan."14 Para pembaca tentu mengenal siapa Cook, Crone dan Wansbrough sejak seperempat abad, wajah baru muncul dari kalangan ini adalah Dr. Puin, yang penemuannya dijadikan rujukan utama dalam karya Lester yang begitu panjang. Beberapa naskah Al-Qur'an di atas kertas kulit dari Yaman merujuk pada dua abad pertama Islam.
Terungkap sedikit namun mampu membangkitkan minat melakukan penyimpangan terhadap standar naskah Al-Qur'an. Penyelewengan seperti ini, kendati tidak mengherankan para ahli sejarah naskah Al-Qur'an, pada hakikatnya sangat mengganggu perasaan dan kepercayaan di kalangan Muslim orthodoks yang mempunyai anggapan bahwa Al-Qur'an yang sampai ketangan kita, hingga hari ini, masih dalam bentuknya yang sempurna, tanpa batas waktu, dan kata-kata Tuhan yang tidak pernah berubah. Pada dasarnya upaya kaum sekuler dalam upaya penafsiran ulang terhadap Al-Qur'an-sebagian berdasarkan fakta akan adanya kulit kertas naskah yang ada di Yaman15 sebagai gangguan dan serangan terhadap kalangan Islam sebagaimana rencana pengadaan reinterpretasi Kitab Injil dan kehidupan Jesus yang akan mengganggu dan merupakan penyerangan terhadap kalangan Kristen konservatif. Upaya reinterpretasi sekuler seperti itu, sangat kuat dan-sebagaimana demonstrasi sejarah renaissance dan reformasiakan mengarah terhadap lahirnya perubahan sosia] secara mendasar. Al-Qur’an, bagaimana pun, di saat sekarang merupakan naskah yang paling berpengaruh dari segi pemikiran ideologi.16

Seluruh permasalahan yang ada di hadapan kita adalah seperti berikut:
•             Kitab suci Al-Qur' an dianggap sebagai naskah yang paling berpengaruh secara ideologi.
•             Kalangan umat Islam melihat Al-Qur'an sebagaimana orang-orang Kristen memandang Kitab Injil kalamullah yang tidak pernah berubah.
Fragmentasi naskah Al-Qur'an yang terdapat di Yaman dapat membantu upaya-upaya kalangan sekuler dalam mengadakan reinterpretasi Al¬Qur' an.
•             Kendati merupakan sikap ofensif terhadap sejumlah besar umat Islam, reinterpretasi ini dapat menjadi impetus 'dorongan' perubahan sosial secara mendasar seperti yang dialami oleh agama Kristen beberapa abad yang silam.
•             Perubahan-perubahan ini dapat dilakukan dengan menunjukkan bahwa Al-Qur'an pada dasarnya sebagai naskah cair (fluid text) di mana saat masyarakat Islam memberi kontribusi dan secara bebas menata kembali apa yang telah disusun beberapa abad sebelumnya, dapat memberi isyarat bahwa Qur'an tidak lagi suci, dan bahkan telah sesat.
Sebagian besar rujukan yang digunakan T. Lester dan nama-nama yang dikutip kebanyakan dari kalangan ini: Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbrough. la juga berupaya meyakinkan munculnya cuaca segar di mana dunia Islam mulai menunjukkan langkah positif terhadap gerakan revisionism. Dalam kategori ini ia menyebut nama-nama seperti Nasr AN Zaid, Taha Husain, 'All Dushti, Muhammad 'Abdu, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun dan pesannya yang begitu gencar dalam memerangi pikiran konservatif.l7 Sedang aliran pemikiran dari kalangan ilmuwan tradisional semua dicampakkan, kecuali nama Muhammad 'Abdu yang kontroversial dimasukkan ke dalam daftar.
Akan tetapi, apakah sebenarnya aliran revisionisme itu? Di sini, T. Lester gagal memberi definisi terperinci, maka di sini izinkanlah saya memberi peluang Yehuda Nevo, salah satu sumber utama yang ia kutip membantu mendefinisikannya:
Pendekatan kaum "revisionis" sama sekali bersifat monolitik ... (akan tetapi mereka) bersatu dalam menolak validitas sejarah pada sejumlah masalah semata-mata berdasarkan fakta-fakta yang diserap dari sumber literatur Muslim. Informasi yang mereka peroleh hendaknya diperkuat dengan data-data kasar yang masih ada... Sumber-sumber tertulis harus diteliti dan dihadapkan dengan bukti dari luar dan jika terdapat silang di antara keduanya, yang kedua harus diberi prioritas lebih.18
Karena bukti dari luar sangat diperlukan dalam memberi pengesahan pendapat setiap Muslim, maka tidak adanya bukti kuat akan membantu penolakan anggapan dan memberi pernyataan secara tidak langsung tentang permasalahan yang tidak pernah terjadi.
Karena tidak adanya bukti yang dikehendaki di luar pendapat tradisional, maka akan jadi bukti positif dalam memperkuat hipotesis terhadap sesuatu yang tidak pernah terjadi. Contoh nyata adalah kurangnya bukti di luar literatur Muslim, di mana berdasarkan fakta yang ada semua orang Arab sudah memeluk agama Islam saat terjadi penaklukan kota Mekah.19

Hasil pendekatan revisionis tidak lain ingin menghapus sejarah Islam secara menyeluruh dan pemalsuan terhadap yang lain di mana peristiwa seperti munculnya berhala di kota Mekah sebelum Islam, permukiman Yahudi di Madinah, dan kemenangan umat Islam terhadap Byzantin atau imperium Byzantin di Syria semuanya ditolak. Pada dasarnya, gerakan revisionisme memandang bahwa berhala yang ada di Mekah sebelum Islam semata-mata penjelmaan khayal dari budaya keberhalaan yang berkembang di sebelah selatan Palestina.20
Masalah sentral yang perlu mendapat penjelasan di sini adalah adanya tujuan pasti di balik penemuan yang ada. Hal tersebut bukan muncul secara vacum atau terjadi dengan tanpa rencana di atas pangkuan para Ilmuwan. Mereka merupakan gagasan dari sebuah ideologi dan arena politik yang dibuat secara terselubung di balik kemajuan penelitian akademik.21
Berbagai upaya pengaburan ajaran Islam dan Kitab Sucinya bermula sejak lahirnya agama tersebut, kendati strategi di balik itu mengalami peru¬bahan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Sejak agama Islam lahir hingga abad ke tiga betas hijriah atau abad ke tujuh dan ke delapan hingga abad ke tiga betas setelah hijriah (dari abad ketujuh hingga delapan betas masehi), tujuan utamanya adalah bagaimana memberi proteksi kuat agama Kristen dalam menghadapi arus kemajuan agama ini di Irak, Suriah, Palestina, Mesir, Libya dll. Salah satu contoh nyata dari masa ini adalah Yohannes dari Damascus (35¬133 hijriah./675-750 Masehi), Peter The Venerable (1084-1156 Masehi), Robert of Ketton (1084-1156 Masehi), Raymond Lull (1235-1316 Masehi), Martin Luther (1483-1546 Masehi), Ludovico Marraci (1612-1700 Masehi). Mereka memperalat pena dengan cara yang tidak sederhana menghendaki sikap ketololan dan pemalsuan. Dipicu oleh semangat perubahan politik yang menguntungkan dan dimulainya penjajahan sejak abad kedelapan betas hingga seterusnya, tahap kedua penyerangan terhadap agama Islam menunjukkan perubahan sikap setelah melihat banyak orang masuk Islam atau sekurang¬kurangnya munculnya rasa bangga dan penentangan yang lahir dari kepercayaan mereka terhadap Allah.
Abraham Geiger (1810-1874) termasuk pada masa kedua. Disertasinya berjudul What hat Mohammaed aus den Judettum aufgenommen? ('Apa yang diambil oleh Muhammad dari agama Yahudi?') merupakan upaya menguak pencarian pengaruh tersembunyi terhadap Al-Qur'an yang menyebabkan lahirnya buku-buku dan artikel yang tak terhingga jumlahnya dengan tujuan hendak memberi anggapan seperti halnya Kitab Injil yang palsu dan penuh kesalahan.
Bab-Bab berikut akan menampilkan nama-nama lain yang jadi pelopor periode ke dua, seperti Noldeke (1836-1930), Goldziher (1850-1921), Hurgonje (1857-1936), Bergstrasser (1886-19330, Tisdall (1859-19280, Jeffery (d.1952) dan Schact (1902-1969). Kelompok ketiga bermula dari pertengahan abad ke-20 sejak berdirinya negara Israel, secara aktif berupaya melenyapkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengutuk kebiadaban perilaku kaum Yahudi. Di antara pengikut aliran ini adalah Rippin, Crone, Power, Calder dan, tidak ketinggalan juga Wansbrough. Teori mereka menyebut bahwa Al-Qur'an dan hadith merupakan produksi masyarakat yang selama dua abad secara fiktif dinisbahkan pada seorang Nabi Arab berdasarkan prototype yang dilakukan oleh orang Yahudi yang tentunya merupakan pendekatan paling keji dalam menepis AI-Qur' an dari statusnya yang suci.
Beberapa dasawarsa-dasawarsa yang silam mulai menyaksikan pen¬dewasaan kedua kelompok terakhir dengan agak cepat dalam menggunakan cara-cara yang agak fair dalam menyerang Al-Qur'an yang dikemas melalui kontekstualisasi budaya, di mana dianggap sebagai basil dari masa tertentu yang sudah usang dari sebuah kitab yang berlaku bagi semua ruang dan waktu.
Islam tradisional tidak begitu gamang jika disebut bahwa wahyu merefleksikan milieu saat ia diturunkan... Akan tetapi Islam tradisional tidak pernah membuat lompatan dari suatu pemikiran bahwa kitab yang berkaitan dengan masyarakat di mana ia diwahyukan pada sebuah gejala yang merupakan produk masyarakat itu sendiri. Bagi sebagian besar umat Islam di dunia modern, gerakan penting apa pun dari sebuah aliran pemikiran tak mungkin jadi pilihan dalam waktu dekat.22

Pendapat itulah yang menyulut inspirasi Nasir Abu Zaid (seorang yang telah dinyatakan murtad oleh pengadilan tinggi Mesir yang menurut Cook, sebagai "Muslim sekuler"23), di mana keyakinan utama tentang Al-Qur'an sebagai berikut,
Jika teks Al-Qur'an adalah risalah yang ditujukan kepada orang Arab pada abad ke tujuh, maka tentu dibuat formulasi dengan suatu cara yang secara spesifik berdasarkan sejarah sesuai dengan bahasa dan kultur yang ada. Jika demikian halnya, maka, Al-Qur'an dibentuk sesuai dengan susunan kemanusiaan (a human setting). la merupakan produk kebudayaan', suatu ungkapan yang sering dipakai Abu Zayd, yang dinyatakan di depan Mahkamah kasasi yang menempatkan ia sebagai orang kaflr.24

Pendekatan Al-Qur'an melalui pendapat tekstual tampak cukup lunak bagi yang merasa belum kenal; Bagaimana mungkin bahaya dari konsep pemikiran sebagai pendekatan secara 'semantik' dan linguistik tekstual ter¬hadap Al-Qur'an? Perhatian utama bukanlah kajian terhadap teks itu sendiri dan perkembangan evo]usinya, melainkan bagaimana bentuk struktur Al¬Qur'an diambil dari literature bahasa Arab di abad ke-7/ke-8.25
Berbicara tentang ilmuwan Kitab Injil seperti Van Buren, Professor E.L. Mascall menjelaskan, "(ia) menemukan dasar-dasar petunjuk tentang seku¬larisasi Kristen dalam aliran filsafat yang biasanya dikenal dengan analisis dari segi bahasa."26 Jika hal yang demikian dimaksudkan pada analisis bahasa kajian Kitab Injil, apakah motif lain dalam mengaplikasikan pendekatan ini terhadap kajian Al-Qur'an?
Hal ini di luar bidang dari apa yang dapat diterima oleh kalangan umat Islam, strategi lain adalah keinginan mengubah naskah suci Al-Qur'an melalui terjemahan bahasa sehari-hari yang kemudian mengangkatnya sederajat dengan bahasa Arab asli. Dengan cara demikian masyarakat Muslim, di mana tiga perempatnya bukan Arab, akan dapat mengalami keterputusan dari wahyu Allah yang sebenarnya.
Adalah sangat tidak tepat antara bahasa Arab Al-Qur'an dan bahasa setempat pada tingkat pendidikan dasar. Ketegangan semakin runyam setelah melihat fakta bahwa gerakan modernitas bermaksud menguatkan perhatian dalam mencerdaskan kitab suci di kalangan sebagian besar orang-orang yang beriman. Seperti dikatakan oleh tokoh nasionalis Turki, Ziya Gokalp (w.1924), "Suatu negeri di mana di sekolah-sekolah mengajar Al-Qur'an pada setiap orang dalam bahasa Turki merupakan fakta bahwa tiap orang tua dan muda dapat mengenal perintah Tuhan."27

Setelah menjelaskan usaha sia-sia yang dilakukan oleh Turki dalam mengubah Al-Qur' an dengan bahasa mereka, Michael Cook menyimpulkan,
Kini dunia Muslim non-Arab menunjukkan sedikit tanda-tanda ingin mengikuti pemikiran bahasa kitab sehari-hari menurut cara yang terjadi pada abad ke enam belas yang dilakukan oleh orang-orang Protestan atau pada abad kedua puluh seperti yang dilakukan oleh orang-orang Katolik.28

Jika semua upaya penipuan dalam keadaan serbamentok, jalan terakhir seperti ditegaskan oleh Cook:
Di kalangan masyarakat Barat modern, terdapat aksiomatik di mana kepercayaan agama orang lain (kendati, tentu saja, tidak semua orang ter¬motivasi oleh perilaku keagamaan) harus diberi sikap toleransi dan bahkan dihormati. Tentunya akan dianggap sebagai langkah keliru dan picik untuk menyatakan pendapat keagamaan orang lain sebagai hal yang salah dan agama sendiri adalah benar... Anggapan akan kebenaran mutlak dalam masalah keagamaan sudah ketinggalan zaman dan tak mungkin dapat diharap lagi. Namun demikian, hal ini merupakan gejala yang mengemuka di kalangan Islam tradisi seperti dialami oleh kalangan Kristen tradisi, hanya saja di abad-abad terakhir terasa lebih dominan di kalangan Islam.29

Cook mengemukakan pendapatnya dalam tulisan yang berjudul "Sikap toleransi terhadap kepercayaan - orang lain", kendati yang dipaparkan menyentuh masalah universalisme. Dalam melihat sikap toleransi, Islam mempertahankan kejelasan ajarannya dalam mengatur hak-hak non-Muslim dan merupakan hal yang sangat terkenal. Serangan Cook tidak lain ingin menumbuhkan sikap keragu-raguan dan relativisme: suatu gejala penyamaan semua agama karena berpikir sebaliknya berarti mengkhianati diri sendiri sebagai sikap berpikir bodoh dan provincialisme'kampungan'. Sebenarnya, ini sistem perangkap yang lebih mudah bagi kalangan kontemporer Muslim yang tak terdidik secara balk. Sebagai akibat dari pikiran ini, "Terdapat kesepakatan dalam menolak segala bentuk rencana pembedaan antara non-Muslim, ilmu pengetahuan, dan kesarjanaan Muslim di masa sekarang mengenai sistem kajian Al-Qur'an."30
Sekarang muncul metode baru di kalangan ilmuwan Barat dalam menyerang tradisi buku-buku tafsir31 menuntut pembaruan segalanya. Dengan alasan hak tersendiri dalam menafsirkan kitab suci, kebanyakan orientalis menepis pendapat ulama Islam terdahulu dengan "alasan bahwa-karena tertipu oleh suatu anggapan bahwa Al-Qur'an sebagai kitab suci-mereka sudah barang tentu tidak dapat memahami isi teks yang ada dengan baik seperti para sarjana Barat memahaminya secara liberal.32 Basetti-Sani dan Youakim Moubarac keduanya ngototbahwa tafsiran AI-Qur'an mesti dibuat sejalan dengan ukuran kebenaran agama Kristen, suatu pernyataan yang mendapat acungan jempol dari W.C, Smith and Kenneth Cragg.33 Sebagai seorang pemimpin Gereja Anglican, Cragg menekankan agar umat Islam menghapus semua ayat yang diturtmkan di Madinah (dengan penekanan di bidang politik dan hukum) guna mempertahankan esensi ayat-ayat Makkiyyah yang secara umum lebih menyentuh masalah keesaan Tuhan (monotheism) di mana ayat Madaniyyah dianggap meremehkan nilai ketuhanan dari esensi pernyataan tiada tuhan melainkan Allah .34
Konsep pemikiran ini bermaksud hendak "menggoyang" orang-orang yang lemah iman dan was-was dengan memperalat senjata "sikap sinis" kaum orientalis yang selalu menghujat serta menolak kitab asli yang mereka warisi agar semakin mudah menerima ideologi Barat. Artikel yang ditulis Toby Lester dapat dianggap sebagai kartu baru menggunakan fragmentasi Qur'an Yaman sebagai umpan. Pada dasarnya Dr. Puin menolak semua penemuan yang dinisbatkan T. Lester kepadanya dengan menepis beberapa perbedaan ejaan dan perkataan. Berikut adalah sebagian dari surat asli Dr. Puin yang ditulis untuk Qadi Ismail al-Akwa' beberapa saat setelah muncul tulisan Lester¬dengan terjemahannya.35



Gambar 1.1  Sebagian dari surat asli Dr. Puin kepada al-Qadi al-Akwa'

Hal yang sangat penting, puji syukur pada Allah  bahwa fragmentasi mushaf dari Yaman tidak berbeda dengan yang terdapat di berbagai museum dan perpustakaan di tempat lain dengan beberapa penjelasan yang tidak mengena dengan Al-Qur an, kecuali beberapa perbedaan dalam ejaan kata-kata. Hal ini merupakan suatu yang dikenal di kalangan luas bahwa seperti Qur' an yang diterbitkan di Cairo:

kata Ibrahim tertulis (  ) menjadi Ibrhm (  )
Qur'an juga ditulis (  ) menjadi Qrn (  )
Simahum tertulis(  ) menjadi Simhum (  ) etc.
Lihat teks gambar No. 1.1 hlm. 12. Dalam fragmentasi Al-Qur'an kuno yang terdapat di Yaman, tidak dituliskannya huruf alif merupakan gejala umum.

Hal ini dapat menurunkan nilai perdebatan yang ada serta melenyapkan kekaburan jaringan licik di sekitar penemuan Dr. Puin membuat sebagai topik bahasan yang tidak perlu mengundang spekulasi lebih jauh.36 Marilah ambil perumpamaan sekiranya penemuan itu benar, lantas bagaimana tanggapan kita? Di sini kita dihadapkan pada tiga permasalahan:

(1). Apakah Al-Qur' an itu?
(2). Jika seluruh naskah tidak ada atau sebagian ditemukan saat sekarang maupun yang akan diklaim sebagai Al-Qur'an tapi berbeda dari yang ada di tangan kita, apa pengaruhnya terhadap teks Al-Qur' an sekarang?
(3). Siapa yang berhak memegang otoritas Al-Qur'an, dalam hal penulisan tentang agama dan sejarahnya?

Ini semua akan diperjelas dalam tulisan ini guna mendobrak bukan saja jawaban-jawaban yang diperlukan melainkan juga logika penentu sikap mereka:

a). Al-Qur'an adalah kalamullah, risalah terakhir untuk umat manusia, diwahyukan pada Rasul terakhir, Muhammad, yang meruang dan sewaktu. la terpelihara di segi keaslian bahasa tanpa perubahan, tambahan, maupun pengurangan.
b). Tak akan ada penemuan Qur'an, baik secara fragmentasi maupun seluruhnya, yang berlainan dari teks yang ada di seluruh dunia. Jika ada, maka tidak akan dianggap sebagai Al-Qur'an, karena satu syarat utama penerimaannya mesti sesuai dengan teks yang digunakan dalam mushaf 'Uthmani.37
c). Tentu saja siapa pun tak berhak melarang seseorang menulis tentang Islam, akan tetapi hanya seorang Muslim yang taat memiliki wewenang yang sah melakukan tugas tersebut dan bahasan lain yang ada hubung¬annya. Mungkin pihak lain menganggap hal ini sebagai prasangka; tetapi siapakah yang tak bersikap demikian? Di luar kalangan Islam tidak dapat mengklaim sikap netral karena tulisan mereka sengaja ingin mengalihkan pikiran orang lain. Apakah ajaran Islam dapat menerima atau tidak ter¬gantung kepercayaan masing-masing dan setiap penafsiran dari pihak Kristen, Yahudi, atheis, atau orang Islam yang tidak mau menjalankan Shari'atnya harus ditolak secara tegas. Saya dapat tambahkan jika tiap pandangan yang disukai bertentangan dengan dasar ajaran Nabi Muhammad saw. balk secara eksplisit mau pun sebaliknya, ia mesti ditolak dan hal ini berlaku bagi tulisan seorang Muslim yang taat sekalipun dapat ditepis sekiranya tidak ada gunanya. Bentuk selektivitas seperti ini berlaku sejak masa keemasan pemerintahan Ibn Sirin (w.110 H./728 M.):



Ilmu ini merupakan agama Anda, maka hendaknya berhati-hati dari mana Anda mengambil agama.38

Mungkin pihak lain menganggap umat Islam tidak memiliki alasan kuat dalam merespons metode keilmuan orang lain. Masalahnya, bagi orang Islam berlandaskan sepenuhnya pada keimanan bukan asal akal-akalan. Di sini saya perlu mengemukakan pendapat dalam menyikapi penemuan mereka dalam bab-bab berikut. Awalnya akan saya ceritakan beberapa bagian sejarah Islam sebagai titik awal memasuki kajian lebih dalam mengenai Al-Qur'an.