Showing posts with label muhammad. Show all posts
Showing posts with label muhammad. Show all posts

Friday, 22 January 2016

Taisir Al-Wushul Ha Tafshil Wafatur Rasul 1



Terputusnya WAHYU Dari Langit

Di antara dampak yang paling besar adalah terputusnya wahyu dari langit,  Yang karenanya seorang shahabiyah seperti Ummu Aiman menangis dan tangisannya membuat Abu Bakar dan Umar bin Khaththab juga ikut menangis. Ini menunjukkan bahwa sejak wafatnya Rasulullah M wahyu tidak akan pernah turun lagi ke dunia ini sampai hati kiamat nanti. " Aku adalah penutup (para Nabi)." (HR. Al- Bukhari).
Kepergian Rasulullah  telah membawa musibah bagi umatnya hingga hari kiamat. Berbagai faham dan pemikiran muncul dan saling serang dan bantah. Para penuntut surga menjadi langka dan para penuntut
neraka menjamur. Berbagai bid'ah dikultuskan layaknya landasan agama dan rukunnya. Pelaku sunnah dianggap melakukan bid'ah dan pelaku bid'ahlah yang justru dianggap pengamal sunnah. Antara kita dengan faham yang shahih tentang agama terbentang padang sahara yang siap memotong leher setiap orang yang berlalu.
Karena begitu besarnya pengaruh dan dampak dari wafatnya Rasulullah M tersebut dan banyaknya kaum muslimin yang tidak mengetahui dan menyadarinya maka kami terpanggil untuk menerbitkan sebuah buku yang menjelaskan detik-detik menjelang wafatnya Rasulullah M serta dampak yang ditimbulkan darinya.
Dalam buku ini para pembaca akan mendapatkan :

1. Dahsyatnya peristiwa detik-detik menjelang wafatnya Rasulullah
2. Wasiat-wasiat Rasulullah untuk umatnya menjelangnya wafatnya.
3. Dampak wafatnya Rasulullah bagi para keluarga dan shahabatnya.
4. Dampak wafatnya Rasulullah bagi umatnya secara umum.
5. Dan apa yang mesti kita lakukan setelah Rasulullah M wafat?  

 Pendahuluan Perpisahan

setelah sempurna cahaya risalah Nabi  setelah sampai risalah tauhid kepada manusia, setelah menyebar cahaya Islam dan setelah tinggi bendera-bendera Islam, Rasulullah  merasakan bahwa perjalanan beliau di dunia dan tinggalnya beliau di dunia ini hampir berakhir dan beliau hanya memiliki beberapa langkah saja untuk menuju negeri akhirat, sampai ketika Rasulullah M mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman pada tahun ke sepuluh Hijriyah, beliau berkata kepadanya:
"Wahai Mu'adz, mungkin saja engkau tidak akan berjumpa denganku setelah tahun ini, atau kemungkinan engkau akan melintasi masjidku ini dan kuburanku. "Maka Mu 'adzinpun menangis dengan penuh rasa khusyu  karena takut berpisah dengan Rasulullah. Rasulullah mengumumkan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah, sehingga berdatangan ke Madinah sejumlah besar manusia, semuanya ingin mendapatkan kepemimpinan Rasulullah di dalam ibadah hajinya tersebut .
Pada hari Sabtu empat hari sebelum berakhirnya bulan Dzulqa'dah 13 , Rasulullah  bersiap-siap untuk berangkat menuju Makkah. Rasulullah berangkat setelah Zhuhur sehingga sampai di Dzul Hulaifah sebelum shalat Ashar. Rasulullah  bermalam di Dzul Hulaifah hingga pagi. Sebelum shalat Zhuhur, Rasulullah  mandi untuk ihram dan memakai minyak wangi, kemudian berihlal dengan ibadah haji dan umrah dengan meniatkan haji qiran. Kemudian Rasulullah  melanjutkan perjalanannya sampai masuk kota Makkah setelah shalat Shubuh dan mandi pada pagi hari di hari Ahad tanggal empat Dzulhijjah tahun sepuluh Hijriyah 14 . Pada hari Tarwiyah 15 Rasulullah menuju Mina dan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Shubuh (shalat lima waktu) di Mina, kemudian tinggal sejenak sampai terbit matahari. Lalu Rasulullah meninggalkan Mina hingga tiba di Arafah  , sehingga ketika matahari telah tergelincir, berkumpul di sekitarnya seratus dua puluh empat ribu atau seratus empat puluh empat ribu manusia. Maka Rasulullah berdiri di hadapan mereka untuk  berkhutbah.

Rasulullah bersabda:

"Segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan, meminta hidayah, meminta ampun dan bertaubat kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah dah kejelekan-kejelekan jiwa kita dan dari keburukan-keburukan amalan kita. Sesungguhnya barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka tiada seorang pun yang mampu menyesatkannya. Sebaliknya barangsiapa yang telah disesatkan oleh Allah, maka tiada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada illah yang hak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Hari Jum'at tanggal 9 Dzulhijjah 10 H, bertepatan dengan tanggal 6 Maret 632 M.

"Telah turun firman Allah Ta'ala, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, ...dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu' (QS. Al-Maidah: 3). Ayat ini turun ketika Rasulullah berdiri di Arafah... dan diriwayatkan dengan sanad yang baik bahwasanya Umar bin Khaththab ketika turun ayat ini menangis. Maka ada yang bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Dia menjawab, "Sesungguhnya tidak ada setelah kesempurnaan kecuali kekurangan...", seolah-olah dia merasakan akan wafatnya Rasulullah. Aku berwasiat kepada kalian wahai hamba-hamba Allah agar kalian senantiasa bertaqwa kepada Allah, aku sarankan kepada kalian untuk senantiasa taat kepada-Nya dan aku akan membuka (khutbah ini) dengan menyebut nama yang pada-Nya sumber kebaikan.

 Amma ba'du:

Wahai manusia, dengarkan dariku, aku akan menjelaskan kepada kalian, sesungguhnya aku tidak tahu kemungkinan aku tidak akan berjumpa dengan kalian lagi setelah tahun ini, di tempatku. Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian dan harta kalian haram bagi kalian sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian, sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini.

Ketahuilah , bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Barangsiapa yang memiliki amanah, hendaknya dia menyampaikan amanahnya kepada orang yang menyerahkan kepadanya amanah tersebut.
Sesungguhnya riba pada zaman jahiliyah telah dibatalkan, dan riba yang pertama kali mulai saya batalkan adalah riba paman saya Al-Abbas bin Abdul Muththalib.
Dan darah pada zaman jahiliyah telah dibatalkan, dan darah yang pertama kali mulai kita batalkan adalah darah Aemirbin Rabi'ah bin Al-Harits bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya tugas-tugas terhormat pada zaman jahiliyah telah dibatalkan kecuali melayani Ka'bah dan memberi minum jamaah haji. Dan pembunuhan dengan sengaja ada qishashnya, adapun tongkat dan batu, padanya ada diyat seratus ekor unta. Barang siapa yang menambahinya berarti dia termasuk  irang- orang jahiliyah.

Wahai manusia, sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah di tanah kalian ini, akan tetapi diaridha untuk ditaati pada selain itu dari berbagai perbuatan yang kalian meremehkannya.

Wahai manusia. ..
"Sesungguhnya mengundur undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kaGr dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan
yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. 'Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana kondisinya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi ..........

17. QS. At-Taubah: 37.
18- Mereka pada zaman jahiliyah berpegang dengan agama Ibrahim dalam mengharamkan bulan-bulan mulia. Akan tetapi memberatkan mereka untuk mengakhirkan peperangan selama tiga bulan berturut-turut. Maka
apabila mereka membutuhkan peperangan, mereka mengakhirkan pengharaman bulan Muharam pada bulan berikutnya yaitu bulan Shafar. Kemudian mereka mengakhirkannya pada tahun yang lainnya pada bulan
yang lain. Demikianlah mereka melakukan hal ini dari tahun ke tahun sehingga masalah ini menjadi rumit bagi mereka. Dan haji Nabi saw telah bertepatan dengan perintah Allah  pengharaman mereka dan sesuai dengan
syariat. Mereka pada tahun itu telah mengharamkan Dzulhijjah karena bertepatan dengan perhitungan yang telah kami sebutkan, sehingga Nabi bulan-bulan di sisi Allah ada dua belas bulan di dalam Kitabullah pada hari Allah mendptakan langit dan bumi, di antara bulan-bulan tersebut ada empat bulan yang dimuliakan (asyhurulhurum): tiga bulan berturut-turut dan satu bulan menyendiri yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab yang berada antara Jumadi Tsani dan Syaban. Ketahuilah, bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!  Wahai manusia, sesungguhnya bagi istri-istri kalian memiliki hak atas kalian, dan kalian memiliki hak atas mereka. Hak kalian atasmerekabendaknyamoeka tidakmenempatkanpada tempat tidur kalian selain kalian, mereka tidak boleh memasukkan ke dalam rumah kalian seorangpun yang kalian tidak menyukainya kecuali dengan izin kalian, hendaknya mereka tidak melakukan perbuatan keji yang nyata. Apabila mereka melaku- kannya, sesungguhnya Allah Ta 'ala telah memberikan izin  meninggalkan mereka dari tempat tidur dan memukul mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan jika mereka berhenti dan mentaati kalian, maka wajib bagi kalian untuk memberi rezeki kepada mereka dan mmberi pakaian dengan cara yang baik. Sesungguhnya para istri tersebut di sisi kalian bagaikan para ta wanart, mereka tidak memiliki sesuatupun pada dir i mereka. Kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah, maka bertaqwalah kalian kepada Allah pada istri-istri kalian dan berwasiatlah kepada mereka dengan kebaikan.
mengabarkan bahwa perputaran ini telah bertepatan dengan apa yang Allah tetapkan pada hari Allah mendaptakan langit dan bumi. (Syarh A» - Nawawi Li Shahih Muslim- XI/16h).

Ketahuilah, bukankah aku telah menyampaikan ? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia, sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim harta saudaranya kecuali dengan kerelaan hati.  
Ketahuilah, bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia, sesungguhnya Rabb kalian satu, sesungguhnya bapak kalian satu, kalian semua keturunan Adam dan Adam (didapatakan) dari tanah. "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi' Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. "

Ketahuilah, bukankah aku telah menyampaikan?
Mereka menjawab, "Ya."
Rasulullah berkata, "Ya Allah, saksikanlah!"
Kemudian Rasulullah  bersabda, "Hendaknya orang Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah membagi-bagi setiap ahli waris bagiannya dari warisan, maka tidak boleh bagi ahli waris mendapatkan wasiat dan tidak boleh ada wasiat yang melebihi sepertiga harta warisan. Dan seorang anak dinasabkan kepada bapaknya sedangkan bagi pezina baginya hukum rajam  apabila muhshan ( telah menikah ). Barangsiapa mengaku bernasab kepada selain bapaknya atau berioyal kepada selain  walinya, maka baginya laknat dan Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima dan amalan wajib maupun sunnah. Wassalaam alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Pada hari raya 'Idul Adha tanggal sepuluh Dzulhijjah ketika masuk waktu Dhuha, Rasulullah mengendarai
bighalnya yang berwarna kelabu dan menyampaikan khutbah kedua yang mana beliau mengulangi sebagian apa yang telah beliau sampaikan kemarin. Dari Abu Bakrah ia berkata, "Rasulullah  berkhutbah pada hari Nahr (penyembelihan binatang kurban ) 22 saat beliau

21. Sirah Ibnu Hisyam (TV/173), Rasulullah berkata kepada Rabi'ah, "Katakanlahi Wahai manusia, Rasulullah -telah bersabda, "Apakah kalian bahu, bulan apa ini?"Lalu Rabi 'ah menyampaikannya kepada manusia. Maka manusia menjawab, “Bulan haram." Nabi berkata, "Katakan kepada morvka. Sesungguhnya AUah tdah mengharamkan kepada kalkm darah dan htirta kalian sanpai W J wnberfi™uden^nli7bbka/i3n.../ JV Dand*. i mikMtilah Nabi eberkata sedangkan Rabi'a h menyampaikannya kepada manusia-
22. Hari Sabtu tanggal 10 Dzulhijjah 10 H, bertepatan dengan tanggal 7 Maret
632 M.



menunaikan ibadah haji dengan bersabda, 'Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana kondisinya pada hari Allah mendptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan, di antara bulan-bulan tersebut ada empat bulan yang dimuliakan: tiga bulan berturut-turut yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab bulannya suku Mudharyang Kemudian Rasulullah M bertanya, 'Apakah kalian tahu hari apa ini?'
Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui...', maka beliau terdiam hingga kami mengira
beliau akan menamakan hari ini dengan selain namanya. Lalu Rasulullah berkata, 'Bukankah sekarang adalah hari Nahr (menyembelih binatang kurban)?'
Kami menjawab, 'Ya
Rasulullah  bertanya, 'Bulan apa ini?'
Kami menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya lebih me- ngetahui...', maka beliau terdiam hingga kami mengira
beliau akan menamakan bulan ini dengan selain nama- nya.
Lalu Rasulullah berkata: 'Bukankah sekarang adalah bulan Dzulhijjah ?'

Kami menjawab, 'Ya/
Rasulullah M bertanya, 'Negeri apa ini?'
Kami menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih me- ngetahui.., maka beliau terdiam hingga kami mengira
beliau akan menamakannya dengan selain namanya.
 Lalu Rasulullah berkata, 'Bukankah ini adalah negeri Haram?'
Kami menjawab, 'Ya . '
Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya darah dan harta kalian haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, bulan kalian ini dan negeri kalian ini, sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. . . . Bukankah aku telah menyampaikan ..
Kami menjawab, 'Ya
Rasulullah  bersabda, 'Ya Allah saksikankah! Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, terkadang seorang yang disampaikan lebih memahami daripada orang yang mendengar. Maka sepeninggalku janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir yang sebagian kalian membunuh sebagian yang lain
Jiwaku Mengabarkan Kepadaku akan Kematianku
Anelaksanakan manasik haji, mengajarkan kepada manusia syariat Islam, berdzikir kepada Allah, menegakkan sunnah-sunna h petunjuk dari agama Ibrahim dan menghapus bekas-bekas kesv i rikan dan lambang-lambangnya .  Pada pertengahan hari tasyriq 24 turun kepada Nabi

hari Senin tanggal 12 Dzulhijjah 10 H, bertepatan dengan tanggal 9 Maret

Jiwaku Mengabarkan Kepadaku Akan Kematianku 33

" Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbon- dong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesimgguhrrya Dia adalah Maha Penerima taubat ."

Ibnu Abbas berkata, "Ketika turun ayat ' Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan', Rasulullah M bersabda. Jiwaku mengabarkan kepadaku akan kematianku,
bahwa aku akan meninggal dunia pada tahun ini'.

Ibnu Umar berkata: "Ketika turun surat ini kepada Nabi M pada pertengahan hari tasyriq di Mina yaitu
ketika beliau melaksanakan haji Wada', maka beliau M mengetahui bahwasanya ini adalah perpisahan, maka
beliau M menyampaikan khutbah kepada manusia yang berisikan perintah dan larangan kepada mereka pada
hari ini ."

Khutbah Rasulullah M pada hari ini -pertengahan hari Tasyriq- seperti khutbah beliau pada hari Nahr.
Rasulullah M bertanya kepada manusia, "Apakah kalian tahu hari apa ini? Ini adalah hari yang kalian menyebutnya sebagai hari Kepala. '**

Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

khutbah nabi 2



Khutbah ini disampaikan oleh Rasullah s.a.w pada 9hb Zulhijjah Tahun 10 Hijrah di Lembah Uranah, Gunung Arafah.
“Wahai Manusia,dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan.Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini.
Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.
Wahai manusia,
Sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapa pun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi.
Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan diatas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.
Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dan dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.
Wahai manusia,
Sebagaimana kamu mempunyai hak keatas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak di atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.
Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik, berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.
Wahai manusia,
Dengarlah bersungguh-sungguh kata-kata ku ini, Sembahlah Allah, Dirikanlah solat lima kali sehari, Berpuasalah di bulan Ramadhan dan tunaikanlah Zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadat Haji sekiranya kamu mampu.
Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah bersaudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.
Ingatlah,
Bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu Awasilah agar jangan sekali-kali terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.
Wahai manusia,
Tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru.
Oleh itu wahai manusia,
Nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu.
Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan sunnahku.
Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku menyampaikan pula kepada orang lain.
Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dari ku.
Saksikanlah Ya Allah!
Bahawasanya telah aku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hamba mu.”

Padang Arafah.
Pada tahun ke 10 Hijrah ketika mengerjakan Hujjatul Wada’,
Rasulullah SAW telah menyampaikan khutbahnya yang terakhir. Baginda bertolak ke Arafah dari Mina setelah naiknya matahari 9 Zulhijjah. Sebuah khemah didirikan untk baginda dan baginda masuk serta berada di dalamnya sehingga terglincir matahari (waktu zohor).
Selepas itu, baginda pun mengarahkan disiapkan untanya Al-Qaswah,
lalu menaikinya sehingga baginda tiba di Wadi Uranah.
Di hadapan baginda, ribuan para sahabat mengelilingi baginda. Semuanya menanti penuh debar.
Apakah yang ingin disampaikan baginda?
Ramainya manusia yang berhimpun pada haji wida’ itu. Ada riwayat mengatakan jumlahnya mencecah 144000 orang semuanya.
Baginda pun menyampaikan khutbahnya yang bersejarah:
“Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung dengan-Nya daripada kejahatan diri dan keburukan amalan kita. Sesiapa yang Allah berikan hidayat kepadanya, maka tidak ada siapa yang boleh menyesatkannya. Sesiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada siapa yang boleh memberikan hidayat kepadanya.
Aku menyaksikan bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku berpesan kepada kamu supaya mentaati-Nya. Aku membuka khutbahku ini dengan mukaddimah yang baik.
Wahai manusia!
Sila dengar apa yang akan aku katakan ini. Aku tidak tahu apakah aku akan dapat bersama kamu semua lagi selepas tahun ini, di tempat ini selamanya.
Sesunguhnya darah kamu, harta benda kamu dan kehormatan diri kamu telah terpelihara (diharamkan) sebagaimana diharamkan hari ini, bulan ini dan bandar ini Makkah dan kawasan sekitarnya.
Sesiapa yang memegang amanah, maka dia hendaklah mengembalikan amanah tersebut kepada tuan punyanya.
Ingatlah!
Segala amalan jahiliyyah telah berada di tapak kakimu (iaitu telah dihapuskan).
Tuntutan hutang darah di zaman jahiliyyah (sebelum Islam) telah diampunkan.
Tuntutan darah pertama yang aku batalkan adalah darah Rabi’ah bin Al-Haris yang disusukan oleh Bani Saad kemudian telah dibunuh oleh Huzail.
Riba adalah haram dan aku memulakannya dengan membatalkan riba yang akan diterima oleh Abbas bin Abdul Mutalib. Sesungguhnya ia dihapuskan keseluruhannya.
Wahai manusia!
Takutilah Allah SWT di dalam urusan yang berkaitan dengan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai amanah daripada Allah SWT dan mereka telah dihalalkan kepada kamu dengan kalimah Allah. Wajib ke atas mereka untuk menjaga kehormatan kamu dan menjaga diri daripada melakukan perbuatan buruk. Jika mereka lakukannya maka kamu berhak untuk menghukum mereka tetapi bukanlah dengan pukulan yang mencederakan. Jika isteri-isteri kamu setia dan jujur terhadapmu, maka wajib ke atas kamu menjaga makan pakai dengan baik.
Semua orang mukmin adalah bersaudara, oleh itu tidak halal bagi seorang muslim mengmbil harta orang lain kecuali setelah mendapat kebenaran daripada tuannya.
Jangan kamu kembali menjadi kafir selepas pemergianku, di mana sebahagian daripada kamu memerangi sebahagian yang lain. Aku telah tinggalkan untuk kamu suatu panduan, jika kamu berpegang teguh dengan ajarannya, maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya; kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.
Wahai manusia!
Sesungguhnya tidak ada lagi nabi selepasku dan tidak ada lagi umat selepas kamu. Maka aku menyeru agar kamu menyembah Allah SWT Tuhan kamu dan menunaikan solat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan serta mengeluarkan zakat hartamu dengan kerelaan. Dan kerjakanlah haji ke Rumah Suci Tuhanmu (kaabah), untuk itu kamu akan masuk syurga Tuhanmu.
Tuhan kamu adalah Esa, datuk kamu pula adalah satu, kamu semua berasal daripada Adam dan Adam telah dijadikan daripada tanah. Orang yang paling baik di kalangan kamu ialah mereka yang paling bertaqwa kepada Allah. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain kecuali dengan taqwa.
Allah SWT telah menetapkan hak menerima pusaka kepada keluarga si mati, oleh itu tidak boleh membuat wasiat kepada penerima pusaka. Sesungguhnya laknat Allah ke atas sesiapa yang mengaku sebagai bapa kepada bukan bapanya yang sebenar, juga laknat dari para malaikat dan seluruh manusia.
Kemudian kamu akan disoal tentang aku, maka apa yang akan kamu jawab? Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahawa tuan telah menyampaikan dan menyempurnakan risalahmu.”
Baginda lalu mengangkat tangannya ke langit dan menurunkannya ke arah orang ramai sambil berkata,
“Ya Allah! Saksikanlah.” Baginda Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali.
Orang yang mengulang kembali ucapan Rasulullah SWT dengan kuatnya di Arafah ialah Rabi’ah bin Umaiyyah bin Khalaf ra.
Baginda berkhutbah di atas untanya al-Qaswah.
Di sinilah turunnya wahyu mengenai kesempurnaan agama Islam.
“Pada hari ini telah disempurnakan bagimu agamamu,
dan telah kucukupkan nikmat-ku kepadamu, dan telah kuredhakan Islam itu menjadi agama untukmu.” (Al-Maidah ayat 3)
Selepas baginda membacakan wahyu ini, para sahabat saling berpelukan kerana begitu gembira. Namun sayyidina Abu Bakar perasan al-Qaswah unta nabi menitiskan air mata dengan banyak. Beliau pun ikut menangis. Sayyidian Umar bertanya apakah sebabnya lalu sayyidina Abu Bakar menjelaskan. Di sebalik berita gembira sempurnanya agama Islam, wahyu penutup itu juga petanda khabar duka. Baginda pasti akan meninggalkan mereka kerana tugasnya sebagai Rasul sudahpun selesai. Mendengar itu sayyidina Umar pun menangis sama, begitu juga dengan para sahabat yang lain.

khutbah nabi



Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan, aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. (Sunan Ad-Darimi, no. 229)
Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. (Sahih Bukhari, no. 1625, no. 6551, Sahih Muslim, no. 2137, Sunan Abu Daud, no. 1628, Sunan At-Tirmidzi, no. 3012, hasan sahih, Sunan Ibnu Majah, no. 3046, no. 3065, Sunan Ad-Darimi, no. 1778, Musnad Ahmad, no. 19492, no. 19512, no. 19594, no. 19774)
Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. (Musnad Ahmad, no. 19774)
Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingatlah bahawa sesungguhya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. (Belum ditemui)
Allah telah mengharamkan riba, oleh itu, segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang. (Sahih Muslim, no. 2137, Sunan Abu Daud, no. 1628, Sunan At-Tirmidzi, no. 3012, hasan sahih, Sunan Ibnu Majah, no. 3046, no. 3065, Sunan Ad-Darimi, no. 1778, Musnad Ahmad, no. 19774)
Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil. (Sunan Ibnu Majah, no. 3046, Musnad Ahmad, no. 19774)
Wahai manusia sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak ke atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak diberikan makan dan pakaian, dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina. (Sahih Muslim, no. 2137, Sunan Abu Daud, no. 1628, Sunan At-Tirmidzi, no. 3012, hasan sahih, Sunan Ibnu Majah, no. 3065, Sunan Ad-Darimi, no. 1778, Musnad Ahmad, no. 19774)
Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah solat lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikanlah zakat dari harta kekayaan kamu. (Musnad Ahmad, no. 21140, no. 21228)
Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu. (Belum ditemui dalam hadis, namun ada dalil sepertinya dalam Surah Ali-Imran ayat 97)
Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. (Sunan At-Tirmidzi, no. 3012, hasan sahih)
Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Takwa dan beramal soleh. (Sahih Muslim, no. 4383, namun tidak dinyatakan dalam dalam khutbah)
Ingatlah, bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan. (Sunan At-Tirmidzi, no. 3012, hasan sahih)
Oleh itu, awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku. (Sahih Bukhari, no. 1625, no. 6551, Musnad Ahmad, no. 19492, no. 19512, no. 19594, no. 19774)
Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku (Sahih Muslim, no. 4343, namun tidak dinyatakan dalam dalam khutbah)
dan tidak akan lahir agama baru. (Belum ditemui)
Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. (Sahih Bukhari, no. 1625, no. 6551, Sunan Ibnu Majah, no. 3046, Musnad Ahmad, no. 19492, no. 19512, no. 19594, no. 19774)
Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, itulah Al-Quran dan Sunnahku. (Sahih Muslim, no. 2137, Sunan Abu Daud, no. 1628, Sunan Ibnu Majah, no. 3065, Sunan Ad-Darimi, no. 1778)
Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. (Sahih Bukhari, no. 1625, no. 6551, Musnad Ahmad, no. 19492, no. 19512, no. 19594, 19774)
Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu.” (Sahih Muslim, no. 2137, Sunan Abu Daud, no. 1628, Sunan Ibnu Majah, no. 3046, no. 3065, Sunan Ad-Darimi, no. 1778)

Wednesday, 16 September 2015

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW

Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun[23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, "ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan."

Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"
Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya N abi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisa di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, "lakukanlah!" Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah." Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah.....

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "benar ya Rasul!"

Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah."Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"