PRIORITAS PERJUANGAN PEMIKIRAN
YANG juga patut kita beri perhatian dalam usaha
perbaikan masyarakat ialah mendahulukan segala hal yang berkaitan dengan
pelurusan pemikiran, cara pandang, dan cara bertindak mereka. Tidak diragukan
lagi bahwa kita memerlukan suatu landasan yang sangat kuat untuk melakukan
perbaikan di dalam masyarakat. Karena sangat tidak masuk akal, bahwa amal
perbuatan dapat meniti jalan yang benar, kalau pemikirannya tidak lurus.
Sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:
"Bilakah bayangan akan
lurus kalau tongkatnya sendiri bengkok?"
Oleh sebab itu, barangsiapa
yang pandangannya tidak baik terhadap suatu perkara, maka perilakunya yang
berkaitan dengan perkara itu juga tidak akan baik. Karena sesungguhnya perilaku
itu sangat dipengaruhi oleh pandangannya, baik ataupun buruk.
Atas
dasar itu, pertarungan pemikiran --yakni pelurusan pemikiran yang
menyimpang, dan konsep-konsep yang tidak benar-- harus diberi prioritas
dan didahulukan atas perkara yang lain. Hal ini digolongkan sebagai 'perang
besar' --dengan al-Qur'an sebagai senjatanya-- sebagaimana yang telah
disebutkan dalam surat al-Furqan; dan juga tergolong sebagai perang dengan
lidah dengan memberikan penjelasan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi
saw, "Perangilah orang-orangmusyrik dengan harta benda, jiwa, dan lidah
kalian. "
PERJUANGAN PEMIKIRAN DI
DALAM PELATARAN ISLAM
Ada dua jenis medan pertarungan dalam
pemikiran:
Pertama, pertarungan di luar Islam, melawan atheisme,
orang-orang Nasrani, dan orang-orang orientalis yang selalu memerangi Islam,
dari segi aqidah, syariah, warisan pemikiran, dan budaya. Mereka senantiasa
memerangi kebangkitan apapun yang didasarkan pada Islam.
Kedua,
pertarungan di dalam pelataran Islam, untuk membetulkan arah perbuatan yang
patut dilakukan dalam Islam. Mengarahkan perjalanan hidupnya, dan meluruskan
gerakannya, sehingga perbuatan tersebut dapat meniti jalan yang benar untuk
menuju tujuan yang benar pula. Kami akan mempersingkat perbincangan tentang
hal itu, karena sesungguhnya perbaikan secara internal merupakan dasar dan
landasan yang harus kita beri prioritas.
Diriwayatkan oleh Ahmad dari
Anas, 3: 124, 153; Abu Dawud (2504); Nasai, 6: 7; Darimi. 2: 213; Ibn Hibban,
11: 4708; Hakim, 2: 81; dan di-shahih-kan olehnya sesuai dengan syarat yang
ditetapkan oleh Muslim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
Tidak diragukan
lagi bahwa kita sekarang ini menghadapi berbagai arus pemikiran yang tidak
benar:
a. Arus Pemikiran
Khurafat:
1. Khurafat dalam aqidah;
2. bid'ah dalam
ibadah;
3. Pemikiran yang stagnan;
4. Taqlid dalam fiqh;
5. Perilaku
yang negatif; dan
6. Permainan yang tidak benar dalam politik.
b. Arus Pemikiran
Literal
Yakni arus pemikiran yang literal. Arus
pemikiran ini, walaupun keras dalam perkara agama dan pembelaannya, memiliki
sifat-sifat yang menjadi ciri khas penganutnya; seperti:
1.
Kontroversialisme dalam Aqidah;
2. Formalisme dalam ibadah;
3. Zahiriyah
dalam fiqh;
4. Parsialisme dalam memberikan perhatian;
5. Kering dalam
ruh;
6. Kasar dalam melakukan da'wah; dan
7. Menyempitkan diri dalam
perselisihan pendapat.c. Arus
Pemikiran yang Reaktif dan Keras
Ada lagi aliran yang
menolak masyarakat dengan semua institusinya. Walaupun pengikut aliran
ini memiliki kelebihan dalam hal semangat dan keikhlasannya, tetapi ada
sifat-sifat lain yang dimiliki olehnya; antara lain:
1. Keras dan kaku
dalam menjalankan ajaran agama;
2. Membanggakan diri sehingga merasa superior
dan melecehkan masyarakat;
3. Memiliki wawasan yang sempit dalam memahami
agama, kenyataan hidup, suMah kauniyah, dan sunnah
kemasyarakatan;
4. Tergesa-gesa mengambil tindakan
sebelum waktunya;
5. Cepat mengkafirkan dan tidak hati-hati;
6.
Mempergunakan kekuatan untuk mewujudkan cita-citanya; dan
7. Berprasangka
buruk kepada selain kelompoknya.
d.
Arus pemikiran yang moderat
Akan tetapi, ada pula arus
pemikiran yang moderat, yang didasarkan pada keseimbangan dalam memahami
agama, kehidupan, dan perjuangan untuk memenangkan agama. Arus pemikiran ini
juga memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari arus pemikiran
lainnya; antara lain penekanannya terhadap prinsip-prinsip berikut
ini:
1. Memahami ajaran agama dengan pemahaman yang menyeluruh,
seimbang, dan mendalam;
2. Memahami kehidupan nyata tanpa meremehkan atau
takut kepadanya. Yaitu kehidupan nyata kaum Muslimin
dan
kehidupan nyata musuh-musuh mereka;
3. Memahami sunnatullah dan
hukum-hukum-Nya yang tetap dan tidak berubah-ubah, khususnya hukum
yang
berkaitan
dengan masyarakat manusia;
4. Memahami tujuan syariah, dengan amalan
lahiriah yang tidak stagnan;
5. Memahami masalah prioritas, yang berkaitan
dengan fiqh pertimbangan;
6. Memahami perselisihan pendapat dan tata
caranya, serta menghadapinya dengan sifat yang diajarkan oleh
Islam
(bekerja sama dalam masalah yang disepakati dan memberikan toleransi kepada
orang yang berselisih
pendapat
dengannya);
7. Mempertimbangkan antara perkara-perkara syariah yang tetap
dengan perubahan zaman;
8. Menggabungkan antara pendapat salaf dan khalaf
(antara pendapat yang orsinil dan pendapat yang modern);
9. Percaya kepada
adanya perubahan pemikiran, kejiwaan dan perilaku yang didasarkan kepada
perubahan
budaya
manusia;
10.Mengemukakan Islam sebagai proyek peradaban yang sempurna, untuk
membangkitkan umat dan
menyelamatkan manusia dari filsafat materialisme modern;
11.Mengambil jalan
yang paling mudah dalam memberikan fatwa dan memberikan kabar gembira
dalam
melakukan
da'wah;
12.Memunculkan nilai-nilai sosial dan politik dalam Islam, seperti:
kebebasan, kehormatan, musyawarah, keadilan
sosial, dan
menghormati hak asasi manusia;
13.Mau berdialog dengan orang lain dengan cara
yang baik, yaitu dengan para penentang dari orang-orang bukan
Islam,
atau orang Islam yang inferior secara pemikiran dan keruhanian;
dan
14.Mempergunakan jihad sebagai jalan untuk mempertahankan kehormatan kaum
Muslimin dan negeri mereka.

Itulah arus pemikiran yang harus kita percayai
dan kita anjurkan, serta kita anggap sebagai ungkapan hakiki tentang Islam,
sebagaimana diturunkan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya, dan yang ditunjukkan
oleh Rasulullah saw dalam sunnah dan sirah-nya; serta seperti apa yang
dipahami dan diterapkan oleh para sahabat dan khulafa' rasyidin serta yang
dipahami oleh para tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik; sehingga
mereka menjadi abad yang terbaik dalam perjalanan hidup umat ini.
TUGAS PENTING ARUS PEMIKIRAN
MODERAT
Tidak diragukan lagi bahwa arus pemikiran di atas
menjadi tumpuan harapan bagi hari esok dan masa depan umat. Kita harus berusaha
keras untuk menganjurkan orang berpikiran seperti itu; mendidik para
pendukungnya; memberikan jawaban yang memuaskan terhadap musuhnya;
melakukan dialog dengan para penentangnya.
Di antara perkara yang
kita ketahui bersama sekarang ini dengan bukti-bukti yang cukup memadai
ialah bahwasanya kekuatan-kekuatan yang menentang --baik yang ada di dalam
dan di luar-- lebih takut terhadap arus pemikiran seperti ini daripada
yang lainnya. Bahkan kekuatan itu cenderung lebih membenci dan memusuhinya
daripada arus-arus pemikiran lainnya.
Dahulu musuh-musuh Islam
mewaspadai arus pemikiran yang keras dan kaku, namun kini telah muncul
ancaman baru, sehingga mereka berkata, "Hati-hati terhadap Islam yang
moderat. Ia lebih berbahaya daripada yang lainnya. Arus-arus pemikiran yang
lain umurnya pendek dan tidak dapat hidup lama. Adapun arus pemikiran
Islam yang moderat ini terus-menerus berlangsung dalam tempo yang cukup
lama. Kemoderatan arus ini --menurut dugaan mereka-- tidak dapat dianggap
aman. Ia mulai bergerak dengan moderat tetapi kemudian berkembang menjadi
ekstrem, karena sesungguhnya ekstremitas tetap tersimpan dalam Islam,
sebagaimana yang mereka katakan.
Dari sini musuh-musuh Islam
mengkhawatirkan bahaya Islam yang terus merangkak menuju mereka, yang
mereka namakan sebagai 'bahaya hijau,' sekaligus mereka jadikan sebagai musuh
baru, sebagai ganti 'bahaya merah' yang telah lenyap bersamaan dengan
lenyapnya komunisme dari daratan Eropa. Akan tetapi musuh-musuh Islam yang
betul-betul sadar, percaya bahwa bahaya Islam hanyalah khayalan belaka dan bukan
kenyataan.
Arus pemikiran yang moderat ini mesti menghadapi orang-orang
seperti itu dan menyingkapkan kepalsuan mereka, serta mau melakukan dialog
dengan orang-orang yang moderat dari kalangan mereka.
Di samping itu,
arus pemikiran ini selayaknya juga menghadapi anak-anak mereka sendiri dan para
mahasiswa yang ada di dalam negeri Islam, dan juga orang-orang yang mengaku
sebagai orang Islam tetapi mereka memusuhi proyek peradaban Islam dengan
seluruh kekuatan yang mereka miliki. Mereka berdiri pada barisan musuh
umat dan agamanya. Mereka adalah orang yang disifatkan oleh Rasulullah
saw yang mulia dalam hadits Hudzaifah yang disepakati ke-shahih-annya bahwa
mereka adalah:
"Para penganjur kepada pintu-pintu neraka Jahanam.
Barangsiapa menyambut ajakan mereka, mereka akan dilemparkan ke dalamnya."
Kemudian para sahabat berkata, "Tunjukkan sifat-sifat mereka kepada kanu wahai
Rasulullah." Beliau kemudian bersabda, "Mereka berkulit seperti kita, dan
berbicara dengan bahasa kita."
Oleh sebab itu, adalah
penting bagi kita untuk memerangi orang- orang yang merusak pemikiran
umat, menyesatkan mereka dari hakikat dan identitas yang asli (fitrah Islam).
Mereka meletakkan racun berbisa dalam madu yang manis, dan dalam lemak yang
lezat; berupa bahan bacaan (majalah, tabloid dsb.), atau audio-visual (berupa
musik dan tontonan-tontonan yang menjijikkan). Media-media seperti itu
menghancurkan moral anak-anak kita, sebagaimana penyakit AIDS yang begitu
dahsyat membunuh manusia.
Sesungguhnya saudara-saudara kita
yang ter-Barat-kan (Westernized) membawa pemikiran para penjajah, setelah
para penjajah itu sendiri mencabut tongkatnya dan meninggalkan tanah air
kita. Merekalah yang membawa kembali konsep-konsep Orientalis dan Salibis, yang
kebanyakan tidak bekerja dengan tulus untuk kemajuan peradaban kita pada
hari ini. Kalaupun ada yang betul-betul tulus hatinya, mereka tidak
mempunyai perangkat yang baik untuk memahami peradaban kita,
sumber-sumber dan warisan yang diberikan olehnya. perangkat yang paling
penting adalah bahasa dan cita rasa terhadap bahasa
tersebut.
Pertarungan kita yang hakiki adalah pertarungan kita melawan
"para ekstrimis" yang sebenarnya. Mereka terdiri atas para pengikut
sekularisme dan sisa-sisa Marxisme. Pada hari ini mereka menggunakan baju
liberalisme Barat, yang mempertajam senjata pena mereka untuk memerangi
Kebangkitan Islam, dan kebangkitan barunya; mengacaukan da'wahnya;
menghalangi para dainya; dan menciptakan istilah-istilah baru untuk menjauhkan
umat dari agamanya (Islam); seperti: Islam politik, atau
fundamentalisme. Mereka jugamenciptakan perpecahan dan pertempuran
berdarah antara rakyat dan pemerintahan Islam yang sedang berkuasa, untuk
melemahkan kekuatan negara. Pertempuran itu tidak pernah berhenti, karena
bila satu pertempuran selesai, maka muncul pertempuran lainnya dengan
bentuk yang baru dan lebih dahsyat.
Sesungguhnya usaha untuk
mengalihkan pertarungan dari jalur itu, dan upaya untuk menciptakan
musuh-musuh yang berasal dari kalangan aktivis Islam itu sendiri, yang
berselisih pendapat dengan sebagian orang dalam masalah-masalah cabang di
dalam fiqh, ataupun cabang di dalam aqidah, ataupun dalam memberikan prioritas
amalan, atau dalam masalah-masalah kecil lainnya, merupakan satu kelalaian
besar akan hakikat musuh yang mengintai dari semua arah. Musuh-musuh ini
menginginkan agar umat Islam saling membunuh antara satu bagian dengan bagian
yang lainnya. Mereka hanya ingin menonton pertarungan itu dari jauh, kemudian di
akhir pertarungan mereka memberikan pukulan yang mematikan terhadap semua
kelompok yang sedang bertarung itu. Kalau ada di antara para da'i Muslim yang
melakukan hal itu, maka ini adalah musibah yang sangat besar. Karena
sesungguhnya ketidaktahuan terhadap masalah seperti itu dianggap sangat
membahayakan. Dan siapa yang melakukannya padahal dia mengetahui masalah
yang sebenarnya, sungguh merupakan musibah yang lebih besar, yang sudah
barang tentu bahayanya juga jauh lebih besar. Sebab, ia dapat dianggap
sebagai satu bentuk pengkhianatan terhadap Islam, umat, dan
kebangkitan.
Salah seorang penyair berkata,
"Kalau kamu tidak
mengetahui bahwa kamu sedang diadu domba maka itu adalah suatu musibah. Tetapi
bila kamu mengetahuinya, maka musibahnya lebih dahsyat. "
Saya yakin
bahwa arus pemikiran moderat ini mempunyai tugas besar yang harus
diusahakan dengan serius. Tugas itu mesti dilakukan dengan kejujuran dan
keikhlasan untuk menyatukan barisan kaum Muslimin --barisan orang-orang yang
bekerja untuk Islam-- di atas landasan yang tidak mengandung pertentangan,
atau di atas dasar rukun aqidah yang enam: iman kepada Allah, malaikatNya,
kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdirnya. Selain
didasarkan kepada rukun amalan yang lima: dua kalimah syahadat, mendirikan
salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Rumah Allah.
Serta didasarkan kepada dasar-dasar sifat dan perilaku yang baik, serta
menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan yang diharamkan, khususnya dosa-dosa
besar.Sebenarnya kita dapat melakukan pertemuan yang didasarkan
kepada landasan-landasan utama tersebut, dan tidak mengapa bagi kita untuk
berselisih pendapat dalam masalah-masalah juz'iyyat dan kecil. Kita
boleh berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu'iyah, berbeda
pendirian, dan berbeda pendapat dalam mengambil kesimpulan hukum melalui
ijtihad. Perbedaan seperti itu diperlukan dalam menjalankan agama, dan sudah
menjadi tabiat manusia biasa, serta sifat alam semesta dan kehidupan ini,
sebagaimana yang telah saya paparkan secara terperinci dalam buku saya,
al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-lkhtilaf al-Masyru' wa al-Tafarruq
al-Madzmum.
Saya telah menyebutkan pada berbagai buku yang saya
tulis bahwasanya boleh saja jumlah jamaah para aktivis Islam menjadi banyak,
asal jumlah yang banyak itu mempunyai spesialisasi masing-masing, dan
bukan jumlah yang banyak tetapi saling bertentangan dan bermusuhan
satu sama lain. Karena sesungguhnya pertentangan dan permusuhan akan
menyebabkan kehancuran.
Kita harus berusaha dengan gigih untuk menyatukan
para aktivis yang berkhidmat untuk Islam, menyokong da'wahnya, menegakkan
syariahnya, dan menyatukan umatnya. Usaha gigih dalam bentuk pemikiran dan
tindakan praktis untuk mendekatkan jurang pemisah, menanamkan kepercayaan,
menanamkan suasana toleran dan prasangka baik, menjernihkan jiwa dari
perasaan ujub, tertipu, dan menuduh serta menghina orang lain.
"Seseorang
telah dianggap berbuat jahatr apabila dia telah melakuan penghinaan terhadap
saudaranya yang Muslim."
Menurut pandangan saya,
pekerjaan tersebut tergolong prioritas yang sangat penting dan harus
didahulukan di lapangan Islam pada hari ini. Jika para aktivis Islam tidak
menyadari adanya perpecahan yang sedang mereka jalani, maka seluruh umat Islam
akan dilindas. Mereka akan dimangsa oleh taring dan kuku tajam musuh Islam dan
umat Islam. Arus pemikiran akan dimatikan demi arus pemikiran yang lain. Satu
kelompok akan dibunuh menyusul kelompok yang lain sampai semuanya dapat
dimusnahkan.
Apabila kita pada hari ini memiliki kekuatan untuk
menyatukan berbagai kekuatan umat kita yang besar, dari satu benua ke benua
yang lain, maka hendaknya kita berjerih payah --paling tidak-- untuk menyatukan
kekuatan besar yang terpisah-pisah itu agar dapat menyongsong Kebangkitan
Islam. Kebangkitan yang dapat diajak untuk berdialog dan saling memahami, yaitu
dengan menghilangkan ganjalan-ganjalan dan ektremisme, mendekatkan
konsep-konsep berlainan, mengatur langkah, menghadapi berbagai masalah
perjalanan hidup umat dalam satu barisan, bekerja sama, dan memberikan
toleransi pada perbedaan pendapat. Usaha saling memahami, bekerja sama
dan menyatukan pandangan merupakan satu kewajiban agama, dan keperluan
hidup yang sangat mendesak. Jika kita tidak dapat disatukan oleh satu
pemikiran, maka hendaknya kita dapat disatukan oleh pelbagai bencana yang
mengancam kita; sebagaimana dikatakan oleh Syauqi,
"Kalau jenis diri
kita ini wahai Ibn Talh memisahkan kita, maka sesungguhnya pelbagai musibah yang
mengancam seharusnya dapat menyatukan barisan kita."
PENERAPAN HUKUM SYARIAH ATAUKAH PEMBINAAN DAN
INFORMASI
Terjadi suatu perdebatan di sini bahwasanya
kebanyakan orang-orang yang bekerja di lapangan Islam --khususnya
orang-orang yang sangat ambisius- memberikan perhatian yang sangat besar
kepada persoalan yang mereka sebut "penerapan syariah Islam". Mereka hanya
memberikan perhatian kepada satu segi saja, yaitu penerapan hukum Islam,
terutama hukum hudud, qishas, dan ta'zir.
Sesungguhnya tidak dapat
dipungkiri lagi bahwa pekerjaan tersebut merupakan salah satu bagian dari
Islam, yang tidak boleh kita lalaikan, atau kita berpaling darinya.
Akan
tetapi kalau kita sangat berlebihan memberikan perhatian kepadanya dan
membicarakannya, serta menganggapnya sebagai masalah yang utama dan puncak
tujuan kita, maka sesungguhnya hal ini akan membawa kesan yang buruk
terhadap pemikiran Islam, dan amal Islami, atau kesan yang tidak baik
dalam pemikiran masyarakat awam. Keadaan seperti ini dapat
dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, yang dapat membahayakan syariah dan
da'wahnya. Saya selalu mengatakan, "Sesungguhnya hukum-hukum saja tidak akan
dapat menciptakan masyarakat, dan tidak dapat membangun umat. Sesungguhnya
yang dapat membentuk masyarakat dan membangun umat adalah pendidikan
dan pengajaran, kemudian hukum-hukum tersebut memberikan perlindungan
dan perisai kepadanya."
Oleh sebab itu, kita mesti memberikan
perhatian terhadap persoalan yang hakiki ini dari segi pemikiran dan
tindakan. Kita harus membuat rencana pengembangan dan rancangan yang sesuai
untuk mempersiapkan "Pendidikan Islam yang Sempurna dan Modern" yang terus
mengikuti perkembangan anak-anak Muslim sejak dari buaian, hingga mereka
keluar dari universitas, dengan mempergunakan metode yang sesuai, sistem yang
menarik, sarana audio visual, teknnologi canggih, yang dapat mewujudkan
pentingnya agama bagi kehidupan, dan menegaskan kesempurnaan Islam, keadilan
hukum-hukumnya, kemukjizatan kitab sucinya, keagungan Rasul, keseimbangan
peradaban, dan kekekalan umatnya.
Pendidikan itu tidak harus
dilakukan dalam pelajaran agama atau pendidikan Islam saja. Tetapi
dimasukkan dalam setiap mata pelajaran, bahan-bahan kajian ilmiah dan
sastra. Pendidikan itu dimasukkan dalam mata pelajaran dan ilmu-ilmu sosial,
bahasa dan sastra, dan juga dimasukkan dalam kegiatan-kegiatan
sekolah. Suasana di sekolah, tempat belajar harus diusahakan yang Islami agar
dapat membantu menumbuhkan generasi Muslim yang percaya kepada Allah,
bangga terhadap agama dan umatnya. Generasi yang tumbuh dengan sempurna dengan
ruh, akal, tubuh dan perasaannya, ikhlas kepada tuhannya, berkhidmat kepada
negaranya, toleran terhadap orang lain, dan melakukan kebaikan untuk seluruh
umat manusia.
Kita harus menghadapi pemikiran fiIsafat,
metodologi materialisme dan komunisme, yang kosong dari ruh agama, dan
bertolak belakang dengan filsafat Islam tentang pandangannya terhadap Allah
dan manusia, serta tentang hidup dan alam semesta, dan tentang agama serta
dunia.
Di samping itu kita juga mesti membuat penelitian dan
pengembangan dalam bidang lainnya, misalnya dalam bidang informasi dan
kebudayaan, yang memiliki pengaruh dan kesan yang luar biasa terhadap
kehidupan individu dan masyarakat. Perangkat informasi yang membentuk
pemikiran, kecenderungan, perasaan, trend pemikiran dan jiwa
manusia.
Dalam keadaan apapun, bidang inforrnasi ini tidak boleh kita
berikan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Islam, sebagai rujukan
yang paling tinggi dalam kehidupan kaum Muslimin dan jamaah Muslim,
dalam bergaul, berpikir dan berperilaku.
Ada dua titik tolak yang
saling menyempurnakan dalam tindakan yang dapat kita lakukan.
Pertama,
mempersiapkan ahli informasi Muslim dalam semua bidang kehidupan, pada
semua peringkatnya, yang mampu menampilkan bahwa Islam mempunyai
berbagai kemampuan yang besar untuk setiap zaman.
Termasuk dalam
kelompok ini adalah para seniman dari berbagai bidang; seniman dalam bidang
nasyid, drama, dan lakon.
Atas dasar itu, kita memerlukan orang
yang dapat menulis skenario, sutradara (pengarah), artis, juru kamera, dan
juga eksekutifnya.
Perkara ini tidaklah mudah, karena
berkaitan dengan hukum-hukum agama dan non-agama. Kita harus membuat target
tertentu, prasarana yang jelas, pentahapan yang jelas, agar tidak mengalami
kekurangan, dan pembinaan manusia dapat dilakukan dengan sempurna.
Kedua, kita berusaha mempengaruhi para ahli informasi
dan seniman di masa kini. Karena sesungguhnya di antara mereka ada orang-orang
Islam yang salat dan mau berpuasa, tetapi mereka --karena latar belakang
pendidikan dan budayanya-- menyangka bahwa apa yang mereka lakukan tidak
bertentangan dengan Islam, dan tidak mendatangkan kemurkaan Allah. Bahkan
sebagian dari mereka ada yang telah mengetahuinya, akan tetapi mereka
terpengaruh dengan gaya hidup orang di sekitarnya dan kebiasaan
hidupnya sehari-hari.
Kita harus berusaha dengan keras untuk meraih
mereka, sehingga mereka memahami ajaran agama mereka dan bertobat kepada Thhan,
dan akhirnya mereka bergabung dengan kafilah dai islam dan sifat-sifat
utamanya.
Pada tahun-tahun terakhir ini saya telah menyaksikan beberapa
orang seniman dan artis yang bertobat, dan para bintang film wanita. Akan
tetapi kebanyakan mereka telah menjauhkan diri dari seni dan para seniman,
untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka lari membawa
agamanya.
Sebetulnya, ada tindakan yang lebih baik yang dapat mereka
lakukan. Ialah tetap berada dalam bidang sulit itu, dan mempergunakan
perkataan Umar bin Khattab setelah dia masuk Islam sebagai pedoman
mereka:
"Demi Allah, tidak ada suatu tempat yang dahulu saya pergunakan
untuk menyebarkan kejahiliyahan kecuali tempat itu harus sayapergunakan juga
untuk menyebarkan Islam."
Tindakan seperti ini tidak dapat dilakukan
kecuali dengan melakukan kerja sama berbagai pihak, dan menyingkirkan
kerikil-berikil tajam di jalanan.