Showing posts with label rumah tangga. Show all posts
Showing posts with label rumah tangga. Show all posts

Tuesday, 1 September 2015

Anak dan Masa Depan Umat

Anak dan Masa Depan Umat


Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan amat lengket di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.
Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak lalu kemudian kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan bagaikan binatang, maka akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian mana yang lebih besar yang akan dipikul kedua orangtua dan umat umumnya apabila meremehkan pendidikan anak-anaknya. Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, "Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya." Maka Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan kita dengan firmanNya, "Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS At Tahrim: 6). Berkata Amirul Mukminin Ali radhiyallahu 'anhu, "Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah mereka." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab, dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dipinta pertanggungjawabannya." (HR Bukhori dan Muslim dari sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu 'anhu). Dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala akan mempertanyakan pada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya? Hingga seseorang akan bertanya kepada keluarganya." (HR Ibnu Hibban, Ibnu Ady dalam Al Kamil, dan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah dan dishohihkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath 13/113). Demikian pula dalam Shohih Bukhori dan Muslim, Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu." Sikap adil dan kasih sayang terhadap anak adalah dengan mengajari mereka kebaikan, para orangtua menjadikan dirinya sebagai madrasah bagi mereka.
Keluarga, terlebih khusus kedua orangtua dan siapa saja yang menduduki kedudukan mereka adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh penting dalam membangun sebuah lingkungan yang mempengaruhi kepribadian sang anak dan menanamkan tekad yang kuat dalam hatinya sejak usia dini. Seperti Zubair bin Awam misalnya. Ia adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khattab, "Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki." Ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya Shofiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rosulullah dan saudara perempuannya Hamzah. Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda sosok teladan bagi para pemuda seusianya di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khodijah binti Khuwailid. Begitu pula dengan Abdullah bin Ja'far, seorang bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti Umais. Orangtua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Ia menjawab, "Aku ingat mati." - waktu itu ia telah menghafal Al Qur'an - ibunya pun menangis mendengar penuturannya. Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang sholihah Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, "Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku." Subhanallah! Anak-anak kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang super arif dan bijaksana.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- lihatlah bagaimana para pendahulu kita yang sholih, mereka mengerahkan segala usaha dan waktunya dalam rangka mentarbiyah anak-anaknya yang kelak menjadi penentu baik buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di antara kita berprasangka mencontoh para pendahulu yang sholih adalah berarti kembali ke belakang, kembali ke zaman baheula (istilah orang Sunda). Di saat orang-orang berlomba-lomba meraih gengsi modernisasi, ketahuilah bahwa mencontoh sebaik-baik umat yang dikeluarkan ke tengah-tengah manusia adalah berarti satu kemajuan yang pesat, teknologi canggih dalam membangun aqidah yang benar, memperbaiki moral yang bejat serta membendung semaraknya free children, sehingga menghantarkan kepada apa yang telah diraih oleh generasi yang mulia yang tiada tandingannya. Meniti jalannya mereka dalam rangka mentarbiyah / mendidik anak berarti tengah mempersiapkan konsep perbaikan umat di masa yang akan datang, dimana tidak akan pernah menjadi baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan baik generasi umat pertama. Allah berfirman, "Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu, maka apakah kamu tiada memahaminya." (QS Al Anbiyaa: 10).
Perhatian serius dan tarbiyah yang benar kini sangatlah dibutuhkan di zaman yang dipenuhi berbagai fitnah, fitnah syahwat dan syubhat yang terus memburu anak-anak kita dari segala arah dihembuskan oleh da'i-da'i sesat yang berada di pintu-pintu neraka jahanam. Allah berfirman, "... sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)." (QS An Nisaa: 27). Benarlah apa yang dikatakan dalam sebuah syair:
Siapa menggembala kambing di tempat rawan binatang buas
Kemudian lalai darinya, singa akan merebut gembalaannya.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Islam sebagai agama yang universal tentu tidaklah mengesampingkan tarbiyah anak, bahkan tarbiyah anak adalah sorotan utama dalam Islam sebab Islam adalah agama tarbiyah. Dengan posisi tarbiyah anak yang demikian pentingnya, maka Allah subhanahu wa ta'ala mengabadikan wasiat Luqman, seorang hamba yang sholih, kepada anaknya sebagai acuan bagi para murobbi / pendidik, begitu pula dengan sosok pribadi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai seorang rosul sekaligus menjadi imam para murobbi dunia. Perhatian dan kecintaannya terhadap anak-anak sangatlah tinggi, terlihat saat beliau mengajari Ibnu Abbas di usianya yang muda belia sehingga tampillah Ibnu Abbas menjadi sosok pemuda yang berilmu, bertaqwa, dan memiliki keberanian yang luar biasa. Salah satu bentuk kasih sayangnya terhadap anak, beliau selalu mencium anak-anak bila berjumpa, sebagaimana dalam Shohih Bukhori dari sahabat Abu Hurairoh, ia berkata, "Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Hasan ...", juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shohihnya dari sahabat Aisyah radliyallahu 'anha berkata, "Seorang badui datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: Kalian selalu menciumi anak-anak, sedangkan kami tidak pernah menciuminya." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Kami menginginkan agar Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.", tidak ada bahan pengajaran yang paling baik dan sempurna kecuali yang bersumber dari kitab dan sunnah, karena disitulah adanya ilmu yang mencakup segala bidang, seperti ungkapan Imam Syafi'i:
Ilmu itu adalah ucapan Allah dan ucapan rosulNya
Sedang selain dari itu adalah bisikan-bisikan syaithon.
Alangkah baik bila penulis uraikan beberapa langkah dasar dalam mendidik anak yang disarikan dari Al Kitab dan Sunnah.
Pertama: mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal beribadah kepadaNya, menjadikannya lebih mencintai Allah daripada selainNya, tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Ini pendidikan yang paling urgen di atas hal-hal penting lainnya.
Kedua: mengajari mereka sholat dan membiasakannya berjama'ah.
Ketiga: mengajari mereka agar pandai bersyukur kepada Allah, kepada kedua orangtua, dan kepada orang lain.
Keempat: mendidik mereka agar taat kepada kedua orangtua dalam hal yang bukan maksiat, setelah ketaatan kepada Allah dan rosulNya yang mutlak.
Kelima: menumbuhkan pada diri mereka sikap muroqobah merasa selalu diawasi Allah. Tidak meremehkan kemaksiatan sekecil apapun dan tidak merendahkan kebaikan walau sedikit.
Keenam: memberitahu mereka akan wajibnya mengikuti sabilul mukminin al muwahhidin (jalannya mukminin yang bertauhid), salafush sholih generasi terbaik umat ini, dan memberikan loyalitas kepada mereka.
Ketujuh: mengarahkan mereka akan pentingnya ilmu Al Kitab dan Sunnah.
Kedelapan: menanamkan pada jiwa mereka sikap tawadlu, rendah hati, dan rujulah serta syaja'ah (kejantanan dan keberanian). Dan masih banyak lagi selain apa yang penulis uraikan di sini. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita anak-anak yang sholih. Amin ya Mujiibas sailiin. Allah berfirman, "Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS Al Furqoon: 74).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- begitulah memang seharusnya pendidikan anak ini menjadi kewajiban nomor satu bagi para orangtua, menelantarkannya berarti menelantarkan amanat dan kepercayaan Allah, membiarkannya adalah berarti membiarkan kehancuran anak, orangtuanya, umat, bangsa, dan negara. Sedangkan mendidiknya adalah cahaya masa depan umat yang cerah yang berarti juga mengangkat derajat sang anak dan derajat kedua orangtuanya di surga. Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Akan diangkat derajat seorang hamba yang sholih di surga. Lalu ia akan bertanya-tanya: Wahai Rabb apa yang membuatku begini?" Kemudian dikatakan padanya, "Permohonan ampun anakmu untukmu." (HR Ahmad dari sahabat Abu Hurairoh). Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS Ath Thuur: 21). Allah-lah yang memberi taufiq kepada apa yang dicintaiNya dan diridloiNya.
Walhamdulillahi robbil 'alamin. Wal Ilmu indallah.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.


Berbicara saat Khotib Jum'at Berdo'a


Sebagian para fuqoha (ahli fiqh) -semoga Allah merahmati mereka- mengatakan, "Apabila imam -yakni khotib- memulai berdoa saat khutbah maka diperbolehkan berbicara, sebab do'a bukanlah termasuk ke dalam rukun khutbah, sedangkan berbicara pada selain rukun-rukun khutbah diperbolehkan." Tetapi ini pendapat yang lemah, karena sesungguhnya selama do'a tersambung dengan khutbah maka ia bagian khutbah itu sendiri. Telah ada dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman pada setiap Jum'at saat berkhutbah.
Maka yang benar adalah selama khotib / imam berkhutbah baik itu saat berkaitan dengan rukun-rukun khutbah atau setelahnya, berbicara saat itu hukumnya haram.
(Lihat Syarhul Mumthi alaa Zadil Mustaqna' 5 / 143-144).

Wednesday, 12 August 2015

URGENSI SEORANG PENDIDIK DALAM PERKEMBANGAN ANAK

URGENSI SEORANG PENDIDIK
DALAM PERKEMBANGAN ANAK
 
Posisi para pendidik adalah posisi yang sangat vital, amalan yang ia kerjakan untuk mendidik generasi Islam merupakan amal yang sangat mulia apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan ikhlas karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa semata. Pada pendidik adalah orang-orang yang mengarahkan generasi muda Islam sehingga menjadi pembawa dan penegak bendera Al-Kitab dan Sunnah di atas muka bumi. Mereka adalah para guru, para ustadz, para pembimbing dan pelatih, juga termasuk di dalamnya ayah dan ibu.


PENDAHULUAN
Baik dan buruknya masyarakat tergantung kepada mereka, apabila mereka menunaikan tugasnya dengan baik di dalam pendidikan, ikhlas di dalam amalnya dan mengarahkan anak didik dengan dien, akhlaq dan pendidikan yang baik, maka akan berbahagialah para anak didik dan para pendidik di dunia dan akhirat. Sebagimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anak pamannya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seseorang melaluimu, maka yang demikian lebih baik bagimu daripada onta merah.” (Muttafaqqun ‘Alaih).

Juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pengajar kebaikan, dia akan dimintakan ampun oleh segala sesuatu –yang ada di muka bumi- sampaipun ikan-ikan di lautan.” (HR. Thabrani dan lainnya).

Apabila seorang pendidik lalai dari kewajibannya, bahkan mengarahkan para anak didik kepada penyimpangan dan kebinasaan serta akhlaq yang buruk, maka mereka akan sengsara, termasuk pendidik itu sendiri. Dan tentu saja dosa akan ditanggung olehnya dan dia akan bertanggung jawab di hadapan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Maka seorang pendidik merupakan pemimpin di lingkungan pendidikannya dan dia bertanggung jawab terhadap anak-anak didiknya. Dengan demikian, hendaklah yang harus didahulukan adalah memperbaiki diri pribadi pendidik, sebelum yang lainnya. Sebab, menurut anak-anak didik kebaikan adalah apa yang dikerjakan oleh sang pendidik, dan keburukan adalah apa yang ditinggalkannya. Memang kebaikan pribadi dan akhlaq para pendidik merupakan pendidikan bagi anak-anak didik.

Di antara tujuan pendidikan adalah menyiapkan pribadi dan generasi yang memiliki kepribadian mulia, pribadi yang senantiasa terkait dengan Rabbnya, senantiasa menyandarkan urusan dan aturan hidupnya hanya kepadaNya. Berjuang untuk meluruskan masyarakatnya dan memperbaiki pemahaman-pemahaman mereka di atas dasar-dasar yang benar. Inilah inti dari dunia pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan didasarkan pada pembentukan akhlaq yang mulia dan yang diterapkan dalam hubungan antara anak didik dengan Rabbnya, antara anak didik dengan gurunya, antara anak didik dengan teman-temannya, serta antara anak didik dengan lingkungan pendidikannya dan keluarganya.
Untuk menjadi pendidik yang shalih dan bermanfaat, maka diperlukan beberapa syarat, antara lain:
1.   Mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi orang lain, baik dalam ucapan, amalan maupun perilakunya.
2.    Mampu mengajar dan mendidik dalam waktu yang sama dengan berbekal keilmuan yang cukup.

MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA
Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam bagi pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengan nyata pada kepribadian-nya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah).
Karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini. Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orang tua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:
1.   Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orang tua, terutama ibu.
Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cinta kasih ini, maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang di sekitamya. "Seorang ibu muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak." (Muhammad Quthub, Manhajut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2).
Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.
2.   Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya.
Kami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.
3.    Hendaklah kedua orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.
Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orang tua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. "Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali.  Terkadang  melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.
Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sadar,  atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya." (Muhammad Quthub, Manhajut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2).
4.   Anak dibiasakan  dengan etika umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.
Antara lain:  (Silahkan lihat Ahmad Izzuddin Al Bayanuni, Minhaj At Tarbiyah Ash Shalihah)

  • Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.
  •  Dibiasakan  mendahulukan  bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.
  •  Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan tidur dengan miring ke kanan. 
  •  Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.
  • Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.
  •   Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.
  • Dilarang bermain dengan hidungnya.
  •   Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.
  •   Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.
  • Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.
  •  Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.
  •  Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.
  •  Dibiasakan kebersihan mulut dengan menggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.
  •  Dididik untuk mendahulukan  orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.
  • Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.
  •  Dibiasakan membaca "Alhamdulillah" jika bersin, dan mengatakan "Yarhamukallah" kepada orang yang bersin jika membaca "Alhamdulillah".
  • Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.
  •  Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.
  • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).
  •  Ketika  berjalan  jangan mendahului kedua orang tua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.
  • Dibiasakan berjalan kaki pada trotoar [dengan posisi anak di sebelah kiri], bukan di tengah jalan.
  •  Tidak membuang sampah di jalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.
  •  Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan "Assalamu 'Alaikum" serta membalas salam orang yang mengucapkannya.
  •  Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.
  • Dibiasakan menuruti perintah orang tua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.
  •  Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.
  • Hendaknya kedua orang tua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.
  •  Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.
  •  Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.
  •  Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengam-bil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.

MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA SETELAH ENAM TAHUN PERTAMA
Pada periode ini anak menjadi lebih siap untuk belajar secara teratur. Ia mau menerima pengarahan lebih banyak, dan lebih bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman sepermainannya. Dapat kita katakan, pada periode ini anak lebih mengerti dan lebih semangat untuk belajar dan memperoleh ketrampilan-ketrampilan, karenanya ia bisa diarahkan secara langsung. Oleh sebab itu, masa ini termasuk masa yang paling penting dalam pendidikan dan pengarahan anak.
Kita, Insya Allah, akan membicarakan tentang aspek-aspek terpenting yang perlu diperhatikan oleh para pendidik pada periode ini. Yaitu:
  1.  Pengenalan Allah dengan cara yang sederhana.

Pada periode ini dikenalkan kepada anak tentang Allah 'Azza Wajalla dengan cara yang sesuai dengan pengertian dan tingkat pemikirannya. Diajarkan kepadanya:
  • Bahwa Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya.
  • Bahwa Dia-lah Pencipta segala sesuatu. Pencipta langit, bumi, manusia, hewan, pohon-pohonan, sungai dan lain-lainnya. Pendidik dapat memanfaatkan situasi tertentu untuk bertanya kepada anak, misalnya ketika bejalan-jalan di taman atau padang, tentang siapakah Pencipta air, sungai, bumi, pepohonan dan lain-lainnya, untuk menggugah perhatiannya kepada keagungan Allah.
  •  Cinta kepada Allah, dengan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah untuknya dan untuk keluarganya. Misalnya, anak ditanya: Siapakah yang memberimu pendengaran, penglihatan dan akal? Siapakah yang memberimu kekuatan dan kemampuan untuk bergerak? Siapakah yang memberi rizki dan makanan untukmu dan keluargamu? Demikianlah, ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang nyata dan dianjurkan agar cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat yang banyak ini. Metode ini disebutkan dalam Al Qur'an, dalam banyak ayat Allah menggugah minat para hamba-Nya agar memperhatikan segala nikmat yang dikaruniakan-Nya, seperti firman-Nya:

"Tidakkah kamu perhatian sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempumakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin" (Luqman: 20).
"Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi...." (Fathir :3).
“Dan dengan rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dai karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (Al Qashash : 73).
2.  Pengajaran  sebagian hukum yang jelas dan tentang halal-haram.
Diajarkan kepada anak tentang menutup aurat, berwudhu, hukum-hukum thaharah (bersuci) dan pelaksanaan shalat. Juga dilarang dari hal-hal yang haram, dusta, adu domba, mencuri dan melihat kepada yang diharamkan Allah. Pokoknya, disuruh menetapi syari’at Allah sebagaimana orang dewasa dan dicegah dari apa yang dilarang sebagaimana orang dewasa, sehingga anak akan tumbuh demikian dan menjadi terbiasa. Karena bila semenjak kecil anak dibiasakan dengan sesuatu, maka kalau sudah dewasa akan menjadi kebiasaannya.
Agar diupayakan pula pengajaran ilmu pengetahuan kepada anak, sebagai-mana kata Sufyan Al Tsauri: "Seorang  bapak harus menanamkan ilmu pada anaknya, karena dia penanggung jawabnya." (Muhammad Hasan  Musa, Nuzharul Fudhala' Tahdzib Siar A'lamin Nubala :Juz 1)
3.   Pengajaran baca Al Qur'an.
Al Qur'an adalah jalan lurus yang tak mengandung suatu kebatilan apapun. Maka amat baik jika anak dibiasakan membaca Al Qur’an dengan benar, dan diupayakan semaksimalnya agar menghafal Al Qur'an atau sebagian besar darinya dengan diberi dorongan melalui berbagai cara. Karena itu, kedua orang tua bendaklah berusaha agar putera puterinya masuk pada salah satu sekoiah tahfizh Al Qur'an; kalau tidak bisa, diusahakan masuk pada salah satu halaqah tahfizh. Diriwayatkan Abu Dawud dari Mu'adz bin Anas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:
"Barang siapa membaca Al-quran dan mengamalkan kandungan isinya, niscaya Allah pada hari kiamat mengenakan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Maka apa pendapatmu tentang orang yang mengamalkan hal ini".
Para salaf dahulu pun sangat memperhatikan pendidikan  tahfizh  Al Qur'an bagi anak-anak mereka. Syaikh Yasin bin Yusuf Al Marakisyi menceritakan kepada kita tentang imam An-Nawawi, Rahimahullah, katanya: "Aku melihat beliau ketika masih berumur 10 tahun di Nawa. Para anak kecil tidak mau bermain dengannya dan ia pun berlari dari mereka seraya menangis, kemudian ia membaca Al Qur'an. Maka tertanamlah dalam hatiku rasa cinta kepadanya. Ketika itu bapaknya menugasinya menjaga toko, tetapi ia tidak mau bejualan dan menyibukkan diri dengan Al Qur'an. Maka aku datangi gurunya dan berpesan kepadanya bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang yang paling alim dan zuhud pada zamannya serta bermanfaat bagi umat manusia. Ia pun berkata kepadaku: “Tukang ramalkah Anda? Jawabku: Tidak, tetapi Allah-lah yang membuatku berbicara tentang hal ini.  Bapak guru itu kemudian menceritakan kepada orang tuanya, sehingga memperhatikan beliau dengan sungguh-sungguh sampai dapat khatam Al Qur'an ketika menginjak dewasa."
4.   Pengajaran hak-hak kedua orang tua.
Diajarkan kepada anak untuk bersikap hormat, taat  dan berbuat baik kepada kedua orang tua, sehingga  terdidik dan terbiasa demikian. Anak sering bersikap durhaka dan melanggar hak-hak orang tua disebabkan karena kurangnya perhatian orang tua dalam mendidik anak dan tidak membiasakan-nya berbuat kebaikan sejak usia dini. Firman Allah Ta'ala :
'Dan Tuhanmu  telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Al-Isra': 23-24).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi bersabda:
"Terhinalah, terhinalah, dan terhinalah seseorang yang mendapatkan salah seorang dari kedua orang tuanya atau kedua-duanya berusia lanjut, tetapi tidak dapat masuk surga"
Berikut ini kisah seorang anak muda yang berbuat baik kepada bapaknya, disebutkan dalam kitab 'Uyunul Akhbar : "Al Ma'mun rahimahullah berkata: Belum pernah saya melihat seseorang yang amat berbuat baik kepada bapaknya daripada Al Fadhl bin Yahya. Karena kebaikannya, sampai bapaknya (Yahya) tidak berwudhu kecuali dengan air hangat. Ketika keduanya berada dalam penjara, para sipir melarang memasukkan kayu bakar di malam yang dingin. Maka Al Fadhl, ketika bapaknya tidur, bangun mengambil teko yang biasa dia pergunakan untuk memanaskan air, lalu ia isi air dan ia dekatkan pada api lampu. Ia pun tetap berdiri memegangi teko sampai pagi. Ia lakukan hal ini untuk berbuat baik kepada bapaknya agar dapat berwudhu dengan air hangat."

5.  Pengenalan tokoh-tokoh teladan yang agung dalam Islam.
Tokoh teladan kita yang utama yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, kemudian para sahabat yang mulia Radhiallahu 'Anhum dan pengikut mereka dengan baik yang menjadi contoh terindah dalam segala aspek kehidupan. Maka dikenalkan kepada anak tentang mereka, diajarkan sejarah dan kisah mereka supaya meneladani perbuatan agung mereka dan mencontoh sifat baik mereka seperti keberanian, keprajuritan, kejujuran, kesabaran, kemuliaan, keteguhan pada kebenaran dan sifat-sifat lainnya. Kisah atau kejadian yang diceritakan kepada anak hendaklah sesuai dengan tingkat pengertiannya, tidak membosankan, dan difokuskan pada penampilan serta penjelasan aspek-aspek yang baik saja sehingga mudah diterima oleh anak.
Misalnya, diceritakan kepada anak kisah Rasulullah bersama orang Yahudi yang menuntut kepada beliau agar membayar uang pinjamannya, sebagai contoh akhlaq baik beliau:
Diriwayatkan bahwa ada seorang Yahudi yang meminjamkan uang kepada Rasulullah lalu hendak menagih hutangnya sebelum habis masanya. Maka dicegatnya Rasulullah di tengah jalan kota Madinah seraya berkata: "Sungguh, kalian anak keturunan Abdul Muthalib adalah orang-orang yang suka menangguhkan (bayar hutang)". Umar pun melihat kejadian itu dan amat marah, lalu berkata: "Izinkanlah aku wahai Rasulullah, biar kupenggal lehernya!" Tapi Nabi bersabda: "Aku dan kawanku sangat tidak menginginkan hal itu, wahai Umar. Suruhlah ia berperkara dengan baik dan suruhlah aku menyelesaikan dengan baik." Kemudian beliau berpaling kepada orang Yahudi dan bersabda: "Hai Yahudi, piutangmu akan dibayarkan besok."
Contoh kisah tentang keberanian dan ketabahan, diriwayatkan oleh Mu'adz bin Amr katanya: Pada waktu Perang Badar kujadikan Abu Jahal sebagai sasaranku. Begitu ada kesempatan, aku serang dia dan kupukul sehingga terpotong separuh betis kakinya. Sementara, anaknya Ikrimah  bin Abu Jahal memukulku pada  lengan hingga terputus tanganku tetapi masih menempel dengan kulit pada sisiku. Namun peperangan membuatku tak perduli dengannya, karena aku ketika itu berperang sepanjang hari sambil menyeret tanganku di belakang. Setelah terasa sakit karenanya, kuletakkan kakiku di atasnya lalu kutarik hingga terputus."
6.   Pengajaran etika umum.
Seperti etika mengucapkan salam dan meminta izin, etika berpakaian, makan dan minum, etika berbicara dan bergaul dengan orang lain. Juga diajarkan bagaimana bergaul dengan kedua orang tua, sanak famili yang tua, kolega orang tua, guru-gurunya, kawan-kawannya dan  teman sepermainannya. Diajarkan  pula mengatur kamamya sendiri, menjaga kebersihan rumah, menyusun alat bermain, bagaimana bermain tanpa mengganggu orang lain dan bagaimana bertingkah laku di masjid dan di sekolahan.
Pegajaran berbagai hal di atas dan juga lainnya pertama-tama harus bersumber kepada Sunnah Rasulullah, lalu peri kehidupan para salaf yang shaleh, kemudian  karya tulis para pakar dalam bidang pendidikan dan tata pergaulan.
7.  Pengembangan rasa percaya diri dan tanggung jawab dalam diri anak.
Anak-anak sekarang ini adalah pemimpin hari esok. Karena itu, harus dipersiapkan dan dilatih mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang nantinya akan mereka lakukan.
Hal itu bisa direalisasikan dalam diri anak melalui pembinaan rasa percaya diri, penghargaan jati dirinya, dan diberikan kepada anak kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan apa yang terbetik dalam pikirannya, serta diberikan kepadanya dorongan agar mengerjakan urusannya sendiri, bahkan ditugasi dengan pekerjaan rumah tangga yang sesuai untuknya. Misalnya, disuruh untuk membeli beberapa keperluan rumah dari warung terdekat; anak perempuan diberi tugas mencuci piring dan gelas atau mengasuh adik. Pemberian tugas kepada anak ini bertahap sedikit demi sedikit sehingga mereka terbiasa mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang sesuai bagi mereka.
Termasuk pemberian tanggung jawab kepada anak, ia harus menanggung resiko perbuatan yang dilakukannya. Maka diajarkan kepada anak bahwa ia bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.
Seorang anak jika terdidik untuk percaya diri akan mampu mengemban tanggung jawab yang besar. Sebagaimana putera-putera para sahabat, mereka berusaha sungguh-sungguh agar dapat ikut bersama para mujahidin fi sabilillah; sampai salah seorang di antara mereka ada yang menangis karena Rasulullah belum mengizinkannya ikut berperang bersama pasukan, tetapi karena simpati terhadapnya beliau pun mengizinkannya; dan akhimya ia termasuk salah satu syuhada dalam peperangan itu.
Rasulullah juga pernah mengangkat Usamah bin Zaid sebagai komandan pasukan yang di antara anggotanya terdapat Abu Bakar dan Umar, sekalipun masih muda belia tetapi ia orang yang tepat untuk jabatan itu. Lalu, di manakah anak-anak kita sekarang ini yang mampu menduduki puncak yang tinggi?
MEMPERHATIKAN ANAK PADA MASA REMAJA
Pada masa ini pertumbuhan jasmani anak menjadi cepat, wawasan akalnya bertambah luas, emosinya menjadi kuat dan semakin keras, serta naluri seksualnya pun mulaibangkit. Masa ini merupakan pendahuluan masa baligh. Karena itu, para pendidik perlu memberikan perhatian terhadap masalah-masalah berikut dalam menghadapi remaja:
1.   Hendaknya anak, putera maupun puteri, merasa bahwa dirinya sudah dewasa karena ia sendiri menuntut supaya diperlakukan sebagai orang dewasa, bukan sebagai anak kecil lagi.
2.   Diajarkan kepada anak hukum-hukum akil baligh dan diceritakan kepadanya kisah-kisah yang dapat mengembangkan dalam dirinya sikap takwa dan menjauhkan diri dari hal yang haram.
3.  Diberikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan tugas-tugas rumah tangga, seperti melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa dia sudah besar.
4.  Berupaya  mengawasi  anak dan menyibukkan waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat serta mancarikan teman yang baik.

BEBERAPA KESALAHAN PARA PENDIDIK
Berikut ini sebagian kesalahan yang sering dilakukan oleh para pendidik. Semoga Allah memberikan ma’unah (pertolongan)-Nya kepada kita untuk dapat menjauhinya dan menunjukkan kita kepada kebenaran.
1.   Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan.
Ini  merupakan kesalahan terpenting karena anak belajar dari orang tua beberapa hal. tetapi ternyata bertentangan dengan apa yang telah diajarkannya. Tindakan ini berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak. Allah mencela perbuatan ini dengan firman-Nya:
"Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan" (Ash-Shaff: 2-3).
Bagaimana anak akan belajar kejujuran kalau ia mengetahui orang tuanya berdusta? Bagaimana anak akan belajar sifat amanah sementara ia melihat bapaknya menipu ? Bagaimana anak akan belajar akhlaq baik bila orang sekitamya suka mengejek, berkata jelek dan berakhlaq buruk?
2.   Kedua orang tua tidak sepakat atas cara tertentu dalam pendidikan anak.
Kadang kala seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orang tua, tetapi  akibatnya sang ibu memuji dan mendorong sedang sang  bapak memperingatkan dan mengancam. Anak akhimya menjadi bingung mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Dengan pengertiannya yang masih terbatas, ia belum mampu membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga hal itu akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya. Sementara, kalau kedua orang tua mempunyai cara yang sama dan tidak memujukkan perbedaan ini, niscaya tidak terjadi kerancuan tersebut.
3.  Membiarkan anak jadi korban televisi.
Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak dan media paling berbahaya adalah televisi. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dawasa, terhadap orang-orang berpengetahuan maupun yang terbatas pengetahuannya Plomery, seorang peneliti mengatakan: "Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima tanpa mempertanyakan segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik ... maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu.
Banyak pendidik yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlaq dan fithrah mereka, sampai apa yang dinamakan dengan acara anak-anak punpenuh dengan pemikiran-pemikiran keji yang diperoleh anak melalui acara yang ditayangkan. Banyak film kartun yang berisi kisah cinta dan roman ... sampai diantara anjing atau binatang lainnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana seekor kucing betina dalam acara itu  -  ditampilkan sangat anggun  ...  berdandan dengan bulu mata panjang dan mata yang bercelak indah ... serta buah dada yang montok ... berlenggak lenggok untuk menggaet hati sang kucing jantan."
Penampilan perang tanding untuk wanita, juga mabuk-mabukan merokok, mencuri, melakukan tipu muslihat, berdusta dan sifat-sifat lainnya yang tidak sopan... Tayangan ini semua menyerbu dunia anak dan menodai fithrah yang suci dengan dalih acara anak-anak". Oleh karena itu anak-anak kita harus dilindungi dari perangkat yang merusak ini. Hal ini, tak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika kita ingin menjaga akhlaq putera-puteri  kita dan mempersiapkan mereka untuk mengemban misi agama dan umat.
4.   Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh.
Kesalahan yang amat serius danbanyak tejadi di masyarakat kita adalah fenomena kesibukan ibu dari peran utamanya merawat rumah dan anak-anak dengan hal-hal yang tentunya tak kalah penting dari pendidikan anak. Misalnya, sibuk dengan karir di luar rumah, atau sering mengada-kan kunjungan, menghadiri pertemuan, atau hanya karena malas-malasan dan tidak mau menangani langsung urusan anak. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap kejiwaan anak dan nilai-nilai yang diserapnya. Sebab,  "Anak kecil adalah orang pertama yang dirugikan dengan keluamya ibu dari rumah untuk berkarir. Ia akan kehiLangan kasih sayang, sebab sang ibu membiarkannya dalam perawatan wanita lain seperti pembantu, atau membawanya ke tempat pengasuhan. Dan bagaimanapun, anak akan kehilangan kasih sayang ibu. Ini berbahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya, karena anak berkembang tanpa kasih sayang. jika anak miskin kasih sayang, ia pun akan bertindak keras terhadap para anggota masyarakatnya, akibatnya masyarakat hidup dalam kehancuran, keretakan dan kekerasan. Teryata, orang lain tidak menaruh perhatian untuk membina anak dan mendidiknya berakhlaq mulia sebagaimana yang dilakukan keluarganya. Hal ini mendatangkan malapetaka bagi anak dan masyarakat."
Terkadang pembantunya adalah orang kafir, akibatnya si anak pun terpengaruh dengan aqidah yang menyimpang atau akhlaq yang rusak yang didapatkan darinya. Maka, jika kita terpaksa mengambil pembantu, usahakanlah mendapat pembantu muslimah yang baik dan usahakan tidak bersama anak kecuali sebentar saja dalam keadaan terpaksa.
5.  Pendidik menampakkan kelemahannya dalam mendidik anak.
Ini banyak tejadi pada ibu-ibu dan kadang kala terjadi pada bapak-bapak. Kita dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata: "Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup. Tak tahu, apa yang kuperbuat dengannya. Padahal anak mendengarkan ucapan ini maka ia pun merasa bangga dapat mengganggu ibunya dan membandel karena dapat menunjukkan keberadaannya dengan cara itu. 
6.  Berlebihan dalam memberi hukuman dan balasan.
Hukuman adalah sesuatu yang disyariatkan dan termasuk salah satu sarana pendidikan yang berhasil yang sesekali mungkin diperlukan pendidik.
Namun ada yang sangat berlebihan dalam menggunakan sarana ini, sehingga membuat sarana itu berbahaya dan berakibat yang sebaliknya. Seperti kita mendengar ada orang tua yang menahan anaknya beberapa jam di kamar yang gelap jika melakukan kesalahan; ada juga yang mengikat anaknya jika berbuat sesuatu hal yang mengganggunya.
Hukuman bertingkat-tingkat, mulai dari pandangan yang mempunyai arti hingga hukuman berupa pukulan. Pendidik mungkin perlu menggunakan hukuman yang lebih dari pada sekedar pandangan yang memojokkan atau kata-kata celaan bahkan mungkin terpaksa menggunakan hukuman berupa pukulan; namun ini merupakan penyelesaian akhir, tidak diperlukan kecuali jika tidak ada cara lain.
Ada beberapa kaidah dalam penggunaan hukuman berupa pukulan antara lain:
  • Tidak dipergunakan hukuman ini kecuali jika tidak ada cara lain lagi.
  •  Pendidik tidak boleh memukul ketika dalam keadaan marah sekali, karena dikhawatirkan akan membahaya-kan anak.
  •  Tidak memukul pada bagian-bagian yang menyakitkan, seperti: wajah, kepala dan dada.
  •   Pukulan pada tahap-tahap pertama hukuman tidak keras dan tidak menyakitkan serta tidak boleh lebih dari tiga kali pukulan, kecuali bila terpaksa dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan.
  • Tidak boleh dipukul anak yang berumur di bawah sepuluh tahun.
  • Jika  kesalahan anak baru pertama kali ia diberi kesempatan bertobat dan minta maaf atas perbuatannya. Juga dibuat supaya ada penengah yang kelihatannya mengusahakan pemaafan baginya setelah berjanji tidak mengulangi.
  •  Hendaklah pendidik sendiri yang memukul anak, tidak menyerahkan-nya kepada salah satu saudara atau temannya karena ini dapat menimbulkan kebarian dan kedengkiannya terhadap anak lain yang ikut menghukumnya.
  •  Jika anak  menginjak usia dewasa dan pendidik berpendapat bahwa sepuluh kali pukulan tidak cukup membuat jera anak, maka pendidik boleh menambahnya.

7.  Berusaha mengekang anak secara berlebihan.
Yaitu tidak diberi kesempatan bermain bercanda dan bergerak ini bertentangan dengan tabiat anak dan bisa membahayakan kesehatan-nya, karena permainan penting bagi pertumbuhan anak dengan baik. "Permainan di tempat yang bebas dan luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan jasmani anak dan menjaga kesehatannya•"
Maka orang tua seyogianya tidak mencegah anak-anak yang sedang asyik bermain pasir ketika wisata ke tepi pantai atau di tengah padang pasir. Karena itu merupakan waktu bersenang-senang dan bermain, bukan waktu berdisiplin. Tidak ada waktu kebebasan bergerak bagi anak-anak kecuali dalam kesempatan wisata yang bebas seperti ini. Maka sekali-kali mereka harus dibiarkan.
8.    Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya.
Sayang ini banyak tejadi di kalangan bapak-bapak; padahal ini berpengaruh jelek terhadap masa depan anak dan pandangannya pada kehidupan. Karena anak yang terdidik rendah pribadi dan tidak percaya diri akan tumbuh menjadi penakut lemah dan tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan setelah dawasa. Karena itu, seyogianya kita mempersiapkan anak-anak kita untuk dapat mekksanakan tugas-tugas dien dan dunia. Dan hal ini tidak tercapai kecuali dengan mendidik mereka memiliki rasa percaya dan harga diri namun tidak sombong dan takabur; serta senantiasa mengupayakan agar anak dikenalkan kepada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.

IMBALAN TERHADAP SUATU PRESTASI

Seorang pendidik yang berhasil akan menjauhkan diri dari hukuman tatkala mendapati pada anak didiknya ada kesalahan atau kekeliruan, karena hal itu akan berakibat buruk pada dirinya maupun anak didiknya. Anak didik menjadi tidak menghormatinya atau bahkan membencinya yang dapat mencoreng nama baik dan kedudukannya sebagai pendidik umat. Dia akan melakukannya di saat mendesak dan memang perlu. Kalaupun terpaksa memberikan hukuman, maka seorang pendidik yang baik tidaklah sering menerapkan hukuman secara fisik terhadap anak didiknya.
Maka hendaknya seorang pendidik lebih mengutamakan hadiah dari hukuman, sebab hal itu akan menumbuhkan rasa hormat dan kecintaan anak-anak terhadap pendidiknya. Seorang pendidik juga harus memberikan perhatian kepada anak-anak didiknya, di antara bentuk-bentuk perhatian itu, antara lain:
1. Pujian.
Bagi seorang pendidik hendaknya ia memuji anak didiknya yang menampakkan akhlaq mulia atau kesungguhan dalam belajar. Yang demikian akan memicu semangat belajar mereka dan memberikan pengaruh yang baik, sehingga mereka mencintai pendidik beserta lingkungan pendidikannya. Hal ini juga dapat merangsang anak didik lainnya dalam mengikutinya agar dapat mendapatkan hal serupa dari pendidiknya.
2.  Hadiah.
Tabiat seorang anak biasanya menyukai hadiah berupa barang dan bersemangat untuk mendapatkannya. Oleh sebab itu, seorang pendidik hendaknya memperhatikan kesukaan anak didiknya, sehingga suatu saat dapat menghadiahkan sesuatu (barang) yang benar-benar disukainya.
Seorang anak didik yang memiliki akhlaq mulia atau rajin menunaikan kewajiban kepada Rabbnya, mulai dari shalat, puasa, dan amalan-amalan sunnah, ketika mendapatkan hadiah maka ia akan bertambah semangat dalam amalannya tersebut.
3.  Do’a.
Selain melalui upaya-upaya yang kongkrit, untuk mendukung keberhasilan dalam mendidik juga diperlukan do’a bagi diri pendidik maupun anak didik.
Firman Allah Ta'ala:
"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu …. (Al Mu'min: 60).
" Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku….." (Al-Baqarah : 186).
Doa mempunyai peranan yang penting sekali dalam pendidikan anak, bahkan dalam seluruh urusan kehidupan, dan hanya Allah 'Azza wa Jalla yang memberikan taufik dan hidayah. Seorang muslim mungkin telah berusaha maksimal dalam upaya  mendidik anaknya agar menjadi orang shaleh tetapi tidak berhasil. Sebaliknya, ada anak yang menjadi orang shaleh sekalipun terdidik di tengah lingkungan  yang menyimpang dan jelek; bahkan  mungkin  dibesarkan  tanpa mendapat perhatian  pendidikan dari kedua orang tua. Jadi, petunjuk itu semata-mata dari Allah. Dia-lah yang berfirman:
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…" (Al-Qashash : 56).
Maka kita semua tidak boleh melupakan aspek ini dan wajib memohon dan berdo'a kepada Allah semoga berkenan menjadikan kita dan anak keturunan kita orang-orang yang shaleh, hanya Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
4.   Nasehat.
Seorang pendidik perlu memberikan nasehat kepada anak-anak didiknya dengan nasihat-nasihat yang baik sebagai dorongan atau cambuk bagi mereka agar lebih giat dalam belajar.
5.    Bersahabat dengan mereka.
Hubungan persahabatan yang merupakan salah satu cara untuk membangkitkan semangat belajar bagi anak-anak didik dan menimbulkan rasa cinta mereka kepada pendidiknya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara, misalnya menyertai mereka saat pergi ke masjid, pulang sekolah dan kesempatan lainnya.

“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya, kecuali dari tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shalih yang menco’akannya.”

(HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Rasulullah Memberi Cinta dan Ketegasan kepada Fathimah Az-Zahra

Rasulullah Memberi Cinta dan Ketegasan kepada Fathimah Az-Zahra
(Sunday, 27 July 2003) - Contributed by Ummu Abdurrohman - Last Updated (Sunday, 28 November 2004)
Fathimah Az-Zahra adalah putri keempat dari Muhammad RasuluLlah dan ibunya, Ummahatul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Rasulullah memberikan julukan kepada Fathimah dengan 'az-zahra' (bunga). Dan beliau dikunnyahkan dengan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya), karena kesungguhan, kesabaran, dan keteguhan Fathimah dalam mendampingi sang ayah sebagai pengganti  tugas-tugas ibunya setelah wafat, sedangkan Khadijah adalah seorang ibu yang
paling utama dan istri yang paling mulia. Pun, Fathimah adalah anak yang paling mirip dengan ayahnya, Muhammad Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh, Rasulullah telah menggambarkan kecintaannya kepada putri beliau, Fathimah tatkala beliau berkhutbah di mimbar:''Sesungguhnya Fathimah adalan bagian dagingku, maka barangsiapa yang membuatnya marah, berarti telah menjadikan aku marah''
Dan dalam riwayat lain:''Sesungguhnya, Fathimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku, dan barangsiapa yang mengganggunya, berarti dia mengganggu diriku'' (H.R. Bukhari no 2449)

Karena kecintaan Rasulullah kepada putrinya itu, apabila beliau pulang dari safar, beliau masuk masjid lalu shalat dua rakaat dan mendatangi Fathimah, baru kemudian mendatangi istri-istri beliau. Telah diceritakan oleh Ummul Mukminin (ibunya orang Mukmin karena sebagai istri Rasul, ed), ''Belum pernah aku melihat orang yang paling mirip dengan RasuluLlah dalam berbicara melebihi Fathimah, apabila dia masuk menemui Nabi, maka Nabi berdiri untuk menyambutnya dan
menciumnya, serta melapangnya tempatnya. Begitu pula sebaliknya perlakukan Fathimah terhadap Nabi''(H.R. Abu Dawud dalam 'Al-Adab' no. 5217, At-Tirmidzi dalam 'Al-Manaqib' no. 3871, dan Al-Hakim dalam 'Al-Mustadrak' III/154, dishahihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Sekalipun demikian melimpahnya kecintaan ini, akan tetap Nabi menjelaskan kepada putriya, dan juga kepada yang lain agar senantiasa beramal dan berbekal taqwa. Suatu hari beliau berdiri dan berseru:''Wahai sekalian orang Quraisy, jagalah diri kalian, sesungguhnya aku tidak dapat membantu kalian di sisi ALlah sedikitpun, wahai... wahai... wahai... Fathimah binti Muhammad, mintalah
kepadaku hartaku yang kamu sukai, namun aku tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah sedikitpun''

dalam riwayat lain:''Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari naar (neraka, red), karena sesungguhnya aku tidak kuasa memberikan madharat dan manfaat di sisi Allah'' (H.R. Bukhari VI/16 dan Muslim no 206)
Dari Tsauban berkata:Rasulullah masuk ke rumah Fathimah, sedangkan ketika itu aku bersama beliau. Fathimah mengambil kalung emas dari lehernya, seraya berkata: ''Ini adalah pemberian Abu Hasan kepadaku''. Maka beliau bersabda:''Wahai Fathimah, apakah engkau senang jika orang-orang berkata: 'inilah Fathimah binti Muhammad, sedangkan di tangannya ada kalung dari naar
(neraka, red)?' '' Kemudian beliau memarahi Fathimah dengan keras dan menghardiknya, kemudian
beliau keluar tanpa duduk terlebih dahulu. Maka Fathimah mengambil sikap untuk menjual kalungnya, kemudian hasilnya dibelikan seorang budak wanita, setelah itu dia merdekakan. Tatkala hal ini sampai kepada RasuluLlah, bersabdalah beliau:''Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari naar''

Maka kedudukan yang telah diraih oleh Fathimah di sisi ayahnya RasuluLlah tersebut, tidaklah menghalangi RasuluLlah dalam memarahinya, bahkan mengancamnya bahwa sekali-kali Rasulullah tidak dapat menolong Fathimah dari kehendak Allah. Bahkan beliau juga memberikan ancaman, seandainya dia mencuri, maka akan ditegakkanlah hukum atasnya, yakni hukum potong tangan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang seorang wanita Al-Makhzumiyyah yang mencuri kemudian kaumnya memintakan ampunan agar wanita tersebut bebas melalui Usamah bin Zaid
bin Haritsah, orang yang paling dekat dengan beliau. Beliau pun marah kepda Usamah bin Zaid, karena permintaan tersebut akan mengubah kebijaksanaan pertama dan akan membuka peluang dihilangkannya sanksi, maka Nabi marah kepada Usamah karena Allah, kemudian beliau bersumpah kepada Allah Ta'ala bahwa beliau akan menerapkan hudud(hukum) Allah, sekalipun terhadap
orang yang paling beliau cintai, jika dia terjerumus ke dalam suatu kesalahan yang mengharuskan untuk dihukum; agar bisa dijadikan teladan. RasuluLlah bersabda:''Wahai manusia, sesungguhnya sesatnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan apabila yang mencuri adalah orang-orang yang mulia kedudukannya, maka dibiarkan, akan tetapi manakala yang mencuri adalah orang-orang lemah, maka mereka menegakkan hukum. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.'' (H.R. Bukhari dalam al-Hudud VIII/16 dan Muslim no 1688)

SubhanaLlah...begitu cintanya RasuluLlah kepada Fathimah, dan begitu tegasnya beliau kepadanya.
Diambil dari:Mengenal Shahabiyah Nabi, Pustaka At-Tibyan, Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan

http://www.jilbab.or.id - Jilbab Online - Portal Muslimah Indonesia Powered by Mambo Open Source Generated: 20 June, 2005, 10:43
(H.R. An-Nasa'i VIII/158 dan Al-Hakim III/152-153)



QUR'AN DALAM PENDIDIKAN ANAK


PEDOMAN AL QUR'AN DALAM PENDIDIKAN ANAK
M. Syamsi Ali
               
Menurut Al Qur'an, asal muasal komposisi manusia itu terdiri dari tiga hal yang tidak terpisahkan: 
1. Jasad.
 2. Ruh. 
3. Intelektualitas. Lihat QS. As Sajadah: 7-9.

AL QUR'AN DAN PENDIDIKAN ANAK

Gambaran Ibrahim dan Ya'qub AS di atas mengajarkan betapa besar perhatian mereka terhadap kelestarian kesadaran beragama bagi anak-anak mereka. Sebaliknya, ummat Muslim saat ini seolah-olah telah mengganti ayat "maadza ta'buduuna" (apa yang kamu sembah) dengan kata-kata "maadza ta'kuluuna" (apa yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim sekali. Sehingga sebagai ilustrasi, seringkali jika anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan? Sementara shalatnya tidak terpedulikan sama sekali.

PENDIDIKAN ISLAM SIFATNYA TERPADU

Telah disebutkan terdahulu bahwa Islam memandang pendidikan sebagai sesuatu yang identik dan tidak terpisahkan dari asal muasal penciptaan manusia/ fithrah/ insaniyah manusia itu sendiri, yakni terdiri dari tiga hal: Jasad, Ruh, dan Intelektualitas. Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Islam meliputi tiga aspek yang tidak dapat dipilah-pilah:
 1. Pendidikan jasad (tarbiyah jasadiyah),
2. Pendidikan Ruh (tarbiyah ruhiyah),
3. Pendidikan intelektualitas (tarbiyah 'aqliyah).

Ketiga bentuk pendidikan tersebut tidak mungkin dan tak akan dibenarkan pemilahannya dalam ajaran Islam. Sebabnya , sebagaimana telah dijelaskan, pendidikan berhubungan langsung dengan komposisi penciptaan/kehidupan manusia. Memilah-milah pendidikan manusia, berarti memilah-milah kehidupannya.

Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai ayat, antara lain QS: Luqman: 12 - 19 dan QS: As Shafaat: 102, serta berbagai hadits Rasulullah SAW.

Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan "al hakiim" atau "Luqman yang bijaksana"
Berikut ini adalah dasar-dasar pokok pendidikan anak yang tersimpulkan dari berbagai ayat Al Qur'an dan Sunnah Rasul:

1.       Mananamkan nilai "tauhidullah" dengan benar.
2.       Mengajarkan "ta'at al waalidaen" (mentaati kedua orang tua), dalam batas-batas ketaatan kepada Pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran seseorang kepada Ilahi.
3.       Mengajarkan "husnul mu'asyarah" (pergaulan yang benar) serta dibangun di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, sehingga pergaulan tersebut memiliki akar kebenaran dan bukan kepalsuan.
4.       Menanamkan nilai-nilai "Takwallah".
5.       Menumbuhkan kepribadian yang memiliki "Shilah bi Allah" yang kuat (dirikan shalat.
6.       Menumbuhkan dalam diri anak "kepedulian sosial" yang tinggi. (amr ma'ruf-nahi munkar).
7.       Membentuk kejiwaan anak yang kokoh (Shabar).
8.       Menumbuhkan "sifat rendah hati" serta menjauhkan "sifat arogan" .
9.       Mengajarkan "kesopanan" dalam sikap dan ucapannya.

    Kesembilan poin tersebut di atas disimpulkan dari QS. Luqmaan: 12-19.

    Sedangkan QS: As Shafaat: 102, mengajarkan "metodologi" pendidikan anak. Ayat ini mengisahkan dua hamba Allah (Bapak-Anak), Ibrahim dan putranya Ismail AS terlibat dalam suatu diskusi yang mengagumkan. Bukan substansi dari diskusi mereka yang menjadi perhatian kita. Melainkan approach/cara pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan yang sangat agung itu.
    Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa metode "dialogis" dalam mengajarkan anak sangat didukung oleh ajaran Islam. Kesimpulan ini pula menolak anggapan sebagian orang kalau Islam mengajarkan ummatnya otoriter, khususnya dalam mendidik anak.
    Pendidikan hendaknya dimulai sejak sedini mungkin, sehingga tertanam kebiasaan dalam diri anak sejak awal. Kebiasaan ini akan didukung oleh kesadaran penuh jika anak telah mencapai tingkat balighnya. Dalam hadits nabi dijelaskan: "Suruhlah anak-anak kamu shalat jika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur sepuluh tahun (dan masih tidak melakukannya)"
    Pukulan yang disebutkan pada hadits tersebut hendaknya ditafsirkan sesuai dengan situasi di mana kita hidup. Pertama, tentu pukulan tersebut bukanlah sutau pukulan yang sifatnya "siksaan". Melainkan pukulan yang bersifat "didikan" semata.
    Kedua, pukulan ini tidak selamanya diartikan dengan pukulan "fisik". Melainkan dapat pula diartikan dengan pukulan "psykologis" atau kejiwaan. Sebagai misal, jika anak kita senang piknik di hari libur, dan hal ini sudah menjadi kebiasaan keluarga, maka jika mereka tidak melakukan kewajiban agamanya (shalatnya) maka kebiasaan ini dapat dihentikan sementara. Menghentikan piknik bagi anak-anak yang sudah terbiasa dengannya dapat menjadi pukulan bathin bagi mereka.
    Tegakkah shalat berjama'ah di rumah tangga masing-masing. Rasulullah SAW bersabda: "Sinarilah rumah kamu dengan shalat" Menghidupkan shalat berjama'ah di rumah memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kejiwaan seorang anak.
    Tanamkan Al Qur'an dalam diri anak sejak sedini mungkin. Al Qur'an adalah Kalam Ilahi yang bukan saja sebagai petunjuk (hudan), melainkan juga sebaga "Syifaa limaa fis Shuduur" (obat terhadap berbagai penyakit jiwa), dan "Nuur" (cahaya/pelita hati). Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidak ada Al Qur'an di hatinya maka ia seperti rumah runtuh" (hadits)
    Membiasakan praktek-praktek sunnah dalam kehidupan keseharian. Misalnya makan dengan membaca "Bismillah" dan doa, mengakhirinya dengan "Al Hamdulillah" dan doa, masuk/keluar rumah dengan salam, dll. Menghapalkan doa-doa sejak sedini mungkin memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan anak.
    Yang terakhir dan yang terpenting adalah hendaknya para orang tua menjadi "tauladan" (uswah) dalam kehidupan anak-anak mereka. Hidupkan agama Allah dalam diri kita, keluarga kita, insya Allah dengan izinNya anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran keagamaan yang tinggi. Pepatah Arab mengatakan "Perbaiki dirimu, niscaya manusia akan baik denganmu". Jangan seperti apa yang biasa terjadi. Orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah Al Qur'an, agar anaknya belajar shalat, namun orang tuanya justeru mengabaikan Al Qur'an serta shalat di rumah tangganya juga seringkali terabaikan.
    Memperbanyak doa. Bagaimanapun juga usaha manusia sifatnya terbatas. Namun dengan pertolongan Allah, sesuatu dapat berubah di luar perkiraannya. Oleh sebab itu, doa dalam hidup kita sangat penting untuk menunjang usaha-usaha yang kita lakukan.


KEPADA SUAMI ISTERI YANG MUSLIM


Nasihat untuk keluarga muslim - Kepada Suami-Istri
Selasa, 21 Januari 2004 - 08:35:34,  Penulis : Yusuf Bin Abdullah At-Turki
Kategori : Muammalah
  
KEPADA SUAMI ISTERI YANG MUSLIM

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Sesunggunhya Allah telah memberikan ni’mat kepada hamba-hambaNya dengan disyari’atkannya perkawinan, karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan dampak yang baik.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-rum 21).

Perkawinan merupakan batu bata (bahan bangunan) yang baik untuk membangun keluarga yang shaleh dalam masyarakat. Islam telah mengatur kehidupan suami-isteri dengan suatu sistem yang indah dari Robb yang Maha bijaksana dan Maha mengetahui. Islam telah memberikan penjelasan tentang ukuran-ukuran kehidupan suami-isteri yang bahagia yang menghantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Para suami isteri yang muslim –semoga Alah memberi taufiq kepada anda berdua untuk setiap kebaikan- hendaknya mengetahui, bahwa mewujudkan kebahagiaan ini merupakan sesuatu yang mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-thalaq : 4).

Mereka hanya dituntut untuk bertakwa kepada Allah dengan seluruh makna yang terkandung dalam kata takwa tersebut, karena takwa kepada Allah merupakan dasar untuk setiap kebaikan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaannya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (At-Taubah : 109).

Para suami isteri hendaknya menjalankan kewajiban-kewajiban yang seharusnya bagi mereka, dan memperhatikan untuk melakukan pergaulan yang ma’ruf antara keduanya. Pada saat itu akan tercipta kebahagiaan suami isteri dengan pertolongan Allah. Keduanya akan memetik buahnya yang indah, dan anak-anak akan terdidik bersama dua orang shaleh dan bahagia. Dengan demikian akan tumbuh suatu keluarga yang baik, sebagaimana akan tumbuh suatu masyarakat muslim yang bahagia. Segala puji bagi Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita berupa hukum-hukum syari’at yang tinggi yang menghantarkan kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebagai penutup, saya berikan kepada para suami isteri suatu hadiah yang diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Semoga hadiah ini –dengan pertolongan Allah dan taufiqNya- akan menjadi cahaya yang menyinari mereka berdua.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang beberapa sifat para hambaNya :
“Dan orang-orang yang berkata : ‘Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-furqan: 74).

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap para isterinya.” (Riwayat Turmizi, dan katanya : hadits hasan shahih).

Dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau bersabda :
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Amir adalah pemimpin, dan orang laki-laki adalah pemimpin keluarganya. Orang perempuan adalah pemimpin rumah dan anak-anak suaminya. Maka setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.” (muttafaq alaih).

Saya memohon kepada Allah agar memberi taufiq kepada setiap suami-isteri yang muslim untuk setiap hal yang dicintai dan diridhainya, menjadikan keduanya bahagia di dunia dan akhirat, dan memberikan kepada mereka keturunan yang baik, serta menjadikan keturunan tersebut enak dan sedap di pandang oleh kedua orang tua mereka. Sesungguhnya Robbku Maha dekat, Maha mengabulkan dan Maha mendengarkan do’a.

(Dinukil dari : نصائح و توجيهات إلى الأسرة المسلمة

Edisi Indonesia "Beberapa Nasehat Untuk

Keluarga Muslim". Karya Yusuf Bin Abdullah At-Turki)





Nasihat untuk Putriku


Nasihat untuk keluarga muslim - Kepada Putriku
Selasa, 21 Januari 2004 - 08:33:44,  Penulis : Yusuf Bin Abdullah At-Turki

Kategori : Muammalah


KEPADA PUTERI YANG MUSLIMAH

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.
Kepada kuncup-kuncup mekar yang beriman, yang terdidik untuk mempunyai rasa malu, kusampaikan ayat-ayat Al-Qur’an berikut. Karena pembicaraan yang paling baik adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan petunjuk yang paling baik adalah patunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya ; ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar suatu kezaliman yang besar.” Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah kambalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (mambalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (Luqman 13-19).

Semoga Allah menumbuhkan anda menjadi tanaman dan tumbuhan yang baik, menjaga anda dan kedua orang tua anda dengan penjagaanNya. Sesungguhnya Allah Maha dekat, Maha mengabulkan, dan Maha mendengarkan do’a.




Nasihat untuk keluarga muslim

Nasihat untuk keluarga muslim - Kepada Ortu
Selasa, 21 Januari 2004 - 08:38:48,  Penulis : Yusuf Bin Abdullah At-Turki

Kategori : Muammalah

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti  jalan dan petunjuknya sampai hari pembalasan.
Saudaraku, para bapak dan ibu.
Allah telah berfirman : “Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru (mereka) kepada yang ma’ruf dan mencegah (mereka) dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali-Imran : 110).
Dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad-Dari Radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Agama itu adalah nasehat. “Kami bertanya : “untuk siapa? “Beliau menjawab: “untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para imam orang-orang Islam, dan untuk orang-orang awam mereka.” (riwayat muslim).
Dari sinar cahaya inilah, saya menulis untuk para orang tua (ibu dan bapak) nasehat ini, dari seorang saudara yang mencintai mereka seperti kecintaannya kepada dirinya sendiri. Saya memohon kepada Allah agar nasehat ini akan mendatangkan manfaat. Sesungguhnya Allah Maha dekat, Maha mengabulkan dan mendengar do’a.
Saudara-saudaraku, para ibu dan bapak. Panjatkanlah puji dan syukur kepada Allah atas ni’mat anak yang telah diberikan oleh Allah. Ketahuilah, bahwa anak merupakan suatu amanah yang agung dan tanggung jawab yang berat di hadapan Allah. Adakah ibu bapak telah memelihara amanat-amanat tersebut?
Allah berfirman tentang sifat-sifat para hambaNya yang beriman :
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,” (Al-Mu’minun: 8).
Adakah kuncup-kuncup yang beriman, putera-puteri bapak ibu, telah bapak ibu didik sehingga berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an ?.
Adakah mereka telah bapak ibu didik untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ?
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-ahzab: 21)
Adakah mereka telah Bapak ibu didik untuk mengesakan Allah Subhanahu wa ta’ala . dan menjaga fitrah mereka dari noda-noda syirik dan dosa?
Allah Subhanahu wa ta’ala . berfirman :
“Dan (ingatlah) ketika Luqman kerkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya ; ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar suatu kezaliman yang besar.” (Luqmam:31).

Adakah mereka telah Bapak ibu didik untuk bertaqwa dan selalu memperhatikah Allah, baik mereka dalam keadaan sembunyi atau terang-terangan?

Adakah mereka telah Bapak ibu ajarkan rukun iman, rukun Islam, dan ihsan, sehingga mereka menjadi teladan dan contoh hidup untuk seorang muslim dan muslimah?

Adakah mereka telah Bapak ibu ajarkan shalat, dan bapak ibu perintahkan mengerjakannya pada umur tujuh tahun, dan bapak ibu pukul pada umur kesepuluh (jika tidak mengerjakannya) serta memisahkan tempat tidur mereka ?
Sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dari Amru bin Syuaib dari bapaknya dari neneknya berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Perintahlah anak-anakmu shalat pada umur ketujuh, dan pukul mereka (jika tidak mengerjakannya) pada umur kesepuluh dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (riwayat Abu Daud dengan sanad hasan).

Adakah mereka telah Bapak ibu asuh dengan adab dan sopan santun Islam, seperti: berbakti kepada orang tua, silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, menghormati tamu, berbuat baik pada fakir miskin, jujur, amanah, adil, mempunyai rasa malu, memjaga lisan dan pendengaran serta penglihatannya, memberi nasehat kepada setiap muslim, menyeru (manusia) kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran, mendahulukan orang lain, randah hati, memenuhi janji, dan lain-lain yang termasuk akhlak yang baik dan mulia?

Adakah mereka telah Bapak ibu cegah dari akhlak yang tidak baik, seperti : berbuat aniaya (zhalim) kepada orang lain, sombong, ghibah, mengadu domba, bohong, bersaksi bohong, hasud, dengki, memata-matai orang lain, menghina orang Islam, menipu, curang dan khianat ?

Adakah mereka telah Bapak ibu tunjukkan kepada teman-teman yang baik, dan bapak ibu menjauhkan mereka dari teman-teman yang tidak baik?

Adakah bapak ibu telah mendidik para puteri sejak kecil untuk mempunyai rasa malu, menutup badan dan terbiasa memakai hijab syar’i secara sempurna, terutama wajah mereka, dan menjauhkan diri dari pergaulan kaum lelaki?

Adakah ibu bapak telah menjadi contoh yang baik dalam hal ini? Adakah mereka telah bapak ibu didik untuk bertanggung jawab sejak kecil? Adakah? Adakah? Adakah?

Saudaraku para bapak dan ibu.
Hendaknya masing-masing menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara jujur, kerena tanggung jawab dan amanat ini sangat besar dan berat.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah maalikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-tahrim: 6).

Saudara-saudaraku para bapak dan ibu.
Perkenankanlah saya untuk berbicara tentang suatu hal penting yang kadang-kadang kedua orang tua meninggalkannya atau tidak tahu kepentingannya, yaitu upaya mengawinkan putera-puteri pada umur lebih muda.
Dalam hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barang siapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (muttafaq alaih).

Perkawinan akan menjaga dan memelihara kedua suami isteri di samping akibat-akibat positif lainnya. Para setan penganjur kerusakan dari golongan jin dan manusia mengerti dengan persis, bahwa perkawinan akan menjaga individu dan masarakat dari jalan-jalan kerusakan dan kejahatan, maka mereka memperhatikan sungguh-sungguh untuk menghalangi upaya perkawinan putera-puteri bapak ibu dengan alasan-alasan yang melenakan sambil memanfaatkan kelengahan orang tua mereka terhadap bahaya masalah ini.

Hendaknya bapak ibu –semoga Allah memelihara anda- untuk mengawinkan putera-puteri bapak pada umur lebih muda. Bersungguh-sungguh mencarikan isteri yang shalehah untuk putera bapak ibu, begitu juga mencarikan suami yang shaleh untuk puteri bapak ibu, karena mereka merupakan amanat yang besar, maka penuhilah hak memelihara mereka.

Kepada ummat Islam yang lain, hendaknya ikut bekerjasama dalam meringankan beban biaya perkawinan. Para ulama hendaknya menganjurkan ummat Islam untuk itu. Dalam hal ini kita mempunyai suri teladan yang baik dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Umar bin Khattab berkata :
“Janganlah kalian memahalkan mahar kaum wanita, karena andaikata merupakan pemberian di dunia dan ketakwaan di akhirat maka hal itu lebih diutamakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah memberi mahar pada siapapun diantara para isteri beliau, dan tidak juga seorangpun diantara puteri-puteri beliau yang menerima mahar lebih dari dua belas uqiyah, dan satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham.”

Saya memohon kepada Allah, agar menjaga puteri-puteri ummat Islam dengan penjagaanNya dari segala kejahatan dan ketidak baikan, menumbuhkan mereka menjadi tumbuhan yang baik, dan memberi taufiq kepada bapak ibu untuk mendidik mereka dan memenuhi amanat yang berat ini. Sesungguhnya Robbku Maha dekat, Maha mengabulkan dan Maha mendengar do’a.


UCAPAN SELAMAT DAN PENGHARGAAN

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta pada orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Selanjutnya, Ucapan selamat dan penghargaan saya berikan pada mereka kaum lelaki yang menjalankan amanah dan tanggungjawab memimpin keluarga dan memenuhi keridlaan Robb mereka. Mereka tidak rela dengan adanya sopir, maka mereka sendirilah yang bertanggungjawab mengantar para isteri mereka ke tempat-tempat yang terpaksa harus didatangi. Semoga Allah memberi berkah kepada mereka dan memperbanyak orang-orang seperti mereka.

Ucapan selamat dan penghargaan kepada para wanita yang telah memenuhi amanat dan melaksanakan tangung jawab memimipin rumah dan anak-anak suaminya; mereka tidak rela adanya pembantu, maka mereka sendirilah yang mengatur rumah suami. Semoga Allah memberi berkah kepada mereka dan memperbanyak orang-orang yang seperti mereka.

Ucapan selamat dan penghargaan, saya sampaikan kepada para kaum wanita yang beriman dan sabar.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi roji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kita akan kembali). Mereka mendapat shalawat dan rahmat (kasih sayang) dari Robb mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Albaqarah: 155-157).

Kabar gembira untuk mereka. Semoga Allah memberikan kepada mereka kesehatan di dunia dan akhirat.

Ucapan selamat dan penghargaan untuk para wanita yang beriman, yang terdidik untuk mempunyai rasa malu, di suatu zaman yang jarang wanita memakai hiasan rasa malu.

Dari Abu Said Al-Khudri Radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah orang yang lebih pemalu dari para gadis dalam pingitannya, jika melihat sesuatu yang dibencinya kita dapat melihat dari wajah beliau.” (muttafaq alaih).

Semoga Allah memberi berkah kepada mereka dan memperbanyak orang-orang seperti mereka, dan menjaga mereka dengan penjagaanNya dari kejahatan para penganjur kerusakan. Sesungguhnya Robbku Maha dekat, Maha mengabulkan dan mendengar do’a.


PENUTUP

Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.
Ya Robb kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Berikanlah kami maaf; ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan Allah kepada hamba dan Rasulnya Nabi kita Muhammad, para keluarga dan para sahabat beliau semuanya.

Dan akhir do’a kita adalah bahwa segala puji bagi Allah Robb alam semesta.
(Dinukil dari : نصائح و توجيهات إلى الأسرة المسلمة

Edisi Indonesia "Beberapa Nasehat Untuk

Keluarga Muslim". Karya Yusuf Bin Abdullah At-Turki)