Sedangkan
menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat untuk kedua
orang tua yang
sudah
wafat, adalah :

[1]
Mendo'akannya
[2]
Menshalatkan ketika orang tua meninggal
[3]
Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
[4]
Membayarkan hutang-hutangnya
[5]
Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari'at.
[6]
Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah
menyambungnya
Diantara
bentuk durhaka (uquq) adalah :
[1]
Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun
perbuatan yang
membuat
orang tua sedih dan sakit hati.
[2]
Berkata 'ah' dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
[3]
Membentak atau menghardik orang tua.
[4]
Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari
pada mengurusi orang
tuanya
padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun,
dilakukan dengan penuh
perhitungan.
[5]
Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua,
mengatakan bodoh, 'kolot'
dan
lain-lain.
[6]
Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan.
Pekerjaan tersebut sangat
tidak
pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika
'Si Ibu" melakukan
pekerjaan
tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus
berterima kasih.
[7]
Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik
orang tua.
[8]
Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.
[9]
Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang
dengan teganya mengusir
ibunya
demi menuruti kemauan istrinya. Na'udzubillah.
[10]
Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang
tua dan tempat
tinggalnya
ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini
adalah sikap yang amat
tercela,
bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
Di
dalam ayat-ayat Al-Qur'an ketika disebutkan tentang bertauhid kepada Allah
selalu diiringi dengan berbakti
kepada
kedua orang tua. Para ulama telah menjelaskan hikmah dari permasalahan ini,
yaitu :
[1]
Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan dan Allah yang memberikan rizki,
maka Allah Subhanahu
wa
Ta'ala sajalah yan berhak untuk diibadahi. Sedangkan kedua orang tua adalah
sebab adanya anak, maka
keduanya
berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu kewajiban seorang anak
untuk beribadah
kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala harus diiringi dengan berbakti kepada kedua orang
tuanya.
[2]
Allah lah yang telah memberikan semua nikmat yang diperoleh hamba-hambaNya,
maka hanya Allah
Subhanahu
wa Ta'ala saja yang wajib di syukuri. Kemudian kedua orang tua lah yang telah
memberikan segala
yang
kita butuhkan seperti makan, minum, pakaian dan yang lainnya sehingga wajib
bagi kita untuk berterima
kasih
kepada keduanya. Oleh karena itu kewajiban seorang anak atas nikmat yang
diterimanya adalah
bersyukur
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bersyukur kepada kedua orang tuanya.
[3]
Allah adalah Rabb manusia yang membina dan mendidik manusia di atas manhaj-Nya,
maka Allah lah
yang
berhak untuk diagungkan dan dicintai. Demikian juga kedua orang tua yang telah
mendidik kita sejak
kecil,
maka kita harus bersikap tawadlu' (merendahkan diri), tauqiir (menghormati),
ta'addub (beradab) dan
talattuf
(berlaku lemah lembut) dengan perkataan dan perbuatan kepada keduanya.
No comments:
Post a Comment
ini komentar