Assalamu alaikum wr.wb.
Salah satu sarana untuk meningkatkan ketaqwaan adalah dzikrul maut. Mudah
mudahan kisah di bawah ini bisa membantu kita dalam mengingat mati, dan
mudah mudahan dengan senantiasa mengingat kematian kita akan lebih berhati
hati dalam segala ucapan, pikiran dan tindakan.
Wassalam
--------------------------------------
KEMATIAN YANG BERBEDA
Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam
lingkungan yang baik. aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran
dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang
panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama,apalagi jika saat
malam-malam dingin menyengat tulang.
Aku sungguh heran,bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri : "Alangkah
sabarnya mereka setiap hari begitu ... benar-benar mengherankan!"
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat
orang-orang pilihan ... Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat
kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang.
Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima
dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat daripendidikan, aku ditugaskan
di kota yang
jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan
menanggung beban sebagai orang terasing. Disana, aku tak mendengar lagi suara
bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan enyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan
keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga
keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan
semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan
ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian....banyak waktu luang ...
pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang
agama. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami
asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat
keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yangberlawanan. Kami segera berlari
menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam
kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di
tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas
dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam
kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah ... Laailaaha Illallaah ..." perintah
temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi
orang-orang yang sekarat ... Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku
belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi
seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi ... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tak ada gunanya ...
Suara lagunya terdengar semakin melemah .... lemah dan lemah sekali.
Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak ...
keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada
kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara
tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata : "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk.. Kesudahan hidup
itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia." Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan
dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri
hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang
membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar
memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu' sekali. Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada
kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua
orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku
memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau
tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.
Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang
sedang sekarat dahulu.
Kejadian yang menakjubkan ... Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan
itu.... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di
sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di
belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan
kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung
tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, (bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama)
cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula
kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih
sangat muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang taat menjalankan
perintah agama. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik,
sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang
keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ... dengan suara amat lemah. "Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya,
tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia
terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu. Dalam
batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunya membaca syahadat
sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu.. apalagi aku sudah punya
pengalaman."
aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan
suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku
merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya
lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, degup jantungnya,nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah
meningal.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku,
takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah
meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan
diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil
betul-betul sangat mengharukan. Sampai di rumah sakit ..... Kepada orang-orang
di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang
kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak
sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar
kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang
hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kepan
jenazah akan dishalatkan.
mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya
di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana Almarhum juga
menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi
kecelakaan, mobilnya penuhdengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang
kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset
pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni.
Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya
kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk
penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah
sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan
Mereka ingin
memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyolatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut
mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya.
Salah seorang saudaranya mengisahkan,
ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa.
Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana Almarhum juga
menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi
kecelakaan, mobilnya penuhdengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang
kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset
pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni.
Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
No comments:
Post a Comment
ini komentar