BERMALAM
DI MUZDALIFAH
Jika
matahari telah tenggelam pada hari Arafah maka para Haji berduyun-duyun
(meninggalkan) Arafah menuju Muzdalifah dengan tenang, diam dan tidak
berdesak-desakan. Jika telah sampai Muzdalifah ia shalat Maghrib dan Isya'
secara jama' qashar dengan satu adzan dan dua iqamat.
Diharamkan
mengakhirkan shalat Isya' hingga lewat pertengahan malam, berdasarkan sabda
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Waktu Isya' adalah sampai pertengahan malam." (HR. Muslim).
"Waktu Isya' adalah sampai pertengahan malam." (HR. Muslim).
Jika ia
takut akan lewatnya waktu, hendaknya ia shalat Maghrib dan Isya' di tempat mana
saja, meskipun di Arafah.
Lalu ia
bermalam di Muzdalifah hingga terbit fajar. Kemudian ia shalat Shubuh di awal
waktunya, lalu menuju Masy'aril Haram, yaitu bukit yang berada di
Muzdalifah, jika hal itu memungkinkan baginya. Jika tidak, maka seluruh
Muzdalifah adalah mauqif (tempat berhenti yang disyari'atkan). Di sana
hendaknya ia menghadap kiblat dan memanjatkan pujian kepada Allah, bertakbir,
mengesakan dan berdo'a kepadaNya. Jika pagi telah tampak sangat menguning,
sebelum terbit matahari, para Haji berangkat menuju Mina dengan mengumandangkan
talbiyah , demikian ia terus ber-talbiyah hingga sampai melempar jumrah
aqabah.
Adapun
bagi orang-orang yang lemah dan para wanita maka mereka dibolehkan langsung
menuju Mina pada akhir malam. Hal itu berdasarkan hadits Ibnu Abbas
radhiyallahu anhu, ia berkata:
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku ketika akhir waktu malam dari rombongan orang-orang (di Muzdalifah) dengan membawa perbekalan Nabiullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Muslim).
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku ketika akhir waktu malam dari rombongan orang-orang (di Muzdalifah) dengan membawa perbekalan Nabiullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Muslim).
Dan
adalah Asma' binti Abi Bakar radhiyallahu anhuma berangkat dari Muzdalifah
setelah tenggelamnya bulan. Sedangkan tenggelamnya bulan adalah terjadi
kira-kira setelah berlalunya dua pertiga malam.
Peringatan:
- Sebagian orang mempercayai bahwa batu-batu kerikil untuk melempar jumrah diambil dari sejak kedatangan mereka di Muzdalifah. Ini adalah kepercayaan yang salah dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Batu-batu kerikil itu boleh diambil dari tempat mana saja.
- Sebagian orang mengira bahwa pertengahan malam adalah pukul dua belas malam. Ini adalah keliru. Yang benar, pertengahan malam adalah separuh dari seluruh jam yang ada pada malam hari. Kalau dihitung secara matematika adalah sebagai berikut: (Keseluruhan jam yang ada pada malam hari : 2 + waktu tenggelamnya matahari = pertengahan malam ). Jika matahari tenggelam pada pukul enam sore misalnya, sedangkan terbitnya fajar pada pukul lima pagi maka pertengahan malamnya adalah pukul sebelas lebih tiga puluh menit. (Keseluruhan jam yang ada pada malam hari, yakni 11 jam : 2 + waktu tenggelamnya matahari, yakni pukul 6 = 11, 30 menit).
- Di antara penyimpangan yang menyedihkan pada malam tersebut adalah bahwa sebagian Hujjaj mendirikan shalat Shubuh sebelum tiba waktunya, padahal shalat itu tidak sah jika dilakukan sebelum masuk waktunya.
- Hendaknya setiap Haji meyakini benar bahwa ia berada di wilayah Muzdalifah. Hal itu bisa diketahui melalui spanduk-spanduk besar yang ada di sekeliling Muzdalifah.
No comments:
Post a Comment
ini komentar