Monday, 19 October 2015

keajaiban pada semut: PENDAHULUAN



PENDAHULUAN
Semut adalah makhluk hidup dengan populasi terpadat di dunia. Perbandingannya, untuk setiap 700 juta
semut yang muncul ke dunia ini, hanya terdapat 40 kelahiran manusia. Tentu masih banyak informasi lain
yang menakjubkan bisa dipelajari tentang makhluk ini.
Semut merupakan salah satu kelompok yang paling “sosial” dalam genus serangga dan hidup sebagai
masyarakat yang disebut “koloni”, yang “terorganisasi” luar biasa baik. Tatanan organisasi mereka begitu
maju sehingga dapat dikatakan dalam segi ini mereka memiliki peradaban yang mirip dengan peradaban
manusia.
Semut merawat bayi-bayi mereka, melindungi koloni, dan bertempur di samping juga memproduksi dan
menyimpan makanan. Bahkan ada koloni yang melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan “pertanian”
atau “peternakan”. Dengan jaringan komunikasi yang sangat kuat, hewan ini begitu unggul sehingga tak dapat
dibandingkan dengan organisme mana pun dalam segi spesialisasi dan organisasi sosial.
Di masa kini, para peneliti yang cerdas dan berpendidikan tinggi bekerja siang-malam dalam pelbagai
lembaga pemikiran untuk merumuskan organisasi sosial yang sukses dan menemukan solusi yang langgeng
untuk berbagai masalah ekonomi dan sosial. Para ideolog juga telah menghasilkan berbagai model sosial
selama berabad-abad. Namun secara umum, belum terlihat tatanan sosial sosioekonomis yang berhasil dicapai
melalui segala upaya intensif ini. Karena sejak dulu konsep tatanan masyarakat manusia didasarkan pada
persaingan dan kepentingan individu, ta-tanan sosial yang sempurna tidak mungkin tercapai. Sementara,
semut-semut telah menjalani sistem sosial yang ideal bagi mereka selama jutaan tahun hingga hari ini.
Lalu, bagaimana makhluk kecil ini membentuk tatanan seperti itu? Jawaban untuk pertanyaan ini jelas
harus dicari.
Para evolusionis mencoba menjawab pertanyaan ini dengan klaim bahwa semut telah berevolusi 80 juta
tahun yang lalu dari Tiphiidae, sebuah genus purba rayap, dan mulai bersosialisasi 40 juta tahun yang lalu
secara seketika, “atas keinginan sendiri” dan membentuk tingkat tertinggi dalam evolusi serangga. Namun,
para evolusionis ini tidak menjelaskan sama sekali apa penyebab perkembangan sosialisasi ini dan bagaimana
prosesnya. Perlu dicatat, mekanisme dasar evolusi mengharuskan makhluk hidup saling bertarung hingga titik
terakhir, untuk kelangsungan hidup masing-masing, oleh karena itu setiap genus serta setiap individu di
dalamnya hanya bisa memikirkan dirinya sendiri dan anaknya. (Mengapa dan bagaimana ia mulai memikirkan
anaknya juga merupakan jalan buntu bagi Evolusi, tetapi hal ini kita abaikan dulu). Tentu saja, bagaimana
“hukum evolusi” ini dapat membentuk sistem sosial yang berpusat pada pengorbanan, tidak terjawab.
Pertanyaan yang harus dijawab tidak hanya itu. Mungkinkah makhluk ini, yang berat sel saraf dari
sejuta ekornya hanya 20 gram, telah mengambil keputusan untuk bersosialisasi dalam kelompok “secara
begitu saja”? Atau, mungkinkah mereka berkumpul dan menetapkan peraturan untuk sosialisasi ini setelah
mengambil keputusan? Andaipun kita anggap ini mungkin, mungkinkah bagi mereka semua untuk mematuhi
sistem baru ini tanpa kecuali? Apakah mereka lalu membentuk tatanan sosial yang maju dengan mendirikan
koloni dengan anggota berjuta-juta ekor semut, setelah mengatasi semua kemustahilan ini?
Lalu bagaimana “sistem kasta” muncul dari pergumulan ini? Pertama, pertanyaan ini harus dijawab:
Bagaimanakah berkembangnya perbedaan antara ratu dan pekerja? Tentang hal ini para evolusionis
berpedapat bahwa sekelompok pekerja meninggalkan pekerjaannya dan mengembangkan fisiologi yang
berbeda dengan semut pekerja lain, dengan cara mengalami variasi genetis dalam masa panjang. Namun, kita
lalu dihadapkan pada pertanyaan bagaimana para “calon ratu” tersebut men-dapat makanan selama masa
transformasi ini. Semut ratu tidak pernah mencari makanan. Mereka dibawakan makanan oleh pekerja.
Sebagian pekerja mungkin menganggap dirinya sebagai “ratu”, tapi bagaimana dan mengapa para pekerja lain
menerima hierarki ini? Selanjutnya, mengapa mereka mau memberi makan ratu ini? “Perjuangan hidup” yang
mereka jalani, menurut “evolusi”, mengharuskan mereka hanya memikirkan diri sendiri.
Semua serangga melewatkan sebagian besar waktunya mencari ma-kan. Mereka mencari dan memakan
makanan, lalu mereka lapar lagi, dan kembali pergi mencari makan. Mereka juga lari dari bahaya. Jika kita
menerima evolusi, kita juga harus menerima bahwa dulu semut juga hidup “secara individual”, tetapi pada
suatu hari, jutaan tahun yang lalu, mereka memutuskan untuk tersosialisasi. Maka muncul pertanyaan,
bagaimana mereka “memutuskan” untuk “membentuk” tatanan sosial ini tanpa komunikasi yang sama di
antara mereka, karena menurut evolusi, komunikasi adalah konsekuensi dari sosialisasi. Selanjutnya,
persoalan bagai-mana mereka mengembangkan mutasi genetik yang diperlukan untuk sosialisasi ini tidak
memiliki penjelasan ilmiah apa pun.
Semua argumen ini membawa kita pada satu titik: Klaim bahwa semut mulai “bersosialisasi” pada suatu
hari jutaan tahun yang lalu melanggar semua aturan dasar logika. Satu-satunya penjelasan yang mungkin
adalah: tatanan sosial, yang akan kita lihat perinciannya dalam bab-bab berikut, diciptakan bersamaan dengan
semut itu sendiri; dan sistem ini tidak berubah sejak koloni semut yang pertama di bumi, hingga hari ini.
Saat menyebutkan lebah yang tatanan sosialnya mirip dengan semut, Allah menyatakan dalam Al Quran
bahwa tatanan sosial ini telah “diwahyukan” kepada mereka:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon
kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buahbuahan
dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar
minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan
bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan)
bagi orang-orang yang memikirkan. (Surat an-Nahl: 68-69)
Ayat ini menyampaikan pesan bahwa segala sesuatu yang dilakukan lebah madu diatur oleh “wahyu”
yang diberikan Allah kepada mereka. Sesuai dengan itu, semua “rumah” atau sarang dan, karenanya, seluruh
tatanan sosial dalam sarang ini dan semua pekerjaan yang mereka lakukan untuk membuat madu,
dimungkinkan oleh ilham yang diberikan Allah kepada mereka.
Ketika melihat semut, kita melihat bahwa keadaan mereka tidak ber-beda. Allah juga telah mengilhami
mereka dengan tatanan sosial dan mereka menurutinya secara mutlak. Inilah sebabnya setiap kelompok semut
melaksanakan tugas yang ditugaskan kepadanya secara sempurna dan dengan kepasrahan mutlak dan tidak
menuntut lebih.
Dan inilah hukum alam. Di alam tak ada “pertarungan untuk kelangsungan hidup” yang acak
dan kebetulan, seperti yang diklaim evolusi, tidak pernah pula ada di masa dulu. Sebaliknya, semua
makhluk hidup memakan “makanan” yang ditentukan untuk mereka dan melakukan tugas yang
ditugaskan Allah kepada mereka. Karena “tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah
yang memegang ubun-ubunnya” (Surat Hud: 56) dan “sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi
rezeki” (Surat Adz-Dzariyat: 58).

No comments:

Post a Comment

ini komentar