Monday, 19 October 2015

penipuan TEORI EVOLUSI 1


 KERUNTUHAN TEORI EVOLUSI 1

Teori evolusi adalah filsafat dan konsepsi dunia yang menghasilkan hipotesis-hipotesis palsu, asumsi
dan skenario khayalan untuk menjelaskan keberadaan dan asal usul kehidupan secara kebetulan semata. Akar
Missing Link dan Konspirasi Evolusidari filsafat ini berakar jauh semenjak zaman Yunani kuno.
Semua filsafat ateis yang mengingkari penciptaan, langsung maupun tidak mengambil dan
mempertahankan ide evolusi ini. Kondisi serupa saat ini terjadi pada semua ideologi dan sistem yang
bertentangan dengan agama.
Gagasan evolusioner telah diselubungi dengan penyamaran ilmiah selama satu setengah abad silam
untuk membenarkan dirinya sendiri. Walaupun diajukan sebagai teori ilmiah sepanjang pertengahan abad ke-
19, teori ini di luar semua usaha keras para pembelanya, sebegitu jauh belum dibuktikan oleh penemuan atau
eksperimen ilmiah apa pun. Jelasnya, “satu-satunya bentuk ilmiah” yang menjadi sandaran utama teori ini
telah berulang kali dan terus-menerus menunjukkan bahwa teori ini tidak memiliki dasar dalam kenyataan.
Eksperimen di laboratorium dan perhitungan probabilitas membuktikan bahwa asam amino, cikal
kehidupan tidak dapat muncul secara kebetulan. Begitu pula sel, yang menurut anggapan evolusionis muncul
secara kebetulan pada kondisi bumi primitif dan tidak terkendali, tidak dapat disintesis oleh laboratoriumlaboratorium
abad ke-20 yang tercanggih sekalipun. Tidak pernah ditemukan di belahan dunia mana pun satu
saja makhluk “bentuk transisi” yang menunjukkan evolusi bertahap organisme maju dari organisme yang
lebih primitif sebagaimana yang dinyatakan para neo-Darwinis, walau melalui pencarian catatan fosil secara
teliti dan dalam waktu yang panjang.
Dengan berusaha keras mengumpulkan bukti-bukti evolusi, para evolusionis justru secara tidak sengaja
telah membuktikan sendiri bahwa evolusi tidak dapat terjadi sama sekali!
Orang yang pertama kali mengemukakan teori evolusi sebagaimana yang dipertahankan dewasa ini,
adalah seorang naturalis amatir dari Inggris, Charles Robert Darwin. Darwin mempublikasikan pandangannya
ini dalam sebuah buku yang berjudul The Origin of Species, By Means of Natural Selection pada tahun 1859.
Darwin menyatakan dalam bukunya bahwa semua makhluk hidup memiliki nenek moyang yang sama dan
mereka berevolusi satu sama lain melalui seleksi alam. Individu-individu yang beradaptasi pada habitat
mereka dengan cara terbaik, akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya, dan dengan
akumulasi selama jangka waktu yang panjang sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan
terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek
moyangnya. Manusia merupakan hasil paling maju dari mekanisme seleksi alam ini. Singkatnya, suatu
spesies berasal dari spesies lain.
Gagasan Darwin yang fantastis ini diambil dan dipromosikan oleh kalangan ideologis dan politis
tertentu dan teori ini menjadi sangat populer. Ini terutama disebabkan oleh belum memadainya tingkat
pengetahuan zaman itu untuk mengungkapkan kekeliruan skenario imajiner Darwin. Saat Darwin mengajukan
asumsinya, disiplin ilmu genetika, mikrobiologi dan biokimia belum ada. Jika disiplin-disiplin ilmu ini telah
ada, Darwin akan dengan mudah mengetahui bahwa teorinya benar-benar tidak ilmiah dan karenanya tidak
akan mencoba untuk mengajukan klaim-klaim tanpa arti tersebut: informasi yang menentukan spesies telah
terdaspat dalam gen dan tidak mungkin bagi seleksi alam untuk menghasilkan spesies baru dengan mengubah
gen-gen.
Di saat gema buku Darwin tengah berkumandang, seorang ahli botani Austria bernama Gregor
Mendel menemukan hukum penurunan sifat pada tahun 1865. Meskipun tidak banyak dikenal orang hingga
akhir abad ke-19, penemuan Mendel mendapat perhatian besar di awal tahun 1900-an. Inilah awal kelahiran
ilmu genetika. Beberapa waktu kemudian, struktur gen dan kromosom ditemukan. Pada tahun 1950-an,
penemuan struktur molekul DNA yang berisi informasi genetis menghempaskan teori evolusi ke dalam krisis,
karean asal usul dari informasi dalam DNA yang berjumlah luar biasa tidak mungkin dijelaskan dengan
peristiwa kebetulan.
Di samping semua perkembangan ilmiah ini, tidak ada bentuk transisi untuk menunjukkan evolusi
bertahap dari organisme hidup dasri spesies primitif ke spesies maju pernah ditemukan meskipun setelah
pencarian bertahun-tahun.
Perkembangan ini seharusnya membuat teori Darwin terbuang dalam keranjang sampah sejarah.
Namun ini tidak terjadi, karena ada kelompok-kelompok tertentu yang bersikeras merevisi, memperbarui dan
mengangkat kembali teori ini pada kedudukan ilmiah. Kita dapat memahami maksud upaya-upaya tersebut
hanya jika menyadari bahwa di belakang teori ini terdapat tujuan ideologis, bukan sekadar kepentingan
ilmiah.
Bagaimanapun, beberapa kalangan yang mempercayai perlunya mempertahankan teori yang telah
menemui jalan buntu ini segera merancang sebuah model baru. Nama model baru ini adalah neo-Darwinisme.
Menurut teori ini, spesies berevolusi sebagai hasil dari mutasi – perubahan kecil pada gen, dan individu
terkuat bertahan hidup melalui mekanisme seleksi alam. Bagaimanapun, ketika terbukti bahwa mekanisme
yang dikemukakan neo-Darwinisme tidak absah dan perubahan-perubahan kecil tidak memadai untuk
pembentukan makhluk hidup, evolusionis terus mencari model-model baru. Mereka mengajukan klaim baru
yang disebut “punctuated equilibrium” yang tidak memiliki landasan rasional maupun ilmiah apa pun. Model
ini mengajukan bahwa makhluk hidup tiba-tiba berevolusi menjadi spesies lain tanpa bentuk transisi apa-apa.
Dengan kata lain, spesies tanpa “nenek moyang” evolusioner tiba-tiba muncul. Ini merupakan sebuah cara
utnuk menggambarkan penciptaan, walaupun evolusionis akan segan mengakui ini. Mereka mencoba utnuk
menutupinya dengan skenario yang tidak dapat dipahami. Misalnya, mereka berkata bahwa burung pertama
muncul dari sebutir telur reptil. Teori yang sama juga mengajukan bahwa binatang penghuni darat pemakan
daging dapat berubah menjadi paus raksasa, karena mengalami transformasi yang menyeluruh dan seketika.
Pernyataan-pernyataan ini, yang sama sekali bertentangan dengan semua hukum-hukum genetika,
biofisika dan biokimia ini, sama ilmiahnya dengan dongeng katak yang menjadi pangeran! Dalam
ketidakberdayaan karena pandangan neo-Darwinis terpuruk dalam krisis, sejumlah ahli paleontologi proevolusi
mempercayai teori ini, teori baru yang bahkan lebih ganjil daripada neo-Darwinisme itu sendiri.
Satu-satunya tujuan model ini adalah memberikan penjelasan untuk mengisi celah dalam catatan fosil
yang tidak dapat dijelaskan model neo-Darwinis. Namun, usaha menjelaskan kekosongan fosil dalam evolusi
burung dengan pernyataan bahwa “seekor burung muncul tiba-tiba dari sebutir telur reptil” sama sekali
tidak rasional. Sebagaimana diakui oleh evolusionis sendiri, evolusi dari satu spesies ke spesies lain
membutuhkan perubahan besar informasi genetis yang menguntungkan. Akan tetapi, tidak ada mutasi yang
memperbaiki informasi genetis atau menambahkan informasi baru padanya. Mutasi hanya merusak informasi
genetis. Dengan demikian, “mutasi besar-besaran” yang digambarkan oleh model punctuated equilibrium
hanya akan menyebabkan pengurangan atau perusakan “besar-besaran” pada informasi genetis.
Teori punctuated equilibrium jelas-jelas merupakan hasil imajinasi belaka. Namun walau adanya
kebenaran yang nyata ini, pembela evolusi tidak ragu-ragu untuk menjunjung teori ini. Fakta bahwa model
evolusi yanga diajukan Darwin tidak dapat dibuktikan dengan catatan fosil memaksa mereka untuk
melakukannya. Darwin menyatakan bahwa spesies mengalami perubahan bertahap, yang membutuhkan
keberadaan makhluk aneh setengah-burung/setengah-reptil atau setengah-ikan/setengah-reptil.
Bagaimanapun, tak satu pun dari “bentuk transisi” ini ditemukan walau dikaji secara meluas oleh para
evolusionis dan ratusan ribu fosit telah digali.
Evolusionis menggunakan model punctuated equilibrium dengan harapan untuk menyembunyikan
kegagalan besar dari fosil ini. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, sangat jelas bahwa teori ini adalah
khayalan, maka ia segera menelan dirinya sendiri. Model punctuated equilibrium tidak pernah diajukan
sebagai sebuah model yang konsisten tetapi lebih digunakan sebagai pelarian dari masalah tidak sesuainya
model evolusi bertahap. Karena evolusionis dewasa ini menyadari bahwa organ-organ kompleks seperti mata,
sayap, paru-paru, otak dan lain-lain secara eksplisit membantah model evolusi betahap, dalam masalah khusus
ini mereka terpaksa berlindung di balik interpretasi fantastis dari model punctuated equilibrium.
Adakah Catatan Fosil yang Membuktikan Teori Evolusi?
Menurut teori evolusi, evolusi dari satu spesies ke spesies lain berlangsung secara bertahap, sedikit
demi sedikit dlam jangka waktu jutaan tahun. Kesimpulan logis dari klaim ini adalah bahwa seharusnya
pernah terdapat sangat banyak organisme hidup yang disebut “bentuk transisi” selama periode perubahan
yang panjang ini. Karena evolusionis berpendapat bahwa semua makhluk hidup berevolusi dari makhluk
hidup lain melalui perubahan bertahap, maka seharusnya mereka muncul dalam jumlah dan variasi sampai
jutaan.
Jika binatang-binatang seperti ini memang pernah ada, maka kita seharusnya menemukan sisa-sisa
mereka di mana-mana. Malah, jika tesis ini benar, jumlah bentuk-bentuk transisi antara ini pun semestinya
jauh lebih besar daripada spesies binatang masa kini dan sisa-sisa mereka seharusnya ditemukan di seluruh
penjuru dunia.
Semenjak Darwin, evolusionis telah mencari fosil-fosil dan hasil-hasilnya bagi mereka lebih
merupakan kekecewaan yang mendalam. Tidak pernah ditemukan di manapun di dunia – baik di daratan
maupun di kedalaman laut – bentuk transisi antara apa pun dari dua spesies.
Darwin sendiri sadar akan ketiadaan bentuk-bentuk peralihan tersebut. Ia berharap bentuk-bentuk
peralihan itu akan ditemukan di masa mendatang. Namun di balik harapan besarnya ini, ia sadar bahwa
rintangan utama teorinya adalah ketiadaan bentuk-bentuk peralihan. Karena itulah dalam buku The Origin of
Species, pada bab “Difficulties of the Theory” ia menulis:
... Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa
kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi di mana pun? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan
kacau-balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya?.... Menurut
teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka
terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung?.... Dan pada daerah peralihan, yang memiliki kondisi
hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat?
Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya. 1
Darwin memang layak untuk khawatir. Masalah inipun mengganggu evolusionis lain. Seorang ahli
paleontologi Inggris ternama, Derek V. Ager, mengakui fakta ini meskipun dirinya seorang evolusionis:
Jika kita mengamati catatan fosil secara terperinci, baik pada tingkat ordo maupun spesies, maka yang
selalu kita temukan bukanlah evolusi bertahap, namun ledakan tiba-tiba satu kelompok makhluk hidup yang
disertai kepunahan kelompok lain. 2
Kekosongan dalam catatan fosil tidak dapat dijelaskan dengan lamunan bahwa belum cukup banyak
fosil yang digali dan bahwa fosil yang hilang ini akan ditemukan suatu hari. Seorang evolusionis ahli
paleontologi, T. Neville George mejelaskan alasannya:
Tidak ada gunanya lagi menjadikan keterbatasan catatan fosil sebagai alasan. Entah bagaimana, catatan
fosil menjadi berlimpah dan hampir tidak dapat dikelola, dan penemuan bermunculan lebih cepat dari
pengintegrasian... Bagaimanapun, akan selalu ada kekosongan pada catatan fosil. 3

No comments:

Post a Comment

ini komentar