Monday, 19 October 2015

keajaiban pada semut: Mungkinkah Semut Menjadi Penjaga Pintu?



Mungkinkah Semut Menjadi Penjaga Pintu?
Saat menganalisis detail sistem dalam koloni semut, kita merasakan kekuatan kehendak tak tampak itu,
yang menetapkan dan mengatur sistem ini, secara lebih konkret. Marilah kita lihat detail-detail ini.
Biasanya hubungan sarang semut dengan dunia luar adalah melalui lubang kecil yang hanya cukup
untuk seekor semut. Melewati lubang ini perlu “izin”. Dalam koloni ada sejumlah kecil semut yang “bertugas
sebagai penjaga pintu”.
“Penjaga pintu” bertugas menjadi sumbat-hidup dengan bentuk kepalanya yang pas dengan lubang
masuk. Lebih lanjut, warna dan desain kepalanya sama dengan warna kulit pohon di lingkungan sekitar.
Penjaga pintu berjam-jam duduk di lubang masuk dan hanya memperbolehkan masuk semut-semut yang
terdeteksi termasuk koloninya sendiri.4
Ini berarti gagasan memiliki penjaga pintu untuk menjaga bangunan telah dipraktikkan oleh semut
penjaga pintu, sebelum manusia. Semut ini menutupi lubang masuk dengan bagian terkuat tubuhnya,
menyamarkan dirinya, dan melarang masuk semut yang tidak mengucapkan “kata kunci” yang benar.
Jelas sekali kenyataan bahwa kepala semut penjaga tadi pas dengan lubang, warna dan polanya sesuai
dengan lingkungan, dan ia menolak masuk siapa pun yang tidak ia kenal, tak mungkin dilakukan atas
kemauannya sendiri. Jelas ada “tokoh intelektual“ yang mendesain tubuh semut dalam bentuk ini dan
mengilhamkan tugas yang dilakukan semut tersebut. Mengatakan bahwa semut dapat memikirkan sendiri
tugas ini dan bekerja sebagai penjaga pintu tanpa kehilangan ke-sabaran dan tanpa menyerah, jelas bukan
penjelasan yang masuk akal.
Mari kita pikirkan: Mengapa seekor semut mau menjadi penjaga pintu? Jika boleh memilih, untuk apa
ia mengambil tugas yang paling merepotkan dan memerlukan pengorbanan terbesar itu? Jika boleh memilih,
tentu ia akan mengambil pekerjaan yang akan memberinya lingkungan ternyaman dan pelayanan terbaik.
Sebenarnya, pilihan ini terjadi dengan ketetapan Allah. Dan semut penjaga pintu melaksanakan tugasnya
dengan penuh ketaatan. Hanya sang pencipta semut yang mungkin telah mendesain kehidupan koloni yang
demikian sempurna, untuk menunjukkan sisi seni-Nya yang menakjubkan dan telah memberi tugas-tugas
khusus kepada koloni semut yang hidup dengan sistem ini.
Menurut teori evolusi, semut mestinya berkembang dalam setiap segi dan mereka mestinya mencoba
memasuki kasta yang memberi mereka hidup yang lebih nyaman. Akan tetapi, semut penjaga pintu tidak
berupaya ke arah ini, sebaliknya melaksanakan tugas yang diilhamkan itu tanpa salah sepanjang seluruh hidup
mereka.
Semut Ahli
Organisasi, spesialisasi dalam bidang-bidang tertentu, dan komunikasi dalam dunia semut hampir sama
canggihnya dengan yang dimiliki manusia. Sedemikian canggihnya sistem itu, sehingga manusia kini memola
sistem mereka menuruti sistem harmonis tersebut. Hal ini diuraikan dalam kutipan berikut:
Ahli komputer masa kini mencoba mereproduksi bentuk-bentuk perilaku kolektif semut pada robot di
laboratorium. Alih-alih berfokus pada program yang sangat maju, mereka malah berkonsentrasi pada robotrobot
yang bekerja sama berdasarkan unsur-unsur informasi “sederhana”. Prinsip dasarnya sama. Alih-alih
membuat sebuah robot yang sangat canggih, mereka malah mengembangkan sekelompok robot yang tidak
begitu “cerdas”, tetapi menjalankan tugas yang sangat “rumit” seperti yang dilakukan semut dalam
koloninya.… Robot-robot ini tidak canggih dalam hal “kecerdasan” jika dinilai satu per satu, tetapi mereka
akan mencapai pembagian kerja melalui motivasi tindakan kolektif. Ini dimungkinkan karena mereka
memiliki kemampuan untuk bertukar informasi sederhana. Hidup dan kerja sama dalam koloni semut juga
telah mempengaruhi NASA…. Organisasi ini berencana mengirimkan banyak “robot semut” untuk penelitian
di planet Mars alih-alih satu robot canggih. Jadi, sekalipun sebagian robot ini rusak, anggota regu yang tersisa
akan mampu merampungkan tugas mereka.5
Sekarang mari kita lihat contoh yang menarik dari dunia “semut ahli”.
Bagaimana Hidup Berkelompok Mempengaruhi Semut?
Contoh kerja sama antara semut yang paling jelas adalah dalam perilaku spesies semut pekerja yang
disebut Lasius emarginatus. Individu spesies ini memiliki afiliasi yang menarik satu sama lain. Kegiatan
sekelompok empat semut pekerja yang bekerja dengan tanah ini terus berlanjut saat mereka terpisah dari
kelompok yang besar. Namun, jika ada benda, seperti gelas atau batu, di antara mereka yang mencegah
mereka saling melihat, kecepatan kerja mereka melambat.
Contoh lain adalah ketika semut api terpisah dari kelompoknya oleh rintangan tipis, mereka mencoba
mencapai anggota lain koloninya dengan menusuk penghalang ini.
Terjadi banyak variasi pada perilaku semut ketika jumlah individu dalam kelompok berubah. Ketika
jumlah semut dalam sarang meningkat, teramati bahwa kegiatan setiap individu secara proporsional juga
meningkat. Begitu semut pekerja berkelompok, mereka berkumpul, menjadi tenang, dan menghabiskan lebih
sedikit energi. Telah ditemukan bahwa dalam sebagian spesies semut, begitu populasi meningkat, jumlah
oksigen yang digunakan menurun.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa semut tak dapat bertahan hidup sendirian. Makhluk kecil ini
telah diciptakan dengan ciri-ciri yang memungkinkan mereka hidup hanya dalam kelompok atau malahan
nanya dalam koloni. Dan ini membuktikan betapa klaim-klaim evolusionis mengenai proses bersosialisasi
semut bertentangan dengan realitas. Sungguh mustahil semut-semut tersebut hidup sendirian ketika pertama
kali diciptakan, lalu bersosialisasi dan membentuk koloni. Seekor semut yang menghadapi lingkungan seperti
itu mustahil bisa bertahan hidup. Ia harus berkembang biak, membangun sarang untuk dirinya dan larvanya,
mencari makan untuk diri dan keluarganya, menjadi penjaga pintu, men-jadi prajurit, dan juga pekerja yang
merawat larvanya…. Kita tak bisa mengklaim bahwa di zaman dulu semua pekerjaan yang memerlukan
pembagian tugas yang ekstensif ini dapat dilaksanakan oleh seekor semut saja atau bahkan beberapa ekor
semut. Selanjutnya, mustahil dibayangkan bahwa mereka berupaya menuju sosialisasi sembari melaksanakan
berbagai tugas sehari-hari ini.
Kesimpulan dari semua ini: Semut adalah makhluk yang hidup dalam sistem sosial dan berkelompok
sejak hari mereka pertama diciptakan. Semua ini juga membuktikan bahwa semut muncul pada satu saat
dengan segala ciri-ciri lengkapnya. Dengan kata lain, mereka telah “diciptakan”.

No comments:

Post a Comment

ini komentar