Monday, 19 October 2015

keajaiban pada semut: Pertukaran Berita Antara Kelompok Semut



KOMUNIKASI DALAM MASYARAKAT
Al Quran memberi informasi menarik saat membicarakan tentara Nabi Sulaiman as. dan menyebut
adanya “sistem komunikasi” yang maju di antara semut. Ayat itu sebagai berikut:
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: "Hai semut-semut,
masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya,
sedangkan mereka tidak menyadari. (Surat An-Naml: 18)
Penelitian ilmiah tentang semut pada abad ini me-nunjukkan adanya jaringan komunikasi yang luar
biasa di antara makhluk ini. Dalam artikel di majalah National Geographic, hal ini dijelaskan:
Dalam kepala semut terdapat organ-organ indra maje-muk, besar dan kecil, untuk menangkap isyarat
visual dan kimiawi yang vital bagi koloni, yang mungkin terdiri atas sejuta lebih pekerja, yang semuanya
betina. Otaknya mengandung setengah juta sel saraf; matanya majemuk, antenanya berfungsi sebagai hidung
dan ujung jari. Tonjolan di bawah mulut menjadi indra pengecap; bulu menjadi indra peraba.7
Sekalipun tidak kita perhatikan, semut memiliki metode komunikasi yang cukup berbeda berkat organ
pengindra mereka yang peka. Mereka menggunakan organ indra ini setiap saat dalam hidup mereka, dari
menemukan mangsa hingga saling mengikut sesamanya, dari membangun sarang hingga bertarung. Sistem
komunikasi mereka membuat kita – sebagai manusia yang berakal budi – kagum pada 500.000 sel saraf yang
termuat dalam 2 atau 3 milimeter tubuh mereka. Harus kita ingat di sini, setengah juta sel saraf dan sistem
komunikasi yang rumit tersebut dimiliki oleh semut yang ukuran tubuhnya hampir sepersejuta tubuh
manusia.
Dalam penelitian yang dilakukan pada makhluk sosial seperti semut, lebah, dan rayap yang hidup
berkoloni, respon hewan-hewan ini dalam proses komunikasi digolongkan dalam beberapa kategori utama:
meng-ambil posisi siaga, bertemu, membersihkan, bertukar makanan cair, mengelompok, mengenali,
mendeteksi kasta.… 8
Semut, yang membentuk struktur sosial yang tertib dengan berbagai respon ini, menjalani hidup
berdasarkan pertukaran berita timbal balik dan mereka tidak mengalami kesulitan melakukannya. Dapat
dikatakan bahwa semut, dengan sistem komunikasi yang mengesankan itu, seratus persen berhasil dalam halhal
yang kadang tak dapat diselesaikan atau disepakati manusia melalui berbicara (misalnya bertemu,
bercerita, mem-bersihkan, bertahan dan lain-lain).
Pertukaran Berita Antara Kelompok Semut
Pertama-tama semut pencari pergi ke sumber makanan yang baru ditemukan. Lalu mereka memanggil
semut lain dengan cairan yang mereka sekresikan dalam kelenjar yang disebut feromon(*). Saat kerumunan di
sekitar makanan membesar, sekresi feromon membatasi pekerja lagi. Jika makanan sangat kecil atau jauh,
pencari menyesuaikan jumlah semut yang mencoba mencapai makanan dengan mengeluarkan isyarat. Jika
makanan besar, semut mencoba lebih giat untuk meninggalkan lebih banyak jejak, sehingga lebih banyak
semut dari sarang yang membantu para pemburu. Apa pun yang terjadi, tak pernah ada masalah dalam
konsumsi makanan dan pemindahannya ke sarang, karena di sini ada “kerja tim” yang sempurna.
Contoh lain berkaitan dengan semut penjelajah yang bermigrasi dari sarang ke sarang. Semut ini
mendekati sarang tua dari sarang yang baru ditemukan dengan meninggalkan jejak. Para pekerja lain
memeriksa sa-rang baru itu dan jika mereka yakin, mereka juga mulai meninggalkan feromon mereka sendiri
(jejak kimiawi) di atas jejak lama. Oleh karena itu, semut yang berjalan di antara dua sarang itu meningkat
jumlahnya dan mereka menyiapkan sarang. Selama pekerjaan ini, semut pekerja tidak bersantai. Mereka
membangun organisasi dan pembagian kerja tertentu di antara mereka. Tugas seluruh kelompok yang
diperkirakan oleh semut yang mendeteksi sarang baru adalah sebagai berikut:
1. Bertindak sebagai pengumpul di wilayah baru.
2. Datang ke wilayah baru dan berjaga.
3. Mengikuti penjaga untuk menerima perintah pertemuan.
4. Membuat survei terperinci wilayah tersebut.
Tentu saja, kita tidak bisa menyepelekan saja tanpa perenungan bahwa rencana aksi sempurna
tersebut telah dipraktikkan semut sejak hari pertama mereka muncul. Pembagian kerja yang disyaratkan
rencana seperti ini tidak dapat diterapkan oleh individu yang hanya memikirkan hidup dan kepentingannya
sendiri. Lalu muncullah pertanyaan berikut: “Siapa yang mengilhamkan rencana ini dalam diri semut selama
berjuta tahun dan siapa yang memastikan penerapannya?” Sewajarnya, diperlukan kecerdasan dan kekuasaan
tinggi untuk komunikasi kelompok yang unggul ini. Kebenarannya jelas. Allah, Pencipta segala makhluk dan
pemilik kebijakan tak terbatas, memberi kita jalan untuk memahami kekuasaan-Nya dengan menampilkan
dunia semut yang sistematis ini.
Komunikasi Kimiawi
Semua kategori komunikasi yang disebut di atas dapat dikelompokkan dalam judul “Isyarat Kimiawi”.
Isyarat kimiawi ini memainkan peran terpenting dalam organisasi koloni semut. Semiokemikal adalah nama
umum zat kimia yang digunakan semut untuk tujuan menetapkan komunikasi. Pada dasarnya ada dua jenis
semiokemikal, yaitu feromon dan alomon.
Alomon adalah zat yang digunakan untuk komunikasi antargenus. Namun, seperti yang dijelaskan
sebelumnya, feromon adalah isyarat kimiawi yang terutama digunakan dalam genus yang sama dan saat
disekresikan oleh seekor semut dapat dicium oleh yang lain. Zat kimia ini diduga di-produksi dalam kelenjar
endokrin. Saat semut menyekresi cairan ini sebagai isyarat, yang lain menangkap pesan lewat bau atau rasa
dan menanggapinya. Penelitian mengenai feromon semut telah menyingkapkan bahwa semua isyarat
disekresikan menurut kebutuhan koloni. Selain itu, konsentrasi feromon yang disekresikan semut bervariasi
menurut kedaruratan situasi9.
Seperti terlihat, diperlukan pengetahuan kimia yang mendalam untuk mengelola tugas yang dilakukan
semut. Kita dapat menganalisis zat kimia yang diproduksi semut hanya melalui uji laboratorium, dan harus
menuntut ilmu bertahun-tahun untuk dapat melakukannya. Namun semut dapat menyekresikan zat ini kapan
saja mereka perlu, dan telah melakukannya sejak hari mereka menetas, serta tahu betul tanggapan apa yang
perlu diberikan kepada setiap sekresi.
Kenyataan bahwa mereka dapat mengidentifikasi zat kimia secara tepat begitu menetas menunjukkan
adanya “instruktur” yang memberi mereka pen-didikan ilmu kimia saat menetas. Mengklaim hal sebaliknya
berarti menerima bahwa semut telah mempelajari ilmu kimia perlahan-lahan dan mulai melakukan percobaan:
ini melanggar logika. Semut mengenal zat-zat kimia ini tanpa pendidikan apa pun saat menetas. Kita tak bisa
berkata bahwa semut lain atau makhluk hidup lain adalah “guru” semut itu. Tak ada serangga, tak ada
makhluk hidup – termasuk manusia – yang mampu mengajari semut cara memproduksi zat kimia dan
berkomunikasi dengannya. Jika ada tindakan pengajaran sebelum lahir, satu-satunya kehendak yang mampu
melakukan tindakan ini adalah Allah, yang merupakan Pencipta segala makhluk dan “Rabb (Pendidik)” langit
dan bumi.
Banyak orang bahkan tak tahu arti “feromon”, sesuatu yang disekresi semut terus-menerus dalam
kehidupan sehari-hari. Namun berkat zat-zat kimia ini, setiap semut yang baru menetas mampu melakukan
sistem komunikasi sosial yang sempurna; sistem komunikasi sosial yang tak menyisakan ruang untuk
meragukan adanya sang Pencipta dengan kekuasaan tak terbatas.…

No comments:

Post a Comment

ini komentar