Kartu
Identitas Semut: Bau Koloni
Telah
disebutkan sebelumnya bahwa semut dapat saling mengenali dan membedakan
keluarga dan
temannya
yang sekoloni. Para ahli zoologi masih menyelidiki bagaimana semut dapat
mengenali keluarganya.
Sementara
manusia tak dapat membedakan beberapa semut yang mungkin ia temui, mari kita
lihat sekarang
bagaimana
makhluk yang sangat serupa ini dapat saling mengenali.
Semut dapat
dengan mudah mendeteksi apakah seekor semut lain berasal dari koloni yang sama
atau
tidak.
Semut pekerja menyentuh tubuh semut satunya untuk mengenalinya, kalau-kalau semut
itu memasuki
sarangnya.
Ia dapat langsung membedakan semut yang sekoloni dengan-nya dan yang tidak,
berkat adanya
bau koloni
khusus pada tubuh. Jika semut yang memasuki sarang adalah semut asing,
gerombolan semut akan
menyerang
tamu tak diundang ini secara kejam. Penghuni sarang menggigiti tubuh semut
asing ini dengan
rahang
mereka yang kuat dan membuatnya tak berdaya dengan asam format, sitronelal, dan
zat beracun lain
yang mereka
sekresikan.
Jika
tamunya berasal dari spesies yang sama tetapi dari koloni lain, mereka juga
dapat memahaminya.
Dalam hal
ini, semut tamu diterima di dalam sarang. Akan tetapi, semut tamu ini diberi
makanan lebih sedikit
sampai ia
memperoleh bau koloni tersebut.12
Bagaimana
Bau Koloni Diperoleh?
Sumber bau
yang memastikan untuk bisa dikenali oleh semut se-koloni tidak dapat sepenuhnya
dijelaskan.
Namun, sejauh yang telah ditemukan, semut menggunakan hidrokarbon untuk
membedakan bau di
antara
mereka.
Percobaan
yang dilakukan menunjukkan bahwa semut yang sespesies tapi tidak sekoloni dapat
saling
mengenali
melalui perbedaan hidro-karbon. Percobaan yang menarik dilaksanakan untuk
memahami hal ini.
Pertama,
pekerja-pekerja sekoloni disirami cairan yang membawa bau semut yang sespesies
dengan mereka,
tetapi
tidak sekoloni. Diamati bahwa sementara semut lain yang sekoloni menampilkan
perilaku agresif
kepada
semut yang disiram cairan tersebut, koloni lain yang baunya digunakan untuk
percobaan ini tidak
bereaksi
melawan pekerja-pekerja ini.13
Apakah Bau
Koloni Ini Mengalami Evolusi?
Hal penting
mengenai bau koloni untuk direnungkan dengan hati-hati adalah masalah evolusi.
Bagaimana
mekanisme evolusi menjelaskan kenyataan bahwa semut, atau anggota koloni
serangga lain
(lebah,
rayap, dan lain-lain) dapat mengenali temannya melalui feromon eksklusif?
Orang yang
mencoba membela teori evolusi, meskipun ada berbagai ketidakmasukakalan,
mengklaim
bahwa
feromon adalah hasil seleksi alam (pelestarian perubahan menguntungkan dan
penghilangan perubahan
yang
berbahaya yang terjadi pada makhluk hidup). Namun, ini tak mungkin terjadi
dalam spesies serangga
mana pun,
termasuk semut. Contoh yang paling mencolok untuk hal ini adalah lebah madu.
Saat menyengat
musuh,
lebih madu menghasilkan feromon yang memberi tahu lebah lainnya akan adanya
bahaya. Namun,
setelah itu
ia langsung mati. Dalam hal ini, ini berarti bahwa feromon ini diproduksi hanya
sekali. Karenanya
“perubahan
menguntungkan” seperti ini tak mungkin diteruskan ke generasi berikut dan
dilestarikan oleh
seleksi
alam. Penjelasan ini menunjukkan bahwa komunikasi kimiawi di antara spesies
serangga yang
memiliki
sistem kasta ini tak mungkin berevolusi dengan metode seleksi alam. Ciri-ciri
serangga ini, yang
sama sekali
meng-gugurkan teori seleksi alam, menunjukkan sekali lagi bahwa Dia yang
menetapkan jaringan
komunikasi
di antara mereka adalah Dia “yang men-ciptakan mereka pertama kali.”
Ajakan
Semut
Semut
memiliki tingkat pengorbanan diri yang sangat tinggi dan, karenanya, mereka
selalu
mengundang
teman mereka ke setiap sumber makanan yang ditemukan dan mereka berbagi
makanan.
Dalam
situasi seperti ini, semut yang menemukan makanan meng-arahkan semut lain ke
situ. Untuk hal
ini metode
berikut digunakan: Semut penjelajah pertama yang menemukan sumber makanan
mengisi
temboloknya
dan pulang. Selagi pulang, ia menyeret perutnya di tanah sebentar-sebentar dan
meninggalkan
isyarat
kimiawi. Namun, ajakan ini tidak berakhir di sini. Ia mengitari bukit semut
beberapa kali sejenak. Ia
melakukannya
sekitar tiga hingga enam belas kali. Gerakan ini memastikan adanya hubungan
dengan temanteman
sesarang.
Ketika si penjelajah ingin kembali ke sumber makanan, semua teman yang telah
ditemuinya
ingin
mengikutinya. Namun, hanya teman yang berada dalam kontak antena terdekat dapat
menemaninya
keluar.
Saat mencapai makanan, semut pencari langsung kembali ke bukit dan mengambil
peran sebagai tuan
rumah.
Semut pencari dan teman-teman pekerja lainnya saling terhubung melalui isyarat
indra terus-menerus
dan melalui
hormon feromon pada permukaan tubuh mereka.
Semut dapat
mencapai sasaran dengan mengikuti jejak ke makanan, meskipun tak ada lagi semut
yang
mengajak.
Berkat adanya jejak yang dibuat penjelajah dari makanan ke sarang, saat
penjelajah tiba di sarang
dan
melakukan “tarian batu”, teman-teman sarangnya mencapai sumber makanan tanpa
bantuan dari si
pengajak.
Sisi lain
yang menarik dari semut adalah banyaknya produksi senyawa kimia yang digunakan
dalam
proses
ajakan, masing-masing dengan fungsi berlainan. Tidak diketahui mengapa begitu
banyak zat kimia
yang
digunakan agar mereka bisa berkumpul di sekeliling sumber makanan .Tetapi,
sejauh yang bisa dilihat,
keanekaragaman
zat kimia tersebut memastikan setiap jejak itu berbeda-beda. Selain itu, semut
menyampaikan
isyarat berbeda-beda saat mengirim pesan, dan intensitas setiap isyarat pun
berbeda-beda.
Mereka
meningkatkan intensitas isyarat ketika koloni lapar atau ketika diperlukan
daerah sarang yang baru.
Solidaritas
dalam masyarakat semut pada tingkat setinggi ini dapat dipandang sebagai
perilaku yang
patut
direnungkan dan diteladani manusia. Jika dibandingkan dengan manusia yang tak
ragu melanggar hak
orang lain
demi kepentingan sendiri – satu-satunya hal yang mereka pikirkan – semut yang
sangat
mengorbankan
diri itu jauh lebih etis.
Tidak
mungkin menjelaskan perilaku semut yang sama sekali tidak egois ini dalam
kerangka teori
evolusi.
Ini karena evolusi mengasumsikan satu-satunya aturan di alam adalah pertarungan
demi
kelangsungan
hidup dan konflik yang menyertainya. Namun, ciri-ciri perilaku yang ditampilkan
semut dan
banyak
hewan lain menyanggah hal ini dan menunjukkan realitas pengorbanan.
Sebenarnya,
teori evolusi tidak lebih dari usaha mereka yang ingin mengesahkan keegoisan
mereka
sendiri dan
menimpakan keegoisan ini ke seluruh alam.
No comments:
Post a Comment
ini komentar