Monday, 19 October 2015

keajaiban pada semut: Fungsi Sentuhan dalam Komunikasi Kimiawi



Fungsi Sentuhan dalam Komunikasi Kimiawi
Komunikasi semut dengan bersentuhan antena dalam memelihara organisasi intrakoloni membuktikan
penggunaan “bahasa antena” dalam arti sepenuhnya.
Isyarat antena semut yang dilakukan dengan bersentuhan ini digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya
dimulainya makan, ajakan, dan pertemuan sosial agar teman-teman sesarang saling mengenal. Contohnya,
dalam sejenis spesies semut pekerja yang hidup di Afrika, para pekerja pertama-tama bersentuhan antena
ketika bertemu. Di sini “berjabatan antena” berarti sapaan dan ajakan masuk sarang.
Gerakan ajakan ini sangat jelas dalam beberapa spesies semut (Hypo ponera). Saat dua ekor pekerja
bertemu berhadapan, semut pengajak memiringkan kepalanya ke samping 90 derajat dan menyentuh bagian
atas dan bawah kepala temannya dengan antena. Semut yang diajak menanggapi dengan cara yang sama.14
Saat semut menyentuh tubuh teman sarangnya, tujuannya bukanlah memberi informasi, melainkan
memperoleh informasi dengan mendeteksi zat kimia yang disekresi. Seekor semut mengetuk ringan tubuh
teman sarangnya dan menyentuh kuat dengan antena. Kalau ia mendekati teman sarangnya, tujuannya adalah
membawa isyarat kimiawi sedekat mungkin. Alhasil, ia akan mampu mendeteksi dan mengikuti jalur bau
yang baru ditinggalkan temannya dan mencapai sumber makanan.
Contoh paling mencolok yang dapat diajukan untuk komunikasi dengan sentuhan ini adalah semut yang
memberi makan semut lain dengan makanan yang disimpan dalam temboloknya, dengan cara mengeluarkan
makanan itu dari mulutnya dengan sentuhan pendek. Dalam percobaan menarik yang dilakukan pada topik
ini, berbagai bagian tubuh semut pekerja dari spesies Myrmica dan Formica distimulasi dengan bulu manusia
dan berhasil dibuat mengeluarkan makanan cair dari mulut. Semut yang paling peka adalah semut yang baru
makan dan sedang mencari teman sarangnya untuk berbagi apa yang baru dimakannya. Para peneliti mencatat
bahwa beberapa serangga dan parasit menyadari adanya taktik semacam ini dan mereka mendapat makanan
dengan mempraktikkan metode ini. Yang harus dilakukan serangga untuk menarik per-hatian semut hanyalah
menyentuh tubuh semut sedikit dengan antena dan kaki depannya. Lalu semut yang disentuh akan
memberikan makanannya, meskipun makhluk yang bersentuhan dengannya adalah makhluk jenis lain.15
Kemampuan semut untuk memahami keinginan semut lain melalui sentuhan antena pendek ini
menunjukkan bahwa semut mampu, dapat dikatakan, “berbicara” di antara mereka. Bagaimana “bahasa
antena” antar semut ini dipelajari oleh semua semut adalah topik lain yang layak dipikirkan. Apakah mereka
mengikuti pelatihan tentang ini? Membicarakannya berarti kita juga harus membicarakan adanya Yang Mahakuasa
yang memberikan pelatihan. Karena semut tak mungkin melakukannya, Yang Mahakuasa ini adalah
Allah, yang melalui ilham mengajari bahasa untuk berkomunikasi kepada semua semut.
Perilaku berbagi makanan yang dipraktikkan di antara semut adalah jenis pengorbanan yang tidak dapat
dijelaskan dengan teori evolusi. Sebagian evolusionis yang memandang peribahasa “ikan besar memakan ikan
kecil” sebagai kunci kehidupan di bumi, mau tak mau harus menarik kembali perkataannya saat dihadapkan
pada pengorbanan yang ditampilkan semut. Dalam koloni semut, “semut besar” tidak berkembang dengan
memakan “semut kecil”. Ia malah memberi makan “semut kecil” dan membuatnya tumbuh. Semua semut siap
menerima makanan yakni “ransum”yang diberikan kepadanya dan pasti memberikan kelebihannya kepada
anggota koloni lain.
Alhasil, semua contoh ini menunjukkan bahwa semut adalah masyarakat makhluk hidup yang tunduk
pada kehendak sang Pencipta dan bertindak menurut ilham-Nya. Oleh karena itu, tidaklah benar jika kita
memandang mereka sebagai organisme yang sama sekali tak sadar, karena mereka memiliki kesadaran yang
mencerminkan kehendak Pencipta mereka. Sesungguhnya dalam Al Quran, Allah mengajak memperhatikan
fakta yang menarik ini dan memberi tahu kita bahwa semua makhluk hidup sebenarnya membentuk
masyarakat sendiri, yakni mereka hidup menurut takdir Ilahi dan sesuai dengan ilham.
Dan tiadalah bintang-bintang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua
sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam
Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Surat Al An'aam: 38)
Komunikasi dengan Bunyi
Komunikasi dengan bunyi adalah metode lain yang sering digunakan semut. Dua jenis produksi bunyi
telah ditemukan. Salah satunya adalah bunyi “ketukan” dan getaran yang diproduksi dengan memukulkan
tubuh pada rintangan atau tanah, dan satu lagi adalah nada tinggi yang diproduksi dengan menggosokkan
bagian tubuh tertentu16.
Isyarat bunyi yang diproduksi dengan memukulkan tubuh biasanya digunakan oleh koloni yang
memiliki sarang di pohon. Contohnya, semut tukang kayu berkomunikasi dengan “bermain gendang”. Mereka
mulai “bermain gendang” saat menghadapi bahaya apa saja yang mendekati sarang mereka. Bahaya ini bisa
berupa bunyi yang mencemaskan atau sentuhan yang mereka rasakan atau arus udara yang mendadak timbul.
Semut pemukul gendang mengetuk tanah dengan dagu dan perutnya dengan cara menggoyangkan tubuhnya
maju-mundur. Dengan cara ini, isyarat mudah terkirim melalui kulit pohon tipis sejauh beberapa desimeter.17
Semut tukang kayu Eropa mengirim getaran ke teman sarang-nya yang berada pada jarak 20 cm atau lebih
dengan cara mengetukkan dagu dan perut pada kayu ruangan dan terowongan. Di sini harus diperhitungkan
bahwa 20 cm bagi semut setara dengan 60-70 meter bagi manusia.
Semut hampir tuli terhadap getaran yang disampaikan melalui udara. Namun, mereka sangat peka pada
getaran suara yang dihantarkan melalui zat padat. Ini adalah isyarat tanda bahaya yang paling efisien bagi
mereka. Ketika mendengarnya, mereka mempercepat langkah, bergerak menuju asal getaran, dan menyerang
semua makhluk hidup yang bergerak yang mereka lihat di situ.
Panggilan ini selalu dipatuhi anggota koloni mana pun. Ini adalah petunjuk betapa suksesnya organisasi
dalam masyarakat semut. Bahkan sekelompok kecil manusia yang menanggapi panggilan tanda bahaya secara
kolektif – tanpa kecuali, dan tanpa anarki berkembang – adalah hal yang sangat sulit dalam praktik. Akan
tetapi, semut mampu melakukan apa yang diperintahkan tanpa membuang waktu, sehingga mereka dapat
meneruskan kehidupannya tanpa disiplin dalam koloni terganggu sesaat pun juga.
Produksi suara bernada tinggi sistemnya lebih rumit daripada proses bermain gendang. Bunyi
dihasilkan dengan menggosokkan beberapa bagian tubuh. Semut menghasilkan bunyi ini dengan
menggosokkan organ tubuh di bagian belakang. Jika kita mendekatkan telinga ke semut pekerja pemanen, kita
bisa mendengar mereka menghasilkan suara bernada tinggi.
Tiga fungsi utama komunikasi suara telah ditemukan dalam spesies yang berbeda. Ketiganya dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Komunikasi suara pada semut pemotong daun berfungsi sebagai sistem peringatan bawah tanah. Ini
biasanya digunakan kalau sebagian koloni terkubur di bawah longsoran sarang. Pekerja mulai bergerak
menggali untuk menyelamatkan teman-temannya, sebagai tanggapan atas isyarat bunyi yang diterima.
2. Suara bernada tinggi digunakan dalam beberapa spesies ketika melakukan perkawinan dengan ratu.
Saat ratu-ratu yang muda dikumpulkan di tanah dan/atau di tumbuhan untuk melakukan perkawinan, dan telah
mendapatkan cukup sperma, mereka menghasilkan bunyi ber-nada tinggi untuk mencegah kawanan semut
jantan menangkap mereka.
3. Dalam spesies lain, bunyi digunakan untuk meningkatkan efisiensi feromon yang diproduksi selama
anggota-anggota sarang bertemu untuk menemukan makanan atau sarang baru.18
Terkadang dalam spesies tertentu, pencari makanan memungkinkan semut lain mengelilingi mangsa,
dengan isyarat yang mereka hasilkan ketika mereka menemukan mangsa. Para pekerja berkumpul dan
mencapai mangsa dalam 1-2 menit berkat bunyi bernada tinggi ini. Hal-hal ini merupakan keuntungan besar
bagi spesies semut.

No comments:

Post a Comment

ini komentar