Fungsi
Sentuhan dalam Komunikasi Kimiawi
Komunikasi
semut dengan bersentuhan antena dalam memelihara organisasi intrakoloni
membuktikan
penggunaan
“bahasa antena” dalam arti sepenuhnya.
Isyarat
antena semut yang dilakukan dengan bersentuhan ini digunakan untuk berbagai
tujuan, misalnya
dimulainya
makan, ajakan, dan pertemuan sosial agar teman-teman sesarang saling mengenal.
Contohnya,
dalam
sejenis spesies semut pekerja yang hidup di Afrika, para pekerja pertama-tama
bersentuhan antena
ketika
bertemu. Di sini “berjabatan antena” berarti sapaan dan ajakan masuk sarang.
Gerakan
ajakan ini sangat jelas dalam beberapa spesies semut (Hypo ponera). Saat
dua ekor pekerja
bertemu
berhadapan, semut pengajak memiringkan kepalanya ke samping 90 derajat dan
menyentuh bagian
atas dan
bawah kepala temannya dengan antena. Semut yang diajak menanggapi dengan cara
yang sama.14
Saat semut
menyentuh tubuh teman sarangnya, tujuannya bukanlah memberi informasi,
melainkan
memperoleh
informasi dengan mendeteksi zat kimia yang disekresi. Seekor semut mengetuk ringan
tubuh
teman
sarangnya dan menyentuh kuat dengan antena. Kalau ia mendekati teman sarangnya,
tujuannya adalah
membawa
isyarat kimiawi sedekat mungkin. Alhasil, ia akan mampu mendeteksi dan
mengikuti jalur bau
yang baru
ditinggalkan temannya dan mencapai sumber makanan.
Contoh
paling mencolok yang dapat diajukan untuk komunikasi dengan sentuhan ini adalah
semut yang
memberi
makan semut lain dengan makanan yang disimpan dalam temboloknya, dengan cara
mengeluarkan
makanan itu
dari mulutnya dengan sentuhan pendek. Dalam percobaan menarik yang dilakukan
pada topik
ini,
berbagai bagian tubuh semut pekerja dari spesies Myrmica dan Formica distimulasi
dengan bulu manusia
dan
berhasil dibuat mengeluarkan makanan cair dari mulut. Semut yang paling peka
adalah semut yang baru
makan dan
sedang mencari teman sarangnya untuk berbagi apa yang baru dimakannya. Para
peneliti mencatat
bahwa
beberapa serangga dan parasit menyadari adanya taktik semacam ini dan mereka
mendapat makanan
dengan
mempraktikkan metode ini. Yang harus dilakukan serangga untuk menarik
per-hatian semut hanyalah
menyentuh
tubuh semut sedikit dengan antena dan kaki depannya. Lalu semut yang disentuh
akan
memberikan
makanannya, meskipun makhluk yang bersentuhan dengannya adalah makhluk jenis
lain.15
Kemampuan
semut untuk memahami keinginan semut lain melalui sentuhan antena pendek ini
menunjukkan
bahwa semut mampu, dapat dikatakan, “berbicara” di antara mereka. Bagaimana
“bahasa
antena”
antar semut ini dipelajari oleh semua semut adalah topik lain yang layak
dipikirkan. Apakah mereka
mengikuti
pelatihan tentang ini? Membicarakannya berarti kita juga harus membicarakan
adanya Yang Mahakuasa
yang
memberikan pelatihan. Karena semut tak mungkin melakukannya, Yang Mahakuasa ini
adalah
Allah, yang
melalui ilham mengajari bahasa untuk berkomunikasi kepada semua semut.
Perilaku
berbagi makanan yang dipraktikkan di antara semut adalah jenis pengorbanan yang
tidak dapat
dijelaskan
dengan teori evolusi. Sebagian evolusionis yang memandang peribahasa “ikan
besar memakan ikan
kecil”
sebagai kunci kehidupan di bumi, mau tak mau harus menarik kembali perkataannya
saat dihadapkan
pada
pengorbanan yang ditampilkan semut. Dalam koloni semut, “semut besar” tidak
berkembang dengan
memakan
“semut kecil”. Ia malah memberi makan “semut kecil” dan membuatnya tumbuh.
Semua semut siap
menerima
makanan yakni “ransum”yang diberikan kepadanya dan pasti memberikan
kelebihannya kepada
anggota
koloni lain.
Alhasil,
semua contoh ini menunjukkan bahwa semut adalah masyarakat makhluk hidup yang
tunduk
pada
kehendak sang Pencipta dan bertindak menurut ilham-Nya. Oleh karena itu,
tidaklah benar jika kita
memandang
mereka sebagai organisme yang sama sekali tak sadar, karena mereka memiliki
kesadaran yang
mencerminkan
kehendak Pencipta mereka. Sesungguhnya dalam Al Quran, Allah mengajak
memperhatikan
fakta yang
menarik ini dan memberi tahu kita bahwa semua makhluk hidup sebenarnya
membentuk
masyarakat
sendiri, yakni mereka hidup menurut takdir Ilahi dan sesuai dengan ilham.
Dan
tiadalah bintang-bintang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan
kedua
sayapnya,
melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di
dalam
Al-Kitab,
kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Surat Al An'aam: 38)
Komunikasi
dengan Bunyi
Komunikasi
dengan bunyi adalah metode lain yang sering digunakan semut. Dua jenis produksi
bunyi
telah
ditemukan. Salah satunya adalah bunyi “ketukan” dan getaran yang diproduksi
dengan memukulkan
tubuh pada
rintangan atau tanah, dan satu lagi adalah nada tinggi yang diproduksi dengan
menggosokkan
bagian
tubuh tertentu16.
Isyarat
bunyi yang diproduksi dengan memukulkan tubuh biasanya digunakan oleh koloni
yang
memiliki
sarang di pohon. Contohnya, semut tukang kayu berkomunikasi dengan “bermain gendang”.
Mereka
mulai
“bermain gendang” saat menghadapi bahaya apa saja yang mendekati sarang mereka.
Bahaya ini bisa
berupa
bunyi yang mencemaskan atau sentuhan yang mereka rasakan atau arus udara yang
mendadak timbul.
Semut
pemukul gendang mengetuk tanah dengan dagu dan perutnya dengan cara
menggoyangkan tubuhnya
maju-mundur.
Dengan cara ini, isyarat mudah terkirim melalui kulit pohon tipis sejauh
beberapa desimeter.17
Semut
tukang kayu Eropa mengirim getaran ke teman sarang-nya yang berada pada jarak
20 cm atau lebih
dengan cara
mengetukkan dagu dan perut pada kayu ruangan dan terowongan. Di sini harus
diperhitungkan
bahwa 20 cm
bagi semut setara dengan 60-70 meter bagi manusia.
Semut
hampir tuli terhadap getaran yang disampaikan melalui udara. Namun, mereka
sangat peka pada
getaran
suara yang dihantarkan melalui zat padat. Ini adalah isyarat tanda bahaya yang
paling efisien bagi
mereka.
Ketika mendengarnya, mereka mempercepat langkah, bergerak menuju asal getaran,
dan menyerang
semua
makhluk hidup yang bergerak yang mereka lihat di situ.
Panggilan
ini selalu dipatuhi anggota koloni mana pun. Ini adalah petunjuk betapa
suksesnya organisasi
dalam
masyarakat semut. Bahkan sekelompok kecil manusia yang menanggapi panggilan
tanda bahaya secara
kolektif –
tanpa kecuali, dan tanpa anarki berkembang – adalah hal yang sangat sulit dalam
praktik. Akan
tetapi,
semut mampu melakukan apa yang diperintahkan tanpa membuang waktu, sehingga
mereka dapat
meneruskan
kehidupannya tanpa disiplin dalam koloni terganggu sesaat pun juga.
Produksi
suara bernada tinggi sistemnya lebih rumit daripada proses bermain gendang.
Bunyi
dihasilkan
dengan menggosokkan beberapa bagian tubuh. Semut menghasilkan bunyi ini dengan
menggosokkan
organ tubuh di bagian belakang. Jika kita mendekatkan telinga ke semut pekerja
pemanen, kita
bisa
mendengar mereka menghasilkan suara bernada tinggi.
Tiga fungsi
utama komunikasi suara telah ditemukan dalam spesies yang berbeda. Ketiganya
dapat
diuraikan
sebagai berikut:
1.
Komunikasi suara pada semut pemotong daun berfungsi sebagai sistem peringatan
bawah tanah. Ini
biasanya
digunakan kalau sebagian koloni terkubur di bawah longsoran sarang. Pekerja
mulai bergerak
menggali
untuk menyelamatkan teman-temannya, sebagai tanggapan atas isyarat bunyi yang diterima.
2. Suara
bernada tinggi digunakan dalam beberapa spesies ketika melakukan perkawinan
dengan ratu.
Saat
ratu-ratu yang muda dikumpulkan di tanah dan/atau di tumbuhan untuk melakukan
perkawinan, dan telah
mendapatkan
cukup sperma, mereka menghasilkan bunyi ber-nada tinggi untuk mencegah kawanan
semut
jantan
menangkap mereka.
3. Dalam
spesies lain, bunyi digunakan untuk meningkatkan efisiensi feromon yang
diproduksi selama
anggota-anggota
sarang bertemu untuk menemukan makanan atau sarang baru.18
Terkadang
dalam spesies tertentu, pencari makanan memungkinkan semut lain mengelilingi
mangsa,
dengan
isyarat yang mereka hasilkan ketika mereka menemukan mangsa. Para pekerja
berkumpul dan
mencapai
mangsa dalam 1-2 menit berkat bunyi bernada tinggi ini. Hal-hal ini merupakan
keuntungan besar
bagi
spesies semut.
No comments:
Post a Comment
ini komentar