Untuk Mata
yang Melihat …
Dengan
berbagai metode komunikasi mereka, semut dapat dibandingkan dengan manusia yang
dapat
berbicara
beberapa bahasa asing. Mereka mampu berkomunikasi dalam 3-4 bahasa di antara
mereka sendiri
dan mereka
dapat menjalani hidup dengan cara yang bebas masalah. Mereka bisa melestarikan
koloni yang
berpopulasi
ratusan ribu atau terkadang jutaan, dan bertahan sepanjang hidup mereka tanpa
menimbulkan
kekacauan.
Namun,
sistem komunikasi yang telah kami uraikan sejauh ini barulah salah satu
mukjizat dunia hewan.
Ketika kita
menganalisis manusia maupun semua makhluk hidup lain (dari makhluk bersel
tunggal hingga
makhluk
multisel), kita dapat menemukan ciri-ciri yang berlainan, masing-masing
merupakan mukjizat yang
unik dan
terpisah, dengan tempatnya sendiri-sendiri dalam tatanan ekologis.
Bagi mata
yang dapat melihat, semua mukjizat yang diciptakan di sekelilingnya, dan bagi
hati yang
dapat
merasa, cukuplah ia melihat sistem komunikasi luar biasa dari semut yang
berukuran begitu kecil, maka
ia akan
menghargai kekuatan, pengetahuan, dan hikmah tak terbatas milik Allah, yang
merupakan Pemilik
tunggal dan
Penguasa segala makhluk hidup. Dalam Al Quran, Allah menyebut orang-orang yang
tidak
memiliki
kemampuan ini dan yang tidak menghargai kekuasaan-Nya sebagai berikut:
Maka apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan
itu mereka
dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di
dalam dada.
(Surat
Al-Hajj: 46)
(*) FEROMON
berasal dari kata
“fer” (membawa) dan “hormon” (hormon) dan artinya “pembawa
hormon”.
Feromon adalah isyarat yang digunakan di antara hewan sespesies dan biasanya
diproduksi
dalam
kelenjar khusus untuk disebarkan.
Komunikasi
melalui feromon sangat meluas dalam keluarga serangga. Feromon bertindak
sebagai alat
pemikat
seksual antara betina dan jantan. Jenis feromon yang sering dianalisis adalah
yang digunakan
ngengat
sebagai zat untuk melakukan perkawinan. Ngengat gipsi betina dapat mempengaruhi
ngengat
jantan
beberapa kilometer jauhnya dengan memproduksi feromon yang disebut “disparlur”.
Karena
ngengat
jantan mampu mengindra beberapa ratus molekul dari betina yang mengeluarkan
isyarat dalam
hanya satu
mililiter udara, disparlur tersebut efektif saat disebarkan di wilayah yang
sangat besar
sekalipun.
Feromon
memainkan peran penting dalam komunikasi serangga. Semut menggunakan feromon
sebagai
penjejak
untuk menunjukkan jalan menuju sumber makanan. Bila lebah madu menyengat, ia
tak hanya
meninggalkan
sengat pada kulit korbannya, tetapi juga meninggalkan zat kimia yang memanggil
lebah
madu lain
untuk menyerang. Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi
feromon
sebagai zat
tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh; feromon disebar di udara
dan
mengumpulkan
pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi
feromon
sehingga
isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya.
Di kanan
adalah diagram anatomis semut spesies Formica. Otak dan sistem saraf
ditunjukkan dalam
warna biru,
sistem pencernaan warna merah muda, jantung warna merah, sedangkan kelenjar
endokrin
dan struktur
terkait warna kuning. 1. Kelenjar mandibular. 2. Pharynx. 3. Kelenjar
profaringeal. 4.
Kelenjar
pascafaringeal. 5. Otak. 6. Kelenjar labial. 7. Esofagus. 8. Sistem saraf. 9.
Kelenjar
metapleural.
10. Jantung. 11. Lambung. 12. Proventrikulus. 13. Kantung malpighi. 14. Usus
tengah. 15.
Rektum. 16.
Anus. 17. Kelenjar Dufour. 18. Kantung racun.
Allah
Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang
dikehendaki-Nya
dan Dialah Yang Mahakuat lagi Maha Perkasa.
(Surat
Asy-Syura:19)
No comments:
Post a Comment
ini komentar