Monday, 19 October 2015

keajaiban pada semut: Untuk Mata yang Melihat …



Untuk Mata yang Melihat …
Dengan berbagai metode komunikasi mereka, semut dapat dibandingkan dengan manusia yang dapat
berbicara beberapa bahasa asing. Mereka mampu berkomunikasi dalam 3-4 bahasa di antara mereka sendiri
dan mereka dapat menjalani hidup dengan cara yang bebas masalah. Mereka bisa melestarikan koloni yang
berpopulasi ratusan ribu atau terkadang jutaan, dan bertahan sepanjang hidup mereka tanpa menimbulkan
kekacauan.
Namun, sistem komunikasi yang telah kami uraikan sejauh ini barulah salah satu mukjizat dunia hewan.
Ketika kita menganalisis manusia maupun semua makhluk hidup lain (dari makhluk bersel tunggal hingga
makhluk multisel), kita dapat menemukan ciri-ciri yang berlainan, masing-masing merupakan mukjizat yang
unik dan terpisah, dengan tempatnya sendiri-sendiri dalam tatanan ekologis.
Bagi mata yang dapat melihat, semua mukjizat yang diciptakan di sekelilingnya, dan bagi hati yang
dapat merasa, cukuplah ia melihat sistem komunikasi luar biasa dari semut yang berukuran begitu kecil, maka
ia akan menghargai kekuatan, pengetahuan, dan hikmah tak terbatas milik Allah, yang merupakan Pemilik
tunggal dan Penguasa segala makhluk hidup. Dalam Al Quran, Allah menyebut orang-orang yang tidak
memiliki kemampuan ini dan yang tidak menghargai kekuasaan-Nya sebagai berikut:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan
itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
(Surat Al-Hajj: 46)
(*) FEROMON berasal dari kata “fer” (membawa) dan “hormon” (hormon) dan artinya “pembawa
hormon”. Feromon adalah isyarat yang digunakan di antara hewan sespesies dan biasanya diproduksi
dalam kelenjar khusus untuk disebarkan.
Komunikasi melalui feromon sangat meluas dalam keluarga serangga. Feromon bertindak sebagai alat
pemikat seksual antara betina dan jantan. Jenis feromon yang sering dianalisis adalah yang digunakan
ngengat sebagai zat untuk melakukan perkawinan. Ngengat gipsi betina dapat mempengaruhi ngengat
jantan beberapa kilometer jauhnya dengan memproduksi feromon yang disebut “disparlur”. Karena
ngengat jantan mampu mengindra beberapa ratus molekul dari betina yang mengeluarkan isyarat dalam
hanya satu mililiter udara, disparlur tersebut efektif saat disebarkan di wilayah yang sangat besar
sekalipun.
Feromon memainkan peran penting dalam komunikasi serangga. Semut menggunakan feromon sebagai
penjejak untuk menunjukkan jalan menuju sumber makanan. Bila lebah madu menyengat, ia tak hanya
meninggalkan sengat pada kulit korbannya, tetapi juga meninggalkan zat kimia yang memanggil lebah
madu lain untuk menyerang. Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon
sebagai zat tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh; feromon disebar di udara dan
mengumpulkan pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi feromon
sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya.
Di kanan adalah diagram anatomis semut spesies Formica. Otak dan sistem saraf ditunjukkan dalam
warna biru, sistem pencernaan warna merah muda, jantung warna merah, sedangkan kelenjar endokrin
dan struktur terkait warna kuning. 1. Kelenjar mandibular. 2. Pharynx. 3. Kelenjar profaringeal. 4.
Kelenjar pascafaringeal. 5. Otak. 6. Kelenjar labial. 7. Esofagus. 8. Sistem saraf. 9. Kelenjar
metapleural. 10. Jantung. 11. Lambung. 12. Proventrikulus. 13. Kantung malpighi. 14. Usus tengah. 15.
Rektum. 16. Anus. 17. Kelenjar Dufour. 18. Kantung racun.
Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang
dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Mahakuat lagi Maha Perkasa.
(Surat Asy-Syura:19)

No comments:

Post a Comment

ini komentar