Semut
Pemanen
Sebagian
semut, seperti yang telah disebutkan, adalah “petani” kawakan. Di antaranya
bisa disebut
semut
pemanen, selain Atta yang kita bahas sebelumnya.
Mekanisme
pemberian makan di antara semut pemanen ini cukup canggih dan rumit, jika
dibandingkan
dengan
mekanisme pemberian makan jenis semut lain. Mereka mengumpulkan benih dan
menyimpannya
dalam
ruangan yang disiapkan secara khusus. Benih-benih ini, yang mengandung
karbohidrat, digunakan
untuk
memproduksi gula yang akan memberi makan larva dan pekerja lain. Sementara
banyak semut
menggunakan
benih dan biji sebagai makanan, hanya semut pemanen yang memiliki sistem yang
berdasarkan
pada
pengumpulan dan pemrosesan benih.
Semut ini
mengumpulkan benih pada musim tumbuh dan menyimpannya untuk digunakan pada
musim
kemarau. Di
ruangan khusus dalam sarang, mereka menyortir benih dari benda-benda lain yang
salah dibawa
pulang.
Beberapa kelompok semut tinggal dalam sarang jam demi jam, mengunyah isi benih
sehingga
menghasilkan
sesuatu yang disebut roti semut. Dulu diduga bahwa semut menggunakan proses,
yang
dipelajari
melalui pengalaman, untuk mengubah karbohidrat benih menjadi gula yang akan
mereka makan.
Kini
diketahui bahwa air liur melimpah yang mereka sekresikan selagi mengunyah
inilah yang melaksanakan
pengubahan
ini.29
Semut yang
kita bahas di sini tentu saja belum pernah dididik tentang ilmu kimia. Mereka
pun tak
mungkin
tahu bahwa air liur mereka akan mengubah benih yang mereka kumpulkan secara
acak menjadi gula
yang dapat
mereka makan. Namun, kehidupan semut ini bergantung pada serangkaian perubahan
kimiawi
yang tak
mereka ketahui dan tak mungkin bisa mereka ketahui. Kalau manusia pun tidak
tahu proses
perubahan
yang terjadi dalam tubuh semut ini – dan baru memahami perinciannya dalam
beberapa tahun
terakhir –
bagaimana semut bisa makan melalui metode ini selama beribu-ribu tahun?
No comments:
Post a Comment
ini komentar