Membawa
Makanan dengan Teknik yang Rasional
Semua
spesies semut, yang jumlahnya mencapai kira-kira 8800 spesies, mencari makanan dan
membawanya
pulang dengan cara yang berbeda-beda. Dalam spesies-spesies tertentu, semut
berburu
sendirian
dan membawa pulang makanannya masing-masing. Spesies lain berburu berkelompok
dan
membawa
serta menjaga makanannya bersama-sama.
Kalau
mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut
membawanya
sendirian.
Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut menemukan beberapa gundukan
kecil
makanan di
suatu daerah, mereka mengeluarkan hormon beracun untuk mencegah semut lain agar
tidak
menghampiri
daerahnya. Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil,
untuk
bersama-sama
mengangkut makanan.
Dalam
kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas yang sangat sempurna. Semut
besar
memotong-motong
makanan dan menjaganya dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa
pulang
makanan. Semut pekerja mengangkat makanan dengan rahangnya dan membawa makanan
di depan
selagi
kembali ke sarang. Kalau bekerja berkelompok, semut dapat membawa potongan
makanan yang lebih
besar.
Mereka mengangkat makanan menggunakan satu atau dua kaki. Pada saat yang sama
mereka juga
menggigit
makanannya dengan rahang terbuka. Semut pekerja menggunakan cara yang
berbeda-beda
berdasarkan
posisi dan arahnya. Semut yang di depan bergerak mundur sambil menyeret
makanan. Semut
yang di
belakang berjalan maju sambil mendorong makanan. Semut yang di samping membantu
mengangkat.
Dengan cara
ini, semut dapat mengangkat makanan beberapa kali lebih berat dari yang bisa
dibawa seekor
semut.
Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja sama, mereka dapat
mengangkat beban
seberat
5000 kali berat yang dapat diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut
dapat membawa seekor
cacing
besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.
Semut dan
Jejak Bau
Teknik
komunikasi dengan jejak (mengikuti jejak bau) sering digunakan oleh semut.
Banyak contoh
yang
menarik dalam hal ini:
Suatu
spesies semut yang hidup di gurun pasir di Amerika mengeluarkan bau khusus yang
diproduksi di
kantung
racunnya jika ia menemukan serangga mati yang terlalu besar atau berat untuk
dibawanya. Temantemannya
sesarang
dari jauh dapat mencium bau yang dikeluarkan dan mendekati sumbernya. Ketika
jumlah
semut yang
berkumpul di sekitar mangsa sudah cukup, mereka membawa serangga tersebut ke
sarang.
Ketika
semut api berpisah untuk mencari makanan, mereka mengikuti jejak bau selama
beberapa lama,
lalu
akhirnya berpisah dan mencari makanan masing-masing. Sikap semut api berubah
jika sudah menemukan
makanan.
Kalau menemukan makanan, semut api kembali ke sarang dengan berjalan lebih
lambat dan
tubuhnya
dekat dengan tanah. Ia menonjolkan sengatnya pada interval tertentu dan ujung
sengat menyentuh
tanah
seperti pensil menggambar garis tipis. Demikianlah semut api meninggalkan jejak
yang menuju ke
makanan85.
Semut yang
Bertindak sebagai Kompas
Semut yang
bertugas mencari makan biasanya menjalankan tugas dengan cara yang sulit
dijelaskan. Ia
berangkat
ke sumber makanan dengan berjalan berkelok-kelok, tetapi kembali ke sarang
dengan rute lurus
yang lebih
singkat. Bagaimana mungkin seekor semut yang hanya dapat melihat beberapa
sentimeter ke
depan bisa
berjalan lurus?
Untuk
menjawab pertanyaan ini, seorang peneliti bernama Richard Feynman meletakkan
sebongkah
gula di
salah satu ujung bak mandi, lalu menunggu seekor semut datang dan menemukannya.
Ketika semut
yang
pertama kali datang ini kembali ke sarangnya, Feynman mengikuti jejaknya yang
berkelok. Kemudian
Feyman
mengikuti jejak semut-semut berikutnya. Ternyata Feynman menemukan bahwa semut
yang datang
belakangan
tidak mengikuti jejak yang ditinggalkan; mereka lebih pintar, mengambil jalan
memotong sampai
akhirnya
jejaknya menjadi berbentuk garis lurus.
Diilhami
hasil penelitian Feynman, seorang ahli komputer bernama Alfred Bruckstein
membuktikan
secara
matematis bahwa semut-semut yang datang selanjutnya memang meluruskan jejak
berkelok itu.
Kesimpulan
yang didapatnya sama: setelah beberapa ekor semut, panjang jejak dapat
diminimalkan menjadi
jarak
terpendek antara dua titik – dengan kata lain, membentuk garis lurus86.
Apa yang
diceritakan tadi tentu saja membutuhkan keahlian jika dilakukan oleh manusia.
Ia tentu harus
menggunakan
kompas, jam, maupun perlengkapan yang lebih canggih lagi untuk menentukan suatu
jarak.
Orang ini
harus juga menguasai matematika. Berbeda dengan manusia, penunjuk jalan semut
adalah matahari,
sedangkan
kompasnya adalah cabang pohon dan tanda alam lainnya. Semut mengingat bentuk
tanda-tanda ini,
sehingga
dapat menggunakannya untuk menemukan rute pulang terpendek, meskipun rute ini
benar-benar
baru
baginya.
Meskipun
kedengarannya mudah, sebenarnya cara in sulit dijelaskan! Bagaimana mungkin
seekor
makhluk
kecil seperti semut, yang tidak memiliki otak maupun kemampuan berpikir dan
mempertimbangkan,
melakukan
perhitungan seperti in?
Bayangkan
jika seorang manusia ditinggalkan di hutan yang tidak dikenal. Walaupun orang
ini
mengetahui
arah yang harus dituju, ia akan kesulitan menemukan jalan yang tepat dan
mungkin saja tersesat.
Selain itu,
ia juga harus melihat keadaan sekitar dengan hati-hati dan mempertimbangkan
jalan mana yang
terbaik.
Namun, semut bertindak seolah-olah mengetahui benar cara menemukan jalan. Pada
malam hari,
mereka
dapat menemukan dan mengikuti jalan yang mereka tempuh saat menemukan makanan
pada pagi
harinya,
meskipun kondisinya berubah.
No comments:
Post a Comment
ini komentar