Tuesday, 20 October 2015

semut dan makan 1



MAKAN DAN BERBURU
Setiap makhluk hidup menggunakan cara yang berbeda untuk memuaskan kebutuhan pangannya. Bab
ini membahas taktik semut ketika mencari makanan, cara komunikasi mereka, dan persaingan dalam
mendapatkan makanan. Semua taktik yang digunakan seekor serangga kecil dalam mendapatkan makanan ini
menunjukkan kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Allah Yang Maha Mengetahui, yang telah menciptakan
makhluk ini.
Bagaimana “keluarga” yang beranggota ratusan ribu memperoleh makanan? Satu hal yang paling
penting bagi kelangsungan hidup koloni adalah kemampuannya memecahkan masalah makanan. Setiap semut
dalam koloni memiliki kewajibannya masing-masing.
Sebagaimana aspek kehidupan mereka yang lain, semut bekerja secara sistematis dalam menyelesaikan
masalah pangan. Semut pekerja tua ditugaskan sebagai penjelajah yang mensurvei tanah di sekitar sarang
untuk mendapatkan sumber makanan bagi koloni yang populasinya mencapai ratusan ribu (bahkan terkadang
jutaan). Ketika para penjelajah menemukan sumber makanan, mereka mengumpulkan teman-teman sesarang
di sekitar makanan. Jumlah semut yang berkumpul bergantung pada besar dan kualitas sumber pangan ini.
Semut menyelesaikan masalah makanan dengan jaringan komunikasi yang sangat kuat dan juga dengan
kemurahan hati mereka; semut tidak pernah berkata “Hanya aku”.
Semut yang Saling Memberi Makan
Semut dari spesies yang berlainan berusaha tidak saling bertemu selagi mencari makanan. Setiap
spesies mencari jalan masing-masing untuk mencapai sumber makanan. Jika semut tidak sengaja memasuki
wilayah kekuasaan koloni lain, perang pun terjadi. Dalam situasi seperti ini, semut penjelajah segera kembali
ke sarangnya dan menutup pintu masuknya, sedangkan seluruh anggota koloni berkumpul dan bersama-sama
melindungi koloni dari bahaya.
Jadi, bagaimana semut makan selama pertempuran, padahal mereka tidak sempat mencari makanan?
Pada saat ini, muncullah keistimewaan semut yang tidak ada pada makhluk hidup lainnya. Selama
mereka tidak dapat mencari makanan, semua anggota koloni memakan cadangan makanan yang tersimpan
dalam tembolok semut pekerja muda.
Sebenarnya, teknik pembagian makanan ini dilakukan tidak hanya pada saat-saat tertentu, tetapi
sepanjang hidup mereka. Semut tidak hanya membawa butiran makanan di dalam tubuhnya, tetapi juga saling
memberi makan dari mulut ke mulut. Ketika semut pemburu pulang membawa makanan cair, ia
menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri untuk menarik perhatian kawan-kawannya atau langsung
menghampiri mereka dan menunjukkan butiran makanan di mulutnya.84 Makanan cair dipompa dari tembolok
sehingga pembagian makanan berlangsung cepat. Pertukaran makanan ini merupakan contoh berbagi yang
luar biasa. Sekam dan biji-bijian yang dibawa ke sarang juga dimakan semua semut bersama-sama. Oleh
karena itu, kebutuhan makanan seluruh koloni dapat dipenuhi tanpa masalah.
Sistem ini menjadi bukti yang tidak dapat disanggah akan keberadaan sosok “perancang yang agung”.
Tidak mungkin sistem penyimpanan yang begitu rumit dan membutuhkan pengorbanan besar ini dapat
terbentuk tanpa direncanakan. Selain itu, setiap semut yang lahir mengetahui sistem ini. Oleh karena itu,
keharusan membagi makanan pastilah telah diketahui semut sebelum ia menetas, bukan dipelajari sesudahnya.
Semut tidak saja diilhami dengan rasa rela berkorban, tapi juga dianugerahi dengan struktur tubuh yang
sesuai, sehingga ia dapat membagi makanan yang sudah disimpannya di dalam tembolok. Sebuah “kebetulan”
tentunya tidak mungkin menjadi penyebab fenomena ini, melihat tingginya pengorbanan diri yang ada.
Sebagaimana ditekankan berulang kali dalam buku ini, teori evolusi senantiasa menggambarkan bahwa semua
makhluk hidup bersaing dan berjuang mempertahankan hidupnya. Oleh karenanya, teori ini sangat sulit
menjelaskan contoh pengorbanan yang dilakukan spesies semut. Semut hidup dalam sistem yang membuat
mereka saling berbagi makanan. Ini membuktikan bahwa tingkah laku mereka berbeda dengan apa yang
disodorkan teori evolusi. Semut tidak “bertempur” demi keselamatan dirinya, tetapi menjalankan tugas yang
diberikan kepadanya (sebagaimana dikatakan dalam Al Quran, “diilhamkan kepada mereka”), sehingga dapat
mengubah koloninya yang beranggotakan ratusan ribu atau bahkan jutaan semut menjadi masyarakat sejati.
Dalam Al Quran surat An-Nahl, Allah menggambarkan Dia memberi ”wahyu” kepada hewan, sehingga
hewan menjalankan kewajiban sesuai perintah-Nya:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohonpohon
kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam)
buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu
keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang
menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Surat An-Nahl:68-69)
Tentu saja, tidak semua tugas hewan tertulis dalam Al Quran. Lebah madu hanyalah salah satu contoh.
Bila kita memperhatikan semut, dapat kita lihat bahwa hewan kecil ini bertindak sesuai tugas yang diilhamkan
kepadanya seperti lebah madu, yang juga murah hati, sosial, dan setia.

No comments:

Post a Comment

ini komentar