Monday, 19 October 2015

spesies semut: Semut Beludru



Semut Beludru
Semut beludru yang hidup di gurun pasir memiliki tubuh berbulu banyak. Bulu alami mereka
merupakan lapisan yang mengisolasi panas. Ia menyimpan panas selama malam-malam dingin di gurun pasir,
dan melindungi diri dari panas di siang hari. Karena bersayap, semut beludru jantan bisa menghindari
panasnya pasir dengan terbang. Akan tetapi, semut beludru betina harus berjalan di pasir yang panas karena
tak punya sayap. Mereka memerlukan bulu ini agar terlindung dari panas yang berasal dari tanah maupun dari
matahari.
Lalu, bagaimana menjelaskan adanya serangga yang memiliki “bulu” untuk melindungi diri dari kondisi
cuaca yang berbahaya? Mustahil kita mengklaim bahwa hewan memperolehnya dengan beradaptasi dengan
alam sebagai proses evolusi, karena ini menimbulkan banyak pertanyaan yang tetap tak terjawab: Apakah
semut beludru betina mati karena suhu tinggi sebelum memiliki bulu ini? Jika memang demikian, bagaimana
mereka bisa menunggu selama beberapa generasi agar memperoleh bulu “secara kebetulan”? Melalui
kebetulan macam apa mereka mendapatkan tubuh ini?
Pertanyaan ini tentu saja tak berjawab, karena serangga ini mustahil memperoleh “bulu” yang
melindungi mereka dari panas melalui mekanisme yang terus diajukan evolusionis. Semut tak dapat hidup
tanpa bulu ini dan mereka tak punya waktu untuk menunggu mutasi yang jarang sekali terjadi – yang
semuanya berbahaya. Jelas bahwa hewan ini telah dirancang sejak awal untuk bertahan dalam iklim yang
mereka tinggali.
Semut beludru betina mencari sarang serangga atau sarang lebah jenis apa pun, yang dapat mereka
gunakan setelah meninggalkan tempat mereka kawin. Jika sudah menemukannya, mereka memasuki sarang.
Mereka diperlengkapi dengan cara untuk menangkis upaya pengusiran. Pada akhirnya mereka terus tinggal
dalam sarang, karena semut beludru memiliki kaki kuat dan perisai yang memungkinkan mereka masuk ke
sarang lebah sekalipun. Cangkang luar mereka sangat tebal dan keras. Para ahli zoologi mengatakan bahwa
mereka mengalami kesulitan untuk menusuk dada semut beludru dengan jarum baja.39
Setelah masuk, semut ratu beludru yang memiliki segala macam kelengkapan untuk tinggal dalam
sarang lebah, mulai memakan simpanan madu. Selain itu, ia meninggalkan telurnya dalam sel pupa atau
kepompong lebah. Larva semut yang menetas, memakan pupa inangnya, dan kelak menjadi pupa juga. Lebah
meninggalkan sarang pada akhir musim panas. Semut beludru melewatkan musim dingin dalam sarang ini
sebagai pupa. Menurut satu catatan, ada sarang lebah yang berisi 76 semut beludru dan hanya dua ekor
lebah.40 Contoh ini menunjukkan betapa semut beludru betina efektif dan berhasil dalam menangani lebah
betina. Dengan menggunakan taktik halus, semut ratu beludru menduduki sarang dari dalam dan merebut
kendali sarang itu.
Yang patut dicatat adalah bahwa semut beludru sangat mengenal lebah, dan lebih lagi, tahu betul cara
mengelabuhinya. Jadi, mungkinkah ada sosok selain sang Pencipta lebah Yang mengilhami si ratu dengan
ciri-ciri fisik, gaya hidup, dan struktur sarang seperti lebah? Satu-satunya penjelasan logis adalah menerima
keberadaan Pencipta tunggal yang telah menciptakan semut, lebah, dan, sesungguhnya, segala makhluk hidup.

No comments:

Post a Comment

ini komentar