Monday, 19 October 2015

spesies semut: Semut Legiun



Semut Legiun
Salah satu hewan yang paling ditakuti di hutan adalah semut legiun. Komunitas semut ini dinamai
“pasukan” karena tindakan mereka me-miliki disiplin militer sejati.
Semut legiun adalah hewan karnivora. Mereka melahap segala se-suatu yang terlihat. Setiap semut
panjangnya 6-12 milimeter, tetapi jumlah mereka yang besar dan disiplin mereka mengimbangi kekurangan
mereka dari segi ukuran.
Sinar matahari langsung dapat membunuh semut legiun dalam waktu singkat. Oleh karena itu, mereka
berjalan di malam hari atau dalam bayang-bayang. Karena peka cahaya, mereka menggali terowongan
panjang saat bergerak maju. Sebagian besar semut berlari dalam terowongan ini tanpa keluar. Hal ini tidak
mengurangi kecepatan mereka, karena mereka dapat menggali terowongan sangat cepat dengan rahang
mereka yang kuat. Karenanya, mereka lari secara cepat dan rahasia. Semut legiun bergerak sebagai pasukan
yang sangat besar, melintasi segala hambatan kecuali api dan air, meskipun mereka buta sama sekali.34
Semut legiun mengoyak mangsanya di tempat mereka bertemu, dan membawa potongan mangsa kecilkecil
ke sarang sementara. Makanan yang dibutuhkan koloni semut legiun cukup banyak. Kebutuhan seharihari
koloni ukuran sedang, yang terdiri atas 80.000 semut dewasa dan 30.000 larva, kira-kira sekitar 2,27 liter
makanan produk hewan.35
Karena tidak memiliki sarang tetap, semut legiun selalu berpindah-pindah. Gerakan dan migrasi koloni
bergantung pada daur produksi telur. Ratu menghasilkan sekitar 25-35.000 telur selama dua hari setiap bulan.
Beberapa hari sebelum bertelur, koloni berhenti dan berkumpul di daerah luas. Semut saling bergantungan
dengan kaki yang berbentuk kait dan membentuk sarang sementara. Ruang kosong di tengah merupakan
ruangan, yang siap untuk didiami ratu dan generasi baru. Wajarnya, kaki dan sendi semut di puncak harus
menerima beban berlebihan. Namun, karena tubuh mereka dibentuk mampu dibebani berat beberapa ratus kali
dari berat mereka sendiri, mereka dapat menahan seluruh koloni tanpa masalah.36
Guna berburu seefisien mungkin, semut menyesuaikan gerakan mereka dengan kebutuhan anak-anak
semut yang sedang berkembang, berganti-ganti antara fase menetap dan ber-pindah-pindah. Pada masa
istirahat sekitar 20 hari, ratu yang gemuk dan tak dapat bergerak menghasilkan 50.000 hingga 100.000 telur
sementara anak-anak lain berada dalam tahap kepompong yang diam. Sebagian besar hari dilewatkan para
pekerja men-cari makanan untuk mereka sendiri dan ratu, melakukan serangan singkat dari sarang dengan
pola seperti mawar. Pada setiap serangan mereka mengubah arah sebesar rata-rata 123 derajat, se-hingga
meng-hindari menyisir lahan yang sama.37
Semut bisa tidak keliru menghitung 123 derajat, sesuatu yang tak dapat dihitung manusia tanpa alat. Ini
seolah menunjukkan pengetahuan matematika yang teliti. Namun, semut tidak mengenal matematika,
berhitung pun mereka tak bisa. Jadi ini menunjukkan bahwa tindakan mereka dilakukan menurut ilham
istimewa, dan tidak secara sadar.
Saat larva pertama menetas, para pekerja mengumpulkan makanan sementara komunitas tetap di
tempat. Potongan makanan langsung diberikan kepada larva. Siapnya ratu bertelur lagi biasanya bersamaan
dengan transisi larva sebelumnya ke tahap kepompong. Pada tahap ini komunitas berhenti lagi. Serempaknya
waktu bertelur ratu dan pindahnya larva ke tahap pupa menunjukkan perencanaan secara sadar karena ini
mengurangi waktu berhentinya pasukan.
Perkembangan larva mendorong semut yang lebih tua untuk memulai daur migrasi baru. Inilah cara
kerjanya: larva menghasilkan sekresi ketika dijilat dan dibersihkan para pekerja. Penelitian menunjukkan
bahwa cairan ini efektif dalam keputusan untuk bermigrasi.38
Tidak logis kalau kita mengklaim bahwa larva, yang menjadi semut pun belum, sudah terpikir untuk
menyekresikan cairan itu dan mengarahkan seluruh koloni untuk memenuhi kebutuhan mereka. Satu-satunya
hal yang dapat ditangkap pengamat yang pandai adalah keberadaan Sang Pencipta tertinggi, serta informasi
dan kekuasaan-Nya di sekeliling kita.

No comments:

Post a Comment

ini komentar