Monday, 19 October 2015

spesies semut: Semut Gurun



Semut Gurun
Sebagian besar makhluk hidup mustahil hidup di dalam pasir membara bersuhu 65O C, termasuk
manusia. Namun, ada semut yang dapat terus hidup pada suhu ini. Nah, bagaimana Namib ocymyrmex, yang
merupakan semut gurun hitam berukuran sedang dan berkaki panjang, hidup dalam panas tinggi ini?
Bagi semut Namib, hari biasa di gurun tidak dimulai pada satu waktu tertentu.. Yang memulai hari-hari
adalah suhu permukaan pasir standar setelah mencapai 30O C. Tepat pada suhu ini semut mulai keluar dari
sarang bawah tanah untuk mencari makanan. Karena tubuh mereka sangat dingin, mereka tak dapat bergerak
lurus dan berjalan terseok-seok. Namun, ketika suhu meningkat, semakin banyak semut keluar dan mereka
mulai bergerak lebih lurus dan cepat. Lalu lintas tertinggi keluar-masuk sarang adalah pada suhu 52,2O C.
Ketika suhu melebihi ini, gerakan terus berlanjut, tetapi ketika suhu mencapai 67,8O C, lalu lintas berhenti.
Suhu ini dicapai sekitar sejam sebelum tengah hari. Ketika suhu mulai turun pada sore hari, pencarian
makanan dimulai lagi dan berlanjut sehingga suhu permukaan jatuh hingga 30O C.
Semut mungkin mencari makanan sekitar enam hari jauhnya dari sarang tanpa dimangsa hewan apa
pun. Pada masa ini mereka membawa pulang makanan yang beratnya 15-20 kali lipat berat mereka sendiri.
Semut, yang tak bisa pulang ke sarang ketika suhu di padang pasir sangat tinggi, menggunakan metode
yang cukup menarik untuk berlindung dari panas. Suhu udara menurun jika jarak semakin jauh ke atas pasir.
Misalnya jika suhu pasir 67,8O C, suhu udara sedikit di atasnya adalah 55O C. Jadi, jika suhu permukaan pasir
di atas 52,2O C, semut mendaki benda seperti tumbuhan dan berdiam di situ sementara untuk mendingin. Suhu
tubuh semut yang kecil bisa cepat turun hingga mencapai suhu sekitar. Dalam batang pohon, suhu bervariasi
antara 30 hingga 38,3O C. Jeda pendinginan ini memungkinkan semut mencari makanan dalam panas
membara, meskipun terputus-putus.
Pada suhu tinggi, jika tidak dapat menemukan tempat dingin dalam beberapa detik, semut akan mati
kepanasan. Malah, jika suhu pasir di atas 52,2O C, mereka mengambil resiko setiap kali meninggalkan sarang.
Lalu, bagaimana semut gurun melepaskan dari kematian tak terhindarkan ini? Karena mereka tidak mengukur
suhu dengan termometer, kita dapat berkata bahwa mereka tercipta dengan mengetahui apa harus dilakukan
pada suhu apa dan mengetahui hal-hal ini sejak pertama kali mereka meninggalkan sarang.
Ya, semut gurun telah diciptakan dan dilengkapi dengan kemampuan khusus untuk hidup di gurun.
Allah, yang telah menciptakan rahang tajam untuk semut pemotong daun, telah mengilhami semut gurun
dengan pengetahuan cara melindungi diri.
Akibat simbiosis antara semut pemotong daun dan jamur, semut memperoleh protein yang mereka
butuhkan untuk gizi dari tunas jamur yang mereka tanam di daun. Di atas terlihat kebun jamur yang dirawat
semut.
1) Di dalam sarang, pekerja yang lebih kecil memotong daun kecil-kecil.
2) Kasta berikut mengunyah potongan ini menjadi pulp dan memupuknya dengan simpanan cairan feses
yang kaya enzim.
3) Semut-semut lain menyediakan pasta daun subur di atas lapisan daun kering di ruang baru.
4) Kasta lain mengangkut potongan jamur dari ruang lama dan menanamnya dalam pasta daun.
Potongan jamur dioleskan pada pasta daun seperti lapisan gula kue.
5) Kasta kerdil berkerumun membersihkan dan menyiangi kebun, lalu memanen jamur untuk dimakan
semut lain.22
Yang tajam dan menyuntikkan asam dalam luka tersebut. Dengan
keunikan ini, hewan ini
Pertama, beberapa ekor semut memilih benda di dekat tanah, misalnya batang, lalu bergantung dari
benda itu dengan saling berkaitan cakar. Semut lain tiba, berlari menuruni untaian, dan mengaitkan cakar
sampai untaian menjadi tali yang dapat bergabung menjadi kumpulan selebar satu meter yang disebut bivak;
rumah mereka merupakan seluruh koloni dari 200.000 hingga 750.000 individu. Di tengah-tengah sang ratu
beristirahat bersama anak-anaknya. Pada pagi hari semut mulai melepaskan kaitan untuk keluar dan mencari
mangsa.

No comments:

Post a Comment

ini komentar