Monday, 19 October 2015

simbiosis semut



SIMBIOSIS
Ada logika mendasar yang dapat digunakan untuk menganalisis bukti-bukti penciptaan makhluk hidup.
Logika ini dapat dijelaskan dengan contoh sederhana.
Misalkan Anda sedang berjalan di tanah tandus. Tiba-tiba Anda menemukan anak kunci logam di tanah.
Anda memungut kunci itu tanpa tahu kegunaannya dan terus berjalan. Tak lama kemudian, Anda menemukan
rumah kosong beberapa ratus meter dari tempat Anda menemukan anak kunci, lalu Anda mencoba membuka
gembok rumah itu dengan anak kunci yang Anda temukan, barangkali saja cocok.
Jika anak kunci tersebut dapat membuka pintu dengan mudah, kesimpulan apa yang dapat Anda tarik?
Tentu saja sederhana. Anda menarik kesimpulan bahwa anak kunci tersebut adalah pasangan gembok
pintu rumah itu. Artinya, anak kunci yang Anda temukan telah dirancang secara khusus untuk membuka
gembok itu. Tidak sulit ditebak bahwa tukang yang samalah yang membuat gembok beserta kuncinya itu.
Jadi, kunci itu sesuai dengan gemboknya karena memang telah dirancang untuk bersesuaian.
Akan tetapi, kalau ada orang berkata, “Anda salah. Anak kunci yang Anda temukan sama sekali tidak
ada hubungannya dengan gembok itu. Kebetulan saja mereka cocok. Menurut Anda bagaimana?” Tentu Anda
menganggap pendapatnya tidak masuk akal, karena ada jutaan gembok dan jutaan anak kunci di dunia ini
yang tidak cocok satu sama lain. Dari jutaan anak kunci dan gembok yang berbeda-beda, hampir mustahil ada
gembok dan kunci yang benar-benar cocok, yang terletak berdekatan tanpa sengaja.
Apalagi seandainya anak kunci itu cukup rumit, banyak tonjolan dan lekukannya, artinya bukan lurus
dan sederhana seperti kunci kamar. Kemungkinan “kebetulan” semakin tidak masuk akal, karena semua detail
lekukan dan tonjolan anak kunci harus juga ada pada gembok, sehingga kemungkinan terjadinya “kebetulan”
ini hanya sepersekian juta kali.
Jika pada satu pintu ada tiga gembok, dan Anda menemukan bukan hanya satu, melainkan tiga anak
kunci yang terletak berdekatan, akankah Anda mempercayai pendapat bahwa anak-anak kunci ini hanyalah
kepingan logam yang kebetulan saja cocok dengan gembok-gembok itu? Selain itu, Anda mungkin
menganggap orang yang berpendapat seperti itu punya masalah kejiwaan atau mencoba menyembunyikan
sesuatu.
Contoh di atas menyampaikan pesan yang sederhana, namun sangat berarti. Jika ada dua benda yang
benar-benar cocok, yakni semua detail pada kedua benda ini serasi dan selaras, pasti ada kesengajaan dalam
proses perancangannya. Anak kunci cocok dengan gembok karena sengaja dirancang oleh seorang tukang
yang ahli. Kaset video dapat dimasukkan dan digunakan dalam pemutar video karena memang telah
dirancang dengan tujuan itu.
Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat sampai pada kesimpulan di bawah ini. Jika terdapat
keselarasan antara dua makhluk hidup yang ditunjukkan dengan adanya kesesuaian antara organ-organ
tubuhnya, dapat dikatakan bahwa keselarasan ini adalah bukti proses penciptaan secara sadar dan terencana.
Keselarasan yang ada menunjukkan bahwa proses penciptaan ini dilakukan secara sadar dan tidak terjadi
secara kebetulan. Selain itu, karena kesadaran dan rencana ini bukan berasal dari hewan-hewan itu sendiri,
keberadaan Sang Pencipta yang “merancang” makhluk-makhluk ini secara sadar tidak dapat dipungkiri lagi.
Sekarang kita dapat kembali memasuki dunia semut, menggunakan logika dasar ini. Topik dalam bab
ini adalah beberapa makhluk hidup yang hidup selaras bersama semut.
Hewan yang Hidup Bersama Semut
Sejak lebih dari seabad yang lalu diketahui bahwa sejumlah spesies serangga hidup bersimbiosis dengan
semut. Sebagian besar dari spesies ini merampok makanan dari koloni semut, sementara sebagian lainnya
menggantungkan sebagian atau seluruh hidupnya pada koloni semut. Spesies yang hidup sebagai parasit
termasuk berbagai serangga, misalnya kumbang, kutu, lalat, dan tawon.
Sebagian parasit ini hidup di sarang semut dan menarik keuntungan dari kehidupan sosial semut. Dalam
beberapa kasus, semut tidak berkeberatan meskipun serangga larva dan telurnya dimakan parasit ini. Bahkan,
serangga ini tidak hanya diperbolehkan memasuki sarang, larva mereka juga diberi makan dan dibesarkan
sebagaimana layaknya larva semut.
Mengapa semut membiarkan saja tindakan agresif dari serangga parasit? Dan bagaimana mungkin
serangga ini dapat tinggal di sarang semut yang telah memiliki sistem pertahanan yang hebat selama
bertahun-tahun? Mari kita analisis fenomena yang menarik ini.
Sebagaimana diketahui, dalam komunitas semut terdapat sistem komunikasi yang rumit. Dengan sistem
ini, semut dapat membedakan anggota koloni mereka dengan pendatang. Kemampuan ini berfungsi sebagai
“sistem pertahanan bersama”. Namun, serangga pendatang dapat masuk ke sarang semut dengan berbagai
cara. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah berhasil memecahkan sandi komunikasi dan identifikasi yang
digunakan semut. Dengan kata lain, mereka mampu berkomunikasi dengan bahasa semut, baik secara
mekanis maupun kimiawi.
Penyamaran
Ketika dua ekor semut bertemu, ia melakukan gerakan tertentu, yaitu menyentuh kawannya dengan
antena serta mencium feromonnya. Kemudian, kedua semut melanjutkan perjalanan. Mereka melakukan
gerakan ini untuk saling mengenali dan untuk melindungi diri dari makhluk asing.
Semut pekerja melakukan hal yang sama ketika bertemu serangga yang tinggal di sarang mereka.
Kadang-kadang mereka menyadari bahwa serangga yang ditemuinya bukan dari golongan mereka dan
mengusirnya keluar sarang. Akan tetapi, kadang-kadang mereka memperlakukan serangga lain seolah-olah ia
juga seekor semut. Biasanya semut menerima serangga asing seperti ini jika serangga tersebut mampu
menyamar secara kimiawi.
Dapat dipastikan bahwa serangga menyamar secara kimiawi, karena semut terbukti mengusir serangga
lain yang berbeda secara kimiawi, meskipun bentuk fisiknya mirip dengan mereka. Namun, parasit tertentu
yang sama sekali tidak mirip dengan semut diterima sebagai warga sarang semut44
. Sulit dijelaskan bagaimana
spesies-spesies serangga belajar meniru ciri khas kimiawi semut. Hal ini hanya dapat dimengerti apabila
serangga ini memang dirancang untuk memiliki feromon yang mirip dengan semut. Serangga tidak mampu
memahami reaksi kimia, meskipun ia hidup selama jutaan tahun. Oleh karena itu, serangga ini pasti
memperoleh ciri khas tersebut dari Sang Pencipta.
Serangga Penghasil Hidrokarbon dan Semut Api
Salah satu spesies serangga, Scarabaeid, dapat hidup bersama semut api, karena kedua spesies ini
menghasilkan hidrokarbon yang sama. Serangga sering dianggap bermusuhan dengan semut, karenanya
mengherankan bahwa terdapat hubungan harmonis antara kedua spesies ini. Bagaimanakah kesesuaian ini
bisa terjadi?
Serangga ini menghasilkan hidrokarbon yang juga dihasilkan oleh semut. Selain itu, mereka juga
menghasilkan sejumlah hidrokarbon yang tinggi berat molekulnya. Ketika serangga meninggalkan sarang
semut, senyawa-senyawa yang sama dengan hidrokarbon semut tidak lagi diproduksi, tetapi senyawa
hidrokarbon yang berat yang mereka miliki tetap diproduksi. Bila suatu saat nanti serangga ini mendatangi
koloni spesies semut api lain, mereka akan memproduksi bau yang sama dengan koloni yang ini45.
Ketika pertama kali tiba di sarang semut api, serangga ini menggunakan cangkang tubuhnya yang tebal
dan berpura-pura mati untuk melindungi diri. Dalam beberapa hari, serangga ini mampu meniru hidrokarbon
yang diproduksi semut, sehingga diperbolehkan masuk ke sarang semut46.
Bagaimana mungkin spesies serangga ini mampu meniru berbagai bau dan memproduksinya di dalam
tubuh? Bagaimana serangga ini bisa tahu bahwa dengan menghasilkan bau tertentu ia dapat menipu semut
sehingga diperbolehkan masuk ke dalam sarang mereka? Dapatkah serangga melakukan semua ini sendiri?
Tentu saja tidak. Serangga tidak mungkin dapat mengenali ciri khas fisik dan kimiawi semut. Sangat
tidak masuk akal apabila dikatakan bahwa serangga ini telah mengalami evolusi, dengan cara hidup bersama
semut dalam waktu lama sehingga memiliki kemampuan memproduksi bau yang dihasilkan semut-semut ini.
Pembentukan ciri khas yang begitu rumit tidak mungkin dihasilkan dari mutasi maupun kebetulan. Satusatunya
kesimpulan dari semua ini adalah adanya Sang Pencipta, Yang telah memberi serangga ini
kemampuan untuk mengenali dan meniru. Dialah Satu-Satunya yang mampu membuat semut dan serangga
lain hidup bersama secara selaras dan Dia pula yang mampu mencegah kedua makhluk ini untuk saling
menyerang. Dialah, Allah, Sang Pencipta kedua spesies ini.

No comments:

Post a Comment

ini komentar