Pengunjung
Semut Tentara
Ada
sejumlah spesies kutu yang hidup pada tubuh semut tentara. Spesies-spesies kutu
ini hidup dari
darah yang
mereka peroleh dari daerah mirip-membran pada punggung semut yang menjadi
inangnya, atau
dari cairan
berlemak yang dihasilkan tubuh inangnya. Terkadang kutu ini hidup di ujung kaki
belakang semut,
sehingga
pada saat-saat tertentu mereka merelakan tubuhnya digunakan sebagai bagian dari
kaki semut.
Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya, semut tentara membentuk rantai dengan cara berpegangan
pada
tungkai
kawannya saat mereka membuat sarang sementara dari rantai tersebut. Dalam
analisis laboratorium,
ditemukan
bahwa pada semut yang memegang kaki kawannya yang berkutu, ditemukan kaki
belakang kutu
tersebut
mengambil bentuk yang sama dengan cakar semut serta melakukan fungsi yang sama
pula. Kutu ini
memiliki
alat cengkeram yang berbentuk gigi pada punggungnya. Punggung ini berbentuk
sedemikian rupa
sehingga
mereka dapat beradaptasi dengan tubuh semut47.
Di antara
ribuan spesies yang hidup di alam semesta ini, tidak mungkin dua makhluk dengan
sistem
yang saling
melengkapi ini bertemu secara kebetulan. Kemungkinan kedua spesies ini—yang
saling
menggantungkan
hidupnya—pada suatu hari bertemu, melihat bahwa tubuh mereka yang sesuai untuk
hidup
bersama,
lalu memutuskan untuk bersimbiosis, adalah nol. Oleh karena itu, keselarasan
yang begitu sempurna
ini adalah
salah satu contoh yang mendetail betapa sempurna hasil ciptaan Allah. Meskipun
menyangkut hal
yang sangat
kecil, detail seperti ini terlalu berharga untuk dilupakan. Contoh-contoh yang
dapat kita saksikan
ribuan,
bahkan jutaan kali setiap hari ini, telah diciptakan agar manusia dapat melihat
kekuatan yang tak
terbatas,
ilmu dan kehalusan ciptaan Allah.
Larva Lalat
yang Cerdas
Tubuh semut
merupakan tempat hidup yang sesuai bagi parasit. Oleh karena itu, banyak
spesies parasit
yang
memilih tubuh semut sebagai rumah mereka. Salah satu contoh parasit ini adalah
spesies lalat,
Stronggydaster
globula.
Larva lalat
ini (“endoparasit” atau parasit interior) hidup pada tubuh bagian belakang ratu
semut.
Keberadaan
larva lalat tampaknya tidak mempengaruhi tingkah laku ratu semut, kecuali
aktivitas bertelurnya
yang
terhenti. Ketika meninggalkan tubuh inangnya, larva parasit memasuki fase pupa.
Pupa ini dirawat
semut
seolah-olah mereka adalah pupa semut. Akan tetapi, ketika lalat mulai dapat
terbang, perlakuan koloni
semut
berubah dan lalat tersebut dipaksa meninggalkan sarang. Kemudian ratu semut
mati setelah parasitparasit
ini
meninggalkan sarang48.
Larva lalat
yang dapat tinggal dan hidup pada tubuh semut merupakan fenomena yang menarik.
Tidak
mungkin
seekor makhluk yang baru lahir mampu memilih tubuh ratu semut sebagai rumahnya.
Induk lalat
memilih
tubuh ratu semut sebagai tempat bertelur karena ia mengetahui dan mengenal
tubuh dan cara hidup
semut.
Dalam habitatnya ada ratusan spesies lain yang bisa ia jadikan tempat bertelur.
Namun, induk lalat
mampu
memilih dan menentukan tempat yang sesuai bagi kepentingan bayinya, yaitu pada
tubuh ratu semut.
Meskipun
demikian, tidak mungkin induk lalat dapat mengantisipasi apakah lingkungan yang
dipilihnya
mampu
menjamin keamanan telurnya dan apakah semut dalam koloni itu akan merawat telur
lalat. Lalat
adalah
makhluk yang berbeda sama sekali dengan semut, sehingga tidak mungkin induk
lalat dapat
mengetahui
kehidupan semut.
Oleh karena
itu, dapat dikatakan bahwa keputusan yang tepat ini bukan hasil “ramalan” induk
lalat,
melainkan
karena dalam diri hewan kecil ini terdapat sebuah program, atau ilham. Dialah
Allah yang
meletakkan
larva lalat di tempat yang paling sesuai untuknya. Dialah Allah yang memiliki
kekuasaan mutlak
atas lalat
dan semut serta memiliki pengetahuan yang tidak terbatas mengenai mereka.
Dialah Sang Pencipta,
Pemilik dan
Penguasa semua makhluk hidup.
No comments:
Post a Comment
ini komentar