Monday, 19 October 2015

simbiosis semut 2



Pengunjung Semut Tentara
Ada sejumlah spesies kutu yang hidup pada tubuh semut tentara. Spesies-spesies kutu ini hidup dari
darah yang mereka peroleh dari daerah mirip-membran pada punggung semut yang menjadi inangnya, atau
dari cairan berlemak yang dihasilkan tubuh inangnya. Terkadang kutu ini hidup di ujung kaki belakang semut,
sehingga pada saat-saat tertentu mereka merelakan tubuhnya digunakan sebagai bagian dari kaki semut.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, semut tentara membentuk rantai dengan cara berpegangan pada
tungkai kawannya saat mereka membuat sarang sementara dari rantai tersebut. Dalam analisis laboratorium,
ditemukan bahwa pada semut yang memegang kaki kawannya yang berkutu, ditemukan kaki belakang kutu
tersebut mengambil bentuk yang sama dengan cakar semut serta melakukan fungsi yang sama pula. Kutu ini
memiliki alat cengkeram yang berbentuk gigi pada punggungnya. Punggung ini berbentuk sedemikian rupa
sehingga mereka dapat beradaptasi dengan tubuh semut47.
Di antara ribuan spesies yang hidup di alam semesta ini, tidak mungkin dua makhluk dengan sistem
yang saling melengkapi ini bertemu secara kebetulan. Kemungkinan kedua spesies ini—yang saling
menggantungkan hidupnya—pada suatu hari bertemu, melihat bahwa tubuh mereka yang sesuai untuk hidup
bersama, lalu memutuskan untuk bersimbiosis, adalah nol. Oleh karena itu, keselarasan yang begitu sempurna
ini adalah salah satu contoh yang mendetail betapa sempurna hasil ciptaan Allah. Meskipun menyangkut hal
yang sangat kecil, detail seperti ini terlalu berharga untuk dilupakan. Contoh-contoh yang dapat kita saksikan
ribuan, bahkan jutaan kali setiap hari ini, telah diciptakan agar manusia dapat melihat kekuatan yang tak
terbatas, ilmu dan kehalusan ciptaan Allah.
Larva Lalat yang Cerdas
Tubuh semut merupakan tempat hidup yang sesuai bagi parasit. Oleh karena itu, banyak spesies parasit
yang memilih tubuh semut sebagai rumah mereka. Salah satu contoh parasit ini adalah spesies lalat,
Stronggydaster globula.
Larva lalat ini (“endoparasit” atau parasit interior) hidup pada tubuh bagian belakang ratu semut.
Keberadaan larva lalat tampaknya tidak mempengaruhi tingkah laku ratu semut, kecuali aktivitas bertelurnya
yang terhenti. Ketika meninggalkan tubuh inangnya, larva parasit memasuki fase pupa. Pupa ini dirawat
semut seolah-olah mereka adalah pupa semut. Akan tetapi, ketika lalat mulai dapat terbang, perlakuan koloni
semut berubah dan lalat tersebut dipaksa meninggalkan sarang. Kemudian ratu semut mati setelah parasitparasit
ini meninggalkan sarang48.
Larva lalat yang dapat tinggal dan hidup pada tubuh semut merupakan fenomena yang menarik. Tidak
mungkin seekor makhluk yang baru lahir mampu memilih tubuh ratu semut sebagai rumahnya. Induk lalat
memilih tubuh ratu semut sebagai tempat bertelur karena ia mengetahui dan mengenal tubuh dan cara hidup
semut. Dalam habitatnya ada ratusan spesies lain yang bisa ia jadikan tempat bertelur. Namun, induk lalat
mampu memilih dan menentukan tempat yang sesuai bagi kepentingan bayinya, yaitu pada tubuh ratu semut.
Meskipun demikian, tidak mungkin induk lalat dapat mengantisipasi apakah lingkungan yang dipilihnya
mampu menjamin keamanan telurnya dan apakah semut dalam koloni itu akan merawat telur lalat. Lalat
adalah makhluk yang berbeda sama sekali dengan semut, sehingga tidak mungkin induk lalat dapat
mengetahui kehidupan semut.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keputusan yang tepat ini bukan hasil “ramalan” induk lalat,
melainkan karena dalam diri hewan kecil ini terdapat sebuah program, atau ilham. Dialah Allah yang
meletakkan larva lalat di tempat yang paling sesuai untuknya. Dialah Allah yang memiliki kekuasaan mutlak
atas lalat dan semut serta memiliki pengetahuan yang tidak terbatas mengenai mereka. Dialah Sang Pencipta,
Pemilik dan Penguasa semua makhluk hidup.

No comments:

Post a Comment

ini komentar