Monday, 19 October 2015

simbiosis semut 3



Misteri Kupu-Kupu Biru
Pada tahun 1979, kupu-kupu biru besar musnah dari tempat perkembangbiakannya yang terakhir di
Inggris. Para ahli, yang mempelajari spesies kupu-kupu ini, cukup lama tidak berhasil mengetahui mengapa
kupu-kupu jenis ini musnah, padahal banyak sekali habitat yang cocok untuk perkembangbiakan mereka
berupa padang rumput liar, yang banyak ditumbuhi tanaman thyme tempat kupu-kupu bertelur. Sebenarnya,
rahasianya terletak pada siklus hidup kupu-kupu yang menakjubkan.
Setelah menetas, ulat memakan daun thyme selama kurang lebih tiga minggu. Kemudian ia jatuh ke
tanah dan mengeluarkan cairan yang menarik semut merah. Ketika semut merah muncul, ulat mendongakkan
tubuhnya dan menggembungkan kulit di belakang kepalanya, untuk menipu agar semut mengira ia adalah larva semut. Kemudian ulat tersebut kemudian dibawa semut kembali ke sarangnya, dan hidup di sarang semut selama hampir satu tahun. Ulat ini hidup dengan memakan larva semut dan berhibernasi selama musim
dingin. Pada musim semi ulat ini membuat kepompong sutra. Selagi di dalam kepompong, perlahan-lahan ulat
berubah menjadi kupu-kupu dewasa, sampai akhirnya meninggalkan sarang pada pertengahan musim panas.
Temuan mengenai parasitisme ini menyingkapkan tabir misteri punahnya spesies kupu-kupu. Akibat
perubahan ekologi di wilayah tersebut, semut merah bermigrasi dari situ dan ulat yang menetas dibunuh oleh
spesies semut lainnya, yang tidak dapat ditipu oleh penyamaran ulat49.
Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Mungkinkah simbiosis yang terjadi antara semut dan
kupu-kupu ini terjadi secara kebetulan? Bagaimana mungkin kupu-kupu—dalam bentuk ulat, yang
bahkan belum dewasa—mengetahui cara mengelabui seekor semut? Bagaimanakah organ-organ yang
menyamarkan ulat seperti larva semut bisa terbentuk? Karena para evolusionis tidak menerima teori
penciptaan, mereka membantah dan mengatakan bahwa organ-organ ini terjadi secara kebetulan.
Namun demikian, mustahil suatu kebetulan bisa menghasilkan kemiripan sesempurna ini. Kemiripan ini tak mungkin terbentuk berangsur-angsur secara bertahap, karena ulat yang belum bisa menyamar akan diburu oleh koloni semut dan tidak mungkin bertahan hidup. Karena seekor ulat tidak mungkin mampu menentukan bentuk tubuh secara sadar, kemungkinan satu-satunya adalah adanya sebuah Kekuasaan Sang Pencipta yang memberinya bentuk sehingga menyerupai larva semut.
Parasit yang Diberi Makan dari Mulut Semut
Ada sejenis parasit bernama Dinarda yang selalu mengelilingi sarang semut dan memakan mangsa
yang dibawa oleh koloni semut. Mereka juga memakan cairan nutrisi milik koloni. Parasit tersebut mondarmandir di ruang sarang tempat para pekerja dan pemburu yang baru tiba itu berbagi makanan. Parasit ini menyentuh ujung mulutnya ketika bertemu seekor semut sehingga semut itu membagi makanannya. Cara ini sebenarnya sangat berbahaya bagi Dinarda, karena semut akan menyerangnya jika menyadari bahwa parasit itu bukan anggota koloni. Dinarda memiliki suatu cara untuk bertahan jika ini terjadi. Ketika menyadari bahwa ia akan diserang semut, ia mengangkat perutnya dan menyemprotkan cairan pembius ke arah semut.
Akibatnya, serangan semut terhenti dan parasit berhasil melarikan diri50.
Imigran yang Cerdik
Atemeles adalah spesies serangga yang dibesarkan di sarang semut Formica selama musim panas dan
berpindah ke sarang semut spesies lain, Myrmica. Setelah menghabiskan musim dingin di sarang yang baru,
mereka pindah kembali ke sarang asalnya di musim panas. Perpindahan ini tentu saja beralasan. Formica tidak berkembang biak selama musim dingin, sehingga tidak banyak makanan yang disimpan selama musim ini. Sebaliknya, spesies Myrmica berkembang biak di musim dingin sehingga banyak menyimpan makanan di musim ini51.
Atemeles tidak kesulitan bermigrasi dari sarang ke sarang. Semut Formica membuat sarangnya di hutan sedangkan semut Myrmica bersarang di padang rumput. Atemeles yang meninggalkan sarang Formica telah menemukan metode yang sangat penting agar ia tidak tersesat. Ia bergerak ke arah sinar matahari dan menemukan padang rumput di mana Myrmica bersarang. Ketika sampai di padang rumput, masalah lain menanti mereka. Mereka harus bisa membedakan sarang semut Myrmica dengan sarang semut lain. Penelitian menunjukkan bahwa Atemeles menemukan sarang yang tepat dengan mencium bau yang dihasilkan koloni Myrmica52.Singkat kata, serangga imigran ini tidak hanya mampu menentukan arah dengan menggunakan
cahaya, tapi juga mampu membedakan bau koloni-koloni semut.
Serangga imigran ini sangat menarik karena mereka diterima oleh kedua spesies semut dan dengan
cepat mampu beradaptasi dengan lingkungan sarang yang baru. Wasmann, seorang ilmuwan yang telah
meneliti semut selama bertahun-tahun, percaya bahwa serangga ini dapat bersimbiosis secara canggih dengan
metode adaptasi yang belum diketahui. Serangga ini memiliki sebuah kemampuan yang mereka gunakan
sehingga mereka dapat masuk ke sarang yang mereka inginkan. Spesies ini mempunyai sebuah kelenjar yang
menghasilkan zat-zat yang mereka gunakan untuk melindungi diri mereka. Mereka juga mensekresikan zat
kimia yang dapat melemahkan musuh-musuh mereka ketika mereka diserang. Zat kimia ini sangat keras sehingga ketika serangga ini menyemprotkan zat tersebut pada semut yang sarangnya sudah lama mereka tinggali, sikap semut menjadi lebih “lunak” pada mereka.
Aktivitas serangga imigran ini memunculkan berbagai pemikiran. Serangga yang tahu waktu yang tepat untuk pindah serta sarang yang ditujunya, pasti mengenali segala aspek kehidupan semut. Bagaimana
perjalanan migrasi ini dimulai? Pertama-tama, serangga imigran harus mampu menentukan bahwa sarang yang akan ditinggalinya adalah sarang semut, bukan sarang serangga lainnya. Kemudian, serangga imigran
juga harus dapat memilih spesies semut yang tepat dari sekitar 8800 spesies semut yang ada di dunia dan menyadari bahwa persediaan makanan di dalam sarang yang dipilihnyamenurun selama musim dingin. Setelah itu, serangga ini harus menemukan sarang yang banyak menyimpan makanan selama musim dingin.
Makhluk yang harus membuat semua keputusan ini adalah serangga yang mungkin tidak akan pernah kita jumpai selama hidup kita. Secara logis, apakah seekor serangga mampu membuat keputusan seperti ini?
Seandainya kita meyakini bahwa sistem ini telah berkembang sedemikian rupa, bukan berarti bahwa
tidak ada pertanyaan lain yang muncul. Bagaimana mungkin serangga ini dapat menemukan jalan ke sarang
yang tepat saat ia berpindah sarang? Bagaimana mungkin seekor serangga dengan ukuran seperseribu ukuran
manusia dapat menemukan jalan di dalam hutan sementara hal itu tidak mudah dilakukan bahkan oleh
seseorang yang sangat cerdas sekalipun?
Jawaban, “bergerak ke arah cahaya” tidak memberikan penjelasan yang sesungguhnya, karena cahaya
bisa datang dari 2-3 arah yang berlainan. Jika sekadar mengikuti arah cahaya, para imigran ini tetap harus
menjelajahi wilayah seluas beberapa meter persegi sebelum menemukan sarang yang dicari. (Bagi makhluk
seukuran serangga, wilayah seluas beberapa meter persegi sama dengan daerah seluas beberapa kilometer
persegi bagi kita). Pada saat inilah proses pengenalan bau dimulai. Proses ini juga sangat menakjubkan. Dapat
dibayangkan betapa sulitnya mengenali satu jenis bau dari bau-bau lainnya di dalam hutan yang dihuni
ratusan koloni semut, yang selain itu juga terdapat ribuan bau lainnya. Yang lebih menakjubkan lagi, serangga
yang telah hidup di tempat lain sepanjang musim panas masih ingat bau sarang yang ditujunya.
Mari kita pikirkan kejadian berikut ini. Andaipun kita yang meletakkan seekor serangga Atemeles dan
meletakkannya di depan sarang semut yang sesuai, tetap sangat sulit bagi serangga ini untuk dapat hidup di
sarang tersebut, karena semut juga memiliki kemampuan pengenalan yang sangat peka. Semut tidak akan
menerima semut lain yang tidak sekoloni. Semestinya mereka menganggap serangga pendatang ini musuh dan
mengusirnya dari sarang. Namun, hal ini tidak terjadi dan Atemeles diperlakukan dengan cukup baik.
Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh zat kimia yang diproduksi tubuh serangga ini. Bagaimana mungkin serangga imigran ini mengetahui bahwa dirinya dapat mempengaruhi koloni semut dengan zat ini dan menyadari bahwa efeknya akan mengubah sikap permusuhan koloni semut? Apakah mungkin Atemeles menentukan sendiri dengan tepat zat kimia apa yang diproduksinya?
Tentu saja ini mustahil. Yang terjadi di sini sudah jelas. Perbuatan serangga ini membutuhkan
kecerdasan yang tinggi dan kemampuan untuk memilih. Akan tetapi, tentu saja kedua hal ini tidak mungkin dimiliki seekor makhluk yang bahkan tidak memiliki otak. Harus diakui bahwa sumber kecerdasan dalam tindakan serangga ini berada “di luar” dirinya.
Para evolusionis menggunakan kata “naluri” untuk keluar dari jalan buntu seperti ini. Mereka juga
menyatakan bahwa perilaku hewan berasal dari motif-motif tertentu yang tidak diketahui sumbernya. Akan tetapi, pendapat seperti ini hanya dapat digunakan untuk menutupi kesalahan mereka, tidak mengubah apaapa.
Gambarannya cukup jelas. Ada motif-motif tertentu yang menggerakkan hewan ini yang dihasilkan oleh suatu rencana yang cerdas. Karena rencana cerdas tidak mungkin dihasilkan oleh hewan itu sendiri, motif ini
pasti bersumber pada sebuah kekuatan yang berkuasa atas hewan ini. Kekuatan ini adalah milik Dia Yang tak
terlihat, Yang mampu berkuasa atas dunia nyata dengan Maha Bijaksana dan mencerminkan pengetahuan itu dalam mengenai makhluk hidup, seperti serangga, yang tidak memilki kesadaran.

No comments:

Post a Comment

ini komentar