Monday, 19 October 2015

simbiosis semut 4



Serangga yang Berpura-Pura Mati
Sarang semut menyajikan persediaan makanan, perlindungan dari penyerang, dan kondisi hidup yang
ideal bagi suatu spesies serangga yang hidup di gurun pasir di sebelah selatan Amerika Serikat dan Meksiko.
Begitu berhasil memasuki sarang semut, serangga ini langsung menuju ruang perkembangbiakan dan
memakan larva semut.
Serangga ini telah mengembangkan berbagai teknik untuk masuk ke dalam sarang semut. Beberapa
spesies langsung saja masuk lewat lubang semut, kemudian melalui gundukan ranting dan masuk ke dalam
sarang. Serangga ini memiliki cangkang yang melindungi tubuh mereka dengan baik, sehingga semut tidak
dapat membunuh mereka. Koloni semut hanya dapat menyerang mereka bersama-sama lalu mengusir mereka
dari sarangnya.
Serangga yang gagal masuk tidak pernah menyerah. Mereka berpura-pura mati sehingga menarik
perhatian semut. Kemudian, semut-semut itu membawa pulang serangga yang berpura-pura mati ini sebagai
makanan. Untuk mengelabui semut, serangga ini pandai berpura-pura mati, dengan cara menarik antenanya ke
belakang serta membuat kakinya tampak kaku54.
Setelah mencapai ruang penyimpanan telur, entah mengapa semut meninggalkan serangga ini.
Penelitian menunjukkan bahwa selagi serangga ini memakan telur semut, cairan yang dikeluarkan bulunya
menarik perhatian semut di tempat lain. Demikianlah sikap permusuhan semut berkurang dan mereka tidak
lagi dapat melindungi telurnya.
Serangga “cerdas” ini juga meninggalkan larvanya di sarang semut. Larva serangga tumbuh di tengah
tumpukan potongan tanaman. Meskipun mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan melawan semut, larva
ini tidak diserang oleh kawanan semut, sampai suatu saat mereka mampu bertahan dari serangan semut dan
melarikan diri dengan cara yang terampil.56
Larva Lalat yang Mengenali Semut
Dalam subbab berikut ini kita akan menyaksikan contoh penciptaan yang sempurna dan mengagumkan,
yaitu larva lalat yang dapat menyamar.
Larva-larva lalat syrphid (Microdon) hidup jauh di dalam sarang semut selama musim dingin,
sedangkan pada musim semi mereka pindah ke permukaan sarang untuk membentuk kepompong (pupa).
Dalam penelitian ditemukan bahwa semua larva menghilang begitu menetas sehingga dianggap telah mati dan
hanya tertinggal seekor larva yang menggantung di permukaan luar kepompong semut. Pembesaran
menunjukkan bahwa bentuk larva semakin membulat, seolah-olah ia berusaha mengejan untuk mengubah
bentuknya. Tiba-tiba larva ini menghilang. Larva telah memasukkan kait pada mulutnya ke dalam kepompong
sutra dan membuat lubang yang cukup besar agar ia bisa masuk. Larva-larva yang seolah-olah menghilang
sebenarnya berada di dalam kepompong, memakan pupa semut dan berubah ke tingkat larva selanjutnya.
Larva Microdon pada tingkatan selanjutnya, menggulung dirinya searah panjang tubuhnya sehingga tidak
dapat dibedakan dari kepompong semut. Setelah proses transformasi ini, semut-semut pekerja yang
kebingungan berdatangan dan membawa bayi yang menyamar ke dalam sarangnya yang aman.57
Ini adalah contoh kasus mimikri yang unik. Semut mengira larva lalat ini adalah kepompong semut.
Pada saat penelitian dilakukan, ditemukan bahwa zat kimia pembentuk kutikula luar dari larva lalat yang
keras hampir persis sama dengan zat pada larva semut. Dengan kata lain, larva lalat juga dapat meniru
kepompong semut secara kimiawi.
Analisis kimia membuktikan bahwa kejadian ini benar-benar mimikri secara kimia. Bagaimana cara
larva Microdon melakukan penyamaran ini?
Pada bagian bawah tubuh larva terdapat tonjolan besar yang belum diketahui fungsinya. Diduga
tonjolan ini mengandung kelenjar atau muara kelenjar yang mengeluarkan zat kimia yang digunakan larva
untuk menyamar menjadi inangnya.
Bagaimana mungkin seekor makhluk yang bahkan tidak mengerti “kimia” dapat melakukan
penyamaran seperti ini? Selain itu, hanya larva lalat Microdon yang memiliki sistem pertahanan seperti ini,
sedangkan serangga dewasa tidak memilikinya. Karena serangga dewasa tidak dapat menyamar seperti halnya
larva, tentunya penyamaran ini bukan sesuatu yang merupakan hasil pemikiran mereka sendiri. Berarti larva
memiliki kemampuan ini sejak lahir.
Susunan kimiawi yang menyebabkan larva dapat menyamar sebagai semut tidak mungkin terbentuk
secara kebetulan di tubuh larva. Satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik dari kejadian ini adalah bahwa
larva lalat Microdon telah memiliki kemampuan ini sejak menetas.
Semut Pemakan Kayu dan Serangga Daun
Sampai subbab ini, yang dijelaskan buku ini mengenai semut sudah memberikan gambaran umum
mengenai dunia semut. Akan tetapi, yang tertulis ini baru sebagian contoh saja, karena banyak sekali spesies
di dunia semut yang dilengkapi dengan berbagai ciri-ciri yang kita tidak ketahui. Salah satunya adalah “semut
susu” atau juga dikenal sebagai semut pemakan kayu.
Semut pemakan kayu ini memakan cairan daun yang diperolehnya dari serangga daun, Aphid*.
Kerjasama antara semut dan aphid merupakan salah satu contoh simbiosis yang paling menarik dari
dunia serangga.
Aphid yang diletakkan pada daun oleh semut menghisap cairan dari akar tumbuhan. Dalam tubuh aphid,
cairan tumbuhan diubah menjadi “nektar”. Semut menyukai nektar dan tahu bagaimana caranya agar aphid
memberikan makanan ini kepada mereka. Bila seekor semut mulai lapar, ia mendekati aphid dan menepuknepuknya
dengan sensor dan antenanya. Aphid sangat menyukai hal ini sehingga mengeluarkan setetes nektar
dan memberikannya kepada semut. Sebagai balasan, semut melindugi dan memelihara aphid dengan baik59.
Pada musim gugur, semut mengumpulkan telur aphid dan menyimpannya di sarang mereka sampai
telur-telur ini menetas. Kemudian, bayi aphid diletakkan di akar tumbuhan, sehingga mereka dapat menghisap
cairan tumbuhan dan menyediakan nektar bagi semut.
Pertanyaannya adalah: Dari sekian ribu makhluk hidup di dunia ini, bagaimana cara semut susu
mengetahui sifat aphid? Kemudian bagaimana mungkin semut dapat memilih aphid dari begitu banyak pilihan
makhluk hidup lainnya? Tentu saja, tak mungkin kita menilai sebagai rantai kebetulan hal berikut ini: cairan
yang keluar dari tubuh aphid kebetulan cocok dengan apa yang dibutuhkan semut. Semut juga tidak mungkin
mengetahui secara kebetulan bahwa aphid akan memberikan nektar jika semut menepuk-nepuknya. Sekali
lagi, pasangan ini dirancang, selaras, dan karenanya jelas diciptakan.
(note from translator, page 89
* Aphid adalah serangga dari famili Aphididae (ordo Hemiptera) yang berkembang biak dapat secara
seksual dan partenogenesis. Spesies ini menghisap cairan floem tumbuhan dengan mulutnya yang dapat
menembus ke lapisan floem (Penerjemah).

No comments:

Post a Comment

ini komentar