Monday, 19 October 2015

simbiosis semut 5



Tanaman yang Hidup Bersama Semut
Di dalam kantung tanaman kantong semar yang hidup di sebelah India Timur, Nepenthes bicalcarata,
hidup koloni semut. Tanaman ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang menghinggapinya.
Meskipun demikian, semut bebas bergerak dan mengambil sisa-sisa serangga dan bahan makanan lainnya dari
tanaman ini60.
Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan tumbuhan. Meskipun semut mungkin saja
dimakan Nepenthes, mereka dapat membangun sarang pada tanaman ini. Tumbuhan juga menyisakan jaringan
tertentu dan sisa-sisa serangga untuk semut. Dan sebagai balasannya, semut melindungi tumbuhan dari
musuhnya.
Begitulah contoh simbiosis tanaman dan semut. Struktur anatomi dan fisiologi semut dan tanaman
inangnya telah dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan hubungan timbal balik antara keduanya.
Meskipun para pembela teori evolusi menyatakan bahwa hubungan antarspesies ini berkembang secara
berangsur-angsur selama jutaan tahun, tetapi tentu saja pernyataan yang mengatakan bahwa dua makhluk
yang tidak memiliki kecerdasan ini dapat sepakat merencanakan suatu sistem yang menguntungkan kedua
belah pihak tidak masuk akal.
Lalu, apa yang menyebabkan semut hidup pada tumbuhan?
Semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena adanya cairan bernama “nektar residu” yang
dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar ini merupakan daya tarik bagi semut untuk mendatangi tumbuhan.
Banyak spesies tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, pohon
ceri hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga minggu dalam setahun. Tentu pengeluaran cairan pada waktu
ini bukan kebetulan karena waktu tiga minggu ini bertepatan dengan satu-satunya waktu sejenis ulat
menyerang pohon ceri hitam. Semut yang tertarik pada nektar dapat membunuh ulat ini serta melindungi
tumbuhan61.
Hanya dengan menggunakan akal sehat, kita dapat melihat bahwa hal ini adalah bukti hasil penciptaan.
Akal sehat tidak mungkin bisa menerima bahwa pohon ini dapat memperhitungkan kapan bahaya akan
menyerang lalu memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan cara menarik semut
serta mengubah struktur kimianya. Pohon ceri tidak punya otak. Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir,
memperhitungkan, maupun mengubah komposisi kimianya. Bila kita menganggap bahwa prosedur yang
rasional ini adalah sebuah karakter yang diperoleh dari suatu kebetulan – yaitu dasar dari logika evolusi –
tentunya hal ini tidak masuk akal. Jelas sekali bahwa pohon ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada
kecerdasan dan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang dapat kita tarik adalah bahwa sifat tumbuhan ini telah
terbentuk karena adanya sebuah Kehendak yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk pada segala bentuk
pengaturan yang dibuat-Nya, jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa atas pohon, tetapi juga atas semut
dan ulat. Jika penelitian dilakukan lebih jauh lagi, tentunya dapat diketahui bahwa Dia berkuasa atas semesta
alam dan telah mengatur setiap komponen alam secara terpisah namun serasi dan selaras, sehingga
membentuk sebuah sistem sempurna yang kita kenal sebagai “keseimbangan ekologi”. Bila kita berpikir lebih
jauh dan meneliti bidang-bidang lain, seperti geologi dan astronomi, kita akan sampai pada gambaran yang
serupa. Ke mana pun kita melangkah, kita akan menyaksikan berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras
dan teratur sempurna. Semua sistem ini menunjukkan keberadaan Sang Pengatur. Meskipun demikian, tidak
satu pun komponen pembentuk alam ini yang mampu berfungsi sebagai Sang Pengatur itu.
Maka apakah Dia yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Surat An-Nahl:17)
Oleh karena itu sang pengatur haruslah Dia Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa atas alam semesta. Al
Quran menggambarkan Sang Penguasa sebagai berikut:
Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang
Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepadanya apa yang ada di langit dan di bumi.
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hasyr:24)
Pohon Akasia dan Semut
Pohon Akasia yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis terlindungi berupa duri. Suatu spesies semut
yang hidup pada pohon akasia Afrika membuat lubang dengan menggerogoti dinding duri dan hidup secara
permanen di dalam pohon akasia. Setiap koloni semut menghuni duri-duri pada di lebih dari satu pohon atau
lebih, serta memakan nektar daun akasia. Koloni ini juga memakan ulat dan organisme lain yang mereka
temukan di pohon.
Nektar batang akasia sangat kaya akan minyak dan protein. Thomas Belt, yang pertama kali
menyelidiki hal ini, menyatakan bahwa kelihatannya satu-satunya fungsi nektar adalah menyediakan nutrisi
bagi semut. Semut, yang hidup di pohon-pohon ini, mengambil gula dari nektar dan memberikannya kepada
larva mereka.
Apa yang diharapkan pohon dari semut sebagai “balas jasa”?
Semut pekerja yang berkerumun di permukaan tumbuhan sangat agresif kepada serangga lainnya, dan
juga pada hewan segala ukuran. Kalau hewan lain menyentuh pohon yang mereka tinggali, mereka akan
menyerang bersama-sama dan menggigit dengan gigitan yang menyakitkan. Selain itu, tumbuhan lain yang
berjarak kurang dari satu meter dari pohon akasia yang dihuni semut dibantai dan diserang, kulit batang
pohon diserang, serta ranting dan dahan yang menyentuh pohon akasia juga dihancurkan63.
Telah dibuktikan bahwa pohon akasia yang tidak didiami semut lebih mudah diserang dan dilukai oleh
serangga lainnya, jika dibandingkan dengan pohon yang dihuni koloni semut. Dalam sebuah eksperimen
diamati bahwa tumbuhan liar yang tumbuh berdiameter 40 cmdari pohon akasia diserang oleh semut, dimakan
dan diinjak-injak sampai hancur. Semut juga bahkan menyerang dahan dan daun tumbuhan lain yang
menyentuh bayangan pohon akasia. Seluruh koloni semut sangat sigap ketika membersihkan dan mengawasi
tumbuhan. Para ilmuwan sampai pada kesimpulan berikut: semut disewa oleh pohon akasia sebagai “tentara
khusus”64. Karena kedua belah pihak tidak mungkin bernegosiasi untuk mencapai keputusan tersebut,
keputusan ini pasti telah diambil oleh Dia yang menyebabkan kedua belah pihak mencapai persetujuan.
Hotel Semut
Pada sejumlah tumbuhan, terdapat lubang-lubang dalam yang secara biologi dikenal dengan nama
“domatia”. Satu-satunya fungsi domatia adalah sebagai tempat berlindung bagi koloni semut. Domatia
memiliki lubang-lubang yang bisa digunakan sebagai tempat keluar-masuknya semut, atau tirai jaringan tipis.
Dalam ruang-ruang ini juga terdapat “makanan jadi” (yaitu makanan yang diproduksi pohon, khusus untuk
dikumpulkan oleh semut serta dimakan). Satu-satunya fungsi “makanan jadi” adalah untuk memberi makan
semut, karena tampaknya makanan ini sama sekali tidak dimanfaatkan oleh tumbuhan65.
Pendek kata, domatia adalah sebuah struktur khusus yang dibentuk agar semut dapat bertahan hidup.
Suhu dan kelembapan domatia sangat ideal keseimbangannya bagi semut. Semut hidup dengan nyaman di
tempat istimewa ini yang seolah-olah dibuat khusus bagi mereka ini, sebagaimana halnya hotel berkualitas
dibuat untuk kesenangan manusia.
Tidak mungkin bagi kita untuk menyatakan bahwa struktur ini terjadi secara kebetulan, dan bahwa
tumbuhan memproduksi makanan bagi semut secara kebetulan, serta melakukannya berdasarkan kebutuhan.
Kerja sama semut dan tumbuhan hanyalah salah bukti dari keseimbangan yang menakjubkan yang
dibuat oleh Sang Pencipta Yang Maha Esa di dunia ini. Selain itu, hubungan ini juga timbal balik. Layanan
yang diberikan semut pada pohon dan layanan pohon pada semut, keduanya merupakan faktor penting bagi
tumbuh-tumbuhan di dunia ini. Semut meningkatkan kadar karbon dalam tanah karena mereka menanaminya,
menambahkan nutrisi tanah dari kotoran dan sisa-sisa mereka, serta menjaga suhu dan kelembapan
lingkungannya pada kadar yang sesuai. Oleh karena itu, spesies tanaman yang hidup berdekatan dengan
sarang semut tumbuh lebih subur dibandingkan yang hidup di tempat lain.

No comments:

Post a Comment

ini komentar