Monday, 19 October 2015

semut ahli 2



Semut Penghasil Asam
Salah satu teknik terpenting semut untuk membela diri adalah produksi racun atau asam format dalam
kantung racun di tubuh mereka. Penggunaan racun ini ampuh untuk melawan musuh. Racun mereka bahkan
dapat menyakiti manusia. Ketika menyengat, mereka menyebabkan alergi pada sebagian orang. Asam format
juga manjur untuk mengusir musuh.
Kalau kita menerima teori evolusi, kita juga harus mengakui bahwa pada awalnya semut primitif tidak
memiliki sistem racun dalam tubuhnya. Entah bagaimana, sistem racun ini terbentuk belakangan melalui
proses evolusi. Akan tetapi, hipotesis ini bertentangan dengan logika karena sistem racun hanya dapat bekerja
bila racun dan organ penyimpannya telah terbentuk. Organ ini harus memiliki struktur bersekat untuk
mencegah perembesan racun ke bagian tubuh lainnya. Selain itu, harus ada saluran bersekat yang
menghubungkan kantung racun dengan mulut. Selain ini semua, harus ada juga sistem otot dan susunan
mekanis agar racun dapat disemburkan ke arah musuh (Sebenarnya, sebuah kelenjar lagi juga dibutuhkan
untuk “melumasi” daerah perputaran perut, yang menyemburkan racun).
Organ-organ ini tidak mungkin berkembang secara bertahap melalui proses evolusi. Seandainya satu
saja organ ini tidak ada, sistem ini tidak akan berfungsi sehingga semut akan mati. Maka, hanya ada satu
kemungkinan: “sistem pertahanan kimiawi” ini pasti telah ada sejak awal. Ini membuktikan bahwa terjadi
perencanaan yang dilakukan secara sadar yang juga dikenal dengan nama “Penciptaan”.
Ada pertanyaan lain yang tidak ditemukan jawabannya oleh para evolusionis. Selain bisa menggunakan
racun ini tanpa membahayakan dirinya, bagaimana semut mengetahui cara memproduksi racun dalam
tubuhnya (dalam kantung racun)? Jawabannya sangat jelas dan mudah: Sebagaimana makhluk hidup lainnya
di alam semesta ini, semut dengan sistemnya yang sempurna telah diciptakan sekaligus, tidak berubah secara
bertahap sebagaimana menurut teori evolusi. Sang Maha Pencipta telah menciptakan pusat pembuatan racun
dalam tubuh mereka dan Dia pula yang telah mengilhami mereka tentang cara menggunakannya dengan
benar. Dialah Allah, Sang Pencipta alam semesta.
Semut yang Dapat Berhitung
Bagaimana mungkin seekor serangga sederhana dapat mengukur kekuatan lawan? Menariknya, semut
dapat melakukannya dengan kemampuan matematisnya.
Ada beberapa cara yang digunakan semut pekerja untuk mengukur kekuatan lawannya secara tidak
langsung. Salah satunya adalah “menghitung kepala” ketika berpindah dari satu penyerang ke penyerang
berikutnya. Jika teman sesarangnya menang jumlah – misalnya tiga lawansatu – mereka menyadari
ketidakseimbangan ini dan semakin cenderung melawan. Jika kondisi sebaliknya terjadi, mereka akan
mundur. Metode kedua adalah “menyensus” musuh. Jika sebagian besar semut pekerja lawan yang
ditemuinya adalah pimpinan (mayor), koloni lawannya mungkin jumlahnya lebih besar, karena koloni yang
memiliki banyak mayor biasanya adalah koloni sudah cukup tua/lama.73
Bom Berjalan
Pengorbanan terbesar yang dilakukan semut demi koloninya adalah menghancurkan koloni musuh
dengan cara bunuh diri untuk membela koloninya. Banyak jenis semut siap melakukan teknik kamikaze ini,
tetapi yang paling dramatis adalah semut pekerja dari spesies Camponotous dari kelompok saundersi yang
hidup di hutan hujan Malaysia.
Semut Camponotous pertama kali ditemukan pada tahun 1970 oleh dua orang ahli entomologi. Secara
anatomi dan tingkah laku, semut ini diprogram untuk menjadi bom berjalan. Mereka memiliki dua kelenjar
raksasa mengeluarkan racun. Kedua kelenjar ini berada dari pangkal rahang bawah sampai ujung belakang
tubuh. Ketika semut terdesak selagi bertempur, baik oleh semut lawan atau oleh pemangsa yang menyerang,
otot perutnya berkontraksi secara cepat, membuat dinding tubuhnya meledak, dan menyemprotkan sekresinya
ke arah musuh.74
Pengorbanan besar seperti ini tentunya tidak dapat dijelaskan dengan teori seleksi alam maupun proses
sosialisasi yang dipercayai para pendukung evolusi. Sebagaimana ditekankan sebelumnya, makhluk yang
mampu berkorban ini bukanlah seorang manusia yang memiliki kecerdasan, pendidikan, perasaan, dan
kehendak, melainkan seekor semut. Andaipun kita menganggap bahwa semut telah mengalami perubahan
fisik – meskipun ada fosil semut yang tidak berubah sedikit pun selama 80 juta tahun – jelas sekali bahwa
perubahan fisik semata tidak cukup untuk menghasilkan kemampuan semut di atas. Tidak ada mutasi yang
dapat menyebabkan transformasi mendadak yang membuat semut menjadi makhluk yang mampu berpikir,
mempertimbangkan, merasakan, dan meraba.
Andaipun kita asumsikan bahwa ada seekor semut yang pada suatu hari mau berkorban demi membela
koloninya, tidak mungkin pengorbanan ini ada dalam gen semut dan diwariskan kepada semut lainnya.
Semut Pedagang Budak
Hubungan antara semut parasit, Formica subintegra, dan budaknya, Formica subserica, sangat
menakjubkan karena menunjukkan pengaruh sinyal kimia pada kehidupan sosial semut. “Perbudakan” adalah
salah satu taktik perang semut yang sangat cerdas dan mungkin juga yang paling menarik.75
Kadang-kadang, ketika para tentara suatu koloni menyadari bahwa mereka dapat mengalahkan koloni
lain dengan mudah, mereka mulai mencari budak. Mereka menyerang sarang koloni lain, membunuh ratunya,
dan merampok “pot-pot madu” yang berisi nektar – maksudnya semut-semut yang tubuhnya berisi nektar. Hal
yang paling penting adalah, mereka menculik larva-larva dari ratu yang dibunuhnya. Larva-larva ini kelak
berkembang menjadi semut muda, yang menjadi “semut budak”. Semut budak bertugas merawat anak semut
dan mencari serta menyimpan makanan untuk koloni yang mengalahkannya.
Ketika sebuah koloni semut diserang oleh semut parasit, semut tentara mereka tidak mampu mencegah
pencurian telur dan kepompong mereka akibat feromon dari semut parasit. Feromon ini mirip dengan zat yang
mereka hasilkan sendiri, yang digunakan untuk peringatan bahaya. Oleh karena itu, ketika zat ini dikeluarkan
semut parasit dalam jumlah besar, koloni semut yang diserang semut parasit akan melarikan diri, tidak
melindungi koloninya.
Sebagaimana diketahui, setiap spesies semut mengeluarkan feromon yang berbeda. Feromon-feromon
ini digunakan untuk menandai daerah kekuasaan, mengumpulkan informasi mengenai lokasi dan jumlah
musuh, sebagai komando untuk menyerang dalam perang, serta sebagai tanda bahaya.
Ada satu hal yang menarik. Semut parasit tahu tanda bahaya koloni semut musuhnya. Mereka meniru
tanda bahaya ini dan menggunakannya untuk tujuan tertentu. Akibatnya, koloni musuh hancur disiplinnya
akibat feromon tiruan yang dikeluarkan semut parasit, dan lari ketakutan tanpa sempat menyusun sistem
pertahanannya. Artinya, semut parasit menghancurkan sistem pertahanan musuh dengan taktik yang sangat
cerdik, seolah-olah telah disiapkan oleh seorang ahli strategi perang yang andal. Selain itu, semut parasit
sudah memiliki prasarana informasi dan produksi zat-zat kimia yang dibutuhkan untuk melaksanakan strategi
ini sejak lahir – yaitu sejak pertama mereka diciptakan.
Beberapa spesies semut memiliki budak yang melakukan segalanya bagi mereka. Contohnya adalah
semut Amazon merah, Polyergus. Semua semut Amazon adalah dari jenis tentara. Rahang bawah mereka
besar dan tajam, khusus dibuat untuk berperang. Mereka tidak dapat mencari makan ataupun merawat bayi.
Semut ini menyerang sarang spesies semut hitam berukuran kecil dan menculik kepompong dan larvanya.
Semut yang terlahir dari kepompong ini dibawa pulang oleh penculiknya, disuruh melakukan berbagai
pekerjaan untuk semut Amazon, dan tinggal bersama koloni Amazon, meskipun sarang mereka berdekatan.
Bahkan, ketika koloni semut Amazon harus bermigrasi ke tempat lain, mereka memerintahkan budakbudaknya
untuk melaksanakan kepindahan mereka, sehingga koloni ini dapat bergerak cepat.76
Semut dapat membela diri terhadap makhluk hidup yang berukuran besar sekalipun karena
kemampuannya meninggalkan jejak. Salah satu contoh yang tepat adalah pertempuran semut dengan capung.
Semut-semut yang melihat capung dapat berkumpul berkat sistem pelacakannya, kemudian bersama-sama
menyerang dan membunuhnya. Dalam contoh lain, dengan cara yang sama mereka mengalahkan ulat yang
menyerang seekor anggota koloni, meskipun ukuran ulat ini lebih besar daripada ukuran mereka.
Mungkin kelihatannya biasa saja apabila makhluk hidup menyerang atau bertarung dengan makhluk
lain demi mempertahankan hidup, atau demi makanan. Akan tetapi, jika seekor hewan bekerja sama dengan
hewan lain, dari spesies yang sama, untuk bersama-sama melawan musuh, dan jika mereka
mengomunikasikan taktik perang satu sama lain, hal ini patut mendapat perhatian.
Kecerdasan, perencanaan, dan pertimbangan dibutuhkan dalam memilih taktik, bertempur secara teratur
dan disiplin, dan menggunakan sistem komunikasi untuk menjaga keteraturan dan disiplin tersebut. Misalnya,
strategi perang dewasa ini ditentukan berdasarkan pengalaman manusia selama bertahun-tahun. Perwira
angkatan bersenjata menjalani berbagai latihan di akademi militer dan mempelajari taktik-taktik seperti ini.
Mereka juga perlu membangun sistem komunikasi yang khusus dibuat untuk menjalankan strategi mereka.
Meskipun demikian, para tentara yang kita bicarakan sebelumnya, yang menentukan tugas dan taktik
penyerangan dengan menggunakan sistem komunikasi kimiawi, yang menyerang musuh bersama-sama, dan,
jika perlu, yang mengorbankan dirinya sewaktu-waktu demi kepentingan semut lain dalam pasukan, mereka
tidak pernah mendapatkan pelatihan maupun menerima informasi. Mereka adalah semut yang panjangnya
hanya beberapa milimeter dan tidak memiliki kemampuan berpikir.

No comments:

Post a Comment

ini komentar