Monday, 19 October 2015

semut ahli 3



Pakar Penyamaran
Misteri spesies semut Basiceros baru berhasil dipecahkan akhir-akhir ini. Semula para ilmuwan
menganggap semut ini termasuk spesies langka karena baru menemukan spesies ini satu kali dan tidak pernah
menemukannya lagi.
Akan tetapi, seorang peneliti memecahkan misteri semut ini pada tahun 1985. Ia menemukan bahwa
semut ini sama sekali bukan spesies langka. Seorang peneliti bernama La Selva, yang memecahkan misteri
ini, menggambarkan semut Basiceros sebagai ahli pembuat ilusi, karena mereka dapat menjadi “tidak terlihat”
kapan saja.
Apa yang membuat mereka tidak terlihat?
Berbeda dengan spesies semut lain, tubuh spesies Basiceros ditutupi dua lapis bulu yang ujungnya
bercabang. Ketika mereka berjalan di tanah, segala jenis debu, tanah, dan potongan rumput menempel pada
bulu ini. Perbedaan lainnya antara semut ini dan semut lain adalah, mereka jarang membersihkan kotoran
yang menempel. Maka, sebagaimana ditunjukkan pada gambar, mereka benar-benar sesuai dengan
lingkungan tempat tinggalnya. Jika dilihat dari luar, sulit sekali menemukan mereka. Semut ini hanya dapat
dilihat ketika mulai berjalan. Akan tetapi, meskipun sudah begini pun, mereka berjaga-jaga untuk melindungi
diri dari burung, kadal, bahkan manusia. Mereka adalah semut terlambat di muka bumi ini. Ketika diganggu,
semut ini dapat berdiri diam selama beberapa menit.
Teknik kamuflase yang digunakan sepesies semut ini sangat mengejutkan, karena tidak mungkin seekor
semut membangun sistem pertahanan dengan cara menentukan karakter fisiologisnya sendiri. Semua
keistimewaan ini (tubuh yang ditutupi rambut, tidak membersihkan diri sebagaimana layaknya semut lain,
serta bergerak sangat lambat) pasti telah ditentukan sebelumnya, sehingga semut yang terlahir ke dunia ini
telah dilengkapi dengan berbagai karakter tersebut.
Akibatnya, kita menghadapi sebuah kebenaran besar. Spesies semut ini juga telah diciptakan oleh Allah
dengan segala sifat yang telah dirancang sebelumnya, sehingga menunjukkan sifat-Nya sebagai Sang Pencipta
pada kita.
FOOTNOTES:
72) Bert Holldobler-Edward O. Wilson, Journey to the Ants, Harvard University Press, 1994, hlm. 70.
73) Ibid, hlm. 71.
74) Ibid, hlm. 67.
75) Roger Caras, Venomous Animals of the World, hlm. 84
76) Bert Holldobler-Edward O. Wilson, The Ants, Harvard University Press, 1990, hlm. 284.
77) Ibid, hlm. 185-186.
BAB 6
MELESTARIKAN RAS
Sebagian besar anggota koloni semut adalah semut betina. Semut jantan berusia lebih pendek. Satusatunya
tugas mereka ketika dewasa adalah mengawini ratu semut muda. Semut jantan mati tak lama setelah
kawin. Semua semut pekerja adalah betina. Pendek kata, semua komunitas semut sebenarnya terdiri atas ibu
dan putrinya.
Semut memiliki kehidupan sosial yang harmonis meskipun jumlah mereka besar. Dalam koloni semut,
kita dapat menyaksikan setiap tahap dalam kehidupan masyarakatnya.Tujuan hidup semut, yang terikat pada
koloninya dengan pengorbanan yang besar, tidaklah bersifat individual. Mereka semua, bersama-sama, ibarat
tubuh yang satu, dan tujuan mereka adalah melestarikan hidup tubuh itu. Mereka tidak berpikir dua kali untuk
mengobankan nyawa, jika itu dapat melangsungkan hidup koloninya. Contoh terbaik hal ini adalah kejadian
yang menimpa semut jantan setelah perkawinan.
Mati demi Kelangsungan Hidup Rasnya
Perkawinan semut berlangsung bagaikan sebuah upacara. Perkawinan semut kebanyakan terjadi di
udara. Para pejantan datang lebih dahulu dan menunggu kedatangan sang ratu muda. Ketika seekor betina
hinggap di tanah (si betina juga memiliki sayap sebelum kawin), 5-6 pejantan mulai berlari mengelilingi sang
ratu. Ketika si betina telah mendapatkan cukup sperma, ia mengirimkan sinyal berbentuk getaran. Pejantan
memahami sinyal ini sebagai tanda bahwa si betina siap untuk melepaskan diri. Tak lama setelah perkawinan,
semut pejantan mati.78
Pengorbanan seperti ini sangat sulit untuk dijelaskan. Demi kelangsungan rasnya, semut jantan rela
mengikuti upacara perkawinan yang berakhir dengan kematiannya. Hal ini merupakan suatu sikap yang sulit
dijelaskan dengan teori evolusi. Berdasarkan logika evolusi, setiap makhluk hidup hanya memikirkan
kelangsungan hidupnya. Namun, perkawinan semut jantan dengan semut betina telah terjadi selama jutaan
tahun, meskipun si pejantan mengetahui bahwa pada akhirnya ia akan mati.
Satu-satunya teori yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah bahwa semut jantan bertindak sesuai
inspirasi Sang Pencipta. Jika bukan karena inspirasi ini, tidak mungkin seekor makhluk, yang katanya telah
melalui tahap seleksi alam, akan mempertahankan sifat pengorbanan ini selama jutaan tahun. Berdasarkan
prinsip-prinsip dasar teori evolusi, semut jantan seharusnya mencoba melepaskan diri dari “upacara kematian”
ini dengan berbagai cara, meskipun berarti spesies semut akan musnah. Akan tetapi, kenyataannya ribuan
spesies semut masih tetap ada di muka bumi ini dengan koloni beranggotakan ratusan ribu ekor. Tidak seekor
pun semut jantan melarikan diri dari ritual yang akan mengakhiri hidupnya.
Setelah Perkawinan
Setelah kawin, si betina mencari sarang yang sesuai. Setelah menemukannya, ia masuk dan segera
melepaskan sayapnya. Kemudian, ia menutup pintu masuk dan tinggal di sana sendirian tanpa makanan
selama beberapa minggu. Lalu, ia bertelur. Selama masa ini, ia memakan sayapnya. Ia memberi makan larva
yang baru menetas dengan air liurnya sendiri. Usaha yang memakan waktu dan tenaga ini adalah salah satu
contoh pengorbanan lain. Selama sisa hidupnya, sang ratu diberi makan oleh koloninya.
Karena keterbatasan makanan, keturunan pertama sang ratu bertubuh kecil. Merekalah semut pekerja
pertama yang merawat keturunan selanjutnya, dan terus berkorban dengan cara yang sama. Generasi semut
baru yang dirawat dengan baik ini kemudian tumbuh lebih besar, karena mendapatkan gizi yang lebih baik.
Pendiri Bank Sperma yang Pertama
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, semut jantan tidak berumur panjang. Usia mereka berkisar antara
beberapa jam sampai beberapa hari setelah perkawinan. Meskipun demikian, pejantan yang sudah kawin ini
meninggalkan sperma yang membentuk keturunannya, yang lahir bertahun-tahun setelah ia mati. Bagaimana
sperma ini disimpan sehingga tetap hidup dan dapat membuahi telur untuk menghasilkan semut baru?
Mungkinkah semut telah mengembangkan teknologi supercanggih dan membangun bank sperma?
Setiap ratu semut memiliki bank sperma dalam tubuhnya. Setelah menerima ejakulasi dari pejantan,
sang ratu menyimpan sperma dalam kantung oval di dekat ujung perutnya. Dalam organ spermatheca ini,
setiap sperma dinonaktifkan secara fisiologis dan disimpan dalam keadaan ini selama bertahun-tahun. Ketika
kelak sang ratu mengeluarkan sperma ini ke saluran reproduksinya, baik satu-satu maupun dalam kelompok
kecil, sperma diaktifkan kembali dan siap membuahi telur yang masuk ke saluran dari indung telur79. Ini
berarti bank sperma yang kita kenal 25 tahun ini melalui teknologi tinggi, telah digunakan oleh semut sejak
jaman prasejarah.
Mekanisme bank sperma yang baru terpikir oleh manusia sekitar 50 tahun yang lalu, telah digunakan
oleh semut selama jutaan tahun. Karena semut tidak mungkin melakukan prosedur yang digunakan manusia,
seperti mendirikan laboratorium dan memasukkan mekanisme ini ke dalam tubuhnya, mereka pasti telah
memiliki mekanisme seperti ini sejak awal. Jika kita menduga bahwa mekanisme ini tidak mereka miliki sejak
awal, pertanyaan-pertanyaan di bawah ini akan muncul.
Ketika semut muncul di dunia untuk pertama kalinya, apakah pejantannya juga mati saat upacara
perkawinan? Jika tidak, mengapa sekarang mereka mati? Apakah kematian dalam upacara perkawinan ini
sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa di alam ini yang cocoklah yang akan menang?
Karena semut jantan mati tak lama setelah upacara perkawinan, bukankah seharusnya semut sudah lama
punah andai saja tidak ada tempat penyimpanan sperma yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup spesies
ini?
Jika bank sperma semut sudah ada sejak semut ada pertama kalinya, siapakah yang memperlengkapi
tubuh mereka dengan mekanisme ini?
Ini hanyalah beberapa contoh pertanyaan yang harus dijawab oleh mereka yang tidak percaya akan
keagungan penciptaan oleh Sang Pencipta. Ribuan pertanyaan lain mengenai kelangsungan hidup spesies
semut dapat saja muncul, yang masing-masing mengarah ke masalah penciptaan berencana yang tidak dapat
dijawab oleh para evolusionis.

No comments:

Post a Comment

ini komentar