Monday, 9 November 2015

Tuntunan Rasulullah dalam Bepergian dan Ibadahnya, zadul maad



Tuntunan Rasulullah dalam Bepergian dan Ibadahnya

Perjalanan jauh yang dilakukan Rasulullah Shallallahii Alaihi wa Sallam berkisar pada empat masalah: Bepergian untuk hijrah, bepergian untuk jihad, bepergian untuk umrah dan bepergian untuk haji. Yang paling sering  dilakukan iaiah bepergian untuk jihad.

Sebelum berangkat, beliau mengundi  di antara istri-istrinya. Siapa  yang undiannya keluar. maka dialah yang berhak menyertai beliau. Tapi ketika haji  beliau mengajak mereka semuanya.
Beliau biasa memulai perjalanan pada pagi hari dan menganjurkan  permulaan perjalanan pada hari Kamis. sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhary, dan tak lupa berdoa kepada Allah agar memberikan barakah  kepada umatnya pada pagi hari Kamis itu.  Jika beliau mengirim pasukan perang,  beliau juga
memberangkatkannya pada pagi hari. Jika mereka terdiri dari tiga orang atau lebih, beliau memerintahkan untuk mengangkat salah seorang diantara  mereka sebagai pemimpin rombongan. Beliau melarang seseorang  melakukan perjalanan sendirian.  seraya mengabarkan bahwa satu orang itu adalah syetan. dan dua orang itu dua syetan. sedangkan tiga orang adalah  sebuah rombongan.''  Artinya dua orang  yang melakukan perjalanan mudah dipengaruhi  syeitan.  Salah seorang di  antara keduany a dibisiki untuk tidak  sependapate dengan lainnya, Terlebihlagi satu orang akan  lebih mudah dibisiki syetan.

Jika hewan tunggangan didekatkan agar beliau menaikinya. maka beliau mengucapkan bismillah tepatnya ketika kaki beliau meletakkan kaki  di pijakan pelana.  Jika sudah mantap berada di atas punggung hewan tunggangan, beliau mengucapkan: "Segala puji  bagi  Allah yang telah menundukkan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak bisa menguasainya, dan sesungguhnya
kami akan kembali  kepada Rabb kami. "

Kemudian beliau mengucapkan hamdalah tiga kali, kemudian mengucapkan takbir tiga kali, kemudian mengucapkan: "Ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku sendiri  maka ampunilah bagiku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni  dosa  melainkan Engkau. "

Beliau juga pernah mengucapkan doa sebagai berikut : Ya Allah, sesunggguhnya kami memohon kebajikan dan takwa dalam  perjalanan  kami ini  dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami yang jauh.   Ya Allah,  Engkau rekan dalam per jalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan tempat kembali yang menyedihkan dan pemandangan yang buruk pada keluarga dan harta. "

Jika sudah kembali, maka beliau mengucapkan doa ini lalu menambahinya, " Kami dalam keadaan patuh,  beriaubat , memuji  Rabb kami dan memuji-Nya. "

Jika beliau meniti jalan yang mendaki bersama para shahabat, maka  beliau bertakbir, dan jika melewati jalan menurun, maka beliau bertasbih.  Beliau mengqashar shalat yang empat rakaat  menyingkatnya menjadi  dua rakaat semenjak memulai perjalanan hingga kembali lagi ke Madinah. Sama sekali tidak pernah diriwayalkan bahvva beliau mengerjakan empat  rakaat secara sempurna dalam perjalanannya.  Adapun tentang perkataan  Aisyah pemah mengqashar shalat dalam  perjalanan dan menyempurnakannya, berpuasa dan terkadang juga tidak  berpuasa, adalah hadits dhaif. ' Saya pernah mendengar Ibnu Taimiyah
berkata, "Ini merupakan kedustaan atas Nabi.


Tidak ada satu riwayat dari Nabi, bahwa beliau melakukan sunat sebelum maupun sesudah shalat fardhu, selain dari shalat witir dan sunat fajar. Beliau tidak pernah meninggalkan dua shalat ini ketika menetap maupun ketika bepergian. Ada riwayat dari Al-Barra' bin Azib yang menyebutkan bahwa beliau shalat dua rakaat sebelum matahari tergelincir pada tengah hari. Ini adalah hadits gharib.

Di antara tuntunan beliau, bahwa jika perjalanan dimulai sebelum  matahari  tergelincir, maka beliau mengakhirkan shalat zhuhur hingga waktu  shalat ashar. Jika matahari sudah tergelincir sebelum berangkat, maka beliau  shalat zhuhur terlebih dahulu,  Jika perjalanan harus ditempuh secara terburu-buru, maka beliau mengakhirkan shalat maghrib hingga waktu isya'.
Diriwayatkan dari beliau sewaktu perang Tabuk, bahwa selagi matahari  sudah tergelincir sebelum berangkat, maka beliau menyatukan antara zhuhur  dan ashar. Jika matahari belum tergelincir ketika berangkat, maka beliau  mengakhirkan zhuhur di waktu ashar, lalu mengerjakan kedua-duanya.Begitu pula yang berkaitan dengan maghrib isya. Tapi hadits ini dipertentangkan, ada yang menshahihkannya dan ada pula yang menghasankannya  serta ada pula yang melemahkannya. Yang pasti ada riwayat bahwa beliau  menjama' zhuhur dengan ashar di Arafah karena untuk kemaslahatan wuquf,  agar beliau bisa terus-menerus berdoa tanpa diselingi shalat ashar, sekalipun  sebenarnya shalat ashar itu bisa dilakukan pada waktunya tanpa kesulitan. Jadi, jama' bisa dilakukan karena kesulitan atau karena ada keperluan.

Bukan termasuk tuntunan Nabi Shallallahii Alaihi wa Sallam melakukan shalat jama' di kendaraan seperti yang banyak dilakukan manusia atau menjama' (taqdim) ketika singgah atau ketika turun dari kendaraan.  Beliau  menjama  ketika harus melakukan perjalanan secara sungguh-sungguh dan ketika melakukan perjalanan sebelum masuk waktu shalat. Tidak ada riwayat tentang jama' taqdim dari beliau kecuali di Arafah.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menetapkan batasan tertentu  dari jarak tempuh perjalanan untuk bisa mengqashar dan tidak berpuasa. Hal  ini berlaku untuk semua jenis perjalanan di muka bumi,  sebagaimana beliau  membebaskan untuk bertayammum dalam perjalanan. Tentang adanya riwayat yang membatasi  tempo perjalanan itu minimal satu, dua atau tiga hari, maka sama sekali bukan merupakan riwayat yang shahih dari beliau.

No comments:

Post a Comment

ini komentar