Monday, 9 November 2015

Tuntunan Rasulullah Saat Membaca Al-Qur'an atau Mendengarkannya, zadul maad



Tuntunan Rasulullah Saat Membaca Al-Qur'an atau Mendengarkannya

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai  hizib  (Bagian dari Al Qur'an di  baca setiap malam, yang  dengan bagian-bagian ini beliau mengkhatamkan semua Al-Qur'an dalam beberapa malam)   dari Al-Qur'an yang tidak pernah ditinggalkannya. Bacaan beliau berupa tartil, huruf perhuruf dan berhenti pada setiap ayat, berlindung kepada Allah dari syetan setiap hendak memulai bacaan dan memanjangkan bacaan yang memang dibaca panjang. Beliau juga senang mendengar bacaan Al-Qur'an dari orang lain.
Karena itu beliau menyuruh Ibnu Mas'ud untuk membacanya, lalu beliau mendengarkannya. Karena khusyu'nya dalam mendengarkan bacaan, hingga airmata beliau keluar. Tidak ada yang menghalangi beliau untuk membaca Al-Qur'an selain dari junub. Terkadang beliau melagukan bacaannya. Abdullah bin Mughaffal meriwayalkan bahwa beliau pernah membaca seperti  gagap jika semua ini dikompromikan dengan perintah beliau agar melagukan atau membaguskan suara saat membaca Al-Qur'an, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa bacaan beliau yang seperti gagap itu memang disengaja dan bukan karena terpaksa karena beliau sedang naik onta dan ontanya bergerak-gerak.

Ada sebagian orang yang terlalu cenderung untuk melagukan bacaan Al-Qur'an dan sebagian lain ada yang tidak tertarik sama sekali dan bahkan  melarangnya. Masing-masing menyodorkan alasan yang menguatkan pendapatnya.  Jalan keluar dari masalah ini dapat dikatakan sebagai berikut, bahwa  melagukan bacaan itu ada dua sisi:

1 . Dilakukan apa adanya tanpa memaksakan diri, lanpa mempelajari dan meiatihnya sedemikian rupa.  Bacaan dilagukan menurut pembawaan dirinya. Yang demikian ini diperbolehkan, seperti yang dikatakan Abu Musa Al- Asy'ary kepada Nabi, ''Sekiranya aku mengetahui engkau mendengarkan, tentu aku akan membaguskannya sedemikian rupa."

2. Lagu itu dibuat-buat, dipaksakan, untuk menggugah rasa  sedih dan kesenangan jiwa, bukan karena pembawaan, yang tidak bisa diperoleh kecuali  dengan mempelajari, melatih atau memaksakan diri untuk itu, dengan  nada rendah dan tinggi. dengan ukuran-ukuran tertentu, maka inliah yang  dimakruhkan orang-orang salaf,  dicela dan diingkari.



No comments:

Post a Comment

ini komentar