Monday, 9 November 2015

Tuntunan Rasulullah ketika Membesuk Orang Sakit, zadul maad

Tuntunan Rasulullah ketika Membesuk Orang Sakit

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa membesuk di  antara shahabat yang sakit. Suatu hari beliau membesuk seorang pemuda dari  Ahli Kitab yang pernah menjadi pembantu beliau. Pada saat yang sama paman pemuda itu, seorang musyrik juga membesuknya. Beliau menawarkan agar keduanya masuk Islam. Maka pemuda itu memenuhi tawaran beliau dan pamannya menolak.

Biasanya beliau mendekati orang yang sakit, duduk di samping kepalanya dan menanyakan keadaannya, ''Apa yang engkau rasakan?'' Beliau juga  pernah menanyakan apa yang diinginkan orang sakit yang sedang beliau besuk, "Apakah engkau menginginkan sesuatu?" Jika memang dia menghendaki sesuatu dan tidak mudharat, maka beliau memerintahkan orang lain  untuk meladeninya. Beliau mengusapkan tangan kanan ke badan orang yang  sakit seraya mengucapkan doa,

'Ya Allah. Rabb manusia, singkirkanlah siksaan dan berilah kesembuhan, karena Engkaulah Maha Pemberi kesembuhan, yang tiada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, suatu kesembuhan yang tidak disertai penderitaan. "

Beliau biasamembacakan doa tiga kali bagi orang yang sakit, seperti  yang beliau lakukan terhadap Sa'd dengan bersabda, "Ya Allah, berikanlah kesembuhan kepada Sa'd. Ya Allah, berikanlah kesembuhan kepada Saad. Ya Allah, berikanlah kesembuhan kepada Sa'd."

Saat inemasuki tempat tinggal orang yang sakit. beliau mengucapkan. "Tidak apa-apa, suci insya Allah. "

Beliau pernah me-ruqyah orang yang mendapat  luka atau mengeluhkan rasa sakit. Beliau meletakkan jari telunjuk ke tanah, kemudian meiigangkatnya seraya bersabda.

"Dengan asma Allah, ini adalah tanah bumi kami. dengan ludah sebagian di antara kami. menyembuhkan orang yang sakit di antara kami, dengan seizin Rabb kami. " (Diriwayalkan Al-Bukhary dan Muslim).

Hadits ini menggugurkan lafazh yang disebutkan dalam hadits tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, yang di antara sifat mereka ialah tidak me-ruqyah dan tidak meminta agar dirinya di-ruqyah, sebagaimana yang disebutkan di dalam Ash-Shahihain. Lafazh dalam hadits ini, "Tidak meruqyah  merupakan kesalahan dari rawi. Ibnu Taimiyah berkata, "Yang benar ialah dengan lafazh,  "Mereka tidak meminta di-Yang demikian itu karena kesempurnaan tauhid mereka. Karena itu mereka  tidak meminta agar orang lain me-ruqyah dirinya, dan karena mereka hanya bertawakal kepada Allah.

Bukan termasuk tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengkhususkan hari tertentu untuk membesuk orang sakit atau pun waktu tertentu. Yang beliau syariatkan kepada umatnya ialah membesuk orang sakit  kapan pun waktunya, siang maupun malam. Diriwayatkan dari beliau,

"Tidaklah seorang Muslim mengunjungi orang Muslim lainnya,  melainkan Allah mengutus tujuh puluh ribu malaikaiyang bershalawat atas dirinya, kapan pun waktunya dari siang hari hingga sore hari,  kapan pun waktunya dari malam hari hingga pagi hari. " (Diriwayat- kan Ahmad, At-Tirmidzy, Abu Daud dan Al-Hakim).

Jika beliau merasa tidak memiiiki harapan atas kesembuhan orang sakit yang dibesuknya, maka beliau mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilahiraji 'un. '

No comments:

Post a Comment

ini komentar