Monday, 9 November 2015

Tuntunan Rasulullah tentang Jenazah, zadul maad



Tuntunan Rasulullah tentang Jenazah

Tuntunan dan petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang jenazah merupakan tuntunan yang paling sempurna, berbeda jauh  dengan tuntunan umat mana pun. karena di sana terkandung perlakuan yang  lembu tterhadap mayat. Dalam Hal ini beliau memberikan sesuatu yang bermanfaat baginya di dalam kubur dan akhiratnya. memberikan kebaikan bagi kerabat dan keluarga yang ditinggalkannya, sekaligus menegakkan ubudiyah kepada Allah semata bagi orang yang masih hidup dalam keadaan yang paling sempurna. mempersiapkan mayit dalam keadaan yang paling bagus untuk menghadap Allah, menempatkan para shahabat dalam shaf-shaf sambil  memuji Allah, memohonkan ampunan dan rahmatkepada-Nya bagi mayit, berjalan mengiringinya hingga tiba di kuburan. Kemudian beliau dan para  shahabat berdiri di samping kubur, memohonkan keteguhan baginya, berjanj i  untuk mengunjunginya dan menyampaikan salam sejahtera dan mendoakannya.
Sebelum itu beliau mengunjunginya ketika masih sakit. mengingatkannya tentang akhirat, menyuruhnya berwasiat dan bertaubat, memerintahkan orang yang hadir untuk menuntunnya membacakan syahadat, agar  ucapan itulah yang terakhir kali dia katakan. Beliau juga melarang kebiasaan  yang dilakukan umat-umat yang tidak percaya kepada hari berbangkit, seperti
menempelengi pipi ketika sedang berduka, menyobek-nyobek pakaian, mencukur rambut, meratap dan menangis dengan suara keras. Beliau memerintahkan untuk khusy  kepada mayit, boleh menangis tanpa mengeluarkan  suara dan menyatakan kesedihan hati, seperti yang beliau lakukan, yang saat itu beliau bersabda, "Mata boleh meneteskan air mata dan hati boleh bersedih,
tapi kami tidak mengatakan kecuali yang membuat Rabb ridha."

Beliau mensunnahkan ucapan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un dan ridha terhadap Allah. Yang demikian ini bukan berarti menafikan kesedihan  hati dan tetesan air mata. Beliau adalah orang yang paling ridha terhadap qa-dha' Allah dan paling banyak memuji-Nya.Toh meskipun begitu beliau tetap
meneteskan air mata ketika putra beliau, Ibrahim meninggal dunia, sebagai  wujud rasa kasih sayang terhadap anak. Tapi hati beliau dipenuhi keridhaan  terhadap Allah.

Di antara tuntunan Rasulullah ialah segera menangani mayit,  mensucikan,  memandikan, membersihkan,  memberinya  wewangian, mengafaninya dengan kain putih. diletakkan di lempat tertentu  dan menshalatinya, kemudian mengiringkannya ke kuburan.
Ketika para sahabat meiihat bahwa penanganan mayit ini merepotkan beliau, maka merekalah yang menanganinya hingga beres, lalu membawanya kepada beliau, lalu  beliau menshalatinya di luar masjid. Tapi terkadang beliau menshalatinya  di dalam masjid, seperti yang beliau lakukan terhadap Suhail bin Dhiya' dan  saudaranya. Tapi menshalati mayit di masj id ini bukan merupakan kebiasaan
beliau.
Tuntunan beliau yang lain iaiah menelungkupi wajah mayit jika sudah  meninggal dunia. memejamkan matanya,  menutup seluruh badannya,  dan  terkadang beliau memeluk badan mayit seperti yang dilakukan terhadap Utsman bin Mazh'un.  Beliau memerintahkan untuk memandikan mayit  dengan tiga atau lima kali guyuran ataupun lebih dan memerintahkan untuk  mencampurkan bubuk kapur pada guyuran yang terakhir.  Sementara para  syuhada  yang gugur di medan peperangan tidak dimandikan.  Al-Imam Ahmad menyebutkan, bahwa beliau melarangnya. Tapi senjata yang menancap  di badannya, kalau ada, bisa dicabut, lalu mereka dikubur dengan pakaian
yang dikenakannya serta tidak dishalati. Jika orang yang sedang  ihram  meninggal dunia, maka dia dikafani dengan kain ihramnya, tidak boleh diberi  wewangian dan kepalanya tidak ditutupi.

Jika mayit yang dibawa ke hadapan beliau untuk dishalati, maka beliau  bertanya, "Dia mempunyai hutang apa tidak'?" Jika tidak mempunyai hutang,  maka beliau mau menshalatinya. Jika masih mempunyai hutang, maka beliau  tidak mau menshalatinya. Tapi beliau memperkenankan para shahabat untuk  menshalatinya. Sebab shalat beliau merupakan syafaat, dan syafaat beliau
itu bersifat pasti. Sementara seseorang tergadaikan dengan hutangnya. Dia  tidak akan masuk surga sehingga hutangnya itu dilunasi. Setelah fathu Makkah, beliau mau menshalati orang yang punya hutang, dengan menanggung  hutang mayit dan menyerahkan hartanya kepada ahli warisnya.

Dalam menshalati mayit beliau mengucapkan takbir dan memuji Allah. Sementara Ibnu Abbas pernah menshaiati Jenazah dan dia membaca Al-Fatihah secara nyaring setelah takbir yang pertama. Namun dalam hal ini dia berkata, "Agar kalian tahu bahwa itu merupakan Sunnah.'' Memang ada
riwayat yang menyebutkan bahwa beliau memerintahkan membaca Al- Fatihah bagi jenazah. Tapi isnadnya lemah. Syaikh kami berkata, "Bacaan Al-Fatihah dalam shalat jenazah tidak wajib, tapi merupakan sunat.'

Yahya bin Sa' id Al-Anshaiy  meri wayatkan dari Sa’id Al-Muqbiry dari Abu hurairah  bahwa dia pernah bertanya kepada Ubadah bin Ash-Shamit  tentang shalat jenazah.  Maka dia menjawab, "Demi Allah aku akan  memberitahukannya kepadamu. Engkau harus memulainya dengan takbir,
kemudian shalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian  engkau mengucapkan,

"Ya Allah, sesungguhnya hamba-Mu Fulan tidak menyekutukan-Mu,  dan Engkau lebih mengetahui tentang dirinya.  Jika dia orangyang  berbuat kebaikan, maka tambahilah kebaikannya, dan jika dia orang  yang berbuat keburukan, maka ampunilah dia. Ya Allah, janganlah  Engkau halangi pahalanya dari kami dan janganlah Engkau sesatkan  kami sepeninggalnya. "

Maksud shalat jenazah ini adalah mendoakannya. Karena itu tidak  diriwayatkan adanya bacaan Al-Fatihah (secara nyaring) dari beliau dan tidak pula shalawat kepada beliau. Di antara doa yang beliau baca dalam shalat  jenazah ialah,

"YaAllah, ampunilah baginya, berilah ia rahmat, afiat dan ampunan,  muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah tempat masuknya, cucilah  ia dengan air, salju dan embun, bersihkanlah ia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari kotoran,  berikanlah ganti baginya tempat yang lebih balk daripada tempatnya,  keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri (suami) yang lebih  baik dari istri (suami) nya, masukkanlah ia ke surga, lindiugilah ia dari
siksa kubur dan siksa neraka. " (Diriwayatkan Mushm).

"Ya Allah, ampunilah bagi orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal di antara kami, yang muda dan yang tua, yang laki-laki dan  wanila. yang hadir dan yang tidak hadir di antara kami. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah ia pada Islam, dan siapa yang engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkanlah ia pada iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya dari kami dan janganlah Engkau coba kami sepeninggalnya. " (Diriwayatkan At-Tirmidzy, An-Nasa'y, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

“y a Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan ada dalam tanggimgan-Mu  dan ikatan lindungan-Mu, maka lindungilah la dari cobaan kubur dan siksa neraka. Engkau adalah Dzatyang memenuhi janji  dan hak. Maka ampunilah baginya dan rahmatilah la. sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (Diriwayatkan Abu Daud, Ibnu  Majah dan Ahmad).

"Ya Allah, Engkau adalah Rabbnya, Engkau yang menciptakannya, Engkau yang memberinya rezki, Engkau yang menunjukinya kepada Islam. Engkau yang mencabut ruhnya, Engkau mengetahui rahasia dan penampakannya, kami datang untuk memintakan syafaat, maka
ampunilah ia. " (Diriwayatkan Abu Daud).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar yang mendoakannya ikhlas.

Beliau bertakbir empat kali, namun ada pula riwayat shahih yang menyebutkan lima kali. Sementaradiantarashahabatada yang takbirempat kali, lima kali dan enam kali. Zaid bin Arqam takbir lima kali dan dia menyebutkan bahwa Nabi juga pernah melakukannya, sebagaimana riwayat Muslim. All bin Abu Thalib bertakbir enam kali ketika menshalati jenazah Sahl bin Hunaif, sebagaimana yang diriwayatkan Al- Baihaqy dengan isnad yang shahih. Rekan-rekan Mu'adz bertakbir lima kali.
Alqamah berkata, "Aku berkata kepada Abdullah, "Ada beberapa orang dari rekan-rekan Mu'adz datang dari Syam. yang takbir lima kali ketika menshalati jenazah. ''Maka Abdullah menjawab Tidak ada batasan tertentu untuk bertakbir terhadap mayit. Ikutilah takbir imam. Jika dia menyudahi, sudahi  pula shalatmu."

Al-Imam Ahmad pernah ditanya tentang salam shalat jenazah, "Apakah engkau tahu dari salah seorang shahabat yang mengucapkan salam duakali dalam shalat jenazah?" Dia pun menjawab, "Tidak. kecuali dari enam shahabat yang mereka itu pun hanya mengucapkan sekali salam ke arah kanan dengan suara pelan. Di antara enam shahabat itu adalah Ibnu Umar, Ibnu  Abbas dan Abu Hurairah.

Tentang mengangkat kedua tangan, maka Asy-SyatVy berkata, "Kedua tangan diangkat karena berdasarkan dan qiyas terhadap As-Sunnah dalam shalat. Sebab Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangan dalam setiap takbir dalam shalat selagi dalam posisi berdiri."

Yang dia maksudkan dengan atsar disini ialah yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Anas, bahvva keduanya mengangkat kedua tangan setiap kali bertakbir dalam shalat jenazah. Sedangkan yang diriwayatkan dari Nabi ialah mengangkat tangan pada takbir yang pertama, lalu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.  Beliau juga menshalati jenazah anak-anak. Namun beliau tidak menshalati jenazah orang yang bunuh diri dan mengambil harta rampasan tidak menurut haknya. Ada perbedaan pendapat tentang shalat terhadap orang yang mati karena dijatuhi hukuman mati
berdasarkan syariat, seperti pezina yang dirajam. Ada riwayat yang shahih bahwa beliau menshalati jenazah Al-Juhainah yang dijatuhi hukuman rajam. Saat itu Umar bertanya, "Apakah engkau menshalati Jenazah wanita ini wahai Rasulullah, padahal dia telah berzina?"
Maka beliau menjawab. "Dia telah bertaubat dengan suatu taubat, yang andaikan taubatnya dibagi di antara tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, maka akan mencukupi mereka semua. Apakah engkau pernah mendapatkan taubat yang lebih baik daripada orang yang datang menyerahkan dirinya kepada Allah?"

Jika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menshalati Jenazah, maka beliau mengiringnya hingga ke kuburan dengan berjalan kaki di depan jenazah. Ini pula yang menjadi sunnah Al-Khulafa'ur-Rasyidun setelah beliau. Orang-orang yang mengiringinya sambil berjalan agar dekat dengan
jenazah, di depan, belakang, samping kiri atau kanannya. Sedangkan yang naik hendaknya berada di belakangnya. Beliau memerintahkan untuk mempercepatj alannya. Sampai-sampai mereka berjalan setengah berlari. Mengiring jenazah dengan berjalan pelan-pelan seperti yang dilakukan
manusia pada zaman sekarang adalah bid'ah yang bertentangan dengan As-Sunnah dan merupakan tindakan menyerupai orang-orang Yahudi. Beliau berjalan kaki saat mengiringi jenazah ke kuburan, seraya bersabda, "Aku tidak naik sementara para malaikat berjalan." Boleh jadi saat kembali beliau naik. Beliau tidak duduk sehingga mayit diletakkan di atas tanah atau di liang lahatnya.

Bukan termasuk Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk  menshalati setiap mayit ghaib. Cukup banyakorang Muslim yang meninggal dunia secara ghaib. sementara beliau tidak melakukan shalat ghaib atas mereka. Memang ada riwayat shahih bahwa beliau melaksanakan shalat
ghaib atas Najasyi. Pelaksanaan shalat jenazah ghaib merupakan Sunnah, sebagaimana meninggalkannya juga Sunnah. Jika orang Muslim meninggal  dunia di suatu tempat dan tidak ada yang menshalatinya. maka beliau menshalatinya secara ghaib. Najasyi  meninggal di tengah orang-orang kafir. Karena itu beliau menshalatinya secara ghaib.
Ada riwayat yang shahih bahwa beliau memerintahkan berdiri jika ada  mayit yang lewat. Tapi ada pula riwayat yang shahih bahwa beliau tetap dalam keadaan duduk ketika ada mayat yang lewat. Jadi ada perbedaan dalam hal ini. Yang pasti, dua-duanya boleh dilakukan.

Di antara tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallanu hendaknya mayit tidak dikubur pada saat matahari terbit atau tenggelam atau tepat pada  tengah hari. Hendaknya liang kubur diperdalam dan diluaskan dari sejak bagian kepala ke bagian kaki. Diriwayatkan dari beliau. bahwa ketika meletakkan mayit di liang kubur, beliau mengucapkan, "Dengan asma Allah, dengan Allah dan di atas millah Rasulullah. "
Dalam riwayat lain disebutkan, "Dengan asma Allah dan dijalan Allah serta di atas millah Ra-
sulullah. " (Diriwayatkan At-Tirmidzy, Ahmad, Al-Baihaqy dan Al-Hakim).

Diriwayatkan pula bahwa beliau ikut menaburkan tanah ke kuburan, tepatnya ke bagian kepala mayit, sebanyak tiga kali. Jika penguburan sudah selesai, maka beliau berdiri di atas kuburan bersama para shahabat, memohonkan keteguhan bagi mayit dan memerintahkan agar mereka juga memohonkan hal yang sama. Beliau tidak duduk untuk membacakan sesualu di dekat kuburan dan tidak pula mentalqinkan sesuatu seperti yang dikerjakan manusia pada zaman sekarang.

Bukan termasuk tuntunan beliau, meninggikan urugan kuburan apalagi  mendirikan bangunan di atasnya. baik dengan batu atau pun batu bata. Semua  ini merupakan bid'ah yang dimakruhkan. bertentangan dengan petunjuk beliau. Ali bin Abu Thalib pernah diutus ke Yaman dan diperintahkan untuk menghancuikan semua berhala dan semua kuburan yang melebihi permukaan
tanah harus diratakan. Beliau melarang pendirian bangunan di atas kuburan dan juga menulisinya serta memagarinya. Kuburan para shahabat tidak ada yang menonjol ke atas.

Rasulullah melarang menjadikan kuburan sebagai masjid dan menyalakan api di atasnya. Larangan ini termasuk keras, sehingga beliau melaknat pelakunya. Beliau juga melarang kuburannya menjadi tempat perayaan.
Jika beliau menziarahi kuburan para shahabat,  beliau melakukannya karena hendak mendoakan mereka, menyatakan rasa kasih sayang kepada mereka dan memohonkan ampunan bagi mereka. Inilah ziarah yang disunnahkan bagi umatnya, disyariatkan dan diperintahkan kepada mereka. Saat
berziarah kubur itu beliau memerintahkan untuk mengucapkan.
 'Salam sejahtera atas kalian wahai para penghuni kubur dari orang-orang Muknin dan Muslim. Sesungguhnya insya Allah kami akan bersua kalian. Kami memohun afiat kepada Allah bagi kami dan bagi kalian. " (Diriwayatkan Muslim).

Tuntunan beliau saat berziarah kubur ialah berbuat dan mengatakan seperti yang diucapkan dalam shalat jenazah, mendoakan dan memintakan ampunan baginya. Sementara orang-orang musyrik justru meminta doa dari mayit, bersumpah kepada Allah atas nama mayit, memohon pertolongan dan bantuan. Hal ini bertentangan dengan petunjuk beliau, yang justru menyatakan belas kasihan kepada mayit dan memohonkan ampunan serta kebaikan baginya.

Tuntunan beliau ialah menghibur (ta'ziyah) keluarga mayit. Bukan termasuk tuntunan beliau, mengumpulkan manusia, lalu dibacakan Al-Qur'an. Semua ini merupakan bid'ah yang dibenci. Yang disunnahkan ialah menciptakan suasana tenang, pasrah dan ridha terhadap qadha' Allah. Tuntunan beliau ialah tidak membebani keluarga mayit untuk menghidangkan makanan. Tapi beliau justru menyuruh manusia agar menyiapkan makanan lalu mengirimkannya kepada keluarga mayit. Ini merupakan akhlak yang mulia dan dalam rangka meringankan beban penderitaan keluarga yang
ditinggalkan mayit.

No comments:

Post a Comment

ini komentar