Monday, 9 November 2015

Tuntunan Rasulullah tentang Shalat Khauf, zadul maad



Tuntunan Rasulullah tentang Shalat Khauf

Allah memperbolehkan pemendekan rukun-rukun shalat dan bilangannya jika ada ketakutan dan ketika dalam perjalanan. Memendekkan bilangan dilakukan saat bepergian tanpa disertai rasa takut. Sedangkan memendekkan rukun jika ada rasa takut sekalipun tidak sedang dalam perjalanan. Dari sini dapat diketahui hikmah pembatasan qashar yang disebutkan di dalam ayat, saat bepergian di muka bumi dan ketika dalam keadaan takut.
Tuntunan tentang shalat khauf, jika musuh ada di antara pasukan Muslimin dan arah kiblat, maka shaf dibuat dua. Mereka semua ikut takbiratul ihram, ruku' dan bangkit dari ruku' semuanya, kemudian shaf pertama sujud, sedangkan shaf kedua tetap berdiri menghadapi musuh. Jika shaf pertama  bangkit untuk melaksanakan rakaat kedua, maka shaf kedua melakukan sujud. Setelah bangkit, shaf kedua maju ke depan, dan yang tadinya shaf pertama mundur ke belakang, sehingga kedua shaf mendapat keutamaan shaf  pertama. Rakaat kedua dilakukan dengan cara yang sama dengan rakaat  pertama.

 Jika shaf depan sudah duduk untuk tasyahhud, maka shaf yang  belakang melakukan sujud, lalu bergabung dalam tasyahhud, lalu mereka semua salam secara bersamaan. Jika musuh tidak berada di arah kiblat, terkadang beliau membuat dua kelompok. Satu kelompok bertugas menghadapi musuh dan satu kelompok lagi shala tbersama beliau. Setelah mendapat satu rakaat, kelompok yang shalat bersama beliau menggantikan posisi yang belumshalat, yang kemudian shalat bersama beliau untuk melanjutkan rakaat kedua, kemudian beliau salam. Setelah itu masing-masing kelompok menambahi rakaat berikutnya setelah imam salam, Atau terkadang beliau shalat satu rakaat dengan salah satu kelompok, lalu beliau yang berpindah ke kelompok lain yang juga melaksanakan satu rakaat, tapi beliau diam saja, lalu mereka salam sebelum beliau ruku  Kemudian datang kelompok lain  yang melaksanakan rakaat kedua bersama beliau. Jika beliau duduk untuk  tasyahhud, maka kelompok yang terakhir ini melaksanakan satu rakaat, dan beliau menunggui mereka dalam posisi tasyahhud, lalu mereka salam bersama beliau.

Terkadang beliau shalat bersama satu kelompok dua rakaat lalu shalat bersama mereka.  Atau terkadang beliau mendatangi  kelompok lain dan shalat bersama mereka dua rakaat lalu salam bersama mereka. Atau terkadang  beliau shalat bersama satu kelompok satu rakaat, lalu kelompok ini pergi  tanpa melanjutkan lagi, lalu datang kelompok lain, dan beliau shalat bersama mereka satu rakaat, sehingga beliau melaksanakan dua rakaat, sementara  masing-masing kelompok hanya melaksanakan satu rakaat saja. Semua  cara  ini boleh dilakukan dalam shalat khauf.

Menurut Ahmad, ada enam atau tujuh cara yang diriwayatkan tentang  shalat khauf dan semuanya boleh dilakukan. Menurut zhahir had its yang terakhir. memang masing-masing kelompok hanya melaksanakan satu rakaat.  Ini merupakan pendapat Jabir, Ibnu Abbas. Thawus, Mujahid. Al-Hasan.Qatadah, Al-Hikam dan Ishaq.

Memang ada riwayat-riwayat lain tentang shalat khauf ini, tapi pada  prinsipnya semua kembali kepada cara-cara yang disebutkan di sink Ada yang menyebutkan sepuluh cara shalat khauf. Sementara Ibnu Hazm menyebutkan lima belas cara. Yang benar adalah seperti yang kami sebutkan. Selagi mereka melihat ada perbedaan periwayatan dalam suatu kisah, maka mereka menganggapnya sebagai satu cara yang ditetapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Al-Atsram berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abu Abdullah, "Engkau menyebutkan semua hadits, sementara setiap hadits berada pada tempatnya masing-masing, ataukah engkau memilih salah satu di antaranya?"
Dia menjawab, "Dapat saya katakan, siapa yang melaksanakan semua  itua dalah baik."

No comments:

Post a Comment

ini komentar