Selamat
Datang ya Nabi Salam,
Oleh : Armansyah
Oleh : Armansyah
Pendahuluan
Masing-masing
Nabi dan Rasul Allah itu memiliki misi yang sama, mengajarkan kepada umatnya
mengenai Tauhid, bahwa Tidak ada sesuatu apapun yang wajib untuk disembah
melainkan Allah yang Esa, berdiri dengan sendirinya, tanpa beranak dan tanpa
diperanakkan alias Esa dengan pengertian yang sebenar-benarnya, bukan Esa yang
Tiga alias Tritunggal.
Katakanlah
"Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa
yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan keturunannya, dan
apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa serta Nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami
tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan kepadaNya lah kami menyerahkan
diri". (QS. 3:84)
2.
Disaat-saat menjelang kepergiannya,
Jesus menubuatkan akan kedatangan seorang Rasul sesudah dia yang mana namanya
adalah Ahmad alias Muhammad Saw. "Hai bani Israil ! Sesungguhnya aku
utusan Allah kepadamu, membenarkan Taurat yang sudah ada sebelumku, dan memberi
khabar gembira tentang seorang Rasul sesudahku, bernama Ahmad !" (QS.
61:6)
3.
Ibnu Marduwiyah telah meriwayatkan
dari Ubay Bin Ka'ab r.a., katanya "Aku telah diberi, apa yang tidak
diberikan kepada Nabi-nabi Allah." Bertanya Ka'ab r.a "Apakah itu, ya
Rasulullah ?" Bersabda Rasulullah Saw "Aku telah ditolong diwaktu
ketakutan, aku diberi kunci pembuka bumi, aku dinamai Ahmad. Dijadikan bagiku
tanah untuk bersuci dan dijadikan umatku sebaik-baik umat."
Dari
Mut'im r.a. katanya:
Rasulullah Saw bersabda 'Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama Aku Muhammad, Aku Ahmad , Aku yang penghapus karena aku, Allah menghapuskan kekafiran, Aku pengumpul yang dikumpulkan manusia dibawah kekuasaanku dan aku pengiring yang tiada kemudianku seorang Nabipun. (HR. Muslim)
Rasulullah Saw bersabda 'Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama Aku Muhammad, Aku Ahmad , Aku yang penghapus karena aku, Allah menghapuskan kekafiran, Aku pengumpul yang dikumpulkan manusia dibawah kekuasaanku dan aku pengiring yang tiada kemudianku seorang Nabipun. (HR. Muslim)
Dari
Abu Musa Al Asy'ari r.a. katanya
"Pernah Rasulullah Saw menerangkan nama diri beliau kepada kami dengan menyebut beberapa nama Aku Muhammad, Aku Ahmad, Aku pengiring dan pengumpul, Nabi (yang menyuruh) tobat dan Nabi (yang membawa) rahmat."
(HR. Muslim)
"Pernah Rasulullah Saw menerangkan nama diri beliau kepada kami dengan menyebut beberapa nama Aku Muhammad, Aku Ahmad, Aku pengiring dan pengumpul, Nabi (yang menyuruh) tobat dan Nabi (yang membawa) rahmat."
(HR. Muslim)
4. Parakletos
dalam arti 'Pembela perkara, pengacara, advokat' menunjukkan bahwa Nabi
Muhammad Saw yang membela perkara Jesus yang kenabiannya ditolak oleh orang
Yahudi dan menuduhnya sebagai anak haram sekaligus membela Jesus dari
pengklaiman pihak Kristen Trinitasnya Paulus bahwa Jesus adalah Anak Tuhan atau
Tuhan yang menyamar dan telah tersalibkan.
Periklutos dalam arti 'masyur
kemana-mana, terpuji dimanapun' adalah terjemahan dari kata Aramia 'Mauhamana'
yang artinya 'Yang dipuji, yang terpuji' dan dalam bahasa Arabnya adalah
Muhammad, Ahmad, Mahmud.
Nabi
Muhammad telah datang dengan segala perundang-undangannya, berbicara mengenai
dosa, berbicara mengenai keadilan dan juga berbicara mengenai hari kiamat yang
akan datang.
5.
Almasih sendiri mengatakan bahwa
memang banyak yang hendak diucapkannya kepada Bani Israel, namun sebagian
besarnya tidak akan dimengerti oleh umatnya pada masa itu, apalagi dalam
menjalankan misi dakwahnya, Almasih selalu diburu dan dikejar oleh musuh-musuhnya.
Dengan perkenan Allah, Jesus memutuskan bahwa semua
tugas kenabiannya yang belum selesai itu akan diserahkan kepada Muhammad dengan
AlQur'annya, yang akan membimbing, tidak hanya kepada Bani Israel, melainkan
kepada seluruh manusia dimaya pada ini sesuai dengan fungsinya membawa rahmat
keseluruh alam.
Nabi Muhammad akan tampil sebagai sosok pribadi yang
gagah perkasa bagaikan Nabi Musa, mempunyai kebijaksanaan sehingga semua alam
ikut bertasbih bersamanya seolah Nabi Daud, berotak brilian dan kekayaan
hatinya melebihi kekayaan Nabi Sulaiman, memiliki wajah yang tampan rupawan
laksana rupa Nabi Yusuf, mempunyai ketabahan yang besar melebihi ketabahan Nabi
Yunus yang terperangkap dalam perut ikan dan Nabi Ibrahim yang tidak goyah
dibakar api, bersikap kasih sayang sebagaimana Isa Almasih serta bersikap dan
tampil sebagai sosok Al-Amin yang patuh kepada Tuhannya sebagai perwujudan
sifat dari para malaikat.
Dialah sosok Nabi dan Holy Prophet yang dinantikan,
dimana tiada lagi Nabi yang akan diutus setelah wafatnya kecuali para mujaddid
yang berlaku sebagai 'utusan Tuhan' dari berbagai kaumnya sekaligus berfungsi
sebagai pengembang dan perpanjangan tangan para Nabi Allah.
"Hubunganku
dengan kenabian sebelumku seperti layaknya pembangunan suatu istana yang
terindah yang pernah dibangun. Semuanya telah lengkap kecuali satu tempat untuk
satu batu bata. Aku mengisi tempat tersebut dan sekarang sempurnalah istana
itu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
(HR. Bukhari dan Muslim)
Selamat
Datang ya Nabi Salam,
Masa 0-12 tahun
Muhammad Al-Amin sang Paraclete, dilahirkan pada hari
Senin 12 Rabi'ul awal tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi.
Terlahir
dari Ibu bernama Siti Aminah Binti Wahab dan ayahnya Abdullah Bin Abdul
Muthalib, keturunan Bani Ismail, putra Nabi besar Ibrahim as yang dijanjikan
oleh Allah, dan sekaligus merupakan kakak dari Nabi Ishak, putra Nabi Ibrahim
dari Siti Sarah yang menurunkan Nabi-nabi besar untuk umat Israel. Sang ayah, Abdullah, meninggal di Yastrib
dalam perjalanan berdagangnya, jauh hari sebelum Muhammad dilahirkan.
Ketika beliau masih bayi, selain menyusu kepada ibu
kandungnya, Muhammad juga pernah disusui oleh Tsuwaibah Al Aslamyah dari Bani
Aslam yang juga budak dari Abu Lahab, bersama-sama dengan Hamzah bin Abdul
Muthalib pamannya yang sebaya usianya dengan Muhammad, dan selanjutnya menyusu
kepada Halimah Al-Sa'diyah, dari Bani Sa'ad yang terletak antara Mekkah dan
Thaif yang bersuamikan Abu Zuaib.
Sejak
dari kandungan ibunya, hingga ia lahir, Muhammad sudah menunjukkan berbagai
mukjizatnya sebagai tanda-tanda kenabiannya kelak dikemudian hari.
Setelah masa penyusuannya usai, Muhammad kembali
kepelukan ibunya, Siti Aminah. Setahun kemudian, Muhammad kecil beserta ibunya
dan seorang inang pengasuhnya bernama Ummu Aiman melakukan ziarah kemakam
Abdullah, ayah Muhammad dan suami Aminah di Yastrib. Selama satu bulan mereka tinggal di Yastrib
dengan menumpang dirumah keluarga mereka dari Bani Najjar.
Dalam perjalanan pulang kembali kekota Mekkah, tepat
disebuah desa bernama Abwaa', Aminah jatuh sakit dan wafat disana, waktu itu
usia Muhammad sudah 6 tahun.
Karena jaraknya kekota Mekkah masih cukup jauh, akhirnya jenazah Aminah dikuburkan didesa Abwaa' tersebut dan Muhammad beserta inangnya, Ummu Aiman kembali kekota Mekkah berdua.
Karena jaraknya kekota Mekkah masih cukup jauh, akhirnya jenazah Aminah dikuburkan didesa Abwaa' tersebut dan Muhammad beserta inangnya, Ummu Aiman kembali kekota Mekkah berdua.
Abdullah telah pergi, Aminah pun telah pula pergi
setelah keduanya melakukan kewajiban yang diamanatkan kepada keduanya. Anak
yang mulia itu kini menjadi yatim piatu seperti kehendak Allah, kehilangan ibu
sebagaimana ia telah lebih dulu kehilangan ayah, tidak ada lagi yang akan
menolongnya dalam segenap hal selain daripada Allah yang sudah mentakdirkan
sekalian takdir. Tuhan memanggil kedua
orang tuanya, dan Tuhan juga yang menanggung akan memlihara anak yang mulia itu
selain daripada inang pengasuhnya Ummu Aiman, yang sekarang berfungsi sebagai
ibu baginya dan juga kelak dikemudian harinya sebagai saksi hidup mengenai apa
dan siapa sesungguhnya sosok Muhammad itu.
Dialah
yang memelihara Muhammad dalam perjalanan tersebut, mengurusi makan dan
tidurnya, menjaganya dari semua mara bahaya, hingga akhirnya tiba dikota Mekkah
dan diserahkan pada Abdul Muthalib, kakeknya.
Dua tahun setelah Muhammad diasuh oleh kakeknya,
akhirnya pada usia 80 tahun, Abdul Muthalib kembali kerahmatullah, wafat dengan
tenang setelah dia menyerahkan pengurusan Muhammad kepada putra tertuanya Abu
Thalib yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai penguasa tertinggi dikota
Mekkah saat itu. Meski demikian,
kehidupan keluarga Abu Thalib sendiri sangatlah serba kekurangan, dia
menghidupi keluarganya dengan jalan berdagang. Sejak itulah, Muhammad mulai belajar berdagang
dan membantu pamannya didalam menjalankan roda kehidupan.
Selamat
Datang ya Nabi Salam,
12 tahun
12 tahun
Kejujurannya, keterjauhannya dari semua yang bersifat
keberhalaan, kedisiplinannya, ketangkasannya serta keuletan kerjanya membuat ia
digelari orang dengan nama Al-Amin yang berarti orang yang jujur atau
terpercaya, meski Pada usianya yang ke-12 tahun, Muhammad Al-Amin dan pamannya
Abu Thalib pergi berdagang kekota Syiria dan bertemu dengan seorang rahib
bernama Bahiera atau Lautan Ilmu. Rahib
itu sendiri adalah seorang pengikut setia ajaran Isa Almasih dari Nashara. Dia
bukanlah dari seorang yang menyekutukan Tuhan sebagaimana kebanyakan ahli kitab
lainnya.
Ensyclopedia of Britannica telah mencatat bahwa
Bahiera adalah seorang ulama Nashara yang sangat tinggi ilmu agamanya dan ia
pernah memegang jabatan Patriarch di Konstantinopel dari tahun 428 - 431 Masehi.
Kedudukannya amatlah tinggi, pengikutnya pun cukup banyak. Namun karena faham
Bahira adalah mengesakan Tuhan, diapun ditindas dan dibuang. Sang rahib itu
dihadapan kabilah Abu Thalib mewanti-wanti agar merawat dan menjaga Muhammad
sebaik mungkin sebab dia telah melihat tanda-tanda kenabian pada dirinya,
sebagaimana yang termaktub dalam ajaran Isa Almasih sejati.
Sejak itulah pamannya Abu Thalib begitu teliti dan
hati-hati sekali didalam menjaga Muhammad, bahkan curahan kasih sayang yang
diberikannya kepada Al-Amin ini melebihi apa yang diberikannya kepada putra
kandungnya sendiri. Masa kecilnya juga
dilewati dengan menggembalakan kambing penduduk Mekkah dengan imbalan Al
Qaraarith, yaitu pecahan uang dinar atau dirham perak yang dapat dipergunakan
untuk mencukupi keperluan hidup masa itu.
Kejujuran Muhammad dalam menjalankan dagangan dan
gembalaan, telah sama-sama diketahui orang, dan tidak sedikit yang menitipkan
barang dagangannya kepada Muhammad. Muhammad
kecil tidak sedikitpun mengambil untung dari titipan orang tersebut, tidak juga
dia berkhianat dalam menjalankan perdagangannya.
Selamat
Datang ya Nabi Salam,
25tahun menikah
Selanjutnya, putra Mekkah yang bergelar Al-Amin ini,
sebelum mencapai usia 25 tahun telah menjadi seorang saudagar kafilah terbesar
di Tanah Arab. Semakin banyak pula orang yang menyerahkan dagangannya kepada
beliau. Pada usianya yang ke-25 tahun,
Muhammad menikah dengan seorang wanita saudagar terhormat dan merupakan orang
terkaya waktu itu diantara penduduk Mekkah, namanya Siti Khadijjah binti
Khuwailid Bin Abdul Uzza Bin Qushai ditahun 596 M. Khadijjah digelari orang dengan sebutan Saydah
Quraisy atau Ibu Quraisy. Sebelum menikah dengan Muhammad, Khadijjah sudah dua
kali bersuami dengan orang kaya dari Bani Muchzum, tapi keduanya meninggal
dunia dan ia sendiri telah mempunyai dua orang anak dari hasil perkawinannya
terdahulu.
Meskipun Khadijjah berusia 40 tahun dengan dua orang
anak pada masa itu, namun cinta Muhammad kepadanya adalah cinta yang penuh
terus menerus selama 25 tahun sesudahnya, yaitu hingga Muhammad berusia 50
tahun dan Khadijjah berusia 65 tahun dengan dikaruniai 6 orang anak. Karenanya pula selain bergelar Saydah Quraisy,
Siti Khadijjah juga digelari sebagai wanita yang Al-Wadud Al-Walud, artinya
seorang wanita yang sejati dan punya banyak anak.
Adapun anak-anak dari perkawinan Muhammad dengan
Khadijjah adalah Al-Qasim, Abdullah At-Tahir, Zainab, Ruqayah, Ummu kalsum dan
Fatimah Uzzahra. Adapun Al -Qasim dan Abdullah At-Tahir, wafat sejak kecilnya. Putrinya yang tertua yaitu Zainab menikah
dengan Abul 'Ash Bin At Rabi' Bin Abdi Syams, ibu dari Abul 'Ash ini adalah
saudara perempuan dari Khadijjah dan dari perkawinannya itu Zainab mendapatkan
dua orang anak, yang perempuan bernama Umamah dan yang laki-laki bernama Ali. Ketika ayahnya, Muhammad, diangkat menjadi
Nabi dan Rasul, Zainab pun mengajak suaminya itu untuk ikut memeluk Islam, tapi
ditolak olehnya, sementara Zainab sendiri telah beriman mengikuti sang ayah dan
terpaksa berpisah dengan suaminya itu.
Ketika terjadi peperangan Badar, 17 Ramadhan tahun 2
atau 13 Maret 624, Abul 'Ash bersama-sama kaum Musyrikin Mekkah mengangkat pedang,
mengobarkan perlawanan terhadap Nabi Muhammad Saw dan umat Islam. Namun tidak
lama setelah itu, Abul 'Ash memeluk Islam hingga akhir hayatnya pada masa
pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan kembali melangsungkan pernikahannya dengan
Zainab secara Islam.
Putri Muhammad yang kedua yaitu Ruqayah menikah dengan
'Utbah Bin Abu Lahab, begitu pula dengan putrinya ketiga, Ummu Kalsum, menikah
dengan 'Utaibah Bin Abu Lahab, saudara 'Utbah hanya selang beberapa waktu
sebelum Muhammad mendapat wahyu. Kelak
dikemudian hari, dimana Muhammad telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul serta
bertugas menyampaikan dakwahnya kepada manusia, kedua putrinya ini bercerai
dengan masing-masing putra Abu Lahab itu dan menikah dengan Usman Bin Affan
yang didahului oleh Ruqayah, meninggal setelah peperangan Badar usai, dan
digantikan oleh Ummu Kalsum, putri Nabi yang ketiga, sehingga karenanya Usman
Bin Affan digelari Zun Nuraini, yaitu yang memiliki dua cahaya.
Fatimah sendiri waktu itu masih kecil dan belum
menikah. Ia dilahirkan pada tahun 606 M atau tahun ke-10 perkawinan Nabi dengan
Khadijjah. Dia ikut merasakan pahit getirnya dakwah Islamiyah yang dilakukan
oleh ayahnya, ia menyaksikan sejak awal betapa duka derita yang dialami oleh
Nabi Muhammad. Fatimah juga yang pergi
kemasjid untuk membersihkan kotoran-kotoran hewan yang dicampakkan oleh
orang-orang kafir kepada Nabi, dan ia juga yang membersihkan darah yang
mengalir dari wajah ayahnya ketika terluka dalam perang Uhud yang juga
menewaskan paman Nabi, Hamzah Bin Abdul Muthalib ditangan Wahsyi dan Hindun.
Selain daripada itu, Muhammad juga mengambil seorang
anak angkat laki-laki bernama Zaid Bin Haritsah, seorang anak dari Bani
Al-Kalby yang dijual oleh sekawanan perampok kepasar Ukazd dan dibeli oleh
Khadijjah untuk menjadi hamba sahayanya namun dibebaskan oleh Muhammad dan
diangkat sebagai seorang anak.
Selamat
Datang ya Nabi Salam,
40 tahun
40 tahun
Sementara itu, sejak menginjak usia 36 hingga 40
tahun, Muhammad lebih banyak mengasingkan dirinya jauh dari keramaian dan hiruk
pikuk manusia yang menyembah berhala dikota Mekkah. Sebagaimana yang diketahui sejak awal, dari
kecil Muhammad tidak pernah mengikuti tata cara peribadahan masyarakat
disekitarnya yang menyembah berhala yang mereka buat dengan tangan mereka
sendiri.
Dalam pengasingan dirinya itu, Muhammad memilih gua
Hira untuk tempatnya Tahannuts, mendekatkan dirinya kepada Tuhan dengan mengikuti
Risalah Ibrahim dan Ismail, nenek moyangnya dahulu kala. Gua Hira terletak pada bagian atas suatu
gunung yang sekarang bernama Jabal Nur (Gunung Cahaya), Gua tersebut berjarak 2
farsach atau 6 mil disebelah utara Mekkah dan untuk mendakinya saat ini secara
terus menerus memakan waktu lebih kurang 40 menit lamanya dan jarak antara
puncak Jabal Nur dengan Gua Hira sekitar 20 meter. Ketinggian total Jabar Nur
sendiri lebih kurang 200 meter dari bawah.
Tahannuts yang dilakukan oleh Muhammad ini tidaklah mencontoh
ibadah umat Nashara dengan mengasingkan diri secara total dari kehidupan
masyarakat ramai dan menjauhi Sunnatullah, seperti beristri, berketurunan dan
lain sebagainya.
Ia
pergi ke Gua Hira dan sering tinggal beberapa hari dan beberapa malam disana
baru pulang kembali ke Mekkah, berkumpul bersama keluarganya.
Pada suatu malam tanggal 17 Ramadhan, bersamaan dengan
06 Agustus 610 Masehi 203 tahun 41 dari kelahirannya atau ketika usia manusia
yang mulia yang digelari orang sebagai Al-Amin itu mencapai 40 tahun 6 bulan 8
hari (tahun Qamariyah/Bulan) atau berusia 39 tahun 3 bulan 8 hari (tahun
Syamsiah/Matahari), turunlah Malaikat Jibril kepadanya untuk menyampaikan wahyu
yang telah ditetapkan oleh Tuhan, dan menyatakan Kalimah Allah bahwa pada malam
itu juga beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, menjadi penerus risalah
para Nabi sebelumnya. Wahyu yang pertama
kali turun tersebut adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5
"Bacalah
dengan nama Tuhanmu Yang telah menjadikan.
Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah ('alaq)
Bacalah ! Karena Tuhanmu Yang Maha Mulia !
Yang mengajar dengan Qalam (ilmu pengetahuan)
Mengajar manusia apa yang tiada ia ketahui."
Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah ('alaq)
Bacalah ! Karena Tuhanmu Yang Maha Mulia !
Yang mengajar dengan Qalam (ilmu pengetahuan)
Mengajar manusia apa yang tiada ia ketahui."
Demikianlah wahyu yang pertama kali diturunkan,
mengandung isyarat kepada manusia untuk mempelajari asal usul kejadiannya agar
mereka insyaf terhadap dirinya. Juga menyuruh manusia untuk dapat belajar
membaca dan menulis serta menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan
lainnya. Malam permulaan turunnya
AlQur'an tersebut dikenal dengan malam 'Lailatul Qadar', yaitu suatu malam yang
penuh kemuliaan dan kesejahteraan sebagaimana yang difirmankan Allah
"Sungguh,
Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?
Malam kemuliaan itu lebih utama daripada seribu bulan !
Turun malaikat dan Ruh kepadanya dengan izin Tuhannya dengan segala urusan.
Sejahtera ia ! Sampai terbit fajar." (QS. 97:1-5)
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?
Malam kemuliaan itu lebih utama daripada seribu bulan !
Turun malaikat dan Ruh kepadanya dengan izin Tuhannya dengan segala urusan.
Sejahtera ia ! Sampai terbit fajar." (QS. 97:1-5)
Wahyu
Secara berangsur-angsur wahyu turun kepada Rasulullah
Muhammad Saw selama 20 tahun 2 bulan 22 hari dalam 23 tahun periode keNabiannya
dengan menghitung 3 tahun lamanya Rasul tidak mendapatkan wahyu semenjak ia
dapatkan pertama kalinya di Gua Hira. Wahyu
terakhir dari Allah yang ia terima adalah pada tanggal 09 Dzulhijjah, 07 Maret
632 Masehi, saat Nabi sedang berwukuf dipadang 'Arafah bersama-sama kaum
Muslimin melaksanakan Haji Wada' (Haji perpisahan) yaitu Surah Al-Maidah ayat 3
"Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan Aku telah ridhai Islam sebagai agamamu." (QS. 53)
Sang Paraclete yang agung, Nabi Al-Muntazhar atau Nabi
yang ditunggu-tunggu oleh semua umat manusia itu telah tiba, beliaulah sosok
Comforter dan sosok Spirit of Truth sebagaimana yang disinggung oleh St. John
1613 yang akan memandu manusia kepada semua kebenaran, sebab dia tidak akan
berbicara atas kehendak hawa nafsunya sendiri, melainkan berdasarkan wahyu yang
dia dengar dari Tuhannya, itulah yang akan disampaikannya.
Janji Tuhan kepada Nabi besar Ibrahim pada Genesis
2118 dan 1720 yang menyatakan akan menjadikan keturunan Ismail sebagai suatu
bangsa yang besar telah terpenuhi yang diawali dengan kelahiran dan pengutusan
Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin yang ajarannya kelak akan menghantarkan Bangsa
Arab sebagai suatu bangsa yang besar sebagai pusat penyebaran Islam.
Begitulah akhirnya, dakwah yang disampaikan oleh
Rasulullah terhadap kaumnya dan semua manusia diluar itu, mendapatkan tantangan
yang sangat berat sekali.
Pada
tahun 616 hingga 617 M telah terjadi pemboikotan terhadap Nabi Muhammad dan
kaum Muslimin semuanya termasuk keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Segala
perhubungan putus sama sekali, dan pihak Quraisy mengancam keras terhadap siapa
-siapa yang berani melakukan hubungan dengan mereka. Akibat pemboikotan itu, Nabi dan kaum Muslimin
beserta keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib, yaitu dua keluarga yang masih
ada hubungan darah dengan Rasulullah dan selama ini menjadi pembela Nabi,
terpaksa menyingkir, mencari perlindungan di Syi'ib, suatu tempat perbukitan
diluar kota.
Pada bulan Desember 619 M, tidak lama setelah
pemboikotan dihapuskan, istri Rasulullah Saw yang terkasih, Siti Khadijjah
meninggal dunia, kembali kerahmatullah dalam keadaan beriman. Khadijjah,
merupakan orang yang paling dekat dengan Nabi, karena tidak saja ia sebagai
seorang istri, tetapi pendamping setia Rasulullah dalam suka dan duka.
Masa
mudanya ia habiskan dalam membina karir perdagangannya. Namun kemudian ia
mempersembahkan semua yang dimilikinya untuk perjuangan suaminya -menegakkan
ajaran Islam. Selama bertahun-tahun
Khadijjah mendampingi Muhammad Saw, membina keluarga yang penuh ketentraman dan
kebahagiaan. Ketika Rasulullah Saw mendapat tugas yang berat -mengemban risalah
Ilahiah- Khadijjah meneguhkan hatinya dan menambah kepercayaan dirinya.
Ketika Nabi didustakan kaumnya, Khadijjah meyakininya
dengan tulus. Khadijjah adalah orang yang pertama percaya akan kenabian
Muhammad sekaligus wanita pertama yang memeluk Islam. Ketika masyarakatnya
menyembah berhala, dibelakang Penghulu para Nabi, dia bersujud menyembah Allah
Yang Maha Esa. Pada waktu orang-orang
Quraisy mengucilkan keluarga Rasulullah dipadang yang gersang, Khadijjah
meninggalkan rumahnya yang megah. Dia tidur dalam kemah yang sederhana.
Setiap hari dia bekerja keras membagikan makanan yang
sedikit kepada para pengikut Rasulullah Saw, tidak jarang dia dan suaminya
tidak kebagian makanan. Lebih jauh lagi, Khadijjah adalah ibu dari anak-anaknya
yang penuh kasih dan sayang.
Hanya
selang beberapa minggu dari kematian Khadijjah, Abu Thalib, paman Nabi yang
selama ini melindunginya dari keganasan dan gangguan kaum kafir Quraisy,
meninggal dunia, yaitu pada bulan Januari 620 M.
Abu Thalib, adalah paman sekaligus juga berfungsi
sebagai ayah bagi Rasul semenjak kedua orang tua dan kakeknya tiada sewaktu ia
masih kecil, dan kini pamannya itu telah pula menyusul istrinya, Khadijjah,
kembali keharibaan Tuhan yang menciptakannya.
Dia
adalah perisai Rasulullah, sehingga meskipun begitu hebat ancaman dan gangguan
yang dilakukan terhadap Nabi, namun selama Abu Thalib masih hidup, mereka tidak
berani melakukan gangguan-gangguan phisik terhadap Rasulullah. Semenjak kematian kedua orang inilah,
perlawanan kaum kafir Quraisy semakin menghebat dan menggila kepada diri Nabi
Muhammad dan umatnya.
Meskipun siksaan dan hinaan ditimpakan pada diri Nabi
yang agung ini oleh kaum kafir Quraisy
yang sesekali juga bekerja sama dengan umat Yahudi, tidaklah menjadikan
surutnya perjuangan dakwah Rasulullah
Muhammad Saw didalam mengumandangkan seruan Tauhid kepada Ilahi. Semakin hari pengikutnya semakin bertambah. Tercatatlah
sejumlah nama-nama besar pengikut Rasulullah Al-Amin ini. Ali Bin Abu Thalib,
putera pamannya sendiri, Abu Thalib., disusul dengan Zaid Bin Haritsah, anak
angkat beliau, Abdullah Bin Abu Kuhafa dari Bani Taim Ibni Murra yang
selanjutnya lebih dikenal dengan nama Abu Bakar, berusia 2 tahun lebih muda
dari Nabi Muhammad dan kelak akan menggantikan kedudukan sang Nabi sebagai
pemimpin umat, menjadi Khalifah Islam pertama.
Sejumlah orang terkemuka lainnya mengikuti jejak Abu
Bakar dan sahabat yang lainnya, diantaranya adalah Usman Bin Affan dari Bani
Umayyah yang kelak kemudian hari menjadi Khalifah Islam ketiga menggantikan
Umar Bin Khatab, Salman Al-Farisi, Abdurrahman Bin 'Auf, Hamzah Bin Abdul
Muthalib, paman dan saudara sesusuan Rasulullah sejak kecil, bergelar Singa
Gurun Pasir, merupakan satu dari dua orang yang sangat ditakuti dan disegani
setelah Umar Bin Khatab, baik dalam kalangan Muslimin maupun kaum kafir
Quraisy, dia berhasil membunuh Abu Jahal dalam perang Badar. Sa'ad Bin Abi Wakkas yang pada masanya menjadi
penakluk Parsi, Umar Bin Khatab dari Bani 'Adi Ibn-Ka'ab yang pada waktu
kekhalifahannya itulah Islam terus menyebar ke Suriah dan Palestina yang kala
itu menjadi bagian kekaisaran Byzantium, terus ke Turki, Mesir, Iraq, Iran
hingga Persia dan menyebrang ke Afrika Utara.
Sejarah mencatat bahwa dakwah Islam sudah mencapai
kenegri Tiongkok ketika Nabi Muhammad Saw sendiri masih hidup (627 M). Adapun
yang melakukan penyebaran Islam dinegri tersebut adalah sahabat Nabi yang
bernama Abu Kasbah, sekaligus mendirikan masjid pertama di Kanton. Pada tahun 632 M, Abu Kasbah kembali
kenegrinya untuk melaporkan keadaan dinegri Tiongkok kepada Nabi Saw, tetapi
kedatangannya ke Madinah ternyata terlambat sebulan dari saat wafatnya Nabi,
selanjutnya Abu Kasbah kembali ke Tiongkok dan meninggal disana.
Kaisar Kao Tsung pernah mengirimkan perutusan ke
Madinah karena mengagumi atas munculnya 'kerajaan baru' dan mempunyai pedoman
agama yang kuat. Misi persahabatan ini dibalas oleh Khalifah Usman Bin Affan
(634-644 M) dengan mengirimkan misi persahabatan pula ke Tiongkok.
Perkembangan Islam yang luar biasa dan berpengaruh
terus dicatat hingga pada jaman Bani Umayyah (Mu'awiyah I, 565-661) bersambung
masa pemerintahan Khalifah Yazid (661-681) dan Mu'awiyah II (681-683), Islam
bergerak maju kesegala penjuru dunia, ke Utara, ke Timur dan ke Barat (Spanyol
711 M) sampai pada pemerintahan Khalifah Sulaiman (715 M).
No comments:
Post a Comment
ini komentar