Khadijah Binti Khuwailid Radhiallâhu 'Anha
Sang Kekasih yang Selalu
Dikenang Jasanya
Muhammad al-Amin pun
menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan
perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira
dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi
ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari
semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya,
yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagamana
kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain. Akan tetapi dia
merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya
sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu
bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya? Maka disaat dia bingung dan gelisah
karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya
yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog
hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh
Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan
hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah
adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat,
memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka
Quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah
Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang
menunjukan kelihaian dan kecerdikannya: Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk
menikah wahai Muhammad? Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .
Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik
dan berkecukupan, maka apakah kamu mau
menerimanya?
Muhammad : Siapa dia ?
Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid
Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju. Nafisah pergi menemui Khadijah
untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin
memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi
sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain
menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi
putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar. Setelah usai akad nikah,
disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir.
Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka
terdapat Halimah as-Sa'diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak
susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai
hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui
Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta. Maka jadilah Sayyidah Quraisy
sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang
paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan
kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri.
Manakala Muhammad
mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada
Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari
putra amannya, Abu Tholib, maka Khadijah
menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu 'anhu agar dia
dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam . Allah
memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat
yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama
al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah. Kemudian Allah
Ta'ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri),
bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau
menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh
pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal
yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah
yakni menyembah berhala
dan lain lain.
Sayyidah
ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang
harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan
banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan
segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan
tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu
'alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya
terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau
tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam tinggal
di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allahkehendaki, kemudian
datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira' pada
bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu. Selanjutnya beliau Nabi Saw
keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut,
khawatir dan menggigil seraya berkata: ''Selimutilah aku &.selimutilah aku
&''. Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menjawab:''Wahai Khadijah
sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku''. Maka Istri yang dicintainya dan
yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata:
''Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku
dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap
agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu
selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang
yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.
Maka
menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan
beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau
bawa. Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan
beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah bin
Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad Shallallahu
'alaihi wasallam . Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain
perkataan: ''Qudus&.Qudus&..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya,
jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar, maka sungguh telah datang
kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan
Nuh alaihi sallam secara langsung. Tatkala melihat kedatangan Nabi,
sekonyong-konyong Waraqah berkata: ''Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya,
Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan
mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu.
Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah ''.
Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi
Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: '' Apakah mereka akan mengusirku?''.
Waraqah menjawab: ''Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang
engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya.
Kalau saja aku masih
mendapatkan masa itu &kalau saja aku masih hidup&''. Tidak beberapa
lama kemudian Waraqah wafat. Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan
ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban.
Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan
orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah
dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan
banyak gangguan dan intimidasi. Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama
kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.
Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman,
berdiri mendampingi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang dicintainya untuk
menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi
kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan
beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik
penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu 'alaihi
wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke
rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya
dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu 'alaihi
wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur'an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah),
Firman-Nya: ''Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu
berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan
perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh
(belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!''(Al-Muddatstsir:1-7).
Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang
penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman
bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis.
Khadijah radhiallâhu 'anha
turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam
terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin
Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam
bentuknya, akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar
kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta'ala: ''Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman' , sedangkan mereka
tidak diuji lagi?'' . (Al-'Ankabut:1-2). Allah memilih kedua putranya yang
pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih
kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata
kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala
menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut
hingga jiwanya menghadap
sang pencipta dengan penuh kemuliaan.
Beliau juga harus berpisah dengan putri
dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu
'anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari
gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh
dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi
seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah
Ta'ala : ''Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan
(juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan
kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan
yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka
sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan ''. (Ali
Imran:186). Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang
menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah,
namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah
berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan
seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan
aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah dengan sumpah yang
menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran yang belum pernah dikenal orang
sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau
bersabda: ''Demi Allah wahai paman! seandainya mereka mampu meletakkan matahari
di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan
dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang
binasa karenannya''.
Begitulah Sayyidah
mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang
keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang
Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan
dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah
pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka'bah; Khadijah tidak
ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau
tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama
Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan
yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah
berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman,
tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah
mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun.
Selang enam bulan setelah
berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang
mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau-tiga tahun sebelum hijrah.
Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena
bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Khadijah adalah teman yang tulus
dalam memperjuangkan Islam. Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap
Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau
berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan
berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang
bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan
mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya.
Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar
gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan
didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula Rasulullah
bersabda: ''Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita
adalah Khadijah binti Khuwailid''. Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid,
As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah
mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan
dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya
terhadap Islam dan kaum muslimin.
No comments:
Post a Comment
ini komentar