Sunday, 8 November 2015

tuntunan Rasulullah 2, zadul maad



 Tuntunan Rasulullah Saat Berjalan Sendirian atau Saat Berjalan Bersama Para Shahabat

Beliau adalah orang yang paling cepat jalannya. paling bagus jalannya dan juga tenang. Abu Hurairah berkata, "Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus daripada Rasullah Shalallahu Alaihi wa Salam . Seakan-akan matahari berjalan di muka beliau. Aku  juga tidak melihat seseorang yang
lebih cepat jalannya daripada Rasulullah ShallallahuAlaihiwaSallam. Seakan-akan bumi dijadikan menurun bagi beliau. Sebenarnya kami berusaha untuk menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli."

Ali bin Abu Thalibjuga pernah mensifati cara berjalan beliau dengan berkata, "Jika Rasulullah berjalan. maka badannya bergerak seakan-akan sedang berjalan di tanah yang landai."

Begitulah cara berjalannya para pemberani dan mereka yang memiliki semangat, tidak seperti orang yang sakit-sakitan, yang berjalan sepotong demi sepotong. Dua cara berjalan yang tercela, yaitu pelan-pelan seperti orang  yang sakit-sakitan dan berjalan secara buru-buru seperti onta yang ketakutan, seakan menggambarkan keadaan pikirannya yang galau. apalagi jika dengan banyak menengok ke arah kiri dan kanan. Yang benar ialah berjalan dengan kerendahan hati, yang menjadi sifat jalannya Abadurrahman, seperti yang  difirmankan Allah,

hamba-hamha Rohb YangMaha Pcnyayang itu (iaiah) orang orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. ' ' {A 1-Furqan : 63).


Tuntunan Rasulullah dalam Buang Hajat Jika hendak masuk kamar kecil.
 maka beliau mengucapkan, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kotoran dan segala hal yang kotor. " (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Jika keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan, ''Ampunan-Mu (yang kuharapkan) . "
Terkadang beliau membersihkan kotoran dengan air dan terkadang  dengan batu, dan terkadang dengan keduanya. Jika hendak buang hajat ketika  dalam perjalanan, maka beliau pergi menyingkir dari para sahabat. Beliau  buang hajat dan bertabir di tempat yang berlindung, terkadang bertabir dengan pelepah korma dan terkadang dengan dedaunan. Biasanya beliau  mencari tanah yang gembur saat kencing, dan beliau lebih banyak kencing  dengan duduk (jongkok). Sampai-sampai Aisyah berkata, "Siapa yang menyampaikan hadits kepada kalian bahwa beliau kencing dengan berdiri, maka  janganlah kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing kecuali  dengan berjongkok." (Ditakhrij At-Tirmidzy, An-Nasa'y dan Ibnu Majah dengan isnad shahih).

Tapi Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari hadits Hudzaifah, bahwa beliau pernah kencing dengan berdiri.  Ada yang berpendapat  kencing dengan cara berdiri ini dimaksudkan sebagai pembolehan.  Ada yang  berpendapat, beliau melakukannya karena khawatir tali kekang hewannya lepas. Ada yang berpendapat, hal itu di lakukan karena untuk proses penyembuhan sakit. Orang Arab biasa menyembuhkan kesulitan kencing dengan cara  berdiri. Begitulah kata Asy-Syafi'y Yang benar. 

Beliau pernah keluar dari kamar kecil, seraya membaca Al-Qur'an. Beliau membersihkan kotoran, dengan air maupun batu dengan tangan kirinya. Beliau cukup membersihkannya tiga kali dan tidak pernah merasa was-was.

Tuntunan Rasulullah dalam Fitrah dan Segala Keragamannya

Ada perbedaan pendapat, apakah Rasulullah sudah dalam keadaan dikhitan semenjak lahir, ataukah dikhitan  malaikat pada saat dada beliau dibelah, ataukah kakeknya, Abdul-Muththalib yang mengkhitan.

Beliau suka mendahulukan yang kanan ketika mengenakan sandal,  ketika memulai  jalan, bersuci, mengambil dan memberi. Tangan kanan beliau digunakan untuk makan, minum dan bersuci, sedangkan tangan kiri digunakan untuk membersihkan kotoran ketika di kamar kecil umpamanya.

Tuntunan beliau dalam bercukur, maka semua bagian rambut dicukur secara merata atau semua tidak dicukur sama sekali. Beliau tidak pernah  mencukur sebagian tanpa sebagian yang lain. Tidak pernah diriwayatkan  tentang bercukur ini kecuali saat menunaikan haji.

Beliau suka bersiwak dan melakukannya, baik ketika berpuasa maupun  tidak berpuasa. Beliau bersiwak setiap kali bangun dari tidur, ketika hendak  wudhu', ketika hendak shalat, ketika hendak masuk rumah, dengan dahan  dari pohon arak, Beliau sering memakai minyak wangi dan menyukainya.

Beliau mempunyai alat celak yang beliau gunakan ketika hendak tidur,  dan kedua mata dicelaki. Para shahabat berbeda pendapat, apakah beliau  pernah mengecat rambut ataukah tidak? Menurut Anas, beliau tidak pernah mengecat rambut. Menurut Abu Hurairah, beliau pernah mengecat rambut.  .Ada segolongan orang berpendapat, beliau sering memakai minyak wangi, sehingga membuat rambut beliau kemerah-merahan, hingga menimbulkan anggapan bahwa beliau mengecat rambutnya, padahal beliau tidak mengecatnya. Abu Rimtsah berkata 'Aku pernah melihat uban beliau kemerah-merahan  Menurut At-Tirmidzy, apa yang dikatakan Abu Rimtsah ini merupakan penafsiran yang paling baik. Sebab beberapa riwayat yang shahih menyebutkan bahwa beliau tidak memiliki uban kecuali beberapa lembar rambut  di tempat belahan rambut. Yang pasti. beliau banyak meminyaki rambutnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa beliau biasa memangkas kumis.  Diriwayatkan pula bahwa Ibrahim Alaihis-Salam juga biasa memangkas  kumis. Diriwayatkan dari Abu Murairah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Pangkaslah kumis dan peliharalah jenggol. Berbedalah kalian  dengan orang-orang Majusi. " (Diriwayatkan Muslim).  Dari Anas, dia berkata, '"Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membatasi
waktu memangkas kumis dan memotong kuku, agar kami lidak memliharanya lebih dari empat puluh hari." (Diriwayatkan Muslim)

Tuntunan Rasulullah Saat Berkata, Diam, Tersenyum  dan Menangis

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam adalah makhluk Allah yang  paling fasih. paling merdu kata-katanya, paling lembut tutu rkatanya. sampai- sampai perkataan beliau dapat mempengaruhi hati sekian banyak manusia dan menawan jiwa. Bahkan musuh-musuh beliau juga mengakui hal ini. Jika berkata, maka perkataan beliau terinci dan jelas, terkadang diulang-ulang.  tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat. tidak terputus-putus atau tersela dengan diam. Terkadang beliau mengulang hingga liga kali, agar perkataan beliau benar-benar bisa dipahami, Beliau lebih banyak diam  jika memang tidak dibutuhkan untuk bicara. Mengawali dan mengakhiri perkataan  dengan ujung bibirnya, berkata dengan menggunakan kata-kata yang banyak kandungan maknanya, tidak terialu banyak (nyerocos) dan tidak pula terlalu sedikit, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diperlukan, tidak berkata kecuali yangdiharapkan pahalanya. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, maka hal itu dapat diketahui lewat rona muka beliau. Tawa beliau berupa senyuman, bahkan semuanya berupa senyuman. Puncak senyuman beliau ialah gigi geraham beliau kelihatan. Beliau tersenyum karena memang ada sesuatu yang membuat beliau tersenyum, yaitu hal-hal yang membuat beliau takjub atau hal-hal yang jarang terjadi atau aneh. Beliau juga tersenyum karena gembira, karena melihat sesuatu yang menggembirakan atau ikut dalam kegembiraan itu. Tapi adakalanya beliau tersenyum justru pada saat yang  seharusnya beliau marah. Beliau tersenyum karena dapat menguasai rasa amarah.

Sedangkan tangis beliau juga tidak berbeda jauh dengan senyum beliau, tidak dengan sedu sedan, ratapan dan suara, sebagaimana tawa beliau yang tidak disertai suara mengakak, tapi hanya berupa senyuman. Saat menangis air mata beliau mengalir hingga bercucuran dan dari dada terdengar
suara menggelegak. Tangis beliau terkadang karena gambaran kasih sayang kepada orang yang meninggal dunia, terkadang karena rasa takut atas umatnya dan rasa sayang, terkadang karena takut kepada Allah, terkadang saat mendengar Al-Qur'an, yaitu merupakan tangis cinta dan pengagungan, yang disertai rasa takut dan khawatir. Kelika putra beliau, Ibrahim meninggal dunia, maka kedua mata beliau menangis dan mengucurkan air mata, sebagai luapan rasa kasih sayang kepadanya. Beliau bersabda saat itu,

"Mata bisa berlinang air mata, hati bisa bersedih namun kami tidak mengatakan kecuali yang membuat  Rabb kami ridha. Sesungguhnya kami benar-benar bersedih atas kematianmu  wahai Ibrahim. " (Ditakhrij Al-Bukhary dan Ahmad).

Beliau menangis saat menyaksikan salah seorang putrinya, saat Ibnu Mas'ud membacakan surat An-Nisa' di hadapan beliau hingga ayat 41, menangis saat Utsman bin Mazh'un meninggal dunia. menangis saat ada gerhana matahari. menangis saat shalat gerhana, menangis saat shalat,  menangis saat duduk di dekat kuburan salah seorang putri beliau. Secara keseluruhan,tangis beliau itu menggambarkan beberapa keadaan, yaitu tangis kasih sayang, takut dan khawatir, cinta dan rindu, senang dan gembira, sedih karena menggambarkan siksaan, kesedihan, merasa lemah dan tak berdaya.

No comments:

Post a Comment

ini komentar