Tuntunan Rasulullah
Saat Berjalan Sendirian atau Saat Berjalan Bersama Para Shahabat
Beliau adalah orang yang paling cepat jalannya. paling
bagus jalannya dan juga tenang. Abu Hurairah berkata, "Aku tidak melihat
sesuatu pun yang lebih bagus daripada Rasullah Shalallahu Alaihi wa Salam .
Seakan-akan matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang
lebih cepat jalannya daripada Rasulullah
ShallallahuAlaihiwaSallam. Seakan-akan bumi dijadikan menurun bagi beliau.
Sebenarnya kami berusaha untuk menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak
peduli."
Ali bin Abu Thalibjuga pernah mensifati cara berjalan
beliau dengan berkata, "Jika Rasulullah berjalan. maka badannya bergerak
seakan-akan sedang berjalan di tanah yang landai."
Begitulah cara berjalannya para pemberani dan mereka yang
memiliki semangat, tidak seperti orang yang sakit-sakitan, yang berjalan
sepotong demi sepotong. Dua cara berjalan yang tercela, yaitu pelan-pelan
seperti orang yang sakit-sakitan dan
berjalan secara buru-buru seperti onta yang ketakutan, seakan menggambarkan
keadaan pikirannya yang galau. apalagi jika dengan banyak menengok ke arah kiri dan kanan. Yang benar ialah
berjalan dengan kerendahan hati, yang menjadi sifat jalannya Abadurrahman,
seperti yang difirmankan Allah,
hamba-hamha Rohb YangMaha Pcnyayang itu (iaiah) orang orang
yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. ' ' {A 1-Furqan : 63).
Tuntunan
Rasulullah dalam Buang Hajat Jika hendak masuk kamar kecil.
maka beliau
mengucapkan, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kotoran dan segala
hal yang kotor. " (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).
Jika keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan,
''Ampunan-Mu (yang kuharapkan) . "
Terkadang beliau membersihkan kotoran dengan air dan
terkadang dengan batu, dan terkadang
dengan keduanya. Jika hendak buang hajat ketika dalam perjalanan, maka beliau pergi menyingkir
dari para sahabat. Beliau buang hajat
dan bertabir di tempat yang berlindung, terkadang bertabir dengan pelepah korma dan terkadang dengan dedaunan.
Biasanya beliau mencari tanah yang
gembur saat kencing, dan beliau lebih banyak kencing dengan duduk (jongkok). Sampai-sampai Aisyah
berkata, "Siapa yang menyampaikan hadits kepada kalian bahwa beliau
kencing dengan berdiri, maka janganlah
kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan berjongkok." (Ditakhrij
At-Tirmidzy, An-Nasa'y dan Ibnu Majah dengan isnad shahih).
Tapi Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari hadits
Hudzaifah, bahwa beliau pernah kencing dengan berdiri. Ada yang berpendapat kencing dengan cara berdiri ini dimaksudkan sebagai
pembolehan. Ada yang berpendapat, beliau melakukannya karena
khawatir tali kekang hewannya lepas. Ada yang berpendapat, hal itu di lakukan karena
untuk proses penyembuhan sakit. Orang Arab biasa menyembuhkan kesulitan kencing
dengan cara berdiri. Begitulah kata
Asy-Syafi'y Yang benar.
Beliau pernah keluar dari kamar kecil, seraya membaca
Al-Qur'an. Beliau membersihkan kotoran, dengan air maupun batu dengan tangan
kirinya. Beliau cukup membersihkannya tiga kali dan tidak pernah merasa
was-was.
Tuntunan
Rasulullah dalam Fitrah dan Segala Keragamannya
Ada perbedaan pendapat, apakah Rasulullah sudah dalam keadaan
dikhitan semenjak lahir, ataukah dikhitan malaikat pada saat dada beliau dibelah,
ataukah kakeknya, Abdul-Muththalib yang mengkhitan.
Beliau suka mendahulukan yang kanan ketika mengenakan
sandal, ketika memulai jalan, bersuci, mengambil dan memberi. Tangan
kanan beliau digunakan untuk makan, minum dan bersuci, sedangkan tangan kiri
digunakan untuk membersihkan kotoran ketika di kamar kecil umpamanya.
Tuntunan beliau dalam bercukur, maka semua bagian rambut
dicukur secara merata atau semua tidak dicukur sama sekali. Beliau tidak pernah
mencukur sebagian tanpa sebagian yang
lain. Tidak pernah diriwayatkan tentang
bercukur ini kecuali saat menunaikan haji.
Beliau suka bersiwak dan melakukannya, baik ketika
berpuasa maupun tidak berpuasa. Beliau
bersiwak setiap kali bangun dari tidur, ketika hendak wudhu', ketika hendak shalat, ketika hendak
masuk rumah, dengan dahan dari pohon
arak, Beliau sering memakai minyak wangi dan menyukainya.
Beliau mempunyai alat celak yang beliau gunakan ketika hendak
tidur, dan kedua mata dicelaki. Para
shahabat berbeda pendapat, apakah beliau pernah mengecat rambut ataukah tidak? Menurut
Anas, beliau tidak pernah mengecat rambut. Menurut Abu Hurairah, beliau pernah
mengecat rambut. .Ada segolongan orang
berpendapat, beliau sering memakai minyak wangi, sehingga membuat rambut beliau
kemerah-merahan, hingga menimbulkan anggapan bahwa beliau mengecat rambutnya,
padahal beliau tidak mengecatnya. Abu Rimtsah berkata 'Aku pernah melihat uban
beliau kemerah-merahan Menurut
At-Tirmidzy, apa yang dikatakan Abu Rimtsah ini merupakan penafsiran yang paling baik. Sebab beberapa riwayat yang
shahih menyebutkan bahwa beliau tidak memiliki uban kecuali beberapa lembar
rambut di tempat belahan rambut. Yang
pasti. beliau banyak meminyaki rambutnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa beliau biasa
memangkas kumis. Diriwayatkan pula bahwa
Ibrahim Alaihis-Salam juga biasa memangkas kumis. Diriwayatkan dari Abu Murairah, bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Pangkaslah kumis dan peliharalah jenggol. Berbedalah
kalian dengan orang-orang Majusi. "
(Diriwayatkan Muslim). Dari Anas, dia
berkata, '"Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membatasi
waktu memangkas kumis dan memotong kuku, agar kami lidak
memliharanya lebih dari empat puluh hari." (Diriwayatkan Muslim)
Tuntunan Rasulullah
Saat Berkata, Diam, Tersenyum dan
Menangis
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam adalah makhluk
Allah yang paling fasih. paling merdu
kata-katanya, paling lembut tutu rkatanya. sampai- sampai perkataan beliau
dapat mempengaruhi hati sekian banyak manusia dan menawan jiwa. Bahkan
musuh-musuh beliau juga mengakui hal ini. Jika berkata, maka perkataan beliau terinci dan jelas,
terkadang diulang-ulang. tidak terlalu
cepat dan tidak pula terlalu lambat. tidak terputus-putus atau tersela dengan
diam. Terkadang beliau mengulang hingga liga kali, agar perkataan beliau
benar-benar bisa dipahami, Beliau lebih banyak diam jika memang tidak dibutuhkan untuk bicara.
Mengawali dan mengakhiri perkataan dengan
ujung bibirnya, berkata dengan menggunakan kata-kata yang banyak kandungan
maknanya, tidak terialu banyak (nyerocos) dan tidak pula terlalu sedikit, tidak
membicarakan sesuatu yang tidak diperlukan, tidak berkata kecuali yangdiharapkan
pahalanya. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, maka hal itu dapat diketahui
lewat rona muka beliau. Tawa beliau berupa senyuman, bahkan semuanya berupa
senyuman. Puncak senyuman beliau ialah gigi geraham beliau kelihatan. Beliau
tersenyum karena memang ada sesuatu yang membuat beliau tersenyum, yaitu
hal-hal yang membuat beliau takjub atau hal-hal yang jarang terjadi atau aneh.
Beliau juga tersenyum karena gembira, karena melihat sesuatu yang menggembirakan atau
ikut dalam kegembiraan itu. Tapi adakalanya beliau tersenyum justru pada saat
yang seharusnya beliau marah. Beliau
tersenyum karena dapat menguasai rasa amarah.
Sedangkan tangis beliau juga tidak berbeda jauh dengan
senyum beliau, tidak dengan sedu sedan, ratapan dan suara, sebagaimana tawa beliau
yang tidak disertai suara mengakak, tapi hanya berupa senyuman. Saat menangis
air mata beliau mengalir hingga bercucuran dan dari dada terdengar
suara menggelegak. Tangis beliau terkadang karena
gambaran kasih sayang kepada orang yang meninggal dunia, terkadang karena rasa
takut atas umatnya dan rasa sayang, terkadang karena takut kepada Allah,
terkadang saat mendengar Al-Qur'an, yaitu merupakan tangis cinta dan
pengagungan, yang disertai rasa takut dan khawatir. Kelika putra beliau,
Ibrahim meninggal dunia, maka kedua mata beliau menangis dan mengucurkan air
mata, sebagai luapan rasa kasih sayang kepadanya. Beliau bersabda saat itu,
"Mata bisa berlinang air mata, hati bisa bersedih
namun kami tidak mengatakan kecuali yang membuat Rabb kami ridha. Sesungguhnya kami benar-benar
bersedih atas kematianmu wahai Ibrahim.
" (Ditakhrij Al-Bukhary dan Ahmad).
Beliau menangis saat menyaksikan salah seorang putrinya,
saat Ibnu Mas'ud membacakan surat An-Nisa' di hadapan beliau hingga ayat 41,
menangis saat Utsman bin Mazh'un meninggal dunia. menangis saat ada gerhana
matahari. menangis saat shalat gerhana, menangis saat shalat, menangis saat duduk di dekat kuburan salah
seorang putri beliau. Secara keseluruhan,tangis beliau itu menggambarkan
beberapa keadaan, yaitu tangis kasih sayang, takut dan khawatir, cinta dan
rindu, senang dan gembira, sedih karena menggambarkan siksaan, kesedihan,
merasa lemah dan tak berdaya.
No comments:
Post a Comment
ini komentar