Sunday, 8 November 2015

Tuntunan Rasulullah 3, zadul maad

Tuntunan Rasulullah dalam Masalah Shalat

Kebiasaan beliau saat  takbiratulihram adalah lafazh tanpa ucapan yang lain. Beliau mengangkat kedua tangan bersamaan dengan takbiratulihram dengan membuka jari-jari tangan hingga sejajar dengan telinga dan dalam riwayat lain sejajar dengan pundak. dalam keadaan menghadap ke arah kiblat. Kemudian meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, di atas pergelangan dan lengan. Bukan hadits shahih yang meriwayatkan tanpa mengangkat tangan. Diriwayatkan Abu Daud dari Ali, termasuk As-Sunnah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan dalam shalat di bawah pusar.

Terkadang beliau mengucapkan doa istiftah (antara takbir dan bacaan Al-Fatihah) sebagai berikut.
 "Ya Allah Jauhkan antara aku dan dosa-dosaku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah dari dari dosa-dosaku, bagaimanapakaianputihyang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari dosa-dosaku dengan es, air dan embun. " Terkadang beliau membaca doa istiftah sebagai berikut, "Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan menyerah, dan bukanlah aku tergolongan orang-orangyang menyekutukan. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Rabb semesta alam. 

 "Aku pemah shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas langan kirinya di atas dada.  tiada sekutu hagi-Nya, dan untuk itulah aku diperintahkan dan aku adalah tergolongan orang-orang yang berserah diri. "

Terkadang beliau membaca doa istiftah sebagai berikut, 'YaAllah, Engkau adalah Raja yang tidakada  ilah selain Engkau. Engkau  adalah Rabbi dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri, dan aku telah mengakui dosa-dosaku. Oleh  karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Tunjukkanlah aku kepada akhlak yang paling haik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Dan, palingkanlah  kejelekan akhlak itu. Tidak ada orang memalingkannya dariku selain  Engkau. Kusambut panggilan dan kebahagiaan-Mu, dan kebaikan itu  ada di Tangan-Mu, sedangkan keburukan tidak kembali kepada-Mu.  Aku bergantung kepada-Mu dan kembali kepada-Mu pula. Mahasuci  Engkau dan Mahatinggi Engkau. Aku memohon ampunan dan  bertaubat kepada-Mu. "

Tapi biasanya doa istiftah ini dibaca saat beliau mengerjakan shalat  malam. Doa istiftah lainnya adalah,
 "Ya Allah. Rabbnya Jibril. Mika'il dan Israfil... "dan seterusnya.
"Ya Allah. bagi-Mu segalapuji, Engkau cahaya langit dan humi dan siapapun yang ada di dalamnya. ..." dan seterusnya.
"Mahasuci Engkau ya Allah, segalapuji bagiMu. Mahasuci asmaMu dan Mahatinggi kebesaran-Mu. tidak ada Ilah selain Engkau. " 

Yang terakhir ini diriwayatkan Ashhabus-Sunan. Namun riwayat riwayat sebelumnya lebih kuat. Ada pula riwayat shahih dari Umar bin Al- Khaththab. bahwa dia pernah membaca doa istiftah di tempat biasanya Nabi  ShallallahuAlaihi wa Sallam mengimami, dan dia menyaringkan bacaan doa istiftahnya  karena hendak mengajarkannya kepada manusia. Ahmad berkata. "Aku sependapat dengan apa yang diriwayatkan dari Umar, dia berkata, "Sekiranya seseorang membaca doa istiftah dengan sebagian yang diriwayatkan dari Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam, maka itu lebih baik baginya."

Kemudian setelah itu beliau membaca ta'awwudz, lalu membaca Al- Fatihah. Terkadang beliau menyaringkan bacaan basmalah, tapi lebih sering menyembunyikannya. Bacaan beliau panjang-panjang, berhenti pada setiap ayat. Setelah membaca Al-Fatihah, beliau mengucapkan "Amin". Jika pada bacaan yang nyaring, maka beliau mengeraskan bacaan "Amin" ini, dan orang-orang di belakang beliau juga mengucapkannya secara nyaring.

Beliau diam dua kali, yaitu antara takbiratul-ihram dan bacaan. Namun untuk diam yang kedua ada perbedaan pendapat. Ada riwayat yang menyebutkan setelah Al-Fatihah,  dan ada pula riwayat yang menyebutkan sebelum ruku'. Setelah Al-Fatihah beliau membaca surat selain Al-F-'atihah. Terkadang beliau memanjangkan bacaan surat dan terkadang pendek, guna untuk memberi kesempatan kepada orang yang hendak bepergian atau keperluan lainnya, dan terkadang beliau membaca yang sedang-sedang saja.

Bacaan Sewaktu Shalat Subuh dan Shalat-Shalat Lain

Beliau biasa membaca antara enam puluh hingga seratus ayat dalam shalat subuh. Terkadang beliau membaca surat Qaf, Ar-Rum, At-Takwir, Az- Zalzalah, Al-Falaq dan terkadang surat An-Nas. Surat ini berlaku untuk dua rakaat dan tidak ada pengkhususan pada satu rakaat. Dalam perjalanan beliau
pernah membaca surat Al-Mukminun. Ketika bacaannya tiba tentang penyebutan Musa dan Harun yang dibaca pada rakaat pertama, beliau tersedak, lalu ruku'.

Ketika shalat Jum'at beliau membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan,  karena dua surat ini berisi masalah kehidupan dunia dan akhirat, penciptaan Adam, surga dan neraka. Pada saat shalat jama'ah yang melibatkan orang banyak, seperti shalat Id dan Jum'at, beliau juga pernah membaca surat Qaf, Al-Qamar, Al-AMa dan Al-Ghasyiyah.

Tuntunan Bacaan Nabi dalam Beberapa Shalat

Terkadang beliau memanjangkan bacaan sewaktu shalat zhuhur, sehingga Abu Sa'id berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim, "Shalat zhuhur didirikan Sementara pada saat yang ada seseorang yang pergi ke Baqi" dan membereskan keperluannya di sana. Kemudian dia kembali lagi ke rumahnya, mengambil wudhu", dan mendapatkan Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam masih berada pada rakaat pertama, karena memang beliau memanjangkan bacaan."
Terkadang beliau membaca surat As-Sajdah, terkadang surat Al-ATa, terkadang surat Al-Lail dan terkadang surat Al-Buruj.

Bacaan shalat ashar sekitar setengah dari bacaan sewaktu shalat zhuhur, jika yang panjang, dan bacaannya sama jika dipendekkan. Sedangkan petunjuk beliau sewaktu shalat maghrib kebalikan dari apa yang dikerjakan manusia pada zaman sekarang. Beliau pernah membaca surat Al-A'raf untuk dua rakaat, pernah juga membaca surat Ath-Thur, juga pernah membaca surat Al-Mursalat. Sedangkan orang yang membiasakaan bacaan untuk surat-surat yang pendek adalah Marwan bin Al-Hakam. Karena itu Zaid bin Tsabit mengingkari kebiasaannya itu.

Agar para makmum membaca sural AI-Fatihah secara pelan dan tidak menyaringkannya.

 Ibnu Abdil-Barr berkata, "Diriwayalkan bahwa dalam shalat maghrib beliau pernah membaca surat Al-A'raf. Asy-Syams, Ash-Shaffat, Ad- Dukhan, Al-A'la, At-Tin, Ai-Mursalat, Al-Falaq dan An-Nas. Beiiau juga pernah membaca surat-surat yang pendek pada shalat maghrib. Semua ini merupakan riwayat yang shahih dan sudah terkenal.

Dalam shalat isya' beliau pernah membaca At-Tin, dan memberikan perkiraan panjang pendeknya kepada Mu'adz seperli surat Asy-Syams. Al- A'la, Al-Lail dan yang serupa. Beliau mengingkarinya yang membaca surat Al-Baqarah. seraya bersabda 'Apakah engkau masih muda wahai Mu'adz?" Sementara para pematuk'' mengacu kepada sabda beliau ini. dan mereka tidak mau menoleh ke bacaan sebelumnya maupun sesudahnya.

Dalam shalat Jum 'at beliau membaca surat Al-Jumuah dan A l-Munafiqun, atau surat Al-A'la dan Al-Ghasyiyah.

Dalam shalat Id terkadang beliau membaca surat Qaf dan Al-Qamar secara utuh terkadang beliau membaca surat Al-A'la dan Al-Ghasyiyah. Inilah yang beliau lakukan hingga akhir hayat.

Petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam senantiasa di lakukan Al-Khulafa'ur-Rasyidun. Tapi Abu Bakar pernah membaca surat Al-Baqarah pada waktu shalat subuh, dan ketika dia mengucapkan salam matahari  hampir terbit."'

Umar juga pernah membaca surat Yusuf, An-Nahl, Hud dan Al-Isra'.  Tentang sabda beliau, "Siapa pun di antara kalian yang menjadi imam, maka  hendaklah memendekkan bacaannya", dapat dijawab sebagai berikut, bahwa panjang dan pendek itu masalah yang nisbi, yang harus dikembalikan kepada  apa yang dilakukan  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Ikuti apa yang dikehendaki para makmum.

Kebiasaan yang senantiasa dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah menjadi hakim yang menyelesaikan perkara di antara dua pihak yang bersengketa. Beliau biasa membaca satu surat secara utuh, dan terkadang satu surat itu dibaca untuk dua rakaat. Tapi hal ini jarang beliau lakukan.
Membaca bagian awal atau akhir surat tidak pernah diriwayatkan dari beliau. Dua surat yang dibaca dalam satu rakaat pernah beliau lakukan. yang beliau laksanakan sendirian  Bacaan pada rakaat pertama lebih panjang daripada bacaan pada rakaat kedua dalam setiap shalat. Terkadang beliau memanjangkan bacaan, hingga tidak lagi terdengar suara telapak kaki yang berjalan, yaitu mereka yang terlambat mengikuti shalat.

Sebutan bagi orang-orang  yang cepat-cepat dalam ruku" dan sujudnya, seperti burung gagak
yang sedangmematuk,  tidak berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit sekali,

No comments:

Post a Comment

ini komentar