Tuntunan Rasulullah
dalam Masalah Shalat
Kebiasaan
beliau saat takbiratulihram adalah lafazh
tanpa ucapan yang lain. Beliau mengangkat kedua tangan bersamaan dengan takbiratulihram
dengan membuka jari-jari tangan hingga sejajar dengan telinga dan dalam riwayat
lain sejajar dengan pundak. dalam keadaan menghadap ke arah kiblat. Kemudian
meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, di atas pergelangan dan lengan.
Bukan hadits shahih yang meriwayatkan tanpa mengangkat tangan. Diriwayatkan Abu
Daud dari Ali, termasuk As-Sunnah meletakkan telapak tangan di atas telapak
tangan dalam shalat di bawah pusar.
Terkadang beliau mengucapkan doa istiftah (antara takbir
dan bacaan Al-Fatihah) sebagai berikut.
"Ya Allah Jauhkan antara aku dan dosa-dosaku,
sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah
dari dari dosa-dosaku, bagaimanapakaianputihyang dibersihkan dari kotoran. Ya
Allah, cucilah aku dari dosa-dosaku dengan es, air dan embun. " Terkadang
beliau membaca doa istiftah sebagai berikut, "Kuhadapkan wajahku kepada
Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan menyerah, dan bukanlah
aku tergolongan orang-orangyang menyekutukan. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku
dan matiku adalah untuk Allah, Rabb semesta alam.
"Aku pemah
shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau meletakkan
tangan kanannya di atas langan kirinya di atas dada. tiada sekutu hagi-Nya, dan untuk itulah aku
diperintahkan dan aku adalah tergolongan orang-orang yang berserah diri. "
Terkadang beliau
membaca doa istiftah sebagai berikut, 'YaAllah, Engkau adalah Raja yang tidakada ilah selain Engkau. Engkau adalah Rabbi
dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri, dan aku telah mengakui
dosa-dosaku. Oleh karena itu ampunilah
dosa-dosaku semuanya. sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain
Engkau. Tunjukkanlah aku kepada akhlak
yang paling haik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Dan,
palingkanlah kejelekan akhlak itu. Tidak
ada orang memalingkannya dariku selain Engkau.
Kusambut panggilan dan kebahagiaan-Mu, dan kebaikan itu ada di Tangan-Mu, sedangkan keburukan tidak
kembali kepada-Mu. Aku bergantung
kepada-Mu dan kembali kepada-Mu pula. Mahasuci Engkau dan Mahatinggi Engkau. Aku memohon
ampunan dan bertaubat kepada-Mu. "
Tapi biasanya doa istiftah ini dibaca saat beliau
mengerjakan shalat malam. Doa istiftah lainnya adalah,
"Ya Allah. Rabbnya Jibril. Mika'il dan Israfil...
"dan seterusnya.
"Ya Allah. bagi-Mu segalapuji, Engkau cahaya langit
dan humi dan siapapun yang ada di dalamnya. ..." dan seterusnya.
"Mahasuci Engkau ya Allah, segalapuji bagiMu.
Mahasuci asmaMu dan Mahatinggi kebesaran-Mu. tidak ada Ilah selain Engkau.
"
Yang terakhir ini diriwayatkan Ashhabus-Sunan. Namun
riwayat riwayat sebelumnya lebih kuat. Ada pula riwayat shahih dari Umar bin
Al- Khaththab. bahwa dia pernah membaca doa istiftah di tempat biasanya Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam mengimami, dan dia
menyaringkan bacaan doa istiftahnya karena
hendak mengajarkannya kepada manusia. Ahmad berkata. "Aku sependapat dengan apa yang diriwayatkan dari
Umar, dia berkata, "Sekiranya seseorang membaca doa istiftah dengan
sebagian yang diriwayatkan dari Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam, maka itu
lebih baik baginya."
Kemudian setelah itu beliau membaca ta'awwudz, lalu
membaca Al- Fatihah. Terkadang beliau menyaringkan bacaan basmalah, tapi lebih
sering menyembunyikannya. Bacaan beliau panjang-panjang, berhenti pada setiap
ayat. Setelah membaca Al-Fatihah, beliau mengucapkan "Amin". Jika
pada bacaan yang nyaring, maka beliau mengeraskan bacaan "Amin" ini,
dan orang-orang di belakang beliau juga mengucapkannya secara
nyaring.
Beliau diam dua kali, yaitu antara takbiratul-ihram dan
bacaan. Namun untuk diam yang kedua ada perbedaan pendapat. Ada riwayat yang
menyebutkan setelah Al-Fatihah, dan ada
pula riwayat yang menyebutkan sebelum ruku'. Setelah Al-Fatihah beliau membaca
surat selain Al-F-'atihah. Terkadang beliau memanjangkan bacaan surat dan
terkadang pendek, guna untuk memberi kesempatan kepada orang yang hendak
bepergian atau keperluan lainnya, dan terkadang beliau membaca yang sedang-sedang
saja.
Bacaan Sewaktu
Shalat Subuh dan Shalat-Shalat Lain
Beliau biasa membaca antara enam puluh hingga seratus
ayat dalam shalat subuh. Terkadang beliau membaca surat Qaf, Ar-Rum, At-Takwir,
Az- Zalzalah, Al-Falaq dan terkadang surat An-Nas. Surat ini berlaku untuk dua
rakaat dan tidak ada pengkhususan pada satu rakaat. Dalam perjalanan beliau
pernah membaca surat Al-Mukminun. Ketika bacaannya tiba
tentang penyebutan Musa dan Harun yang dibaca pada rakaat pertama, beliau
tersedak, lalu ruku'.
Ketika shalat Jum'at beliau membaca surat As-Sajdah dan
Al-Insan, karena dua surat ini berisi
masalah kehidupan dunia dan akhirat, penciptaan Adam, surga dan neraka. Pada
saat shalat jama'ah yang melibatkan orang banyak, seperti shalat Id dan Jum'at,
beliau juga pernah membaca surat Qaf, Al-Qamar, Al-AMa dan Al-Ghasyiyah.
Tuntunan Bacaan Nabi dalam Beberapa Shalat
Terkadang beliau memanjangkan bacaan sewaktu shalat
zhuhur, sehingga Abu Sa'id berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim,
"Shalat zhuhur didirikan Sementara
pada saat yang ada seseorang yang pergi ke Baqi" dan membereskan
keperluannya di sana. Kemudian dia kembali lagi ke rumahnya, mengambil wudhu", dan mendapatkan Nabi
ShallallahuAlaihi wa Sallam masih berada pada rakaat pertama, karena memang
beliau memanjangkan bacaan."
Terkadang beliau membaca surat As-Sajdah, terkadang surat
Al-ATa, terkadang surat Al-Lail dan terkadang surat Al-Buruj.
Bacaan shalat ashar sekitar setengah dari bacaan sewaktu
shalat zhuhur, jika yang panjang, dan bacaannya sama jika dipendekkan.
Sedangkan petunjuk beliau sewaktu shalat maghrib kebalikan dari apa yang
dikerjakan manusia pada zaman sekarang. Beliau pernah membaca surat Al-A'raf
untuk dua rakaat, pernah juga membaca surat Ath-Thur, juga pernah membaca surat
Al-Mursalat. Sedangkan orang yang membiasakaan bacaan untuk surat-surat yang
pendek adalah Marwan bin Al-Hakam. Karena itu Zaid bin Tsabit mengingkari
kebiasaannya itu.
Agar para makmum membaca sural AI-Fatihah secara
pelan dan tidak menyaringkannya.
Ibnu Abdil-Barr berkata, "Diriwayalkan bahwa dalam
shalat maghrib beliau pernah membaca surat Al-A'raf. Asy-Syams, Ash-Shaffat,
Ad- Dukhan, Al-A'la, At-Tin, Ai-Mursalat, Al-Falaq dan An-Nas. Beiiau juga
pernah membaca surat-surat yang pendek pada shalat maghrib. Semua ini merupakan
riwayat yang shahih dan sudah terkenal.
Dalam shalat isya' beliau pernah membaca At-Tin, dan
memberikan perkiraan panjang pendeknya kepada Mu'adz seperli surat Asy-Syams.
Al- A'la, Al-Lail dan yang serupa. Beliau mengingkarinya yang membaca surat Al-Baqarah.
seraya bersabda 'Apakah engkau masih muda wahai Mu'adz?" Sementara para pematuk'' mengacu kepada sabda beliau ini.
dan mereka tidak mau menoleh ke bacaan sebelumnya maupun sesudahnya.
Dalam shalat Jum 'at beliau membaca surat Al-Jumuah dan
A l-Munafiqun, atau surat Al-A'la dan Al-Ghasyiyah.
Dalam shalat Id terkadang beliau membaca surat Qaf dan
Al-Qamar secara utuh terkadang beliau membaca surat Al-A'la dan Al-Ghasyiyah.
Inilah yang beliau lakukan hingga akhir hayat.
Petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam
senantiasa di lakukan Al-Khulafa'ur-Rasyidun. Tapi Abu Bakar pernah membaca
surat Al-Baqarah pada waktu shalat subuh, dan ketika dia mengucapkan salam matahari hampir terbit."'
Umar juga pernah membaca surat Yusuf, An-Nahl, Hud dan
Al-Isra'. Tentang sabda beliau,
"Siapa pun di antara kalian yang menjadi imam, maka hendaklah memendekkan bacaannya", dapat
dijawab sebagai berikut, bahwa panjang dan pendek itu masalah yang nisbi, yang
harus dikembalikan kepada apa yang dilakukan
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Ikuti apa yang dikehendaki para makmum.
Kebiasaan yang senantiasa dilakukan Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam ialah menjadi hakim yang menyelesaikan perkara di antara
dua pihak yang bersengketa. Beliau biasa membaca satu surat secara utuh, dan terkadang
satu surat itu dibaca untuk dua rakaat. Tapi hal ini jarang beliau lakukan.
Membaca bagian awal atau akhir surat tidak pernah
diriwayatkan dari beliau. Dua surat yang dibaca dalam satu rakaat pernah beliau
lakukan. yang beliau laksanakan sendirian Bacaan pada rakaat pertama lebih panjang daripada bacaan pada rakaat kedua
dalam setiap shalat. Terkadang beliau memanjangkan bacaan, hingga tidak lagi terdengar
suara telapak kaki yang berjalan, yaitu mereka yang terlambat mengikuti shalat.
Sebutan bagi orang-orang yang cepat-cepat dalam ruku" dan
sujudnya, seperti burung gagak
yang sedangmematuk, tidak berdzikir kepada Allah kecuali hanya
sedikit sekali,
No comments:
Post a Comment
ini komentar