Sunday, 8 November 2015

Tuntunan Rosulullah 5, zadul maad



Tuntunan Pelaksanaan Ruku' dan Bangkit dari Ruku'

Setelah usai membaca, beliau mengangkat kedua tangannya sambil  bertakbir untuk ruku  Kedua telapak tangan diletakkan di kedua lutut dalam  posisi  mencengkeramnya, menjauhkan kedua tangan dari lambung, mengembangkan punggung dan memanjangkan, lurus, tidak merendahkan kepala dan  tidak pula mendongakkannya. Terkadang beliau mengucapkan "Maha suci Rabbku  Yang Maha agung. "

Namun adakalanya beliau mengucapkan.  "Mahasuci Engkau  ya Allah. Rabb kami dan dengan pujimu  ya Allah, ampunilah aku. "
Lamanya ruku' beliau sekira sepuluh bacaan tasbih. begitu pula sujudny a. Tapi terkadang lamanya ruku" kira-kira sama dengan lamanya saat berdiri.  yang beliau kerjakan pada waktu shalat malam dan sendirian.
Petunjuk beliau menyeimbangkan shalat dan menyesuaikannya dengan keadaan. Terkadang dalam ruku'nya beliau mengucapkan,  "Mahasuci dan Mahabersih Rabbnya para malaikal dan Jibril. "

Terkadang beliaujuga mengucapkan,
'Ya Allah, kepada-Mu aku ruku', kepada-Mu aku beriman. kepadaMu aku pasrah diri. Pendengaran, penglihatan, otak tulang dan nadi kutunduk kepada-Mu. "

Bacaan-bacaan yang terakhir ini diriwayatkan dari beliau saat mengerjakan shalat malam. Setelah itu beliau bangkit sambii mengangkat kedua tangan, seraya mengucapkan, "Allah mendengar orang yang memuji-Nya"
Tulang punggung beliau senantiasa dalam keadaan lurus saat bangkit dari ruku" dan saat duduk antara dua sujud. Beliau bersabda tentang hal ini, Suatu shalat tidak akan diberi balasan selagi seseorang tidak menegakkan tulang punggungnya saat ruku' dan sujud."

Jika beliau benar-benar sudah dalam keadaan berdiri legak dan lurus setelah bangkit dari ruku". maka beliau mengucapkan, "Wahai Rabb kami, dan bagi-Mu segalapuji. "

Atau boleh jadi beliau mengucapkan.  "Ya Allah Rabb kami. bagi-Mu segalapuji. "
Tidak boleh menghimpun bacaan di antara keduanya. atau tidak boleh  dibaca, Allahuma Robbana walakal-hamdu. " Pada bacaan yang kedua tidak perlu membacanya.

Tuntunan beliau tentang lamanya berdiri setelah ruku" ialah sama dengan lamanya ruku'. Ada juga riwayat shahih dari beliau. bahwa beliau  pernah mengucapkan,
 "Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya serta sepenuh apa  saja yang Engkau kehendaki dari sesuatu setelah itu. Engkau adalah  Dzat yang layak menerima pujian dan pengagungan. Tidak ada satu  pun yang menghalangi apa yang telah Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa pun yang telah Engkau halangi serta tidak  akan berguna kekayaan orangyong kaya di sisi-Mu. " 

Adapula riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau pernah mengucapkan,  'Ya Allah, bersihkanlah akud ari kesalahan-kesalahanku dengan air, es dan embun. Cucilah aku dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana kain putih yang dicuci dari koloran. Jauhkanlah
antara diriku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. "

Muslim meriwayatkan dari Anas, dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan, 'Sami 'allahu liman hamidahu ', maka beliau dalam keadaan berdiri, hingga kami berkata, 'Beliau diam untuk  beberapa saat".Kemudian beliau sujud,dudukdi antara keduasujud. sehingga kami berkata, 'Beliau diam untuk beberapa saat'."

Begitulah tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika melaksanakan ruku' dan saat bangkit dari ruku". Memendekkan dua rukun ini  merupakan kebiasaan para gubernur Bani Umayyah, hingga memunculkan  anggapan bahwa yang demikian itu termasuk As-Sunnah.

Sujud dan Duduk di antara Dua Sujud

Kemudian beliau bertakbir dan merunduk untuk melakukan sujud.  tanpa mengangkat kedua tangan. Beliau meletakkan kedua lutut terlebih  dahulu lalu disusul dengan kedua telapak tangan, kemudian meletakkan  keningdan hidung di tempat sujud. Inilah yangshahih. Bagian yang paling  dekat dengan tanah diletakkan lebih dahulu, dan ketika bangkit, maka yang  paling jauh dari tanah diangkat lebih dahulu, atau kepala lebih dahulu, lalu  kedua tangan, lalu kedua lutut. Inilah kebalikan dari apa yang dilakukan onta  saat bangkit. Beliau melarang penyerupaan dengan binatang saat shalat.
Beliau melarang turun ke bawah seperti menderumnya onta. melarang  menoleh seperti menolehnya burung gagak, melarang mengangkat tangan  saat salam seperti ekor kuda.

Beliau sujud dengan menempelkan kening dan hidung, tidak menghalanginya dengan kain sorban. Beliau lebih sering sujud di atas tanah, juga  pernah sujud di atas air, di atas tanah iiat, tikar kecil yang terbuat dari pelepah  korma. di atas tikar yang dibuat untuk shalat dan di atas kulit yang sudah
disamak.


Jika sujud beliau menempelkan kening dan hidungnya keras-keras  dengan tanah, menjauhkan kedua tangan dari lambung dan meiebarkannya,  sehingga terlihat kulit ketiak beiiau yang putih. Kedua teiapak tangan diletakkan sejajar dengan pundak dan hidung, lurus dalam sujudnya, menghadapkan
ujung-ujungjarinyakearahkibiat, membuka teiapak dan jari-jarinamun tidak merenggangkannya dan tidakpula menggenggam.

 Dalam sujud itu beiiau mengucapkan,
"Mahasuci Rabbku YangMahatinggi. "

Terkadang beliau mengucapkan,
"Mahasuci Engkau, ya allah, Rahb kami dan dengan puji-Mu, ya  Allah, ampunilah aku. "
Terkadang beiiau mengucapkan,
 "Mahasuci dan Mahabersih Rahbnyapara malaikat dan Jihril. "

Beliau juga pernah mengucapkan dalam sujudnya,
"Ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, kepadaMu aku pasrah diri, wajahku sujud kepada Dzatyang menciptakan dan  membentuknya, membelah pendengaran dan penglihatannya, Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta. "

Beliau juga pernah mengucapkan,
"Ya Allah, ampunilah bagiku semua dosaku, yang kecil dan yang besar, yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tersembunyi. "
Beliau juga pernah mengucapkan,
" Ya Allah, ampunilah bagiku kesalahan-kesalahanku, kebodohanku,  kelebih-lebihanku dalam urusanku, dan apa pun yang Engkau lebih  mengetahuinya daripada aku. Ya Allah ampunilah bagiku kesungguhanku dan candakii. kesalahanku dan kesengajaanku. dan semua  itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah bagiku apa yang bidahulukan  dan apa yang kuakhirkan. yang kusemhunyikan dan yang kutampakkan, Engkau Ilahkuyang tiada Jlah selain Engkau. "

Beliau memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa dan sujud, seraya bersabda,
 "Sesungguhnya ia lebih pantas untuk dikabulkan bagi kalian. "
 Kemudian beliau mengangkat kepala sambil mengucapkan takbir  tanpa mengangkat kedua tangan. kemudian duduk iftirasy.  membentangkan  kaki kiri dan duduk di atasnya, menegakkan kaki kanan, meletakkan kedua  tangan di atas kedua lutut, ujung tangan ada di atas lutut, tidak menggerakkan  jari, dan mengucapkan doa,  

"Ya Allah ampunilah bagiku, rahmatilah aku. cukupilah aku, tunjukilah aku dan berilah aku rczki. "
 Hudzaifah menyebutkan dari Rasulullah ShallallahuAlaihi waSallam, bahwa beliau mengucapkan doa,
"Ya Allah, ampunilah aku, ampunilah aku. "

Kemudian beliau bangkit dengan ujung kaki dan lututnya, bertumpu pada kedua pahanya. Jika sudah bangkit, beliau langsung memulai bacaan dan tidakdiam seperti yang dilakukan setelah takbiratul-ihram. Beliau shalat pada rakaat kedua seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, kecuali empat
hal; Diam, bacaan istiftah, takbiratul-ihram dan memanjangkannya.

Saat duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kiri di atas paha kiri dan meletakkan tangan kanan di atas paha kanan pula, menunjuk dengan  jari teiunJLik. y ang tidak meluruskannya secara Icnipang dan tidak menegakkannya. tctapi mcnibengkokkannya scdikit. tidak menggerak-gei-akkannya.  pandangan matatertuju ke jari telunjuk itu, mengembangkanjari-jari tangan kiri (tidak mcnggenggam). Sifat duduk tasyahhud sama dengan saat duduk  antara dua sujud. Scdangkan hadits Ibnuz-Zubair yang diriwayatkan Muslim, bahwa jika duduk dalam shalat, maka kaki kiri teiietak di antara paha  dan betis kaki yang kanan, dilakukan pada tasyahhud akhir.

Begitulah yang  senantiasa beliau lakukan dalam tasyahhud akhir, dan beliau mengajari para  shahabat untuk mengucapkan, 'Salam sejahtera bagi Allah, shalat dan hal-hal yang haik. Kesejahteraan bagimu wahai nabi dan rahmat Allah serta barakah-Nya. Salam  sejahtera atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi  bahwa liada Ilah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. "

Beliau memendekkan bacaan tasyahhud ini, seakan-akan beliau sedang duduk di atas batu yang panas. Tidak pernah dinukil dari satu hadits pun bahwa beliau mengucapkan shalawat dan salam atas diri dan kerabat beliau,  tidak memohon perlindungan dari adzab kubur, adzab Jahannam, cobaan  hidup dan mali. cobaan Al-Masih Ad-Dajjal. Boleh jadi orang yang ingin  mengucapkannya, karena dia memahami dari keumuman yang dianjurkan  untuk diucapkan pada tasyahhud akhir.

Kemudian beliau bangkit sambil mengucapkan takbir, di atas ujung  kaki. Sedangkan tangan tetap berada di atas lutut, bertumpu kepada paha.  Di dalam Muslim dan sebagian jalan riwayat Al-Bukhary disebutkan bahwa beliau mengangkat kedua tangan di tempat ini, kemudian  hanya membaca Al-Fatihah saja. Tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa beliau membaca sesuatu setelah Al-Fatihah pada dua rakaat yang terakhir (untuk shalat yang empat rakaat).


Tidak ada tuntunan yang membolehkan menoleh pada vvaktu shalat.  Di dalam Shahih Al-Bukhary disebutkan, bahwa ada seseorang yang menanyakan hal ini. Maka beliau menjawab, "Menoleh adalah sambaran yang  dilakukan syetan dari shalat hamba." Memang beHau pernah melakukannya,
tapi itu dilakukan karena sebab tertentu dan bukan merupakan kebiasaan yang  terus-menerus dilakukan, seperti beliau menoleh ke arah celah yang bisa  ditempati penjaga.''

Beliau mengucapkan doa Setelah tasyahhud akhir sebelum salam. Bahkan beliau memerintahkannya seperti yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah dan Fadhalah. Doa sesudah salam dengan menghadap kiblat atau menghadap para makmum, tidak termasuk tuntunan beliau. Doa-doa secara umum yang berkait dengan shalat, diucapkan saat shalat dan begitulah yang  beliau perintahkan. Hal ini sesuai dengan keadaan orang shalat yang menghadap Allah. Jika sudah salam, berarti tidak lagi dalam keadaan menghadap  Allah. Kemudian beliau mengucapkan salam ke arah kanan lalu ke arah kiri.  Begitulah yang senantiasa beliau lakukan. Ada riwayat yang menyebutkan  bahwa beliau mengucapkan satu kali salam tanpa menoleh. Tapi riwayat ini  tidak kuat. Ada pula yang diriwayatkan dari Aisyah seperti yang disebutkan  As-Sunan. Tapi ini pun juga hadits lemah  Jadi tidak cukup hanya dengan satu salam saja.

Inilah di antara doa-doa yang beliau baea sesudah tahiyyat akhir sebelum salam.

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohonperlindungan kepada-Mu dari  adzab kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari godaan Al-Masihud Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari cobaan hidup dan mati. Ya  Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang. "  "Ya Allah, ampunilah bagiku dosaku, lapangkanlah bagiku dalam  tempat tinggalku, berkahilah bagiku dalam rezkikii. " Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ketetapan dalam urusan  kepada-Mu dan kesungguhan dalam petunjuk. Aku memohon kepadaMu agar dapat mensyukuri nikmat dan beribadah dengan baik kepadaMu. Aku memohon had yang suci dan lidahyang henar kepada-Mu.  Aku memohon kepada-Mu kebaikanyang Engkau ketahui, dan aku  berlindung kepada-Mu dari kejahatanyang Engkau ketahui, dan aku  memohon ampunan terhadap dosa-dosa yang Engkau ketahui. "

Yang diriwayatkan dari beliau tentang semua doa yang diucapkan  dalam shalat ini dalam bentuk tunggal (aku) dan bukan jama* (kami). Padahal  itu terjadi saat shalat subuh. Beliau menoleh ke sebuah celah jalan yang memungkinkan bag] penjagaiiya untuk maju ke depan. Jadi apa yang beliau lakukan ini karena ada sebab khusus.

dalam riwayat Al-Imam Ahmad dan Ahlus-Sunan disehulkan dari hadits Tsauban, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. "Seseorang tidak boleh mengimami suatu kautn, lalu dia mengkhususkan doa bagi dirinya sendiri tanpa mereka. Jika dia melakukannya. berarti dia telah mengkhianati mereka.  Sementara Ibnu Khuzaimah menyebutkan di dalam Shahih-nya. dan dia
menyebutkan doa yang dibaca Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam, ''Ya  Allah- jauhkanlah antara diriku dan kesalahan-kesalahanku...." Di sini disebutkan lafazh tunggal. yang berarti untuk diri behau sendiri. Maka hadits ini  sudah cukup untuk menyangkal hadits maudhu' di atas. Sayajuga mendengar  Syaikhul-lslam Ibnu Taimiyah berkata. "Menuriit hemat saya. hadits yang  menyebutkan doa yang dibaca imam semacam ini sudah tertuju untuk dirinya  dan juga untuk makmum. Mereka bersekutu di dalamnya, seperti halnya doa  qunut atau lain-lainnya.

Beliau menekurkan kepala dalam shalat.'' Hal ini disebutkan Ahmad  dalam riwayatnya. Sementara tatkalatasyahhudpandanganbeliau tidak Icbih dari ujung telunjuknya, Allah telah mcnjadikan kesenangan dan kenikmatan  beliau ada dalam shalat. Beliau pcrnah bersabda kepada Bilal. ''Hai Bilal,  buatiah kami berislirahat dengan shalat."

Suatu kali beliau sudah memulai shalatdan bermaksud hendak memanjangkannya, Tapi tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Maka beliau memendekkannya, karena khawatir akan merisaukan hati ibu bayi tersebut. Ketika  sedang mengerjakan shalat fardhu beliau juga pernah menggendong Umamah binti Abul-Ash, cucu beliau atau putri Zainab. Jika berdiri, beliau  menggendongnya, dan ketika ruku atau sujud, beliau meletakkannya. Al-Hasan dan Al-Husain juga pernah mendekati beliau ketika sedang shalat, lalu  naikke atas punggung beliau. Saat itu beliau memanjangkan sujudnya, karena  khawatir akan menjatuhkan salah seorang di antara keduanya. Ketika beliau  sedang shalat. Aisyah datang. Maka beliau berjalan, membukakan pintu, lalu  beliau kenibali lagi ke tempat shalatnya lagi. Beliau menjawab salam dengan  isyaral ketika sedang shalat, seperti yang diriwayatkan dari Jabir, Anas, Shuhaib, Abdullah bin Umardan Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhum .  Tentang hadits Abu Ghathafan dari Abu Hurairah Radhiyallahy Anhu, dari  Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. beliau bersabda, '^Siapa yang memberi  isyarat dalam shalatnya, sehingga isyarat itu bisa dipahami. maka hendaklah  dia mengulang lagi shalatnya^: adalah hadits batil seperti yang dikatakan Ad- Daruquthny. Yang benar, beliau pernah memberi isyarat. Terkadang beliau shalat tanpa mengenakan alas kaki, terkadang meneenakannva. dan bahkan beliau memerintahkan untuk shalat dengan  pandangan beliau tidak iebih dari tempat sujud. T idak memejamkan mata dan tidak pula mendongakkan kepala ke langit.

 mengenakan aias kaki, agar berbeda dengan orang-orang Yahudi. Terkadang  beliau shalat dengan mengenakan satu lembar pakaian dan terkadang  mengenakan dua lembar pakaian. Tapi yang terakhir ini lebih sering beliau  lakukan.

Ada beberapa anak kecil yang hendak lewat di depan beliau ketika  beliau sedang shalat. Lalu beliau memberi isyarat dengan tangan agar mereka  menyingkir, sehingga mereka pun menyingkir. Beliau pernah meniup ketika  shalat, pernah menangis, berdahak, berdehem, karena ada sebab khusus yang  membuat beliau melakukan hal-hai itu.

Beliau pernah membaca doa qunut selama sebulan penuh. dan setelah  itu tidak melakukannya lagi. tepatnya setelah ruku". Doa qunut ini dibaca  karena ada sebab-sebab khusus, dan selagi sebab itu hilang, maka beliau tidak  lagi mengerjakannya. Terus-menerus membaca qunut bukan termasuk tuntunan beliau. Jelas sesuatu yang mustahil beliau selalu membaca doa qunut  setelah berdiri dari ruku', "Allhummahdimfimanhadait.... "sambil mengeraskan suara dan diamini para makmum. Tak seorang pun di antara para shahabat yang melakukannya. Bahkan mereka mengatakan, "Itu adalah bid'ah  yang diada-adakan." Hal ini diriwayatkan. Sekiranya beliau dan  para shahabat melakukannya, tentu umat akan menukil hal ini dan merincinya. Tuntunan beliau tentang qunut hanya khusus pada saat terjadi bencana, dan meninggalkannya jika bencana itu sudah lewat. Beliau juga tidak mengkhususkannya hanya pada waktu shalat subuh saja, tapi yang lebih banyak  lakukan ialah pada waktu-waktu dikabulkannya doa, seperti waktu akhir  malam dan waktu sahur. Tentang hadits Abu Ja'far Ar-Razy, dari Ar-Rabi'  bin Anas, dari Anas, dia berkata. ''RasuluWah Shallallahu Alaihi wa Sallam  senantiasa membaca doa qunut pada waktu shalat subuh hingga meninggal  dunia", disebutkan di dalam AI-Mi/snad, At-Tirmidzy juga meriwayatkannya. Tapi Abu Ja'far ini didha'ifTon Ahmad dan Juga laln-lainnya.

No comments:

Post a Comment

ini komentar