Sunday, 8 November 2015

Tuntunan Rasulullah 6, zadul maad




Tuntunan Sujud Sahwi

Telahdiriwayatkandari RasuhiUahShallallahu beliau bersabda.

"Aku hamyalah manusia biasa yang hisa liipa scbagaimana kalian yang juga hisa liipa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. "

Kelalaian beliau merupakan kesempurnaan nikmat bagi umat dan kesempurnaan agama, agar mereka mengikuti beliau. Pasalnya beliau pernah beranjak meninggalkan shalat setelah mendapatkan dua rakaat dari empat rakaat yang mestinyadilakukan. Setelah mengqadha' rakaatnyayangkurang. beliau sujud sebelum salam. Dari sini dapatdisimpulkan bahwa siapa yang ketintiaalan seba^ian dari ba2ian-baeian shalat yang bukan termasuk rukun. maka dia harus sujud sebelum salam. Beliau pernah mengucapkan salam

 setelah mengerjakan dua rakaat pada shalat isya' alau maghrib. Kemudian beliau berbicara. Ketika ada shahabat yang mengingatkan, maka beliau menyempurnakannya, mengucapkan salam, sujud lalu salam lagi. Beliau juga pernah mengakhiri shalatnya, kemudian pergi, padahal masih ada satu rakaat yang tersisa. Maka Thalhah berkata kepada beliau, "Engkau lupa satu rakaat." Beliau kembali lagi ke masjid, menyuruh Bilai menyerukan iqamah, lalu shalat satu rakaat bersama orang-orang. Hal Ini diriwayatkan Ahmad.
Beliau juga pernah shalat lima rakaat pada waktu shalat zuhur. Lalu orang-orang memberitahu beliau, "Engkau telah shalat lima rakaat." Maka beliau sujud. Beliau juga pernah mengerjakan shalat ashar hanya dengan tiga rakaat. kemudian pulang masuk rumah. Orang-orang mengingatkan beliau. Maka
beliau keluar rumah, shalat bersama mereka satu rakaat, kemudian salam, sujud, lalu salam lagi. Inilah yang diriwayatkan dari beliau, yaitu ada lima tempat.

Di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Abdullah bin Buhainah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam pernah shalat dua rakaat pada waktu zhuhur, tidakduduk mclakukantasyahhud awal. Setelah menqadha' shalatnya, maka beliau sujud dua kali, kemudian salam. Dalam riwayat Muttafaq Alaihi, disebutkan beliau mengucapkan takbir untuk setiap sujud, dalam posisi duduk sebelum salam.

Rasulullah . mengucapkan salam setelah dua rakaat, entah dalam shalat zuhur atau ashar. Setelah itu beliau berbincang-bincang. Kemudian beliau menyempurnakannya, melakukan dua kali sujud setelah salam dan berbincang-bincang itu, mengucapkan takbirtatkala sujud dan tatkala bangkit dari sujud.

Suatu kali beliau mengucapkan salam lalu beranjak pergi. Padahal masih ada satu rakaat yang ketinggalan. Thalhah bin Ubaidillah yang mengetahuinya berkata kepada beliau, "Engkau lupa satu rakaat." Maka beliau
kembali lagi, masuk masjid dan menyuruh Bilal untuk iqamah, lalu orang-orang juga ikut mengerjakan satu rakaat yang ketinggalan itu.

Beliau pernah shalat zuhur lima rakaat. Lalu ada yang berkata di hadapan beliau, "Apakah ada tambahan dalam shalat?" Beliau beitanya, "Ada apamemangnya?" Orang-orang menjawab, "Engkau shalat lima rakaat." Maka beliau sujud dua kali. Hadits Muttafaq Alaihi.
Inilah yang diriwayatkan tentang kelalaian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat, yaitu adadi lima tempat. 
 
Tuntunan Rasulullah dalam Dzikir Seusai Shalat dan Beberapa 

Masalah Lainnya
Memejamkan mata dalam shalatbukan termasuk petunjuk beliau. Bahkan Ahmad dan lain-iainnya mcmakruhkannya. Menurut mcrcka, memejamkan mata termasuk kebiasaan orang-orang Yahudi. Tapi ada juga yang inemboiehkannya, karena dengan memejamkan mata itu bisa menimbulkan kekhusyukan. Yang benar, selagi membuka mala lidak mengurangi kekhusyukan, maka itulah yang afdhal. Tapijika dengan membuka mata itu bisa mengganggu kekhusyukan, karena di arah kibiatnya ada sesuatu yang meng-
ganggunya, maka hal itu tidak dimakruhkan. Sebab yang pokok daiam shalat adalah menjaga kekhusyukan dalam shalat. Setelah mengucapkan salam, beliau biasa membaca istighfartiga kah,
lalu mengucapkan dzikir.

"Ya Allah, Engkau Pemberi selamat dan dari-Mulah keselamatan itu. Mahasiici Engkau wahai Dzat Yang Mahaagung dan Maha Pemurah- Beliau tidak menghadap ke arah kiblat kecuaH selama bacaan dzikir
ini, iaiu behau cepat-cepat menghadap ke arah makmum. Terkadang beliau menghadap ke arah makmum di bagian kanan dan terkadang menghadap ke bagian kiri. Yang pasti beliau tidak pernah mengkhususkan pada satu sisi tanpa sisi yang lain. Saat salam beliau menoleh ke arah kanan lalu ke kiri. Seusai shalat fajar beliau tetap berada di tempat shalatnya, hingga matahari terbit dan memancarkan sinarnya secara terang. Setiap usai shalat fardhu beliau biasa membaca,

"Tiada Hah selain Allah semata, yang tiada sekutu hagi-Nya. Bagi- Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, dan Dia Berkuasa atas segala sesuatu. " (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim) "YaA llah, tak seorangpun yang dapat menghalang-halangi apayang hendak Engkau berikan, dan tiada seorangpun yang dapat memheri-
kan apa yang Engkau tahan, dan tidak bermanfaat kekayaan orang yang kaya di sisi-Mu. Tiada kekuatan dan day a kecuali datangnya dari Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat,
karunia dan pujian yang baik. Tiada llah selain Allah, yang kita ikhlas herbakti kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka. " (Diriwayatkan Muslim).

Abu Daud meriwayatkan dari All bin Abu Thalib RadhiyallahuAnhii, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa mengucapkan doa setelah salam,

'^Ya Allah, ampunilah bagiku apa yang kudahulukan dan apayang kuakhirkan, apa yang kurahasiakan dan apa yang kutampakkan, apa yang kulebih-lebihkan dan apa pun yang Engkau lebih mengetahui
daripada aku. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkau pula yang mengakhirkan. Tiada llah selain Engkau. "
Beliau mcnganjurkan umatnya mengucapkan seusai setiap shalat fardhu, tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali dan takbir tiga puluh tiga kali, lalu digenapi seratus kali dengan ucapan,

Tiada Ilah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pulapujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. "

Ibnu Hibban menyebutkan di dalam Shahih-nya, dari Al-Harits bin Muslim, dia bericata, "Rasulullah Shallallohu Alaihi wa Sallam bersabda, ^\}ika engkau sudah mengerjakan shalat subuh, maka ucapkanlah
sebelum engkau berkata-kata, 'Ya Allah, lindungilah aku dari neraka ', tujuh kali. Jika engkau meninggal pada hari itu, maka Allah menetap- kanpembebasan dari neraka bagimu. Dan jika engkau sudah menger-
jakan shalat maghrib, maka ucapkanlah sebelum engkau berkata-kata, 'Ya Allah, lindungilah aku dari neraka ', tujuh kali. Jika engkau meninggal pada malam itu, maka Allah menetapkan kebebasan dari neraka bagimu. " (Diriwayatkan Ibnu Hibban dan Abu Daud).'' An-Nasa'y menyebutkan di dalam As-Sunanul-Kabir. dari hadits Abu Umamah, dia berkata, "RasuluHah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ' ^Siapayang membaca ayat Kursy seusai setiap shalat wajib. maka dia tidak dihalangi untuk masuk surga hingga dia meninggal dunia. " Jika shalat menghadap ke dinding, maka beliau membuat jarak antara diri beliau dan dinding itu, yang bisa dilalui seekor kambing dan beliau tidak jauh-jauh dari dinding itu. Beliau jugamemerintahkan untuk mendekatkan pembatas yang dibuat di hadapan tempat sujud. Jika beliau shalat menghadap ke arah tiang, tongkat atau pohon, maka beliau menyisih ke samping kanan atau kirinya, dan tidak menjadikannya sebagai penghalang ke arah kiblat. Bliau pernah menancapkan tombakpendek pada saat mengadakan perjalanan dan juga saat menetap, lalu shalat ke arahnya, karena tombak itu dijadikan
sebagai pembatas. Beliaujuga pernah meletakkanpelanadi hadapan beliau. lalu beliau shalat ke arahnya, yang juga dimaksudkan sebagai pembatas.Beliau memerintahkan agar orang yang sedang shalat membuat pembatas, meskipun hanya dengan anak panah atau tongkat. Jika tidak mendapatkannya, maka dia bisa membuat garis di hadapannya di atas tanah. Tapi kalaupun tidak memahami pembatas ini pun, shalat tetap dianggap sah. Diriwayatkan secara shahih, bahwa pernah ada wanita yang lewat di hadapan beliau sewak-
tu shalat, begitu pula keledai dan anjing bewarna hitam. Beliaujuga pernah shalat, sementara Aisyah tidur di hadapan beliau. Tapi seseorang diharamkan berlalu di hadapan orang yang sedang shalat.

RasuluHah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa memelihara sepuluh rakaat (nafilah) saat menetap. Inilah yang dikatakan Umar bin Al-Khaththab, "Aku menghapal dari RasuluHah Shallallahu Alaihi wa Sallam
'' Di dalam isnadnya ada yang majhul. yang berarti hadits ini dha'if,

 sepuluh rakaat: Dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sctelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya' dan dua rakaat sebelum subuh. Ketika beliau ketinggalan mengerjakan dua rakaat setelah zhuhur, maka beliau mengqadha'nya setelah shalat ashar, waktu yang sebenarnya dilarang mengerjakan shalat. Tapi terkadang beliau mengerjakan empat rakaat setelah zhuhur. Tentang dua rakaat sebelum maghrib, ada riwayat shahih, bahwa   beliau bersabda,"Shalatlah kalian dua rakaat sebelum maghrib." Tapi pada bagian lain disebutkan. "Bagi siapa yang menghendakinya", karena dikhawatirkan manusiaakan menjadikannyasebagai kebiasaan. Jadi pendapatyang benar, shalat dua rakaat sebelum maghrib itu sekedar sebagai anjuran dan bukan merupakan sunat rawatib.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan keseluruhan shalat sunat dan tathawwu' ini di dalam rumah, terlebih lagi shalat sunat maghrib. Sama sekali tidak pernah dinukil dari beliau bahwa beliau menger-
jakannya di masjid. Beliau sangat keras dalam memelihara shalat sebelum subuh, yang hampir tidak pernah beliau tinggalkan, begitu pula shalat witir. baik tatkala sedang menetap maupun ketika dalam perjalanan. Tidak pernah dinukil dari beliau, bahwa beliau mengerjakan shalat sunat dalam perjalanan selain dari shalat sebelum subuh ini.

Para fuqaha" saling berbeda pendapat. mana yang lebih kuat antara shalat sebelum subuh yang menjadi perlambang permulaan amal, dengan shalat witir yang menjadi perlambang penutup amal. Begitulah menurut
penuturan Ibnu Taimiyah. Karena itu beliau mengakhiri dua shalat ini dengan surat ANKafirun dan Ai-Ikhlas, yang kedua surat ini menghimpun tauhid ilmu dan amal, tauhid ma'rifat dan kehendak, tauhid akidah dan tujuan. Firman Allah. "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Mahaesa'". mengandung keesaan yang harus ditetapkan terhadap Allah, yang menafikan persekutuan dalam benluk apa pun. menafikan anak dan bapak untuk mcnggambarkan kesempurnaan keesaan, kekayaan dan keberadaan Allah sebagai tempat

bergantung. menafikan kesamaan, penyerupaan dan tandingan, mengandung penetapan segala kesempurnaan, yang menafikan kekurangan. Semua ini merupakan himpunan tauhid ilmu yang menjelaskan berbagai macam golongan yang sesat dan syirik. Karena itu surat Al-lkhlas ini menyamai sepcrtiga Al-Qur"an. Intinya berkisar pada penetapan dan pcngabaran. Penetapan adatiga macam: Perintah, larangan dan pembolehan. Sedangkan pengabaran ada dua macam: Pengabaran tentang Khaiiq. tentang asma" dan
sifat-sifat-Nya. dan pengabaran tentang makhluk. Surat Al-lkhlas murni merupakan pengabaran tentang Allah, sifat daaasma'-Nya, yang memhersihkan pcmbacanya dari syirik ilmu, sebagaimana sural Al-Kafirun yang membersihkan pembacanya dari syirik amal. Karena ilmu itu diposisikan sebelum amal, menjadi imam dan penuntunnya.maka surat Al-lkhlas menyamai sepertiga Al-Qur'an, sedangkan surat Al-Kafirun menyama
seperempat Al-Qur'an. Karena syirik amal itu iebih mendominasi jiwa manusia untuk mengikuti nafsu, dan banyak dilakukan manusia, padahal mereka mengetahui dampaknya, maka disebutkan penegasan tcntang hal ir dengan firman Allah, "Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir \ " Karena it surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas ini juga dibaca dalam dua rakaat thawal karena haji merupakan syiartauhid, sebagaimana keduanya dibaca sas
memulai amal siang hari dan mengakhiri amal malam hari.  Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam biasa berbaring pada lambun kanan seteiah shalat sunat fajar. Ada dua golongan yang berbuat secar
berlebih-lebihan dalam hal ini. Ada yang mewajibkannya dari golongan ah zhahir, dan ada pula yang memakruhkannya dan bahkan menganggapny bid'ah. Malik dan lainnya mengambi 1 jalan tengah. Mereka membolehkan nyajika dimaksudkan untuk mengistirahatkan badan, dan memakruhkanny jika menganggap pelaksanaannya sebagai sunat. 
 
Tuntunan Rasulullah tentang Shalat Malam

Orang-orang salaf dan juga khalaf saling berbeda pendapat, apaka shalat malam itu wajib bagi bcliau ataukan tidak? Dua golongan sama-sam berhujjah dengan firman Allah, "Dan, pada sehagian malam hari shale tahajjudlah kamu sebagai sua Cu ibadah tambahan bagimu. " (Al-Isra': 79 
Satu golongan mengatakan bahwa perintah dalam ayat ini jelas buka merupakan fardhu. Sedangkan lainnya mengatakan bahwa perintah shah tahajjud dalam ayat ini kepada beliau sama dengan perintah dalam firmar
Nya, "Hai orangyang berselimul, bangunlah (untuk shalat) di malam ha) kecuali sedikit (daripadanya). "(Al-Muzzammil: 1-2). Sementara tidak ada ayat lain yang menghapusnya.

Tentang firman Allah, "nafilatanlaka", sekaiipunmaksudnyaadala tathawwu*. bukan berarti merupakan pengkhususan shalat nafilah bagi beliau. Yang dimaksudkan nafilah dalam ayat ini adalah tambahan. Artiny
tahajjud Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan tambahan derajat da pahala beliau. Karena itu ada pengkhususan shalat tahajjud bagi beliau. Sedangkan shalat malam bagi selain beliau hukumnya mubah dan berfung;menghapus kesalahan. Sementara dosa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallai
yang lampau dan yang mendatangtelah diampuni. Beliau shalat malam ata
tahajjud untuk menambahketinggian derajat, sedangkan selain beliau mek
kukannya untuk menghapus dosa dan kesalahan.

Yang pasti, Nabi Shallallahu Alaihi waSallam tidak pernah menint galkan shalat malam. baik selagi menetap maupun saat mengadakan perjaiar an. Jika beliau ketiduran atau sedang sakit, maka beliau shalat dua belas rakai pada siang hari. Ibnu Taimiyah berkata, "Di sini terkandung dal i I bahwa wit


tidak perludiqadha' jika ketinggalan pelaksanaannya. Kedudukannya seperti shalat tahiyat masj id. shaiat gerhana, shalat istisqa' dan lain-lainnya. Karena maksud pelaksaan witir ini ialah agar ia menjadi penutup shalat malam, seba- gaimana shalat maghrib yang menjadi penutup shalat siang. Jika waktu malam sudah iewat dan shalat subuh sudah dilaksanakan. maka tidak perlu adaqadha' shalat witir."

Lalu bagaimana dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dirivvayatkan Abu Daud dan Ibnu Majah dari hadits Abu Sa'id Al-Khudry. "Siapa yang lerlidw dan tidak sempat mengeijakan witir aiau dia lupa mengerjakannya. maka hendaklah dia mengerjakannyapadapagi hari atau ketika mengingatnya'^ " Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena mengandung banyak kelemahan. Yang benar adalah sabda beliau yang dirivva- yatkan Muslim dan Ibnu Majah, ''Kerjakanlah shalat witir sebelum datang
waktu shalat subuh. "

Bilangan shalat malam yang dikerjakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sebelas rakaat, atau tiga belas rakaat, jika disertai dengan shalat iftitah dua rakaat sebelum shalat tahajjud, atau dua rakaat sesudah witir atau shalat sunat fajar.

Inilah beberapa riwayat lentang shalat malam dan witir yang dilaksanakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta shalat yang dilakukan pada awal malam.

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, "Sekali-kali Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengerjakan shalat isya\ lalu beliau masuk ke tempatku, melalnkan setelah itu beliau mengerjakan shalat empat rakaat
atau enam rakaat. Kemudian beliau menghampiri tempattidurnya." Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, ''Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat malam, maka beliau memulai
dengan dua rakaat yang ringan." (Diriwayatkan Muslim. Dalam hadits dari Abu Hurairah, beliau juga memerintahkan yang dcmikian itu).

Beliau bangun tepat pada tengah malam, beberapa saat sebelum atau sesudahnya. Atau beliau bangun ketika mendengar suara kokokayamjantan, yang biasanya a\am berkokok pada paruh kedua dari waktu malam. Terkadang beliau menyela shalatnya. dan terkadang mcngerjakannya secara berkclanjutan, dan yang kedua ini lebih sering dilakukan, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, saat dia bermalam di rumah beliau, bahwa beliau bangun malam, bersiwak dan wudhu'. Kemudian beliau membaca ayat, 
"Sesunggulmya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orangyang berakal."

Beliau melanjutkanayat-ayat selanjutnya hingga akhir surat Alilmran.Kemudian beliau shalat dua rakaat (di masjid), memanjangkan berdirlnya,ruku" dan sujudnya. Kemudian kembali, ialu tidur hingga terdengar suara
dengkurannya. Kemudian beliau bangun lagi dan berbuat seperti ilu pula hingga tiga kali, kemudian shalat witir tiga rakaat. Ketika terdengar suara adzan. beliau ketuar untuk shalat subuh sambil mengucapkan doa,

"YaA llah.jadikanlah di hatiku cahaya, di lisanku cahaya, jadikanlah di pendengaranku cahaya, jadikanlah di penglihatanku cahaya, jadikanlah dari belakangku cahaya, jadikanlah dari depanku cahaya,
jadikanlah dari atasku cahaya dan jadikanlah dari bawahku cahaya. Ya Allah, berikanlah kepadaku cahaya. " (Diriwayatkan Muslim). Witir yang behau lakukan ada beberapa macam, satu di antaranya seperti yang dituturkan Ibnu Abbas di atas. Beliau pernah shalat malam delapan rakaat, mengucapkan salam dalam setiap dua rakaat, kemudian witir lima rakaat secara berkelanjutan, tidak duduk kecuali di rakaat yang terakhir.
Beliau juga pernah witir sembilan rakaat secara berkelanjutan, tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan untuk berdzikir kepada Allah, memuji dan berdoa, kemudian bangkit tanpa mengucapkan salam, kemudian shalat untuk rakaat kesembilan, kemudian duduk untuk tasyahhud. Ialu mengucapkan salam. Setelah salam beliau masih mengerjakan dua rakaat lagi. Beliau juga pernah mengerjakan witir tujuh rakaat, cara pelaksanaannya seperti sembilan  rakaat itu. duduk pada rakaat keenam tanpa salam, Ialu berdiri untuk mengerjakan rakaat ketujuh, Ialu duduk tasyahhud dan salam. Setelah itu beliau mengerjakan shalat dua rakaat sambi! duduk. Adakalanya beliau shalat dua rakaat dua rakaat, kemudian witir tiga rakaat secara berkelanjutan. sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad dari Aisyah. 

Cara beliau melaksanakan shalat malam ada tiga macam: Sambil berdiri. dan ini yang paling scring dilakukan, sambil duduk, dan adakalanya beliau membaca sambil duduk,jika bacaannyatinggal sedikit beliau berdiri
danmenyelesaikan bacaannya, Ialu ruku". Diriwayatkan bahwa beliau pernah shalat dua rakaat setelah witir, terkadang sambil duduk dan terkadang membaca sebagian sambil duduk. Ialu berdiri ketika hendak ruku*. Di dalam Al-Musnad  dari hadits Abu Umamah, bahwa beliau membaca sural Az-Zalza!ah dan surat Al-Kafirun. Sebagian orang ada yang menganggap musykil masalah dua rakaat setelah witir ini. dengan menganggapnya bertenlangan dengan sabda beliau, 

"Jadikaniah shalat witir sebagai akhir shalat malam kalian." Dalam hal ini Ahmad  berkata Aku tidak mengerjakannya tapi juga tida kmelarang orang lain mengcrjakannya  Sedangkan Malik mengingkari dua rakaat itu. Ada puia yang mengatakan bahwa beliau mengerjakan dua rakaat itu untuk menje-
iaskan diperbolehkannya shalat setelah witir. Mereka menafsiri perintah behau untuk mengakhiri shalat malam dengan witir, sebagai anjuran, dan dua rakaat sesudahnya diperbolehkan. Yang benar. witir adalah ibadah yang berdiri sendiri. Dua rakaat yang beliau lakukan setelah itu seperti halnya sunat setelah maghrib yang melengkapi shalat maghrib. Sehingga dua rakaat ini juga melengkapi shalat witir. Shalat maghrib sebagai penutup shalat siang. dan witir sebagai penutup shalat malam. Dua rakaat sctelahnya merupakan
pelengkap. 

Tidak pernah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau pernah qunut dalam shalat witir, kecuali dalam hadits riwayat Ibnu Majah, dari Ubay bin Ka'b, bahwa Rasulullah Shallallahu
shalat witir lalu qunut sebelumruku'.Tapi Ahmad berkata, "Akumemilih qunut setelah ruku', dan semua riwayat dari Nabi Alaihi wa Sallam tentang qunut, hanya dilakukan pada shalat subuh setelah ruku  Maka qunut qitir pun kupilih setelah ruku' dan bukan sebelumnya."

Tapi tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang qunut witir, sebelum maupun sesudah ruku'. Hanya Umarlah yang melakukan qunut, yang berangkat dari As-Sunnah dan kembali ke As-Sunnah.

Tapi Ahmad d2in]ug2i Ahlus-Sunan meriwayatkan dari hadits Al-I lasan bin Ali Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajariku beberapa kalimat yang harus kuucapkan dalam witir, yaitu:

"Ya Allah, herilah akii petunjuk sehagaimana orang-orangyang Engkau beri pehmjuk. herilah aku afial sebagaimana orang-orangyang Engkau beri afiat, berilah aku kekuasaan sebagaimana orang-orang
yang Engkau beri kekuasaan. berkahilah bagiku dalam apa-apayang Engkau limpahkan. lindungilah aku dari kejahatan apayang Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang
ditelapkan atas Diri-Mu, seungguhnya tidak ada yang bisa menghinakan orangyang Engkau lindungi. Engkau yang memberikan barakah

wahai Rahb kami dan Engkau Mahatinggi. " (Diriwayatkan Ahmad. At-Tirmidzy, Abu Daud, An-Nasa'y dan Ibnu Majah).

Al-Baihaqy dan An-Nasa'y menambahi. "Dan, tidak menjadi mulia orang Yang Engkau musuhi. 

Abu Daud dan An-Nasa'y meriwayatkan dari hadits Ubay bin Ka'b Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca dalam shalat sahbihisma rabbikal-a la, dan qulya ayyuhal- kafirim, dan qui hmvallahu ahad. Jika sudah mengucapkan shalat, beliau mengucapkan siibhanal-malikil-quddiis tiga kali, dengan mcmanjangkan suara pada kah ketiga dan lebih nyaring. Ad-Daruquthny menambahi dengan isnad yang shahih, Rabbil-mala 'ikati war-ruh. 
Rasuiu!iah.biasa memoton gbacaan dan berhenti alhamdulillahirabbil~alamin.
Rahmanir-rahim, berhenti, maliki yaumid-din, berhenti, dan seterusnya. Ber-
henti pada setiap ayat adalah yang atdhal. Sementara sebagian qari ' berhenti
pada bagian yang dikehendaki unluk berhenti berdasarkan tujuan. Tapi mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan As-Sunnah adalah lebih utama.

Beliau biasa membaca secaratartih sehingga bacaan yang sudah panjang semakin beitambah panjang. Terkadang bel iau membaca satu ayat hingga waktu subuh. Manusia saling berbedapendapat, maka yang lebih afdhal, membaca secara tartil sehingga hanya sedikit bacaannya, ataukah secara cepat sehingga banyak bacaannya? Ada dua pendapat tentang masalah ink ibnu Mas'ud, ibnu Abbas dan juga lain-lainnya berpendapat. bahwa bacaan secara tartil dan memahami bacaan adalah lebih afdhal, mcskipun bacaan-
nya hanya sedikit. Hal ini lebih baik daripada membaca secara cepat dan tanpa merenungi maknanya, sekalipun bacaannya banyak. Alasannya, karena maksud dari membaca ilu adalah memahami dan memikirkan scrta mengamalkannya. Sementara membaca dan menghapalnya merupakan sarana
untuk mencapai maknanya. Maka sebagian salaf berkata, "'Al-Qur'an turun untuk diamalkan. Maka jadikanlah bacaan Al-Qur'an itu untuk mengamalkannya." Karena ilu yang disebut ahli Al-Qur'an adalah yang mengamal kannya dan mengamalkan apa yang dikandungnya, sekalipun mereka tidak benar-benar menghapalnya. Sedangkan orang yang menghapalnya dan tidak mengamalkan kandungannya, maka sama sekali tidak disebut ahli Al-Qur"an.
Masih menurut golongan ini, iman adalah amal yang pal ing mulia. Sementara memahami dan memikirkan kandungan Al-Qur"anlah yang bisa

Isnadnya shahih dan Ibnu Hibbanjuga menshahihkannya,Tambahan ini shahih.

meinbuahkan iman. Jika hanya sekedar mcmbaca tanpa meinahami, maka yangseperti ini bisadilakukanorangbaikdan buruk, Mukmindanmunafik. Maka Nabi ShaUallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

" Perumpamaan orang munafikyang membaca Al-Qur 'an seperti Raihanah. haimya harum dan rasanyapahit. " (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Dalam hal ini manusia ada empat golongan: Pertama, ahli Al-Qur"an. yaitu orang yang paling mulia. Kedua, bukan ahli Al-Qur'an dan juga tidak memiliki iman. Ketiga, orang yang diberi Al-Qur'an namun tidak diberi
iman. Keempat, orang yang diberi iman namun tidak diberi Al-Qur'an.

Orang yang diberi iman dan tidakdiberi Al-Qur'an, lebih baik daripada orang yang diberi Al-Qur'an namun tidakdiberi iman. Begitu pula orang yang diberi pemahaman saat membaca lebih baik daripada orang yang diberi bacaan yang banyak dan cepat tanpa pemahaman. Inilah petunjuk Nabi Shalat. Sampai-sampai surat yang sudah panjang semakin bertambah panjang. Bahkan beliau mengulang-ulang satu ayat hingga pagi
hari.

Sementara rekan-rekan Asy-Syafi'y mengatakan, bahwa banyak membaca lebih baik. Hujjahnya adalah hadits Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhii, dia berkata, "Rasulullah ShaUallahu Alaihi wa Sallam bersabda.

' 'Siapayang membaca satu hurufdari Kitab A llah, maka baginya satu kebaikan. Sementara satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang serupa. Aku tidak mengatakan aliflam mim satu huruf tapi alifsatu huruf, lam satu hurufdan mim satu huruf. " (Diri-wayatkan At-Tirmidzy).

Di samping itu, Utsman bin Affan pernah membaca Al-Qur'an secara utuh dalam satu rakaat. dan masih banyak riwayat-riwayat lain dari orang orang salaf yang biasa membanyakkan bacaan.

Yang benartentang masalah ini, pahala bacaan secara tartil dan disertai pemahaman, lebih tinggi dan lebih besar nilainya. Sementara pahala banyak membaca lebih banyak bilangannya. Gambaran yang peitama seperti memerdekakan seorang budak yang sangat mahal, dan kedua seperti memerdekakan
beberapa budak yang murah-murah harganya.

Terkadang Rasulullah menyembunyikan bacaan pada shalat maiam, dan terkadang menyaringkannya. Terkadang berdiri lama dan terkadang sebentar. Beliaujuga pernah shalat sunat pada siang
maupun malam hari ketika beliau berada di atas punggung hewan ketika dalam pcrjalanan. Bcliaumemberiisyaratketikaruku"dansujud, dengan lebih menekiirkan kepaia ketika sujud.

Tuntunan Rasulullah tentang Shalat Dhuha, Sujud Syukur dan Sujud Tilawah  Al-Bukhary meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Aisyah, dia berkata, ''Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahii Alaihiwa Sallam shalat dhuha. Sekiranya beliau mengerjakannya, tentu aku juga akan mengerjakannya."

Al-Bukhary meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila, dia berkata. "Tak seorang pun yang menyampaikan hadits kepada kami, bahwa dia melihat Nabi Shallallahii Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat dhuha selain Ummu
Hani'. Dia berkata. "Nabi Shallallahii Alaihi wa Sallam masuk ke rumahnya pada waktu penaklukan Makkah. Beliau mandi lalu shalat delapan rakaat. Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih cepal dari shalat beliau itu. Tapi heliau tetap menyempurnakan ruku" dan sujudnya."

Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abdullah bin Syaqiq. dia berkata. "Aku bertanya kepada Aisyah. "Apakah Rasulullah Shallallahii Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat dhuha?" Dia menjawab. "Tidak,
kecualijika beliau pulang sehabis keluar dari rumah." 
Masih banyak riwayat-riwayat lain dari para shahabat tentang shalat dhuha vang dikeriakan Rasulullah Shallallahii Alaihi wa Sallam. Tapi banyak jugayangdha'if. terputusdanbahkan maudhu'. Manusia berbeda pendapat tentang hadits-hadits ini. Di antara mereka ada yang menguatkan rivvayat pelaksanaan shalat dhuha, yang didukung beberapa riwayat, yangjumlah rakaatnya terkadang dua, empat, enam atau delapan rakaat. Lalu mana yang benar? Siapa yang ingin mengerjakannya, makadia bisa mengerjakan dengan
berapa pun rakaat yang dikehendakinya. dua rakaat hingga delapan rakaat. 
Ini adalah pendapat golongan pertama. Goiongan kedua lebih menguatkan tidak adanya pelaksaaan shalat dhuha, yang didukung beberapa riwayat dan amal para shahabat. Al-Bukhary meriwayatkan dari Ibnu Umar.
bahwa dia tidak pernah mengerjakan shalat dhuha, begitu pula Abu Bakar dan Umar.

Golongan ketiga menganjurkan pelaksanaannya sesekali waktu. Ini salah satu rivvayat dari Ahmad dan dikisahkan Ath-Thabrany dari segoiongan orang.



No comments:

Post a Comment

ini komentar