Tuntunan Sujud Sahwi
Telahdiriwayatkandari RasuhiUahShallallahu beliau bersabda.
"Aku hamyalah manusia biasa yang hisa liipa
scbagaimana kalian yang juga hisa liipa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah
aku. "
Kelalaian beliau merupakan kesempurnaan nikmat bagi umat
dan kesempurnaan agama, agar mereka mengikuti beliau.
Pasalnya beliau pernah beranjak meninggalkan shalat setelah mendapatkan dua
rakaat dari empat rakaat yang mestinyadilakukan. Setelah mengqadha'
rakaatnyayangkurang. beliau sujud sebelum salam. Dari sini dapatdisimpulkan
bahwa siapa yang ketintiaalan seba^ian dari ba2ian-baeian shalat yang
bukan termasuk rukun. maka dia harus sujud sebelum salam. Beliau pernah
mengucapkan salam
setelah mengerjakan dua rakaat pada shalat isya' alau
maghrib. Kemudian beliau berbicara. Ketika ada shahabat yang mengingatkan,
maka beliau menyempurnakannya, mengucapkan salam, sujud lalu salam
lagi. Beliau juga pernah mengakhiri shalatnya, kemudian pergi, padahal
masih ada satu rakaat yang tersisa. Maka Thalhah berkata kepada beliau,
"Engkau lupa satu rakaat." Beliau kembali lagi ke masjid, menyuruh
Bilai menyerukan iqamah, lalu shalat satu rakaat bersama orang-orang. Hal Ini
diriwayatkan Ahmad.
Beliau juga pernah shalat lima rakaat pada waktu shalat
zuhur. Lalu orang-orang memberitahu beliau, "Engkau telah shalat lima
rakaat." Maka beliau sujud. Beliau juga pernah mengerjakan shalat ashar hanya
dengan tiga rakaat. kemudian pulang masuk rumah. Orang-orang mengingatkan
beliau. Maka
beliau keluar rumah, shalat bersama mereka satu rakaat,
kemudian salam, sujud, lalu salam lagi. Inilah yang diriwayatkan dari
beliau, yaitu ada lima tempat.
Di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Abdullah bin
Buhainah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam pernah shalat dua
rakaat pada waktu zhuhur, tidakduduk mclakukantasyahhud awal. Setelah
menqadha' shalatnya, maka beliau sujud dua kali, kemudian salam. Dalam
riwayat Muttafaq Alaihi, disebutkan beliau mengucapkan takbir untuk setiap
sujud, dalam posisi duduk sebelum salam.
Rasulullah .
mengucapkan salam setelah dua rakaat, entah dalam shalat zuhur atau ashar. Setelah
itu beliau berbincang-bincang. Kemudian beliau menyempurnakannya, melakukan dua
kali sujud setelah salam dan berbincang-bincang itu, mengucapkan
takbirtatkala sujud dan tatkala bangkit dari sujud.
Suatu kali beliau mengucapkan salam lalu beranjak pergi.
Padahal masih ada satu rakaat yang ketinggalan. Thalhah bin
Ubaidillah yang mengetahuinya berkata kepada beliau, "Engkau lupa satu
rakaat." Maka beliau
kembali lagi, masuk masjid dan menyuruh Bilal untuk
iqamah, lalu orang-orang juga ikut mengerjakan satu rakaat yang ketinggalan
itu.
Beliau pernah shalat zuhur lima rakaat. Lalu ada yang
berkata di hadapan beliau, "Apakah ada tambahan dalam shalat?"
Beliau beitanya, "Ada apamemangnya?" Orang-orang menjawab, "Engkau
shalat lima rakaat." Maka beliau sujud dua kali. Hadits Muttafaq Alaihi.
Inilah yang diriwayatkan tentang kelalaian Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat, yaitu adadi lima tempat.
Tuntunan Rasulullah dalam Dzikir Seusai Shalat dan
Beberapa
Masalah Lainnya
Memejamkan mata dalam shalatbukan termasuk petunjuk
beliau. Bahkan Ahmad dan lain-iainnya mcmakruhkannya. Menurut
mcrcka, memejamkan mata termasuk kebiasaan orang-orang Yahudi. Tapi ada
juga yang inemboiehkannya, karena dengan memejamkan mata itu bisa
menimbulkan kekhusyukan. Yang benar, selagi membuka mala lidak
mengurangi kekhusyukan, maka itulah yang afdhal. Tapijika dengan membuka
mata itu bisa mengganggu kekhusyukan, karena di arah kibiatnya ada
sesuatu yang meng-
ganggunya, maka hal itu tidak dimakruhkan. Sebab yang
pokok daiam shalat adalah menjaga kekhusyukan dalam shalat. Setelah mengucapkan salam, beliau biasa membaca
istighfartiga kah,
lalu mengucapkan dzikir.
"Ya Allah, Engkau Pemberi selamat dan dari-Mulah keselamatan
itu. Mahasiici Engkau wahai Dzat Yang Mahaagung dan Maha
Pemurah- Beliau tidak menghadap ke arah kiblat kecuaH selama
bacaan dzikir
ini, iaiu behau cepat-cepat menghadap ke arah makmum.
Terkadang beliau menghadap ke arah makmum di bagian kanan dan terkadang
menghadap ke bagian kiri. Yang pasti beliau tidak pernah mengkhususkan
pada satu sisi tanpa sisi yang lain. Saat salam beliau menoleh ke arah
kanan lalu ke kiri. Seusai shalat fajar beliau tetap berada di tempat
shalatnya, hingga matahari terbit dan memancarkan sinarnya secara terang. Setiap
usai shalat fardhu beliau biasa membaca,
"Tiada Hah selain Allah semata, yang tiada sekutu
hagi-Nya. Bagi- Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, dan Dia Berkuasa atas
segala sesuatu. " (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim) "YaA llah, tak seorangpun yang dapat
menghalang-halangi apayang hendak Engkau berikan, dan tiada seorangpun yang dapat
memheri-
kan apa yang Engkau tahan, dan tidak bermanfaat kekayaan
orang yang kaya di sisi-Mu. Tiada kekuatan dan day a kecuali
datangnya dari Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya
nikmat,
karunia dan pujian yang baik. Tiada llah selain Allah,
yang kita ikhlas herbakti kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak
suka. " (Diriwayatkan Muslim).
Abu Daud meriwayatkan dari All bin Abu Thalib
RadhiyallahuAnhii, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa
mengucapkan doa setelah salam,
'^Ya Allah, ampunilah bagiku apa yang kudahulukan dan
apayang kuakhirkan, apa yang kurahasiakan dan apa yang
kutampakkan, apa yang kulebih-lebihkan dan apa pun yang Engkau lebih
mengetahui
daripada aku. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkau pula
yang mengakhirkan. Tiada llah selain Engkau. "
Beliau mcnganjurkan umatnya mengucapkan seusai setiap
shalat fardhu, tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh
tiga kali dan takbir tiga puluh tiga kali, lalu digenapi seratus kali dengan
ucapan,
Ibnu Hibban menyebutkan di dalam Shahih-nya, dari
Al-Harits bin Muslim, dia bericata, "Rasulullah Shallallohu Alaihi
wa Sallam bersabda, ^\}ika engkau sudah mengerjakan shalat subuh, maka
ucapkanlah
sebelum engkau berkata-kata, 'Ya Allah, lindungilah aku
dari neraka ', tujuh kali. Jika engkau meninggal pada hari itu, maka
Allah menetap- kanpembebasan dari neraka bagimu. Dan jika engkau sudah
menger-
jakan shalat maghrib, maka ucapkanlah sebelum engkau
berkata-kata, 'Ya Allah, lindungilah aku dari neraka ', tujuh kali.
Jika engkau meninggal pada malam itu, maka Allah menetapkan kebebasan
dari neraka bagimu. " (Diriwayatkan Ibnu Hibban dan Abu
Daud).'' An-Nasa'y menyebutkan di dalam As-Sunanul-Kabir. dari
hadits Abu Umamah, dia berkata, "RasuluHah Shallallahu Alaihi
wa Sallam bersabda, ' ^Siapayang membaca ayat Kursy seusai setiap shalat
wajib. maka dia tidak dihalangi untuk masuk surga hingga dia meninggal
dunia. " Jika shalat menghadap ke dinding, maka beliau membuat
jarak antara diri beliau dan dinding itu, yang bisa dilalui seekor
kambing dan beliau tidak jauh-jauh dari dinding itu. Beliau jugamemerintahkan
untuk mendekatkan pembatas yang dibuat di hadapan tempat sujud. Jika beliau
shalat menghadap ke arah tiang, tongkat atau pohon, maka beliau menyisih
ke samping kanan atau kirinya, dan tidak menjadikannya sebagai penghalang
ke arah kiblat. Bliau pernah menancapkan tombakpendek pada saat mengadakan
perjalanan dan juga saat menetap, lalu shalat ke arahnya, karena
tombak itu dijadikan
sebagai pembatas. Beliaujuga pernah meletakkanpelanadi
hadapan beliau. lalu beliau shalat ke arahnya, yang juga dimaksudkan
sebagai pembatas.Beliau memerintahkan agar orang yang sedang shalat
membuat pembatas, meskipun hanya dengan anak panah atau tongkat. Jika tidak
mendapatkannya, maka dia bisa membuat garis di hadapannya di atas
tanah. Tapi kalaupun tidak memahami pembatas ini pun, shalat tetap dianggap
sah. Diriwayatkan secara shahih, bahwa pernah ada wanita yang lewat di
hadapan beliau sewak-
tu shalat, begitu pula keledai dan anjing bewarna hitam.
Beliaujuga pernah shalat, sementara Aisyah tidur di hadapan beliau. Tapi
seseorang diharamkan berlalu di hadapan orang yang sedang shalat.
RasuluHah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa
memelihara sepuluh rakaat (nafilah) saat menetap. Inilah yang
dikatakan Umar bin Al-Khaththab, "Aku menghapal dari RasuluHah Shallallahu
Alaihi wa Sallam
'' Di dalam isnadnya ada yang majhul. yang berarti hadits
ini dha'if,
sepuluh rakaat: Dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat
sctelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya' dan dua
rakaat sebelum subuh. Ketika beliau ketinggalan mengerjakan dua rakaat
setelah zhuhur, maka beliau mengqadha'nya setelah shalat ashar, waktu yang
sebenarnya dilarang mengerjakan shalat. Tapi terkadang beliau mengerjakan
empat rakaat setelah zhuhur. Tentang dua rakaat sebelum maghrib, ada riwayat
shahih, bahwa beliau bersabda,"Shalatlah kalian dua rakaat sebelum
maghrib." Tapi pada bagian lain disebutkan. "Bagi siapa yang
menghendakinya", karena dikhawatirkan manusiaakan menjadikannyasebagai kebiasaan. Jadi
pendapatyang benar, shalat dua rakaat sebelum maghrib itu sekedar
sebagai anjuran dan bukan merupakan sunat rawatib.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan
keseluruhan shalat sunat dan tathawwu' ini di dalam rumah, terlebih
lagi shalat sunat maghrib. Sama sekali tidak pernah dinukil dari beliau
bahwa beliau menger-
jakannya di masjid. Beliau sangat keras dalam memelihara
shalat sebelum subuh, yang hampir tidak pernah beliau tinggalkan, begitu
pula shalat witir. baik tatkala sedang menetap maupun ketika dalam
perjalanan. Tidak pernah dinukil dari beliau, bahwa beliau mengerjakan shalat
sunat dalam perjalanan selain dari shalat sebelum subuh ini.
Para fuqaha" saling berbeda pendapat. mana yang
lebih kuat antara shalat sebelum subuh yang menjadi perlambang permulaan
amal, dengan shalat witir yang menjadi perlambang penutup amal.
Begitulah menurut
penuturan Ibnu Taimiyah. Karena itu beliau mengakhiri dua
shalat ini dengan surat ANKafirun dan Ai-Ikhlas, yang kedua surat ini
menghimpun tauhid ilmu dan amal, tauhid ma'rifat dan kehendak, tauhid
akidah dan tujuan. Firman Allah. "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang
Mahaesa'". mengandung keesaan yang harus ditetapkan terhadap Allah, yang
menafikan persekutuan dalam benluk apa pun. menafikan anak dan bapak untuk
mcnggambarkan kesempurnaan keesaan, kekayaan dan keberadaan Allah
sebagai tempat
bergantung. menafikan kesamaan, penyerupaan dan
tandingan, mengandung penetapan segala kesempurnaan, yang menafikan kekurangan.
Semua ini merupakan himpunan tauhid ilmu yang menjelaskan berbagai
macam golongan yang sesat dan syirik. Karena itu surat
Al-lkhlas ini menyamai sepcrtiga Al-Qur"an. Intinya berkisar pada penetapan
dan pcngabaran. Penetapan adatiga macam: Perintah, larangan dan
pembolehan. Sedangkan pengabaran ada dua macam: Pengabaran tentang Khaiiq.
tentang asma" dan
sifat-sifat-Nya. dan pengabaran tentang makhluk. Surat
Al-lkhlas murni merupakan pengabaran tentang Allah, sifat daaasma'-Nya,
yang memhersihkan pcmbacanya dari syirik ilmu, sebagaimana sural
Al-Kafirun yang membersihkan pembacanya dari syirik amal. Karena ilmu itu
diposisikan sebelum amal, menjadi imam dan penuntunnya.maka surat
Al-lkhlas menyamai sepertiga Al-Qur'an, sedangkan surat Al-Kafirun
menyama
seperempat Al-Qur'an. Karena syirik amal itu iebih
mendominasi jiwa manusia untuk mengikuti nafsu, dan banyak dilakukan
manusia, padahal mereka mengetahui dampaknya, maka disebutkan penegasan
tcntang hal ir dengan firman Allah, "Katakanlah, 'Hai orang-orang
kafir \ " Karena it surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas ini juga dibaca dalam dua
rakaat thawal karena haji merupakan syiartauhid, sebagaimana keduanya
dibaca sas
memulai amal siang hari dan mengakhiri amal malam hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam biasa berbaring
pada lambun kanan seteiah shalat sunat fajar. Ada dua golongan yang
berbuat secar
berlebih-lebihan dalam hal ini. Ada yang mewajibkannya
dari golongan ah zhahir, dan ada pula yang memakruhkannya dan bahkan
menganggapny bid'ah. Malik dan lainnya mengambi 1 jalan tengah. Mereka
membolehkan nyajika dimaksudkan untuk mengistirahatkan badan, dan
memakruhkanny jika menganggap pelaksanaannya sebagai sunat.
Tuntunan Rasulullah tentang Shalat Malam
Orang-orang salaf dan juga khalaf saling berbeda
pendapat, apaka shalat malam itu wajib bagi bcliau ataukan tidak? Dua
golongan sama-sam berhujjah dengan firman Allah, "Dan, pada sehagian
malam hari shale tahajjudlah kamu sebagai sua Cu ibadah tambahan bagimu.
" (Al-Isra': 79
Satu golongan mengatakan bahwa perintah dalam ayat ini
jelas buka merupakan fardhu. Sedangkan lainnya mengatakan bahwa
perintah shah tahajjud dalam ayat ini kepada beliau sama dengan
perintah dalam firmar
Nya, "Hai orangyang berselimul, bangunlah (untuk
shalat) di malam ha) kecuali sedikit (daripadanya). "(Al-Muzzammil: 1-2).
Sementara tidak ada ayat lain yang menghapusnya.
Tentang firman Allah, "nafilatanlaka",
sekaiipunmaksudnyaadala tathawwu*. bukan berarti merupakan pengkhususan shalat
nafilah bagi beliau. Yang dimaksudkan nafilah dalam ayat ini adalah
tambahan. Artiny
tahajjud Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan
tambahan derajat da pahala beliau. Karena itu ada pengkhususan shalat
tahajjud bagi beliau. Sedangkan shalat malam bagi selain beliau hukumnya mubah
dan berfung;menghapus kesalahan. Sementara dosa Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallai
yang lampau dan yang mendatangtelah diampuni. Beliau
shalat malam ata
tahajjud untuk menambahketinggian derajat, sedangkan
selain beliau mek
kukannya untuk menghapus dosa dan kesalahan.
Yang pasti, Nabi Shallallahu Alaihi waSallam tidak pernah
menint galkan shalat malam. baik selagi menetap maupun saat
mengadakan perjaiar an. Jika beliau ketiduran atau sedang sakit, maka beliau
shalat dua belas rakai pada siang hari. Ibnu Taimiyah berkata, "Di sini
terkandung dal i I bahwa wit
tidak perludiqadha' jika ketinggalan pelaksanaannya.
Kedudukannya seperti shalat tahiyat masj id. shaiat gerhana, shalat istisqa'
dan lain-lainnya. Karena maksud pelaksaan witir ini ialah agar ia menjadi penutup
shalat malam, seba- gaimana shalat maghrib yang menjadi penutup shalat siang.
Jika waktu malam sudah iewat dan shalat subuh sudah dilaksanakan.
maka tidak perlu adaqadha' shalat witir."
Lalu bagaimana dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam yang dirivvayatkan Abu Daud dan Ibnu Majah dari hadits Abu
Sa'id Al-Khudry. "Siapa yang lerlidw dan tidak sempat mengeijakan
witir aiau dia lupa mengerjakannya. maka hendaklah dia mengerjakannyapadapagi
hari atau ketika mengingatnya'^ " Hadits ini tidak bisa
dijadikan hujjah, karena mengandung banyak kelemahan. Yang benar adalah sabda beliau
yang dirivva- yatkan Muslim dan Ibnu Majah, ''Kerjakanlah shalat witir
sebelum datang
waktu shalat subuh. "
Bilangan shalat malam yang dikerjakan Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam adalah sebelas rakaat, atau tiga belas rakaat,
jika disertai dengan shalat iftitah dua rakaat sebelum shalat tahajjud, atau dua
rakaat sesudah witir atau shalat sunat fajar.
Inilah beberapa riwayat lentang shalat malam dan witir
yang dilaksanakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta shalat
yang dilakukan pada awal malam.
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, "Sekali-kali
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengerjakan shalat isya\
lalu beliau masuk ke tempatku, melalnkan setelah itu beliau mengerjakan
shalat empat rakaat
atau enam rakaat. Kemudian beliau menghampiri
tempattidurnya." Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, ''Jika
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat malam, maka
beliau memulai
dengan dua rakaat yang ringan." (Diriwayatkan
Muslim. Dalam hadits dari Abu Hurairah, beliau juga memerintahkan yang dcmikian
itu).
Beliau bangun tepat pada tengah malam, beberapa saat sebelum
atau sesudahnya. Atau beliau bangun ketika mendengar suara
kokokayamjantan, yang biasanya a\am berkokok pada paruh kedua dari waktu
malam. Terkadang beliau menyela shalatnya. dan terkadang
mcngerjakannya secara berkclanjutan, dan yang kedua ini lebih sering dilakukan,
sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, saat dia bermalam di rumah beliau,
bahwa beliau bangun malam, bersiwak dan wudhu'. Kemudian beliau
membaca ayat,
"Sesunggulmya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi
orang-orangyang berakal."
Beliau
melanjutkanayat-ayat selanjutnya hingga akhir surat Alilmran.Kemudian beliau shalat dua rakaat (di masjid),
memanjangkan berdirlnya,ruku" dan sujudnya. Kemudian kembali, ialu tidur
hingga terdengar suara
dengkurannya. Kemudian beliau bangun lagi dan berbuat
seperti ilu pula hingga tiga kali, kemudian shalat witir tiga rakaat.
Ketika terdengar suara adzan. beliau ketuar untuk shalat subuh sambil
mengucapkan doa,
"YaA llah.jadikanlah di hatiku cahaya, di lisanku
cahaya, jadikanlah di pendengaranku cahaya, jadikanlah di penglihatanku
cahaya, jadikanlah dari belakangku cahaya, jadikanlah dari
depanku cahaya,
jadikanlah dari atasku cahaya dan jadikanlah dari bawahku
cahaya. Ya Allah, berikanlah kepadaku cahaya. "
(Diriwayatkan Muslim). Witir yang behau lakukan ada beberapa macam, satu di
antaranya seperti yang dituturkan Ibnu Abbas di atas. Beliau pernah
shalat malam delapan rakaat, mengucapkan salam dalam setiap dua rakaat,
kemudian witir lima rakaat secara berkelanjutan, tidak duduk kecuali di
rakaat yang terakhir.
Beliau juga pernah witir sembilan rakaat secara
berkelanjutan, tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan untuk berdzikir kepada
Allah, memuji dan berdoa, kemudian bangkit tanpa mengucapkan salam,
kemudian shalat untuk rakaat kesembilan, kemudian duduk untuk tasyahhud. Ialu
mengucapkan salam. Setelah salam beliau masih mengerjakan dua rakaat
lagi. Beliau juga pernah mengerjakan witir tujuh rakaat, cara
pelaksanaannya seperti sembilan rakaat itu. duduk pada rakaat keenam tanpa salam, Ialu
berdiri untuk mengerjakan rakaat ketujuh, Ialu duduk tasyahhud dan salam.
Setelah itu beliau mengerjakan shalat dua rakaat sambi! duduk. Adakalanya
beliau shalat dua rakaat dua rakaat, kemudian witir tiga rakaat secara
berkelanjutan. sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad dari Aisyah.
Cara beliau melaksanakan shalat malam ada tiga macam:
Sambil berdiri. dan ini yang paling scring dilakukan, sambil
duduk, dan adakalanya beliau membaca sambil duduk,jika bacaannyatinggal sedikit
beliau berdiri
danmenyelesaikan bacaannya, Ialu ruku". Diriwayatkan
bahwa beliau pernah shalat dua rakaat setelah witir, terkadang sambil duduk
dan terkadang membaca sebagian sambil duduk. Ialu berdiri ketika hendak
ruku*. Di dalam Al-Musnad dari hadits Abu Umamah, bahwa
beliau membaca sural Az-Zalza!ah dan surat Al-Kafirun. Sebagian orang ada yang menganggap musykil masalah dua
rakaat setelah witir ini. dengan menganggapnya bertenlangan
dengan sabda beliau,
"Jadikaniah shalat witir sebagai akhir shalat malam
kalian." Dalam hal ini Ahmad
berkata Aku tidak mengerjakannya tapi juga tida kmelarang orang lain mengcrjakannya Sedangkan Malik mengingkari dua
rakaat itu. Ada puia yang mengatakan bahwa beliau mengerjakan dua rakaat
itu untuk menje-
iaskan diperbolehkannya shalat setelah witir. Mereka
menafsiri perintah behau untuk mengakhiri shalat malam dengan witir, sebagai
anjuran, dan dua rakaat sesudahnya diperbolehkan. Yang benar. witir adalah
ibadah yang berdiri sendiri. Dua rakaat yang beliau lakukan setelah
itu seperti halnya sunat setelah maghrib yang melengkapi shalat maghrib. Sehingga
dua rakaat ini juga melengkapi shalat witir. Shalat maghrib sebagai
penutup shalat siang. dan witir sebagai penutup shalat malam. Dua rakaat
sctelahnya merupakan
pelengkap.
Tidak pernah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam, bahwa beliau pernah qunut dalam shalat witir,
kecuali dalam hadits riwayat Ibnu Majah, dari Ubay bin Ka'b, bahwa Rasulullah
Shallallahu
shalat witir lalu qunut
sebelumruku'.Tapi Ahmad berkata, "Akumemilih qunut setelah ruku', dan semua riwayat
dari Nabi Alaihi wa Sallam tentang qunut, hanya dilakukan pada
shalat subuh setelah ruku Maka qunut qitir pun kupilih setelah ruku' dan
bukan sebelumnya."
Tapi tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam tentang qunut witir, sebelum maupun sesudah ruku'.
Hanya Umarlah yang melakukan qunut, yang berangkat dari As-Sunnah
dan kembali ke As-Sunnah.
Tapi Ahmad d2in]ug2i Ahlus-Sunan meriwayatkan dari hadits
Al-I lasan bin Ali Radhiyallahu Anhuma, dia berkata,
"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajariku beberapa kalimat yang harus
kuucapkan dalam witir, yaitu:
"Ya Allah, herilah akii petunjuk sehagaimana
orang-orangyang Engkau beri pehmjuk. herilah aku afial sebagaimana
orang-orangyang Engkau beri afiat, berilah aku kekuasaan sebagaimana
orang-orang
yang Engkau beri kekuasaan. berkahilah bagiku dalam
apa-apayang Engkau limpahkan. lindungilah aku dari kejahatan apayang
Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak
ada yang
ditelapkan atas Diri-Mu, seungguhnya tidak ada yang bisa
menghinakan orangyang Engkau lindungi. Engkau yang memberikan
barakah
wahai Rahb kami dan Engkau Mahatinggi. "
(Diriwayatkan Ahmad. At-Tirmidzy, Abu Daud, An-Nasa'y dan Ibnu Majah).
Al-Baihaqy dan An-Nasa'y menambahi. "Dan, tidak menjadi mulia orang Yang Engkau musuhi.
Abu Daud dan An-Nasa'y meriwayatkan dari hadits Ubay bin
Ka'b Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca dalam shalat sahbihisma rabbikal-a la,
dan qulya ayyuhal- kafirim, dan qui hmvallahu ahad. Jika sudah mengucapkan
shalat, beliau mengucapkan siibhanal-malikil-quddiis tiga kali, dengan
mcmanjangkan suara pada kah ketiga dan lebih nyaring. Ad-Daruquthny
menambahi dengan isnad yang shahih, Rabbil-mala 'ikati war-ruh.
Rasuiu!iah.biasa memoton gbacaan dan berhenti alhamdulillahirabbil~alamin.
Rahmanir-rahim, berhenti, maliki yaumid-din, berhenti,
dan seterusnya. Ber-
henti pada setiap ayat adalah yang atdhal. Sementara
sebagian qari ' berhenti
pada bagian yang dikehendaki unluk berhenti berdasarkan
tujuan. Tapi mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan
As-Sunnah adalah lebih utama.
Beliau biasa membaca secaratartih sehingga bacaan yang
sudah panjang semakin beitambah panjang. Terkadang bel iau membaca
satu ayat hingga waktu subuh. Manusia saling berbedapendapat, maka yang
lebih afdhal, membaca secara tartil sehingga hanya sedikit bacaannya,
ataukah secara cepat sehingga banyak bacaannya? Ada dua pendapat tentang
masalah ink ibnu Mas'ud, ibnu Abbas dan juga lain-lainnya
berpendapat. bahwa bacaan secara tartil dan memahami bacaan adalah lebih afdhal,
mcskipun bacaan-
nya hanya sedikit. Hal ini lebih baik daripada membaca
secara cepat dan tanpa merenungi maknanya, sekalipun bacaannya banyak.
Alasannya, karena maksud dari membaca ilu adalah memahami dan memikirkan
scrta mengamalkannya. Sementara membaca dan menghapalnya merupakan
sarana
untuk mencapai maknanya. Maka sebagian salaf berkata,
"'Al-Qur'an turun untuk diamalkan. Maka jadikanlah bacaan Al-Qur'an itu
untuk mengamalkannya." Karena ilu yang disebut ahli Al-Qur'an
adalah yang mengamal kannya dan mengamalkan apa yang dikandungnya, sekalipun
mereka tidak benar-benar menghapalnya. Sedangkan orang yang
menghapalnya dan tidak mengamalkan kandungannya, maka sama sekali tidak disebut
ahli Al-Qur"an.
Masih menurut golongan ini, iman adalah amal yang pal ing
mulia. Sementara memahami dan memikirkan kandungan
Al-Qur"anlah yang bisa
Isnadnya shahih dan Ibnu Hibbanjuga menshahihkannya,Tambahan ini shahih.
meinbuahkan iman. Jika hanya sekedar mcmbaca tanpa
meinahami, maka yangseperti ini bisadilakukanorangbaikdan buruk,
Mukmindanmunafik. Maka Nabi ShaUallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
" Perumpamaan orang munafikyang membaca Al-Qur 'an
seperti Raihanah. haimya harum dan rasanyapahit. "
(Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).
Dalam hal ini manusia ada empat golongan: Pertama, ahli
Al-Qur"an. yaitu orang yang paling mulia. Kedua, bukan ahli
Al-Qur'an dan juga tidak memiliki iman. Ketiga, orang yang diberi Al-Qur'an namun
tidak diberi
iman. Keempat, orang yang diberi iman namun tidak diberi
Al-Qur'an.
Orang yang diberi iman dan tidakdiberi Al-Qur'an, lebih
baik daripada orang yang diberi Al-Qur'an namun tidakdiberi iman.
Begitu pula orang yang diberi pemahaman saat membaca lebih baik daripada orang
yang diberi bacaan yang banyak dan cepat tanpa pemahaman. Inilah petunjuk
Nabi Shalat. Sampai-sampai surat yang sudah panjang semakin bertambah panjang. Bahkan beliau mengulang-ulang satu
ayat hingga pagi
hari.
Sementara rekan-rekan Asy-Syafi'y mengatakan, bahwa
banyak membaca lebih baik. Hujjahnya adalah hadits Ibnu Mas'ud
Radhiyallahu Anhii, dia berkata, "Rasulullah ShaUallahu Alaihi wa
Sallam bersabda.
' 'Siapayang membaca satu hurufdari Kitab A llah, maka
baginya satu kebaikan. Sementara satu kebaikan itu dilipatgandakan
dengan sepuluh kebaikan yang serupa. Aku tidak mengatakan aliflam
mim satu huruf tapi alifsatu huruf, lam satu hurufdan mim satu
huruf. " (Diri-wayatkan At-Tirmidzy).
Di samping itu, Utsman bin Affan pernah membaca Al-Qur'an
secara utuh dalam satu rakaat. dan masih banyak riwayat-riwayat
lain dari orang orang salaf yang biasa membanyakkan bacaan.
Yang benartentang masalah ini, pahala bacaan secara
tartil dan disertai pemahaman, lebih tinggi dan lebih besar nilainya.
Sementara pahala banyak membaca lebih banyak bilangannya. Gambaran yang peitama
seperti memerdekakan seorang budak yang sangat mahal, dan kedua
seperti memerdekakan
beberapa budak yang murah-murah harganya.
Terkadang Rasulullah menyembunyikan bacaan pada shalat maiam, dan terkadang menyaringkannya.
Terkadang berdiri lama dan terkadang sebentar. Beliaujuga pernah
shalat sunat pada siang
maupun malam hari ketika beliau berada di atas punggung
hewan ketika dalam pcrjalanan.
Bcliaumemberiisyaratketikaruku"dansujud, dengan lebih menekiirkan kepaia ketika sujud.
Tuntunan Rasulullah tentang Shalat Dhuha, Sujud Syukur
dan Sujud Tilawah Al-Bukhary meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Aisyah,
dia berkata, ''Aku tidak pernah melihat Rasulullah
Shallallahii Alaihiwa Sallam shalat dhuha. Sekiranya beliau mengerjakannya, tentu aku
juga akan mengerjakannya."
Al-Bukhary meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila, dia berkata.
"Tak seorang pun yang menyampaikan hadits kepada kami, bahwa
dia melihat Nabi Shallallahii Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat
dhuha selain Ummu
Hani'. Dia berkata. "Nabi Shallallahii Alaihi wa
Sallam masuk ke rumahnya pada waktu penaklukan Makkah. Beliau mandi lalu shalat
delapan rakaat. Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih cepal dari
shalat beliau itu. Tapi heliau tetap menyempurnakan ruku" dan
sujudnya."
Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abdullah bin
Syaqiq. dia berkata. "Aku bertanya kepada Aisyah. "Apakah
Rasulullah Shallallahii Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat dhuha?" Dia
menjawab. "Tidak,
kecualijika beliau pulang sehabis keluar dari
rumah."
Masih banyak riwayat-riwayat lain dari para shahabat tentang
shalat dhuha vang dikeriakan Rasulullah Shallallahii Alaihi wa
Sallam. Tapi banyak jugayangdha'if. terputusdanbahkan maudhu'. Manusia
berbeda pendapat tentang hadits-hadits ini. Di antara mereka ada yang
menguatkan rivvayat pelaksanaan shalat dhuha, yang didukung beberapa riwayat,
yangjumlah rakaatnya terkadang dua, empat, enam atau delapan rakaat.
Lalu mana yang benar? Siapa yang ingin mengerjakannya, makadia bisa
mengerjakan dengan
berapa pun rakaat yang dikehendakinya. dua rakaat hingga
delapan rakaat.
Ini adalah pendapat golongan pertama. Goiongan kedua
lebih menguatkan tidak adanya pelaksaaan shalat dhuha, yang
didukung beberapa riwayat dan amal para shahabat. Al-Bukhary meriwayatkan
dari Ibnu Umar.
bahwa dia tidak pernah mengerjakan shalat dhuha, begitu
pula Abu Bakar dan Umar.
Golongan ketiga menganjurkan pelaksanaannya sesekali
waktu. Ini salah satu rivvayat dari Ahmad dan dikisahkan
Ath-Thabrany dari segoiongan orang.
No comments:
Post a Comment
ini komentar