TUDUHAN RAGAM BACAAN YG ADA DI DALAMNYA
Seperti dikatakan sebelumnya, Arthur Jeffery telah meneliti 170 jilid buku dalam mengumpulkan daftar ragam bacaan yang menghabiskan sebanyak sekitar 300 halaman dalam bentuk cetakan, memuat apa yang disebut mushaf milik sekitar tiga puluh orang ilmuwan. Dari jumlah ini ia mencadangkan 88 halaman guna mengupas ragam bacaan yang, menurutnya, bermula dari Mushaf Ibn Mas'ud, sedang 65 halaman yang lain dari Mushaf Ubayy. Sedang selebihnya (140 halaman) khusus membahas dua puluh delapan ilmuwan yang lain. Adanya ragam bacaan dengan urutan tinggi yang ditudingkan terhadap Ibn Mas'ud secara tidak wajar, membuat Mushaf itu menarik untuk diteliti dengan lebih mendalam; beberapa anggapan Jeffery mengenai mushaf itu sebagai berikut.
Berbeda
dengan Mushaf Uthmani dari sisi susunan surah, Mengalami
perbedaan teks,
Dan
tidak memasukkan tiga surah.
la
melempar semua tuduhan walau tak ada seorang manusia, termasuk
sumber-sumbernya, yang pernah menyaksikan "Mushaf' tersebut dengan semua
ragam bacaan yang la katakan. Pada hakikatnya, tidak satu pun referensi yang
dipakai menyebut keberadaan "Mushaf Ibn Mas'ud"; sebaliknya mereka
menggunakan perkataan qara'a (membaca), dalam konteks bacaan "Ibn
Mas'ud terhadap ayat tertentu". Jika kita lihat secara sepintas terhadap
sumber itu, maka akan dapat memunculkan dua bantahan secara spontan. Pertama,
karena mereka tidak pernah menyatakan bahwa Ibn Mas'ud membaca dari naskah
tertulis, maka kita dengan mudah menganggap bahwa ia membaca melalui
hafalannya, dan bagaimana mungkin dapat kita menyimpulkan bahwa bacaan yang
salah itu bukan disebabkan oleh ingatan yang meleset? Kedua, (hal ini pernah
saya sampaikan sebelumnya), kebanyakan referensi Jeffery sama sekali tidak
memiliki isnad yang menyulitkan untuk dapat diterima karena sumber itu tidak
menawarkan sesuatu kecuali fitnah.
Membandingkan sebuah Mushaf yang dikaitkan dengan ilmuwan tertentu dengan Mushaf `Uthmani akan tak membawa faedah, kecuali dapat menunjukkan bahwa keduanya memiliki status yang sama, membuktikan kebenaran yang pertama dengan keyakinan yang kita miliki. lsi kandungan sebuah Mushaf, sama seperti hadith atau qira'at, yang hanya dapat diriwayatkan melalui cara yang ditentukan oleh para ilmuwan:
Sahih
dengan keyakinan Sepenuhnya, atau Meragukan,
atau Sama
sekali palsu (baik karena kesalahan disengaja ataupun tidak di sengaja).
Katakanlah
kebanyakan para murid Ibn Mas'ud (seperli al-Aswad, Masruy, ash-Shaibani, Abti
Wa'il, al-Hamadani, 'Alqamah, Zirr, dan lainnya) melaporkan satu pemyataan
secara sepakat, maka jika dikaitkan dengan Ibn Mas'ud akan dianggap sah dan
diterima. Jika sebagian besar dapat menyepakati, sementara satu atau dua orang
murid yang terkenal meriwayatkan sesuatu yang berlainan, maka anggapan yang
minoritas ini disebut "meragukan". Jika yang minoritas terdiri dari
para murid yang bernilai pas-pasan serta tak dikenal, tetapi pernyataan mereka
menyalahi kesepakatan para murid yang ngetop, maka akan dimasukkan ke dalam
kelompok ke tiga yang benar-benar palsu.
Guna menyatukan manuskrip, "kesamaan status" menjadi konsep yang sangat penting. Jika kita temukan dokumen tulisan tangan pengarang pertama, kedudukannya secara ilmiah dari naskah salinan yang dimiliki oleh para murid yang terkenal (apa lagi murid bayangan) akan secara otomatis hilang nilainya. Melakukan sebaliknya, atau menyamakan yang asli dengan duplikat dianggap sangat tidak ilmiah.1 Dengan memahami masalah ini, marilah kita hadapi tuduhan-tuduhan Jeffery.
1. Susunan Mushaf Ibn Mas'ud
Tak ada satu dari mereka yang hidup sezaman dengan Ibn Mas'ud menyebut Mushaf yang dimilikinya memuat susunan surah yang berlainan, isu itu muncul ke permukaan setelah beliau wafat. An-Nadim mengutip al-Fadl bin Shadhan, "Saya melihat susunan surah dalam Mushaf Ibn Mas'ud sebagai berikut: al-Baqarah, an-Nisa', `Ali `Imran...[yaitu, tanpa al-Fatihah]."2 Seterusnya melalui komentar, an-Nadim menyebut bahwa secara pribadi, ia pemah melihat berbagai Mushaf yang dikaitkan kepada Ibn Mas'ud, akan tetapi ia tidak pemah melihat dua naskah yang mirip satu sama lain, ditambah lagi ia juga menemukan satu naskah di abad kedua Hijrah yang memuat surah al-Fatihah. Karena al-Fadl bin Shadhan terhitung memiliki wewenang keilmuan yang cukup terpandang dalam bidang ini, an-Nadim memutuskan lebih baik mengutip daripada mengutamakan observasi sendiri.3Komentar an-Nadim membuktikan bahwa mereka yang menganggap adanya kelainan pada Mushaf Ibn Mas'ud tidak dnp;u menyatakan secara pasti susunan surah yang sebenarnya, walau pada tahapan keyakinan yang paling minim.
Terdapat
jumlah signifikan dari murid-murid yang terkenal yang belajar Shari'ah (hukum
Islam dan fiqih) di bawah bimbingan Ibn Mas'ud dan meriwayatkan AI-Qur'an
darinya. Mengenai Mushafnya, kita menemukan dua riwayat silang: yang pertama
menyebutkan bahwa susunan surah berlainan dengan yang kita miliki, sementara
yang lain mengatakan sama. Yang pertama gagal mencapai kesepakatan mengenai
urutan surah, dan ternyata riwayat ke dua jauh lebih meyakinkan. Tentunya versi
yang lebih konkret akan lebih menarik perhatian kita. AI-Qur'an memperjelas apa
yang pernah ia lihat tentang Mushaf Ibn Mas'ud, Ubayy, dan Zaid bin Thabit, dan
melihatnya tidak terdapat perbedaan.4
Melalui kesepakatan para qari profesional, mereka mengikuti nada bacaan salah satu dari tujuh qari yang memiliki urutan teratas: misalnya `Uthman, 'All, Zaid bin Thabit, Ubayy, Abu Musa al-Ash'ari, Abu ad-Darda', dan Ibn Mas'ud. Jaringan mata rantai riwayat bacaan mereka langsung sampai pada Nabi Muhammad , dan susunan surah pada tiap-tiap bacaan persis sama dengan AI-Qur'an yang ada sekarang. Kita juga mesti ingat, kalaupun kita memberi penilaian pada riwayat yang sumbang, perbedaan susunan surah tidak akan berpengaruh pada isi kandungan AI-Qur'an .
Karena
setelah menghafal sebagian besar dari AI-Qur'an secara langsung dari Nabi
Muhammad, Ibn Mas'ud ternyata sangat kritis dan bahkan pernah berang saat tidak
diikutsertakan dalam kepanitiaan penyiapan Mushaf 'Uthmani, dengan melempar
kecaman pedas yang membuat para Sahabat merasa gerah. Kemudian saat kemarahan
mereda, bisa jadi juga ia telah menyatakan penyesalan atas komentarnya yang
tergesa-gesa, dan lalu menyusun surah-surah dalam Mushaf pribadinya mengikuti
urutan Mushaf 'Uthmani. Barangkali inilah pemicu munculnya dua riwayat yang
berseberangan, urutannya sama, namun berbeda dengan milik `Uthman, kendati yang
tahu persis penyebabnya hanya Allah swt.. Penyimpangan yang mungkin terjadi
pada kebanyakan "Mushaf Ibn Mas'ud" yang muncul setelah wafatnya, di
mana satu sama lain tidak sama, menunjukkan bahwa seluruh Mushaf yang dikaitkan
kepadanya dianggap satu kekeliruan, dan para ilmuwan yang melakukan hal itu
tampaknya juga lalai dalam meneliti sumber-sumber yang ada. Sayangnya, para
penjual barang-barang kuno itu, lebih suka melihat dari sisi keuntungan,
gara-gara mementingkan kepingan fulus perak, berani membuat taruhan menamhah
Mushaf palsu Ibn Mas'ud atau Ubayy ke atas barang dagangan mereka.
2. Teks yang Berbeda dengan Mushaf Kita
Di atas, tadi sudah saya sebut perlunya kepastian tentang Mushaf Ibn Mas'ud. Ketika meneliti berbagai ragam bacaan, Abu Hayyan an-Nahawi menemukan kebaayakan riwayat dikaitkan dengan Ibn Mas'ud, mengambil sumber dari kelompok Syiah. Sementara para ilmuwan Sunni di sisi lain menyatakan bahwa bacaan Ibn Mas'ud senada dengan bacaan seluruh umat Islam.7Oleh karena itu, pengaruh dari sumber itu tidak dapat mengubah keyakinan dan pengetahuan kita. Pada halaman 57-73 Kitab al-Masahif (yang disunting oleh Jeffery), dalam bab "Mushaf `Abdullah bin Mas'ud," kita mendapat koleksi ragam bacaan yang panjang itu, semuanya bersumber dari alA'mash (w. 148 H.). AI-A'mash bukan saja tidak memberi referensi untuk hal itu - dan yang lebih mengejutkan, kesukaannya melakukan tadlis (menggelapkan sumber infotmasi) - ia juga dianggap memiliki kecenderungan terhadap Syiah.8 Banyak contoh yang dapat menguatkan kesimpulan Abu Hayyan mengenai hubungan Syiah itu. Dalam bukunya, Jeffery mengaitkan bacaan berikut terhadap Ubayy dan Ibn Mas`ud (walaupun tanpa referensi):9
"Dan mereka yang paling dulu percaya terhadap Nabi Muhammad, alaihis
salam, adalah 'Ali dan keturunannya yang Allah telah pilih dari kalangan para
Sahabat dan dijadikannya mereka sebagai pemimpin atas yang lain. Mereka
itulah orang-orang yang menang dan yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka
kekal selama-lamanya."
('Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu [masuk surga]. Mereka itulah orang yang didekatkan [kepada Allah.])10 Penghormatan yang berlebihan pada keturunan 'Ali, tanpa diragukan, menyimpan perasaan membela Syiah.11 |
Melibatkan
diri dalam penelitian, memerlukan dasar pijakan yang kuat. Namun dalam hal ini,
kita menemukan mereka tenggelam dalam arus kabar angin yang hampir sama sekali
tidak punya jaringan mata rantai transmisi, dan gagal dalam menyajikan pendapat
logis mengenai apa yang dikatakan sebagai 'Mushhaf Ibn Mas'ud' itu. Dalam
keadaan seperti ini, pendekatan dan penemuan Jeffery, seperti yang dapat kita
lihat, pada intinya sangat naif.
3. Tiga Surah yang Dihilangkan
Surah
pertama dan dua surah yang terakhir (Surah al-Fatihah, al-Falaq dan an-Nas),
menurut beberapa riwayat, tidak terdapat dalam Mushaf Ibn Mas'ud.12 Tampaknya seluruh masalah yang ada sangat
meragukan. Jeffery mengawali tulisannya dengan melempar tudingan ragam bacaan
dari Surah alFatihah: arshidna dan bukan ihdina, dan juga man,
bukan alladhina.13 Di mana dia berkilah bahwa surah ini tidak
pemah ada, jadi dari mana dia mendapat ragam bacaan ini? Para pembaca tentu
masih ingat komentar an-Nadim sebelum ini bahwa ia pernah menemukan sebuah
Mushaf yang dikaitkan dengan Ibn Mas' ud yang memuat surah al-Fatihah. Ingat
bahwa surah al-Fatihah itu tak perlu dipertanyakan lagi, merupakan surah yang
paling sering dibaca dalam AIQur' an, dan juga bagian yang tidak terpisahkan
dari setiap rakaat dalam shalat. Dalam shalat berjamaah, surah itu menggema
dari tiap menara masjid sebanyak enam kali dalam sehari, dan delapan kali pada
tiap hari Jumat. Oleh sebab itu, tudingan adanya ragam bacaan al-Fatihah tidak
perlu dianggap serius, dan secara logika bacaan surah ini diperdengarkan pada
telinga setiap Muslim bermula sejak zaman Nabi Muhammad
. 14
Seorang
yang cenderung ingin menyalin beberapa surah Tertentu, kurang begitu suka
dengan yang lain, ia behas melakukannya, bahkan membual tambahan pada sisi
halaman juga dibenarkan selama hal itu dipisahkan dari Kitab Suci. Kejadian
seperti itu tidak bisa dipakai untuk berkilah menentang keutuhan AI-Qur'an.
Mushaf' Uthmani yang memuat Kalam Allah yang tidak pernah temodai dan dibagi ke
dalam 114 surah, sudah jadi kepercayaan yang tak mungkin terusik bagi kaum
Muslimin; siapa yang mengelak menerima pandangan ini, ia akan jadi buangan.
Kalaulah Ibn Mas'ud menolak tiga surah ini, maka nasibnya juga sama.
Al-Baqillani
sampai pada argumentasi yang menyeluruh dan meyakinkan dalam menafikan laporan
miring seperti tersebut di alas. la menyatakan bahwa siapa yang menolak surah
tertentu yang merupakan bagian dari Al-Qur an, maka ia dianggap murtad atau
fasik. Jadi salah satu sifat ini akan terkena pada Ibn Mas'ud kalau riwayat itu
benar adanya. Dalam banyak hadith, Nabi Muhammad
memuji kesalehannya dan tidak mungkin berbuat
macam macam. Orang-orang yang hidup sezaman dengan Ibn Mas'ud juga berkewajiban,
kalau mereka melihat sesuatu yang mencemarkan kepercayaannya, mengungkapkannya
sebagai penyeleweng atau murtad, jika tidak, berarti mereka mencemarkan din
sendiri Namun kenyataannya, mereka yang hidup sezaman dengannya sepakat dalam
memuji keilmuan yang dimiliki tanpa satu orang pun yang berseberangan. Dalam
pandangan al-Baqillani, keadaan itu hanya mempunyai dua implikasi: kemungkinan
Ibn Mas'ud tidak pernah menolak status sebenarnya mengenai surah itu, atau para
ilmuwan yang mengenalnya kurang tepat dalam menghadapi fitnah yang semestinya
perlu diganyang ketika itu.15
i. Analisis Isi Kandungan Mushaf Ibn Mas'ud
Asal
usul munculnya penghapusan surah-surah ini, urutannya dapat dibuat sebagai
berikut; dalam hal ini jaringan mata rantai transmisi mendahului setiap
riwayat.
'Asim-Zirr
(salah seorang murid Ibn Mas'ud)-Ibn Mas'ud: riwayat membuat tudingan bahwa ia
tidak menuliskan dua surah (no. 113 dan 114) dalam Mushafnya.16
AI-A'mash-Abu
Islury-'Ahdur-Rahman bin Yazid: Ibn Mas'ud mcnghapus suruh Mu'awwidluuain
(surah 113 and 114) dari Must afnya dan mcngatakan bahwa keduanya bukan bagian
dart Al-Qur'an .17
Ibn
'Uyaynah-`Abdah dan `Asim-Zirr: "Saya berkata pada Ubayy, 'Saudaramu
menghapus surah 113 dan 114 dari Mushafnya', yang mana ia tidak menolaknya.
Ketika ditanya apakah yang dimaksudkan itu adalah Ibn Mas'ud, Ibn `Uyaynah
menjawab dengan nada pasti dan menambah bahwa kedua surah itu tidak ada dalam
Mushafnya karena ia menganggap sebagai doa perlindungan Ilahi yang digunakan
oleh Nabi Muhammad
untuk cucunya al-Hasan dan al-Husain. Ibn
Mas'ud tetap tidak mengubah pendiriannya, sementara yang lain yakin dan
memasukkannya ke dalam AI-Qur'an.18
Jadi,
dalam riwayat kedua dan ketiga, Ibn Mas'ud menghapus surahsurah yang sempat
masuk dalam Mushafnya, jika demikian mengapa dia menulisnya saat pertama kali?
Hal ini tentu tidak masuk akal. Kalau dikatakan Mushaf itu telah ditulis dan
memuat dua surah terakhir, sudah tentu keduanya merupakan satu kesatuan yang
utuh dari Mushaf yang beredar pada saat itu. Kalau terdapat keraguan, maka
menjadi kewajiban Ibn Mas'ud memastikan masalah yang ada dengan para ilmuwan
lain sewaktu di Madinah maupun tempat lain. Dalam satu fatwanya, ia pemah
menyatakan bahwa lelaki yang mengawini wanita lalu menceraikan sebelum jima',
maka ia boleh mengawini ibu wanita itu. Ketika in berkunjung ke Madinah dan
membahas isu itu selanjutnya, ia mengakui telah bersalah clan kemudian
membatalkan fatwanya. Misi pertama saat kembali ke Kufah adalah menemui orang
yang pernah minta fatwa dan mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Demikianlah
sikapnya dalam bidang ilmiah, maka lebih-lebih lagi dalam isu yang jauh lebih
penting mengenai AI-Qur'an. Semua bukti yang lebih masuk akal menunjukkan semua
cerita yang tidak wajar mengenai dirinya adalah palsu, dan para ilmuwan zaman
dulu seperti an-Nawawi dan Ibn Hazm menyatakan bahwa yang ditimpakan pada Ibn
Mas'ud itu bohong.19
Ibn
Hajar, salah satu muhaddithun terkemuka, menolak kesimpulan itu. Selagi
Ibn Hanbal, Bazzar, at-Tabarani dan lainnya mengutip kejadian itu melalui
jaringan mata rantai riwayat yang sahih, maka ia memberi alasan bahwa tudingam
itu tidak dapat dinafikan sesederhana itu; melakukan hal itu berarti menafikan
hadith sahih tanpa dukungan sewajarnya. Ibn Hajar berusaha membuat kompromi
pada kedua riwayat yang berseberangan dengan berpijak pada penafsiran Ibn
as-Sabbagh: dalam ulasan pertama Ibn Mas'ud tetap enggan mengakui kedudukan
keduanya sebagai surah AI-Qur' an, tetapi setelah diketahui tidak dipersoalkan
oleh umat dan merupakan bagian dari AI-Qur'an, sikap keraguannya semakin
mencair dan akhimya percaya seperti yang lain.20
Argumentasi
di atas merupakan yang terkuat yang saya pernah lihat dalam memberi dukungan
terhadap tudingan itu. Untuk mengupas persoalan lebih lanjut, saya akan
berpijak pada metode muhaddithun lain guna menyingkap kekeliruan
pendirian Ibn Hajar itu.
ii. Keyakinan Ibn Mas'ud
Telah
saya tegaskan sebelumnya bahwa al-Fatihah, tujuh ayat yang paling sering dibaca
di masjid dan rumah-rumah semenjak zaman Nabi Muhammad
secara logika tak mungkin ditolak oleh
Ibn Mas'ud. Persoalannya, menyangkut surah 113 dan I l4. Dalam jaringan cerita
ke tiga, kita temukan bahwa Ubayy tidak menolak Ibn Mas'ud, dengan mendengar
bahwa ia telah menghapus surah pungkasan itu, ia tidak bermaksud menolak. Apa
artinya? Itu berarti ia setuju, ataupun tidak setuju tapi bertahan setelah
melihat ada perbedaan. Karena kita tahu Mushaf Ubayy memuat kedua stirah
tersebut, maka kita tidak bisa menerima persetujuannya. Begitu juga kita mesti
menolak ketidaksetujuannya karena sikap tidak peduli sama dengan mengatakan
bahwa masyarakat bebas memilih bagian AI-Qur'an apa saja yang mungkin dianggap
menarik. Dalam hal ini, tidak seorang pun dapat mendominasi sikap yang demikian
dan masih tetap dianggap sebagai Muslim. Oleh sebab itu, riwayat mengenai
diamnya Ubayy merupakan kepalsuan yang nyata.21
Sekarang
kita hendak melihat penyesuaian yang dilakukan oleh ibn asSabbagh. Banyak dari
kalangan para Sahabat seperti Fatimah, A'ishah, Abu Harairah, Ibn `Abbas dan
Ibn Mas'ud meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad
selalu membaca AI-Qur'an dengan Malaikat Jibril
tiap Ramadhan satu kali dalam setahun, dan dua kali dalam tahun sebelum beliau
wafat. Bahkan dalam tahun terakhir, Ibn Mas'ud juga ikut serta. Dia juga
membaca Kitab itu dua kali bersama Nabi Muhammad
yang kemudian memujinya dengan ucapan laqad
ahsanta (bacaan Anda hagus). berdasarkan kejadian itu pula Ibn 'Abbas
menganggap bacaan Ibn Mas'ud sebagai yang jelas dan tepat.22 Pujian tersebut mcnunjukkan bahwa AI-Qur'an
terekam dalam ingatan yang penuh kepastian; murid-muridnya yang cemerlang, seperti
`Alqamah, al-Aswad, Masruq, asSulami, Abu Wa'il, ash-Shaibani, al-Hamadani,
dan Zirr, semuanya meriwayatkan AI-Qur'an yang mereka terima dari padanya
berjumlah sebanyak 114 surah. Hanya salah satu murid Zirr, `Asim, satu-satunya
yang memberi pernyataan konyol kendati ia mengajarkan seluruh isi kandungan
Kitab Suci atas wewenang Ibn Mas'ud.23
Salah
satu karya Ibn Hajar, yaitu sebuah risalah ringkas mengenai hadith yang
berjudul Nuzhat an-Nazar, memberitahukan kita bahwa jika seorang perawi yang
tepercaya (katakanlah seorang ilmuwan betahap B) membelakangi pendapat perawi
lain yang lebih tinggi kedudukannya (yaitu ilmuwan bertahap A), ataupun bila
terdapat ilmuwan lebih banyak (yang sama derajatnya) mendukung satu versi
cerita dari yang lain, maka penjelasan yang dikemukakan oleh yang lebih rendah
disebut shadh (nyleneh dan loyo). Dalam berita di atas kita dihadapkan
pada satu pernyataan laksana seorang atlet renang yang coba-coba hendak melawan
arus raksasa, yang menjadikan hal ini dapat dipandang sebagai satu kebatilan.24 Ini tentunya berlandaskan pada metode yang
dipakai oleh para muhaddithun, yang walaupun Ibn Hajar mengutip
ketentuan-ketentuan itu, namun barangkali saat itu mental beliau dalam keadaan
tidak begitu prima atau, dalam hal ini, dimana seorang yang intelijen pun boleh
jadi mengalami hal yang sama. Mungkin ada pendapat yang menyebut, guna
mengangkat permasalahan shadh dan batil memerlukan dua pernyataan
silang, sementara apa yang kita hadapi adalah hanya berkaitan dengan
penghapusan surah 113 dan 114, tanpa ada oposisi. Alasannya sederhana, dalam
suasana yang normal hanya ketidaknormalan yang biasanya diangkat menjadi bahan
cerita. Contohnya, darah yang mengucur keluar dari urat kita berwama merah
adalah sesuatu yang biasa, tetapi darah berwarna biru (sejenis kepiting) adalah
sesuatu yang luar biasa dan akan mendapat liputan lebih banyak. Hal yang
serupa, kita tidak akan mempersoalkan murid-murid Ibn Mas'ud yang gagal
memberitahukan kita apakah guru mereka meyakini 114 surah, karena itu sudah
jadi masalah yang lumrah. Hanya mereka yang percaya sedikit atau lebih, akan
menjadi objek pemberitaan.
Komentar
yang saya kemukakan terhadap Mushaf Ibn Mas'ud dapat juga diterapkan pada Ubayy
bin Ka'b, atau siapa saja dalam masalah tersebut.
4. Kapan Suatu Tulisan itu Dapat Diterima Sebagai Bagian dari AI-Quran?
Hammad
bin Salamah meriwayatkan bahwa Mushaf Ubayy mcmuat dua surah lebih, yang
disebut al-Hafad dan al-Khala'.25 Berita ini betul-hetul palsu karena terdapat
cacat besar dalam jaringan mata rantai perawinya, karena jarak waktu yang tak
terhitung, sekurang-kurangnya, dua atau tiga generasi antara kematian Ubayy (w.
sekitar 30 H.) dan kegiatan ilmiah Hammad (w. 167 H.). Selain itu, kita juga
mesti ingat bahwa catatan yang dibuat dalam buku tidak menjadi bagian dari buku
itu sendiri. Tetapi katakanlah, sekadar untuk adu alasan dalam berdebat, kita
menerima bahwa beberapa alinea lebih tertulis dalam Mushaf Ubayy. Adakah alinea
langsung dan otomatis meningkat sama kedudukannya dengan AI-Qur'an? Tentu saja
tidak. Mushaf 'Uthmani terselesaikan, dan disebarluaskan melalui para guru yang
mengajarkannya setelah mendapat wewenang yang sesuai dan jadi ketentuan dalam
menetapkan apakah sesuatu teks itu AI-Qur'an, bukan sekadar coret-coretan tak
menentu dari manuskrip ilegal.
i. Prinsip Menenukan Ayat sebagai Al-Qur'an
Tiga
pedoman yang hendaknya terpenuhi sebelum cara sebuah bacaan suatu ayat dapat
diterima sebagai AI-Qur'an:
Qira'at
mesti tidak diriwayatkan hanya dari satu sumber yang memiliki otoritas,
melainkan melalui sejumlah riwayat besar (yang cukup untuk melenyapkan
kemungkinan adanya kesalahan yang masuk), yang juga sampai kepada Nabi Muhammad
yang dapat menjamin keaslian dan
kepastian bacaan.
Teks
bacaan mesti sama dengan apa yang terdapat dalam Mushaf 'Uthmani.
Cara
pengucapan mesti senada dengan tata bahasa Arab yang benar.
Semua
karya tulis yang memiliki otoritas dalam bidang qira'at, seperti Kitab
as-Sab`af fi al-Qira'at oleh Ibn Mujahid, pada umumnya menyebut adanya
pembaca tunggal di setiap pusat kegiatan ilmu Islam yang kemudian diikuti oleh
dua atau tiga orang murid. Daftar yang minim seperti itu tampaknya
berseberangan dengan prinsip pertama. Bagaimana dapat menjelaskan seorang ahli
membaca AI-Qui an (qari) dan dua muridnya dari Basrah misalnya, membuktikan
bahwa qira'at itu diriwayatkan melalui jalur riwayat yang besar? Untuk
menjelaskan persoalan ini para pembaca hendaknya melihat kembali topik
"Ijazah bacaan" pada bab sebelum ini.26 Prof. Robson dan Ishaq Khan, yang menyajikan
jalur riwayat Sunan Ibn Majah melalui Ibn Qudamah, hanya bisa
mendapatkan beberapa nama saja, sementara dengan melacak ijazah bacaan kami
temukan lebih dari 450 murid. Itu pun hanya dari satu manuskrip; naskah-naskah
tambahan lain yang juga dari jaringan mata rantai periwayatan yang sama, dapat
memberi angka yang lebih besar. Sama halnya dengan menyebut dua atau tiga nama
murid adalah semata-mata sebagai yang terwakili dan dimaksudkan untuk menghemat
waktu penyusunan dan juga bahan tulisan, dan terserah pada para ilmuwan yang
merasa berminat akan hal itu untuk mengupas secara tuntas.
Ada
perbedaan mendasar antara AI-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad
dalam hal penyampaian riwayat melalui
otoritas tunggal. Satu-satunya ilmuwan dan hafal satu hadith bisa jadi, ketika
ia mengajar melalui hafalannya, merasa perlu mencari persamaan kata pengganti
saat terlupa pada kata-kata yang sebenarnya. Jika tak seorang pun yang
meriwayatkan hadith itu, maka ketidak telitiannya akan berlalu secara mudah
tanpa terditeksi. Bandingkan hal itu dengan AI-Qur' an. Dalam tiga shalat jamaah,
shalat Jumat, Tarawih, Idul Fitri, dan Idul Adha, imam akan membaca dengan
suara kuat dan mendapat dukungan dari jamaah di belakangnya. Jika tidak ada
anggota jamaah yang menegur, berarti bacaannya mendapat restu orang banyak yang
jumlahnya ratusan, ribuan, atau bahkan puluhan ribu. Tetapi apabila ada teguran
ketika shalat, sedangkan imam tetap memaksakan bacaan yang menyalahi Mushaf
'Uthmani, ia akan didongkrak secepatnya sebagai imam shalat. Tak akan mungkin
terdapat kekeliruan dalam qira'at yang dapat lewat begitu saja, dan
semua yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan akan segera
disingkirkan. Batas-batas yang ditetapkan dengan jelas seperti ini yang merupakan
sumber penyelamat utama Al-Qui an .27
Mari
kita periksa setiap naskah yang dikaitkan dengan AI-Qur'an dengan berpijak pada
prinsip-prinsip di atas. Tampak jelas prinsip yang pertama itu tidak ada,
karena naskah [dua surah Ubayy itu] tidak memberi penjelasan tenlang yang
meriwayatkan. Mengenai syarat kedua; apakah hal ini sejalan dengan Mushaf
'Uthman? Adanya ketidakserasian sekecil apa pun dalam masalah kerangka huruf
hidup, dapat menyebabkan runtuhnya nilai kepercayaan. la mungkin bisa dipakai
untuk yang lain, kecuali untuk menjadi bagian dari AI-Qur'an. ltu merupakan
kesepakatan kaum Muslimin semenjak empat belas abad yang lalu.
Berbicara
mengenai kerangka huruf mati, perlu kita sebut di sini masalah huruf hidup
(contohnya alif jika terletak di tengah sebuah kata) biasanya menampilkan
ortografi yang agak lain, biasanya tergantung pada pertimbangan penulis. Lihat
contoh him. 131-5 dan juga penerbitan faksimile dalam bahasa Prancis baru-baru
ini mengenai kepingan naskah Al-Qui an.28 Dalam contoh yang kedua kita menemukan kata
qalu (dengan alif di tengah) ditulis dengan qalu (tanpa alif di
tengah). Berdasarkan ketentuan ini, maka hat yang sama dapat terjadi pada
kepingan naskah AI-Qui an yang ditemukan di Yaman. Perbedaan pada tahapan ini
tidak akan membuat kita keblinger, kita mesti memperlakukan masalah ini
persis sama seperti kata color vs. colour atau center vs. centre dalam bahasa
Inggris, karena kelainan ortografi laiknya kesatuan halus yang selalu muncul
dalam bahasa manapun .29 Namun apabila sekeping tulisan itu jatuh ke
tangan mereka yang selalu ingin tahu, meski dibenarkan adanya perbedaan ortografi,
tetapi tidak sesuai dengan kerangka AI-Qur'an `Uthmani, kita mesti singkirkan
jauh-jauh ke luar dan menganggapnya sebagai hal yang palsu dan tidak berlaku.
Tentunya jika terdapat tanda-tanda huruf mati yang hilang disebabkan kesalahan
menulis, maka hal itu akan bisa diterima sebagai bagian dari AI-Qur'an.
Contohnya, al-fawahish ditulis al-wahish, di mana penulisnya
meninggalkan huruf Fa'.30
ii. Contoh Hukuman bagi Ilmuwan Karena Menyalahi Ketentuan di atas
Ibn
Sanbudh (w. 328/939), salah seorang ilmuwan terbesar di bidang qira'at
di zamannya, menganggap remeh naskah 'Uthmani dalam membaca AI-Qur'an. Karena
bacaan itu terbukti benar melalui jalur transmisi yang berlainan serta sesuai
dengan grammar hahasa Arab, ia beranggapan bacaan itu sah walaupun berbeda
dengan Mushaf 'Uthmani. Dalam persidangan hukum, ia diminta bertobat dan
akhimya dikenakan hukum cambuk sebanyak sepuluh kali.31 An-Nadim mengutip surat
pengakuan Ibn Shanbudh sebagai berikut:32
![]() Dalam kalimat di bawah menunjukkan bahwa Ibn Shanbudh mengakui kesalahan melanggar Mushaf yang didukung oleh seluruh umat, dan kemudian mohon ampunan Allah |
Seorang
ilmuwan lain, Ibn Miqsam (w. 354/965) juga diminta bertobat di depan para fuqaha'
dan qurra' karena teori bacaannya yang berbeda. Teorinya menyebutkan,
bacaan siapa saja selama masih sesuai dengan Mushaf `Uthmani dan kaidah bahasa
Arab, dapat dianggap sah tanpa perlu menyelidiki asal usul jalur qira'at
dan mendapat pengesahan mengenai tanda-tanda bacaan yang berkaitan dengan
tiap-tiap ayat.33
Seorang
ilmuwan meremehkan prinsip yang kedua, sementara yang lain menganggap rendah
ketentuan yang pertama. Rev. Mingana menyatakan penyesalannya bagi yang mau
menerima kedua ilmuwan itu.34 Sekurangkurangnya, kita dapat menganggap
suatu yang wajar setelah mengetahui bahwa keduanya diberi perlakuan atas dasar
belas kasih ketimbang William Tyndale (1494-1536), gara-gara salah
menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Inggris, dihajar hukum bakar hidup-hidup
(menurut versi Bible King James).35
5. Kesimpulan
Para
ilmuwan Yahudi dan Kristen sejak lama telah menyimpan obsesi ingin melecehkan
adanya perbedaan terhadap Al-Qur'an, hanya Allah dengan begitu mudah
mengamankan dan memelihara Kitab-Nya sehingga segala upaya dan sumber yang jadi
andalan hanya mampu menjadikan mereka kewalahan. Abad ke-20 ini menyaksikan
adanya satu Lembaga Kajian AIQur'an yang didirikan oleh Universitas Munich.
Seluruh ruangan gedung dipenuhi sebanyak empat puluh ribu naskah AI-Qur'an dari
berbagai abad dan negara dan kebanyakan dalam bentuk foto asli, sedang para
stafnya asyik menyibukkan diri membandingkan kata-kata dari setiap naskah
sebagai upaya yang tak kenal lelah dalam menyingkap perbedaan yang terdapat
dalam AIQur'an.
Beberapa
waktu sebelum Perang Dunia II, laporan pendahuluan yang cukup mantap telah
diterbitkan yang menyebut bahwa tentunya terdapat kekeliruan dalam menyalin
manuskrip Al-Qur'an, kendati tidak terdapat ragam perbedaan. Selama peperangan,
Amerika mengebom lembaga tersebut menghancurkan keseluruhan yang ada termasuk
direksi, staf, dan semua pakar perpustakaan... Ini semua membuktikan bahwa
tidak ada perbedaan pada naskah-naskah AI-Qur'an sejak abad pertama hingga ke
abad ini.36
Jeffery
mengakui fakta ini kendati secara sinis ia menyesal bahwa "Secara praktis
semua Mushaf-Mushaf terdahulu dan kepingan-kepingan naskah yang selama ini
diteliti dengan hati-hati membuktikan adanya kesamaan teks, kalau pun terdapat
perbedaan, hal itu hampir keseluruhannya dapat diterangkan sebagai kesalahan
tulisan."37 Bergtrasser juga memiliki kesimpulan yang
sama.38 Namun Jeffery tetap memaksakan pendapat bahwa
teks-teks itu "tampaknya belum ditetapkan hingga abad ke-3 Islam"39 [dan karenanya] agak penasaran bahwa tidak
terdapat contoh teks lain yang masih bertahan di antara semua kepingan-kepingan
itu yang selama ini diteliti."40 Untuk menjawab kebimbangan yang dimiliki,
tampaknya ia masih belum dapat melihat hutan rimba dengan aneka ragam pohon dan
tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalamnya. Jelasnya, tidak pernah terdapat
teks-teks yang berlainan.
Daripada
merengek-rengek kepada komplatan Orientalis yang selalu berubah sikap menurut
kepentingannya, kaum Muslimin hendaknya tetap meniti jalan yang dilalui para muhaddithun
zaman dulu. Apa sebenamya hasil yang mungkin diraih sekiranya kita hendak
menerapkan kriteria terhadap kajian kitab Injil? Coba renungkan contoh berikut
ini, sekadar gambaran betapa rapuhnya dasar-dasar teori mereka. Dalam Dictionary
of the Bible, dalam artikel yang berjudul "Jesus Christ", kita
dapat membaca, "Satu-satunya saksi dalam pemakaman [Kristus] terdapat dua
orang wanita..." Kemudian dalam judul lain, "The Resurrection",
"Banyak sekali kesulitan yang berkaitan dengan bahasan ini, dan juga
berita-beritanya, yang juga tak banyak jumlahnya dan bahkan mengecewakan, serta
memuat beberapa perbedaan tertentu yang tak mungkin dicarikan titik temu atau
penyelesaian; tetapi para pakar sejarah yang konsisten dengan aturan-aturan
yang paling tepat dan merasa terikat oleh disiplin ilmiah, menemukan bukti yang
cukup memadai untuk meyakini fakta itu."41
Kita
hanya mampu meraba-raba bahwa 'fakta-fakta' dalam posisi lebih tinggi dari yang
lain dan tidak perlu lagi mencari-cari bukti. Apa jadinya jika kita hendak
menerapkan metode kita sendiri? Apa yang dapat kita sebut mengenai cerita
penguburan Yesus Kristus? Pertama, siapakah orang yang mengarang cerita dalam
Injil itu? Semuanya tidak ada yang dikenal secara pasti dan cerita itu pun
hampa. Kedua, siapa yang membawa pernyataan dua orang wanita itu kepada
pengarang? Entahlah. Ketiga, jaringan mata rantai riwayat macam mana yang dapat
dipakai sebagai ukuran? Tidak ada. Semua cerita yang adalah hasil rekayasa.
Upaya
mencari perbedaan dalam Al-Qur'an terus berjalan tanpa henti, dan bahkan Brill
ikut memanasi usaha ini dengan membuat Encyclopedia AIQur'an (sebanyak empat
jilid) yang akan terbit dalam beberapa tahun mendatang. Di antara badan
penasihatnya, selain para ilmuwan Yahudi dan Kristen, tak ada lain adalah M.
Arkoun dan Nasr Abu Zaid yang sudah dianggap sebagai penyeleweng (heretics) di
negara-negara Islam.
Penilaian
telah berulang kali saya buat terhadap kedudukan ilmiah kitab Injil secara
sepintas, dan juga semangat yang membara hendak memaksakan AI-Qur'an dengan
keraguan dan teka-teki guna menutupi kelemahan Perjanjian Lama (PL) dan
Perjanjian Baru (PB). Kini giliran saya mengambil sikap proaktif dalam
menyelami sejarah teks kitab suci mereka, bukan sekadar perbandingan. Setiap
ilmuwan dan pengkritik merupakan produk lingkungan tertentu, dan para
Orientalis - baik yang Kristen, Yahudi, ataupun ateis - semuanya lahir dari
latar belakang Yahudi dan Kristen yang ingin memilah-milah pandangan tentang
segala masalah yang berkaitan dengan keislaman. Sikap selektifnya memacu mereka
mengubah studi Islam pada satu bentuk yang benar-benar aneh dengan mengenalkan
peristilahan yang ada dalam Injil. Blachere misalnya, memakai istilah vulgate.
Bible versi Latin yang dihasilkan pada abad keempat dan lebih digemari oleh
Gereja Katolik Roma (penerjemah). saat menunjuk Mushaf `Uthman dalam bukunya Introduction
au Coran, dan Jeffery menerangkan Al-Qur’an sebagai teks yang Masoretic,
istilah yang umumnya berkaitan dengan Kitab Perjanjaian Lama berbahasa Ibrani.
Dengan menghilangkan seluruh peristilahan AI-Qur'an, Wansbrough malah berbicara
mengenai Haggadic exegesis, Halakhic exegesis, dan Deutungsbedurftigkeit.42 Setiap orang dari kalangan mereka juga
menyebut canonization Al-Qur'an (dalih-dalih AI-Qur'an) dan naskah kuno
Ibn Mas'ud. Kebanyakan kaum Muslimin tak pemah berurusan dengan jargon-jargon
aneh itu. Apabila hipotesis Jeffery, Goldziher dan yang lain telah kita
bicarakan dan kita nafikkan, maka kini saatnya untuk kita meneliti sepenuhnya
motif-motif yang melatarbelakangi usaha mereka. Sketsa potter sejarah awal
YahudiKristen, diiringi sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diharap
dapat melicinkan jalan pemahaman yang lebih dalam mengenai cara berpikir para
ilmuwan dan akhimya akan mengantarkan kita dapat melihat lebih jelas lagi
pertimbangan dan sederet tujuan pihak Barat dalam melakukan kajian terhadap
Al-Qur'an.

No comments:
Post a Comment
ini komentar