BAB 4 : PENGAJARAN AL-QUR'AN
Ayat pertama yang diwahyukan
pada Nabi Muhammad adalah,
|
"Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan."1 |
Tak ada bukti bahwa
Nabi Muhammad pernah belajar seni menulis dan umumnya orang sepakat bahwa ia
buta huruf sepanjang hayat. Sepotong ayat di atas memberi isyarat bukan tentang
persoalan buta huruf, melainkan pentingnya pendidikan yang sehat bagi
masyarakat di masa mendatang. Nabi Muhammad mencurahkan segala upaya yang
mungkin dapat dilakukan dalam pengembangan pendidikan, manfaat serta imbalan
para pelajar dan juga sanksi hukum bagi pengekang ilmu pengetahuan. Abu Huraira
melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda,
"Siapa
yang memilih jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka baginya jalan
menuju surga."2
Sebaliknya beliau
memberi peringatan,
"Siapa
yang ditanya ilmu yang telah dikuasai lalu ia sembunyikan, orang itu akan dililit
api neraka di hari Kiamat."3
Nabi Muhammad minta
para ilmuwan dan yang masih belum berbudaya agar kerja sama menasihati mereka
yang tidak pernah belajar, dan kaum cendekiawan agar mau mengembangkan ilmunya
pada para jiran.4 Penekanan
diberikan pada setiap yang memiliki keahlian karya tulis di mana dalam sebuah hadith
ditegaskan agar mengambil peran laksana seorang ayah pada anak.5
Nabi adalah pelopor
pendidikan gratis di mana saat `Ubada b. as-Samit menerima hadiah dari seorang
pelajar (dengan niatan untuk kepentingan Islam), Nabi Muhammad menegurnya,
"Jika mau menerima lilitan api neraka di leher anda, maka ambilah hadiah itu."6
Non-Muslim pun juga diberi tugas mengajar membaca di masa kehidupan rasul.
Uang tebusan tahanan Perang Badar juga berlainan. Beberapa di antara mereka mendapat tugas mengajar menulis pada anak-anak.7
1. Hadiah
Belajar, Mengajar, dan Membaca Al-Qur'an
Nabi Muhammad tidak
pernah menyia-nyiakan upaya dan keinginan masyarakat dalam mempelajari Kalamullah:
'Uthman bin 'Affan
melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, "Yang terbaik di
antara kamu sekalian ada]ah yang mempelajari Al-Qur'an kemudian mengajarkan
pada orang lain."8 Kata-kata
yang sama juga dilaporkan oleh `Ali bin Abi.Talib.9
Menurut Ibn Mas'ud
Nabi Muhammad memberi komentar, "Siapa yang membaca satu huruf Kitab Allah
la akan diberi imbalan amal saleh, dan satu amal saleh akan mendapat pahala
sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu
huruf melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu
huruf."10
Di antara pahala
seketika bagi yang mempelajari Al-Qur'an adalah penghargaan umat Islam agar
bertindak sebagai imam shalat, suatu kedudukan penting yang secara khas
diberikan di awal permulaan Islam. 'A'isha clan Abu Mas'ud al-Ansari melaporkan
sabda Nabi Muhammad, "Seorang yang be]ajar yang memiliki hafalan
terbanyak hendaknya menjadi imam sha]at.11 Amir bin Salima al-Jarmi bercerita bahwa orang-orang
dari suku bangsanya menemui Nabi Muhammad menyatakan diri hendak masuk Islam.
Sebelum berangkat mereka bertanya, "Siapa yang akan mengimami shalat
kita?" Beliau menjawab, "Orang yang menghafal Qur'an, atau
mempelajarinya lebih banyak."12 Pada
detik-detik akhir kehidupan Rasulullah, kedudukan imam shalat diberikan pada
Abu Bakr setiap hari. Hal ini merupakan penghormatan agung saat penentuan
khalifah umat Islam.
Segi positif lainnya
adalah penyebab kemungkinan para Malaikat bersama kita. Usaid bin Hudair
sedang membaca Al-Qur'an bagian terakhir di satu malam di mana seekor kudanya
melompat-lompat ketakutan. Saat ia berhenti, seekor kuda All pun terdiam, dan
saat membaca, kuda itu melompat-lompat kembali. Kemudian ia berhenti karena
khawatir anaknya terinjak. Saat ia berdiri dekat kuda, ia melihat sesuatu seperti
tenda menggantung di awang-awang penuh lampu-lampu bersinar menjulang ke
langit dan kemudian menghilang. Hari berikutnya, la pergi menemui Nabi Muhammad
menceritakan kejadian malam itu. la memberitahukan agar terus-menerus
membacanya dan Usaid bin Hudair menjawab bahwa ia berhenti karena demi
keselamatan anaknya, Yahya. Kemudian Nabi Muhammad berkata, 'Mereka adalah
para Malaikat sedang mendengar dan mestinya anda terus membacanya, sebenarnya
orang lain bisa melihat di pagi hari karena tidak akan bersembunyi dari
mereka."13
Ibn ‘Umar
meriwayatkan, "Kecemburuan hanya dibenarkan dalam dua hal: seorang yang
telah menerima ilmu Al-Qur an dan membacanya di siang dan malam hari dan orang
yang diberi karunia kekayaan Allah serta membantu orang lain di malam dan siang
hari."14
‘Umar bin al-Khattab
menjelaskan bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Melalui Kitab ini, Allah
meninggikan beberapa orang dan merendahkan yang lain diantara kita."15
Yang lebih tua di
antara orang buta huruf menghafal Al-Qur'an dengan susah payah di mana pikiran
dan jiwanya merasa lemah. Mereka tidak tertolak mendapat keberkahan apa pun jua
karena pahala besar dijanjikan bagi mereka yang mendengar Al-Qur'an saat
dibacakan. Ibn ‘Abbas pernah berkata bahwa siapa yang mendengar satu ayat
Al-Qur'an akan mendapat cahaya di Hari Kiamat.16
Adalah sangat
memungkinkan bahwa seseorang yang tidak mampu menghafal dengan balk untuk
membaca dari hafalannya bisa jadi terasa sedikit malas dalam mencari naskah
tertulis. Untuk itu Nabi Muhammad menjelaskan, "Bacaan seseorang tanpa
bantuan mushaf, berhakmendapat pahala sebanyak seribu tingkat sedang bacaan
dengan menggunakan mushafakan mendapat pahala dua kali lipat menjadi dua ribu."17
Dalam menjelaskan
tentang kebaikan orang-orang yang menghafal ‘Abdullah bin ‘Amr memberitahu
bahwa Nabi Muhammad berkata, "Seseorang yang mencurahkan hidupnya untuk
Al-Qur'an akan diminta di hari kiamat naik ke atas untuk membaca dengan hati-hati
seperti yang ia lakukan selama di dunia di mana ia akan masuk surga lamanya
setelah bacaan ayat terakhir.18
Bagi yang bermalas-malasan
melihat kepentingan ini, Nabi Muhammad menentangnya dengan sebuah peringatan.
Ibn ‘Abbas menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, "Seorang
yang tak berminat terhadap AI-Qur'an laksana rumah yang telah hancur.19 Dan beliau
mencela penghafal Al-Qur'an lalu melupakan dianggap dosa besar dan menasihati
agar selalu mengulanginya. Abu Musa al-Ash'ari memberitahukan bahwa Nabi
Muhammad bersabda, "Segarkan pengetahuan anda tentang Al-Qur'an dan
saya bersumpah dengan Nama Allah di mana nyawa Muhammad ada di tangan-Nya bahwa
hal ini lebih penting untuk menghindari seekor binatang unta yang kakinya
diikat."20
Al-Harith bin al-A'war
menceritakan apa yang terjadi setelah Nabi Muhammad wafat.
"Sewaktu melewati
masjid, secara tak sengaja saya melihat orangorang terlibat pembicaraan
bisik-bisik. Kemudian saya menemui 'Ali menceritakan hal itu. Beliau bertanya
apakah itu benar dan saya memberi konfirmasi. Kemudian ia berkata, 'Saya
mendengar penjelasan Nabi Muhammad yang menyebut, Perselisihan pasti akan
terjadi.' Saya bertanya pada beliau bagaimana cara menghindari hal itu. Beliau
menjawab, "Kitab Allah adalah satu-satunya cara karena ia mencakup apa-apa
yang terjadi sebelum kamu, berita masa depan setelah ini serta keputusan tentang
masalah-masalah yang mungkin terjadi di antara kamu sekalian. la merupakan
pemisah dan bukan bahan lelucon. Jika terdapat orang yang memiliki kekuasaan
sengaja meninggalkan ajarannya, Allah akan membuat perpecahan, dan siapa yang
mencari petunjuk dari sumber lain, Allah akan mengantarkan ke jalan kesesatan.
Kitab suci Al-Qur'an merupakan tall pengikat dari Allah yang tahan uji,
peringatan bijak, jalan lurus di mana dengannya keinginan tak mungkin meleset
pada kesesatan, lidah tak akan menjadi galau, dan kaum cendekiawan pun tak akan
mampu memahami secara sempurna. Al-Qur'an tidak akan pernah usang karena
diulang-ulang dan tak akan seorang yang rakus ilmu akan berhenti mengkajinya.
la adalah sesuatu yang makhluk jin tidak segan mengeluarkan kata pujian saat
mendengarnya, 'Kami telah mendengar bacaan indah yang memberi petunjuk pada
yang benar dan kami percaya terhadapnya,' bagi orang yang membaca akan selalu
berkata yang benar dan bagi yang bertindak menurut ajarannya akan menuai
keberkahan hidup, seorang penegak hukum menurut ajarannya akan berbuat adil,
dan siapa yang mengajak orang lain, ia akan memanggil ke jalan yang
lurus."21
Masalah berikutnya
kita akan meresapi secara mendalam bagaimana Nabi Muhammad berhasil dalam
mencapai tujuan pengajaran Al-Qur'an kepada umat Islam. Ini akan dapat
terungkap dengan baik sekiranya kita membagi bahasan ke dalam situasi di zaman
Mekah dan Madinah.
2. Zaman Periode Mekah
i.
Nabi Muhammad Sebagai Guru Al-Qur'an
Sebagian kitab suci
Al-Qur'an diturunkan di Mekah; imam as-Suyuti mendaftar urutan terperinci
tentang surah-surah yang diturunkan.22 Al-Qur'an
dapat bertindak sebagai alat petunjuk bagi jiwa yang kalut di mana terbukti
kehidupan seorang penyembah patung berhala akan selalu merasa tidak puas,
pengembangannya yang awalnya melakukan penindasan terhadap masyarakat Muslim
menyebabkan mereka mengadakan kontak dengan Nabi Muhammad.
Orang pertama di luar
jalur keturunan keluarga Nabi Muhammad yang masuk Islam adalah Abu Bakr. Nabi
Muhammad mengajak masuk Islam dengan membaca beberapa ayat Al-Qur'an.23
Kemudian Abu Bakr
membawa teman-teman terdekat menemui Nabi Muhammad, seperti `Uthman bin
‘Aff-an, `Abdur-Rahman bin 'Auf, azZubair bin al-‘Awwam, Talha, dan Sa'd bin
Abi Waqqas. Nabi Muhammad mengenalkan agama baru dengan membacakan ayat-ayat AIQur'an
dan yang menyebabkan mereka masuk Islam.24
Abu ‘Ubaidah, Abu
Salama, `Abdullah bin al-Arqam dan ‘Uthman bin Maz'zun menemui Nabi Muhammad
bertanya tentang hal ihwal Islam. Nabi Muhammad menjelaskan dengan membaca
Al-Qur'an dan kemudian mereka menerima Islam.25
Ketika ‘Utba bin
Rabi'a pergi menemui Nabi Muhammad membawa usulan atas nama orang Quraish,
menawarkan rayuan dengan harapan ia dapat meninggalkan misinya, Nabi Muhammad
dengan sabar menunggu sebelum ia menjawab dan kemudian berkata, "Sekarang
dengarkan ucapan saya," dan kemudian la membaca beberapa ayat sebagai
respons terhadap tawaran mereka.26
Beberapa orang Kristen
dari Ethiopia mengunjungi Nabi Muhammad ke Mekah menanyakan tentang Islam. Beliau
menjelaskan pada mereka dengan membaca Al-Qur'an dan mereka masuk Islam.27
As'ad bin Zurara dan
Dhakwan pergi dari Madinah ke Mekah menemui ‘Utba bin Rabi'a tentang persaingan
kehormatan ketika mereka mendengar berita Nabi Muhammad. Mereka berkunjung dan
mendengar bacaan AI-Qur'an, dan akhirnya masuk Islam.28
Sewaktu musim haji
Nabi Muhammad menemui delegasi dari Madinah. Beliau menjelaskan tentang rukun
Islam dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Semuanya masuk Islam.29
Pada bai'ah ‘aqabah
kedua Nabi Muhammad, lagi-lagi, membaca Al-Qur'an 30
Nabi Muhammad membaca
untuk Suwaid bin Samit di Mekah.31
‘Iyas bin Mu'adh
menuju Mekah mencari aliansi kekuatan dengan pihak Quraish. Nabi Muhammad
mendatangi dan membacakan AI-Qur'an.32
Rafi bin Malik
al-Ansari merupakan orang pertama yang membawa Sarah Yusufke Madinah.33
Nabi Muhammad
mengajarkan pada tiga orang sahabat tentang Sarah Yunus, Taha, dan
Hal-ata secara berurutan.34
Ibn Um Maktum menemui
Nabi Muhammad meminta beliau membaca Al-Qur'an.35
ii.
Para Sahabat Sebagai Guru
Ibn Ma'ud adalah orang
pertama dari sahabat yang mengajarkan Al-Qur'an di Mekah.36
Khabbab mengajar
AI-Qur'an pada Fatima (saudara perempuan 'Umar bin Khattab) dan suaminya, Sa`id
bin Zaid.37
Mus'ab bin 'Umair
dikirim oleh Nabi Muhammad ke Madinah sebagai guru mengaji Al-Qur'an.38
iii.
Hasil Kebijaksanaan Pendidikan pada Periode Mekah
Arus kegiatan
pendidikan di Mekah berjalan tanpa dapat- dihalangi kendati berhadapan dengan
berbagai hambatan dan siksaan yang dikenakan secara paksa dari masyarakat;
sikap tegas merupakan bukti yang meyakinkan akan keterikatan dan rujukan mereka
terhadap Kitab Allah. Para sahabat selalu menanamkan ayat-ayatnya pada kabilah
mereka melewati batas lembah kota Mekah yang dapat memperkuat tumbuhnya
keislaman sebelum berhijrah ke Madinah. Berikut adalah beberapa contoh yang
mereka lakukan:
Saat Nabi Muhamamd
sampai ke Madinah, beliau diperkenalkan dengan Zaid bin Thabit, anak lelaki
berusia sebelas tahun yang telah menghafal sebanyak enam belas Sarah Al-Qur'an.39
Barra menjelaskan
bahwa ia sudah mengenal seluruh Sarah al-Mufassal (al-Mufassal terdiri dari
Sarah al-Qaf hingga akhir seluruh Al-Qur'an) sebelum Nabi Muhammad sampai ke
Madinah.40
Akar utama ajaran
Al-Qur'an berkembang ke berbagai masjid di mana melalui dinding temboknya
bergema suara AI-Qur'an yang dibacakan sebelum Nabi Muhammad menetap di
Madinah. Menurut al-Waqidi, masjid pertama yang diberkahi bacaan Al-Qur'an
adalah masjid bani Zuraiq41
3. Periode
Madinah
i. Nabi Muhammad Sebagai Maha Guru Al-Qur'an
i. Nabi Muhammad Sebagai Maha Guru Al-Qur'an
Begitu sampai di
Madinah, Nabi Muhammad membuat Suffa di dalam masjid yang berfungsi sebagai
tempat belajar pemberantasan buta huruf, dengan menyediakan makanan, dan tempat
tinggal.
Lebih kurang sembilan
ratus sahabat menerima tawaran tersebut.42 Saat Nabi
Muhammad mengajarkan Al-Qur'an, yang lainnya seperti ‘Abdulah bin Sa`id bin
al-'As, `Ubada bin as-Samit, dan Ubay bin Ka'b mengajarkan dasar-dasar penting
membaca and menulis.43
Ibn ‘Umar sekali
memberi pujian, "Nabi Muhammad membaca pada kita dan jika beliau membaca
ayat sajadah yang menyuruh bersujud, beliau mengucapkan Allahu Akbar lalu
sujud.44
Banyak di antara para
sahabat menjelaskan bahwa Nabi Muhammad membaca surah seperti itu kepada mereka
secara pribadi termasuk orangorang terkemuka, seperti Ubayy bin Ka'b,
‘Abdullah bin Salam, Hisham bin Hakim, 'Umar bin Khattab, dan Ibn Mas'ud.45
Beberapa utusan sampai
ke Madinah dari luar daerah dan diberikan pada orang setempat untuk memberi
perlindungan bukan saja di bidang pangan dan penginapan, melainkan juga dalam
hal pendidikan. Nabi Muhammad bertanya pada mereka guna mengetahui tingkat
pelajaran mereka.46
Setiap diberi wahyu,
Nabi Muhammad cepat-cepat membacakan ayat yang baru beliau terima kepada
semua sahabat dan kemudian membacakan kepada para wanita dalam pertemuan
terpisah.47
‘Uthman bin Abi al-'As
selalu ingin belajar Al-Qur'an dengan Nabi Muhammad dan jika tidak menemuinya,
beliau mendatangi rumah Abu Bakr.48
ii.
Dialek yang digunakan oleh Nabi Muhammad
dalam Mengajarkan Al-Qur'an di Madinah
Adalah fakta yang
cukup kuat bahwa sekalipun manusia berbicara bahasa namun tetap mengalami
perbedaan dialek yang mencolok dari satu satu tempat ke tempat lain. Dua orang
misalnya, kendati tinggal di New York dari kultur dan sosio-ekonomi yang
berlainan akan memiliki aksen yang berbeda. Demikian juga orang-orang yang
tinggal di London akan berbeda dengan mereka yang tinggal di Glasgow atau
Dublin. Dalam hal bahasa Inggris, terdapat perbedaan sistem ejaan Amerika dan
Inggris clan mungkin saja terdapat kesamaan dalam ejaan namun berbeda dalam
intonasi.
Marilah kita amati
situasi negara-negara Arab masa kini dalam penggunaan kata-kata qultu (
saya bicara) sebagai satu permasalahan, Orang
Mesir mengungkapkan dengan kata ult, diganti dengan u dari
kosakata q. Orang Yaman mengatakan dengan ungkapan gultu kendati
dalam menulis katakata semua orang Arab akan mengatakannya secara identik.
Contoh lain: seorang bernama Qasim akan disebut oleh orang Teluk Parsi dengan
istilah Jasim; orang yang sama mengganti j dengan y, maka
kata-kata rijal (orang lelaki) bisa berubah menjadi raiyyal dalam
ungkapan.
Di Mekah mayoritas
Muslim memiliki latar belakang budaya yang beragam. Karena Islam berkembang
melewati batas kesukuan dan mencakup seluruh Jazirah Arab, berbagai aksen
terjadi kontak satu sama lain. Pengajaran Al-Qur'an pada suku yang berbeda pun
dirasa perlu dan mengharuskan mereka meninggalkan dialek asli secara
keseluruhan dan meninggalkan dialek Arab Quraish di mana Qur'an diwahyukan,
rasanya suatu masalah yang dirasa sulit untuk dilakukan. Guna memfasilitasi
masalah tersebut, Nabi Muhammad mengajarkan mereka AI-Qur'an dengan dialek
mereka. Dalam satu kesempatan dua orang atau lebih dari suku yang berbeda boleh
juga belajar Al-Qur'an dalam dialek mereka, jika dirasa perlu.
iii.
Para Sahabat sebagai Pengajar Al-Qur'an
'Abdullah bin
Mughaffal al-Muzani mengatakan bahwa saat seorang Arab hijrah ke Madinah, Nabi
Muhammad menugaskan seseorang dari kaum Ansar pada individu dengan mengatakan:
biarkan la memahami Islam dan mengajarkannya tentang Al-Qur'an. "Hal yang
sama terjadi pada diri saya," katanya, "sebagaimana saya dipercaya
karena pada salah satu dari orang Ansar yang telah membuatku paham agama dan
mengajarku Al-Qur'an."49 Bukti nyata
menunjukkan bahwa para sahabat secara aktif ambil bagian dalam kebijaksanaan,
seperti pada periode Madinah. Riwayat berikut mewakili, seperti biasa, hanya
sebagian dari petikan bukti-bukti yang ada pada kita.
‘Ubada bin as-Samit
mengajarkan AI-Qur'an pada masa kehidupan Nabi Muhammad.50
Ubbay juga mengajarkan
Al-Qur'an pada masa kehidupan Nabi Muhammad di Madinah51, sehingga
secara terus-menerus ia mengajar seorang buta di rumahnya.52
Abu Sa’id al-Khudri
menjelaskan bahwa ia duduk dengan sekelompok imigran dari Mekah sewaktu seorang
qari' membaca untuk mereka.53
Sahl bin Sa`id
al-Ansari berkata, "Nabi Muhammad mendatangi kita sewaktu kami membaca
bergantian..."54
`Uqba bin `Amir
memberi komentar, "Nabi Muhammad hadir pada kami sewaktu kami berada di
dalam masjid mengajar satu sama lain tentang Al-Qur' an."55
Jabir bin ‘Abdullah
berkata, "Nabi Muhammad mengunjungi sewaktu kami membaca Al-Qur'an.
Kumpulan kami terdiri dari orang-orang Arab dan juga bukan Arabs.56
Anas bin Malik
kemonetar, 'Nabi Muhammad datang kepada kita sewaktu kami membaca, diantara
kita terdapat orang-orang Arab dan bukan Arab, kulit hitam dan kulit putih.57
Bukti tambahan
menunjukkan bahwa para sahabat melawat sampai di luar kota Madinah bertindak
sebagai instruktur:
Mu'adh bin Jabal
dikirim ke Yaman.58
Dalam perjalanan
menuju Bir' Ma'una, sekurang-kurangnya empat puluh kalangan para sahabat yang
dikenal sebagai pengajar Al-Qur'an dibunuh.59
Abu ‘Ubaid dikirim ke
Najran.60
Wabra bin Yuhannas
mengajar Al-Qur'an in San'a' (Yaman) kepada Um-Sa`id bint Buzrug semasa
kehidupan Nabi Muhammad.61
4. Hasil Kegiatan Pendidikan: Huffaz
Samudra kesempatan
mempelajari Kitab Suci yang berjalan bersama gelombang manusia yang terlibat
dalam penyebarannya, ternyata membuahkan banyak para sahabat yang secara cermat
menghafal Al-Qur'an. Banyak diantara mereka yang kemudian dibunuh di Yamama dan
Bir Ma'una, dan nama mereka dalam banyak hal, telah lenyap dari buku sejarah.
Dari bukti yang ada menunjukkan hanya nama-nama mereka yang masih hidup, yang
kemudian meneruskan pengajaran di Madinah dan wilayah yang tertaklukan oleh
kekuasaan Islam. Hal ini meliputi antara lain: Ibn Mas'ud,62 Abu Ayyub,63 Abu Bakr
as-Siddiq,64 Abu ad-Darda,65 Abu Zaid,66 Abu Musa
al-'Ash' ari,67 Abu Huraira,68 Ubayy bin
Ka'b,69 Um-Salama,70 Tamim al-Dari,71 Sa'd bin
Mundhir,72 Hafsa,73 Zaid bin
Thabit,74 Salim dari
suku Hudhaifa ,75 Sa'd bin 'Ubada,76 Sa'd bin
‘Ubaid al-Qari,77 Sa'd bin
Mundhir,78 Shihab
al-Qurashi,79 Talha,80 ‘A'isha,81 ‘Ubada bin
Samit,82 ‘Abdullah bin
Sa'ib,83 Ibn ‘Abbas,84 ‘Abdullah bin
‘Umar,85 ‘Abdullah bin
'Amr,86 ‘Uthman bin
'Affan,87 'Atta bin
Markayud (orang Parsi tinggal di Yaman),88 ‘Uqba bin
'Amir,89 'All bin Abi
Talib,90 ‘Umar bin
al-Khattab,91 'Arm- bin
al-'As.92 Fudala bin
‘Ubaid,93 Qays bin Abi
Sa'sa'a,94 Mujamma’ bin
Jariya,95 Maslama bin
Makhlad,96 Mu'adh bin
Jabal,97 Mu'adh Abu
Halima,98 Um-Warqah bin
‘Abdullah bin al-Harith,99 dan 'Abdul
Wahid.100
5. Kesimpulan
Sejarah tidak selalu
bersahabat dengan Kitab suci. Injil asli Nabi ‘Isa (Jesus), sebagaimana akan
kita lihat kemudian, telah lenyap sejak awal clan diganti dengan karya penulis
yang tidak memiliki hubungan keilmuan dengan sumber pertama; demikian pula
dengan kitab perjanjian lama yang telah mengalami penderitaan begitu kronik
karena tidak adanya perhatian. Hal itu sama sekali bertentangan dengan kitab
Al-Qur'an yang diberkahi dengan penyebaran yang begitu cepat ke seluruh Jazirah
Arab sejak kehidupan Nabi Muhammad, yang disebarkan oleh para sahabat yang
secara langsung mendapat pengajaran dari Nabi Muhammad sendiri. Adanya para
huffaz memberi saksi atas kesuksesan dalam hal ini. Ada pertanyaan adakah
penyebarannya sama sekali secara verbal? Kita telah jelaskan bahwa kompilasi
Al-Qur'an secara tertulis merupakan perhatian utama Nabi Muhammad %% Bagaimana
beliau melakukan tugas ini? Hal ini akan terjawab dalam bab berikut.
No comments:
Post a Comment
ini komentar