BAB 7 : MUSHAF
'UTHMANI
5. Studi Tentang
Mushaf 'Uthmani
Keyakinan bahwa
Al-Qur'an adalah Kalamullah, dan sebagai sumber utama hukum perundang-undangan
dan petunjuk untuk semua makhluk, merupakan dasar kepercayaan setiap Muslim.
Pada zaman ‘Uthman, rasa kebanggaan terhadap Al-Qur’an itulah yang mendorong
untuk mulai meneliti Mushaf secepatnya, melawat ke semua tempat yang menerima
naskah dan melakukan pemeriksaan kata demi kata (huruf demi huruf), guna
menyingkap perbedaan antara naskah-naskah yang telah dia kirim. Banyak karya
tulis yang menyentuh tentang masalah ini, akan tetapi saya akan membatasi hanya
kepada satu masalah.
Khalid bin Iyas bin
Shakr bin Abi al-Jahm, dalam meneliti Mushaf milik `Uthman sendiri, mencatat
bahwa naskah itu berbeda dengan Mushaf Madinah pada dua belas tempat.48
Untuk memberi gambaran tentang perbedaan ini, saya susun dalam table
berikut ini .
Dengan jelas, naskah
`Uthman miliki pribadi sama seperti Mushaf yang ada di tangan kita sekarang.53
Sedangkan dalam Mushaf Madinah terdapat sedikit perbedaan yang boleh kita
simpulkan seperti berikut: (1) satu tambahan
dalam
; (2) Tidak ada
dalam
; (3) tidak ada
dalam
; (4) ada dua
dalam
; (5) tidak ada
dalam
; (6) satu tambahan
dalam
; (7)
sebagai ganti
... dan seterusnya. Semua perbedaan, yang
hampir tiga belas huruf dalam 900 baris, tidak memengaruhi arti setiap ayat dan
tidak membawa alternatif lain kepada arti semantik. Mereka juga tidak bisa
disifatkan sebagai sikap tidak hati-hati. Zaid bin Thabit memegang teguh
prinsip bahwa dalam setiap penemuan bacaan dalam berbagai naskah diperlukan
kesahihan, dan status yang sama (equal status), dan kemudian meletakkannya
dalam naskah yang berbeda.54
Memasukkan kedua-dua bacaan dalam halaman yang bersebelahan ini hanya akan
membuat kebingungan; maka salah satu altematif adalah menempatkan salah satu
dari bacaan itu di tepi untuk menunjukkan ayat yang kurang autentik. Dengan
menempatkan bacaan-bacaan itu pada naskah yang berbeda maka dia
mengakomodasikannya berdasarkan kesamaan istilah (equal term).
Pendekatan modern
dalam mengkritik teks menghendaki agar ketika perbedaan muncul antara dua
manuskrip yang sama statusnya, penyunting meletakkan salah satu darinya dalam
bodi teks sedangkan yang lainnya diletakkan dalam catatan kaki. Metode ini
walaupun bagaimana tidak adil, karena hal ini dapat mengurangi nilai naskah ke
dua. Skim Zaid tampak lebih adil; dengan menyediakan beberapa naskah maka dia
mengesampingkan kesimpulan bahwa bacaan ini atau itu lebih tinggi, dan
memberikan penilaian pada setiap naskah secara adil.55
Banyak ilmuwan yang
telah menguras waktu dan tenaga mereka dalam membandingkan Mushaf 'Uthmani,
melaporkan apa yang mereka dapatkan dengan ikhlas dan tidak menyembunyikan apa
pun walau sedikit Abil Uarda, seorang sahabat terkenal, telah bekerja keras tentang
perkara ini sebelum dia meninggal dunia pada dekade yang sama dengan pengiriman
Mushaf, dan meninggalkan istrinya (janda) untuk menyampaikan penemuannya.56 Untuk
memudahkan, saya telah menambah daftar tambahan.57 Tetapi
penemuan mereka, ketika semuanya dikumpulkan sungguh sangat mengejutkan. Semua
perbedaan yang terdapat dalam Mushaf Mekah, Madinah, Kufah, Basra, Suriah, dan
Naskah induk Mushaf 'Uthmani, melibatkan satu huruf, seperti:
... dst. Kecuali hanya adanya
(dia) dalam satu ayat yang artinya tidak
terpengaruhi. Perbedaan ini tidak lebih dari empat puluh huruf terpisah di
seluruh Mushaf enam ini.
Akhirnya kita bisa
mengklarifikasikan bahwa kajian ilmuwan terdahulu ini hanya berlandaskan pada
naskah Mushaf resmi, yang dikirim oleh ‘Uthman, atau duplikat naskah yang
dibuat dan disimpan oleh para sahabat yang terkenal dan Ilmuwan ahli Al-Qur’an.
Kajian mereka bukan penyelidikan tentang naskah pribadi yang disimpan oleh
masyarakat luas (yang jumlahnya mencapai ribuan), karena Mushaf yang resmi itulah
yang dijadikan sebagai ukuran (standar) dan bukan sebaliknya.
i. Studi
Tentang Mushaf Malik bin Abi 'Amir al-Asbahi
Di sini kita akan buat
perbandingan antara Mushaf ‘Uthmani dan yang lainnya, naskah individu yang
disimpan oleh ilmuwan yang terkenal. Malik bin Anas (94-179 H. / 712-795 M.)
ketika Mushaf ini diserahkan ke muridnya58 dan
menceritakan sejarahnya; Mushaf ini kepunyaan kakeknya, Malik bin Abi `Amir
al-Asbahi (w. 74 H /693 M), murid Khalifah 'Umar,59 yang
menulisnya pada waktu ‘Uthman menyiapkan Mushafnya.60 Murid-murid
Malik bin Anas mencatat sebagian ciri-cirinya:
Mushaf dihiasi dengan
perak
Ia mengandung pemisah
surah tinta berwarna hitam sepanjang penyambung yang dihiasi seperti rantai
memanjang sepanjang garis.
Ia juga mempunyai
pemisah ayat dalam benluk titik.61
Sesuai dengan penemuan
ini, murid-murid itu membandingkan Mushaf Malik di satu sisi dengan Mushaf
Madinah, Kufah, Basra, dan naskah utama Mushaf ‘Uthmani di sisi lainnya. Mushaf
Malik, menurut mereka, berbeda dengan Mushaf Kufah dan Basra (dan Naskah utama
Mushaf ‘Uthmani) dalam delapan tanda (karakter) dan dengan Mushaf Madinah hanya
empat. Perbedaan ini disimpulkan di bawah ini.62
Dari carta ini kita
catat bahwa Mushaf Malik tetap identik (sama) dengan Mushaf Madinah sampai
surah 41; dari surah 42 dan berikutnya, Mushafnya sama dengan Mushaf ‘Uthmani,
Kufa, dan Basra. Menjabat sebagai salah satu anggota panitia dua betas yang
menuliskan Mushaf ‘Uthmani, Malik juga pada waktu yang sama menulis Mushaf ini
untuk digunakan oleh dirinya sendiri. Menimbang daftar di atas tadi, kita dapat
menyimpulkan bahwa dia telah kerja bersama-sama dengan kelompok yang menyiapkan
Mushaf Madinah. Setelah selesai lima per enam Mushaf itu, dia pindah ke
kelompok yang menyiapkan Mushaf Kufah dan Basra. Oleh karena itu, satu per enam
sama dengan Mushaf ‘Uthmani, Kufah, dan Basra.
Ini membolehkan kita
melihat beberapa pendapat tentang penyiapan naskah resmi: ini adalah usaha tim
yang sebagian didiktekan dan sebagian lagi ditulis. Poin yang lebih menarik,
menurut pendapat saya, inisiatif dan kecerdasan individu yang menulis naskah
pribadinya. Kita tidak tahu secara betul bagaimana naskah pribadi ini ditulis;
dalam pernyataan yang ditulis oleh Ibn Shabba,
"'Uthman memerintahkan orang-orang untuk menulis Mushaf ”. |
Ini bisa diartikan
bahwa masyarakat diberikan dorongan untuk menulis naskah untuk digunakan oleh
mereka masing-masing.
Mushaf Malik bin Abi
'Amir al-Asbahi mempunyai pemisah surah dan ayat, sedangkan Mushaf ‘Uthmani
tidak. Kekurangan ini mungkin dengan sengaja sebagai taktik bagi Khalifah,
mungkin untuk meyakinkan bahwa teks Al-Qur'an bisa diberi lebih dari satu'cara
pemisahan ayat, atau sebagai masalah tambahan dalam menghadapi orang yang mau
membaca dengan sendiri tanpa ada bimbingan seorang guru yang diakui. Banyak
ilmuwan yang berpendapat bahwa sebuah mushaf tua yang ada tanda pemisah ayat
dan surah semestinya ditulis setelah Mushaf ‘Uthmani, tetapi dengan diberikan
contoh ini kita bisa melihat bahwa itu tidak semestinya benar.
No comments:
Post a Comment
ini komentar