BAB 7 : MUSHAF 'UTHMANI
4. Penentuan dan
Pendistribusian Mushaf 'Uthmani
i.
Naskah Terakhir Dibacakan di Depan Para Sahabat
Naskah penentuan
ini, ketika diverifikasi dan dicek dengan Suhuf yang dari Hafsa, lalu,
"dibacakan kepada sahabat di depan 'Uthman."29 Dengan selesainya pembacaan itu, dia mengirimkan duplikat naskah Mushaf untuk disebar luaskan ke seluruh wilayah negara Islam. Perintah 'Uthman yang umum kepada orangorang "Tulislah Mushaf" terkesan bahwa dia menghendaki para sahabat mem'buat duplikat naskah Mushaf untuk kegunaan mereka masing-masing.
ii.
Jumlah Naskah Mushaf yang Telah disahkan
Berapakah banyak
Naskah yang telah dibagi-bagikan oleh 'Uthman? Menurut beberapa laporan, ada
empat: Kufah, Basra, dan Suriah, yang satu lagi disimpan di Madinah; Riwayat
lain menambahkan Mekah, Yaman dan Bahrain. Ad-Dani lebih cenderung menerima
laporan (riwayat) pertama.30 Profesor
Shauqi Daif percaya bahwa delapan naskah telah dibuat, karena 'Uthman mengambil
satu untuk din sendiri.31 Untuk
menguatkan pendapat ini, kita tahu bahwa Khalid bin Ilyas telah membuat
perbandingan antara Mushaf yang disimpan 'Uthman dan yang disediakan untuk
Madinah,32 oleh
karena itu, delapan tempat untuk naskah mushaf kelihatannya lebih masuk akal.
AIYa'qubi, seorang sejarawan Syi'ah, berkata bahwa 'Uthman mengirim Mushaf ke
Kufah, Basra, Madinah, Mekah, Mesir, Suriah, Bahrain, Yaman, dan alJazirah,
kesemuanya itu adalah sembilan.33 Ini
sebagai bukti bahwa selama proses penyiapan naskah Mushaf ini, beberapa orang
menulis beberapa naskah lagi untuk kegunaan mereka masing-masing. Studi tentang
salah satu naskah yang tidak resmi akan dipaparkan pada halaman 100-2 (tlg.
sesuaikan)
iii.
'Uthman Membakar Seluruh Manuskrip yang Lain
Dengan selesainya
tugas ini, tinta di atas naskah terakhir telah kering, dan duplikat naskah pun
telah dikirimkan, maka tidak dirasa perlu lagi adanya fragmentasi tulisan
Al-Qur'an bergulir di tangan orang-orang. Oleh karena itu, semua pecahan
tulisan (fragmentasl) Al-Qur'an telah dibakar. Mus'ab bin Sa'd menyatakan bahwa
masyarakat dapat menerima keputusan 'Uthman; setidaknya tak terdengar
kata-kata keberatan.34
Riwayat lain mengukuhkan kesepakatan ini, termasuk Ali bin Abi Talib berkata,
iv.
'Uthman Mengirim Pembaca Al-Qur'an dilengkapi Dengan Mushaf
Tiada naskah yang
dikirim tanpa seorang qari' (
: Pembaca). Ini termasuk Zaid bin Thabit ke
Madinah, 'Abdullah bin as-Sa'ib ke Makkah, al Mughirah bin Shihab ke Suriah,
'Amir bin 'Abd Qais ke Basra dan Abu 'Abdur-Rahman as-Sulami ke Kufah.
'Abdul-Fattah al-Qadi berkata:
"Setiap ilmuwan (‘ulama’) ini membacakan kepada masyarakat kota masing-masing menurut tata cara seperti apa yang mereka pelajari secara autentik, bermacam-macam riwayat sampai ke Nabi Muhammad |
Naskah Mushaf
`Uthmani yang terdahulu hanya terdapat huruf-huruf konsonan (karakter), tidak
ada huruf vokal (baris) dan titik,38
seperti digambarkan pada gambar 7.1 diambil dari salah satu Mushaf yang ditulis
dalam skrip Hejazi.39
Naskah ini bisa
dibaca salah dalam berbagai macam cara.40 Di
dalam melakukan pengumpulan yang kedua, tujuan pertama ‘Uthman adalah ingin
menutup semua celah-celah perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an; hanya dengan
mengirim Mushaf atau mengirimkannya sekalian dengan seorang pembaca akan
memberikan kebebasan juga untuk menggunakan satu cara bacaan, yang akhirnya
bertentangan dengan penyatuan yang dikehendaki oleh ‘Uthman di dalam
masyarakat. Oleh karena itu, adanya kesatuan secara total yang ada pada teks
AI-Qur'an di seluruh dunia selama empat belas abad, di pelbagai negara dengan
warna-warni sekte yang ada, merupakan bukti keberhasilan ‘Uthman yang tak
mungkin tersaingi oleh siapa pun dalam menyatukan umat Islam pada satu teks.
Gambar 7.1: Contoh Mushaf terdahulu yang ditulis dalam skrip Hejazi. Perlu dicatat tidak ada kerangka titik. Kehormatan Museum Arsip Negara Yaman.
v.
Perintah ‘Uthman dengan Mushaf yang Dikirimkan
1. ‘Uthman
memerintahkan agar semua Mushaf milik pribadi yang berbeda dengan Mushaf
miliknya harus dibakar, jika gagal dalam menghapuskan Mushaf-Mushaf ini maka
akan dapat memicu munculnya perselisihan kembali. Anas bin Malik melaporkan,
Pernyataan Anas
hanya merupakan satu skenario dari sekian banyak yang lain. Menurut riwayat
lain, `Uthman memerintahkan untuk membakar atau merobek-robek semua naskah yang
terdahulu.42 Dalam
riwayat lain, dengan menghapus tintanya. Abu Qilaba menyatakan, "'Uthman
menulis surat ke setiap pusat (center), 'Saya... telah menghapus apa yang saya
miliki (naskah), sekarang hapuslah kepunyaan kalian'."43 Suatu
ketika, satu delegasi dari Irak pergi menuju Madinah dan mengunjungi anak
Ubayy, untuk memberitahukan bahwa mereka berjalan dengan susah payah hanya
untuk melihat Mushaf Ubayy. Dia menjawab bahwa ‘Uthman sudah mengambilnya. Dia
pikir mungkin dia enggan menjawab, lalu mereka bertanya lagi dan temyata dia
mengulangi jawaban yang sama.44
Ibn Hajar berkata
walaupun sebagian besar laporan menggunakan kata at-tahriq (
: bakar), semua kemungkinan harus
dipertimbangkan. Nasib setiap pecahan tulisan naskah tergantung kepada tiap
individu yang memiliki: apakah hendak di hapus, dibakar, atau dirobek-robek.45 Saya
percaya ada kemungkinan lain. Beberapa orang mungkin memilih untuk
membandingkan Mushaf pribadi mereka dengan Mushaf 'Uthmani dan, saat terlihat
adanya perbedaan, mereka mengubahnya. Pemyataan ‘Abdul-A'la bin Hakam al-Kitabi
memberi ciri-ciri seperti berikut ini,
"Ketika masuk
ke rumah Abu Musa al-Ash'ari, saya menjumpai dia ditemani oleh Hudaifa bin
al-Yamn sedang 'Abdullah bin Mas'ud di atas lantai... Mereka berkumpul
mengelilingi Mushaf yang dikirim oleh 'Uthman, dengan membawa Mushaf mereka
masing-masing secara teratur untuk membetulkannya berdasarkan kepada Mushaf
`Uthmani. Abu Musa berkata kepada mereka, 'Apa saja yang kamu dapat dalam
Mushaf saya dan terdapat pada Mushaf `Uthmani (tambahan), maka jangan dibuang,
dan jika anda jumpai ada yang tertinggal dari Mushaf saya, maka
tuliskanlah."46
2. Perintah kedua
`Uthman adalah agar tidak membaca sesuatu yang bertentangan dengan skrip Mushaf
'Uthmani. Kesepakatan sebagian besar (unanimous) untuk mengubah semua naskah
telah melahirkan skrip dan ejaan Mushaf 'Uthmani sebagai standard baru; dan
sejak saat itu setiap Muslim yang belajar Al-Qur'an harus sesuai dengan teks
Mushaf 'Uthmani. Apabila ada orang yang belajar bertentangan dengan Mushaf
'Uthmani, maka dia tidak boleh membaca atau mengajarkannya dengan cara yang
berbeda.47 Jadi
apa yang dia bisa lakukan? Solusi yang paling mudah, dia menghadiri group
pembaca yang resmi, untuk mempelajari AI-Qur'an berdasarkan kepada kondisi yang
telah disediakan dan mendapatkan hak keistimewaan untuk mengajar dan membaca.
Kesuksesan 'Uthman yang tidak ada bandingannya dalam masalah ini adalah bukti
positif bahwa upaya yang dilakukan telah memperharum suara masyarakat.
No comments:
Post a Comment
ini komentar