BAB 7 : MUSHAF
'UTHMANI
Selama pemerintahan
`Uthman, yang dipilih oleh masyarakat melalui bai'ah (
) yang amat terkenal sebagai khalifah ketiga,
umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara
sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang
beragam, sejak awal para pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan dan Nabi
Muhammad
, di luar kemestian, telah mengajar mereka
membaca AI-Qur'an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk
meninggalkan dialeknya secara spontan. Akan tetapi sebagai akibat adanya
perbedaan dalam menyebutkan huruf Al-Qur'an mulai menampakkan kerancuan dan
perselisihan dalam masyarakat.
1. Sikap 'Uthman
terhadap Perselisihan Bacaan
Hudhaifa bin
al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan
perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui 'uthman, setelah
melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca
Al-Qur'an-Perbedaan yang dapat mengancam lahimya perpecahan. "Oh
khalifah, dia menasihati, 'Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih
tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.' "1
Adanya perbedaan
dalam bacaan Al-Qur'an sebenarnya bukan barang baru sebab 'umar sudah
mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak zaman pemerintahannya. Dengan
mengutus Ibn Mas'ud ke Irak, setelah 'umar diberitahukan bahwa dia mengajarkan
AI-Qur'an dalam dialek Hudhail2
(sebagaimana Ibn Mas'ud mempelajarinya), dan 'umar tampak naik pitam:
|
AI-Qur'an telah diturunkan dalam dialek Quraish ( |
Dalam masalah ini
komentar Ibn Hajar dirasa sangat penting. "Bagi kalangan umat Islam bukan
Arab yang ingin membaca Al-Qur'an," katanya. "pilihan bacaan yang
paling tepat adalah berdasarkan dialek Quraishi (
). Sesungguhnya dialek Quraish merupakan
pilihan terbaik bagi kalangan Muslim bukan Arab (sebagaimana semua dialek Arab
sama susahnya bagi Mereka).4
Hudhaifa bin
al-Yaman mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga 'Uthman
menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan
umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan AI-Qur'an sekaligus
meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau
sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul
sesuai dengan afliasi kesukuan.5 Ketika
ditanya pendapatnya sendiri beliau menjawab (sebagaimana diceritakan oleh 'Ali
bin Abi Talib),
|
"Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan" dan kami menyatakan "sebagai usulan yang sangat baik)."6 |
Terdapat dua
riwayat tentang bagaimana 'uthman melakukan tugas ini. Sam di antaranya (yang
lebih masyhur) beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada
Suhuf yang disimpan di bawah penjagaan Hafsa, bekas istri Nabi Muhammad saw.
riwayat kedua yang tidak begitu terkenal menyatakan, 'uthman terlebih dahulu
memberi wewenang pengumpulan Mushaf dengan menggunakan sumber mana, sebelum
membandingkannya dengan Suhuf yang sudah ada. Kedua-dua versi riwayat sepaham
bahwa Suhuf yang ada pada Hafsa memainkan peranan penting dalam pembuatan
Mushaf 'Uthmani.
2. 'Uthman
Menyiapkan Mushaf Langsung dari Suhuf
Berdasarkan pada
riwayat pertama `Uthman memutuskan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk
melacak Suhuf dari Hafsa, mempercepat menyusun penulisan, dan memperbanyak
naskah. AI-Bara' meriwayatkan,
Kemudian 'Uthntan
mengirim surat kepada Hafsa yang menyatakan. "Kirimkanlah Suhuf kepada
kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami
kembalikan kepada anda." Hafsa lalu mengirimkannya kepada 'Uthman, yang
memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa'id bin al-'As, dan
'AbdurRahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplicate)
naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, "Kalau kalian
tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur'an,
tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana AIQur'an telah diturunkan dalam
logat mereka." Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai
membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsa...7
3. 'Uthman
Membuat Naskah Mushaf Tersendiri
i.
Pelantikan Sebuah Panitia yang Terdiri dari Dua belas Orang untuk Mengawasi
Tugas Ini
Riwayat kedua
adalah pendapat yang agak rumit dan kompleks. Ibn Sirin, (w. 110 H.)
meriwayatkan,
|
Ketika 'Uthman memutuskan untuk menyatukan ( |
Identitas dua betas
orang ini bisa dilacak melalui beberapa sumber. AIMu'arrij as-Sadusi
menyatakan, "Mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan pada (1) Sa'id bin
al-'As bin Sa'id bin al-'As untuk dibaca ulang;"9 dia
menambahkan (2) Nafi' bin Zubair bin `Amr bin Naufal.10 Yang
lain termasuk (3) Zaid bin Thabit, (4) Ubayy bin Ka'b, (5) 'Abdullah bin az-Zubair,
(6) 'Abrur-Rahman bin Hisham, dan (7) Kathir bin Aflah.11 Ibn
Hajar menyebutkan beberapa nama lain: (8) Anas bin Malik, (9) ' Abdullah bin
'Abbas, dan (10) Malik bin Abi 'Amir.12 Dan
al-Baqillani menyebutkan selebihnya (11) 'Abdullah bin `Umar, dan (12)
`Abdullah bin 'Amr bin al-'As.13
ii.
Penyusunan Sebuah Naskah Sendiri (Otonom)
'Uthman
memercayakan pada dua belas orang di atas tadi untuk mengurusi tugas ini dengan
mengumpulkan dan menabulasikan AI-Qur'an, yang ditulis di atas kertas kulit
pada zaman Nabi Muhammad
Sejarawan ulung, Ibn `Asakir (w. 571
H.) menyebutkan dalam bukunya History of Damascus (sejarah Damaskus):
Dalam ceramahnya
'Uthman mengatakan, "Orang-orang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan
saya menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di
hadapan Nabi Muhammad
14
hendaklah diserahkan kepadaku." Maka orang-orang pun menyerahkan
ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit dan tulang serta daun-daun, dan
siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mulamula akan ditanya
oleh `Uthman, "Apakah kamu belajar ayat-ayat ini (seperti dibacakan)
langsung dari Nabi
sendiri?" Semua penyumbang menjawab
disertai sumpah,15 dan
semua bahan yang dikumpulkan telah diberi tanda atau nama satu per satu yang
kemudian diserahkan pada Zaid bin Thabit.16
Malik bin AN 'Amir
mengaitkan,
Saya salah seorang
dari mereka yang menulis Mushaf (dari sumber yang tertulis), dan jika ada
kontroversi mengenai ayat-ayat tertentu mereka akan bertanya, "Dari mana
si penulis (di kertas kulit ini)? Bagaimana Nahi Muhammad
mengajar dia tentang ayat ini secara
tepat?" Dan mereka akan meringkas tulisan, dan meninggalkan sebagian
tempat kosong dan mengirimkannya kepada orang itu disertai pertanyaan untuk
mengklarifikasi tulisannya.17
Oleh karena itu,
naskah Mushaf independen itu muncul secara bertahap, dengan ke dua belas orang
itu mengesampingkan semua ayat yang tidak pasti dalam ejaan konvensional, agar
supaya 'Uthman dapat melihatnya secara pribadi.18 Abu
`Ubaid mencatat beberapa masalah yang ada. Salah satu yang tidak pasti
contohnya dalam hal ejaan at-tabut, di mana menggunakan `t' terbuka (maftuhah)
(
) atau tertutup (marbutah) (
). Hani al-Barbari, seorang langganan
'Uthman, meriwayatkan:
iii.
'Uthman Mengambil Suhuf dari 'A'ishah Sebagai Perbandingan
'Umar bin Shabba,
meriwayatkan melalui Sawwar bin Shabib, melaporkan:
Saya masuk ke
kelompok kecil untuk bertemu dengan Ibn az-Zubair, lalu saya menanyakan
kepadanya kenapa 'Uthman memusnahkan semua naskah kuno AI-Qur,an.... Dia
menjawab, "Pada zaman pemerintahan 'Umar ada pembual bicara yang
telah mendekati Khalifah memberitahukan kepadanya bahwa orang-orang telah
berbeda dalam membaca AI-Qur'an. ‘Umar menyelesaikan masalah ini dengan
mengumpulknn semua salinan naskah AI-Qur'an dan menyamakan bacaan mereka,
tetapi menderita yang sangat fatal akibat tikaman maut sebelum beliau dapat
melakukan upaya lebih lanjut. Pada zaman pemerintahan ‘Uthman orang yang sama
datang untuk mengingatkannya masalah yang sama di mana kemudian ‘Uthman
memerintahkan untuk membuat Mushaf tersendiri (independent). Lalu dia mengutus
saya menemui bekas istri Nabi Muhammad %%% , ‘A'ishah, agar mengambil kertas
kulit (suhuf) yang Nabi Muhammad %%% sendiri telah mendiktekan keseluruhan
Al-Qur'an. Mushaf yang dikumpulkan secara independent kemudian di dibandingkan
dengan Suhuf ini, dan setelah melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan
yang ada, kemudian ia menyuruh agar semua salinan naskah Al-Qur'an dimusnahkan.23
Walaupun riwayat
ini dianggap lemah menurut ukuran para ahli hadith (traditionist), tapi ada
gunanya dalam menyebutkan riwayat ini yang menerangkan pengambilan Suhuf yang
ada di bawah pengawasan atau penjagaan ‘A'ishah.24
Riwayat di bawah ini bagaimanapun menguatkan riwayat sebelumnya. Ibn Shabba
meriwayatkan dari ‘Harun bin ‘Umar, yang mengaitkan bahwa,
Ketika ‘Uthman
hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta ‘A'ishah agar mengirimkan
kepadanya kertas kulit (Suhuf) yang dibacakan oleh Nabi Muhammad %%%. yang
disimpan di rumahnya. Kemudian dia menyuruh Zaid bin Thabit membetulkan
sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibuk dan ingin mencurahkan
waktunya mengurus masyarakat dan membuat ketentuan hukum sesama mereka.25
Begitu juga [bn
Ushta (w. 360 H./ 971 M.) melaporkan di dalam al Masahif, dalam penyelesaian
masalah pembuatan naskah AI-Qur an tersendiri dengan menggunakan sumber utama,
‘Uthman mengutus seseorang ke rumah ‘A'ishah agar mengambil Suhuf Dalam usaha
ini beberapa kesalahan telah terjadi dalam Mushaf yang kemudian ditashih
sebagaimana mestinya.26
Dan riwayat-riwayat
ini kita tahu bahwa 'Uthman menyiapkan salinan Mushaf independent berdasarkan
secara keseluruhannya pada sumber-sumber primer termasuk tulisan-tulisan
sahabat ditambah dengan Suhuf dari 'A'ishah.27
iv.
'Uthman Mengambil Suhuf dari Hafsa Guna Melakukan Verifikasi
Jadi pada waktu itu
naskah yang dibuat sendiri (independen) telah dibandingkan dengan Suhuf resmi
yang sejak semula ada pada Hafsah.
Seseorang bisa jadi
keheran-heranan mengapa khalifah 'Uthman bersusah payah mengumpulkan naskah
tersendiri (otonom) sedang akhimya juga dibandingkan dengan Suhuf juga.
Alasannya yang paling mendekati kemungkinan barangkali sekadar upaya simbolik.
Satu dasawarsa sebelumnya ribuan sahabat, yang sibuk berperang melawan
orang-orang murtad di Yamamah dan di tempat lainnya, tidak bisa berpartisipasi
dalam kompilasi Suhuf Untuk menarik lebih banyak kompilasi bahan-bahan tulisan,
naskah 'Uthman tersendiri (independen) memberi kesempatan kepada sahabat yang
masih hidup untuk melakukan usaha yang penting ini.
Dalam keterangan di
atas, tidak terdapat inkonsistensi di antara Suhuf dan Mushaf tersendiri
(independen), dan dari dua kesimpulan yang luas ini terdapat: pertama, sejak
awal teks AI-Qur'an sudah benar-benar kukuh dan tidak cair (sebagaimana
sementara menuduh) dan rapuh sehingga abad ketiga; dan kedua, Metodologi yang
dipakai dalam kompilasi AI-Qur'an pada zaman kedua pemerintahan sangat tepat
dan akurat.
No comments:
Post a Comment
ini komentar