BAB 5 : REKAMAN DAN PENYUSUNAN AL-QUR'AN
1. Selama
Periode Mekah
Kendati diwahyukan
secara lisan, Al-Qur'an sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab
tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan.
Pada dasarnya ayat-ayat Al-Qur'an tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski
masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat
kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir Quraish. Berikut cerita `Umar bin
al-Khattab sejak ia masuk Islam yang akan kita pakai sebagai penjelasan masalah
ini:
Suatu hari ‘Umar
keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad.
Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah
mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman
Nabi Muhammad, Hamza, Abu Bakr, 'All, dan juga lainnya yang tidak pergi
berhijrah ke Ethiopia. Nu'aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke
mana ‘Umar hendak pergi. "Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang
telah membuat orang Quraish khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka
tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan
tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia." "Engkau hanya akan
menipu diri sendiri `Umar, katanya." "Jika engkau menganggap bahwa
ban! `Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa
Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan
mereka." `Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa keluarganya.
Nu'aim menjawab, "Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa`id serta adik
perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena
itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka." `Umar
cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabba sedang membaca Surah Taha
dari sepotong tulisan Al-Qur'an. Saat mereka dengar suara ‘Umar, Khabba lari
masuk ke kamar kecil, sedang Fatima mengambil kertas kulit yang bertuliskan
Al-Qur' an dan diletakkan di bawah pahanya... 1
Kemarahan ‘Umar
semakin membara begitu mendengar saudarasaudaranya masuk Islam. Keinginan
membunuh orang yang beberapa saat sebelum itu la tuju semakin menjadi jadi.
Masalah utama dalam cerita ini berkaitan dengan kulit kertas bertulisan
Al-Qur'an, Menurut Ibn 'Abbas ayatayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam
bentuk tulisan sejak dari sana,2 seperti
dapat dilihat dalam ucapan az-Zuhri.3
'Abdullah bin Sa'd bin 'Abi asSarh, seorang yang terlibat dalam penulisan
Al-Qur'an sewaktu dalam periode ini,4 dituduh
oleh beberapa kalangan sebagai pemalsu ayat-ayat Al-Qur'an (suatu tuduhan yang
seperti telah saya jelaskan sama sekali tak berdasar).5 Orang
lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Sa'id bin al-‘As di mana ia
menjelaskan, "Saya orang pertama yang menulis 'Bismillah ar-Rahman arRahim'
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).6
Al-Kattani mencatat
peristiwa ini: Sewaktu Rafi` bin Malik al-Ansari menghadiri baiah al-'Aqaba,
Nab! Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa
sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi` mengumpulkan semua anggota sukunya
dan membacakan di depan mereka.7
2. Selama
Periode Madinah
i.
Penulis Wahyu Nabi Muhammad 
Pada periode
Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih
kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak
sebagai penulis wahyu. Mereka adalah Abban bin Sa'id, Abu Umama, Abu
Ayyub al-Ansari, Abu Bakr as-Siddiq, Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu
'Abbas, Ubayy bin Ka'b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir,
Thabit bin Qais, Ja` far bin Abi Talib, Jahm bin Sa'd, Suhaim, Hatib, Hudhaifa,
Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa'id, Khalid bin al-Walid, az-Zubair bin
al-`Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sa'd bin ar-Rabi`, Sa'd bin
`Ubada, Sa'id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talha, `Amir bin Fuhaira, `Abbas,
`Abdullah bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakr, `Abdullah bin Rawaha, `Abdullah
bin Zaid, `Abdullah bin Sa'd,
'Abdullah bin
'Abdullah, 'Abdullah bin 'Amr, 'Uthman bin 'Affan, Uqba, al'Ala bin 'Uqba,
'All bin Abi Talib, 'Umar bin al-Khattab, 'Amr bin al-'As, Muhammad bin
Maslama, Mu'adh bin Jabal, Mu'awiya, Ma'n bin 'Adi, Mu'aqib bin Mughira,
Mundhir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan.8
ii. Nabi Muhammad
Saat wahyu turun,
Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat
ayat itu.9 Zaid bin
Thabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la
sering kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun.10
Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa
tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; 'Amr bin Um-Maktum al-A'ma
duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, "Bagaimana tentang saya? Karena saya
sebagai orang yang buta." Dan kemudian turun ayat, "ghair uli
al-darar"11 (bagi
orangorang yang bukan catat).12
Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah mendiktekan. Saat tugas
penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada
sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.13
iii.
Tradisi Penulisan Al-Qur'an di Kalangan Sahabat
Praktik yang biasa
berlaku di kalangan para sahabat tentang penulisan AIQur'an, menyebabkan Nabi
Muhammad melarang orang-orang menulis sesuatu darinya kecuali Al-Qur'an,
"dan siapa yang telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur'an, maka la
harus menghapusnya."14 Beliau
ingin agar Al-Qur'an dan hadith tidak ditulis pada halaman kertas yang sama
agar tidak terjadi campur aduk serta kekeliruan. Sebenarnya bagi mereka yang
tak dapat menulis selalu hadir juga di masjid memegang kertas kulit dan minta
orang lain secara suka rela mau menuliskan ayat Al-Qur'an.15
Berdasarkan kebiasaan Nabi Muhammad memanggil juru tulis ayat-ayat yang baru
turun, kita dapat menarik anggapan bahwa pada masa kehidupan beliau seluruh
Al-Qur'an sudah tersedia dalam bentuk tulisan.
3. Susunan
Al-Qur'an
i.
Susunan Ayat ke dalam Surah
Diakui secara umum
bahwa susunan ayat dan surah dalam Al-Qur'an memiliki keunikan
yang luar biasa. Susunannya tidak secara urutan saat wahyu diturunkan dan
subjek bahasan. Rahasianya hanya Allah Yang Mahatahu, karena Dia sebagai
pemilik kitab tersebut. Jika seseorang akan bertindak sebagai editor menyusun
kembali kata-kata buku orang lain misalnya, mengubah urutan kalimat akan mudah
memengaruhi seluruh isinya. Hasil akhir tidak dapat diberikan pada pengarang
karena hanya sang pencipta yang berhak mengubah kata-kata dan materi guna
menjaga hak-haknya.
Demikian halnya
Kitab Allah, karena Dia sebagai pencipta tunggal clan Dia sendiri yang memiliki
wewenang mutlak menyusun seluruh materi. AlQur'an sangat tegas dalam masalah
ini:
|
"Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkan (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami menjelaskannya.”16 |
Maka guna menjelaskan isi kandungan ayat-ayat itu, Allah menugaskan Nabi Muhammad sebagai penerima mandat. Dalam hal ini Al-Qur' an memberi penjelasan,
|
"Dan Kami telah turunkan kepada engkau (Muhammad) berupa peringatan agar engkau menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan pada mereka."17 |
Hak istimewa ini,
Allah berikan wewenang atau hak otoritas pada Nabi Muhammad agar memberi
penjelasan pada umatnya.18 Hanya
Nabi Muhammad, melalui keistimewaan dan wahyu ketuhanan, yang dianggap mampu
menyusun ayat-ayat ke dalam bentuk keunikan Al-Qur'an sesuai kehendak dan
rahasia Allah. Bukan komunitas Muslim secara kolektif dan bukan pula perorangan
memiliki legitimasi kata akhir dalam menyusun Kitab Allah.
Kitab Al-Qur'an
mencakup surah-surah panjang dan yang terpendek terdiri atas 3 ayat, sedangkan
paling panjang 286 ayat. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad
memberi instruksi kepada para penulis tentang letak ayat pada setiap surah.
`Uthman menjelaskan baik wahyu itu mencakup ayat panjang maupun satu ayat
terpisah, Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya clan berkata,
"Letakkan ayat-ayat tersebut ke dalam surah sepetrti yang beliau
sebut."19 Zaid
bin Thabit menegaskan, "Kami akan kumpulkan Al-Qur'an di depan Nabi
Muhammad."20
Menurut `Uthman bin Abi al-'As, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad memberi
perintah akan penempatan ayat tertentu.21
’Uthman bin AM
al-‘As melaporkan bahwa saat sedang duduk bersama Nabi Muhammad ketika beliau
memalingkan padangan pada satu titik dan kemudian berkata, "Malaikat
Jibril menemuiku dan meminta agar menempatkan ayat ini:
|
|
AI-Kalbi melaporkan
dari Abu Sufyan tentang Ibn ‘Abbas tentang ayat,
|
"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah."24. |
Ia menjelaskan, "Ini adalah ayat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Malaikat Jibril turun dan minta meletakannya setelah ayat ke dua ratus delapan puluh dalam Surah al-Baqarah."25
Ubbay
bin Ka'b menjelaskan, "Kadang-kadang permulaan surah itu diwahyukan pada
Nabi Muhammad, kemudian saya menuliskannya, dan wahyu yang lain turun pada
beliau lalu berkata, "Ubbay! Tulislah ini dalam surah yang menyebut ini
dan itu.' Dalam kesempatan lain wahyu diturunkan pada beliau dan saya menunggu
perintah yang hendak diberikan sehingga beliau memberi tahu tempat yang sesuai
dari suatu ayat.26
Zaid
bin Thabit memberi penjelasan, "Sewaktu kami bersama Nabi Muhammad
mengumpulkan Al-Qur'an kertas kulit beliau berkata, "Mudah-mudahan Sham mendapat berkah"27 Kemudian beliau ditanya,
'Mengapa demikian wahai Nabi Allah?' Beliau menjawab, 'Karena para Malaikat yang Maha Rahman telah
melebarkan sayap mereka kepadanya."28 Dalam hadith ini kita catat Nabi Muharnmad selalu melakukan
pengawasan dalam pengumpulan dan susunan ayat-ayat Qur'an
Kita dapat melihat
bukti yang sangat jelas bahwa bacaan surah dalam shalat lima waktu. Tidak boleh
bacaan umum menyalahi urutan ayat-ayat yang telah disepakati dan tidak pernah
terjadi peristiwa shalat berjamaah akan adanya perbedaan pendapat dengan imam
tentang urutan ayat-ayat baik di masa Nabi Muhammad maupun sekarang. Nabi
Muhammad kadang-kadang membaca satu surah sampai habis pada shalat jum'ah.29
Bukti lain dapat
dilacak dari beberapa hadith yang
mengatakan kepada sahabat telah mengenal permulaan dan akhiran surah-surah yang
ada.
Nabi
Muhammad memberi komentar kepada ‘Umar, "Akhir ayat-ayat dari Surah
an-Nisa' akan dianggap cukup buatmu (dalam menyelesaikan masa]ah warisan). "30
Abu
Mas'ud al-Badri memberi laporan bahwa Nabi Muhammad bersabda, 'Ayat terakhir
dari Surah al-Baqarah dapat mencukupi bagi siapa saja yang membaca di waktu
malam."31
Ibn
`Abbas mengingatkan, "Sewaktu saya bermalam di rumah, Maimuna (istri Nabi
Muhammad), saya mendengar beliau terbangun dari tidur lalu membaca sepuluh ayat
terakhir dari Surah `Ali ‘Imran."32
No comments:
Post a Comment
ini komentar