Friday, 22 January 2016

imam nawawi 3



           
Masalah ke-35:
Jika mulai membaca, hendaklah bersikap khusyuk dan merenungkan maknanya ketika membaca. Dalil-dalilnya terlalu banyak untuk dihitung dan sudah masyur serta terlalu jelas untuk disebut. Itulah maksud yang dikehendaki dan dengan demikian itu dada menjadi lapang serta hati menjadi tenang. Allah Azza wa jalla berfirman:

           

            As-Sayyid yang mulia dan pemilik berbagai anugerah serta makrifat, Ibrahim Al-Khawash ra.a berkata: “Obat penyembuh hati ada lima perkara, yaitu:

1.         Membaca Al-Qur’an dan merenungi maknanya.
2.         Perut yang kosong.
3.         Sembahyang malam.
4.         Berdoa dengan penuh tawadhuk di ujung malam.
5.         Duduk bersama orang-orang sholeh.

Masalah ke-36:
Anjuran mengulang-ulang ayat untuk direnungkan.
 “Nabi saw mengulang-ulangi satu ayat sehingga pagi."
 “Jika Engkau siksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu” Surat Al-Maidah: 118  (Riwayat Nasa’I dan Ibnu Majah)
           
Diriwayatkan dari Tamim Ad-Dariy ra bahwa dia mengulang-ulang ayat ini sehingga pagi:
                       
Ibnu Mas’ud mengulang-ulang ayat:
Terjemahan: “Ya Tuhanku, tambahilah ilmuku.”       (QS Thaha: 114)
           
Said bin Jubair mengulang-ulang ayat:
 “Dan peliharalah dirimu dari (siksa yang berlaku pada) hari yang pada waktu itu kamu dikembalikan kepada Allah swt.” (QS Al-Baqarah 2:281)

Dia juga mengulang-ulang ayat:

 “Kelak mereka akan mengetahui belenmggu dan rantai diikatkan di leher mereka…”
(QS Al-Mu’min 40:70-71)

Dhahak apabila membaca firman Allah swt sebagai berikut dia mengulang-ulang sehingga waktu sahur. Yaitu firman Allah swt:

 “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari Api) juga.”
(QS Az-Zumar 9:16)

Masalah ke-37:
Menangis ketika membaca Al-Qur’an. Menangis ketika membaca Al-Qur’an merupaan sifat orang-orang yang arif dan syiar hamba-hamba Allah Yang shaleh. Allah berfirman:


 “Dan mereka menyukur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS Al-Israa 17:109)

            Diriwayatkan sejumlah hadits dan athar Salaf. Antara lain, diriwayatkan dari Nabi saw sabdanya:

 “Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika kamu tidak menangis, maka usahakanlah supaya menangis.”
           
Diriwayatkan dari Umar Ibnul Khattab ra bahwa dia mengimami jamaah sembahyang Subuh dan membaca Surat Yusuf. Dia menangis hingga mengalir air matanya hingga membasahi tulang bahunya. Dalam suatu riwayat, kejadian itu berlangsung dalam sembahyang Isyak. Maka hal itu menunjukkan berlakunya pengulangan bacaan. Dalam suatu riwayat, dia menangis hingga mereka mendengar tangisannya dari belakang shaf-shaf. Diriwayatkan dari Abu Raja’, katanya: “Kulihat Ibnu Abbas di bawah kedua matanya nampak bekas seperti tali selipar yang usang lantaran air mata.”

            Diriwayatkan dari Abu Shahih,
            Diriwayatkan dari Hisyam,
            Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata: “Menangis itu disunahkan pada waktu membaca Al-Qur’an..

Masalah ke-38:
Hendaklah membaca Al-Qur’an dengan tartil. Para ulama telah sependapat atas anjuran melakukan tartil. Allah berfirman:
 “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”(QS Al-Muzzammil 73:4)

            Diriwayatkan dari Ummi Salamah ra bahwa dia menggambarkan bacaan Rasulullah saw sebagai bacaan yang jelas huruf demi huruf.”(Riwayat Abu Dawud, Nasa’I dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: hadits hasan sahih)

            Diriwayatkan dari Mu’awiyyah bin Qurrah ra dari Abdullah bin Mughaffal ra dia berkata:  “Aku melihat Rasulullah saw pada hari penaklukan Mekah di atas untanya sedang membaca Surat Al-Fatihah dan mengulang-ulang bacaannya.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)
           
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra Dia berkata: “Aku lebih suka membaca satu surat secara tartil daripada membaca Al-Qur’an seluruhnya.”
           
Diriwayatkan dari Mujahid bahwa dia ditanya tentang dua orang, seorang membaca surat Al-Baqarah dan Ali-Imran sedangkan lainnya membaca surat Al-Baqarah saja. Waktunya, rukuk, sujud dan duduknya sama. Mujahid menjawab: “Orang yang membaca Surat Al-Baqarah saja lebih baik.”
           
Dilarang membaca Al-Qur’an secara asal jadi dengan cepat sekali. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seorang lelaki berkata kepadanya: “Aku membaca Al-Mufashshal dalam satu rakaat.” Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab: “Demikianlah, demikianlah syair itu. Sesungguhnya ada orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak melampaui tenggorokan mereka. Bagaimanapun jika masuk di hati dan menjadi kukuh di dalamnya, mka ia pun berguna.”        (Riwayat Bukhari & Muslim)
           
Para ulama berkata: “Membaca Al-Qur’an dengan tartil itu disunahkan untuk merenungkan artinya.” Mereka berkata: “Membaca dengan tartil disunahkan bagi orang bukan Arab yang tidak memahami maknanya karena hal itu lebih dekat kepada pengagungan dan penghormatan serta lebih berpengaruh di dalam hati.”
           
Masalah ke-39:
Diutamakan jika melalui ayat yang mengandung rahmat agar memohon kepada Allah swt dan apabila melalui yang mengandung siksaan agar memohon perlindungan kepada Allah swt dari kejahatan dan siksaan. Atau berdoa: “Ya Allah, aku mohon kesehatan kepada-Mu atau keselamatan dari setiap bencana.” Jika melalui ayat yang mengandung tanzih (penyucian) Allah swt maka dia sucikan Allah swt dengan ucapan, Subhanalahi wa Ta’ala atau Tabaroka wa Ta’ala atau Jallat Azhamatu Rabbina.
           
Diriwayatkan dari Hudzifah Ibnul Yaman ra Dia berkata: “Pada suatu malam aku sembahyang bersama Nabi saw Bliau memulai dengan Surat Al-Baqarah, beliau rukuk ketika mencapai seratus ayat, kemudian meneruskan. Maka saya katakan, beliau rukuk dengan membacanya. Kemudian beliau memulai surat An-Nisa’ dan membacanya, kemudian memulai suart Ali-Imran dan membacanya dengan perlahan-lahan. Jika melalui suatu ayat yang terdapat tasbih di dalamnya, beliau bertasbih. Dan apabila melalui permohonan, beliau memohon. Jika melalui ta’awuudz, beliau memohon perlindungan.”
                                                                        (Riwayat Bukhari & Muslim)

            Letak Surat An-Nisa’ pada waktu itu didahulukan sebelum Surat Ali-Imran.
            Para sahabat kami rahimahullah berkata, memohon, meminta perlindungan dan bertasbih itu disunahkan bagi setiap pembaca Al-Qur’an, sama saja di dalam sembahyang atau di luarnya. Mereka berkata: “Semua itu disunahkan dalam sembahyang sendirian. Karena itu adalah doa maka merea semnua sama dalam hal itu, seperti ucapan Aamiin sesudah Al-Fatihah.
            Apa yang saya sebutkan berkenaan dengan sunahnya, memohon dan isti’adzah tersebut adalah menurut madzhab Asy-Syafi’i ra dan mayoritas ulama rahimahullah. Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Hal itu tidak diutamakan, bahkan tidak disukai dalam sembahyang.” Pendapat yang lebih benar adalah pendapat mayoritas sebagaimana saya kemukakan.

Masalah ke-40:
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”
(QS Al-A’raf 7:204)

            Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya dan dia berkata: “Tidak bercakap-cakap hingga selesai membaaca.” Dia menyebutnya dalam kitab At-Tafsir berkenaan dengan firman Allah swt:

         
           
Masalah ke-41:
Tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan selain bahasa Arab, sama saja dia bisa berbahasa Arab dengan baik atau tidak bisa, sama saja di dalam sembahyang ataupun di luar sembahyang. Jika dia membaca Al-Qur’an dalam sembahyang dengan selain bahasa Arab, maka sembahyangnya tidak sah. Ini adalah madzhab kami dan madzhab Imam Malik, Ahmad, Dawud dan Abu Bakar Ibnul Mundzir.
Sedangkan Abu Hanifah berkata: “Diharuskan membaca dengan selain bahasa Arab dan sembahyangnya sah.”

Abu Yusuf dan Muhammad berkata: “Boleh bagi orang yang tidak baik bahasa Arabnya dan tidak bisa bagi orang yang bisa membaca bahasa Arab dengan baik.”

Masalah ke-42:
Diharuskan membaca Al-Qur’an dengan tujuh qiraat seperti bacaan yang disetujui. Dan tidak bisa dengan selain yang tujuh bacaan itu dan tidak pula dengan riwayat-riwayat asing yang dinukil (diambil) dari ketujuh ahli qiraah itu.

             “Sekiranya membaca dengan bahasa asing di dalam sembahyang, batallah sembahyangnya jika dia mengetahui. Jika tidak mengetahui, maka tidak batal sembahyangnya dan tidak dikira bacaan itu baginya.”
           
Imam Abu Umar bin Andul Bar Al-Hafizh telah menukil jima’ul muslimin. Bahwa tidak bisa membaca dengan bacaan yang asing (syadz) dan tidak bisa sembahyang di belakang orang yang membaca dengan bacaan syadz. Para ulama berkata: “Barangsiapa membaca dengan bacaan syadz sedang dia tidak mengetahuinya atau tidak mengeatahui pengharamannya, maka dia diberitahu tentang hal itu. Jika kembali melakukannya atau dia mengetahui bacaan syadz itu, maka dia pun dihukum dengan keras hingga berhenti melakukannya.”
           

Masalah ke-43:
Jika dia memulai dengan bacaan salah seorang ahli qiraah, maka hendaknya dia tetap dalam qiraah itu selama bacaannya berkaitan dengannya. Kalau hubungannya berakhir, dia bisa membaca dengan bacaan salah seorang dari ketujuh qari (yang mahir mambaca) Al-Qur’an. Pendapat yang lebih utama adalah tetap dalam keadaan pertama di majelis itu.

Masalah ke-44:
Para ulama berkata: “Pendapat yang lebih terpilih adalah membaca menurut tertib Mushaf, maka dia baca Al-Fatihah, kemudian Al-Baqarah, kemudian Ali-Imran, kemudian surat-surat sesudahnya menurut tertibnya, sama saja dia membaca dalam sembahyang atau di luarnya. Salah seorang sahabat kami mengatakan: “Jika dia membaca pada rakaat pertama surat Qul A’Udzu bi rabbin Naas, maka dia baca ayat sesudah Al-Fatihah dari surat Al-Baqarah.”

            Salah seoang sahabat kami berkata: Disunahkan jika mambaca suatu surat agar membaca surat berikutnya. Dalil ini ialah bahwa tertib Mushaf dijadikan demikian karena mengandung suatu hikmah. Maka patutlah dia memeliharanya, kecuali sesuatu yang telah ditentukan dalam syarak yang merupakan pengecualian, seperti sembahyang Subuh pada hari Jumaat.

            Rakaat pertama dalam sembahyang Subuh membaca surat As-Sajadah dan rakaat kedua surat Al-Insan. Dan sembahyang Hari Raya pada rakaat pertama membaca surat Qaaf dan rakaat kedua membaca surat Iqtarabatis saa’atu.

No comments:

Post a Comment

ini komentar