Friday, 22 January 2016

imam nawawi 5




Masalah ke-55:
Bacaan Al-Qur’an yang dimaksudkan sebagai Kalam. Ibnu Abi Dauwd menyebutkan adanya perselisihan berkenaan dengan hal ini. Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’I ra bahwa dia tidak suka membaca Al-Qur’an dengan tujuan urusan dunia.
           
           
            Para sahabat kami mengatakan, apabila seorang manusia minta izin masuk kepada orang yang sedang sembahyang, kemudian orang yang sembahyang itu mengatakan: “Udkhuluuha bi salaamin aaminiin (Masukkal kamu dengan selamat dan aman), maka jika dia maksudkan pembacaan ayat atau membaca ayat dan pemberitahuan, tidaklah batal sembahyangnya. Jika dia mekasudkan mmeberitahu dan tidak ada niat membaca ayat, batallah sembahyangnya.

Masalah ke-56:
Jika dia membaca sambil berjalan, kemudian melalui sejumlah manusia, diutamakan memutuskan bacaan dan memberi salam kepada mereka, kemudian melanjutkan bacaannya. Jika dia mengulangi ta’awwudz, maka perbuatan itu lebih baik. Sekiranya membaca sambil duduk, kemudian ada orang lalu di depannya, maka dikatakan oleh Imam Abul Hasan Al-Wahidi: “Pendapat yang lebih utama adalah tidak memberi salam kepada pembaca Al-Qur’an karena dia sibuk membaca.”

            Dan jika berkata: “Jika seseorang memberi salam kepadanya, cukuplah dia menjawab dengan isyarat.” Masih menurut Abu Hasan, “Jika ingin menjawab dengan lafaz salam, dia bisa menjawabnya kemudian dia mulai membaca isti’adzah dan meneruskan bacaannya.”

           
            Sementara itu, jika dia bersin dalam keadaan membaca, maka diutamakan mengucapkan, “Alhamdulillah”. Demikian pula halnya di dalam sembahyang. Sekiranya orang lain bersin sedang dia membaca Al-Qur’an di luar sembahyang dan orang itu mendoakannya dengan mengatakan “Yarhamukallah.”

            Sekiranya pembaca Al-Qur’an mendengar Adzan, dia hentikan bacaannya dan menjawabnya dengan mengikutinya mengucapkan lafaz-lafaz adzan dan iqamat, kemudian dia kembali kepada bacaannya. Ini disetujui oleh para sahabat kami.

           
Masalah ke-57:
Jika datang kepada pembaca Al-Qur’an orabg yang berilmu atau terhormat atau orang tua yang terpandang atau mereka miliki kehormatan sebagai pemimpin atau lainnya, maka tidaklah mengapa berdiri untuk menghormati DAN memuliakannya, bukan karena riya dan membanggakan diri. Bahkan perbuatan itu mustahab (sunah). Berdiri sebagai penghormatan adalah termasuk dari perbuatan Nabi saw dan perbuatan para sahabatnya di hadapan beliau dan dengan perintahnya, serta perbuatan para tabi’in dan ulama yang sholeh setelah mereka.

           

Masalah ke-58:
Hukum-hukum berharga yang berkaitan dengan membaca Al-Qur’an dalam sembahyang. Di antaranya wajib membaca Al-Qur’an dalam sembahyang fardhu berdasarkan ijmak ulama. Kemudian Malik, Imam Asy-Syafi’i, Ahmad dan mayoritas ulama berpendapat, diwajibkan membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat. Abu Hanifah dan jamaah berkata, “Tidak diwajibkan membaca Al-Fatihah untuk selamanya.” Dan katanya: “Tidak wajib membaca Al-Fatihah dalam dua rakaat terakhir.” Pendapat yang lebih benar adalah pendapat pertama. Banyak dalil dari Sunnah yang menyokong pendapat itu. Cukuplah memahami sabda NabI saw dalam hadits sahih:

Terjemahan: “Tidak memadai (sah) sembahyang yang tidak dibaca Al-Fatihah di dalamnya.”

            Mereka sependapat atas sunahnya membaca surat sesudah Al-Fatihah dalam dua rakaat sembahyang Subuh dan dua rakaat pertama dari sembahyang-sembahyang lainnya. Mereka berlainan pendapat tentang anjuran membacanya pada rakaat ke tiga dan keempat. Menurut Imam Asy-Syafi’i ada dua pendapat tentang hal itu. Menurut madzhab baru (aqaul jadid) ialah tidak disunahkan dan menurut madzhab lama (qaul qadim) disunahkan.
           
Para sahabat kami mengatakan, jika kami katakan bahwa ahl itu disunahkan, maka tiada perselisihan bahwa pembacaannya tidak lebih dari pembacaan dalam dua rakaat pertama. Mereka berpendapat bahwa pembacaan pada rakaat ketiga dan rakaat keempat adalah sama. Apakah pembacaan pada rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua? Maka ada dua pendapat berkenaan dengan perkara tersebut. Pendapat yang lebih kuat (sahih) diantara keduanya menurut mayoritas sahabat kami adalah tidak lebih panjang. Pendapat kedua, yaitu yang sahih menurut para pengkaji adalah lebih panjang.

            Itulah pendapat yang terpilih berdasarkan hadits sahih:


Terjemahan: “Bahwa Rasulullah saw lebih memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dari pada rakaat kedua.”
Faedahnya ialah supaya orang yang tertinggal bisa mendapat rakaat pertama. Wallahua’lam.
           
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, apabila makmum masbuq mendapati dua rakaat terakhir dari sembahyang Zuhur dan lainnya bersama imam, kemudian dia kerjakan dua rakaat baginya, maka diutamakan baginya membaca Surat. Mayoritas sahabat kami berkata demikian ini atas dua pendapat.
            Ini hukum imam dan orang yang sembahyang sendiri. Sementara makmum, maka jika sembahyangnya pelan bacaannya, wajiblah dia membaca Al-Fatihah dan diutamakan baginya membaca surat. Jika sembahyang itu bacaannya keras, sedang dia mendengar bacaan imam, tidaklah disukai baginya membaca surat.
           
Adapun tentang kewajiban membaca Al-Fatihah ada dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat (sahih) adalah wajib dan pendapat kedua tidak wajib. Jika tidak mendengar bacaan imam, maka yang sahih adalah wajib membaca Al-Fatihah dan diutamakan membaca surat. Tidak dinafikan memang ada orang yang berpendapat wajib membaca Al-Fatihah da tidak sunah membaca Surat. Wallahua’lam.

            Wajib membaca Al-Fatihah pada rakaat pertama dari sembahyang jenazah. Manakala membaca Al-Fatihah dalam sembahyang nafilah, maka mesti dilakukan. Para sahabat kami berlainan pendapat berkenaan dengan penanamannya dalam sembahyang. Al-Qaffal berkata, dia dinamakan kewajiban. Kawannya Qadhi Husain berkata, dia dinamakan syarat.

            Orang lainnya berkata, dia dinamakan rukun dan itulah yang benar. Wallahua’lam.

            Orang yang tidak mampu membaca Al-Fatihah dalam semua ini maka hendaklah dia menggantinya dengan membaca ayat-ayat yang setara dengannya dari Al-Qur’an. Jika tidak mempu membaca sesuatu, dia berdiri sekedar lamanya bacaan Al-Fatihah kemudian rukuk. Wallahua’lam.

Masalah ke-59:
Tidaklah mengapa jika menggabungkan dua surat dalam satu rakaat. Mengikut riwayat yang terdapat di dalam shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadits Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: “Aku telah mengetahui surat-surat dimana pernah Rasulullah saw menggabungkannya. Dia menyebut dua puluh surat dari Al-Mufashshal, setiap dua surat dalam rakaat. Telah kami kemukakan dari jamaah Salaf pembacaan berkhatam dalam satu rakaat.

Masalah ke-60:
Para Ulam muslim sependapat atas sunahnya membaca dengan suara kuat dalam sembahyang Subuh, Jumaat, dua hari raya dan dua rakaat dari sembahyang Maghrib dan Isyak, sembahyang Tarawih dan Witir sesudahnya. Ini adalah mustahab bagi imam dan orang yang sembahyang sendirian. Sementara makmum, maka ia tidak menguatkan suaranya sesuai dengan ijmak. Sunah membaca dengan suara kuat dalam sembahyang gerhana bulan dan tidak membaca dengan keras dalam sembahyang gerhana Matahari, membaca dengan keras dalam sembahyang Istisqa’ (minta hujan) dan tidak membaca dengan suara kuat dalam sembahyang jenazah, jika sembahyangnya berlangsung pada waktu siang, demikian jugalah di malam hari menurut madzhab yang sahih dan terpilih.

                       
Sekiranya tertinggal sembahyang pada waktu malam, kemudian dia mengqadhanya pada waktu siang atau tertinggal pada waktu siang dan mengqadahnya di malam hari, sama saja dikira dalam bacaan kuat dan bacaan pelan waktu yang tertinggal itu ataukah waktu qadha?
           

Masalah ke-61:
Para sahabat kami berkata, disunahkan bagi imam dalam sembahyang yang kuat bacaannya agar diam empat kali dalam keadaan berdiri.

1.         Diam sesudah takbiratul ihram untuk membaca doa tawajjuh dan para makmum membaca takbir.
2.         Sesudah Al-Fatihah diam sebentar saja antara akhir Al-Fatihah dan uacapanm Aamiin supaya tidak timbul sangkaan bahwa Aamiin termasuk Al-Fatihah.
3.         Diam lama setelah mengucapkan Aamiin.
4.         Setelah membaca surat untuk memisahkan dengannya antara pembacaan surat dan takbir untuk melakukan rukuk.

Masalah ke-62:
Disunahkan bagi setiap pembaca, sama saja dalam sembahyang atau di luar sembahyang, jika selesai membaca Al-Fatihah agar menguacapkan Aamiin. Hadits-hadits berkenaan dengan perkara tersebut banyak dan mansyur. Telah kami kemukakan dalam bab sebelumnya bahwa disunahkan memisahkan antara akhir Al-Fatihah dan ucapan Aamiin dengan diam sebentat. Aamiin artinya: “Ya Allah, kabulkanlah. Tidak dinafikan memang ada orang yang berpendapat, “Demikianlah, maka jadilah.”
           
Ada orang yang berpendapat, lakukanlah. Ada orang yang berpendapat artinya tidak ada seorangpun yang dapat melakukan ini selain Engkau.

            Tidak dinafikan memang ada orang yang berpendapat artinya “Jangan sia-siakan harapan kami.” Ada orang yang berpendapat, artinya adalah “Ya Allah, selamatkanlah kami dengan kebaikan.” Ada orang yang berpendapat, ia pelindung dari Allah swt untuk hamba-hamba-Nya dengan menolak berbagai bencana dari mereka. Ada orang yang berpendapat, ia adalah derajat di Syurga yang dianugerahkan kepada siapa yang mengucapkannya. Ada orang yang berpendapat, ia adalah salah satu nama Allah swt Para pengkaji menolak pendapat ini. Ada orang yang berpendapat, ia adalah nama Ibrani yang tidak diarabkan. Abu Bakar Al-Warraq berkata, ia adalah kekuatan untuk berdoa dan permintaan turunnya rahmat. Ad orang yang berpendapt selain itu.

            Terdapat beberapa cara mengucapkan Aamiin. Para ulama berkata, yang paling fasih adalah Aamiin dengan memanjangkan Hamzah dan meringankan mim, cara kedua dengan memendekkannya. Kedua pendapat ini mansyur. Cara ketiga dengan imaalah diserta mad. Al-Wahidi menceritakan hal itu dari Hamzah dan Al-Kisaa’i. Cara keempat dengan tasydid pada mim disertai mad. Al-Wahidi menceritakannya dari Al-Hasan dan Al-Husain bin Al-Fudhail.

            Katanya: itu ditegaskan oleh apa yang diriwayatkan dari Jaafar Ash-Shidiq ra, katanya: Artinya adalah kami menuju kepada-Mu sedang Engkau Maha Pemurah hingga tidak menyia-nyiakan orang yang menuju. Ini pendapat Al-Wahidi. Cara keempat ini asing sekali. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan ucapan dari golongan orang awam.

           
            Para ulama berkata, diutamakan mengucapkan Aamiin dalam sembahyang bagi imam, makmum dan orang yang sembahyang sendirian. Imam dan orang yang sembahyang sendirian membaca Aamiin dengan suara kuat dalam sembahyang yang jahar bacaannya. Mereka berlainan pendapat berkenaan dengan bacaan kuat oleh makmum. Pendapat yang sahih ialah membaca dengan suara kuat. Pendapat kedua tidak membaca dengan suara kuat. Pendapat ketiga membaca dengan suara  kuat jika banyak jumlahnya. Kalau tidak banyak, maka tidak membaca dengan kuat. Ucapan Aamiin oleh makmum bersamaan dengan ucapan Aamiin oleh imam, tidak sebelumnya ataupun sesudahnya sesuai dengan sabda Nabi saw dalam hadits sahih:


 “Jika imam mengucapkan ‘Wa ladhdhaalliin,’ ucapkanlah ‘Aamiin’ karena barangsiapa yang ucapan ‘Aamiin’nya bertepatan dengan ucapan ‘Aamiin’ para malaikat, maka Allah mengampuni dosanya yang terdahulu.”

            Manakala sabda Nabi saw dalam hadits sahih: “Jika imam mangucapkan Aamiin, maka ucapkanlah Aamiin.” Artinya ialah apabila ingin mengucapkan Aamiin.

            Para sahabat kami berkata, tidak ada dalam sembahyang suatu tempat yang diutamakan agar ucapan makmum bersamaan dengan ucapan imam, kecuali dalam ucapan Aamiin. Sementara dalam ucapan-ucapan lainnya, maka ucapan makmum datang kemudian setelah imam.

Masalah ke-63:
Sujud Tilawah. Para ulama sependapat atas perintah melakukan Sujud Tilawah. Mereka berlainan pendapat sama saja perintah itu merupakan sunah atau wajib?

            Mayoritas ulama mengatakan, tidak wajib, tetapi mustahab (sunah). Ini pendapat Umar Ibnu Al-Khattab ra, Ibnu Abbas, Imran bin Hushairi, Malik, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tahur, Dawud dan lainnya.

            Abu Hanifah rahimahullah berkata, hukumnya wajib. Dia berhujah dengan firman Allah swt:

(Teks Bahasa Arab)

Terjemahan: “Mengapa mereka tidak beriman. Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”
(QS Al-Insyiqaaq 84:20-21)

            Mayoritas ulam berhujah dengan hadsi sahih dari Umar Ibnu Al-Khattab ra, “Bahwa dia membaca di atas mimbar pada hari Jumaat surat An-Naml hingga sampai ayat sajadah, dia turun kemudian sujud dan orang lain pun sujud. Sehingga pada hari Jumaat berikutnya dia membacanya hingga tiba pada ayat sajadah, katanya: ‘Wahai para manusia. Sesungguhnya kita melalui tempat sujud, maka barangsiapa yang sujud, dia telah melakukan sesuatu yang benar. Dan siapa yang tidak sujud, dia tidak berdosa,’ dan Umar tidak sujud.”
                                                                                                (Riwayat Bukhari)
           
Perbuatan dan perkataan Umar ra di majelis ini adalah dalil yang jelas.
           
            Diriwayatkan dalam Shahihain dari Zaid bin Thabit ra. “bahwa dia membca di hadapan Nabi saw. ‘Wa-Najmi’ dan beliau tidak sujud.”

            Diriwayatkan dalam Shahihain “bahwa Nabi saw sujud ketika membaca surat An-Najm.” Maka semua itu menunjukkan bahwa Sujud Tilawah tidak wajib.

Masalah ke-64:
Penjelasan tentang jumlah Sujud Tilawah dan tempatnya. Manakala jumlahnya sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah danm mayoritas ulama adalah 14 sajadah, yaitu: Surat Al-A’raaf, Ar-Ra’ad, An-Nahl. Al-Israa’, Maryam, dalam surat Al-Hajj ada dua sujud, Al-Furqan, An-Naml, Alif Laam Tanziil, Haa Mim As-Sajadah, Al-Insyiqaaq dan Al-‘Alaq.
           
Sementara sajadah dalam surat Shaad, maka hukumnya mustahab dan tidak ditekankan untuk melakukan sujud. Diriwayatkan dalah Shahih Muslim dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Sajadah dalam surat Shaad bukanlah sujud yang ditekankan dan aku telah melihat Nabi saw sujud pada ayat itu. “Ini adalah madzhab Asy’Asy-Syafi’i dan orang yang berpendapat seperti dia.

            Ini adalh pendapat lama dari Asy-Syafi’i dan yang sahih adalah apa yang kami kemukakan. Hadits-hadits yang sahih menunjukkan hal itu. Manakala tempat Sujud Tilawah terdapat pada:

1.         Akhir Surat Al-A’raf:

 “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang disisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah swt dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud.”(QS Al-A’raf 7:206)

2.         Dalam surat Ar-Ra’d ialah sesudah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

 “… pada waktu pagi dan petang hari.”
 (QS Ar-Ra’d 13:15)

3.         Dalam surat An-Nahl:
 “…dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”
(QS An-Nahl 16:50)

4.         Dalam Al-Israa’:
Terjemahan: “… dan mereka bertambah khusyuk.”(QS Al-Israa’ 17:109)

5.         Dalam Surat Maryam:
 “… maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangsis.”
(QS Maryam 19:58)

6.         Sajadah pertama dari surat Al-Hajj ialah:
 “…Sesungguhnya Allah swt berbuat apa yang dia kehendaki.”  (QS Al-Hajj 22: 18)

7.         Sajadah kedua dalam surat Al-Hajj:
 “…berbutlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”
(QS Al-Hajj 22:77)

8.         Dalam surat Al-Furqan:
 “…dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh dari (iman).”
(QS Al-Furqan 25:60)

9.         Dalam surat An-Naml:
“… Tuhan Yang Mempunyai ‘Arasy yang agung.”
(QS An-Naml 27:26)

10.       Dalam surat Alif Laam Mim Berita:
: “… sedang mereka tidak menyombongkan diri.”
(QS As-Sajadah 32: 5)

11.       Dalam Surat Haa Mim:
“…sedang mereka tidak merasa jemu.”
(QS Fushshilat 41:15)

12.       Akhir surat An-Najm:
 “Maka bersujudlah kepada Allah swt dan sembahlah (Dia).”
(QS An-Najm 53:62)

13.       Dalam surat Al-Insyiqaaq:
 “… mereka tidak sujud.”
(QS Al-Insyiqaaq 84:21)

14.       Dan bacalah di akhir surat Al-‘Alaq (QS ke-19)


 “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS Al-‘Alaq 96:19)

No comments:

Post a Comment

ini komentar